Tampilkan postingan dengan label fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiction. Tampilkan semua postingan

Buku Morality for Beautiful Girls - ulasan

Morality for Beautiful Girls
Alexander McCall Smith @ 2001
Abacus - 2006
246 hal.

Rasanya udah lama banget sejak terakhir gue membaca seri kedua dari The No. 1 Ladies’ Detective Agency: Tears of the Giraffe. Dan sekarang, waktu membaca kisah ketiga dari Mma Ramotswe ini, gue masih tersenyum-senyum simpul dengan kepolosan, kesabaran dan kejelian Mma Ramotswe.

Jangan bayangkan ada misteri yang rumit di sini, seperti pembunuhan yang berdarah-darah. Mma Ramotswe lebih banyak menyelesaikan masalah yang lebih berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Dalam bukunya kali ini, Mma Ramotswe berusaha membantu orang yang punya kedudukan penting di pemerintahan, yang memiliki kecurigaan bahwa istri adiknya berniat meracuni adiknya dan menguasai harta untuk dirinya sendiri.

Lalu, dalam kehidupan pribadinya, Mma Ramotswe juga harus mencari jawaban atas perubahan sikap tunangannya, Mr. J.L.B. Matekoni, si pemilik bengkel Tlokweng Speedy Motors

Untung ada sekretaris, merangkap asisten pribadinya yang bisa dihandalkan. Selain menjadi asisten manajer di Tlokweng Speed Motors, Mma Makutsi tak disangka-sangka mampu memecahkan kerumitan dalam pemilihan Miss Glamorous Botswana. Mma Makutsi harus menyelidiki dari keempat kandidat, mana di antara mereka yang paling pantas menyandang gelar tersebut. Keberhasilan Mma Makutsi ini juga menyelamatkan kondisi keuangan The No. 1 Ladies’ Detective Agency yang nyaris selalu bersaldo negatif.

Melihat dari judulnya, berulang kali di buku ini dibahas, perilaku gadis-gadis muda dan cantik yang lebih cenderung menggunakan kecantikan mereka dibanding otak mereka. Berbeda dengan Mma Makutsi, si pemegang nilai tinggi di kampusnya, yang wajahnya memang bisa dibilang tidak cantik, tapi berotak encer. Namun nyatanya, para pria lebih memilih gadis cantik dibanding gadis pintar.

Cerita ‘detektif’ yang begitu tenang. Semua diselesaikan dengan cara yang sederhana. Tanpa penyelidikan yang begitu rumit, dengan mengandalkan hati, semua jadi jelas.

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Terbang...Terbanglah Bebas Jacinda....! - ulasan


Judul            : FIRELIGHT
Penulis          : Sophie Jordan
Penerjemah  : Ferry Halim
Penyunting    : Ida Wajdi
Pewajah Isi   : Aniza
ISBN           : 978-979-024-475-7
Halaman       : 425
Penerbit        : Atria
Cetakan        : I, April 2011
Harga            : Rp 55,000


Aku seekor draki-“
Tidak, kau adalah-“
“Itulah diriku. Kalau Mom mau membunuh bagian itu dari diriku, maka yang sebenarnya Mom inginkan adalah membunuhku

Bagaimana jika dirimu harus hidup sebagai sosok yang berbeda? Sosok yang bukan jati diirmu? Semuanya  harus dilakukan atas nama  keselamatan seluruh keluarga. Apakah kamu akan memberontak dan hidup sebagaimana adanya tanpa perduli nasib yang lain atau kamu akan menekan egomu hingga tak mampu lagi menekannya?

Apa gunanya keselamatan jika bagian dari dirimu mati?

Sekilas tidak ada perbedaan antara  Jacinda dan saudara kembarnya Tamra dengan anak gadis lainnya. Demikian juga dengan sang mom dengan ibu lainnya. Mereka seakan sebuah keluarga bahagia yang baru saja ditinggal berpulang ayahnya. Nyaris tidak ada bedanya kecuali mereka merupakan keturunan naga, draki.

Jika Tamra tidak mampu berubah wujud menjadi naga sehingga sering dikucilkan, maka Jacinda justru menjadi idola! Ia merupakan draki penyembur setelah 400 tahun yang lalu. Jacinda sangat dipuja hingga dijodohkan dengan putra sang pemimpin. Dasarnya adalah kelangsungan hidup kelompok, bukan cinta.

Sang ibu menekan kemampuannya sebagai darki dorman  demi Tamra, tentunya  juga demi kebahagian Jacinda. Ia tak ingin anak-anaknya  dijadikan sebagai betina  oleh kelompoknya. Walau itu harus dibayar dengan peralihan perlahan-lahan menjadi 100 % manusia.

Sebuah peristiwa membuatnya mengambil keputusan nekat, keputusan yang seharusnya  diambil sejak dulu. Mom nekat membawa Jacinda dan Tamra minggat meninggalkan kelompoknya, kaumnya. Bagi Tamra ini semacam mimpi yang menjadi kenyataan. Sedangkan bagi Jacinda ini merupakan mimpi buruk. Ia tak bisa  lagi  terbang bebas bersama sahabat-sahabatnya dalam wujud naga. Terbang adalah sesuatu yang sangat digemarinya.

Sang ibu berusaha agar Jacinda menekan unsur draki dalam dirinya. Jelas ini bukan hal yang mudah, setidaknya jika dibandingkan dengan Tamra. Sialnya saat itu Jacinda  sudah mulai berkenalan dan jatuh hati pada seorang pemuda bernama Will. Setiap kali berada di dekat Will, sudah bisa dipastikan Jacinda tak mampu mengontrol dirinya. Ia nyaris berubah wujud menjadi naga. Hal ini tentu membahayakan banyak orang. Mom dan Tamra yang sudah susah payah menyelamatkan dirinya dari kelompoknya, serta Will dan saudaranya. Jacinda nyaris melupakan siapa Will sebenarnya.

Sungguh berat hidup Jacinda. Di satu sisi ia sangat memahami kekhawatiran ibunya. Di sisi lain  ia juga tak kuasa menekan apa lagi membunuh naluri draki yang ada dalam dirinya. Sementara Tamra sang saudara kembar sukses bergaul diantara manusia, Jacinda justru merasa terkucil. Posisi mereka sekarang terbalik. Suatu saat, gejolak jiwanya sudah tak tertahankan lagi. Ia nekat terbang walau itu dilakukan di malam hari. Walau sesaat, ia merasa bebas dan bahagia.

Naga sepertinya merupakan hewan yang paling sering kita jumpai saat berurusan dengan bacaan dari genre fantasi. Di Eropa, menurut Kitab Mosnter, naga sering digambarkans ebagai sosok yang makhluk yang kejam yang mewakili kejahatan dan wajib diperangi. Tapi di kawasan Asia, naga justru digambarkan sebagai makhluk ramah pembawa keberuntungan.Dalam dunia binatang fantasi, naga merupakan hewan yang unik karena memiliki variasi bentuk yang sangat kaya.

Istilah naga merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta atau India kuna yang bermakna "ular". Dalam naskah Mahabharata dikisahkan bahwa para Naga merupakan anak-anak Resi Kasyapa dari perkawinannya dengan Dewi Kadru. Nama-nama mereka yang terkenal antara lain Sesa, Taksaka, Basuki, Karkotaka, Korawya, dan Dritarastra. Bangsa Naga yang berjumlah ribuan memiliki dua orang sepupu berwujud burung dan disebut sebagai bangsa Kaga. Keduanya bernama Aruna dan Garuda, yang merupakan putra dari Dewi Winata yang juga dinikahi Resi Kasyapa. Dengan demikian, hubungan antara Naga dengan Kaga selain sebagai sepupu juga sebagai saudara tiri. Meskipun demikian hubungan mereka kurang baik dan sering terlibat perselisihan. Di antara para Naga ada pula yang menjadi dewa, yaitu Sesa, yang tertua di antara putra Kadru. Ia memisahkan diri dari adik-adiknya dan hidup bertapa menyucikan diri. Ia akhirnya diangkat sebagai dewa para ular, bergelar Ananta.(wikipedia)

Belakangan buku seputar naga juga mulai bermunculan. Setiap buku memberikan pengetahuan tambahan seputar naga. Salah satu buku lawas yang juga membahas mengenai naga adalah Kitab Naga. Dalam buku ini disebutkan sebuah mantera guna menjinakkan naga:

Ivashi yuduin!
Enimor taym insplelz!
Boyar ugomer gedi!

Tunggu! tidak hanya  sekedar membaca mantra ada beberapa hal yang juga  harus dilakukan. Sebelum membaca mantra,  ambil 93  gram, debu naga dari piring perak yang sudah dicuci tiga kali di air yang dipantulkan cahaya bulan baru. Lalu tebarkan ke naga sambil meneriakan mantra. Mantra ini konon mampu bertahan selama tiga jam penuh. Maka manfaatkanlah waktu dengan sebaik mungkin.

Hidup memang pilihan.
Apakah Jacinda memilih untuk kembali ke kelompoknya, berarti juga kembali ke jati dirinya sebagai sosok yang sangat suka terbang.
Atau...............
Ia memilih mengikuti keinginan sang ibu, menekan kuat naluri draki dalam dirinya
Lalu................
Bagaimana dengan nasib Will?

Semuanya memang tergantung bagaimana pilihan Jacinda...
Mari kita simak sama-sama sajalah he he he he

Jangan lupa mengunjungi www.sophiejordan.net untuk info lebih lengkap seputar sang penulis.
Ssst sekedar berbagi rahasia, Sophie Jordan juga menulis dengan nama samaran Sharie Kohler.
Heran, ada apa sih para penulis ini? Kok senang sekali memiliki nama banyak...Semoga karya mereka sebanyak nama mereka yahh

Tidak butuh waktu lama kok untuk menuntaskan buku ini.Saya membacanya sambil menunggu jemputan. Kisah fantasi yang diramu dengan bumbu cinta  kasih memang menawan. Tidak hanay cinta kasih kepada pujaan hati, namun juga untuk keluarga, bahkan kelompoknya.
Ya ampuinnnnnnnnnnn!
Ternyata Will adalah...
*kabur dari timpukan yang belum baca*

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Legenda FitzChivalry Farseer, si Anak Haram dari Six Duchies - ulasan


Penulis            : Robin Hobb
Penerjemah     : Barokah Ruziati
Penyunting      : Lulu  Fitri Rahman
Korektor        : Tendy Yulianes
Halaman         :  532
Penerbit         : Matahati


Anak Haram!
Si anak haram!
Dasar anak haram!
Aku bukan pangeran sejati. Aku anak haram!

Sepanjang hidupnya,  Fitz selalu dikenal sebagai anak haram dari Chivalry, calon raja berikutnya. Kehadirannya jelas menjadi bahan pergunjingan diseluruh Kastel. Sudah bukan rahasia umum jika Putra Mahkota  Chivalry dan Lady Patience belum juga  atau bahkan tak bisa memiliki anak. Kehadiran  seorang anak lelaki, walau pun anak haram jelas  merupakan topik yang menarik untuk dibahas.

Nasib memang seakan tidak berpihak pada dirinya. Diseret ke kota yang asing dari pelukan hangat ibunya, ditinggal oleh ayah kandung yang belum pernah ditemui dan hanya diurus  oleh  anak buahnya. Sang ayah demi menjaga perasaan istrinya, memilih mengundurkan diri dan pindah ke pedesaan dari pada menjadi raja dan bertemu dengan Fitz. Terakhir, ia  harus kehilangan satu-satunya sahabatnya yaitu seekor anak anjing.

Fitz berada di bawah pengawasan  Burrich, abdi pangeran yang setia. Tugas sehari-harinya adalah mengurusi hewan peliharaan sang pangeran.  Fitz sendiri adalah panggilan untuk anak lelaki berdasarkan garis keturunan, terutama di luar pernikahan raja dan pangeran. Bagaimana juga darah Chivalry mengalir di dalam tubuh Fitz. “ .... kau memiliki darah keturunan raja. Anak haram atau bukan, kau putra kandung Chivalry,dari garis yang tua....”

Entah mana yang lebih baik baginya, dipanggil Fitz seolah mempertegas asal-usulnya atau dibanggil bocah saja.  Bagi anak berusia 6 tahun sepertinya tak ada bedanya, asal ia bisa makan cukup serta memiliki tempat berteduh. Syukur jika ada yang mau mengajari sesuatu keahlian.Sehari-hari Fitz hanya berkeliaran disekitar kastel tanpa ada yang memperdulikannya, kecuali saat sedang menjadi bahan percakapan.

Sang kakek , Raja Shrewd justru memiliki pemikiran yang berbeda tentang Fitz.  Sekarang mungkin saja Fitz hanya seorang bocah lugu yang berpenampilan kotor.  Namun dengan mengambil dan membentuknya, maka Fitz akan menjadi sosok yang setia, alih-alih sosok anak haram yang tak bahagia yang bisa  dibujuk untuk menggoyahkan takhta. Fitz akan menjadi sosok yang loyal, terikat dengan jiwa dan darah.

Mulai saat itu, Fitz diakui sebagai sosok yang unik.  sosok yang merupakan keturunan sekaligus bukan keturunan raja. Lihat saja lambang yang ada di pakaiannya, lambang kepala rusa jantan dengan benang perak, nyaris mirip dengan  anak-anak sang raja. Bedanya adalah adanya  jahitan benang merah yang memotong lambang tersebut secara diagonal, menutupi gambarnya. Tanda sebagai keturunan raja yang diakui, tapi tetap saja anak haram!

Ternyata dugaan sang raja  benar! Fitz berguna dalam banyak hal. Perlahan tapi pasti ia menunjukkan  sumbangsihnya sebagai anggota kerajaan. Setiap perintah yang seakan tak masuk akan dikerjakannya dengan serius hingga menghasilkan sesuatu hal yang bermanfaat bagi kerajaan.  Setiap tindakannya dilakukan tanpa bertanya mengapa sebuah perintah diberikan. Yang ada dikepalanya adalah bagaimana cara menjalankan perintah, bukan mengapa.Sepertinya selama ini tanpa sadar ia diajar untuk patuh tanpa bertanya apapun. Ditambah dengan kemujuran-kemujuran yang selalu menyertainya, siapapun yang dulu meragukan kemampuan dan memandang rendah Fitz, sekarang memandangnya dengan hormat, walau sedikit.

Maka dimulailah kisah petualangan FitzChivalry Farseer  dari kerajaan Six Duchies yang penuh dengan intrik dan tipu daya. Dimana saja, kekuasaan selalu mengundang rasa iri dan dengki! Dan pastinya ada misteri percintaan yang seakan menjadi momok bagi kaum bangsawan.

Buku ini merupakan buku yang unik!
Tengok saja nama-nama yang membidani  kelahiran buku ini. My beloved sis Uchi, belobed manajer  Sil serta editor yang mumpuni, Lulu. Minimal ada jaminan mutu untuk terjemahan dan typo he he he. Jika urusan kisah  pastilah menjadi bagian sang tukang cerita.

Awalnya saya kurang menyukai cara bercerita dalam buku ini. Alurnya lamban sekali! Nyaris saya menyerah jika tidak ada dorongan semangat. Apalagi saya bukan pembaca yang gemar melahap narasi panjang lebar. Sampai nyaris setengah buku isinya lebih banyak narasi  seputar Fitz saja. Kisah tentang bagaimana ia menghabiskan waktu luangnya saja bisa lebih dari 2 halaman, duh membuats aya lelah membacanya. Perincian yang menurut saya tidak perlu justru bertebaran dimana-mana. Aduhhhhhhhhhhhhhhhhhh!

Untungnya kian kebelakang, kisah nya mendaak berubah 360 derajat!  Fitz tidak lagi tertatih-tatih, tapi ia berjalan cepat bahkan berlari di beberapa bagian. Uraian yang semula saya anggap tidak penting justru di belakang malah menjadi kunci utama guna memahami suatu hal. Kadang saya terpaksa mundur ke halangan belakang jika merasa lupa ini bagian dari kisah yang mana ya...

Penulis rupanya sengaja menceritakan banyak hal di awal kisah agar pembaca bisa memahami bagaimana tepatnay sebuah peristiwa terjadi. Tidak ada yang tersisa dari rangkaian rincian penjabaran di awal-awal bab. Semuanay terkemas dalam untaian kisah menawan. Sungguh pengorbanan yang sangat layak!

Selain mendapat pengetahuan tentang bagaimana kehidupan kerajaan pada zaman itu. Urusan politik kadang mendominasi segala aspek kehidupan dalam lingkungan kerajaan. Setiap tindakan seseorang disengaaj atau tidak bisa membahayakan dirinya, terutama jika bersinggungan dengan penguasa. Tengok bagaimana saudara ayah Fitz dalam bersikap, atau bagaimana pengasuhnya membelanya demi darma pada sang tuan

Kita juga mendapat banyak kalimat indah penuh petuah yang diselipkan dalam cerita. Misalnya saja "Buang kerinduanmu padanya. Dengan begitu tidak akan terlalu sakit."  Kalimat ini diberikan oleh  Burrich saat menasehat Fitz yang bersedih kehilangan anak anjing peliharaannya. Atau kalimat, " Belajar  tidak pernah salah. Bahkan belajar untuk membunuh tidaklah salah. Atau benar, itu hanya satu hal untuk dipelajari." Kalimat yang diterima Fitz saat akan belajar menjadi seorang pembunuh.
 
Upssssssssssss! Saya spoiler.
Habis mau bagaimana, kisahnya menggoda untuk dibagi sih. ^_^

Termasuk kata-kata umpatan yang biasanya jarang ada di sebuah novel di halaman 321 he he he

Sejujurnya saya sangat  membenci kelakuan para penghuni kastel Six Duchies! Teganya mereka memperlakukan Fitz dengan begitu kejam. Membiarkan seorang anak tidur di tempat sembarangan, makan semaunya bahkan mungkin makanan yang tak layak bagi anak-anak. Mendengar mereka mengumpat dan mengintimidasinya sebagai seorang anak haram yang tak berguna! Bukan salahnya jika ia lahir tidak dari pernikahan resmi orang tuanya, tapi seakan-akan seluruh kastel ingin membuat ia sadar dimana posisinya. Sungguh kehidupan yang berat bagi anak kecil!

Satu hal yang menonjol dalam kisah ini  adalah unsur persahabatan. Persahabatan yang dibina Fitz dengan sang pelawak terbukti telah menyelamatkan dia dalam berbagai bahaya. Persahabatannya dengan anjing kesayangannya telah menyelamatkan jiwanya. Persahabatan denga anak-anak lain telah menempa Fitz menjadi anak yang tangguh.

Robin Hobb adalah nama pena dari novelis Margaret Astrid Lindholm Ogden. Penulis ini  lahir  pada tahun 1952 di California dan menghabiskan masa kecilnya di Alaska. . karyanya terutama adalah fiksi fantasi , walaupun dia telah menerbitkan beberapa fiksi ilmiah .  Nama Robin Hobb mulai digunakannya pada tahun 1995 untuk karya tradisional Fantasy epik Abad Pertengahan Eropa. .

Karya-karya sebagai  Megan Lindholm antara lain:
The Ki and Vandien Quartet
  • Harpy's Flight (1983) ISBN 0-00-711252-1
  • The Windsingers (1984) ISBN 0-00-711253-X
  • The Limbreth Gate (1984) ISBN 0-00-711254-8
  • Luck of the Wheels (1989) ISBN 0-00-711255-6
Tillu and Kerlew
  • The Reindeer People (1988) ISBN 0-00-711422-2
  • Wolf's Brother (1988) ISBN 0-00-711434-6
Other Books
  • Wizard of the Pigeons (1985)
  • Cloven Hooves (1991) ISBN 0-553-29327-3
  • Alien Earth (1992) ISBN 0-553-29749-X
  • The Gypsy (1992) with Steven Brust ISBN 0-7653-1192-5
Short stories
  • Cut (Read online)
Karyanya sebagai Robin Hobb
The Farseer Trilogy
  • Assassin's Apprentice (1995)
  • Royal Assassin (1996)
  • Assassin's Quest (1997)
Liveship Traders Trilogy
  • Ship of Magic (1998)
  • The Mad Ship (1999)
  • Ship of Destiny (2000)
The Tawny Man Trilogy
  • Fool's Errand (2002)
  • Golden Fool (2003)
  • Fool's Fate (2003)
 The Rain Wilds Chronicles
  • Dragon Keeper (2009)
  • Dragon Haven (2010)
  • City of Dragons (to be released in 2012)
  • Dragon Blood (to be released in 2012)
Soldier Son Trilogy
  • Shaman's Crossing (2005)
  • Forest Mage (2006)
  • Renegade's Magic (2008)
Short stories
  • "The Inheritance" (The Realm of the Elderlings) in Voyager 5: Collector's Edition.
  • "Homecoming" (The Realm of the Elderlings) in Legends II, edited by Robert Silverberg.
  • "Words Like Coins" (The Realm of the Elderlings)
  • The Triumph, a historical story in the Warriors anthology.
  • "Blue Boots" (The Realm of the Elderlings) in Songs of Love and Death, edited by George R. R. Martin and Gardner Dozois.
Collections
  • The Inheritance & Other Stories (2011)
Gambar dari :
http://aworldofmakebelieve.blogspot.com/2011/05/assassins-apprentice.html

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Bandung, Kata Para Penyair - ulasan



Judul : Di Atas Viaduct (Bandung dalam Puisi Indonesia)

Editor : Ahda Imran

Penerbit : Forum Sastra Bandung

Terbit : I, Mei 2009

Halaman : 293 Halaman

Harga : Rp. 60.000


Bagi seniman, kunjungan ataupun kehadiran di sebuah kota, seringkali bukanlah sekadar menempatkan dirinya secara geografis dalam sebuah wilayah kota, namun seringkali secara spritual.

Artinya, kehadiran dirinya di dalam sebuah kota selalu melibatkan dimensi-dimensi spiritual, emosional hingga psikologis. Dimensi-dimensi inilah yang mendorong seniman untuk melakukan sebuah refleksi--baik tentang dirinya maupun tentang lingkungan di sekitarnya.

Hasil refleksi inilah yang kemudian dapat dituangkan ke dalam sebuah karya seni, misalnya saja puisi.

Begitu juga dengan antologi puisi Di Atas Viaduct ini. Di dalam buku ini termuat puisi-puisi dari sejumlah penyair. Saya sangat percaya, kehadiran puisi-puisi ini merupakan buah relasi penyairnya dengan lingkungan, atmosfer, dinamika masyarakat dan segala hiruk pikuk Kota Bandung.

Sebagian penyair mengungkapkan keprihatinannya terhadap Kota Bandung yang terus mengalami perubahan. Perubahan sosial yang berimbas kepada perubahan-perubahan lingkungan dan sosial, telah membuat penyair merasa roh dan wajah Bandung hilang.

Lihat saja puisi Juniarso Ridwan berjudul Ahoaho Bandung. Dalam puisi ini Juniarso menegaskan bahwa lingkungan kota Bandung tengah mengalami perubahan. Dalam saja tersebut Juniarso menulis, jajaran tiang beton, ya nenekku/tlah gantikan pohon kenari/ sepintas wajah penghuni kota/ tak kenal wajah sendiri//.

Kegelisahan yang sama tampak juga dalam puisi Diro Aritonang berjudul Braga Sky, ..deru bising kota/ melumpuhkan otakku/ jantung kota yang tak menentu/membuat kosong pandangan mataku/ di setiap trotoar jalana/...

Dari sajak ini terlihat bagaiman Diro Aritonang merasakan Bandung tidak lagi ramah. Braga Sky, yang menjadi judul sajak ini, adalah sebuah pusat belanja yang berada di kawasan Jalan Braga. Braga yang klasik, bangunan berarsitektur unik, kini terganggu dengan hingar bingar pusat belanja tersebut.

Selain sajak yang menyesalkan perubahan-perubahan negatif dalam Kota Bandung, sejumlah penyair pun menuliskan kegelisahan-kegelisahan personal saat mereka berada di Bandung. Hal ini tampak jelas pada sajak-sajak yang ditulis oleh Fadjroel Rachman dan Acep Zamzam Noor.

Dari kumpulan puisi ini kita dapat melihat bahwa Bandung pada dasarnya tidak dapat statis. Ia akan berubah. Persoalannya adalah bagaimana perubahan itu tidak membawa implikasi negatif, baik secara sosial ataupun ekologis.

Bagi mereka yang rindu kota Bandung, kumpulan sajak ini bisa menajdi pengobat rindu. Bagi mereka yang ingin mengetahui Kota Bandung lebih jauh, mungkin antologi inilah salah satu media yang bicara jujur mengenai Paris Van Java itu.


lintasberita

Lanjut Baca

Buku The Boy who Ate Stars - ulasan

The Boy who Ate Stars (Anak Lelaki yang Menelan Bintang-Bintang)
Kochka @ 2002
Rahmani Astuti (Terj.)
GPU – Agustus 2008
104 hal.

Lucy yang baru saja pindah ke apartemen baru bertekad untuk mengenal seluruh penghuni di apartemen itu. Dia akan menempelkan bendera di kamarnya untuk asal setiap tetangga barunya. Tapi, sebuah kejadian di malam hari, memporak-porandakan tekad Lucy. Suara berisik yang berasal tetangga di lantai atas, membawa Lucy pada sebuah petualangan baru.

Sikap misterius orang tuanya yang justru membuat Lucy ingin mengenal siapa tetangga di lantai atas itu. Dalam perjalanan membeli roti, Lucy sengaja mampir dulu. Yang ditemuinya ternyata sebuah hal yang luar biasa. Atau tepatnya anak yang luar biasa bernama Matthew.

Matthew adalah bocah laki-laki yang mengidap austis. Dari Matthew, Lucy jadi tau ada dunia lain yang selama ini luput dari pandangannya. Matthew membuat rasa ingin tau Lucy jadi begitu besar. Ia melakukan petualangan bersama temannya Theo dan seekor anjing bernama Francois. Bagi Lucy mungkin perjalanan singkat adalah hal kecil, tapi bagi Matthew dan Francois, itu adalah petualangan besar dan menegangkan.

Novel tipis ini menjadi teman gue menghabiskan weekend kemarin. Seperti biasa, ‘kehabisan’ buku baru. Gue pandang-pandang lemari buku gue, tiba-tiba gue menemukan buku ini terselip, dan ooopsss.. ternyata belum pernah gue baca.

Buku tipis ini mengajak kita untuk mengenal arti persahabatan, simple-nya dunia anak-anak dan menyadarkan orang tua untuk ‘mau’ menjawab pertanyaan anak-anak dengan sabarrrrr… hehehehe…

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Pesan dari Sambu - ulasan

Pesan dari Sambu
Tasmi P.S. @ 2009
Hikmah – Cet. I, Maret 2010
349 hal

Pulau Sambu? Ada yang pernah denger nama pulau ini? Jujur, gue baru kali ini tau di Indonesia, atau tepatnya di Kepulauan Riau, ada yang namanya Pulau Sambu. Ups.. ma’afkan minimnya pengetahuan geografi gue ini.

Di pulau inilah, Mimi tinggal, bersama orang tua dan adik-adiknya yang tiap 2 tahun sekali selalu bertambah. Mimi sebenarnya ada ketiga, tapi kedua kakaknya sekolah di pulau Jawa, jadilah ia mendapat tugas untuk jadi ‘kakak tertua’, mengasuh adik-adiknya. Mimi berparas cukup cantik, banyak teman-teman sekolahnya yang naksir dengan Mimi, bahkan guru-guru laki-laki juga.

Ayah Mimi bekerja sebagai kepala bengkel di PT Shell. Tinggal di pulau kecil, tidak berarti kehidupan mereka terbelakang. Justru semua di sana serba mudah. Ayah Mimi digaji pakai dollar Singapura. Mau ikan, tinggal mancing, minyak dan air habis, tinggal lapor. Main-main bisa di laut. Mau jalan-jalan, tinggal nyeberang pakai ferry ke Singapura. Asyik kan? Potong rambut aja di Singapura. Keamanan terjamin. Teman juga banyak. Uang di pulau ini justru gak laku, makanya Mak-nya Mimi lebih senang menyimpan emas.

Tapi, justru mereka kehilangan akar budaya mereka. Seperti Mimi, sebenarnya ia keturunan Jawa. Tapi, ketika diajak ‘perlop’ ke Jawa, justru ia dan adik-adiknya dianggap aneh. Orang Jawa tapi gak bisa bahasa Jawa. Malah lebih jago bahasa Melayu, lebih kenal tari Serampang Dua Belas, dibanding tari Serimpi.

Meskipun sayang dengan adik-adiknya, Mimi kerap lelah karena harus selalu mengurus dan bertanggung jawab atas adik-adiknya itu. Mau pergi belajar nari, adik-adiknya merengek ingin ikut, mau nonton ‘wayang gambar’ dengan teman-temannya, meskipun sudah pakai berbagai macam jurus, tetap saja adik-adiknya berhasil menemukan keberadaan Mimi. Awalnya Mimi berpikir, mungkin dengan menikah, ia akan terbebas dari tanggung jawab ini.

Di usia yang sangat muda, Mimi pun akhirnya menikah dengan seorang prajurit dengan usia yang beda 6 tahun. Tapi, Mimi tak boleh sekolah lagi, harus menyesuaikan diri dengan predikat baru sebagai istri prajurit dan ikut ke mana suami pergi.

Menarik? Buat gue, awalnya memang menarik. Banyak kata-kata campur aduk, antara bahasa melayu, bahasa Inggris. Untung catatan kakinya cukup jelas, jadi kita gak perlu menebak-nebak apa arti kata tersebut.

Tapi memang gue suka berharap terlalu banyak di awal. Buku ini jadi rada nanggung buat gue. Tadinya gue pikir, bakalan ada cerita dengan porsi yang lebih banyak tentang gimana Mimi harus beradaptasi dengan saudara-saudaranya di Jawa, atau tentang kehidupan Mimi setelah menikah.


lintasberita

Lanjut Baca

Buku Ranah 3 Warna - ulasan

Ranah 3 Warna
A. Fuadi
GPU – Cetakan I, Januari 2011
474 hal

Pendidikan di Pondok Madani telah selesai. Alif kembali ke kampung halamannya di Maninjau. Cita-citanya kali ini adalah lulus UMPTN. Tapi sayang, banyak suara-suara sumbang yang membuat berkecil hati. Lulusan madrasah, mana bisa tembus UMPTN. Belum tentu juga lulus ujian persamaan SMA. Tapi Alif, semakin dikecilkan, semakin ia bertekad untuk membuktikan bahwa perkataan orang-orang itu salah. Terutama lagi, ia ingin membuktikan kepada Randai, bahwa ia juga bisa masuk ke perguruan tinggi dan bahkan mungkin ke Amerika… seperti cita-citanya selama ini.

Memang bukan ITB yang selama ini ia inginkan, tapi tetap Alif akhirnya membuktikan, bahwa anak pesantren juga bisa masuk perguruan tinggi negeri.

Perjuangan ternyata tidak hanya sampai di situ. Di Bandung, jauh dari orang tua, kondisi keuangan pas-pasan, membuat Alif harus memutar otak bagaimana bisa bertahan hidup. Ia mencoba bekerja sembari kuliah. Membuang rasa malu, ia jadi pedagang keliling, menjadi guru privat sampai akhirnya jatuh sakit.

Beruntung ada kesempatan lain, yang membuat Alif bangkit. Meskipun sempat membuat persahabatannya dengan Randai sedikit rusak, Alif pelan-pelan jadi mandiri dan semakin bertekad untuk menggapai cita-citanya.

Usaha Alif yang kocak, sok tau dan maju terus pantang mundur, berbuah manis. Ups… kecuali untuk urusan cinta… hehehe…

Meskipun, ada yang bilang ending-nya begitu mudah ditebak, ceritanya klise, tapi buat gue ini masih jadi salah satu favorit gue. Semua ditulis begitu detail dan rapi. Penuh dengan usaha yang jatuh bangun, beberapa juga ada yang membuat gue terharu. Iri juga karena Alif akhirnya bisa sampai ke Amerika. (hiks… gue jadi menyesal waktu kuliah gak pernah usaha lebih keras… ups.. cur-col). Tapi, gpp… buku ini bisa jadi pemompa semangat baru… biar gak gampang putus asa, biar gak gampang nyerah… biar terus usaha untuk cari jalan keluar biarpun rasanya semua pintu itu tertutup…

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Prophecy of The Sisters - ulasan

Prophecy of The Sisters
Michelle Zink @ 2009
Ida Wajdi (Terj.)
Matahati - Cet.I, Maret 2011
359 hal.

Belum cukup duka yang disebabkan oleh ayahnya yang meninggal dengan cara yang misterius, Lia Milthrope harus menghadapi serangkaian kejadian aneh lainnya. Dimulai dengan munculnya tanda aneh di pergelangan tangan, lalu sikap saudari kembarnya, Alice, yang juga aneh, lalu ditemukannya sebuah buku misterius yang hanya berisi satu halaman saja dan letaknya tersembunyi.

Tapi dari buku itu, Lia mengetahui sebuah rahasia. Rahasia ini sudah ada semenjak jaman ibu, nenek, nenek buyut – intinya, inilah takdir yang diturunkan kepada setiap anak kembar perempuan, yang artinya harus ia dan Alice terima. Bahwa kematian ibu dan ayahnya yang misterius juga termasuk dalam rangkaian takdir itu. Bahwa Lia dan Alice harus berada di sisi yang berseberangan dan tak bisa menjadi kawan dalam hal ini. – sebagai seorang Garda dan Gerbang. Lia sempat emosi berat… karena kenapa dia baru tahu tentang rahasia ini, kenapa seolah Alice lebih siap dan selangkah lebih maju… untuk gadis berusia 16 tahun, tentunya ini bukan beban yang enteng…

Ternyata, bukan hanya Lia yang penasaran dengan apa yang terjadi, diam-diam Alice juga mencari tahu tentang takdir yang harus mereka berdua jalani. Meskipun apa yang Lia dan Alice inginkan bertolak belakang dengan yang seharusnya mereka jalani.

Lia berkenalan dengan Sonia, seorang cenayang dan Luisa, teman satu sekolahnya. Mereka berdua memiliki tanda yang mirip dengan yang Lia miliki. Dengan bimbingan Sonia, Lia mengembara ke Dunia Lain, untuk bertemu dengan arwah ayah dan ibunya, mencari kunci-kunci yang disebutkan di dalam buku rahasia itu.

Tujuannya adalah satu, jangan sampai iblis masuk ke dunia dan menguasai dunia, dan jangan sampai Alice yang lebih dulu mendapatkan kunci itu Karena Lia-lah yang nantinya akan menentukan, apakah Gerbang itu akan dibuka atau akan tetap tertutup.

Awalnya, banyak yang bikin gue bertanya-tanya, kenapa ibu mereka mengurung diri di dalam Kamar Gelap? Apa penyebab misterius kematian ayah mereka? Apa hubungan Sonia dan Luisa dalam masalah ini?

Di awal, beberapa ‘kenyataan’ rada menjebak. Seolah kita udah bisa tahu pasti posisi Lia dan Alice. Siapa yang jadi Garda, siapa yang jadi Gerbang… tapi ternyata.. masih ada rahasia lagi yang memutarbalikkan kenyataan yang ada. Tenang… jawaban pelan-pelan akan ditemukan… seiring dengan cerita. Baca buku ini, tegang campur penasaran.

Dan… arggghhhh…. bersambung ternyata…. Yah… dari awal sih gue udah curiga ini bakalan bersambung. Artinya gue harus bersabar sampai sambungannya terbit.

lintasberita

Lanjut Baca

Buku The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society - ulasan

The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society
Mary Ann Shaffer & Annie Barrows @ 2008
Allen & Unwin - 2008
240 pages

Awal gue membaca judulnya, gue rada ‘alergi’ karena ada kata-kata ‘Literary’-nya. Takutnya, bahasa terlalu ‘tinggi’ sampe gue gak ngerti isi ceritany. Tapi, dari hasil jalan-jalan ke beberapa blog, koq tampaknya menariknya? Beruntung ada yang mau barter dengan buku gue, jadi gue bisa membaca buku ini.

Alkisah, Juliet Ashton, seorang penulis yang terkenal dengan kolomnya ‘Izzy’. Dia ini lagi cari ide untuk buku terbarunya. Ketika itu masa-masa setelah perang dunia kedua. Apartemen Juliet sendiri hancur karena serangan bom.

Secara kebetulan, Juliet menerima surat dari Dawsey Adams, seorang pria yang tinggal di Guernsey Island. Pak Dawsey ini cerita kalau dia kebetulan membaca bukunya dulunya punya Juliet. Di buku itu ada alamat Juliet. Jadilah bersurat-suratan, cerita tentang buku-buku, sharing tentang kehidupan di Guernsey selama diduduki tentara Jerman pas Perang Dunia itu.

Dan akhirnya, gak hanya Dawsey yang surat-suratan sama Juliet. Tapi juga ada Eben, yang suka Shakespeare, Isola – yang suka bikin ‘ramuan’ sendiri, ada Amelia – yang paling tua di antara mereka. Semua jadi cerita ke Juliet. Dan dari sinilah, Juliet tau gimana kelompok baca ini bisa terbentuk dan apa hubungannya sama si Pie Kentang yang ikutan dimasukin jadi nama kelompok itu.

Lama-lama, Juliet jadi penasaran dengan Guernsey dan para sahabat barunya itu. Ide untuk buku barunya muncul dan Juliet pun akhirnya berkunjung ke Guernsey. Akhirnya, malah Juliet betah di Guernsey. Dia menemukan sahabat baru yang menyenangkan. Ada satu tokoh yang selalu disebut-sebut oleh teman-temannya di Guernsey, yang sayangnya, bernasib tragis di tangan tentara Jerman. Elizabeth McKenna - namanya, selalu jadi sahabat semua orang.

Buku ini ditulis dalam bentuk surat-menyurat antara Juliet, teman-teman di Guernsey, dengan editor-nya dan dengan sahabat Juliet di London. Mungkin di awal agak sedikit membingungkan, karena begitu banyak tokoh yang ‘bersliweran’ di surat-surat Juliet. Tapi, makin lama, gue jadi merasa ikut ‘bersahabat’ dengan mereka.


lintasberita

Lanjut Baca

Buku Gelang Giok Naga - ulasan

Gelang Giok Naga
Leny Helena
Qanita, Cet. 1 – November 2006
316 Hal.

A Sui dan A Lin, awalnya mereka sama sekali tidak kenal satu sama lain. Meskipun sama-sama berasal dari Cina, lalu hijrah ke Indonesia di jaman Belanda, nasib mereka berbeda. A Sui, meninggalkan Cina untuk menyusul suaminya yang mencoba peruntungan di Indonesia. Kala itu banyak orang Cina yang merantau dan membuka usaha di Indonesia (masih dengan nama Batavia). Awal kehidupan A Sui dan suaminya di Indonesia begitu makmur.

Berbeda dengan A Sui, datang ke Indonesia, A Lin dipekerjakan untuk mengurus ternak babi, bahkan ia harus tinggal satu kandang dengan hewan-hewan itu dan diperlakukan kurang baik. Sampai akhirnya, ia dijadikan nyai bagi seorang tuan Belanda. Tapi, setelah memilik anak, sang Tuan Belanda itu kembali ke negerinya sendiri, sambil membwa anak kembar mereka. Tinggalah A Lin sendiri. Ia pun menikah lagi dengan sesama orang Cina.

Nasib ternyata berubah, usaha suami A Sui bangkrut dan mereka hidup dalam kemiskinan. Sementara A Lin semakin kaya dengan ‘profesi’nya sebagai rentenir. A Lin jadi Nyonya Besar yang dihormati dan ditakuti. Kemiskinanlah yang mempertemukan mereka pada awalnya. Ketika A Sui terpaksa menggadaikan gelang giok naga pemberian ibunya. A Lin akhirnya menyimpan gelang itu karena A Sui tak sanggup untuk menebusnya. Sampai akhirnya, gelang giok naga itu kembali kepada pemilik yang sebenarnya.

Gelang giok naga itu sendiri sudah dimiliki ibu A Sui, warisan turun temurun yang hanya diberikan kepada anak perempuan. Pemilik awal gelang giok naga ini adalah seorang selir bernama Yang Kuei Fei, yang melarikan diri dari istana setelah sang Kaisar terbunuh. Takut dituduh melakukan pembunuhan, ia pun lari bersama seorang Kasim istana.

Lagi gue membaca cerita ‘turun-temurun’ sebuah keluarga keturunan Cina di Indonesia. Masih ‘bersinggungan’ dengan sejarah, terutama ketika terjadinya peristiwa di tahun 1998. Swanlin berulang kali harus menerima perkataan yang menyakitkan sebagai akibat ia seorang Cina.

Sayang, ada halaman yang hilang – dari halaman 273 – 288 – hiks…

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Bonsai: Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng - ulasan

Bonsai: Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng
Pralampita Lembahmata
GPU – Maret 2011
520 hal.

Sebuah pohon kate alias bonsai menjadi saksi bisu perjalanan sebuah keluarga. Berawal dari sebuah kunjungan ke rumah seorang teman, Boenarman, warga Indonesia keturunan Tionghoa, tertarik dengan sebuah pohon yang dibuat jadi kecil, tapi ternyata memiliki sebuah pemahaman, filosofi yang sangat dalam. Dari situlah, ia bercita-cita, memiliki satu bonsai yang akan menjadi sebuah prasasti, pusaka, warisan bagi keluarganya kelak.

Boenarman yang menjadi pengusaha ternak babi merawat bonsai itu dengan penuh perhatian. Dibesarkan di jaman serba susah oleh ibunya, Boenarman tumbuh jadi orang yang sukses, sederhana dan bijak. Di kala itu, tahun 1900an, penggemar bonsai masih langka. Orang yang tak paham dengan apa yang jadi tujuan Boenarman, mungkin akan melihat ia berlebihan. Boenarman memperlakukan bonsai bagai ‘anggota keluarga’. Manakala hatinya galau, ia duduk di depan bonsai, merenung, seolah bercakap-cakap dengan bonsai dan hatinya pun jadi lebih tentram.

Ketika tentara Jepang datang ke Indonesia dan merampas semua harta benda rakyat, bonsai ini disimpan di antara pohon-pohon lain sehingga tidak seperti tanaman yang berharga. Pengentahuan tentang bonsai pula yang jadi penyelamat nyawa Boenadi, anaknya.

Bonsai ini tetap hidup, melintas berbagai jaman, menjadi saksi berbagai peristiwa bersejarah – tak hanya sejarah keluarga itu sendiri, tapi juga sejarah bangsa Indonesia. Tak hanya saat-saat bahagia, tapi juga ketika satu keluarga ini dirundung masalah, bonsai ini tampak menjadi penenang dan pelindung bagi keluarga besar Boenarman. Seperti yang diharapkan oleh Boenarman, bonsai ini dimiliki secara turun-temurun di dalam keluarganya. Mencari penerus untuk memelihara bonsai ini, juga bukan perkara mudah. Harus ada kemauan dan minat yang tumbuh secara alamiah, tak boleh ada rasa terpaksa dalam diri sipewaris.

Cara bertutur para tokoh juga bergulir seiring dengan jaman yang berubah. Misalnya cara bicara Boenarman dengan sahabat-sahabatnya lebih ‘berbunga-bunga’ atau lebih banyak kata-kata yang halus dibanding ketika Boenadi bertutur, berubah lagi ketika Meily, anak Boenadi berbicara. Gak berasa kalau ternyata jamannya udah berubah. Surat-suratan Boenarman juga ditulis dengan bahasa Indonesia berejaan lama.

Cerita bonsai berlatar belakang keluarga keturunan Tionghoa, yang sudah turun-temurun ada di Indonsia,
sehingga sudah berbaur dengan bangsa pribumi. Pembaca diajak menelusuri sejarah Indonesia, sejak masih ada yang namanya Festival Perahu Naga di Tangerang, hingga kerusuhan Mei 1998. Dari jaman ketika para warga keturunan dan pribumi bersatu, hidup damai tanpa ada prasangka dan curiga, hingga akhirnya warga keturunan Cina dicaci-maki, difitnah, dan akhirnya terjadi berbagai peristiwa yang berujung pada perbedaan yang semakin meruncing.

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Ape House - ulasan

Ape House
Sara Gruen @ 2010
Two Roads
367 pages

Di saat orang sedang santai di rumah, menikmati tahun baru bersama keluarga, Isabelle Duncan nyaris tewas karena ledakan bom di laboratorium tempatnya bekerja. Sebuah organisasi pencinta binatang menyatakan bertanggung jawab atas kejadian itu. Isabel adalah seorang ilmuwan yang mengabdikan dirinya di dalam dunia ‘bonobo’ atau ‘ape’ – jenis kera yang mungkin lebih mirip simpanse atau orang utan (please, correct me if I’m wrong… ). Isabel belajar bagaimana bonobo berinteraksi, berkomunikasi, sampai akhirnya ia mengerti ‘bahasa’ mereka. Isabel juga mengatur menu diet mereka dan mengajarkan berbahasa yang baik.

Ada orang-orang yang mengaku pencinta binatang yang salah mengartikan semua penelitian yang dilakukan Isabel dan teman-temannya. Mereka berpikiran apa yang dilakukan Isabel adalah sebuah bentuk eksploitasi terhadap hewan.

Mengalami luka parah, hingga harus dioperasi plastik dan harus dirawat lama di rumah sakit, Isabel terkejut ketika mengetahui apa yang terjadi dengan keenam bonobo asuhannya. Mereka dibawa ke sebuah rumah, dikumpulkan di dalam satu ruangan yang dipasang kamera di berbagai sudut – dan semua kegiatan mereka disiarkan secara live. Ken Faulks, salah satu pemilik berbagai acara reality show, berharap acara ini akan menarik banyak pemirsa, meskipun dengan cara yang ditentang banyak orang.

John Thigpen, berusaha menyelamatkan karirnya di dunia jurnalistik. Meskipun ia terpaksa mengambil tawaran bekerja di sebuah tabloid, ia bertekad untuk membongkar kebusukan di balik reality show ‘Ape House’ itu.

Sekali lagi, Sara Gruen mengambil tema tentang hewan, khususya tentang eksploitasi hewan. Yang suka sama Water for Elephants, gak akan menyesal untuk baca buku ini. Reality show itu gak ‘se-real’ yang ditonton di tv, too much dramas, too much conflicts.

Gue jadi inget jaman dulu pernah nonton di tv (masih ada tvri aja), film tentang simpanse yang pinter main band, didandanin dengan pakaian layaknya manusia, dan gue seneng banget dulu nonton ini. Dan gue juga jadi inget dengan pertunjukan topeng monyet. Kalo dulu, si topeng monyet ini ‘beneran’ untuk menghibur, tapi sekarang malah dipakai untuk mengemis.

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Scones and Sensibility - ulasan

Scones and Sensibility
Lindsay Eland @ 2010
Penerbit Atria - Maret 2011
302 Hal.

Polly Madassa, baru berusia 12 tahun, tapi ia merasa paling ‘ahli’ dalam urusan percintaan bahkan perjodohan. Kegemarannya membaca buku-buku klasik, dan hal ini begitu ‘merasuk’ ke jiwanya, sampai-sampai ia terhanyut dan terbawa dalam kehidupan nyata. Polly selalu berkhayal tentang tokoh-tokoh dalam novel Anne of Green Gables, Pride and Prejudice. Polly dengan baju berenda-renda dan topinya, menulis dengan pena khusus kaligrafi, punya jam saku dan kalau bicara begitu berbunga-bunga, layaknya dalam novel-novel itu.

Begitu menjiwai isi cerita klasik yang ia baca, Polly merasa bahwa orang-orang di sekitarnya memerlukan ‘sebuah rajutan cinta yang baru’. Polly bertekad memutuskan hubungan Clementine, kakaknya, dengan Clint, karena Polly melihat Clint sangat menyebalkan dan tidak cocok untuk kakaknya. Mulailah proyek ‘Cinta Dirajut’ pertama, mencari ‘peminang’ yang tepat untuk kakaknya.

Proyek kedua, adalah mencarikan istri untuk Mr. Fisk, yang tak lain adalah ayah sahabatnya Fran. Proyek ketiga, menjodohkan Miss Wiskerton dengan Mr. Nightquist, si pemilik toko layang-layang.

Berbagai usaha dilakukannya. Mulai dari mengirim roti ke Miss Wiskerton yang mengatasnamakan Mr. Nightquist, mencari pasangan di tempat-tempat yang ia datangi (kebetulan di liburan musim panas kali ini, Polly mendapat tugas mengantar roti – maklum anak pemilik toko roti), memberi bunga pada wanita tak dikenal di coffee shop karena ia rasa cocok dengan Mr. Fisk, dan memaksa Edward alias Eddie untuk menjadi ‘knight in shining armor’ untuk menyelamatkan Clementine.

Tapi, tak semua berjalan mulus. Malah kekacauan demi kekacauan terjadi. Banyak kesalahpahaman, sampai-sampai, Polly tak melihat sosok ‘peminang sejati’ untuk dirinya sendiri.

Membaca ini, gue jadi melihat sosok Anne Shirley dalam versi yang lebih modern dan lebih konyol, lebih lebay. Tapi, salut buat Polly yang gemar baca buku klasik dan sampai berulang-ulang. Gue aja baru berhasil baca Jane Eyre tahun lalu, dan gak berniat untuk mengulangnya. Mungkin gue kurang menjiwai ceritanya seperti Polly.

Gue jadi ngebayangin asyiknya lokasi tempat Polly tinggal. Setiap pagi nyium aroma roti yang baru matang (hmmm.. minus acara gosong-gosongannya Clementine), jalan-jalan di tepi pantai sambil naik sepeda… hehehe.. gue jadi ikutan berkhayal kaya’ Polly, deh…

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Coming Home - ulasan

Coming Home
Sefryana Khairil
Gagas Media
328 hlm

Rayhan datang ke Yogyakarta bersama anak semata wayangnya, Kirana, mencoba memulai hidup barunya berdua. Tak punya pekerjaan, sementara ada anak yang harus ia beri makan. Kehidupannya kacau sejak berbagai cobaan datang bertubi-tubi.

Amira, datang ke Yogyakarta, 5 tahun yang lalu, mencoba menyembuhkan rasa sakit setelah ia bercerai dengan suaminya. 3 tahun pernikahan, ternyata sia-sia ketika suaminya berselingkuh dan meninggalkannya karena perempuan itu hamil.

Tak disangka, di Yogyakarta Amira dan Rayhan bertemu kembali. Rayhan menyekolahkan Kirana di tempat Amira mengajar. Meskipun Amira berusaha bersikap dingin setiap bertemu Rayhan, ia tak kuasa menahan perasaan untuk tidak menyayangi Kirana, anak Rayha dengan perempuan selingkuhannya.

Tapi hampir setiap hari bertemu Rayhan yang menjemput Kirana, mau tidak mau membuka lagi memori yang ingin dilupakan Amira. Begitu juga dengan Rayhan, yang diam-diam menyadari kebodohon dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Amira. Namun, tak mudah untuk mendapatkan hati Amira lagi. Rasa sakit masih terlalu besar untuk dihilangkan dengan kata ma’af.

Buku kedua Sefryana Khairil yang gue baca, masih berkisar dengan yang disebut ‘domestic genre’, drama rumah tangga yang mengharu biru. Penuh dengan kegalauan dari dua tokoh utama, dua-duanya sama-sama berharap dan takut untuk memulai. Inti cerita ini adalah mema’afkan, mampukan Amira yang ditinggalkan memaafkan Rayhan dan menerima Rayhan kembali?

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Sisters Red - ulasan

Sisters Red (Dua Saudari Bertudung Merah)
Jackson Pearce @ 2010
Ferry Halim (Terj.)
Penerbit Atria – Cet 1, Februari 2011
432 Hal.

Kehidupan Scarlett dan Rosie March tiba-tiba berantakan ketika seorang pria misterius datang ke rumah mereka di suatu siang. Pria misterius itu tidak hanya merengut nyawa Oma March, hingga menyebabkan mereka harus bertahan hidup berdua, tapi juga mengakibatkan Scarlett kehilangan mata kanannya dan mempunyai bekas luka di sekujur tubuhnya.

Pria yang menawarkan jeruk itu bukanlah manusia sesungguhnya, ia adalah seorang (atau seekor?) Fenris, atau serigala jadi-jadian, atau yang biasa kita kenal dengan sebutan werewolves. Tapi, ow, jangan bayangkan werewolves ini seperti Jacob di Twilight Saga, di sini Fenris itu sangat mengerikan. Awalnya, mereka menyamar sebagai pria ganteng, rapi dan berlaku baik-baik, tapi begitu mereka berubah, sangat mengerikan dan menjijikan. Korban mereka adalah gadis-gadis muda yang gampang tergoda oleh rayuan pria. Mereka biasanya ada di tempat ramai tapi cenderung terpisah, mereka akan menggiring korban ke tempat yang gelap dan sepi dengan segala bujuk rayu, baru kemudian mereka perlahan-lahan berubah menjadi Fenris.

Kejadian mengerikan itu, membuat Scarlett bertekad untuk memburu para Fenris sampai habis. Ia menjadi sangat protektif terhadap Rosie. Meskipun ia menganggap Rosie sebagai rekannya dalam berburu, tapi sangat berat bagi Scarlett membiarkan Rosie berburu sendiri. Rosie yang cantik adalah umpan yang tepat untuk Fenris. Dengan kostum jubah merah lengkap dengan tudungnya, Scarlett dan Rosie memancing para Fenris untuk mendekat. Di balik jubah merah, tersembunyi senjata yang mematikan.

Semakin lama, berburu Fenris menjadi semacam obsesi bagi Scarlett. Baginya jika ia bersantai dan lengah sedikit, berarti akan ada gadis lain yang menjadi korban. Ia merasa tugasnyalah untuk menyelamatkan dunia ini dari Fenris. Tapi tidak bagi Rosie, yang diam-diam jatuh cinta pada sahabat mereka sejak kecil, Silas. Silas tak lain, adalah partner mereka juga dalam berburu. Dan Scarlett kerap marah setiap perhatian mereka berdua teralihkan dari berburu. Sementara Rosie merasa ia harus setia pada Scarlett yang sudah berkorban begitu besar untuk menyelamatkan nyawanya.

Masalahnya sekarang ini, adalah pergerakan Fenris yang semakin cepat, karena mereka sedang berburu Calon Fenris baru – seorang putra ketujuh dari putra ketujuh, tepat sebelum datangnya bulan purnama. Scarlett semakin tegang, sementara Rosie dan Silas – meskipun dengan rasa bersalah – menginginkan kehidupan lain di luar berburu. Mereka berburu hingga ke Atlanta, untuk mencegah jangan sampai Fenris menemukan sang Calon.

Yang pertama menarik perhatian gue, tentu saja covernya. Setelah sekian lama tertunda, akhir gue berhasil mendapatkan novel ini lewat barter dengan My Milky Way. Gue suka dengan ketiga tokoh utama dalam novel ini. Scarlett, yang sangat protektif, sampai-sampai dia lupa ada dunia lain yang begitu luas. Terkadang ia minder dengan luka-lukanya. Si Cantik Rosie, yang rapuh, tapi pintar dalam hal melempar pisau. Ia masih kerap gugup ketika menghadapi Fenris, tapi jadi berani saat orang-orang yang dia sayangi dalam bahaya. Sementara Silas, seolah menjadi sahabat, pelindung, penyeimbang bagi mereka berdua. Memang agak mengerikan ya, ngebayangin dua perempuan, remaja, bertarung melawan serigala jadi-jadian. Kena cakar, udah biasa… nyium bau yang *hueeekkk*, juga biasa… Lempar kapak, ok… lempar pisau… ok juga… Dan yang pasti, jangan sampai Fenris itu lolos, karena mereka akan jadi lebih lapar, dan mencari mangsa lebih banyak.

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Éclair - ulasan

Éclair
Prisca Primasari
Gagas Media - 2011
236 hlm

Mereka berlima bersahabat. Sergei, Kay, Lhiver, Stephanych dan Katya – perempuan satu-satunya. Mereka memilik keistimewaan masing-masing. Kay yang jago fotografi, Lhiver yang suka sastra, Stephanych si jago masak – Éclair kreasinya digambarkan sangattt enak. Sementara Sergei yang pintar main piano, lebih memilih mengurus bisnis keluarga. Sementara si cantik, Katya, yang akan segera menjadi nyonya Sergei, dikarunia intuisi layaknya seorang detektif. Maklum, Katya memang anak seorang detektif yang meninggal karena dibunuh oleh kelompok Rasputin – Rusia.

Tapi, sayangnya, sebuah tragedi memisahkan mereka. Masing-masing menyimpan rasa bersalah dalam diri mereka. Lhiver membenci mereka semua karena alasan itu. Stephanych, adik Sergei, akhirnya jatuh sakit. Semua berhenti makan éclair sejak kejadian itu. Kay pun pindah ke New York, Lhiver pindah ke Surabaya. Mereka berhenti berkomunikasi secara langsung. Hanya lewat surat yang terbalas, mereka saling tahu berita masing-masing, meskipun enggan memberi kabar balik.

Menjelang pernikahan Sergei dan Katya, penyakit Stephanych semakin memburuk. Tekad Katya ingin membuat mereka berlima berkumpul kembali di saat-saat terakhir Stephanych. Katya pun terbang ke New York – di sini, insting detektifnya berkerja untuk menyelamatkan Kay dari tuduhan pembunuhan. Setelah itu, Katya pun terbang ke Surabaya, mencari Lhiver yang bekerja sebagai dosen.

Para tokoh di dalam buku ini cenderung murung. Tapi, gue terkesan dengan setting ceritanya yang unik. Di antara buku-buku yang gue baca, rasanya jarang yang mengambil setting di Rusia. Paling sering, Paris. Ditambah lagi, tokoh-tokohnya bukan orang Indonesia. ‘Aksesoris’ lain dalam buku ini, nama-nama penulis terkenal asal Rusia – beberapa puisi sering dibaca Lhiver dan Stephanych, alunan musik klasik dengan composer asal Rusia yang dimainkan oleh Sergei, cuaca yang tampaknya dingin banget, dan jangan lupa, éclair buatan Stephanyc yang gak seperti éclair isi vanilla yang sering gue makan. Yang pasti, kalo papa tau cerita buku ini bersetting di Rusia, beliau pasti akan cerita panjang lebar tentang pengalaman beliau sekolah di Rusia dulu.

Satu yang belum kesampaian, dari dulu gue pengen banget punya matrioska… tapi belum kesampaian… belum ketemu (dan belum ada yang ngasih.. hehehehe)

lintasberita

Lanjut Baca

Buku The Pilot's Wife - ulasan

The Pilot's Wife
Anita Shreve @ 1998
Abacus 2003
293 pages

Sebagai seorang istri pilot, Kathryn tahu bahaya dan berbagai kemungkinan terburuk yang bisa terjadi pada suaminya, Jack Lyons. Tapi, ketika tengah malam datang seorang utusan dari perusahaan tempat Jack bekerja dan membawa kabar buruk itu, Kathryn tetap saja tidak siap. Bagi Kathryn, di hari terakhir ia bertemu dengan Jack, semua tampak biasa, tidak ada firasat apa pun, tidak ada yang aneh dari Jack.

Pesawat yang dikemudikan oleh Jack meledak dan jatuh di perairan Irlandia. Dari rekaman suara terakhir yang terdengar dari ‘kotak hitam’, tampak ada beberapa nada kaget dan mengarah pada Jack. Timbul dugaan bahwa Jack melakukan upaya bunuh diri, Jack terlibat dalam sebuah konspirasi.

Kathryn tak sedikit pun percaya akan dugaan itu, ditambah lagi ia harus melindungi Mattie, anak semata wayang mereka dari isapan jempol yang akan membuat kondisi psikologisnya semakin turun. Utusan dari perusahaan penerbang, Robert, setia menemani Kathryn, menghadapi berbagai pertanyaan dari pihak penyelidik.

Meskipun sedih, Kathryn mulai memilah-milah barang-barang milik Jack. Tanpa sengaja, Kathryn menemukan catatan-catatan kecil berisi inisial-inisial yang menimbulkan banyak pertanyaan. Kathryn mulai mengingat-ingat kembali hari-hari terakhir Jack ada di rumah, sikap aneh yang dulu terlewat. Lambat laun, Kathryn mulai mempertanyakan siapa suaminya yang sebenarnya, apa rahasia yang disembunyikan oleh Jack.

Lagi-lagi ini buku lama yang gue punya, yang dulu gue cuekin. Baca beberapa lembar, terus males. Emang harus nunggu ‘kehabisan’ buku dulu, baru ngelirik buku-buku lama. Overall, ceritanya menarik. Gue punya saudara pilot, selama baca buku ini, gue jadi bertanya-tanya, apa yang dipikirkan istrinya kalau suaminya lagi tugas. Deg-degan, was-was atau apa…

Gue bertahan sampai akhir cerita, karena rasa ingin tahu tentang rahasia Jack (kenapa mirip sama Looking for Ward yang baru aja gue baca juga ya? - apa semua rahasia pria itu sama?). Tapi novel ini lebih kompleks. Kathryn termasuk istri yang tenang, bisa menjaga emosi biar pun lagi hancur lebur.

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Kaitlyn - ulasan

Kaitlyn
Kevin Lewis @ 2006
Penguin – 2006
499 pages

Kekacauan dalam hidup Kaitlyn dimulai di malam adiknya, Christopher, nyari meninggal akibat kekerasan yang dilakukan ayah tirinya. Ayah tirinya, Steve, yang pemabuk tak tahan mendengar suara tangis Chrissy. Usia Chrissy baru 18 bulan. Akibat peristiwa itu, Chrissy diambil alih oleh Negara, dibawa ke tempat perlindungan anak dan kemudian diadopsi oleh keluarga Tobin. Sementara itu, Kaitlyn terus menyalahkan dirinya, yang tidak sempat menyelamatkan adiknya, hingga akhirnya ia terpaksa berpisah dengan adik yang sangat ia sayangi.

Ibunya, Angela, tak sanggup menahan kesedihan, akhirnya terjerumus dalam ketergantungan obat-obat terlarang. Di lingkungan tempat tinggal mereka, Roxford yang termasuk daerah ‘hitam’, obat-obatan, kejahatan bukanlah hal yang aneh. Barang-barang seperti itu mudah didapat. Awalnya, Angela mendapatkan barang itu secara gratis, tapi makin lama, dengan ketergantungan yang makin tinggi, Angela akhirnya menjadi pelajur demi mendapat uang dan membeli narkoba.

Kaityln juga tidak bersih sepenuhnya. Bersama teman-temannya, ia kerap merokok, minum, tapi ia selalu menjagai dirinya tetap ‘waras’ dan berpikir jernih. Karena ibunya tak mampu membayar barang kepada pengedar, Kaitlyn yang harus membayarnnya. Ia terpaksa bekerja sebagai ‘kurir’ pengantar obat-obatan kepada pelanggan. Tapi, di satu titik, Kaitlyn akhirnya bertekad membuat ibunya bersih. Tapi, tragedi lagi-lagi menghampiri Kaitlyn. Di usia yang sangat muda, ia harus kehilangan ibunya dan masuk penjara

Pada akhirnya, Kaityln tidak pernah bisa keluar dari bisnis ini. Tapi satu yang tak berubah, ia masih tetap mencari adiknya. Christopher tumbuh jadi anak yang cerdas, meskipun sempat bersikap terlalu agresif.

Menurut gue, Kaitlyn adalah gadis yang cerdas. Ia pintar mengatur rencana untuk bisnisnya sampai mengeruk keuntungan besar. Polisi juga nyaris tidak bisa menelusuri jejak-jejak Kaitylyn. Tapi, masa lalu dan kehidupan yang keras juga menjadikannya gadis yang dingin, nyaris tanpa emosi, kecuali yang berhubungan dengan ibu dan adiknya. Novel ini cukup menyentuh, berpontensi ‘menguras air mata’. Tapi ada beberapa yang ‘dipaksain’ (menurut gue lhoooo), misalnya tentang pertemuan Kaitlyn dengan Ibu Baptisnya di penjara. Terus, gue piker tadinya Steve, bapak tirinya, bakal muncul lagi dan ganggu hidup Kaitlyn lagi. Tapi, tanpa si Steve muncul lagi, cerita ini udah ribet banget.

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Mini Shopaholic - ulasan

Mini Shopaholic
Sophie Kinsella @2010
Siska Yuanita (Terj.)
GPU – Cet. II, Maret 2011
568 Hal.

Punya anak ternyata gak membuat Rebbeca Brandon (dahulu Bloomwood) jadi berubah lebih bijak dalam urusan shoping-shoping. Becky tetap ‘gemetar’ setiap melihat discount, baginya itu sebuah investasi, meskipun barang dibelinya bukan dalam ukuran untuk dirinya sendiri.

Minnie, si kecil berusia 2 tahun adalah anak yang ‘liar’ dan punya kemauan keras. Meskipun kewalahan mengantur Minnie, Becky tetap tidak terima kalau ada yang bilang anaknya manja. Becky kerap membelikan Minnie baju-baju keluaran desainer ternama, boneka-boneka terbaik. Bahkan Becky sudah ‘berinvestasi’ untuk hadiah ulang tahun Minnie ke 21 kelak. Dan Becky tentu saja sangat bangga, karena baju itu dibeli dengan discount yang besar. Minnie cenderung berbuat ‘kekacauan’ karena sifatnya yang keras itu. Tak hanya di dunia nyata, tapi juga di dunia maya.

London dilanda krisis moneter yang membuat orang harus mengencangkan ikat pinggang. Bisnis Luke juga agak kacau. Dan Becky butuh dana yang sangat besar untuk mewujudkan pesta ulang tahun kejutan untuk Luke. Tanpa kecuali, Becky juga ‘dituntut’ untuk berhemat. Tapi, hemat a la Becky, tentunya beda dengan hemat a la Luke.

Dan, bukan Becky kalau tidak terjerat masalah. Dan bukan Becky juga kalau dia gak bisa mendapatkan bantuan.

Entah kenapa, makin lama gue berasa Becky makin ‘lebay’, masa’ dia nyaris gak berubah dan gak dewasa. Jadi rada ngebosenin juga sih bacanya. Emang lucu, tapi koq gak ada sesuatu yang baru. Mungkin bakal ada sequel yang bercerita hebohnya Becky belanja bareng Minnie remaja, atau Becky di Hollywood, atau Becky menyambut cucu pertama. Tapi apa iya akan seheboh cerita-cerita sebelumnya? Gue jadi lebih suka membaca tulisan Sophie Kinsella di luar Shopaholic series ini.

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Five Quarters of the Orange - ulasan

Five Quarters of the Orange
Joanne Harris @ 2001
Perenial - 2002
304 pages

Satu lagi buku dengan latar belakang pendudukan Jerman di Perancis. Kali ini gue ‘berjalan’ ke sebuah kota kecil di daerah Loire. Bercerita tentang sebuah keluarga, yang terpaksa kehilangan kepala keluarga nya karena tewas di medan perang. Sang anak, Framboise Dartingen – atau kini dikenal dengan Framboise Simon, bertutur tentang tragedi yang menyebabkan keluarga mereka dibenci dan terasing.

Framboise, adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Cassis, kakak laki-lakinya dan Reine-Claude, kakak perempuannya. Mereka tinggal di sebuah pondok bersama ibu mereka yang ‘aneh’. Selalu penuh rahasia dan sangat membenci buah jeruk. Setiap kali mereka membawa jeruk pulang, mereka akan selalu dipaksa untuk menyikat tangan mereka sampai bersih, sampai bau jeruk itu hilang.

Cerita berawal dari sebuah scrapbook yang diwariskan Mirabelle kepada Framboise. Di dalam scrapbook itu berisi tulisan-tulisan rahasia ibu mereka bersama dengan resep-resep keluarga. Framboise memberanikan diri kembali ke kampung halamannya, membuka sebuah restoran kecil yang menyajikan resep-resep peninggalan ibunya.

Framboise pun mengisahkan dari masa kecilnya bersama kakak-kakaknya, bermain di danau, sampai akhirnya berteman dengan tentara Jerman yang menyebabkan mereka menjadi sangat dibenci. Sementara itu, ibu mereka selalu bersikap aneh dan selalu menutup diri. Hubungan Framboise dengan tentara Jerman bernama Tomas diawali oleh Cassis dan Reine-Claude yang ternyata sudah sering memberikan informasi kepada tentara Jerman lain, informasi itu ditukar dengan barang-barang yang mereka inginkan seperti majalah, cokelat, rokok atau lipstik. Tapi, Framboise tidak tertarik dengan hal-hal seperti itu, ia lebih tertarik pada Tomas itu sendiri. Jiwa petualang dan pemberontak dalam diri Framboise membuatnya berbeda dari kedua saudaranya. Karena Framboise masih dianggap terlalu kecil untuk bergaul, maka ia merancang sebuah ‘jebakan’ untuk ibunya, agar ia bisa menyelinap pergi bersama Cassis dan Reine-Claude.

Di masa tuanya, Framboise masih sering merasa ketakutan kalau-kalau ada penduduk kota itu yang masih mengenalinya sebagai anak dari Mirabelle Dartingen. Meskipun restoran kecilnya banyak pengunjung, tapi hanya satu orang yang berhasil mengenali dirinya. Sahabat masa kecilnya sendiri, Paul.

Gangguan justru datang dari keluarganya sendiri, anak Cassis yang bernama Yanick beserta Laure, istri Yannick. Mereka meminta Framboise untuk memberikan resep rahasia milik nenek mereka, agar bisa mereka sajikan sendiri di resto milik mereka. Bahkan mereka mengancam akan membeberkan rahasia Framboise kepada publik jika mereka tidak mendapatkan resep itu.

Cara bertutur Joanne Harris yang perlahan, membuat kita terus menanti apa rahasia keluarga itu. Dari awal, cara berceritanya penuh rahasia. Dibuka sedikit-sedikit, sampai akhirnya kita mengerti dan tahu rahasia keluarga itu. Gue jadi tertarik pengen bikin scrapbook… tapi hahaha.. seperti biasa, baru sekedar tertarik, belum tau deh, kapan mau ngerjainnya…

Novel ini, adalah salah satu bagian dari ‘food trilogy’, selain Chocolat dan Blackberry Wine (yang mudah-mudahan bisa segera gue baca)

lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar