Buku Ratu Mata-mata Negeri Belanda - ulasan | Buku Bagus

Buku Ratu Mata-mata Negeri Belanda - ulasan

  • Minggu, 25 Maret 2012
  • Katagori : , , , , ,
  • Judul Buku: Namaku Mata Hari
    Penulis: Remy Sylado
    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
    Cetakan: Pertama,Oktober 2010
    Tebal: 559 halaman

    Dilahirkan dengan nama Margaretha Geertruida Zelle di Leeuwarden, provinsi paling utara Belanda tahun 1876. Ayah berdarah Belanda tulen sedangkan ibu berasal dari suku Jawa. Belakangan, setelah dewasa dan menjadi janda lebih populer dengan nama Mata Hari.

    Ia hidup di masa ketika tradisi Barat masih menempatkan perempuan sebagai pihak nomer dua. Imbas dari penafsiran Gereja atas Injil St. Paul yang diamini Barat, sehingga selama berabad-abad perempuan hanya menjadi pelengkap lelaki: obyek karikatur dalam teater, musik dan seni rupa.

    Pada usia 14 tahun sang ibu meninggal dunia, dan pada usia 18 tahun ia menikah dengan seorang opsir Belanda berkebangsaan Skotlandia bernama Rudolph John Campbell MacLeod yang usianya dua kali lipat lebih tua. Ia diboyong sang suami ke Nederlandsch Indie, atau Hindia belanda, nama Indonesia masa kolonial. Namun Mata Hari lebih suka menyebutnya Indonesia, sesuai dengan yang disematkan ilmuwan Jerman Adolf Bastian, dalam bukunya yang terbit tahun 1884 dengan judul Indonesia Order die Insel des Malyschen Archipels.



    Di negeri jajahan inilah ia pertamakali mendengar nama “Mata Hari” yang dalam bahasa Inggris berarti “sun”, bahasa Jerman “Sonne”, “Soleil” di Prancis dan “Zon” di Belanda, ia mengetahuinya karena keempat bahasa negara tersebut ia kuasai dengan baik.

    Sayang, kebahagiaan yang diimpikan dalam sebuah perkawinan runtuh seiring dengan sifat ringan tangan dan mata keranjang sang suami. Meski gelagat ini sudah nampak sejak awal perkawinannya, namun memuncak setelah anak pertama hasil perkawinannya didiagnosa mengidap sifilis, penyakit yang diwariskan MacLeod akibat sering “jajan”.

    Pada akhirnya, sikap buruk sang suami membekas di jiwanya sehingga menimbulkan stereotip buruk atas semua lelaki dan melahirkan dendam. Selain itu, karakter jalang-sundal-lacur yang selama ini dipendam, seolah menemukan momentum pembenarannya hingga akhirnya ia memilih hidup sebagai penari eksotis sekaligus pelacur setelah kembali ke daratan Eropa sebagai cara untuk menundukkan para lelaki. Bahkan, ia pun menceburkan diri menjadi agen spionase ganda bagi negara-negara yang bertikai kala Perang Dunia Pertama mulai pecah.

    Kisah karya Remy Sylado ini, bukan sekedar novel biasa tapi juga sarat dengan muatan sejarah yang terdapat dalam berbagai literatur, terutama dihubungkan dengan spionase, mata-mata, intrik dan juga tak ketinggalan sensualitas. Artinya, nama Mata Hari merupakan nama yang secara historis-faktual pernah hidup dan nyata.

    Walhasil, cerita yang dibangun Remy dituntut untuk memiliki akurasi historisitas yang teruji, sehingga tidak melantur dari realitas sejarah, dan hal tersebut secara sukses digarapnya bahkan dengan sangat detail. Kejujuran penulis dalam mendeskripsikan karakter tokoh utamanya, Mata Hari, dapat kita endus dari penggunaan kata “jalang-sundal-lacur” padahal cerita ini dibangun berdasarkan penuturan si tokoh utama dengan kata “aku”, sebagai salah satu parameter kesuksesan ia memahami psikologi sejarah Mata Hari.

    Tidak seperti novel Remy sebelumnya, seperti Hotel Prodeo yang memiliki ketebalan seribu halaman lebih, Namaku Mata Hari “hanya” setebal lima ratus lima puluh sembilan halaman. Meski demikian, secara kualitas novel ini tidak bisa dipandang sebelah mata, bahkan Remy seakan mendemonstrasikan kemampuan sastranya secara habis-habisan dalam novel ini.

    Tercatat, kata-kata yang nyaris tidak pernah digunakan penulis Indonesia lain seperti; “tenahak”, “takrif”, “bertempik-sorak”, “mukhlis”, “dikajeni” dan lain-lain bertebaran di dalam buku ini. Selain itu, mengingat status sosial tokoh utamanya merupakan seorang penari sensual yang plus-plus, maka kata-kata vulgar seperti “vagina”, “penis” maupun “senggama” juga dengan mudah kita temukan.

    Pengetahuan si penulis atas dunia yang bergerak di sekitar tokoh utamanya juga patut diacungi jempol. Ia secara jlentre (jelas) mampu memvisualisasikan setting yang menjadi latar cerita, baik di Jawa maupun Eropa. Suatu saat ia mampu menjelaskan makna-makna yang terkandung dalam relief-relief yang terpahat dalam Candi Borobudur, tetapi di saat lain ia mengurai penafsiran yang termaktub dalam sastra Eropa. Sehingga mudah ditebak bahwa buku ini lahir melalui proses riset yang njlimet, teliti dan panjang.  

    Selain itu, pemikiran Remy sekan menemukan kanalisasi melalui tokoh Mata Hari. Akan saya petikan sebuah ungkapan yang sangat sulit kita yakini lahir dari sosok Mata Hari, namun lebih tepat asumsi si pengarang: “Aku selalu berpendapat, bahwa potensi rohani manusia bukan terletak pada rasio, tapi rasa. Hati yang menemukan pertimbangan rasa baik dan buruk, dan otak yang merumuskan dalam rasio menerima dan menolak terhadap wacana benar dan salah”. (halaman 448)

    Namaku Mata Hari, ditulis dengan gaya prosaik yang kesannya sangat filmis. Hal ini diakui Remy sendiri yang menyatakan bahwa novel ini memang dilahirkan dengan kondisi siap untuk difilmkan. Sebelum utuh menjadi sebuah buku, sebelumnya telah dikenalkan kepada pembaca sebagai cerita bersambung di harian Kompas.

    Sebagai sebuah fakta historis dimana lakon para tokohnya benar-benar pernah hidup, sangat sulit menemukan kelemahan dalam novel ini. Keganjilan justru terletak pada bahasa yang digunakan oleh Remy yang terkadang terlalu maju untuk zaman tokohnya. Seperti kata “biar nyaho!”, yang pastinya tidak popular pada saat itu.

    Namun hal tersebut tentu saja tidak mereduksi apresiasi kita dalam membaca karya penulis yang telah meraih berbagai penghargaan seperti Satya Lencana Kebudayaan dari Pemerintah dan hadiah Sastra Terbaik dari Pusat bahasa ini.  

    Dilengkapi dengan foto-foto Mata Hari dengan berbagai pose dalam tiap bagiannya, buku ini mengajak kita untuk menyelami jiwa seorang perempuan betina yang menyimpan bara dendam terhadap laki-laki di penghujung abad 19. Masa kelam namun menyimpan harapan terhadap perempuan, seiring berubahnya paradigma masyarakat atas status mereka yang selama ini dianggap kelas dua.  

    lintasberita

    0 komentar:

    Posting Komentar

     
    Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar