Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksi. Tampilkan semua postingan

Negeri van Oranje


Buku bertemakan persahabatan dan cinta sudah sering saya jumpai, tapi memadukannya dengan unsur komedi, pendidikan, dan travelling terbilang jarang, apalagi buku ini ditulis dengan kolaborasi empat kepala. WoW! Pastinya bukan sesuatu yang gampang. Kisah dalam buku ini mengingatkan saya dengan novel Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona! yang juga ditulis dengan keroyokan, tapi bedanya dalam buku garapan Aditya Mulya dkk ini tidak terdapat tema pendidikan.

Dikisahkan lima mahasiswa asal Indonesia yang terdampar di Negeri Belanda dan dipersatukan oleh kekuatan rokok kretek. Stasiun Amersfoort adalah tempat yang mengawali perkenalan dan persahabatan mereka, hingga nongollah sebuah genk dengan nama Aagaban [Aliansi Amersfoort Gara-gara Badai di Netherlands]. Lintang adalah perempuan satu-satunya dalam genk tersebut yang selalu dikerubuti empat pria, Daus, Wicak, Banjar, dan Geri. Uniknya latar belakang mereka studi ke Belanda tidak hanya karena ada dana atau beasiswa, tapi ada beralasan dalam rangka melarikan diri dari ancaman pembunuhan, atau tertantang agar mendapatkan restu gaet adik teman.

Buku yang satu ini tidak hanya sekadar menampilkan cerita persahabatan berbumbu konflik cinta, tapi juga memberikan pengetahuan berbagai macam sejarah, deskripsi tempat, rutinitas perayaan, dan dunia pendidikan di Belanda. Bahkan dalam buku ini juga terdapat feature yang berisikan tips yang walaupun menggunakan bahasa kocak tapi memuat informasi yang berharga, diantaranya tentang tips mencari tempat kos, atau informasi tentang surat-surat yang wajib diurus dan dimiliki ketika berada di Belanda, atau tips mencari pekerjaan sambilan, dan masih banyak lagi tips yang kesemuanya penting diketahui jika pembaca tertarik untuk tinggal ataupun hanya sekadar mampir ke Negeri van Oranje. Serunya lagi, kelima tokoh ini tidak tinggal di satu kota, tetapi lima, sehingga pembaca juga akan mendapatkan suguhan rute transportasi dari satu kota ke kota yang lain. Sayangnya, buku ini tidak menyelipkan foto-foto yang sekiranya bisa membantu pembaca untuk berimajinasi, seperti yang terdapat di buku Traveler’s Tale.

Ceritanya sendiri berjalan dengan mengalir dan kocak. Bahkan gaya bicara Wicak, Daus, dan Banjar dalam mengobrol dan bertingkah mengingatkan saya ketika sering berkumpul dengan teman-teman semasa kuliah, yang memang didominasi oleh kaum adam. Terasa sekali kenaturalan, sifat blak-blakan dan kejahilan mereka. Mantep! Namun di balik segala tingkah pola mereka yang konyol, ternyata masing-masing dari kelima tokoh ini memiliki idealisme dan nasionalisme yang tidak dapat dipandang remeh. Hal ini terbaca dari pemikiran mereka tentang masa depan, apakah setelah lulus nanti akan tetap berkutat di Belanda dengan fasilitas yang wah atau kembali ke Indonesia untuk mengabdikan ilmunya untuk kemajuan bangsa? Dan masing-masing tokoh memiliki alasan yang ketika dipikir-pikir sama-sama benar dan sama-sama mencerminkan sebentuk nasionalisme.

Ada satu ganjalan dalam cerita yang membuat saya sedikit bertanya-tanya, yaitu urgensitas dua tokoh baru yang berperan sebagai kawan baru Daus saat terjadi perang dingin dengan Banjar dan Wicak. Si Duo Botak, Koko dan Kiki. Jikalau memang dirasa penting, kok rasanya plot yang satu ini sangat singkat, bahkan menurut saya pribadi kesadaran Daus untuk kembali ke jalan yang ‘lurus’ terlalu cepat. Sehingga saya merasakan bagian tersebut menjadi sebuah alur yang sebenarnya tidak terlalu penting dituliskan, apalagi setelah itu Duo Botak tidak lagi muncul hingga akhir cerita.

Kelihaian para penulis dalam menuturkan kisahnya mampu membuat saya menikmati isi cerita tanpa harus diiringi kerutan dahi. Bahkan tidak salah jika setelah membaca buku ini Anda akan menjadi sangat tertarik untuk mencoba kuliah ke luar negeri, terutama Belanda.

Judul : Negeri van Oranje
Penulis : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit: Cetakan Sembilan, September 2010
Tebal : 478 halaman
Harga : Rp. 49.000


lintasberita

Lanjut Baca

Bumi Cinta


Cukup lama juga saya menunda untuk membaca buku terbaru karya Habiburrahman el Shirazy ini, mengingat membaca buku-buku terdahulu, Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih 1, tidak meninggalkan kesan yang mempesona. Hanya saja, saya masih tetap bersikukuh untuk membacanya karena latar tempat cerita yang terbilang menarik, yaitu Rusia.

Bahkan pada awal-awal cerita saya sangat tertarik ketika membaca bahwa alasan Ayyas ke Rusia adalah untuk studi lapangan penelitiannya yang berjudul “Kehidupan Umat Islam di Masa Pemerintahan Stalin”. Wah, pembahasan sejarah memang selalu menarik bagi saya. Sempat juga terselip rekomendasi Imam Hasan Sadulayevna untuk melebarkan sedikit rumusan masalah ke masa Pemerintahan Lenin, yang memang masih erat berkaitan. Ternyata keinginan saya untuk lebih mengenal Rusia dan sejarahnya lewat novel ini tidak terlalu terpenuhi.

Sayang seribu sayang, sejarah yang menurut saya bakalan menjadi bobot dalam novel ini malah nyempil sedikit sekali di cerita. Sejarah ini hanya tersampaikan pada saat Ayyas sedang membaca buku di ruang Prof. Abraham Tomskii dengan gaya bahasa literatur, dan ketika saya membacanya seperti tidak membaca karya fiksi, karena saking kakunya cara penyampaian sejarah komunis di negara Rusia. Tidak ada sebuah diskusi yang sekiranya dapat saya nikmati antara Ayyas dengan dosen-dosen pembimbingnya.

Penjelasan tentang pembantaian yang dilakukan komunis pada masa Stalin dan Lenin, ternyata menggiring penulis untuk membahas tentang partai komunis yang juga pernah hidup di Indonesia. Hanya saja, penuturan tentang pembantai dan G30SPKI masih saya rasakan seperti membaca buku sejarah zaman SD, di mana Orde Baru masih mendoktrin kisah sejarah. Bahwa PKI adalah tokoh antagonis dalam sejarah, padahal sejauh pengetahuan saya, sejarah tentang PKI masih diselimuti ketidak-jelasan, apakah memang PKI pelaku segala pembantaian atau mereka hanya dijadikan kambing hitam atas segala intrik yang terjadi pada masa itu—CMIIW.

Saya pribadi tidak terlalu mempermasalahkan kekonstanan Kang Abik dalam mengambil kisah percintaan dari novel satu ke novelnya yang lain, di mana tokoh prianya digandrungi banyak wanita. Namun, permasalahan yang mengusik adalah alur dan plot cerita menurut saya morat-marit dan terkesan mendoktrin pembaca. Adanya cerita yang melenceng dari alur juga membuat saya bosan, seperti penjelasan tentang Thifan Po Khan yang sama sekali tidak memiliki peran penting dalam cerita, ataupun tentang tari balet yang diambil dari cerita legendaris hasil karya Leo Tolstoy, sama sekali tidak memperlihatkan nantinya akan memiliki pengaruh besar untuk perjalanan kisah Ayyas. Hal-hal semacam itu seperti dahan pengganggu yang lebih cantik jika dipangkas saja.

Tidak berhenti di sana, alur dan plot cerita semakin tidak nyaman, setiap kali penulis menceritakan latar belakang tokoh, seperti pada tokoh Yelena dan Linor. Sebenarnya latar belakang kedua tokoh ini terbilang menarik, Yelena seorang pelacur sekaligus atheis yang dulunya pernah memeluk Islam dan Linor seorang agen Yahudi dan seorang wartawan ternama. Jika diceritakan dengan alur yang cantik dan tidak terburu-buru, hasilnya mungkin cerita akan lebih smooth.

Latar belakang Linor yang diceritakan dengan tumplek blek dalam satu bab penuh membuat kepala yang sebelumnya kosong tentang pribadi Linor, harus dipaksa menerima tumpahan sejarah hidup Linor dari awal sampai akhir. Jujur, hal ini sangat dan sangat menyebalkan buat saya, rasanya kepala ini tidak diijinkan untuk mengatur jalannya sendiri, tidak diperkenankan untuk merangkai kisah dalam buku ini secara alamiah. Capek? Pastinya!

Sama halnya dengan cara Ayyas dalam berdiskusi tentang masalah ketuhanan dan Islam, sama-sama membuat kepala capek. Gaya Ayyas cenderung menggurui dan jumawa, walaupun beberapa kali pada narasi dijelaskan Ayyas menghindari sifat sombong, tapi saat masuk ke bagian dialog saya tidak dapat menghindari kesan tersebut. Apalagi beberapa kali, Ayyas mengungkapkan kemarahannya dengan ucapan yang menurut saya kurang sopan.

Satu hal yang menjadi tanda tanya besar di kepala saya adalah rasanya Rusia dalam kisah Ayyas terlihat sangat bodoh—maaf. Sosok Doktor Anastasia Palazzo yang digambarkan sangat cerdas pun sama sekali tidak tampak cerdas. Hal ini saya simpulkan dari minimnya si Doktor cantik ini menyanggah atau menimpali penjelasan Ayyas tentang konsep ketuhanan. Anastasia seperti hanya bertanya dan menerima apapun penjelasan yang panjang lebar tersebut. Kondisi ini malah membuat cerita menjadi sangat aneh dan bertanya-tanya, “Apakah benar percakapan ini melibatkan dua orang yang katanya cerdas?”

Keanehan itu juga terjadi saat seorang ilmuwan Rusia yang sangat kondang, Viktor Murasov, dengan mudah ditumbangkan argumentasinya oleh Ayyas, TANPA ADA PERLAWANAN!! Hayo lah! Ayyas ini berhadapan dengan ilmuwan asal Rusia neh! Di mana dunia mengakui kecanggihan otak para ilmuwan negeri yang satu ini. Masa’ sih segitu mudahnya bisa bertekuk lutut, apakah ilmuwan Rusia memang se-cethek itu membuat sebuah argumentasi, sehingga sekali tebas langsung habis? Fyuh!

Satu hal lagi yang cukup mengenaskan dalam buku ini adalah berlimpahnya typo, padahal buku yang saya baca adalah cetakan kedua. Bagaimana dengan cetakan selanjutnya? Saya kurang tahu mungkin ada yang bisa menjawab? Hanya saja, yang pasti typo seperti pelengkap ketidak-nyamanan yang saya rasakan selama membaca buku setebal 546 halaman ini.

Yah, banyak sekali hal yang disayangkan dalam buku Bumi Cinta ini. Padahal menurut saya, secara garis besar ceritanya menarik, latar Rusia, penelitian tentang sejarah keislaman, konsep ketuhanan, pun ditambah tokoh seperti Yelena dan Linor harusnya membuat buku yang sangat spektakuler. Harusnya!

Namun terlepas dari segala kekurangannya, saya menyukai ending dari kisah buku ini, membuat saya sedikit bersyukur bersedia memaksakan diri untuk menamatkannya. Jika sebagian pembaca memandang akhir kisahnya menggantung, saya pribadi malah menganggap cerita ini memang layak berakhir dengan aroma dramatis. Uhuk! :p

Judul : Bumi Cinta
Penulis : Habiburrahman el Shirazy
Penerbit : Basmala
Terbit : 2010
Tebal : 546 halaman
Harga: Rp. 55.000


lintasberita

Lanjut Baca

Belajar Menjadi “Penonton” Lewat Ocehan Cecilia dan Malaikat Ariel


"Banyak hal aneh terjadi, Bu. Tapi, rasanya aku memahami segala sesuatu jauh lebih baik setelah aku sakit. Seolah-olah dunia ini terlihat lebih jelas ketika kita berada di tepiannya" [h.65]

Sakit. Seringkali orang mengeluh ketika sakit [baca: bed rest] mulai mendera fisik. Padahal jika ditelusuri lebih lanjut, bukankah saat itu merupakan salah satu kesempatan bagi manusia untuk beristirahat? Bahkan tidak dipungkiri bahwa keadaan ini merupakan momen paling pas digunakan untuk sedikit duduk diam, mengajak duet akal dan hati untuk berdialog, melakukan kilas balik atau menekuni gejala kehidupan di sekitar kita.

Seolah-olah dunia ini terlihat lebih jelas ketika kita berada di tepiannya.

Ya, dunia menjadi lebih jelas ketika kita berada pada posisi “penonton”. Maka pada saat sakit itulah, merupakan salah satu posisi “penonton” yang ternyaman untuk melihat segala hal dengan pikiran terbuka dan hati lapang. Itupun jika si penonton bersedia untuk melenyapkan keluhan yang sebenarnya sangat tidak berguna.

Cecilia adalah salah satu “penonton” yang awalnya merasa depresi dengan kondisinya yang hanya terkapar lemas di tempat tidur, di saat seluruh keluarganya merasakan kebahagiaan natal. Nuansa natal hanya bisa dirasakan lewat suara-suara yang terdengar dari lantai bawah, lewat bau masakan khas natal yang melayang melewati pintu kamarnya, lewat salju putih yang tampak dari jendela kamar.

Bahkan Cecilia dapat “melihat” ibu sedang membagikan masakan di meja makan, kakek sedang duduk santai menghisap cerutunya, nenek yang mulai memeluk seluruh keluarga, hanya dengan mengandalkan pendengarannya.

Di sela-sela kejengkelan dan kebosanannya, muncullah Malaikat Ariel. Jika selama ini Cecilia selalu membayangkan sosok malaikat dengan sayap dan rambutnya yang tergerai dengan indah, maka dengan melihat wujud Ariel imajinasinya berhasil runtuh. Jika dua makhluk berbeda dunia bertemu, dengan besarnya rasa ingin tahu yang dimiliki masing-masing, maka terjalinlah obrolan panjang yang diselipi rasa saling tidak percaya dan kagum.

Seperti buku-buku karya Jostein Gaarder yang sebelumnya pernah saya baca, Gadis Jeruk, Putri Sirkus dan Dunia Sophie—yang Dunia Sophie belum selesai, kisah Cecilia pun sarat dengan pemikiran filsafat tentang Tuhan, jiwa, astronomi dan kehidupan. Hal-hal inilah yang memadati dialog “ringan” antara Cecilia dan Malaikat Ariel. Masing-masing ingin tahu tentang "rasa" menjadi malaikat [bagi Cecilia] dan manusia [bagi Ariel]. Mereka saling "menuntut" pihak lain untuk membocorkan rahasia, antara bumi dan surga.

Menekuni obrolan antara Cecilia dan Malaikat Ariel, saya seperti diajak untuk mengungkap teka-teki kehidupan. Menarik, unik, aneh, mengagetkan, sekaligus membingungkan. Terlihat sekali, bagaimana kebebasan imajinasi dan pertanyaan anak-anak pada buku ini. Seperti ketika Cecilia mengemukakan pemikiran tentang mengapa orang tua hanya terdiri dari dua, bukannya tiga. Bukankah dengan tiga orang tua potensi memiliki anak akan menjadi lebih rendah, karena untuk mendapatkan anak harus mendapat persetujuan dari tiga orang. Pemikiran yang aneh kan?

Atau ketika Malaikat Ariel mencoba menerka, dari obrolan panjang mereka, bahwa kemungkinan ruh manusia berjumlah lebih dari satu. Bengong juga membaca buah pikiran dari setiap obrolan mereka. Dan pemikiran semacam itu banyak sekali bertebaran dalam buku, bahkan tidak jarang apa yang mereka ungkapkan sangat bertentangan dengan pemahaman saya. Dari sini, saya sedikit menganjurkan agar pembaca tidak menelan mentah-mentah isi buku dan mungkin cukup belajar dari sudut kekritisan mereka dalam berpikir.

Terlepas dari segala keliaran dan ekspresifnya pemikiran mereka, banyak juga dialog yang mengajak saya untuk merenung, memaknai dan kemudian menjadi sangat bersyukur. Seperti ketika Malaikat Ariel dengan polosnya menanyakan bagaimana rasanya menjadi manusia yang memiliki darah dan daging serta mengalami pertumbuhan, bagaimana rasanya ketika tangan menyentuh salju, bagaimana nikmatnya rasa masam dari buah strawberry, bagaimana rasanya kebahagiaan, bagaimana senangnya mendapat hadiah, dan masih banyak lagi keingin-tahuan Ariel yang berhubungan dengan fisik dan kemampuan manusia untuk merasakan apa-apa yang ada di sekitarnya. Setiap kali membaca bagian tersebut, membuat saya berpikir, betapa menyedihkan sekali menjadi malaikat dengan kedataran 'hidup' dan 'kehidupan'nya.

Tidak hanya itu, saat mereka memperbincangkan komet, matahari dan segala benda luar angkasa, saya diingatkan bahwa bumi hanyalah sesuatu yang kecil—sangat kecil—dari kehidupan alam semesta yang sangat luas. Ya. Dari buku ini saya merasa belajar menjadi “penonton” yang kritis dalam mempelajari sekaligus merenungi segala hal yang terdapat di balik kekuasaan, kehebatan, dan kebesaran-Nya.

Jika dibandingkan dengan Gadis Jeruk dan Putri Sirkus, cerita dalam buku ini terbilang sangat datar. Hampir sebagian besar isi buku ini diisi dengan dialog. tanpa adanya konflik. Sehingga bagi pembaca yang menyukai cerita dengan plot yang naik-turun, sepertinya buku ini akan jadi bacaan membosankan.

Judul : Cecilia dan Malaikat Ariel
Penulis : Jostein Gaarder
Penerbit : Mizan
Terbit : Desember 2008
Tebal : 210 halaman
Harga: Rp. 28.500


lintasberita

Lanjut Baca

Si Pitung, Superhero Betawi Asli


Siapa yang tidak kenal Si Pitung??? Jika ada yang mengacungkan tangan, kemungkinan besar adalah para remaja era sekarang yang tidak diperkenalkan sang legenda betawi yang terkenal jago bela diri ini. Dahulu saya masih berkesempatan mengenal sosok pitung lewat layar kaca dalam bentuk film silat, kala itu bintang yang sering memerankannya adalah almarhum Dicky Zulkarnaen. Saya pribadi tidak terlalu ingat jelas tentang detail cerita, hanya sekadar mengingat kostum khas Si Pitung yaitu peci, baju plus celana longgar, sabuk gede, dan tidak ketinggalan golok.
Sayangnya, sepanjang ingatan saya, belum pernah dijumpai, baik film ataupun buku, yang menceritakan masa kecil dari si Pitung. Hingga kemudian, saya mendapatkan novel anak terbitan DAR! Mizan yang berjudul “Si Pitung, Superhero Betawi Asli”. Rasa yang pertama kali terbangun ketika menemukan buku ini adalah nostalgia.

Walaupun kisah pendekar asal Betawi ini sendiri masih belum jelas apakah berdasar kenyataan atau hanya sekadar mitos, namun Pitung seperti telah melekat pada masyarakat Betawi sebagai pembela rakyat kecil. Bisa dibilang Pitung adalah Robin Hood-nya Betawi. Seperti halnya Robin Hood, di sini Pitung juga sering mencuri harta pada orang-orang kaya yang kerap mengumpulkan kekayaannya dengan menindas rakyat, kemudian hasil curian akan dibagi-bagikan kepada rakyat miskin. Ditambah lagi dengan sosoknya yang sangat berani melawan penjajah Belanda dan membela rakyat kecil, membuatnya menjadi idola anak-anak.

Bapak Soekanto mencoba mengisahkan keberanian, ketaqwaan dan jiwa kemanusiaan si Pitung mulai dari ketika dia masih kecil, kurang lebih 10 tahun-an.

Kullu nafsin dzaa'iqatul maut
Semua yang bernafas akan kembali kepada Tuhannya


Ayat inilah yang berulang kali ditegaskan penulis dalam diri sosok Pitung. Bagaimana pun hebatnya, atau saktinya seseorang tidak akan pernah lepas dengan yang namanya kematian. Karena mati hanya sekali, maka hidup harus lah selalu memberikan manfaat bagi sekitarnya. Makna ayat tersebutlah yang kemudian digunakan sang penulis untuk membangun karakter Pitung hingga menjadi pria pemberani sekaligus berakhlak.

Saya suka sekali dengan cara penulis menyelipkan pesan-pesan yang pastinya akan sangat mudah diserap oleh kepala anak-anak. Seperti pesan Haji Naipin (guru Pitung) ketika Pitung buru-buru beranjak setelah shalat jama’ah, “Tot, jangan mau lari saja kalau selesai shalat ya! …. Coba kau pikir, kita shalat berarti kita sedang menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Kaupikir, pantaskah begitu shalat selesai, kita lari membelakangi-Nya?” [h.28] Sungguh, sebuah pesan yang tidak hanya mengena bagi anak-anak tetapi juga orang dewasa.

Alur cerita berjalan maju, hingga Pitung dewasa. Hanya saja agak terjadi kebingungan dengan bertambahnya usia Pitung. Karena tidak ada penjelasan atau siratan dalam cerita tentang pertambahan usia tokoh, saya kerap baru menyadari ketika cerita sudah berjalan lumayan jauh atau saat melihat ilustrasi buku, “Ooohh… si Pitungnya udah gede to.”

Dari cara Pak Soekanto bercerita, dari pesan-pesan yang disampaikan, dari penyampaian yang tidak menggurui, membuat buku ini layak untuk dijadikan bacaan anak-anak.

Di Balik Buku Si Pitung, Superhero Betawi Asli


Sejujurnya saya tidak terlalu mengenal sosok Bapak Soekanto SA, sosok yang baru saya ketahui sangat lekat dengan nama majalah si Kuncung. Era saya kecil, Kuncung bukanlah majalah yang memenuhi bacaan saya, karena pada saat itu Mentari dan Bobo-lah yang seringkali menemani keseharian. Saat tuntas membaca buku si Pitung ini, mata saya tertuju pada foto profil penulis. Terlihat sosok pria sepuh yang sangat sederhana. Subhanallah, dengan usia yang telah memasuki 76 tahun, ternyata produktivitas beliau tidak ikut rapuh.

Dari membaca novel si Pitung ini, saya tahu bahwa penulisnya memang sangat mengenal dan mendalami dunia anak. Terlihat dari cara beliau menggambarkan si Pitung kecil dengan sifat khas anak laki-laki yang sering merasa dirinya pemberani dan ingin sekali menjadi jagoan. Setiap kali gurunya akan mengajarkan sesuatu, Pitung dengan sombong akan berujar, “Saya pasti bisa.” Gambaran-gambaran kuat karakter tokoh lah yang membuat cerita menjadi lebih bersemangat.

Bapak sembilan anak ini, mulai aktif menulis dan mengamati perkembangan bacaan anak sejak tahun 1950-an. Bersama Sudjati SA, beliau bekerja sama membangun majalah si Kuncung sebagai penulis sekaligus editor. Dedikasinya pada dunia anak, membuatnya dianugerahi berbagai penghargaan baik di dalam maupun di luar negeri.

Judul : Si Pitung, Superhero Betawi Asli
Penulis : Soekanto SA
Penerbit : DAR! Mizan
Terbit : Februari 2009
Tebal : 154 halaman
Harga: Rp. 24.000 [disc. 15%]


lintasberita

Lanjut Baca

Kemboja Terkulai di Pangkuan


Beberapa hari yang lalu, saudara saya yang berprofesi sebagai perias pengantin mendapat dua pekerjaan merias pada hari yang sama, dan keduanya calon mempelai wanitanya dalam kondisi sudah hamil. Realita yang ada saat ini, begitu mengetahui putrinya dalam kondisi hamil, sebagian besar orangtua pasti mengambil keputusan untuk segera mencari “pelaku” untuk segera dinikahkan, agar terhindar dari malu.

Fenomena tersebut diangkat oleh Irwan Kelana pada cerpennya yang berjudul Kemboja Terkulai di Pangkuan. Berbeda dengan orangtua yang lain, Haji Abdullah, nama tokoh ayah, tidak bersedia menikahkan putrinya dalam kondisi hamil. Bahkan di saat sang laki-laki bersedia bertanggung jawab, beliau malah mengusirnya.

Bingung, mencibir, memaki, itulah yang menjadi respon masyarakat melihat kekerasan hati Haji Abdullah. Namun, semua itu sama sekali tidak membuat keputusannya berubah, bahkan bujuk rayu dan permohonan sang istri sama sekali tidak dihiraukan. Keputusan tetap bulat: Tidak menikahkan Iffah, putrinya. Keputusannya didasari oleh keyakinannya, bahwa haram menikahkan putra/putri dalam kondisi hamil [penulis mengambil nasab Imam Malikiyah dan Hanafiyah]. Hanya satu yang digenggam oleh Haji Abdullah, ‘lebih baik malu kepada manusia, daripada malu di hadapan Allah’

Luar biasanya, walaupun dalam kondisi sedih dan marah, ternyata tidak melunturkan kasih sayangnya. Haji Abdullah masih tetap memperhatikan kondisi putrinya dan setia mengantarnya memeriksakan kehamilan dari bulan ke bulan.

Kemboja Terkulai di Pangkuan, adalah cerpen pembuka pada buku kumpulan cerpen dengan judul sama. Lembut, itu yang saya rasakan saat membaca tulisan dari Irwan Kelana. Walaupun, sosok pria yang kerap diangkatnya berkarakter keras dan sangar, tetapi sangat melindungi tokoh perempuannya. Bisa jadi sifat pelindung ini muncul pada jiwa setiap tokoh laki-laki karena didasari latar profesi dari si penulis.

Profesi wartawan banyak digunakan sebagai latar tokoh, dikarenakan si penulis sendiri pernah mengalami lika-liku hidup sebagai wartawan Republika. Pekerjaan yang menguras waktu dan menuntut untuk selalu standby di ‘jalanan’ membuat momen bersama keluarga semakin minim. Hal ini membuat sosok perempuan/ istri yang bersedia mendampingi seorang wartawan menjadi sangat spesial.

Menanti suami hingga larut malam, demi untuk sekadar membukakan pintu dan kemudian membuatkan wedang jahe atau rendaman air garam hangat supaya kaki sang suami terasa lebih nyaman, menjadi wujud kesetiaan dan ketelatenan sosok wanita yang tersurat. Kondisi inilah yang mungkin menjadi inspirasi hampir di sebagian besar cerpen, KESETIAAN.

Tidak hanya bercerita tentang kehidupan rumah tangga, tapi kumcer ini juga memaut tentang kebimbangan. Masih dengan profesi yang tidak memiliki jam kerja tetap ini, tertulis juga cerita tentang tentang kehidupan lajang. Di beberapa cerita terlihat usia tokoh utama laki-lakinya yang berkisar mendekati 40-an. Hal ini terjadi karena ketakutan mereka akan ketidak-pastian, resiko pekerjaan yang sangat mungkin menuai kematian, yang nantinya akan berdampak pada sang pasangan.

Dengan gayanya yang romantis, Irwan Kelana menghadirkan banyak cerita yang bernuansa cinta antar laki-laki dan perempuan. Di beberapa cerpen akan ditemui alur cerita yang hampir mirip, walaupun terselip konflik yang berbeda, seperti seorang pria yang jatuh cinta pada pandangan pertama, terpesona, kemudian berusaha mencari tahu dan berusaha meraih perempuannya dengan cara yang sangat ‘hati-hati’.

Walaupun berhamburan cerita cinta laki-laki dan perempuan, terdapat juga cerpen berjudul Kondangan yang sarat makna. Cerpen yang satu ini memiliki tema yang sangat sederhana, yaitu pergi kondangan, di mana seorang ibu selalu meminta anaknya untuk memenuhi undangan apapun yang didapatnya dari warga desa. Bahkan lucunya, walaupun undangan telah lewat 3 bulan, sang ibu masih terus menelepon putranya, demi mengingatkan untuk datang kondangan. “Malu kalau nanti ketemu di jalan, nanti dikira tidak menghormati’ inilah yang selalu dikatakan si Ibu. Tak jarang si Ibu juga menanyakan berapa isi amplop yang akan diberikan putranya. Cerewet? Memang, tapi di balik kecerewetannya ternyata tersimpan sebuah pesan yang mungkin, saat ini sudah mulai terlupakan.

Setelah menekuni kumpulan cerpen ini, jujur saya lebih menikmati cerpen Kemboja, Kondangan, dan Musholla di Halaman Rumah. Tiga cerpen yang sedikit keluar ‘jalur cerita cinta pasangan’ ini, ternyata lebih meninggalkan ‘bekas’. Bisa jadi, karena saya bukan fans dari cerita-cerita yang berbau romantis. Atau bisa juga menjadi salah satu pertanda bahwa sesuatu yang lain-daripada-yang-lain memang selalu menarik?

Selain unsur lain-daripada-yang-lain, ketiga cerpen ini lebih enak dinikmati, karena alurnya yang tidak terburu-buru jika dibanding dengan cerpen yang lain. Kesan terburu-buru ini sering tertangkap dari banyaknya potongan sketsa cerita yang seperti memotong alur supaya lebih cepat sampai pada akhir cerita. Namun, bagi pembaca yang memiliki jiwa penulis dan berkarya pasti akan dapat mengambil peluang atau inspirasi untuk mengembangkan alur hampir di setiap cerita.

Terlepas dari segala kekurangannya, unsur romantisme yang menapak jelas hampir di seluruh cerita ini pasti akan digandrungi para pecinta buku ber-genre romantis. Irwan Kelana selalu berhasil menciptakan suasana romantis dalam cerpen lewat deskripsi suasana atau dialog-dialog guyon, menggoda sang pasangan, namun tidak kelewat batas.

Judul : Kemboja Terkulai di Pangkuan
Penulis : Irwan Kelana
Penerbit : Bening Publishing
Terbit : Mei 2005
Tebal : 215 halaman
ISBN: 9792647791
Harga: Rp. 25.000



lintasberita

Lanjut Baca

The Joy Luck Club

The Joy Luck Club, adalah sebuah perkumpulan dari empat perempuan paruh baya. Perkumpulan ini dibentuk supaya mereka dapat senantiasa bergembira dengan kehidupan, walaupun saat itu sekitar mereka sedang dalam kondisi prihatin. Egois? Bisa jadi, tapi tujuan mereka sebenarnya hanya ingin supaya pertemuan sekali seminggu ini bisa menjadi pelampiasan kegembiraan setelah hari-hari sebelumnya dijepit kesedihan dan penderitaan. Sesuai kesepakatan, dalam pertemuan ini hanya boleh menceritakan kegembiraan dan kegiatan bermain mahyong dengan taruhan uang yang tidak sedikit.

Namun perkumpulan inipun usai seiring kematian dari Suyuan, ibu Jing Mei, akibat pecahnya pembuluh darah otak. Kematian yang diyakini sang ayah akibat dari ide yang terus menerus membesar, dan tanpa sempat ditumpahkan terlanjur meletus di dalam kepala. Berakhirnya perkumpulan ini menjadi awal mula cerita-cerita suram di balik kehidupan ketiga perempuan paruh baya ini.


Jika di awal saya sempat berpikiran bahwa buku ini akan berisikan tentang perkumpulan perempuan paruh baya yang gemar menggosip dan menghabiskan uangnya untuk bermain mahyong. Ternyata ceritanya lebih dari “itu”.


Berkisah dari sudut pandang tujuh orang tokoh perempuan, buku ini lebih banyak menceritakan tentang hubungan ibu dan anak perempuan. Beberapa ibu yang ingin membangkitkan jiwa ‘Cina’, dalam diri putrinya yang terlanjur mengadopsi kehidupan Amerika.

Walaupun harus sedikit menahan nafas akibat bau yang menyengat dari lapuknya buku terbitan Juli 1994 ini, saya masih dapat menikmati cerita, terutama tentang kisah-kisah masa lalu yang coba disembunyikan para ibu dari putrinya. Di sisi lain, cerita menjadi lebih dinamis, saat para putri sering tidak dapat memahami cara berpikir sang ibu, hingga kemudian menimbulkan konflik yang tak jarang berkepanjangan.

Dari keempat kehidupan antar generasi ini, terdapat tiga pasang sudut cerita ibu-anak, An Mei Hsu-Rose Hsu Jordan, Lindo Jong- Waverly Jong, dan Ying-ying St. Clair-Lena St. Clair. Namun, hanya Jing Mei, seorang putri yang harus berproses memahami pemikiran ibunya, dan tidak mungkin mendapat jawaban dari tubuh ibunya yang telah terbujur kaku.


Dari sini saya jadi belajar bahwa cerewet dan "sok tahu"nya seorang ibu sebenarnya hanya untuk membuat sang putri dapat melihat kasih sayang di balik segala sikapnya. Dan memberitahukan sesuatu yang salah dengan caranya yang terkadang unik dan tidak masuk akal.


Judul : The Joy Luck Club; Perkumpulan Kebahagiaan dan Keberuntungan
Penulis : Amy Tan
Penerjemah: Joyce K. Isa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Juli 1994
Tebal : 488 halaman


lintasberita

Lanjut Baca

Blue Remembered Heels; Sepatu Biru Kenangan




Awalnya saya sangat tertarik dengan buku ini dikarenakan desain sampulnya yang misterius...hehey, terkadang saiyah memang masih menganut, “Judge book by it’s cover”. Desain sampul ini saya lihat pertama kali di blog Mbak Anne, yang memang perancang dari desain sampul bergambar sepatu biru ini.

Saya sendiri begitu terobsesi dengan gambar sepatu ini, karena teringat dengan desain sampul versi lama buku karya Agatha Christie yang diterbitkan GPU. Buku Catatan Josephine, itulah judul dari buku Agatha Christie yang menjadi salah satu ccerita favorit saya.



Sama-sama terdapat sebuah sepatu di sana, hanya saja nuansa suram, khas cerita thriller, lebih terasa di sampul milik Agatha Christie. Namun bagaimanapun, gambar sepatu biru itu sukses membuat saya penasaran dengan isi cerita.

Selain karena faktor sampul, sinopsis buku ini yang berbau detektif sangat menarik. Apalagi di situ terdapat sesuatu yang unik, yaitu salah satu tokoh tidak bisa berbohong karena terkena sambar petir, Abbey. Walaupun rasa penasaran selalu muncul setiap melihat buku ini, keinginan membeli masih belum terlaksana.

Hingga akhirnya yang sukses membuat saya memutuskan membeli buku ini adalah saat mampir ke stand matahati di PBJ kemarin, harga Rp. 10.000 menmpel pada buku ini, segera saya sambar dan membawa buku ini ke kasir bersama The Help.

Hahaha… akhirnya duitlah yang memiliki peran penting dalam proses mendapatkan buku ini :P

Okey, baiklah… saatnya “menilai” isi cerita.

Hal yang paling menyusahkan pada diriku adalah kegemaran untuk memiliki imajinasi sendiri tentang buku yang akan dan sedang kubaca dan akan memberi efek tertentu. Gembira saat cerita dalam buku tersebut sesuai atau malah lebih memukau dibanding bayanganku. Kecewa saat melihat alur cerita yang ternyata jauh dari “keinginan”ku. Buku ini termasuk pemberi efek dalam kategori kedua.

Mungkin karena penilaianku yang berlebihan, imajinasiku yang melambung-lambung, atau bisa jadi karena pengaruh cerita Agatha Christie yang sedari awal turut andil dalam niat pembelian, sehingga sukses membuat saya kecewa. Hiks!

Kisah dalam buku ini kurang lebih tentang tiga bersaudara, Charlie, Abbey, dan Kip, yang melakukan penipuan untuk mendapatkan uang demi dapat membeli sebuah rumah peternakan. Semua berjalan lancar hingga tragedi Abbey tersambar petir membuat rencana mulai berantakan. Akibat sambaran petir inilah, Abbey tidak lagi dapat berbohong, dan hal ini sangat berdampak bagi kelangsungan “usaha” mereka.

Di sisi lain, ternyata konflik dengan Freddie malah membuka cerita misteri yang menyelimuti masa lalu dari ketiga bersaudara ini.

Namun, kalau menurutku pribadi, dalam buku ini bukanlah kejujuran Abbey yang membawa bencana, tetapi lebih karena nasib sial saat samaran Cherlie sebagai Lady terkuak. Petaka ini yang membuat Freddie, korban penipuan ketiga yang juga seorang pembunuh, sangat berang. Di sini tragedi ‘tidak dapat berbohong’nya Abbey tidak membuat cerita menjadi menegang, malah cenderung biasa saja.

Konflik demi konflik tidak membuat saya merasa dag-dig-dug-der karena semua berjalan flat, karena kebetulan sangat berperan dalam cerita. Sepatu biru yang menjadi perlambang dalam buku ini, juga hanya muncul dalam imajinasi Abbey. Padahal harapan saya saat mayat sang ibu diketemukan, terdapat bukti sepatu biru yang selama ini menghantui Abbey, dan bukannya malah perhiasan. Yah, kekecewaan saya tak terobati hingga di akhir berita.

Walaupun kekecewaan memenuhi kepalaku *halah!* Satu poin yang masih menjadi nilai plus dari novel ini, saya masih menyukai gambar sepatu biru di bagian sampul depan buku :P

Judul : Blue Remembered Heels; Sepatu Biru Kenangan
Penulis : Nell Dixon
Penerjemah: Tisa Anggriani
Penyunting: Lulu Fitri Rahmah
Korektor: Elvina Alianto
Desain sampul: Anne Mariane
Penerbit : M-Pop [Lini Penerbit Matahati]
Terbit : Maret 2010
Tebal : 312 halaman



***

Eh ternyata masih ada yang bersedia memberiku award ^^

Hadiah ini datangnya dari Sivi, teman blogger sekaligus kawan di GoodReads



Award ini aku persembahkan untuk siapapun yang berkomentar di blog ini, karena komentarmu dalah bentuk kepedulian kepada saya ^^

Ada sedikit aturan permainan dalam award yang satu ini...

Aturan Main :
Bagi sobat yang menerima award ini diharuskan untuk membagikan kembali award ini kepada lima orang temannya. Selanjutnya, sobat penerima award harus meletakkan link-link berikut ini di blog atau artikel masing-masing:

1. BOOK ONLINE
2. Kotak Kecil Sang Pemimpi
3. http://denchiel78/
4. Sivi's World
5. Jendelaku Menatap Dunia

Caranya,,,
- hapus Link nomor 1 dari daftar
-Semua Link dinaikkan 1 LeveL ( Link nomor 2 jadi nomor 1,, yang nomor 3 jadi nomor 2,yang nomor 4 jadi nomor 3,, yang ke-5 naik jadi ke-4,, dan yang paLing bawah kosong)
-Isi tempat nomor 5 dengan Link kamu (penerima award ini) di jalankan okey..!!


lintasberita

Lanjut Baca

Pollyanna, Bocah yang Pintar Menemukan "Bangku-Senyum"

Membaca permainan ‘Suka Cita’ Pollyanna, mengingatkan saya dengan slogan sendiri, ‘Keindahan Hadir Saat Kepala Manusia Berpikir Positif’. Kurang lebih keduanya memiliki inti yang mirip, sama-sama mencari ‘hal baik/positif’ yang pasti terselip di setiap kesedihan.

Sulit? Ya, bisa jadi sangat sulit, apalagi bagi yang tidak terbiasa. Saya teringat analogi papan tulis putih yang terdapat sebuah titik hitam. Hampir semua orang, jika ditanya apa yang kaulihat, pasti akan menjawab, papan putih. Dari sinilah kita tahu betapa sulitnya melihat sebuah titik kebahagiaan di antara sebuah musibah yang kerap dianggap menggunung. Kadang kita terlanjur “nyaman” melihat sebuah musibah dari bangku pertama, tanpa mencoba berpindah duduk ke bangku di sudut yang lain.

Pollyanna sukses melakukannya. Dia selalu berusaha memposisikan diri di bangku terbaik, di mana saat duduk di sana dia selalu dapat menyunggingkan senyum. Sekali waktu Mrs. Snow mengeluhkan kondisinya yang tidak bisa tidur pada malam hari. Jawaban Pollyanna, “Ya ampun, aku malah ingin begitu… Kita kehilangan banyak waktu karena tidur! Bukan begitu?” Sungguh jawaban itu sangat membesarkan hati para penderita insomnia :P

Setiap orang pasti akan terbawa riang begitu berada di dekat nona cilik yang selalu terlihat bersuka-cita. Pollyanna benar-benar bocah yang selalu ramai, ceriwis walaupun sering out of control dalam berbicara. Namun di sisi lain, saya terkadang merasakan kesedihan Pollyanna yang berusaha dipendamnya sendiri. Sedih kalau sudah melihat Pollyanna menangis di kegelapan kamarnya di loteng yang panas. Well, tak ada manusia yang sempurna.

Berbicara tentang genre buku Pollyanna, akhir-akhir ini banyak ragam terjemahan dari fiksi klasik yang mulai bermunculan di ranah perbukuan. Terasa sekali nafas baru sekaligus kerinduan para pembaca untuk bernostalgia. Begitu menyenangkan membaca karya-karya setipe ‘Pollyanna’ yang kerap berisikan kisah yang sederhana, dengan gaya bahasa yang juga bersahaja.

Ditambah lagi kisah Pollyanna memiliki deskripsi latar tempat yang indah, hutan nan hijau dalam setiap perjalanan Pollyanna menuju ‘istana’ Mr. Pendleton, rumah Miss Pollyanna dengan pohon depan kamar yang dapat dipanjat dan atap rumah yang bisa dijadikan tempat tidur, juga tentang prisma Mr. Pendleton yang membiaskan pelangi. Semua terbayang dengan mudah berkat terjemahan dan penyuntingan naskah yang apik, walaupun ada beberapa bagian yang terpeleset typo.

Satu lagi poin yang menarik dari sosok Pollyanna adalah kecerdasannya. Saya suka sekali dengan pendapat dia tentang hidup ketika bibi Polly yang menginginkan hari Pollyanna diisi dengan belajar dan belajar.
“Oh, tapi Bibi Polly, Bibi Polly, Anda tidak memberikanku waktu untuk… untuk hidup.” [h.59] berlanjut dengan, “Anda bernafas selama tidur, tapi tidak sedang hidup. Yang kumaksud hidup---melakukan apa pun yang Anda mau……Itulah yang kusebut hidup, Bibi Polly. Sekadar bernafas bukan hidup!” [h.60] Keren bukan?

Selain itu, saya juga menyukai saat dimana Pollyanna mengkritik para anggota Ladies’ Aid yang berisikan wanita-wanita paruh baya. Dia bertanya-tanya bagaimana nyonya-nyonya itu bisa begitu giat mencari dana untuk anak-anak di India, sedangkan untuk memberikan sedikit bantuan kepada Jimmy, anak yatim piatu, mereka hanya berkeluh-kesan.

Membaca Pollyanna memang sarat dengan pesan moral. Tapi, walaupun ‘Pollyanna’ bercerita tentang gadis cilik nan riang gembira, terselip juga ‘bau-bau’ asmara dalam cerita. Jadi, jika buku ini akan dihadiahkan pada anak-anak, sangat disarankan saat membacanya mendapat bimbingan orang tua :D

So, mulailah Anda belajar dari Pollyanna, menemukan 'bangku' yang menawarkan senyum.

Judul : Pollyanna
Penulis : Eleanor H. Potter
Penerjemah : Rini Nurul Badariah
Penyunting : Rinurbad & Dee
Pemeriksa Aksara : Azzura Dayana
Desain Sampul : Laraz Studio
Ilustrasi Sampul : Ella Elviana
Penata Letak : Lian Kagura
Penerbit : Orange Books
Terbit : Mei 2010
Tebal : 312 halaman
Genre : Fiksi Klasik
ISBN : 978-602-8436-79-3
Harga : Rp. 37.000 [dapat dibeli di sini dengan diskon spesial

NB: - Judulnya aneh gak sih? tapi koq aku suka yah :P
- Sekali lageee...tengkyu buat Mbak Tya yang mau minjemin nih buku Pollyanna. Love it and Love you! :D

lintasberita

Lanjut Baca

Dari Negeri Asing

Setelah membaca tiga cerpen pertama dalam buku kumcer “Dari Negeri Asing” saya diingatkan dengan sabda Rasulullah yang berbunyi, “Orang cerdas adalah orang yang senantiasa mengingat mati.”

Mengingat mati memang salah satu trik jitu untuk mengembalikan manusia ke ‘jalan lurus’. Bagaimana tidak? Saat kepala dan bayangan kita dipenuhi dengan adegan lubang tanah yang menganga siap memendam tubuh berbalut kain putih, rasanya mata pun sulit untuk tidak berair, rasanya sulit untuk melakukan dosa, rasa untuk bertaubat begitu mengencang di setiap sudut hati. Namun sayang, rasa yang begitu mahal itu seringkali hanya hadir dalam tempo yang singkat. Manusia kerap lebih memilih untuk melihat kefanaan dunia yang menggoda dan melupakan kehidupan absolut yang pasti akan menggenggam hidup para insan.

Pasti sebagian besar dari kita kenal dengan Majalah Hidayah. Ya, majalah yang sering memampangkan kisah misteri berhubungan dengan kematian manusia. Kematian yang dapat dijadikan ‘wajah’ dari perilaku sang manusia semasa hidup. Ketiga cerpen yang berjudul Kematian yang Begitu Penting, Tanah dan Tarian Pengantin, juga sama-sama mempertontonkan kematian, tetapi dengan gaya penulisan yang lebih halus.

Kematian pasti akan menjemput manusia, sekaligus menjadi ‘gerbang’ pertanggung-jawaban atas apa yang telah diperbuat semasa hidup. Mahsyar Kanjeng Sinuhun, mempertontonkan dunia mahsyar, dimana segala amalan dunia menjadi penentu penjeblosan manusia ke dalam surga/neraka. Uniknya tokoh Kanjeng Sinuhun, seorang tokoh yang adil, rendah hati, peduli dengan rakyat, ditambah dengan kualitas ibadah yang apik, ternyata mendapat keputusan neraka dalam buku yang digenggam sang malaikat. Ending cerita mengejutkan dan menyindir/mengingatkan maraknya fatwa yang akhir-akhir ini sering dilontarkan beberapa pihak.

Seperti halnya Kanjeng Sinuhun yang berkeinginan meraih surga, semua orang pasti juga menginginkannya. Itupun berlaku pada diri tokoh ‘Aku’ dalam cerpen Ke Surga. Dengan polosnya si tokoh mengambil nasehat sang ustad tanpa menafsir terlebih dahulu, dan mengambil perjalanan yang melewati jalan yang benar-benar lurus. Keriuhan hati menemani perjalanan panjang dari si tokoh. Apakah jalan yang ku ambil benar? Jangan-jangan waktu di awal aku mengambil belokan yang salah? Dapatkah perasaan menjadi tolak ukur kebenaran?. Simpang siur pertanyaan memenuhi kepalanya hingga perjalanan pun akhirnya berujung dengan lucu.

Tidak jauh berbeda dengan ‘Aku’, tokoh dalam cerpen Daun-daun Makrifat, yang juga menyinggung tentang pergulatan religi. Jika tokoh ‘Aku’ dengan innocent-nya mengambil jalan lurus [benar-benar jalanan yang lurus] maka tokoh Had melewati perenungan yang panjang, hingga menginginkan dirinya seperti Musa yang mencari ‘sosok’ Tuhan.

Teungku Ahmad Lebai Muda, tokoh sentral dalam cerpen Bila Tuhan Telah Tiada, mengalami dilemma dengan masyarakat desanya yang tidak mau datang ke masjid. Sebagai pengumandang adzan, Ahmad kemudian mulai datang ke setiap rumah untuk mengajak kembali para tetangga berkunjung ke rumah ibadat yang telah berumur. Namun, apa yang dia dapatkan? Keluhan-keluhan penduduk yang malah membuat keimanannya semakin melemah.

Kumpulan cerpen yang diisi dengan penulis yang terbilang memiliki nama yang telah ‘berkibar’ terlihat sangat mumpuni dalam mengurai cerita. Afifah Afra, Sakti Wibowo, Agustrijanto, Novia Syahidah adalah sebagian dari Pemenang Lomba Cipta Cerpen Islami Forum Lingkar Pena 2002 Kategori Dewasa. Dari naskah-naskah tersebut, akhirnya terbentuklah buku berjudul ‘Dari Negeri Asing’.

Selain keenam cerpen di atas masih ada kisah Orang Gila di Atas Bukit. Gaya penceritaan surealism mewarnai cerita tentang orang gila yang setiap harinya mendapatkan ‘mainan’ dari para raksasa. Saya paling suka dengan cerpen ini. Dengan gaya yang berbeda, penulis menuturkan episode dari sejarah bangsa yang memperlihatkan arogansi pemerintahan pada masa itu.

Pati Obong, Pasanga Ri Kajang dan Garwa Anggara Curanggana. Mengambil latar sejarah dan budaya dilakukan oleh ketiga penulis cerpen-cerpen tersebut. Dengan mengusung tema keimanan dan akhlak, ketiga cerpen ini cukup menarik walaupun agak membosankan. Namun terlepas dari itu, ketiga cerpen ini mampu membuat buku terbitan Syaamil ini menjadi semakin berwarna.

Judul : Dari Negeri Asing
Penulis : Pemenang Lomba Cipta Cerpen Islami Forum Lingkar Pena 2002 Kategori Dewasa
Penerbit : Syaamil
Tahun : September 2002
Tebal : 151 halaman
Genre : Kumcer
ISBN : 979-3279-09-5
Harga : Rp. 5.000 [Diskon Gramedia Merdeka Bandung]

lintasberita

Lanjut Baca

Mafalda 1, Pukulan Telak dari Kepolosan Bocah


Anak-anak selalu identik dengan kepolosannya dalam berucap atau menanyakan sesuatu, yang tak diragukan adalah bentuk awal dari kecerdasan otaknya yang sedang berkembang. “Senjata” kepolosan inilah yang digunakan Quino, komikus asal Argentina, untuk mengapresiasikan luapan kritik pada kondisi negaranya.
Walaupun komik ini dibuat 1964-73, tetapi kesatirannya masih fresh dan relevan dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. “Pada masa tokoh Mafalda lahir, kebijakan ekonomi Argentina dinilai hanya menguntungkan segelintir orang dan modal asing. Kelas menengah memang meningkatkan hingga 40 persen, namun pengangguran meroket dan kesenjangan ekonomi menajam….” [Pengantar Redaksi]
Seperti membaca kondisi bangsa sendiri bukan?

Melihat sosoknya yang imut, endut, tembem dengan pita yang sangat manis di puncak rambutnya yang lebat pasti akan membuat saya gemas melihatnya, apalagi saat melihat wajahnya yang berubah datar dan tanpa berdosa setelah menyampaikan pendapatnya yang nylekit. Cara berpikir yang masih netral, positif, dan spontan, khas anak-anak, membuat sindiran Mafalda lebih mengena, dan bisa jadi bakal menciptakan ekspresi tertegun, berkerut, atau mungkin defensif pada wajah pembaca kala membaca celetukannya yang ‘terdengar’ menyerang eksistensi.

‘Serangan’ kepolosan Mafalda tidak hanya ditujukan kepada keseharian atau kehidupan terdekatnya, tetapi juga merambah ke dunia pendidikan, peperangan, carut marut bangsa, maupun dunia. Dan bagaimana Mafalda menyindir masalah peperangan, PBB, dan Amerika, harusnya membuat ‘mereka-mereka’ yang andil atau menduduki kursi kekuasaan merasa malu. Sayang, sepertinya mereka terlalu angkuh untuk menanggalkan ego?

Salah satu poin yang sangat berpengaruh dalam meraih generasi yang unggul adalah sistem pendidikan. Kemudian, bagaimana pendidikan menurut kacamata anak-anak? Mafalda sukses menyentil berlimpahnya aktivitas sekolah yang kerap ‘menekan’ otak anak-anak. Sedangkan di sisi lain, banyaknya materi pelajaran terkadang tidak didukung dengan mutu yang baik.

Seperti yang tergambar di salah satu strip Mafalda terlihat mengukur lingkar kepalanya dengan menggunakan meteran, kemudian berujar sambil melihat hasil di meteran, “Emmm… Muat nggak ya buat nampung semua yang diajarin di sekolah?” [Sekolah Yuk!: 3]

Ibu guru (mengajar di depan kelas): Mama sayang aku. Mama cinta aku.

Mafalda (maju menyalami Bu Guru): Selamat ya, Bu, sepertinya mama Ibu baik sekali.
Kemudian kembali ke bangku dan berteriak: Nah sekarang tolong ajari kami sesuatu yang lebih berguna. [Sekolah Yuk!: 14]

Pria yang bernama asli Joaquin Salvador Lavador ini, tidak hanya bertumpu pada sosok Mafalda dalam menyampaikan kritik-kritiknya. Masih ada empat bocah cilik yang masing-masing memiliki karakter kuat. Tokoh Felipe dengan imajinasinya sangat tinggi akibat kontaminasi televisi; Sosok Manolito yang mewakili para kapitalis; Susanita yang merupakan gambaran kaum borjuis yang terkadang feminis, atau Miguelito yang lugu.

Sedikit petikan dari banyaknya celoteh bocah-bocah ini yang cukup menyentil,

Susanita: Dasar Mafalda! Menyebalkan! Dia bilang pertanyaanku adalah pertanyaan bodoh!
Manolito: Memangnya kamu tanya apa?
Susanita: Kenapa di Negara ini para pekerjanya sangat miskin, nggak pirang, nggak ganteng dan nggak punya mobil kayak Amerika? Menurutmu pertanyaanku itu bodoh?
Manolito [termenung]: Nggak. Kalau dipikir-pikir, itu bukan pertanyaan bodoh.
Susanita: …………
Manolito: Beneran, deh. Kalau dipikir-pikir lebih dalam. Itu pertanyaan berbahaya!
[Hidup Negeriku! : 19]

Felipe: Halo!
Mafalda: Sssstttt!! Jangan kencang-kencang! Ada yang lagi sakit di rumah.
Felipe: Papamu sakit?
Mafalda: Nggak
Felipe: Kalau gitu Mamamu, ya?
Mafalda: Bukan juga
Selanjutnya digambarkan mafalda duduk di depan globe yang sedang dibaringkan dalam kondisi ‘sakit’
[Astaga Dunia Kok Tambah Parah, Sih: 3]

Berdasar wawancara Quino dengan Lucia Iglesias, wartawan Unesco Courrier, pada tahun 2000, ia mengatakan, “Dunia sekarang masih tetap sama dengan dunia yang dikritik Mafalda pada 1973, saat saya tidak lagi melanjutkan komik strip tersebut, atau bahkan lebih buruk. Di satu sisi saya senang komik ini masih terus dibaca, tapi di sisi lain sedih rasanya memikirkan ketidakadilan sosial yang dia adukan masih tetap ada sampai sekarang.” [dikutip dari Pengantar Redaksi]

Salah satu bukti bahwa dunia tidak pernah belajar dari sejarah.

Judul : Mafalda 1
Penulis : Quino
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun : 2010
Tebal : xii + 129 halaman
Genre : Komik Strip
ISBN : 978-979-91-0213-3

lintasberita

Lanjut Baca

Pangeran Anggadipati, Darah dan Cinta di Kota Medang


Sejak munculnya Gajah Mada yang ditulis oleh Langit Kresna Hadi, genre fiksi sejarah Jawa membanjiri khasanah buku hingga saat ini dan sukses melegakan dahaga para pencinta cerita silat jaman dahulu. Salah satu kisah yang ikut bergulat dan memeriahkan dunia buku silat adalah karya dari pria kelahiran Sumedang, 16 Juni 1938, yang ikut memprakarsai terbentuknya Jurusan Teater di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung, Saini K.M.

Walaupun kemunculan buku seri Kesatria Hutan Larangan yang diterbitkan Bentang ini setelah Gajah Mada, ternyata buku ini sudah ditulis secara bersambung di harian Pikiran Rakyat pada tahun 70-an dengan judul Puragabaya. Selain itu, karya cerita silat yang berlatar sejarah kerajaan Sunda Pajajaran ini pernah dipentaskan dalam bentuk teater.

Secara garis besar buku ini mengisahkan tentang Pangeran Muda dari Kutabarang yang menempuh penggemblengan menjadi seorang puragabaya. Lulusan puragabaya nantinya akan bertugas untuk menjadi pengawal para pemimpin Pajajaran. Saat berumur sebelas tahun, dia dijemput oleh seorang guru yang juga puragabaya bernama Rakean. Tidak sembarang orang dapat menjadi calon puragabaya karena untuk mendapatkan sosok belia untuk ditempa di Padepokan Tajimalela, pendidik harus melakukan penyelidikan latar keluarga serta tabiat keseharian si calon.

Sebelum Pangeran Muda mengetahui keterpilihannya, dia Muda sempat melihat kematian sahabat sepermainannya, Raden Jamu yang pernah menjalani pelatihan sebagai calon puragabaya. Melihat kematian sahabatnya tersebut, Pangeran Muda menyadari bahwa pendidikan yang akan didapatkan di Padepokan Tajimalela bukanlah main-main dan nyawa adalah taruhannya.

Calon puragabaya akan gembleng menjadi manusia yang sangat langka, berkemampuan laksana binatang buas, sekaligus harus berbudi pekerti yang halus. Hal ini membuat para calon tidak hanya mendapat keahlian bertarung, namun juga pelajaran rohani yang langsung diberikan oleh Eyang Resi, sang pemimpin Padepokan. Di awal kedatangannya, Pangeran Muda tertinggal pelajaran. Beruntung Pangeran Muda mendapatkan teman baru, sekaligus teman sekamar, yang dengan rendah hati memberikan bantuan, Raden Jalak Sungsang atau Janur.

Sayang, Janur tidak dapat lebih lama mengikuti pelatihan karena kematian menghampirinya di salah satu tahapan menjadi puragabaya. Setelah ditinggal Janur, Pangeran Muda kemudian sekamar dengan Raden Jante Jalawuyung. Jante lah yang nantinya akan menjadi pusat konflik dari trilogi Kesatria Hutan Larangan, walaupun sosoknya hanya sering sekelabat saja dikisahkan.

Setelah melewati tahun ketiga, para calon puragabaya harus menjalani ‘praktek lapangan’ dengan mengirim mereka untuk mendampingi para pemimpin di Pajajaran. Sebelum berangkat ke Pakuan Pajajaran, Pangeran Muda diajak oleh Jante untuk mengunjungi rumahnya. Disinilah asmara mulai mewarnai kisah dalam buku setebal 394 halaman ini, antara Pangeran Muda dan Putri Yuta Inten, putri dari kerajaan Medang, yang tidak lain adalah adik dari Jante Jalawuyung.

Latar kehidupan Saini K.M yang diwarnai oleh dunia seni, dengan kampung yang selalu marak dengan kesenian, termasuk pencak silat, membuat beliau mampu mendeskripsikan gerakan-gerakan silat dengan sangat apik, dan dapat melayangkan imajinasi pembaca pada kehidupan masyarakat para jaman kerajaan Pajajaran. Selain itu, cara penulis yang dikenal sebagai penggiat sastra dan teater di Tanah Pasundan, dalam menuturkan ceritanya sangat mengalir, sehingga membuat proses membaca terasa nyaman, apalagi didukung dengan ‘kebersihan’ typo.

Konflik dalam buku ini terbilang tidak berkepanjangan. Konflik-konflik dalam buku ini dirasa hanya untuk memperkuat gambaran sosok seorang Puragabaya dan bagaimana mereka mengambil tindakan dalam menghadapi masalah. Konflik baru terasa ‘berat’ ketika tanpa sengaja Pangeran Muda membunuh Jante, yang nantinya akan berlanjut pada buku Seri kedua Kesatria Hutan Larangan; Raden Banyak Sumba, Bara Dendam Menuntut Balas.

Judul : Seri Kesatria Hutan Larangan; Pangeran Anggadipati, Darah dan Cinta di Kota Medang
Penulis : Saini K.M
Penyunting : Imam Risdiyanto
Penerbit : Bentang
Terbit : Agustus 2008
Tebal : viii + 394 halaman
Genre : Fiksi Sejarah
ISBN : 978-979-1227-28-5
Harga : Rp. 15.000 [di BookCity]

lintasberita

Lanjut Baca

Hades, Sebuah Novel Sang Autis

Penderita autis dan riwayat mitologi yunani/romawi kuno adalah obyek yang diusung Deasylawati Prasetyaningtyas untuk menciptakan karya berjudul "Hades, Sebuah Novel Sang Autis". Hades adalah saudara dari Zeus dan Poseidon, sosok dewa yang menguasai underworld, dunia bawah tanah yang sekaligus menguasai dunia kematian. Narendra, seorang remaja mengidap autisme atipikal yang memiliki tingkat IQ 189 meresapkan dirinya menjadi seorang Hades. Kegemarannya dengan buku-buku tentang mitologi yunani/romawi menggiringnya untuk menjadi sosok penguasa dunia bawah tanah.


Lewat tokoh Rendra, pembaca akan mendapatkan pandangan tentang bagaimana kehidupan seorang autis dalam menjalani kesehariannya. Sedangkan pengertian dari Autisme adalah kombinasi dari beberapa gangguan perkembangan saraf, otak dan perilaku pada anak yang secara tipikal muncul pada tiga tahun pertama usia anak. Kata ‘autisme’ itu sendiri, berasal dari bahasa Yunani "autos", yang berarti diri sendiri. Sehingga biasanya anak-anak penyandang Autisme itu seakan-akan hidup dalam dunianya sendiri, meski di tengah keramaian sekalipun.* Dunia pikiran yang dimiliki para pengidap autis ini tercipta karena ketakutan mereka dengan perubahan-perubahan di sekitar yang terlalu cepat. Seperti halnya ketika menghadapi manusia yang memiliki kecenderungan sikap dan sifat yang labil. Ketakutan itu juga yang membuat mereka memiliki kesulitan untuk melakukan komunikasi verbal dan bersosialisasi. Jika ketakutan mereka muncul, salah satu penyalurannya adalah lewat amukan, seperti Rendra yang memiliki alur kehidupan yang harus serba statis, sering kali mengamuk jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan "aturan", bahkan untuk urusan yang sepele.

Autisme bisa ditangani dengan melakukan terapi yang membutuhkan kesabaran, dan didukung dengan kestatisan dari lingkungan sekitarnya, karena mereka memiliki kecenderungan untuk melakukan segalanya dengan rutinitas yang sama dari hari ke hari. Perilaku Rendra sempat membaik, hingga kemudian perceraian orang tuanya membuat segalanya berubah dan Rendra kembali ke kondisi di titik nol, menjadi sosok pemurung dengan emosi yang labil. Perceraian antara Panji Sastranegara, sang ayah dengan wanita cantik mantan artis bernama Dewi, tidak hanya berimbas pada kondisi Rendra, tetapi juga berlaku kepada anak-anaknya yang lain. Rahadian, yang biasa dipanggil Ian, kakak kedua Rendra, diusir sang ayah akibat sikapnya yang selalu memberontak, sedangkan Erlangga, kakak pertama, yang bertanggungjawab atas diri Rendra semakin pusing antara menghadapi perilaku adiknya dan kepatuhan kepada sang ayah.

Kegemarannya membaca buku tentang mitologi Yunani/Romawi, yang selalu diberikan kakaknya, Ian, mengenalkannya dengan Janus dan Thanatos, kematian. Janus sebagai dewa pintu yang juga dianggap sebagai awal dan akhir dari segala sesuatu "mempertemukan" Rendra dengan takdirnya, yaitu Thanatos, sang kematian. Dan pikiran itu semakin tertanam saat serangkaian kematian terus menyergapnya. Namun, dengan kekuasaan sang ayah dan kelihaian kakaknya, Erlangga, Rendra masih bisa berkelip dari sel tahanan, walaupun dia masih berstatus tersangka. Demi manjaga reputasi sang ayah yang seorang pejabat tinggi, Rendra ke sebuah sekolah di Bandung. Perubahan ini malah semakin memperburuk keadaan, hingga membuat Erlangga dan Awidya, sang terapis semakin kesulitan menangani Rendra.

"Namanya Thanatos. Dia adalah takdirmu" [h.24]

Ternyata sekolah baru tidak membuatnya terbebas dari cengkraman kematian. Lagi-lagi salah satu temannya menjadi korban, dan tersangka utama kasus penganiayaan ini adalah Rendra. Pipit, teman di sekolah barunya melihat ada yang salah dengan sikap Rendra dan penasaran untuk mengetahui lebih dalam tentang sosoknya. Percakapannya dengan Rendra lewat sarana tulisan memperlihatkan sisi lain dari remaja autis ini. Tuduhan atas penganiayaan ini semakin diperparah dengan pembunuhan atas Mbok Nah, perempuan paruh baya yang telah lama mengabdi para keluarga Sastranegara.

Dengan sampul berbau thriller, buku ini memang memberikan ketegangan yang cukup terjaga. Cerita pun ditulis dengan bahasa yang cukup mudah, dengan keterkaitan tokoh yang terjaga rapi oleh penulis yang pernah menyabet gelar juara 1 lomba penulisan novel remaja islam tiga serangkai tahun 2006. Analogi Hades sesosok mitologi yang selalu hidup dengan kesendirian, terasa sangat tepat untuk disandingkan dengan autisme yang memang kerap menyendiri dengan dunianya.

Judul : Hades, Sebuah Novel Sang Autis
Penulis : Deasylawati Prasetyaningtyas
Editor: Elis Widayanti
Penerbit : Diva Press
Tahun : Desember 2008
Genre : Thriller
Tebal : 260 halaman
ISBN : 979-963-567-5

*diambil dari http://www.rumahautis.org/v2/aboutisme/297-autisme-adalah-.html



lintasberita

Lanjut Baca

Suami Untuk Mama

Sejak Mama dan Papa Su berpisah karena pertengkaran mereka saat liburan ke Yugoslavia, Su tinggal di rumah neneknya. Nenek adalah perempuan bertubuh besar dan tegap, ditambah dengan sifat yang suka menguasai dan suara keras, Papa menjulukinya “Nyonya Sersan”. Nenek tidak tinggal sendiri, dia tinggal bersama Oma Alice, adiknya, dan Tante Irmela, adik Mama. Bersama wanita-wanita inilah Mama, Su dan Kakaknya, I tinggal setelah minggat dari rumah Papa. Pertengkaran ini menyebabkan Su dan I agak kesulitan jika ingin bertemu dengan Papa, yang sebelumnya bisa mereka jumpai kapan saja.



“Bukan salahku mereka berpisah. Aku punya hak bertemu dengan ayahku sesering yang kuinginkan dan tidak didikte ibu! Aku ini bukan perabot dapur, yang dibawa-bawa waktu pindah dan ditaruh di dalam dapur yang baru!” h.79


Su tidak hanya pusing dengan masalah Papa dan Mama, tetapi juga dari Oma Alice yang tergila-gila dengan kebersihan dan kebiasaannya mengumbar peribahasa hampir di setiap kalimatnya. Oma Alice selalu ikut “menyemarakkan” perdebatan yang terjadi di rumah, selain itu sangat hobi menggerutukan kalau orang-orang di rumah tidak ada yang pernah mau memberitahukan apa pun kepadanya, padahal dia selalu mengetahui semua yang terjadi pada penghuni rumah. Nenek pun tidak bisa diharapkan untuk menciptakan ketentraman dengan sifatnya yang “mengerikan”. Hanya Tante Irmela, orang dianggap masih “normal”. Perempuan berusia 30-an yang mampu membuat para pria bertekuk lutut dengan rambut pirang, mata biru dan lesung pipinya. Tetapi kenormalan Tante Irmela tidak mampu mengalahkan kesengitan perempuan-perempuan di rumah. Beruntunglah Su memiliki teman laki-laki yang tinggal bertetangga dengannya, Benny Meier. Benny hanya tinggal bersama ayahnya semenjak ibunya menghilang. Sering kali Su menceritakan keluhan-keluhannya dengan tingkah Nenek dan Oma Alice kepada Benny.


“… Benny Meier benar! Benny mengatakan dugaannya bahwa suasana di tempat banyak wanita hidup bersama selalu “sengit”….Jadi? Jadi harus dimasukkan laki-laki ke dalam rumah!...” h.51


Komentar Benny membuat Su berkesimpulan bahwa di rumah membutuhkan pria untuk menenangkan kesengitan. Setelah menimbang-nimbang siapa yang akan Su “nikahkan”, dia memutuskan untuk mencari Mama suami baru. Segera Su membuat daftar pria yang dikenalnya, kemudian dicoret beberapa calon yang dinilainya tidak “layak”. Di sekian calon, Su sangat menyukai Dr. Johannes Salamander, guru bahasa Jermannya. Su menjulukinya Salamander Api karena dia sangat menyukai rambutnya yang berwarna merah menyala. Dengan segala upaya Su berusaha membuat Salamander terpikat dengan Mamanya lewat taktik bawah sadar, yang nantinya akan membuatnya dianggap mengalami gangguan jiwa dan dibawa ke “dokter empat ratus shilling”


Gagal menjodohkan Mama dengan Salamander, gadis cilik yang suka menyusun sajak ini tidak menyerah. Dia masih berkeinginan untuk mencarikan Mamanya suami. Dari Benny tercetus nama Ayahnya. Su menganggap ide Benny sangat cemerlang. Sebenarnya keluarga Su dan ayah Benny sangat tidak akur, bahkan Nenek dan Oma Alice menyebutnya “si Tak Tahu Diri” kepada Ayah Benny. Akan tetapi kali ini Su benar-benar bertekad mendapatkan ayah, maka dia menyusun rencana bersama Benny agar Ayah Benny dan Mama Su bisa menikah. Hanya saja, rencana mereka berujung dengan pertengkaran yang sangat hebat.


Berdasarkan pengakuan Christine Nostlinger, penulis asal Autria ini dulunya adalah bocah yang liar dan pemarah. Sifatnya di masa kecil ini sepertinya sangat berperan atas tercipta tokoh Su yang polos tetapi kritis menanggapi keadaan di sekitarnya. Berbeda dengan Madicken, Pippi atau Emil, tokoh cilik rekaan Astrid Lingren yang atraktif lewat tingkahnya, Su lebih atraktif dengan pikiran-pikirannya dan lebih banyak melakukan debat. Beberapa kalimat yang menurutku sangat sinis tapi ngena adalah,



“Saat itu aku sebenarnya kepingin sekali datang ke balkon sebelah, untuk mengatakan pada Mama dan Papa bahwa mereka berdua sama-sama salah. Aku juga ingin sekali mengembalikan segala petuah yang biasa mereka ucapkan padaku dan I, jika kami berdua bertengkar”
h.23


“Hebat sekali orang tua yang kita pilih” h.24 [diucapkan ketika Mama dan Papa untuk kesekian kalinya bertengkar di meja makan restoran]


“Jangan suka mencampuri kehidupan orang dewasa lagi. Mereka tidak suka jika dicampuri.[kata dokter empat ratus shilling] “Eh! Kenapa tidak suka jika dicampuri?” kata Su memprotes. “Orang dewasa sendiri juga suka mencampuri kehidupanku! h.99


Judul Buku : Suami Untuk Mama

Penulis: Christine Nostlinger

Penerjemah: Agus Setiadi

Penerbit: Gramedia

Terbit: Maret, 1985

Tebal Buku: 192 halaman





lintasberita

Lanjut Baca

Kitchen

Kehilangan bisa menjadi sesuatu yang menyedihkan, menakutkan, pukulan telak, sumber depresi dan atau tangis. Menghilangnya sesuatu yang sebelumnya berada dekat dengan kita, pasti akan meninggalkan kenangan. Begitupun saat kehilangan terbesar, bernama kematian, menghampiri. Proses menekuni kehilangan demi memperoleh keikhlasan akan terasa semakin menyulitkan. Bukan hal mudah, apalagi jika rasa memiliki telah mengakar. Kontemplasi inilah yang diangkat Banana Yoshimoto, penulis kelahiran dari Tokyo, ke dalam dua novelet depresif berjudul Kitchen dan Moonlight Shadow.

***

Kitchen.

Mikage Sakurai kehilangan neneknya, satu-satunya keluarga yang dimiliki. Semenjak kecil Mikage dirawat neneknya setelah kedua orang tuanya yang lebih dahulu meninggal dunia. Nenek yang selalu menjadi teman minum teh, teman menonton televisi sebelum tidur, pergi meninggalkan Mikage di rumah yang tiba-tiba menjadi suram. Yuichi Tanabe, pemuda yang tiba-tiba muncul dan membantu Mikage selama proses pemakaman nenek. Yuichi, adalah pekerja di toko bunga yang sering dikunjungi nenek. Dengan alasan supaya tidak sendirian, Yuichi menawari Mikage untuk tinggal di rumahnya selama musim panas. Saat menginjakkan kaki di rumah keluarga Tanabe, Mikage langsung jatuh cinta dengan dapur berlantai jingga. “Tempat yang paling kusukai di dunia ini adalah dapur.” [h.1] Dapur adalah tempat selalu membuatnya bisa tentram, bahkan saat kematian neneknya, hanya di samping lemari es-lah dia bisa merasakan tidur nyenyak.

Yuichi tinggal dengan seorang “Mama”. Eriko, sosok yang sangat cantik, yang sejak Yuichi kecil menjadi single fighter dalam menghidupi keluarga dengan mendirikan klub malam. Mama Yuichi telah meninggal akibat kanker, saat Yuichi kecil, meninggalkan kehilangan yang sangat besar dalam diri Eriko. “Mama,” itulah panggilan yang diberikan Yuichi pada sosok yang sejatinya adalah Ayahnya. Eriko, yang dulunya bernama Yuki adalah pria transeksual. Ya, kehilangan istri membuatnya memutuskan untuk melakukan operasi plastik menjadi perempuan. Bersama Eriko, Mikage merasa mendapatkan sosok yang hangat dan humoris, menerbitkan semangat yang sempat tenggelam setelah kepergian neneknya.

Eriko dibunuh oleh seorang maniak. Kematian. Lagi-lagi sebuah kehilangan. Kesedihan. Kondisi yang ternyata malah membuat Yuichi dan Mikage saling berjauhan.

***

Moonlight Shadow

Kematian Hitoshi dalam kecelakaan menyisakan rasa sesal yang mendalam dalam diri Satsuki. Tidak hanya dia, tetapi juga Shu, adik Hiroshi, yang saat itu juga harus menerima dua kehilangan, kakaknya dan kekasihnya, Yumiko. Satsuki tidak bisa begitu saja menerima kematian kekasihnya. Berdiri pada sebuah jembatan yang selalu menjadi tempat pertemuan dan perpisahan setiap kali mereka bertemu, menjadikan Satsuki semakin sulit untuk melepaskan kepergian Hitoshi. Tidak jauh berbeda dengan Shu, adik Hitoshi, yang sejak kematian Yumiko selalu memakai baju kelasi, seragam untuk perempuan, di kesehariannya.

Pertemuan Satsuki dengan Urara, menjadi semacam titik balik dari setiap dialog-dialog jiwanya. Kemunculan Urara, perempuan misterius yang menyapa Satsuki di jembatan, menimbulkan rasa penasaran yang besar. Siapa dia? Bagaimana dia bisa mengetahui apa yang terjadi dalam diri Satsuki?

***

Setiap orang memiliki cara untuk mengatasi rasa kehilangan yang berbeda, begitupun dengan tokoh-tokoh dalam buku yang telah diterjemahkan ke dalam dua puluh bahasa ini. Mikage dan Yuichi memilih untuk mengasingkan diri; Satsuki dan Urara dengan cara berdiri di tempat yang menyimpan banyak kenangan; Shu memilih memakai baju kelasi; dan yang paling dramatis adalah Yuki, yang menjadi sosok Eriko. Segala pengambilan tindakan ini menjadi salah satu cara untuk membuat mereka tetap bertahan dan menjalani hidup, sekaligus untuk menyimpan kenangan.

Dalam buku yang judulnya sering membuat orang kecele ini, merupakan debut dari penulis yang bernama asli Mahoko Yoshimoto. Karya perdana yang berhasil menyedot banyak peminat, sekaligus menuai penghargaan Kaien Newcomer Writers Prize pada November 1987, Umitsubame First Novel Prize, dan Izumi Kyoka Literary Prize pada January 1988. Dengan diksi yang sangat sederhana, sebagian besar cerita berisi dilema dan pemikiran-pemikiran tentang kehilangan, kehidupan, kesepian, semangat, persahabatan dan kematian. Tetapi kisah cinta yang terjalin agak menjemukan dan tak jarang dilema yang bekecambuk dalam diri Mikage tersampaikan berulang-ulang. Mungkin buku ini akan menjadi lebih menarik jika mengambil juga sudut pandang Eriko dan Shu dalam mengatasi kehilangannya.

Judul : Kitchen
Penulis : Banana Yoshimoto
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun: 2009
Cetakan: Pertama
Genre : Romantis
Tebal : vi + 204 halaman
ISBN : 978-979-91-0173-0



lintasberita

Lanjut Baca

Buku Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur - ulasan

Judul : Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur - Memoar Luka Seorang MuslimahPengarang : Muhidin M. DahlanPenerbit : ScriPta ManentTahun : 2007 (Cet. 11)Tebal : 261 halNovel ini mengisahkan seorang mahasiswi alim dan cerdas bernama Kirani, yang kemudian tertarik dan masuk menjadi anggota Jemaah, yaitu suatu organisasi rahasia yang bertujuan menegakkan syariat Islam dengan mendirikan negara Islam di
lintasberita

Lanjut Baca

Buku NOVEL NIGERIA - ulasan

Judul : Half of a Yellow SunPengarang : Chimamanda Ngozi Adichie, penerjemah Rika AffitiPenerbit : HikmahTahun : 2008, AgustusTebal : 761 hal.Judul : Things Fall ApartPengarang : Chinua Abebe, penerjemah Cahya WiratamaPenerbit : HikmahTahun : 2007, JuliTebal : 267 hal.Nigeria kerap disamakan dengan Indonesia: negeri yang kekayaan alamnya seolah menjadi kutukan, karena sebagian besar rakyatnya
lintasberita

Lanjut Baca

Buku BURNED ALIVE - ulasan

Pengarang : SouadPenerbit : Pustaka AlvabetTebal : 296 halamanTahun : Juli 2006Setelah My Hidden Face diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, Burned Alive turut menambah pengetahuan kita tentang kehidupan perempuan di negara-negara Timur Tengah, yang selama ini tidak kita ketahui benar-benar.Burned Alive merupakan sebuah kisah nyata seorang perempuan Arab di Tepi Barat (Palestina) yang terjadi pada
lintasberita

Lanjut Baca

Buku SANG PEMIMPI - ulasan

Pengarang : Andrea HirataPenerbit : BentangTebal : 280 halamanTahun : 2006Buku ini mungkin tidak hanya novel, tetapi juga memoir penulisnya, menceritakan masa sejak remaja hingga dewasa. Bagian awal berkisah tentang perjuangan tiga orang sahabat, dua orang diantaranya anak seorang pegawai miskin di Belitung dalam usahanya agar dapat tetap bersekolah. Untuk itu Ikal, nama tokoh dalam buku ini,
lintasberita

Lanjut Baca

Buku THE DA VINCI CODE - ulasan

Pengarang : Dan Brown (penerjemah Isma B. Koesalamwardi)Penerbit : SerambiTebal : 624 halamanTahun : 2006 (cet. Ke 24)Buku yang menghebohkan ini ternyata adalah sebuah kisah detektif yang dibalut dengan cerita mengenai sejarah kepercayaan kuno dan hubungannya dengan agama Kristen, dengan memberikan informasi yang menyangsikan hal-hal yang selama ini telah diterima secara luas, dan menyatakan
lintasberita

Lanjut Baca

Buku The Host : Sang Pengelana - resensi

The Host
Sang Pengelana
Stephenie Meyer
Ukuran : 15 x 20 cm
Tebal : 776 halaman


Melanie Stryder menolak dilenyapkan.

Bumi dikuasai musuh tak kasatmata dan manusia dijadikan inang oleh para penguasa ini. Otak mereka diambil alih sementara tubuh mereka meneruskan kehidupannya yang lama, seolah-olah tak ada yang berubah.

Ketika Melanie tertangkap, tubuhnya diberikan kepada Wanderer, sang "jiwa" pengelana yang menjadi penguasa barunya. Wanderer telah diperingatkan mengenai berbagai tantangan yang akan dihadapinya dengan hidup dalam inang manusia: luapan emosi, perasaan yang melimpah, dan ingatan yang teramat kental. Namun ada satu yang tak pernah dibayangkan Wanderer: penguasa lama tubuh ini---Melanie Stryder---menolak menyerahkan benaknya sepenuhnya.

Wanderer menyelidiki pikiran-pikiran Melanie, berharap mengetahui di mana keberadaan segelintir manusia yang masih bersembunyi. Namun tanpa disadarinya, Melanie malah memenuhi pikiran Wanderer dengan sosok Jared, laki-laki yang dicintainya dan masih hidup dalam persembunyian. Perlahan namun pasti, Wanderer mulai mendambakan dan menginginkan Jared, dan bersama Melanie ia memutuskan untuk memulai perjalanan panjang mencari laki-laki yang sama-sama mereka cintai itu.

ISBN : 978-979-22-4777-0; 40201090042
lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar