Buku Konferensi Meja Bundar dalam Kenangan - ulasan | Buku Bagus

Buku Konferensi Meja Bundar dalam Kenangan - ulasan

  • Selasa, 14 Juni 2011
  • Katagori : , , , ,
  • Berpulangnya penulis dan wartawan senior H Rosihan Anwar pada hari ini meninggalkan duka mendalam bagi Indonesia khususnya insan pers. Ya, Rosihan Anwar adalah manusia multi zaman yang sangat mengenal Indonesia. Bahkan Rosihan Anwar adalah Indonesia itu sendiri karena mengalami suka duka dari masa penjajahan Belanda, Jepang, Orde Lama, Orde Baru dan masa Reformasi. Dari era kepemimpinan Sukarno, Soeharto, Habibie, Mengawati sampai SBY.

    Saya bersyukur bisa membeli dan membaca banyak bukunya, seperti Sejarah Kecil (Petite Histoire) Indonesia Jilid I-IV , “Napak Tilas ke Belanda : 60 Tahun Perjalanan Wartawan KMB (Konferensi Meja Bundar)1949” serta “Semua Berawal dengan Keteladanan, catatan kritis Rosihan Anwar”. Membaca buku-buku itu, saya seolah dibawa pada relung-relung sejarah. Rosihan Anwar menulis dengan apa adanya, mengalir namun setiap tulisannya mempunyai nilai sejarah (histoire) yang begitu mahal. Tentu saja saya kagum, dalam usia senja ia mampu mengingat detail demi detail, setapak demi setapak perjalanan hidupnya seiring perjalanan sejarah bangsa ini.

    Dengan gaya penulisan yang tidak terlalu “akademis” Rosihan Anwar menceritakan kejadian-kejadian kecil namun berkaitan erat dengan sejarah besar bangsa ini. Baca saja dalam buku Sejarah Kecil (Petite Histoire) Jilid I, bagaimana ia menceritakan tentang sebuah sejarah kecil yang nyaris kita tidak pernah tahu seperti Kudeta Nazi Jerman di Pulau Nias ataukah riwayat Saisuk di Sumatera Barat. Pada jilid II, simak bagaimana Rosihan Anwar menceritakan sisi lain penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955 seperti kemarahan presiden Sukarno dalam “sidak” persiapan konferensi. Dikisahkan pula oleh Rosihan Anwar mengenai catatan perjalanan kunjungan Perdana Menteri Uni Soviet, Nikita Kruschev yang berkeliling Indonesia dari Jakarta sampai Ambon

    Pada buku Petite Histoire Jilid III, kita bisa tahu sedekat apa Rosihan Anwar dengan beberapa tokoh besar Indonesia. Sebut saja, Alex Maramis, Jenderal Hidayat, Roeslan Abdulgani, Prof. Sarbini, Deliar Noer, Jusuf Ronodipuro, S.K. Trimurti dan Ali Sadikin. Di Jilid IV, bagi yang penasaran dengan tokoh So Hok Gie, ternyata Rosihan Anwar mempunyai pengalaman berbeda dengan tokoh muda pada jamannya itu. Begitu pula dengan catatan-catatan pengalaman tentang lahirnya sastra angkatan 45.

    Dalam bukunya “Napak Tilas ke Belanda : 60 Tahun Perjalanan Wartawan KMB (Konferensi Meja Bundar)1949” Rosihan Anwar menceritakan kembali apa, siapa, dimana dan bagaimana peristiwa Konferensi Meja Bundar pada tahun 1949 di Den Haag Belanda. Ada setiap kenangan dari setiap tempat yang dikunjunginya pada napak tilas di Belanda pada tahun 2009 (dimuat juga di harian Kompas)

    Rosihan Anwar menceritakan bahwa ia satu-satunya wartawan peliput KMB 1949 yang masih hidup (dan kini ia sudah berpulang). Tentu saja kita bersyukur, pelaku sejarah itu menceritakan lagi bagi generasi-generasi sesudahnya.

    Kritik tanpa pandang buluh

    Rosihan Anwar adalah wartawan dan penulis aktif baik di dalam maupun di luar negeri. Karirnya sebagai wartawan dimulai pada awal 1943 di surat kabar Asia Raja, Jakarta, kemudian redaktur pelaksana Merdeka (1945-1946), pemimpin redaksi majalah Siasat (1947), seterusnya pemimpin redaksi harian Pedoman (1948-1961 dan 1968-1974). Setelah Peristiwa Malari 1974 Pedoman dilarang terbit, jadi wartawan freelance di dalam dan luar negeri, di antaranya kolumnis Asiaweek (Hong Kong), koresponden The Straits Times (Singapura), The New Straits TImes (Kuala Lumpur)

    Tulisan-tulisannya sebagai kolumnis dikumpulkan dalam sebuah buku “Semua Berawal dengan Keteladanan, catatan kritis Rosihan Anwar”. Dalam buku ini, kita bisa membaca bagaimana jalan pikiran Rosihan Anwar menyikapi persoalan-persolan bangsa ini. Dari persolan politik, hukum, ekonomi, budaya sampai agama. Tulisan-tulisannya mengekspresikan rasa marah, dongkol, jengkel, frustasi dan pelbagai tanda tanya.

    Baca saja bagaimana ia mengkritik para artis yang tiba-tiba menjadi pendakwah di televisi saat bulan Ramadhan tiba (halaman 209). Rosihan Anwar menulis blak-blakan, padahal kita tahu isu agama begitu sensitifnya di negara ini.

    Meskipun Rosihan Anwar hidup di era kepemimpinan Sukarno sampai SBY, kritiknya tanpa pandang buluh. Masyarakat boleh saja menilai ia “wartawan istana” karena kedekatannya dengan Sukarno tapi bukan berarti Sukarno tiada pernah dikritiknya. Bahkan seorang Gusdur dikatakan kelakuannya sama saja dengan Soeharto terkait skandal Bulogate (halaman 35).

    Namun begitulah Rosihan Anwar, ia mengkritik bukan untuk menjatuhkan tetapi menempatkan kritik sebagai penyeimbang dan bagian untuk membangun.

    Panutan

    Sebagai orang muda, saya bersyukur Rosihan Anwar adalah panutan dan contoh yang baik bagaimana menghargai sejarah bangsa ini. Rosihan Anwar juga memberi contoh, menjadi penulis yang baik harus mempertahankan idealisme penulisannya. Idealisme untuk berada pada pihak yang lemah bukan yang kuat dan pada yang tertindas bukan yang menindas.

    Rosihan Anwar memberi pelajaran berharga bahwa jangan pernah berhenti untuk menulis apa saja. Sampai menutup usianya, Rosihan Anwar adalah penulis yang produktif. Itulah Rosihan Anwar, meskipun ia telah pergi, karya-karyanya selalu hidup dan menyemangati kita.

    Dalam sebuah kesempatan perayaaan ultahnya yang ke 88 dan ultah perkawinan ke 67 dengan istrinya (alm) Siti Zuraida binti Sanawi, Rosihan Anwar tiada pernah lupa diri atas rahmat sang Pencipta. “Saya 67 tahun di profesi jurnalis. Semua itu karunia Tuhan,” katanya.

    Selamat jalan Rosihan Anwar, Tuhan menyertaimu selalu!

    lintasberita

    0 komentar:

    Poskan Komentar

     
    Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar