Habibie dan Ainun | Buku Bagus

Habibie dan Ainun

Jika sampai waktunya
Tugas kami di Alam Dunia dan di Alam Baru selesai
Tempatkanlah kami Manunggal di sisiMu
Karena Cinta Murni, Suci, Sejati, Sempurna dan Abadi
Dalam “Raga” yang Abadi, sibangun Ainun Manunggal dengan saya sesuai kehendakMU di Alam Baru sepanjang masa
Jiwa, Roh, Batin, “Raga” dan Nurani kami, Abadi sampai Akhirat

[hal. 323]

Manunggal Jiwo adalah kata yang selalu diungkapkan untuk menggambarkan kerekatan lahir dan batin antara Bacharuddin Jusuf Habibie dengan sang istri, Hj. Hasri Ainun Habibie. Sepanjang membaca buku Habibie dan Ainun ini memang terasa sekali kedalaman cinta dari Pak Habibie kepada istrinya. Banyak ungkapan yang selalu didengungkan beliau tentang betapa bahagia dan beruntungnya mendapatkan istri yang selalu diliputi kesabaran dan tanggung jawab.

Tanggal 22 Mei 2010 adalah hari yang sangat menyesakkan bagi Pak Habibie. Dimana saat itu beliau harus merelakan sang istri untuk pergi ke dimensi lain atau alam baru. Kehilangan inilah yang membuat Pak Habibie harus melewati perawatan psikologi salah satunya dengan terapi menulis yang kemudian menghasilkan buku Habibie dan Ainun. Sebuah kehilangan yang sangat dalam ya?

Berlimpah ruahnya ungkapan kecintaan dan kasih sayang Pak Habibie mengalir bersama kisah perjalanan hidup beliau semenjak bertemu tanpa sengaja dengan Bu Ainun di rumah Keluarga Besari, hingga kemudian mereka menikah. Sebagai lulusan insinyur dan bekerja sebagai asisten peneliti di Institut Konstruksi Ringan, di Jerman, maka setelah menikah mereka pun harus hijrah ke Jerman. Banyak lika-liku yang harus dijalani pasangan baru tersebut, terutama berkenaan dengan biaya hidup dan tempat tinggal yang harus dipenuhi. Dari sini sudah mulai diceritakan tentang ketegaran Bu Ainun yang kemudian akan semakin banyak dijabarkan Pak Habibie di sepanjang kisahnya.

Dengan background seorang teknisi, buku ini tidak lepas dari cerita tentang dunia kerja Pak Habibie yang berhubungan dengan konstruksi ringan, seperti saat beliau harus menangani pembuatan kereta api dan pesawat terbang. Selain itu, buku ini juga memuat tentang cita-cita, dedikasi, hingga saat beliau harus terjun di dunia perpolitikan. Cita-cita beliau yang terfokus pada penciptaan SDM yang berkualitas dijabarkan cukup detail dalam buku ini, mulai dari cerita berdirinya ICMI sampai The Habibie Center. Pada bagian-bagian tersebut cenderung agak membosankan, terutama tentang masalah perpolitikan dan kenegaraan.

Banyak ujian, banyak permasalahan dalam alur kehidupannya, apalagi ketika Pak Habibie dan Bu Ainun ingin mengambil pensiun ternyata kondisi tidak memungkinkan, karena Pak Habibie harus menerima tanggung jawab sebagai Wakil Presiden. Semua dapat dilalui dengan peran besar dari Bu Ainun yang selalu setia mendampingi dan memberikan masukan kepada sang suami.

Kisah mulai mengharukan ketika Bu Ainun kedapatan terkena penyakit jantung, yang mengharuskannya menjalani operasi klep jantung. Jika dahulu Bu Ainun yang harus senantiasa “menjaga” Pak Habibie karena intensitas pekerjaannya yang tinggi, maka sekarang Pak Habibie terus berupaya menemani sang istri menjalani berbagai proses penyembuhan yang membutuhkan waktu hampir 10 tahun. Terasa sekali bahwa fase kehidupan inilah dan setelahnya yang banyak memeras psikologi Pak Habibie.

Beruntunglah Pak Habibie memiliki agama dan Tuhan [diungkapkannya dalam buku ini] yang selalu tertanam dalam jiwanya, sehingga tidak membuatnya kehilangan kendali diri saat sang istri pergi selamanya.

Judul : Habibie dan Ainun
Penulis : Bacharuddin Jusuf Habibie
Penerbit : PT. THC Mandiri
Terbit : 2010
Tebal : xii + 323 halaman
Harga : Rp. 80.000


lintasberita

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar