Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

Saat Berharga Untuk Anak Kita


Diberitahukan sebelumnya, isi review ini mengandung spoiler!

Salah satu hal penting dalam keluarga yang harus mendapat perhatian penuh adalah anak. Bahkan ketika dalam kondisi hamil seperti saya saat ini, kegelisahan atau ketakutan nantinya bagaimana akan membimbing anak, mulai bergentayangan dalam kepala. Bagaimana tidak, jika menengok perkembangan zaman yang semakin tidak mendukung pergaulan yang sehat, saya benar-benar dibuat ketar-ketir, hingga senantiasa melantun doa mohon ilmu agar dapat membimbing putra putri kami menjadi anak yang soleh dan solehah.

Ya, ilmu. Dibutuhkan kecerdikan dan tangkasan orang tua dalam mendidik sang buah hati, dan semuanya itu tidak bisa ditanggapi dengan hanya, “Ah, nanti juga bakalan belajar dengan sendirinya setelah memiliki anak.” Kalau sudah begitu, kecenderungan yang bakalan terjadi selanjutnya setelah memiliki anak adalah membiarkan tumbuh kembang mereka, dan kerap akan menanggapi sebuah “kesalahan” dengan nada, “Ah, masih kecil, nanti juga kalau sudah gede mengerti sendiri.” Padahal pribadi anak kelak sangat dipengaruhi bagaimana kehidupan dan kebiasaan mereka di masa kecil.

Dari sanalah, mulai terpikir untuk mencari ilmu sebanyak mungkin tentang dunia parenting. Mulai dari membaca blog-blog orang tua yang seringkali menceritakan bagaimana tingkah laku anak-anaknya, yang tidak jarang juga bagaimana trik mereka menangani sang buah hati. Atau bisa juga dengan membaca website parenting yang sering menyajikan berbagai hal yang berhubungan dengan pendidikan anak dan remaja. Saya tahu, bisa jadi nanti kasus saya – kalau diberi umur panjang – akan berbeda atau bahkan jauh berbeda dengan mereka, tetapi minimal saya mempunyai gambaran dan banyak referensi yang bisa dikreasikan ketika menghadapi anak.

Selain dari blog, sudah pasti referensi yang patut untuk dibaca adalah buku. Awalnya saya tidak terlalu berminat dengan buku ‘Saat Berharga Untuk Anak Kita’ dikarenakan nama sang penulis. Pengalaman membaca buku ‘Kado Pernikahan Untuk Istriku’ yang pernah ditulis oleh Faudzil Adhim tidak terlalu bagus, hingga akhirnya buku tersebut tidak tuntas dibaca. Namun, karena berkali-kali masuk pesanan buku ini di toko buku online saya, mau tidak mau rasa tertarik muncul juga. Respon pembelian atas buku ini yang begitu besar, sukses membuat saya pun akhirnya penasaran dengan isi buku yang satu ini.

Banyak, memang banyak pelajaran yang bisa diambil dari kumpulan esai dari Faudzil Adhim. Kemampuannya di dunia parenting memang sangat terasah, mengingat dirinya kerap menjadi trainer seminar bertemakan parenting. Namun sebagian besar tulisan beliau menurut saya masih mengawang-awang, tidak tahu apakah memang disengaja supaya pembaca bisa lebih banyak berpikir. Hanya saja, saya pribadi rasanya seperti tidak mendapatkan kemantapan setelah membaca. Pengalaman membaca buku sebelumnya, ternyata kembali muncul ketika membaca buku terbitan Pro U Media ini, yaitu penulisan yang agak berputar-putar. Pengulangan hadist seringkali membuat bosan. Mungkin niat sang penulis mengulang-ulangnya agar hadist tersebut lebih menancap di kepala pembaca, tapi akan lebih baik jika penulis bisa lebih kreatif dalam mengolahnya supaya lebih nikmat diserap kepala dan dibaca mata.

Terlepas dari itu semua, saya dapat merangkum poin-poin yang sangat berharga setelah membaca keseluruhan isi buku. Pertama, persiapkan anakmu untuk menjemput AKHIRAT, bukan dunia, hal inilah yang seringkali dilupakan para orangtua, terutama jika menyangkut masalah pendidikan, dimana para orangtua lebih mengutamakan IQ dan EQ, dam melupakan SQ. Para orangtua kerap ‘menyiksa’ anak dengan menuntutnya agar selalu mendapat nilai-nilai terbaik, raport tidak boleh ‘kebakaran’ dan masih banyak lagi, dengan alasan orangtua supaya masa depan si anak terjamin. Padahal jika orangtua mau memandang lebih jauh, bukankah anak soleh/solehah akan menjadi amal jariyah ketika mereka menghuni alam kubur?

Kedua, perhatikan hak anakmu, sebelum menuntut hakmu. Ini juga yang sering luput dari perhatian orangtua, yaitu kecenderungan untuk menuntut sang anak. Kerap orangtua ingin si anak patuh, menjalani kehidupannya seperti kehendak orangtua, atau orangtua merasa jumawa karena merasa telah membiayai dan merawat si anak. Orangtua sering menginginkan semua berada dibawah kendalinya, padahal tidak bisa begitu. Contohnya, ketika orangtua ingin suasana rumah sangat tenang, dan memarahi, bahkan menghardik si anak yang tidak bisa diam. Padahal bisa jadi si anak sedang mencari perhatian orangtua yang lebih peduli dengan pekerjaan atau aktivitas berselancarnya.

Ketiga, amalan ibadah orangtua berpengaruh pada karakter anak. “Banyak orangtua yang berhasil mendidik anaknya bukan karena kepandaiannya mendidik anak, tetapi karena doa-doa mereka yang tulus. Banyak orangtua yang caranya mendidik salah jika ditinjau dari sudut pandang psikologi, tetapi anak-anaknya tumbuh menjadi penyejuk mata yang membaca kebaikan dikarenakan amat besarnya pengharapan orang tua…” [h.238] Bagian inilah yang membuat ketakutan saya dalam mendidik anak menjadi teredam, bahwa upaya mendidik tidak hanya melalui sang anak tetapi juga dari diri kita sendiri. Seperti halnya doa. Semua pasti tahu bahwa doa orangtua adalah salah satu yang terijabah. Jika doa tersebut terus menerus dilantunkan dengan keikhlasan, maka bisa jadi itulah senjata yang akan membimbing sang anak menemukan jalan-Nya.

Tidak hanya doa, amalan sedekah ikhlas atau puasa rutin orangtua bisa jadi tanpa sadar menjadi sinar pencerah dalam jiwa sang anak hingga kelak dapat menjadi pribadi yang ahsan. Intinya, semua hal selalu kembali kepada-Nya, bahkan jika itu berurusan dengan mendidik anak.

Judul : Saat Berharga Untuk Anak Kita
Penulis : Mohammad Fauzil Adhim
Penerbit : Pro U Media
Terbit : Cetakan kedua, April 2010
Tebal : 278 halaman
Harga: Rp. 36.000


lintasberita

Lanjut Baca

Semua Ayah Adalah Bintang


Ayahku juara satu sedunia...

Wajahnya mulai berkerut
punggungnya mulai ringkih
Tangannya mulai gemetar
usia telah menggerogoti tubuhnya

Tapi…

Keras perjuangan hidupnya diiringi dengan semangatnya yang tak kenal patah
Tantapannya lembut diiringi dengan senyumnya yang tak pernah padam K
ata-katanya penuh makna diiringi dengan candanya yang tak pernah lenyap

Aku ingin berteriak
Ayahku Juara Satu Sedunia!!!

Puisi sederhana ini saya buat setelah membaca buku Andrea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi. Tepat setelah menuntaskan bab yang berjudul sama dengan puisi di atas, saya dibuat menangis tergugu. Cukup lama, tepatnya saya lupa berapa lama, tapi yang pasti saat itu sangat susah membendung jembolnya air mata. Bagaimana sosok ayah Ikal yang benar-benar mempersiapkan pakaian spesialnya, dan harus mengayuh sepeda dengan jarak jauh demi sampai di sekolah saat momen raport-an, tapi kemudian harus menerima kenyataan prestasi sang putra merosot, membuat hati ikut merosot sedih. Apalagi ketika sang Ayah yang pendiam itu malah memberikan senyum untuk putranya, benar-benar meluapkan air mata saya. Sungguh sosok ayah yang…. Amazing!!


Bendung air mata saya lagi-lagi dijebol oleh sebuah media, ketika kembali sosok ayah yang fantastis dituturkan oleh Neno Warisman lewat bonus audio buku berjudul ‘Semua Ayah Adalah Bintang’. Kisah nyata seorang ayah yang dituturkan dengan apik oleh Bunda Neno, sungguh membuat sosok ayah yang kerap cenderung pendiam dan kalem, menjadi sangat spesial. Karena di saat yang sama saya sendiri teringat dengan perjuangan Babe untuk mencari nafkah dan membahagiakan anaknya. Ah, melelehlah air mata.

Ayah dan Anak. Sejauh yang saya tahu, buku parenting yang mengkhususkan pada Ayah terbilang jarang ---atau saya yang jarang membacanya? Jadi, saat buku ‘Semua Ayah Adalah Bintang’ berada di tangan, saya cukup excited untuk mulai menekuni isinya. Beruntung saya mengawalinya dengan mendengarkan cd audio-nya terlebih dahulu. Dan memang keputusan yang cukup tepat karena mendengar Bunda Neno bertutur dengan gaya teatrikalnya, membuat saya lebih menghayati tentang betapa pentingnya peran ayah. Walaupun ternyata isi cd audio sendiri menyuarakan beberapa artikel dari buku.

Coretan yang ada di dalam buku ini kurang lebih berisikan curahan dan impian hati seorang Neno Warisman dengan sosok dan peran Ayah dalam keluarga. Sosok ayah yang kerap ‘kalah sorot’ dengan ibu membuat Bunda Neno berkeinginan kuat untuk mengangkat tingkat-penting sosok ayah dalam mendidik dan membimbing generasinya, terkhusus di rumah. Salah satu yang artikel yang menarik adalah keinginan Bunda Neno untuk membuat sebuah kongres tentang ayah. Sebuah kongres yang berisikan sosok ayah, membahas tentang ayah, dan menciptakan ayah yang cerdas dan berakhlak. Walaupun impian tersebut mungkin terlalu tinggi, tetapi sebentuk kecil realisasinya telah dilakukan Bunda Neno dengan membuat acara berjudul 'D Magic Daddy' di sebuah radio di Jakarta Selatan.

Tidak hanya berkisar dengan impiannya, di buku ini juga memuat cerita keseharian dan kisah nyata tentang sosok ayah atau calon ayah yang ditorehkan dengan gaya bercanda dan santai. Sekali waktu pernah suami dari Bunda Neno ingin melakukan perubahan dengan menerapkan gaya hidup sehat pada keluarganya. Hampir semua dikritisi ---bahkan membuat penghuni yang lain senewen--- makanan harus sehat, tidak boleh ada makanan kemasan, teh pun tidak boleh yang berbentuk celup atau sachet, hindari mentega, dan banyak yang lain. Bahkan lucunya bentuk kloset rumah pun tak luput mendapat kritik.

Lain lagi dengan cerita putra Bunda Neno yang bernama Giffari. Saat dia dan adik perempuannya bertengkar, hingga sang adik mengurung diri dan menelungkup di atas sajadahnya. Bunda Neno mendorong putranya untuk menenangkan adiknya. Di sinilah dialog lucu antara Bunda Neno dan Giffari berlangsung, di mana gengsi lelaki Giffari yang tidak suka bersayang-sayang ria berusaha diredam dengan mengajak putranya yang telah berusia 14 tahun tersebut membayangkan kondisi ini sebagai latihan jika dia nanti memiliki istri hehehe…

Buku ini tidak menyuratkan penjelasan terperinci tentang sosok ayah yang ideal, tetapi lebih banyak mengajak pembaca untuk meresapi dan berkontemplasi lewat cerita dan kisah yang dikumpulkan Bunda Neno dalam bentuk esai. Sederhana tapi mengena. Yang perlu digaris-bawahi, walaupun sosok yang diangkat adalah ayah, tetapi buku ini juga sangat layak dibaca para wanita—ibu ataupun calon ibu--- yang nantinya bisa menjadikan buku ini sebagai referensi untuk membantu dan mendorong pasangan untuk belajar menjadi lebih baik.

Judul : Semua Ayah Adalah Bintang
Penulis : Neno Warisman
Penerbit : Progressio
Terbit : Juni 2009
Tebal : 134 halaman
Harga: Rp. 28.000


lintasberita

Lanjut Baca

The Joy Luck Club

The Joy Luck Club, adalah sebuah perkumpulan dari empat perempuan paruh baya. Perkumpulan ini dibentuk supaya mereka dapat senantiasa bergembira dengan kehidupan, walaupun saat itu sekitar mereka sedang dalam kondisi prihatin. Egois? Bisa jadi, tapi tujuan mereka sebenarnya hanya ingin supaya pertemuan sekali seminggu ini bisa menjadi pelampiasan kegembiraan setelah hari-hari sebelumnya dijepit kesedihan dan penderitaan. Sesuai kesepakatan, dalam pertemuan ini hanya boleh menceritakan kegembiraan dan kegiatan bermain mahyong dengan taruhan uang yang tidak sedikit.

Namun perkumpulan inipun usai seiring kematian dari Suyuan, ibu Jing Mei, akibat pecahnya pembuluh darah otak. Kematian yang diyakini sang ayah akibat dari ide yang terus menerus membesar, dan tanpa sempat ditumpahkan terlanjur meletus di dalam kepala. Berakhirnya perkumpulan ini menjadi awal mula cerita-cerita suram di balik kehidupan ketiga perempuan paruh baya ini.


Jika di awal saya sempat berpikiran bahwa buku ini akan berisikan tentang perkumpulan perempuan paruh baya yang gemar menggosip dan menghabiskan uangnya untuk bermain mahyong. Ternyata ceritanya lebih dari “itu”.


Berkisah dari sudut pandang tujuh orang tokoh perempuan, buku ini lebih banyak menceritakan tentang hubungan ibu dan anak perempuan. Beberapa ibu yang ingin membangkitkan jiwa ‘Cina’, dalam diri putrinya yang terlanjur mengadopsi kehidupan Amerika.

Walaupun harus sedikit menahan nafas akibat bau yang menyengat dari lapuknya buku terbitan Juli 1994 ini, saya masih dapat menikmati cerita, terutama tentang kisah-kisah masa lalu yang coba disembunyikan para ibu dari putrinya. Di sisi lain, cerita menjadi lebih dinamis, saat para putri sering tidak dapat memahami cara berpikir sang ibu, hingga kemudian menimbulkan konflik yang tak jarang berkepanjangan.

Dari keempat kehidupan antar generasi ini, terdapat tiga pasang sudut cerita ibu-anak, An Mei Hsu-Rose Hsu Jordan, Lindo Jong- Waverly Jong, dan Ying-ying St. Clair-Lena St. Clair. Namun, hanya Jing Mei, seorang putri yang harus berproses memahami pemikiran ibunya, dan tidak mungkin mendapat jawaban dari tubuh ibunya yang telah terbujur kaku.


Dari sini saya jadi belajar bahwa cerewet dan "sok tahu"nya seorang ibu sebenarnya hanya untuk membuat sang putri dapat melihat kasih sayang di balik segala sikapnya. Dan memberitahukan sesuatu yang salah dengan caranya yang terkadang unik dan tidak masuk akal.


Judul : The Joy Luck Club; Perkumpulan Kebahagiaan dan Keberuntungan
Penulis : Amy Tan
Penerjemah: Joyce K. Isa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Juli 1994
Tebal : 488 halaman


lintasberita

Lanjut Baca

Married With Brondong


Allah kerap memiliki cara tak terduga nan indah untuk mempertemukan sepasang insan dalam satu kesatuan yang sempurna.

Sulit untuk tidak mengiyakan kalimat di atas. Sudah banyak contoh kasus yang menunjukkan bagaimana pertemuan dua insan hingga ke pelaminan, menyimpan kejutan-kejutan. Saya sendiri yang baru saja dipertemukan dengan sang suami, kisahnya berawal dengan hal yang tidak terduga, dan saat dikenang, eh, ternyata keren juga cara Allah mempertemukan kami ^^

Subhanallah…

Kekerenan Allah pun saya lihat dari cara-Nya mempertemukan dua karakter, Bo [suami] dan Jo [istri]. Berawal dari kesalah-pahaman chatting, yang kemudian hari memperlihatkan kegemaran mereka yang sama, yaitu komik, sukses mengantar mereka menuju gerbang penyempurna separuh dien.

Eits, tapi perjalanan mereka menuju ke sana, tidak semudah ngabisin cendol segelas. Banyak pertimbangan, cibiran, dan kritikan. Why? Karena usia Jo jauh melebihi usia Bo. Tujuh tahun dua bulan empat hari, bukan waktu yang ‘wajar’ bagi sebagian mata orang timur yang hobi menciptakan stereotip-stereotip yang tidak mendasar.

Mengagetkan? Sangat mungkin, tapi tidak jika mereka mau menengok balik sejarah perbedaan umur dalam pernikahan, yang lebih fantastis. Pernikahan Rasulullah [25] dan Bunda Khadijah [40] memiliki angka lebih mengejutkan, 15 tahun. Well, kalau ada yang berdalih, “Itu kan jaman doeloe.” Mau yang lebih modern? Tengok aja artis Demi Moore [47] dengan Asthon Kutcher [32] yang juga beda 15 tahun, dan sejauh yang saya tahu mereka sih baik-baik saja.

Saya sendiri tidak tahu bagaimana masyarakat bisa membentuk stereotip negatif dengan kondisi seperti ini. Keadaan yang tidak hanya memunculkan ketakutan dari pihak wanita, tetapi saya yakin ada juga pikiran dari pihak lelaki, yang mungkin akan gerah jika nantinya diberi label Oedipus Complex.

Balik lagi, bahwa segala kekhawatiran tersebut lebih banyak muncul dikarenakan pandangan dari masyarakat sekitar –yang nantinya juga belum tentu peduli dengan kondisi mereka. Haiiizzz…intinya capek kalau harus mendengarkan kata orang melulu. Bersyukur, akhirnya ada karya yang sekiranya dapat merobohkan stereotip negatif tentang wanita yang menikah dengan pria dengan usia jauh di bawahnya alias Brondong.

Komik yang terinspirasi dari kisah nyata kedua penggarapnya ini secara garis besar terbagi menjadi dua fase. Sebelum dan setelah menikah.

Fase sebelum menikah

Fase ini dibuka dengan kalimat, “Apa??? Kamu mau menikah sama anak kecil??”---Hahahahahag! Menghina sekalee :P

Dari opening inilah kendala Married With Brondong dipaparkan, dan berlanjut dengan menceritakan kesungguhan dan kualitas Bo di mata Jo. Lucu, inspiratif sekaligus jujur. Hanya saja, saya sempat sedikit bingung saat Bo menelepon keluarganya di Malang untuk memberitahu rencananya menikah. Bingung karena tidak ada ‘rambu-rambu’ terlebih dahulu bahwa ternyata pada bagian tersebut beralur mundur/flashback *CMIIW.

Fase setelah menikah

Menikah adalah saat dimana kita memulai perjalanan hidup yang sangat berbeda dari sebelumnya. Dimulai dari cerita pacaran setelah menikah yang dipenuhi dengan deg-deg seer dan segala kegombalan pria yang sebenarnya sudah beredar di ‘pasaran’ tetapi ternyata masih ampuh membuat sang istri tersipu, berlanjut dengan rangkaian kisah yang mencerminkan kesederhanaan, komitmen, tanggung jawab dan konflik.

Banyak adegan yang saya sukai dalam novel grafis ber’bingkai’ warna pink ini, tetapi ada dua rangkaian kisah yang terfavorit. Pertama pada bagian perdebatan pasutri tentang konstruksi/denah rumah dan kekompakan mereka dalam nyrocos tentang kebobrokan negeri. Cerdas. Selain itu, menampilkan konflik dalam rangkaian cerita membuat cerita menjadi lebih riil.

Kedua, saat Jo ngobrol dengan temannya tentang panggilan untuk suami, tetapi pada bagian sketsa menampilkan dua bocah jalanan yang mencari duit dan kehujanan. Saya tidak tahu apa istilah dalam dunia perkomikan, tapi saya menyebutnya, Cerita Bisu.

Sketsa tersebut seperti menyuarakan, "Ini kondisi yang tidak perlu dibicarakan lagi tapi renungkan apa yang bisa kita lakukan untuk mereka." Really like that!

***

Kalau pembaca pernah membaca komik karya Vbi Djenggottan yang pertama, Aku Berfacebook Maka Aku Ada, maka tidak akan terlalu kaget dengan kemunculan orang-orang ‘tidak berkepentingan’ yang tiba-tiba memberi komentar; dan hanya akan berkomentar “iyeee…iyeee” setiap membaca selipan semangat idealisme dari penulis yang sepertinya memang tidak akan lekang dimakan zaman.

Untuk akhir kata, ijinkanlah saya mengutip kata pengantar Tika Bisono Psi. yang sangat menyuarakan isi kepala sayah,

“Mira dan Vbi berhasil membagi kisahnya melalui rangkaian gambar yang ekpresif, kata-kata yang tidak berlebihan, namun tetap tidak miskin makna filosofis…”

Sukses selalooooo dan semoga karya-karyanya senantiasa dilimpahi keberkahan. Amin!

Judul : Married With Brondong
Penulis : Mira Rahman & Vbi Djenggotten
Penerbit : Bikumiku
Tahun : 2010
Tebal : vi + 124 halaman
Genre : Novel Grafis
ISBN : 978-602-95228-1-5
Harga : Rp. 33.500 [dapat dibeli di sini

NB: *Sumpeh deh ini review terpanjang sayah selama tinggal di Jakarta :D
*Spesial untuk Mbak Mira, Mas Vbi plus si kecil, Imandaru, tengkyu banget untuk hadiah yang membuka mata ini ;) dan juga maaf kalau reviewnya terlalu sotoy ^^v
*Untuk suamiku, LUNAS! :D

lintasberita

Lanjut Baca

Rich Mom Poor Mom

Membaca judul buku ini pasti akan membuat kita teringat buku dari Robert Kiyosaki, Rich Dad Poor Dad. Pada buku yang ditulis oleh pria yang pernah masuk korps militer sebagai pilot pesawat tempur ini, akan mengajak kita untuk memiliki passive income berupa investasi dengan menggenggam prinsip, "kita ini bekerja bukan untuk uang, namun uanglah yang berkerja untuk kita". Dengan demikian, kita akan meraih kekayaan tanpa harus peras-otot-banting-otak. Seperti halnya R. Kiyosaki yang memiliki teknik passive income andalan, Syasya Azisya juga mempunyai 'passive income' sendiri untuk mendapatkan sebuah kekayaan.

"...pengertian passive income di sini berbeda dengan pengertian passive income dari Robert Kiyosaki. Kalau passive income menurutnya adalah sebuah usaha atau investasi yang mampu menghasilkan tanpa kita bekerja, maka "passive income" yang saya maksud adalah berupa amalan yang mampu menghasilkan pahala meski kita sudah tiada." [kata pengantar]

Terlihat dari cuplikan kata pengantar yang diuraikan penulis, 'passive income' lebih ditujukan untuk meraih kekayaan dunia-akhirat. Ya, berbeda dengan Kiyosaki yang “mendewakan” uang, Syasya Azisya lebih mengajak para Bunda untuk memahami kekayaan yang tidak sekadar masalah duit. 

Perspektif setiap orang tentang Ibu Kaya Ibu Miskin berbeda, begitu juga dengan anak-anak, seperti yang dituturkan Fadli, remaja berusia 16 tahun, "Bagi saya ibu kaya adalah yang memiliki kesabaran, tidak galak dan nggak pernah memaki anaknya sendiri serta mampu menjadi teman atau sahabat bagi anak-anaknya. Sedangkan ibu miskin adalah seorang ibu yang tidak sabar, galak, dan kasar pada anaknya sendiri." Kasus ibu yang kasar kepada anaknya sangat mudah dijumpai. Tidak jarang terlihat ibu yang suka memutus keingin-tahuan anaknya, dengan cara memarahi saat si anak berkali-kali menanyakan sesuatu. Atau kasus tentang ibu yang kerap menyumpah-serapahi anaknya setiap kali marah, padahal semua pasti tahu bagaimana bertuahnya ucapan seorang ibu. Ngeri? Sangat! Seperti melihat masa depan yang suram, setiap muncul kejadian seperti itu. Disini tidak hanya anak yang diminta untuk patuh, tetapi ibu juga dituntut memiliki pengendalian emosi yang bijak. 

Al Ummu madrasatul 'ula”, sebaik-baik madrasah adalah ibu. Melihat peran penting seorang ibu di dalam keluarga, maka sangat dibutuhkan sosok teladan yang memiliki kekayaan sejati. Tidak sekadar uang, tetapi juga hati. Seperti yang dikutip buku ini, yang kemudian diuraikan oleh penulis, menurut Dr. John F. Demartini [h.62] setiap manusia memiliki tujuh anugerah rahasia untuk mewujudkan kebahagiaan. Salah satu poinnya yang dirasa sangat penting untuk dioptimalkan oleh para ibu, yaitu anugerah mental. Melihat perjuangan seorang ibu yang pastinya begitu berat, akan sangat membutuhkan mental yang tahan banting dengan berbagai kondisi yang bisa terjadi di lingkungan diri maupun keluarga. Salah satu hal yang membutuhkan mental kuat, adalah sifat pantang menyerah seorang ibu untuk terus belajar kreatif dalam membimbing putranya menggali potensi.

"Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim).

Tak dipungkiri bahwa anak adalah salah satu 'passive income' orang tua [ibu] untuk bekal di akhirat. Maka dari hadist inilah, seharusnya memicu para ibu untuk berlomba-lomba menuntun putra-putrinya dengan ikhlas mencapai akhlak yang mulia, bukan sekadar menyeret-nyeret putra-putrinya untuk menjadi sosok idola atau artis, sehingga kelak akan mengalirlah doa yang tak pernah putus dari anak soleh/ solehah, saat kita berada di alam kubur. Amin Ya Robbal'alamin.

Dalam menekuni sosok ibu kaya dan ibu miskin, penulis yang memiliki nama asli Syafaatus Syarifah juga memberikan kisah-kisah hidup para ibu dengan suka-duka, keseharian, bahkan kesuksesannya. Selain itu juga dituturkan tentang realita-realita seorang ibu ketika berhadapan dengan anaknya, seperti ketika menghadapi pertanyaan anak-anak yang sering di luar batas nalar orang dewasa. Hanya saja, dari sekian banyak 'studi lapangan', penulis lebih banyak mengambil contoh interaksi ibu dan anak kecil, padahal kasus-kasus antara ibu dan anak yang telah menginjak masa remaja, sangat perlu juga dikemukakan, karena masa-masa tersebut sangat rawan terjadi konflik yang lebih kompleks. Juga yang dirasa perlu untuk ditambahkan adalah kisah-kisah kehidupan seorang ibu yang diambil dari sudut pandang anak-anak, sehingga para ibu bisa mengetahui bagaimana sebenarnya sosok ibu yang didambakan oleh mereka.

Walaupun seorang ibu dituntut untuk kaya hati, tetapi bukan tidak boleh jika seorang ibu memiliki kekayaan finansial dari pendapatan sendiri. Masih ingat dengan rumus kaya dari Ustadz Yusuf Mansyur, dimana 10-1 = 19, 10-5= 55, 10-10=100, .... rumus ini didapat dari keyakinannya terhadap surat al-An’am 160 yang berbunyi, "Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”. Memberi lebih baik dari meminta, pepatah yang satu ini juga sangat tepat, karena dengan memberi sebenarnya kita semakin kaya lahir-batin, dengan memberi kita memiliki 'passive income' yang nantinya akan menjadi kekayaan, baik di dunia atau di akhirat. Selain, rumus Ustadz Yusuf Mansyur, penulis juga mengadaptasi sekaligus memaparkan konsep GIGIH+H yang diterapkan Aa' Gym dalam bukunya yang berjudul 'Saya Tidak Ingin Kaya Tapi Harus Kaya', dimana seorang ibu insyaALLAH bisa menjadi kaya harta jika memiliki kaya ghirah [semangat], ilmu, gagasan, ibadah dan hati. 

Seperti yang dipaparkan dalam bab Faktor Penyebab Gagalnya Menjadi Rich Mom, bahwa menjadi ibu juga tidak luput dari kesalahan dan kegagalan. Oleh karena itu, penulis yang baru-baru ini menelorkan buku berjudul ‘The Power of Reading’ ini, menyampaikan poin-poin yang juga perlu diantisipasi. Dengan demikian, sosok ibu kaya memang tidaklah mudah, tetapi juga bukan berarti hal itu mustahil untuk meraih.

Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud. Penuh cinta dan kedamaian ~ Khalil Gibran

Judul : Rich Mom Poor Mom
Penulis : Syasya Azisya
Penyunting : Wijdan Al-Jufry
Penerbit : Etera
Tahun : Januari 2010
Genre : Motivasi
Tebal : 308 halaman
Harga : Rp. 52.000,-
ISBN : 978-979-19622-4-7

NB: Menulis review ini sedikit keder, karena ngerasa blom jadi ibu udah koar-koar tentang ibu yang baik... fyuh, maap klao saya terkesan sok tau. Semoga bisa diambil manfaatnya. Salam salut untuk para ibu ^^



lintasberita

Lanjut Baca

Suami Untuk Mama

Sejak Mama dan Papa Su berpisah karena pertengkaran mereka saat liburan ke Yugoslavia, Su tinggal di rumah neneknya. Nenek adalah perempuan bertubuh besar dan tegap, ditambah dengan sifat yang suka menguasai dan suara keras, Papa menjulukinya “Nyonya Sersan”. Nenek tidak tinggal sendiri, dia tinggal bersama Oma Alice, adiknya, dan Tante Irmela, adik Mama. Bersama wanita-wanita inilah Mama, Su dan Kakaknya, I tinggal setelah minggat dari rumah Papa. Pertengkaran ini menyebabkan Su dan I agak kesulitan jika ingin bertemu dengan Papa, yang sebelumnya bisa mereka jumpai kapan saja.



“Bukan salahku mereka berpisah. Aku punya hak bertemu dengan ayahku sesering yang kuinginkan dan tidak didikte ibu! Aku ini bukan perabot dapur, yang dibawa-bawa waktu pindah dan ditaruh di dalam dapur yang baru!” h.79


Su tidak hanya pusing dengan masalah Papa dan Mama, tetapi juga dari Oma Alice yang tergila-gila dengan kebersihan dan kebiasaannya mengumbar peribahasa hampir di setiap kalimatnya. Oma Alice selalu ikut “menyemarakkan” perdebatan yang terjadi di rumah, selain itu sangat hobi menggerutukan kalau orang-orang di rumah tidak ada yang pernah mau memberitahukan apa pun kepadanya, padahal dia selalu mengetahui semua yang terjadi pada penghuni rumah. Nenek pun tidak bisa diharapkan untuk menciptakan ketentraman dengan sifatnya yang “mengerikan”. Hanya Tante Irmela, orang dianggap masih “normal”. Perempuan berusia 30-an yang mampu membuat para pria bertekuk lutut dengan rambut pirang, mata biru dan lesung pipinya. Tetapi kenormalan Tante Irmela tidak mampu mengalahkan kesengitan perempuan-perempuan di rumah. Beruntunglah Su memiliki teman laki-laki yang tinggal bertetangga dengannya, Benny Meier. Benny hanya tinggal bersama ayahnya semenjak ibunya menghilang. Sering kali Su menceritakan keluhan-keluhannya dengan tingkah Nenek dan Oma Alice kepada Benny.


“… Benny Meier benar! Benny mengatakan dugaannya bahwa suasana di tempat banyak wanita hidup bersama selalu “sengit”….Jadi? Jadi harus dimasukkan laki-laki ke dalam rumah!...” h.51


Komentar Benny membuat Su berkesimpulan bahwa di rumah membutuhkan pria untuk menenangkan kesengitan. Setelah menimbang-nimbang siapa yang akan Su “nikahkan”, dia memutuskan untuk mencari Mama suami baru. Segera Su membuat daftar pria yang dikenalnya, kemudian dicoret beberapa calon yang dinilainya tidak “layak”. Di sekian calon, Su sangat menyukai Dr. Johannes Salamander, guru bahasa Jermannya. Su menjulukinya Salamander Api karena dia sangat menyukai rambutnya yang berwarna merah menyala. Dengan segala upaya Su berusaha membuat Salamander terpikat dengan Mamanya lewat taktik bawah sadar, yang nantinya akan membuatnya dianggap mengalami gangguan jiwa dan dibawa ke “dokter empat ratus shilling”


Gagal menjodohkan Mama dengan Salamander, gadis cilik yang suka menyusun sajak ini tidak menyerah. Dia masih berkeinginan untuk mencarikan Mamanya suami. Dari Benny tercetus nama Ayahnya. Su menganggap ide Benny sangat cemerlang. Sebenarnya keluarga Su dan ayah Benny sangat tidak akur, bahkan Nenek dan Oma Alice menyebutnya “si Tak Tahu Diri” kepada Ayah Benny. Akan tetapi kali ini Su benar-benar bertekad mendapatkan ayah, maka dia menyusun rencana bersama Benny agar Ayah Benny dan Mama Su bisa menikah. Hanya saja, rencana mereka berujung dengan pertengkaran yang sangat hebat.


Berdasarkan pengakuan Christine Nostlinger, penulis asal Autria ini dulunya adalah bocah yang liar dan pemarah. Sifatnya di masa kecil ini sepertinya sangat berperan atas tercipta tokoh Su yang polos tetapi kritis menanggapi keadaan di sekitarnya. Berbeda dengan Madicken, Pippi atau Emil, tokoh cilik rekaan Astrid Lingren yang atraktif lewat tingkahnya, Su lebih atraktif dengan pikiran-pikirannya dan lebih banyak melakukan debat. Beberapa kalimat yang menurutku sangat sinis tapi ngena adalah,



“Saat itu aku sebenarnya kepingin sekali datang ke balkon sebelah, untuk mengatakan pada Mama dan Papa bahwa mereka berdua sama-sama salah. Aku juga ingin sekali mengembalikan segala petuah yang biasa mereka ucapkan padaku dan I, jika kami berdua bertengkar”
h.23


“Hebat sekali orang tua yang kita pilih” h.24 [diucapkan ketika Mama dan Papa untuk kesekian kalinya bertengkar di meja makan restoran]


“Jangan suka mencampuri kehidupan orang dewasa lagi. Mereka tidak suka jika dicampuri.[kata dokter empat ratus shilling] “Eh! Kenapa tidak suka jika dicampuri?” kata Su memprotes. “Orang dewasa sendiri juga suka mencampuri kehidupanku! h.99


Judul Buku : Suami Untuk Mama

Penulis: Christine Nostlinger

Penerjemah: Agus Setiadi

Penerbit: Gramedia

Terbit: Maret, 1985

Tebal Buku: 192 halaman





lintasberita

Lanjut Baca

Sakinah Bersamamu


Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna tapi menerima pasangan kita dengan sempurna

Kalimat yang menghiasi sampul depan buku berjudul Sakinah bersamamu ini sangat mewakili isi keseluruhan cerita pendek dan pembahasannya. Manusia tidak ada yang sempurna, semua pasti sudah hapal dengan pernyataan yang satu ini. Namun hapal bukan berarti paham dan kemudian mengamalkannya dalam keseharian. Apalagi ketika penilaian tentang kesempurnaan datangnya individu yang semuanya memiliki isi kepala dan imajinasi masing-masing. Kesempurnaan sudah barang tentu menjadi sebuah kesubyektifan.

Mengharapkan kesempurnaan inilah yang kerap menciptakan problematika dalam kehidupan rumah tangga. Si istri ingin suaminya begini, si suami ingin istrinya begitu. Keinginan-keinginan yang kemudian berujung pada ketidakpuasan, pertengkaran, bahkan perselingkuhan. Berbeda itu Pelangi. Judul yang tertulis dalam salah satu pembahasan sebuah cerpen berjudul ‘Rahasia Mas Danu’ ini, terdengar indah untuk menggambarkan bahwa sebenarnya perbedaan adalah sebentuk anugerah dalam sebuah rumah tangga. Perbedaan yang malah berfungsi untuk melengkapi bahkan diharapkan dapat memperbaiki masing-masing karakter. Hal ini pun terpercik dalam cerpen Ngambek yang kemudian dibahas dalam artikel Dilema Istri Sensi, Suami Enggak Sensi.

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja ketika mereka mendakwakan diri mereka (kami telah beriman), sedangkan mereka belum diuji. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar imannya dan siapa yang dusta." (QS. al-Ankabuut: 2-3)

Pernikahan adalah penggenap agama seorang muslim, sudah pasti ujian-ujian yang dihadapi tidak lah mudah. Yang masih separuh aja mati-matian istiqomah, apalagi yang udah genap sempurna. Ketika perbedaan dalam rumah tangga telah teratasi, ujian mungkin akan berlanjut ke masalah cemburu, kisah cinta masa lalu, keluarga besar, tetangga bahkan ketidakpuasan atas diri sendiri. Konflik-konflik inilah yang coba diuraikan Asma Nadia lewat cerpen-cerpen pernikahan yang kemudian beliau analisa lebih lanjut.

Ada sedikit kebingungan ketika harus ditanya apakah buku ini termasuk jenis fiksi atau non fiksi. Hal ini dikarenakan caranya menuturkan problematika rumah tangga dan solusinya dengan memadukan unsur fiksi [cerpen] dan non fiksi [ulasan]. Namun, di sisi lain, hal tersebutlah yang membuat buku ini unik dan berbeda dengan buku-buku pernikahan yang lain. Adanya cerpen membuat pembahasan tentang pernikahan menjadi lebih luwes. Pembaca tidak hanya disodori ulasan tentang pernikahan tetapi juga imajinasi. Apalagi cerpen-cerpen tersebut cukup klop dengan renungan ‘bijak berumah tangga melalui cerita’ yang disampaikan Asma Nadia, kecuali cerpen Kalung yang terkesan dipaksakan untuk masuk ke dalam pembahasan tentang rumah tangga.

Berdasarkan pengakuan dari Asma Nadia pada bagian ‘kata pengantar’, cerpen-cerpen yang dihadirkan dalam buku Sakinah Bersamamu sebenarnya adalah kumpulan dari karya-karya lamanya, kecuali cerpen Kalung dan Sakinah Bersamamu. Bagi yang sudah khatam dengan buku-buku Asma Nadia mungkin akan diajak sedikit bernostalgia. Sedangkan bagi yang baru mengenal tulisan Asma Nadia lewat buku ini, tidak perlu takut basi karena cerpennya masih relevan dengan kondisi saat ini.

Judul : Sakinah Bersamamu
Penulis : Asma Nadia
Penyunting: Thenita
Penerbit : Asma Nadia Publishing
Terbit: Cetakan Pertama, Oktober 2010
Tebal : xii+ 344 halaman


lintasberita

Lanjut Baca

Oyako No Hanashi


Berbincang tentang tingkah polah anak-anak memang tidak akan pernah ada habisnya. Kepolosan serta kebeningan hati dan pikiran mereka jika diperhatikan kerap menyimpan pembelajaran dan perenungan. Imajinasi mereka pun seringkali di luar daya nalar para orangtua dan memancing kelucuan.

Sekali waktu saya pernah membaca sebuah status facebook yang isinya kurang lebih, tentang anaknya yang ingin menjadi tembok, sehingga membuat si bocah itu sering berdiri diam menempel pada tembok. Saya yang hanya membaca statusnya saja tertawa, apalagi orangtuanya. Namun tak dipungkiri, sebagian orangtua mungkin malah menanggapi dengan cemas ketika anaknya tiba-tiba ingin menjadi tembok.

Bagaimana jika anak Anda mengimajinasikan seorang adik, padahal tidak ada tanda-tanda kehamilan dalam diri Anda (atau istri) ? Syafiq, putra sulung Mbak Aan, terobsesi memiliki adik , hingga hampir semua pembicaraannya tidak lepas dari sosok imajiner si adik. Seperti ketika si ibu mengajak Syafiq membeli jaket, ternyata dia juga menginginkan si ibu membelikan sehelai untuk adik imajinernya. Kewalahan? Sudah pasti.

‘Praktikum, Perawan atau Gak?‘ Judulnya sempat membuat saya agak ketar-ketir membacanya, tapi begitu terjun ke dalam ceritanya. Oalaaaah, komentar itu yang muncul dari mulut. Ternyata isinya tentang kesalahan Syafiq dalam melakukan pelafalan. Pelajaran berharga yang saya serap dari cerita ini adalah dibutuhkan ketenangan orangtua dalam menanggapi pernyataan atau pertanyaan anak. Di usia yang masih belia kesalahan dalam melakukan pelafalan atau penyampaian sesuatu sering terjadi. Bahkan tak jarang anak tidak tahu apa yang diucapkannya, dia melakukannya hanya karena ikut-ikutan, sehingga kesalahpahaman dapat terjadi di antara orangtua dan anak.

Banyak hal yang dapat orangtua pelajari atau contoh dari sikap anak-anak, seperti rasa ingin tahu yang besar dan kekritisan mereka dalam melihat atau mendengar sesuatu. Cerita tentang ”Shofie dan Tripod” dan ”Nasi Goreng Sisa”, adalah salah dua kejadian yang masing-masing mengandung semangat belajar dan teguran bagi para orangtua. Dan buku ini menyuguhkan banyak petikan-etikan kehidupan penulis yang sekiranya dapat dijadikan wacana atau sekadar berbagi pengalaman ketika bersama suami, Syafiq dan Shofie.

Gaya penyampaiannya yang berbentuk diary membuat kejadian-kejadian lucu dalam rumah tangga si penulis terasa natural. Tidak dijumpai analisa teoritis atau kekakuan dalam setiap rangkaian kalimat yang dituturkan oleh penulis . Dengan demikian pembaca bebas untuk menarik kesimpulan dari setiap kejadian yang disampaikan dalam buku ini.

Semua orangtua mengharapkan anaknya tumbuh cerdas, bahkan melebihi ayah-ibu mereka. Tetapi siapkah para orangtua menjawab aneka pertanyaan atau komentar anak yang kritis?.....
[Endorsement Rini Nurul Badariah]

Siapkah orangtua menghadapi buah hatinya? Akan terjawab ketika kita berhadapan langsung dengan kepala-kepala cilik yang penuh dengan keunikan tersebut.

Judul : Oyako No Hanashi
Penulis : Aan Wulandari
Penerbit : Leutika
Terbit : Juli 2010
Tebal : 168 halaman


lintasberita

Lanjut Baca

Love in Rainy Days


Berbicara tentang kehidupan rumah tangga dan segala konfliknya memang tidak ada habisnya. Buktinya, cukup duduk manis di depan televisi, akan banyak sekali sintron yang mengangkat tema keluarga dengan beragam konflik yang sepertinya tak ada habisnya. Bagaimana dengan buku? Tidak kalah banyak. Mulai dari masalah perselingkuhan, rebutan harta warisan, cinta segitiga, hingga masalah anak. Love in Rainy Days [LiRD] salah satu novel yang mengangkat tema keluarga dengan konflik-konflik yang membelit cerita dengan rapi.

Salah satu perkara yang tertuang dalam alur cerita adalah belum dikarunianya Zita dan Indra, tokoh utama, seorang anak pun ketika usia pernikahan mereka telah menginjak 10 tahun. Sedikit menengok buku lain yang juga mengambil tema sama, novel Test Pack karya Ninit Yunita, berhasil menyampaikan kegelisahan sepasang suami istri yang tak kunjung dianugerahi buah hati, dengan selingan humor yang membuat cerita menjadi lebih renyah.

Sedangkan pada LiRD psikologi tokoh atas kegelisahan, ketertekanan, dan kesedihan karena belum juga memiliki anak terasa nanggung. Cerita lebih banyak berkisar tentang cerita masa lalu Zita dan Indra serta kepelikan kisah cinta tidak wajar yang harus ditanggung tanpa bisa diredam. Memang, jika dibandingkan dengan Test Pack, LiRD lebih banyak menawarkan konflik sehingga menghadirkan banyak kejutan-kejutan yang menarik untuk ditelusuri hingga akhir cerita.

Selain itu, dalam buku setebal 360 halaman ini, juga menuangkan tentang perbedaan agama yang terdapat dalam satu keluarga. Sayangnya, topik yang sekiranya dapat menjadi cabang konflik yang menarik dalam rumah tangga ternyata hanya terkesan sebagai cerita tambahan dalam kisah masa lalu Indra dan Zita. Bagian yang sekiranya dihilangkan pun sepertinya tidak akan terlalu bermasalah dalam alur cerita. Lain halnya jika perbedaan prinsip tersebut menjadi konflik yang menyertai kebimbangan dan kegelisahan para tokohnya.

Begitu membaca judulnya, Love in Rainy Days, saya langsung dapat menangkap kesan romantisme dan melankolis. Tidak berhenti pada judul, karena ternyata penulis berhasil membuat jalannya cerita terwarnai rasa-rasa syahdu, sehingga membuat saya dapat juga merasakan keromantisan yang tercipta lewat diksi-diksi dan suasana latar yang pas. Dalam hal mengatur alur maju dan mundur cerita, penulis juga mampu membuatnya tidak terkesan ‘langsung loncat’. Kehalusan mengatur alur membuat saya sebagai pembaca merasa nyaman dan tidak pusing.

Akhir cerita dalam buku ini sama sekali tidak menyisakan masalah, tidak ada satu pun yang menggantung, sehingga bagi pembaca yang menyukai happy ending pasti merasa lega. Sedangkan bagi yang tidak menyukai happy ending, seperti saya, terasa kurang greget.

Judul : Love in Rainy Days
Penulis : Ifa Avianty
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Terbit : Januari 2011
Tebal : 360 halaman


lintasberita

Lanjut Baca

Eliana, Serial Anak-Anak Mamak


Burlian adalah serial anak-anak mamak yang pertama kali diterbitkan oleh Republika. Walaupun nongol pertama kali ternyata dia adalah anak ke-3 dari sang Mamak, sedangkan sang sulung, Eliana, baru diterbitkan baru-baru ini, Januari 2011. Saya sendiri kurang tahu apa alasan Republika/ Tere Liye [?] tidak menerbitkan Eliana dahulu, alih-alih si Burlian. Walaupun di rumah sudah tersedia tiga buku dari tetralogi anak mamak, saya lebih memilih membaca kisah Eliana terlebih dahulu. Mungkin dikarenakan saya sendiri adalah anak sulung dari enam bersaudara, sehingga harapannya bisa lebih ‘klik’ dengan cerita. Hasilnya? I like you, Eliana ^^

Keras kepala dan berani, dua sifat yang terlihat begitu mendominasi alur cerita bocah kelas 4 SD ini. Keberaniannya sudah muncul sejak awal-awal kisah, dimana dia berani membentak ‘para petinggi’ di sebuah forum resmi, “JANGAN HINA BAPAKKU!!”. Sifat inilah yang selanjutnya menggiring dia dan anggota Buntal yang lain dalam misi menghalangi para pengeruk pasir. Dengan gaya pengintai mereka menyusun rencana-rencana dari mulai mengempesi ban, hingga tindakan Marhotap melempar kantong-kantong bensin ke truk pengeruk pasir.

Meski usianya masih terbilang sangat muda, Eliana mengetahui bahwa proyek pengerukan pasir yang masuk secara paksa ke kampungnya berdampak fatal, tidak hanya bagi penduduk, tetapi juga siklus alam. Kesadaran terhadap lingkungan tersebut tidak lepas dari pendidikan yang diperolehnya dari Pak Bin, satu-satunya guru aktif yang harus mengajar 6 kelas karena kekurangan tenaga kerja, belum lagi kondisi sekolahnya yang sudah tidak layak.

Membaca kondisi sekolah yang bobrok tak ayal membuat saya teringat dengan cerita Laskar Pelangi, walaupun konteks ceritanya sangat lah berbeda. Hingga kemudian, cerita pun tidak hanya mengkritisi masalah lingkungan dan sistem pemerintahan yang bejat, tapi juga bentuk pendidikan di daerah yang kerap tidak memadai dan disisihkan. Carut-marut kehidupan kampungnya inilah yang kemudian menghantarkan Eliana pada sebuah cita-cita sebagai pembela kebenaran.

Dengan segala masalah pendidikan, lingkungan, dan pemerintahan yang dihaturkan dalam buku Eliana ini, tidak lantas membuat plot cerita menjadi berat. Penulis berhasil menyampaikan kritikannya tanpa melupakan fokus dan tokoh utama dari cerita yaitu tentang anak-anak bernama Eliana. Konflik keluarga pun menjadi salah satu dilema dalam diri Eliana, ketika dia mulai mempertanyakan kasih sayang Mamak dan statusnya sebagai anak sulung. Ramuan cerita pun tidak hanya berkesan seru, menegangkan, dan sinis, tetapi juga ceria, lucu, sekaligus mengharukan.

Judul : Eliana, Serial Anak-Anak Mamak
Penulis : Tere Liye
Editor: Andriyati
Penerbit : Republika
Terbit : 2011
Tebal : 519 halaman


lintasberita

Lanjut Baca

Catatan Cinta Ibu; Happy Parenting


“Jika kesabaran itubisa dibeli di toko-toko, tentulah orangtua tidak akan pusing menghadapi ulan anak-anaknya. Tetapi ternyata kesabaran itu harus dilatih melalui serangkaian peristiwa yang dilalui bersama anak-anak” [h.vi]

Tak dipungkiri bahwa kesabaran adalah kebutuhan primer bagi sosok orang tua ketika berhadapan dengan anak-anak. Tidak hanya orangtua, tetapi juga guru maupun pembina yang bergerak di dunia anak-anak. Bersama dengan teladan, kesabaran kelak akan sangat membantu sang anak untuk dapat membentuk karakter kuat dan tidak cenderung ikut-ikutan seperti yang kerap terjadi para era sekarang.

Ketika kesabaran dan keteladanan terlewatkan dari mendidik sang buah hati, akibatnya karakter anak akan limbung dan tidak jelas. Beragam kasus berkenaan dengan hal tersebut dipaparkan oleh Meidya Derni, seperti pada pembahasan tentang Steffany yang bingung akan masa depannya, seperti yang terjadi pada sang ibu. Ataupun ketika orangtua menghadapi anaknya yang berbohong atau mencuri. Semuanya butuh penanganan yang matang dan tidak diliputi emosi.

Begitupun ketika orangtua mulai menerapkan aturan yang diberlakukan kepada sang anak, maka secara otomatis segala poin peraturan pun berlaku bagi orangtua. Mengapa? Karena hal tersebut akan berpengaruh pada kokoh tidaknya aturan tersebut. Bagaimana anak akan memandang sebuah aturan orang tua yang melarang mereka nonton tv saat jelang adzan maghrib, sedangkan di sisi lain si anak melihat kenyataan bahwa orangtuanya sendiri malah keranjingan melihat sinetron pada waktu tersebut.

Dari berbagai pengalaman dan pengamatan yang dituturkan penulis, artikel berjudul ‘Because I Love You’ dan ‘Use Your Imagination’ merupakan bagian yang paling menarik. Because I Love You adalah sebuah artikel yang berisikan upaya orangtua untuk meniadakan arogansi yang kerap melekat pada diri mereka. Arogansi ini seringkali, baik sadar atau tidak, memaksa anak untuk menjadi penurut dengan segala titah/keinginan orangtua. Sedangkan Use Your Imagination mengingatkan pada orangtua bahwa anak-anak memiliki daya imajinasi yang tinggi, sehingga ketika muncul permasalahan atau pertanyaan orangtua pun sebenarnya bisa memanfaatkan imajinasi untuk menyelesaikannya.

Salah satu teknik penulis dalam menyampaikan pemikirannya adalah melalui contoh-contoh dialog yang dapat pembaca bandingkan untuk kemudian diterapkan kepada sang anak. Dengan adanya dialog tersebut para orangtua mendapatkan gambaran yang lebih konkrit bagaimana menyikapi keaktifan dan ke-nyleneh-an anak.

Judul : Catatan Cinta Ibu; Happy Parenting
Penulis : Meidya Derni
Penyunting: Azzura Dayana
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Terbit : Cetakan Pertama, Juli 2009
Tebal : 212 halaman
Harga: Rp. 33.000 [disc. 15% di ]

lintasberita

Lanjut Baca

Happy Ramadhan With Kids


Masa kanak-kanak adalah masa paling produktif dimana mereka banyak sekali menyerap apa saja yang ada di sekitarnya. Kemampuan serap yang tinggi inilah yang seharusnya digunakan para orangtua untuk mulai memberikan berbagai pemahaman, tetapi haruslah dengan cara yang menyenangkan. Sebagian besar anak-anak pasti sangat suka jika diajak bermain atau melakukan hal yang membuat mereka tertarik dan berkreasi. Trik inilah yang sering kali digunakan para orang tua untuk memperkenalkan hal atau pemahaman yang baru, salah satunya Ramadhan.

Bagi umat muslim Ramadhan adalah bulan yang sangat spesial. Melihat segala keistimewaannya, pastilah para orangtua menginginkan anak-anaknya berkenalan dengan bulan 1000 bulan ini. Tapi bagaimana caranya supaya para bocah cilik ini bisa tertarik? Banyak trik yang dibagikan para penulis dalam buku berjudul ‘Happy Ramadhan With Kids’.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, anak-anak sangat menyukai permainan. Salah satu permainan menarik yang dituangkan dalam buku ini adalah permainan detektif-detektifan ala Ellyza Dian agar Asha, putrinya, tertarik untuk be-Ramadhan dalam ‘30 Hari Menjadi Detektif’. Trik lain adalah dengan membuat berbagai prakarya menyambut datangnya Bulan Ramadhan seperti mempersiapkan poster-poster kreasi sendiri yang berisikan semangat Ramadhan, atau bisa juga dengan membuat kalender Ramadhan yang menyimpan hadiah-hadiah kecil di setiap harinya.

Prakarya yang menurut saya sangat menarik adalah membuat pohon Ramadhan dengan ukuran besar yang ditempeli banyak sekali permen yang bernomor 1 – 30 dan dapat diambil sebagai hadiah puasa sesuai dengan urutan hari dalam Ramadhan. Sudah pasti anak-anak akan sangat menyukai kala membuat ataupun melakukan rutinitas tersebut. Mungkin kita juga bisa menyelipkan hadist-hadist ringan untuk dibaca dan dibahas setiap harinya.

Memperkenalkan buah hati dengan Ramadhan saat berada di negeri bermayoritas Islam mungkin akan lebih mudah karena banyaknya dukungan dari lingkungan atau sekolah anak. Namun, bagaimana jika kita tinggal di negara, dimana Islam menjadi minoritas? Bukan hal mudah mengajak anak-anak berpuasa di Bulan Ramadhan. Hal ini tergambar pada beberapa kisah para ibu muslimah yang harus hidup di negara asing. Bagaimana ketika Ramadhan harus bersaing dengan keseruan perayaan Helloween? Bagaimana membuat Ramadhan menjadi indah di negara yang minim mengenal agama?

Walaupun ada beberapa kisah yang lebih fokus ke pendidikan anak dibandingkan Ramadhan, berbagai pengalaman para orangtua ini cukup menarik untuk dijadikan referensi dalam memancing sang buah hati untuk mencintai Ramadhan. Apalagi jelang bagian akhir, pembaca akan mendapatkan bab berjudul pernik lezat dan kreativitas. Di sana akan didapati berbagai kreasi makanan/cemilan dan prakarya yang dilengkapi dengan cara-cara pembuatannya.

Judul : Happy Ramadhan With Kids
Penulis : Gita Lovusa dkk
Penerbit : Pena Lectura
Terbit : Juni 2010
Tebal : 242 halaman

NB: Tengkyu buat Mbak Nopi… Akhirnya bisa baca sekaligus ngambil banyak ilmu dari buku ini ;)


lintasberita

Lanjut Baca

Ibu, Dari Mana Aku Berasal?


Saat membaca judulnya saya teringat dengan buku “Seni Dialog Dengan Anak” terbitan Maghfirah. Keduanya berbicara tentang bagaimana sikap orang tua ketika anak-anak meluncurkan pertanyaan-pertanyaan “ajaib”nya. Tau sendiri kan keajaiban pertanyaan atau celotehan mereka yang sering kali out of the box. Menarik, tapi juga membuat deg-degan.

Namun, kedua buku ini berbeda. Perbedaannya terletak pada contoh kasus yang diambil oleh masing-masing penulis. Pada buku Seni Dialog Dengan Anak pembaca akan disuguhi contoh kasus berupa “misalnya”, maksudnya penulis hanya mengambil kasus tanpa melibatkan pengalaman pribadinya. Sedangkan kekuatan dari isi buku “Ibu, Dari Mana Aku Berasal?” adalah pada rangkaian pengalaman pribadi dari Lara Fridani dalam menghadapi ketiga putranya yang memiliki karakter beragam.

Sempat tinggal di Australia, dengan sistem pendidikan yang terbilang lebih memancing sang anak untuk mengolah daya pikir, membuat putra-putra dari Mbak Lara memiliki daya pikir yang kritis. Belum lagi, tinggal di negara yang minoritas Islam dan berseliwerannya pemandangan akan pergaulan tanpa batas, membuat pertanyaan-pertanyaan ‘berbahaya’ pun kerap terbit dari anak-anak dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Seperti ketika Zuhdy, anak keduanya yang saat itu berusia 5 tahun, menanggapi kebenaran Al-Qur’an dengan pernyataan, ‘Aku juga bisa menulis di kertas ‘ini benar dan sempurna’ kemudian mencetaknya jadi buku, dan tinggal diperbanyak!’ [h. 20]

Di dalam buku ini, penulis tidak selalu mencitrakan diri sebagai orang tua yang tahu segalanya, terkadang dia pun harus menunda-nunda jawaban dari sang anak karena membutuhkan jawaban yang tidak sembarangan seperti ketika ketiga putranya melakukan sidang kepada sang ibu dengan pertanyaan “Kita berasal dari sesuatu yang jorok ya, Mi?”

Salah satu penyikapan yang kerap dilakukan oleh penulis adalah tidak gegabah menanggapi pertanyaan anak-anak. Mencoba menanyai kembali tentang latar belakang munculnya pertanyaan merupakan tindakan yang sangat penting dilakukan orang tua, terutama untuk pertanyaan yang bisa dibilang “belum waktunya”.

Buku ini sangat menyenangkan dan menghibur tanpa meninggalkan sisi edukatif. Saya sangat menikmati membaca pengalaman-pengalaman penulis yang terkadang dirangkai dengan diskusinya sebagai dosen pendidikan anak di kelas mengajarnya. Bahkan beberapa kali saya bersama suami tertawa membaca celotehan ketiga putra dan bagaimana Lara Fridani memberikan tanggapan. Sungguh, ternyata sangat tidak mudah menghadapi anak-anak, dibutuhkan teknik, kesabaran, trik, dan konsistensi. Kenyataan inilah yang ingin disampaikan penulis.

Buku ini ditutup cantik dengan pembahasan tentang kekuatan doa. Ya, Bagaimana pun jumpalitannya kepala dan tindakan orang tua untuk memberikan pemahaman tentang berbagai hal, doa tetaplah menjadi senjata ampuh untuk tetap menjaga sang buah hati. Bukan kah doa orang tua untuk anaknya adalah salah satu ibadah yang mendapat ijabah?

Judul : Ibu, Dari Mana Aku Berasal?
Penulis : Lara Fridani
Editor : Kartika Trimarti
Penerbit : PT. Arga Publishing
Terbit : Cetakan kedua, Juli 2008
Tebal : 209 halaman

NB: Makasih banget untuk Mbak Nopi, udah minjemin buku yang keren ini ;)

lintasberita

Lanjut Baca

Burung-Burung Kecil


Membaca buku ini mengingatkan pada sinopsis Rumah Seribu Malaikat yang ditulis oleh Yuli Badawi dan Hermawan Aksan. Walaupun saya sendiri belum membaca buku tersebut, tetapi keduanya memiliki kemiripan, yaitu memiliki ketulusan hati untuk menampung anak-anak yang kehilangan kasih sayang.

Hanya saja, buku ini lebih bersifat fiksi, di mana terdapat tokoh yang dipanggil Ibu, yang bersedia memberikan tempat dan kasih sayangnya untuk anak-anak jalanan atau anak yang dititipkan oleh orang tuanya yang tidak mampu. Ibu yang memiliki lima rumah penampungan berusaha memenuhi segala kebutuhan ‘anak-anak’nya dengan segala keterbatasan dan bantuan donatur. Salah satu ‘anak’ yang teramat disayanginya adalah Eges.

Eges adalah bocah yang bercita-cita menjadi orang kaya yang bisa membuat ‘hujan’ duit. Sosoknya menjadi gambaran kehidupan jalanan dengan karakternya yang terkesan jumawa tapi tetap membutuhkan kasih sayang Ibu. Berbeda dengan bocah yang lain, Eges lebih cenderung memilih untuk tidak menetap di rumah singgah, hanya sekadar mampir ketika merindukan Ibu dan mengisi celengan.

Buku yang ditulis Kembangmanggis, nama pena dari Baby Ahnan ini, banyak berkisah tentang kehidupan jalanan dan rumah penampungan ini juga menunjukkan bagaimana Ibu ketika harus berhadapan dengan kenakalan anak-anak. Seperti ketika Ibu mengadakan sayembara menjaga jambu air tetangga untuk mensiasati kebiasaan mereka mengambil buah tersebut, atau ketika Ibu menunjukkan ketegasannya dalam menghadapi Udin yang kerap bermasalah.

Kisah Burung-burung Kecil merupakan naskah pemenang Sayembara Mengarang Novelet majalah FEMINA, tahun 1990, yang kala itu diketuai oleh Prof. Dr. Umar Kayam dan dikoordinir oleh Soekamto S.A. Sebagai pemenang, kisah dalam buku ini memang menawarkan sesuatu yang spesial di balik kesederhanaan alur cerita. Walaupun ceritanya anak jalanannya tidak segahar Daun di Atas Bantal, saya rasa cerita dalam buku ini sangat layak untuk dijadikan film yang sekiranya akan sangat menarik dan menggugah.

Judul : Burung-Burung Kecil
Penulis : Kembangmanggis
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Juni 2002
Tebal : 120 halaman
Harga : Rp. 7.000 [Event Gramed]


lintasberita

Lanjut Baca

Habibie dan Ainun

Jika sampai waktunya
Tugas kami di Alam Dunia dan di Alam Baru selesai
Tempatkanlah kami Manunggal di sisiMu
Karena Cinta Murni, Suci, Sejati, Sempurna dan Abadi
Dalam “Raga” yang Abadi, sibangun Ainun Manunggal dengan saya sesuai kehendakMU di Alam Baru sepanjang masa
Jiwa, Roh, Batin, “Raga” dan Nurani kami, Abadi sampai Akhirat

[hal. 323]

Manunggal Jiwo adalah kata yang selalu diungkapkan untuk menggambarkan kerekatan lahir dan batin antara Bacharuddin Jusuf Habibie dengan sang istri, Hj. Hasri Ainun Habibie. Sepanjang membaca buku Habibie dan Ainun ini memang terasa sekali kedalaman cinta dari Pak Habibie kepada istrinya. Banyak ungkapan yang selalu didengungkan beliau tentang betapa bahagia dan beruntungnya mendapatkan istri yang selalu diliputi kesabaran dan tanggung jawab.

Tanggal 22 Mei 2010 adalah hari yang sangat menyesakkan bagi Pak Habibie. Dimana saat itu beliau harus merelakan sang istri untuk pergi ke dimensi lain atau alam baru. Kehilangan inilah yang membuat Pak Habibie harus melewati perawatan psikologi salah satunya dengan terapi menulis yang kemudian menghasilkan buku Habibie dan Ainun. Sebuah kehilangan yang sangat dalam ya?

Berlimpah ruahnya ungkapan kecintaan dan kasih sayang Pak Habibie mengalir bersama kisah perjalanan hidup beliau semenjak bertemu tanpa sengaja dengan Bu Ainun di rumah Keluarga Besari, hingga kemudian mereka menikah. Sebagai lulusan insinyur dan bekerja sebagai asisten peneliti di Institut Konstruksi Ringan, di Jerman, maka setelah menikah mereka pun harus hijrah ke Jerman. Banyak lika-liku yang harus dijalani pasangan baru tersebut, terutama berkenaan dengan biaya hidup dan tempat tinggal yang harus dipenuhi. Dari sini sudah mulai diceritakan tentang ketegaran Bu Ainun yang kemudian akan semakin banyak dijabarkan Pak Habibie di sepanjang kisahnya.

Dengan background seorang teknisi, buku ini tidak lepas dari cerita tentang dunia kerja Pak Habibie yang berhubungan dengan konstruksi ringan, seperti saat beliau harus menangani pembuatan kereta api dan pesawat terbang. Selain itu, buku ini juga memuat tentang cita-cita, dedikasi, hingga saat beliau harus terjun di dunia perpolitikan. Cita-cita beliau yang terfokus pada penciptaan SDM yang berkualitas dijabarkan cukup detail dalam buku ini, mulai dari cerita berdirinya ICMI sampai The Habibie Center. Pada bagian-bagian tersebut cenderung agak membosankan, terutama tentang masalah perpolitikan dan kenegaraan.

Banyak ujian, banyak permasalahan dalam alur kehidupannya, apalagi ketika Pak Habibie dan Bu Ainun ingin mengambil pensiun ternyata kondisi tidak memungkinkan, karena Pak Habibie harus menerima tanggung jawab sebagai Wakil Presiden. Semua dapat dilalui dengan peran besar dari Bu Ainun yang selalu setia mendampingi dan memberikan masukan kepada sang suami.

Kisah mulai mengharukan ketika Bu Ainun kedapatan terkena penyakit jantung, yang mengharuskannya menjalani operasi klep jantung. Jika dahulu Bu Ainun yang harus senantiasa “menjaga” Pak Habibie karena intensitas pekerjaannya yang tinggi, maka sekarang Pak Habibie terus berupaya menemani sang istri menjalani berbagai proses penyembuhan yang membutuhkan waktu hampir 10 tahun. Terasa sekali bahwa fase kehidupan inilah dan setelahnya yang banyak memeras psikologi Pak Habibie.

Beruntunglah Pak Habibie memiliki agama dan Tuhan [diungkapkannya dalam buku ini] yang selalu tertanam dalam jiwanya, sehingga tidak membuatnya kehilangan kendali diri saat sang istri pergi selamanya.

Judul : Habibie dan Ainun
Penulis : Bacharuddin Jusuf Habibie
Penerbit : PT. THC Mandiri
Terbit : 2010
Tebal : xii + 323 halaman
Harga : Rp. 80.000


lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar