Buku Gratis – Harga Radikal Yang Mengubah Masa Depan - ulasan | Buku Bagus

Buku Gratis – Harga Radikal Yang Mengubah Masa Depan - ulasan

  • Sabtu, 24 Maret 2012
  • Katagori : , , , , , ,
  • GRATIS. Satu kata yang dapat memberikan dampak yang besar dan beragam bagi yang membaca atau mendengarnya. Dan di dunia kita saat ini, kata Gratis telah (semakin) banyak digunakan para pebisnis untuk menarik perhatian konsumen. Karena, sungguh!—meski kita tahu tak ada yang benar-benar gratis di dunia ini, kita masih saja tersihir oleh kata itu. Tapi…benarkah tak ada yang benar-benar gratis di dunia ini? Chris Anderson, penulis buku The Long Tail yang telah membuka wawasan kita, akan membeberkan dalam buku barunya ini bagaimana dunia akan segera menuju ke titik Gratis--di mana makin banyak barang akan ditawarkan dengan harga nol atau nyaris nol, dan bagaimana kita semua mesti menyikapinya, baik sebagai produsen maupun konsumen.

    Di bagian awal buku, Chris Anderson mengajak kita untuk menengok asal-mula ‘Gratis’. Fenomena memberikan iming-iming produk gratis demi menarik konsumen untuk membeli, ternyata dipelopori oleh produsen Jell-O (produk agar-agar bubuk yang terkenal di Amerika) pada awal abad 20. Anda juga akan disuguhi cerita tentang King Gillette, seorang salesman tutup botol yang diperintah bosnya untuk menemukan sesuatu yang akan dipakai-kemudian-dibuang, dan akhirnya menemukan ide tentang pisau cukur sekali pakai. Menarik juga menyimak bagaimana strategi Jell-O dan Gillette menggunakan ‘Gratis’ untuk mengerek volume penjualannya.

    Kalau bentuk ‘Gratis’ di abad 20 berupa iming-iming dan trik untuk memindahkan uang dari satu kantong ke kantong yang lain (mis. gratis untuk alat cukur tapi membayar untuk pisau cukur), maka ‘Gratis’ abad 21 adalah berkat kemampuan menekan biaya barang atau jasa hingga mendekati nol, berkat ekonomi bit (byte) yang menggantikan atom. Ketika dunia digital makin merajalela, maka ‘Gratis’ akan segera terwujud karena biaya produksinya hampir mencapai nol. Jadi, dapat dikatakan bahwa ‘Gratis’ ala abad 20 adalah gratis sebagai umpan, sementara di abad 21 ‘Gratis’ adalah gratis yang sebenar-benarnya. Selamat datang di dunia ‘Gratis’!

    Di bab-bab selanjutnya, buku ini banyak mengulas tentang makna ‘Gratis’ dan aplikasinya dalam kehidupan kita, terutama dalam bisnis. Chris Anderson banyak sekali menyuguhkan contoh berbagai perusahaan yang mempraktekkan ‘Gratis’ dan ternyata sukses. Di sisi halaman yang menceritakan hal itu, Chris menyuguhkan semacam tabel atau ilustrasi yang menunjukkan bagaimana strategi yang dijalankan bisnis-bisnis itu sehingga bisa meraup sukses dengan ‘Gratis’. Tentunya contoh-contoh itu akan menjejali wawasan kita pada banyak ide yang dapat kita ambil dan terjemahkan sendiri untuk mendukung bisnis kita.

    Yang tak kalah menariknya adalah penjabaran tentang psikologi ‘Gratis’, bagaimana tanggapan konsumen sendiri tentang ‘Gratis’. Ternyata, harga yang dibuat (terlalu) murah malah menyebabkan konsumen meragukan kualitas barang itu. Lain halnya dengan apabila barang itu di-gratiskan. Menarik? Itulah yang dijabarkan di buku ini sebagai “Kesenjangan Satu Sen”. Fenomena inilah yang harus benar-benar dipahami oleh pebisnis sebelum menentukan harga. Apakah harga yang diberikan (atau tidak diberikan alias nol) sudah sesuai dengan harapan target konsumennya secara psikologis?

    Namun di sisi lain, ‘Gratis’ juga membuat orang tak menghargai suatu barang. Chris memberi contoh tiket bus yang digratiskan oleh sebuah lembaga sosial, cenderung sering dihilangkan oleh orang-orang yang memilikinya. Baru ketika tiket itu dihargai 1 dollar, orang akan lebih berhati-hati menjaganya, karena tiket itu sekarang lebih ‘bernilai’, dan akhirnya menjadi jarang hilang. Menarik bukan, bagaimana beda 1 dollar bisa mengubah cara pandang manusia? Namun, itu bukan berarti ‘Gratis’ harus dicoret dari rencana bisnis anda. Di akhir pembahasan segi psikologis ini, Chris akan memberikan sebuah model ‘Gratis’ yang ideal untuk diterapkan dalam bisnis anda dengan tetap mempertimbangkan sisi psikologi konsumen.

    Gratis Digital

    Bagian ini adalah salah satu yang paling menarik di buku ini. Pelajaran dari web:
    Jika harga sesuatu menjadi tinggal separuhnya setiap tahun, ‘Gratis’ tidak dapat dihindari ~(hlm. 91).
    Kita semua pernah bersinggungan dengan benda-benda digital macam musik, buku, file atau film yang bisa kita download di internet secara gratis. Semua itu bisa terjadi karena biaya penyimpanan dan pembuatan benda-benda digital itu menurun dengan cepatnya, hingga tak lama kemudian pasti akan mencapai titik nol atau hampir nol. Bahkan bukan benda digital saja. Di sini Chris mengambil contoh yang bagus sekali tentang perusahaan yang memproduksi semi-konduktor (elektronik parts) yang memiliki visi jauh ke depan. Alih-alih menetapkan harga untuk hari ini, ia langsung menjual dengan mempertimbangkan ‘biaya esok hari’ yang diprediksinya akan menjadi jauh lebih murah. Hal itu membuatnya berani menjual semi konduktornya hanya dengan 1,21 dollar, bukannya 100 dollar seperti harga pasaran saat itu. Gilakah ia? Apa ia tidak rugi? Chris akan membeberkan secara detail cara berhitung si penjual semi konduktor visioner ini, yang meski tak dapat anda ambil idenya secara langsung, namun mampu membuka cara pandang kita tentang ‘Gratis’.

    Lalu bagaimana dengan barang lainnya? Bisakah kita berasumsi bahwa semua barang akan mencapai titik ‘Gratis’ pada suatu saat? Kuncinya terletak pada gagasan. Gagasan, seperti dijelaskan oleh Chris, adalah sebuah komoditas yang biayanya pembuatan dan penyebarannya nol. Jadi, semakin besar porsi gagasan mendasari produksi sebuah barang, maka makin besar (dan cepat) kemungkinannya untuk menjadi makin murah. Dalam hal ini, tentu saja semua yang ada di dunia digital memenuhi syarat untuk cepat menjadi murah, dan bahkan gratis. Bandwith yang terlalu murah untuk diukur membuat kita dapat mengakses YouTube, Flickr, Facebook dll. dengan gratis.

    Kemudian, pertanyaan selanjutnya pastilah: bagaimana kita dapat bersaing dengan ‘Gratis’? Siapakah yang diuntungkan dengan ‘Gratis’, pemain pertama atau justru pemain terakhir dalam sebuah bisnis? Tak ada formula yang pasti, namun Chris menyuguhkan dua contoh persaingan perusahaan besar di dunia digital untuk menjadi yang terbaik: Microsoft vs Linux (memperebutkan pasar terbesar untuk OS komputer) dan Google vs Yahoo (memperebutkan pasar terbesar e-mail). Bab ini sangat menarik disimak, karena selain menyingkapkan jurus bisnis mereka berdua yang jarang terungkap, kedua kasus itu akan membuktikan bahwa :

    1. Pengaplikasian ‘Gratis’ tidaklah mustahil.
    2. Siapa yang paling sigap dan kreatif dalam mengelola ‘Gratis’, dia akan bisa menang walaupun kalah jauh dari pesaingnya dalam hal skala atau usia bisnis.

    Setelah kita di ‘cuci otak’ tentang Gratis, maka pertanyaan kita yang terpenting: Nah, kalau begitu…duitnya datang darimana dong, kalo semua digratis-in? Jawaban pertanyaan ini akan dibahas pada bab tentang De-monetisasi, yang lagi-lagi mengambil Google sebagai contoh. Google mengaplikasikan ‘Gratis’ agar jangkauannya bisa maksimal, dan jangkauan luas itu akan mereka manfaatkan untuk mendapatkan pemasukan yang utama. Inilah rahasia sesungguhnya ‘Gratis’! Maka untuk dapat sukses, kita perlu kreatif (seperti halnya Google) untuk menciptakan sumber penghasilan di luar ‘Gratis’.

    Dunia ‘Gratis’ juga diulas dengan menarik oleh Chris. Selama ini fenomena pembajakan dan barang super murah “made-in-China” selalu menjadi polemik. Namun, mungkin kita tak pernah benar-benar berpikir bagaimana dunia ‘Gratis’ bisa eksis di China? Bagaimana pula dengan pembajakan? Karena bahkan artis-artis lokal mereka juga tak luput dari pembajakan ini. Namun, mereka bukannya teriak-teriak protes, mereka malah memanfaatkan pembajakan itu dengan cerdiknya untuk kepentingan mereka, mengkonversikannya sebagai pendapatan. Menarik bukan? Mungkin artis-artis kita juga perlu membaca buku ini. Alih-alih terus menerus menghamburkan energi melawan pembajakan dan ‘Gratis’ yang takkan pernah habis, lebih baik memikirkan bagaimana menggunakannya untuk mendongkrak publisitas mereka.

    Dan yang terakhir yang juga tak kalah menariknya adalah cara pikir orang-orang yang skeptis tentang ‘Gratis’ (yang ternyata sangat banyak dan datang dari bisnis-bisnis besar juga!). Chris akan membahas keberatan-keberatan mereka tentang ‘Gratis’, lalu menunjukkan di mana kesalahan mereka, serta memberikan solusi yang terbaik yang dapat kita pakai. Tak kurang dari 14 kasus yang disuguhkan Chris di sini, dan boleh aku pastikan bahwa setelah anda membacanya, anda pasti akan merasa yakin bahwa ‘Gratis’ bukan saja telah tiba di dunia kita, namun akan mengubah masa depan kita. Tentu saja, jangan anda berhenti hanya dengan membaca buku ini. Segeralah memikirkan, ‘Gratis’ macam apa yang bisa anda aplikasikan ke dalam bisnis anda, dan mulailah berubah SEKARANG! Karena kalau tidak, jangan-jangan pesaing anda akan menyalip diam-diam…

    Buku ini jelas merupakan buku yang perlu dibaca. Memang, non fiksi kurang greget karena tak ada unsur-unsur ketegangan atau klimaks yang biasa ada di fiksi. Namun Chris Anderson, untungnya, menyelingi hasil pemikirannya dengan contoh-contoh yang faktual sehingga kita bak membaca sebuah berita-misteri, yang membuat kita selalu berpikir: “Bagaimana hal itu bisa terjadi ya?” Dan dengan demikian kita takkan pernah bisa melepaskan buku ini sebelum tamat. Meskipun…(mengaku nih)..aku membutuhkan waktu yang agak lama untuk menamatkannya. Tapi memang, non fiksi kan tidak untuk dihambur-hamburkan halaman-halamannya dengan cepat begitu saja, sebaliknya justru diserap isinya sebagai landasan gagasan-gagasan yang kita sendiri bangun sendiri selanjutnya. Setuju kan?

    Judul: Gratis-Harga Radikal Yang Mengubah Masa Depan
    Pengarang: Chris Anderson
    Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
    Cetakan: 2010
    Tebal: 314 hlm

    lintasberita

    0 komentar:

    Posting Komentar

     
    Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar