Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perempuan. Tampilkan semua postingan

Sukses Menyusui Meski Bekerja


Berita tentang pelarangan iklan susu formula di bawah 1 tahun sudah lama berlangsung, bahkan saat ini sama sekali tidak dijumpai iklan tersebut di layar televisi atau media massa. Acungan jempol patut diberikan kepada Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih yang telah berjuang mengupayakan kesadaran tentang pentingnya ASI, salah satunya dengan pelarangan iklan susu formula. Susu formula yang awalnya hanyalah sebagai alternatif bagi ibu yang kesulitan atau tidak dapat memproduksi ASI, ternyata semakin lama malah menjadi kebutuhan primer para ibu untuk memenuhi kebutuhan ASI bayi yang baru beberapa bulan lahir.

Permasalahan ini diperparah dengan banyaknya rumah sakit yang kontra dengan IMD [Inisiasi Menyusui Dini] dan ASI, sehingga ketika bayi baru lahir para teknisi kesehatan ini tidak sabar menunggu para ibu menyusui dini. Malah terkadang memberi susu formula pada bayi yang baru lahir tanpa sepengetahuan dari sang ibu – diambil dari wawancara “Pelarangan Iklan Susu Formula” di Metro TV.

Banyak alasan yang menjadi landasan para ibu tidak bersedia memberi ASI pada buah hatinya, diantaranya takut badan tidak menarik lagi, waktu yang minim karena bekerja, atau bisa malah tidak ada dukungan keluarga. Semua alasan itu sebenarnya bisa ditepis jika para ibu memahami dan menyadari betapa pentingnya ASI bagi sang bayi. Penelitian pun menyatakan bahwa kandungan ASI jauh lebih baik dibandingkan susu formula. Seperti yang dijelaskan pada buku Sukses Menyusui Meski Bekerja ini, bahwa pencernaan bayi yang baru saja lahir belumlah sempurna sehingga dibutuhkan ASI yang memiliki kandungan zat-zat yang lebih bersahabat.

Tidak dipungkiri bahwa saat ini banyak sekali ibu-ibu yang berkarir di luar rumah. Hal inilah yang seringkali menjadi alasan utama keengganan para ibu untuk memberikan ASI. Gak ada waktu, kilahnya. Mereka cenderung tidak mau ribet dengan segala tetek bengek per-ASI-an dan lebih memilih yang praktis-praktis saja. Sangat disayangkan.

Bersyukur bahwa ternyata masih ada ibu-ibu yang masih peduli dengan pentingnya ASI walaupun dalam kondisi aktif bekerja. Syasya Azisya, seorang perempuan yang bersedia menuangkan pengalaman, pengetahuan, dan segala informasi penting tentang ASI yang layak diketahui masyarakat. Pengalamannya yang pernah gagal memberi ASIX [ASI Eksklusif] kepada anak pertamanya tidak lantas membuat semangatnya kendur untuk memberikannya pada anaknya yang kedua. Dengan kesadaran penuh akan berlimpahnya manfaat dan keunggulan ASI membuatnya rela meluangkan waktunya yang padat untuk menyediakan ASIP [ASI Perahan] bagi sang putri.

Bukan hal mudah memang, apalagi jika tuntutan kerja meningkat. Namun, bukan hal mustahil untuk mewujudkannya. Satu poin yang harus diketahui para ibu berkarir ini jika ingin berkomitmen memberi ASI adalah manajemen waktu. Maka berbagilah sang penulis lewat bukunya tentang bagaimana memanajemen waktu sehingga sang buah hati tidak terlalaikan ASI-nya.

Sangat bermanfaat sekali memahami berbagai seluk beluk tentang ASI, baik bagi perempuan yang belum atau telah menikah, baik istri maupun suami. Tidak hanya berisi tentang manajemen ASIX, tapi buku ini juga memberikan gambaran pentingnya ASI, mitos-mitos tentang menyusui, segala peralatan yang mendukung ASIP, dan dilengkapi pula dengan kisah pengalaman beberapa ibu dalam berjuang untuk memberikan cairan cintanya pada sang buah hati.

Judul : Sukses Menyusui Meski Bekerja
Penulis : Syasya Azisya
Penerbit : Gema Insani Press
Terbit : 2010
Tebal : 132 halaman

NB: Jazakillah khoir Mbak Syasya, bukunya sangat-sangat bermanfaat ^^


lintasberita

Lanjut Baca

Menjaring Pahala Saat Hamil dan Menyusui


Sebagian besar perempuan pasti menginginkan dari rahimnya lahir seorang anak yang kelak akan menjadi sosok yang soleh/solehah. Tidak hanya itu, seringkali muncul kebanggaan saat perempuan dapat memberikan keturunan. Hanya saja, tidak semua perempuan diberikan anugerah indah tersebut. Sehingga ketika seorang perempuan mendapatkannya, sudah selayaknya jika dia senantiasa bersyukur atas rahmad-Nya berupa kehamilan dan menyusui/ merawat anak.

Tak dipungkiri bahwa masa hamil dan menyusui merupakan tahapan hidup perempuan yang membutuhkan kesabaran yang tak terhingga. Terbayang bagaimana beratnya bunda menopang perut buncitnya hingga 9 bulan, terbayang juga bagaimana kesabaran dibutuhkan ketika seorang bunda berkomitmen memberikan ASI ekslusif selama 2 tahun kepada buah hatinya. Maka tidak salah jika Allah memberikan pahala syahid bagi bunda yang meninggal saat memperjuangkan kelahiran buah hatinya.

"Tidaklah menimpa kepayahan kepada seorang Muslim, sakit menahun, kesusahan, kesedihan, gangguan atau cedera hingga tertusuk duri kecuali Allah akan menghapus sebagian dosanya karenanya." [HR. Bukhari dan Muslim]

Janji Allah tidak akan pernah ingkar. Ya, sesuai dengan hadis tersebut tiada suatu kesusahan/ kesakitan sekecil apapun yang tidak mendapatkan imbalan, asalkan sang hamba berkenan untuk bersabar. Hamil dan menyusui memang melelahkan dan tidak mudah. Namun, semua akan menyenangkan jika para bunda mengetahui bahwa masa-masa tersebut menyimpan pundi-pundi pahala yang berlimpah.

Seorang bunda hamil pasti dituntut untuk selalu melakukan olahraga atau senam hamil agar janin dan ibunya terjaga kesehatannya. Upaya untuk menjaga kesehatan janin tak luput dari sarana mendapatkan pundi pahala karena saat itu bunda telah menunaikan salah satu hak janin, yaitu hak hidup. Gerakan olahraga yang kerap dianjurkan oleh orang tua, bahkan dokter/bidan adalah perbanyak sujud. Riset membuktikan bahwa sujud sangat bermanfaat bagi bunda hamil, terutama dalam mengatur posisi janin.

Rasulullah bersabda: “Seorang hamba berada dalam keadaan yang paling dekat dengan Tuhannya adalah di saat sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa di dalamnya,” [HR. Muslim] Dalam buku ini juga dipaparkan bagaimana mengatasi keguguran, cara mengurus bayi keguguran, dan pahala syahid pada bunda hamil.

Setelah melahirkan, masa-masa yang penuh anugerah berlanjut dengan menyusui, menyapih, dan mendidik buah hati. Pundi-pundi pahala pun semakin menggunung jika bunda dapat menjalaninya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Banyak ilmu yang bisa diambil. Irfan Supandi tidak hanya menuturkan tentang pahala yang dapat diraih seorang istri, tetapi juga sang suami di kala kekasihnya dalam kondisi hamil dan menyusui.

Judul : Menjaring Pahala Saat Hamil dan Menyusui
Penulis : Irfan Supandi
Penyunting : Farid Ikhsan Asbani
Penerbit : Pro U Media
Terbit : 2009
Tebal : 134 halaman
Harga : Rp. 18.000


lintasberita

Lanjut Baca

Be a Great Wife, Agar Dicintai Suami


Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah Istri Solehah.” (HR Muslim dan Ibnu Majah).

Sebagian besar dari kita pasti tahu perihal hadist yang satu ini, bahkan banyak pula yang mendambakan untuk mendapatkan (bagi laki-laki) dan menjadi (bagi perempuan) wanita solehah. Namun, satu hal yang pasti, untuk meraih ridho Allah bukanlah sesuatu yang mudah, walaupun bukan berarti tidak bisa.

Seringkali ketika dihadapkan dengan buku atau pembahasan tentang wanita solelah, pasti akan disuguhkan cerita tauladan dari kaum wanita di zaman Rasulullah. Siapa yang tidak tahu totalitas seorang Bunda Khadijah ra. dalam mendampingi Rasulullah? Siapa yang tidak kenal kedermawanan dan pengabdian Fatimah Az-Zahra ra.? Sungguh, mereka adalah sebaik-baiknya tauladan.

Namun, apakah mereka dengan sendirinya dapat menjadi wanita solehah dengan begitu mudahnya? Tidak! Mereka pun membutuhkan proses hingga kemudian menjadikan mereka sebagai sosok ahli surga. Masih ingat kan bagaimana Fatimah ra. pernah merasakan kelelahan yang sangat dalam pekerjaan rumah tangganya, hingga kemudian meminta Rasulullah untuk memberinya hamba sahaya? Terlihat kan, bahwa sosok sekaliber Fatimah Az-Zahra pun ternyata pernah ‘mengeluh’, Bagaimana dengan kita?

Kesimpulannya, kita semakin tahu bahwa manusia yang tidak selalu dalam kondisi kuat, bahkan cenderung labil dan ‘mengeluh’. Manusia selalu membutuhkan dorongan dan semangat, dari sinilah peran sekitar menjadi sangatlah, seperti halnya Rasulullah yang kala itu tidak memberikan ‘kenyamanan’ berupa hamba sahaya kepada Fatimah. “Demi Allah, aku tidak akan memberikan pelayan kepada kamu berdua, sementara aku biarkan perut penghuni Shuffah merasakan kelaparan. Aku tidak punya uang untuk nafkah mereka, tetapi aku jual hamba sahaya itu dan uangnya aku gunakan untuk nafkah mereka."

Jika berbicara teori tentang wanita solehah, maka dengan mudah kepala akan mencerna. Namun, ketika terjun di realita kehidupan, teori dapat dengan mudah bertekuk lutut ketika pemahaman dan pendampingan tidak didapatkan oleh sang wanita. Seperti yang disampaikan dalam buku ini, “Teori tentang keimanan kadang lebih mudah dicerna daripada keimanan yang sebenarnya. Indikasi ketaqwaan juga lebih bisa dijelaskan secara teoritis daripada ketaqwaan yang sebenarnya. Inilah yang sering menimpa pada kebanyakan orang” [h. 105]

Dari sana kurang lebih dapat ditangkap, bahwa peraihan seorang wanita menjadi solehah harus juga mendapatkan dorongan, ingatan, dan bimbingan dari orang lain, terutama orang terdekat seperti suami. Suami tidak pantas menuntut istrinya menjadi wanita solehah, jika dia sendiri tak mampu atau malah tidak ‘mengajak’ dirinya menjadi soleh.

Seperti halnya ketika seorang pria bercita-cita mendapatkan pasangan hidup yang solehah. Tidak salah sih, tapi alangkah lebih indah jika sang pria tersebut meniatkan diri menikah dengan wanita untuk membantunya menjadi solehah? Atau bahkan menggandengnya untuk sama-sama berusaha menjadi hamba yang soleh dan solehah? Sungguh, hal tersebut akan membuat kehidupan rumah tangga menjadi lebih indah, karena adanya kesamaan niat belajar dan tidak adanya tuntutan yang sepihak.

Inilah yang melatar belakangi terbitnya paket buku ‘Be a Great Couple’, yang berisikan dua buku berjudul, ‘Be a Great Husband’ dan ‘Be a Great Wife’. Pasangan buku yang ‘mengajak’ suami-istri untuk belajar bersama, mencerna ilmu, dan kemudian mengamalkannya bersama. Karena saya seorang perempuan, ‘Be a Great Wife’ tentu menjadi pilihan pertama untuk ditekuni—walaupun nanti insyaALLAH juga berkeinginan membaca ‘Be a Great Husband’.

Jika dilihat dari ketebalannya, buku ini termasuk tipis –berdasarkan standarisasi saya—tapi ternyata untuk menyelesaikannya membutuhkan waktu yang cukup lama. Sepanjang membaca saya membutuhkan jeda beberapa kali untuk meresapi apa yang disampaikan penulis. Mencoba membandingkan antara realitas dengan keidealisan dalam buku ini.

Lumayan berat juga, seperti ketika istri diharapkan senantiasa berdandan dan terlihat cantik di hadapan suami, ternyata ketika berhadapkan dengan realita dan segala kepadatan pekerjaan ternyata masalah dandan/ selalu terlihat cantik—yang kelihatannya sepele---terasa berat. Akhirnya, saya pun melakukan sedikit toleransi dengan hal tersebut, yaitu menggantikan/ mem-‘pending’ dandan dengan berusaha tetap tersenyum ketika berhadapan dengan suami.

Hal-hal seperti itu membuat saya terpancing untuk menikmati pergulatan daya nalar dengan teori ‘menjadi wanita solehah’ dalam buku ini, sekaligus membuatnya menjadi sesuatu yang menarik. Walaupun tetap dengan batas-batas tertentu dan tidak meringan-ringankan hal yang sudah menjadi ketetapan, seperti pemakaian jilbab.

Terlepas dari kemenarikan dan kenikmatan saya berpikir, buku ini tidak lepas dari kekurangan. Walaupun penulis telah membagi pembahasannya menjadi 20 subbab—atau istilah dalam buku ini 20 karakter, ternyata tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada isi masing-masing subbab. Hal ini terkadang menciptakan kebosanan.

Selain membahas karakter wanita solehah, dalam buku ini juga terdapat bab yang menyindir sedikit tentang bagaimana seorang pria dalam rumah tangga. Ditambah lagi, bab yang berisikan tanya-jawab para istri yang ‘mengeluh’ tentang kondisi suaminya. Dengan demikian, pembahasan tidak hanya ‘menuntut’ istri menjadi solehah, tetapi juga memperhatikan kesolehan suami.

Kehidupan adalah tidur, kematian adalah bangun tidur, sementara manusia berada di antaranya bagaikan khayalan” [h. 136]

Judul : Be a Great Wife, Agar Dicintai Suami
Penulis : ‘Isham bin Muhammad asy-Syarif
Penerbit : Embun Publishing
Terbit : Juni 2007
Tebal : 184 halaman
Harga: Rp. 40.000 [disc. 20%]

NB: Tengkyu untuk Mbak Wulan yang sudah menghadiahkannya pada momen pernikahan kami. Loph You! ^^


lintasberita

Lanjut Baca

Rich Mom Poor Mom

Membaca judul buku ini pasti akan membuat kita teringat buku dari Robert Kiyosaki, Rich Dad Poor Dad. Pada buku yang ditulis oleh pria yang pernah masuk korps militer sebagai pilot pesawat tempur ini, akan mengajak kita untuk memiliki passive income berupa investasi dengan menggenggam prinsip, "kita ini bekerja bukan untuk uang, namun uanglah yang berkerja untuk kita". Dengan demikian, kita akan meraih kekayaan tanpa harus peras-otot-banting-otak. Seperti halnya R. Kiyosaki yang memiliki teknik passive income andalan, Syasya Azisya juga mempunyai 'passive income' sendiri untuk mendapatkan sebuah kekayaan.

"...pengertian passive income di sini berbeda dengan pengertian passive income dari Robert Kiyosaki. Kalau passive income menurutnya adalah sebuah usaha atau investasi yang mampu menghasilkan tanpa kita bekerja, maka "passive income" yang saya maksud adalah berupa amalan yang mampu menghasilkan pahala meski kita sudah tiada." [kata pengantar]

Terlihat dari cuplikan kata pengantar yang diuraikan penulis, 'passive income' lebih ditujukan untuk meraih kekayaan dunia-akhirat. Ya, berbeda dengan Kiyosaki yang “mendewakan” uang, Syasya Azisya lebih mengajak para Bunda untuk memahami kekayaan yang tidak sekadar masalah duit. 

Perspektif setiap orang tentang Ibu Kaya Ibu Miskin berbeda, begitu juga dengan anak-anak, seperti yang dituturkan Fadli, remaja berusia 16 tahun, "Bagi saya ibu kaya adalah yang memiliki kesabaran, tidak galak dan nggak pernah memaki anaknya sendiri serta mampu menjadi teman atau sahabat bagi anak-anaknya. Sedangkan ibu miskin adalah seorang ibu yang tidak sabar, galak, dan kasar pada anaknya sendiri." Kasus ibu yang kasar kepada anaknya sangat mudah dijumpai. Tidak jarang terlihat ibu yang suka memutus keingin-tahuan anaknya, dengan cara memarahi saat si anak berkali-kali menanyakan sesuatu. Atau kasus tentang ibu yang kerap menyumpah-serapahi anaknya setiap kali marah, padahal semua pasti tahu bagaimana bertuahnya ucapan seorang ibu. Ngeri? Sangat! Seperti melihat masa depan yang suram, setiap muncul kejadian seperti itu. Disini tidak hanya anak yang diminta untuk patuh, tetapi ibu juga dituntut memiliki pengendalian emosi yang bijak. 

Al Ummu madrasatul 'ula”, sebaik-baik madrasah adalah ibu. Melihat peran penting seorang ibu di dalam keluarga, maka sangat dibutuhkan sosok teladan yang memiliki kekayaan sejati. Tidak sekadar uang, tetapi juga hati. Seperti yang dikutip buku ini, yang kemudian diuraikan oleh penulis, menurut Dr. John F. Demartini [h.62] setiap manusia memiliki tujuh anugerah rahasia untuk mewujudkan kebahagiaan. Salah satu poinnya yang dirasa sangat penting untuk dioptimalkan oleh para ibu, yaitu anugerah mental. Melihat perjuangan seorang ibu yang pastinya begitu berat, akan sangat membutuhkan mental yang tahan banting dengan berbagai kondisi yang bisa terjadi di lingkungan diri maupun keluarga. Salah satu hal yang membutuhkan mental kuat, adalah sifat pantang menyerah seorang ibu untuk terus belajar kreatif dalam membimbing putranya menggali potensi.

"Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim).

Tak dipungkiri bahwa anak adalah salah satu 'passive income' orang tua [ibu] untuk bekal di akhirat. Maka dari hadist inilah, seharusnya memicu para ibu untuk berlomba-lomba menuntun putra-putrinya dengan ikhlas mencapai akhlak yang mulia, bukan sekadar menyeret-nyeret putra-putrinya untuk menjadi sosok idola atau artis, sehingga kelak akan mengalirlah doa yang tak pernah putus dari anak soleh/ solehah, saat kita berada di alam kubur. Amin Ya Robbal'alamin.

Dalam menekuni sosok ibu kaya dan ibu miskin, penulis yang memiliki nama asli Syafaatus Syarifah juga memberikan kisah-kisah hidup para ibu dengan suka-duka, keseharian, bahkan kesuksesannya. Selain itu juga dituturkan tentang realita-realita seorang ibu ketika berhadapan dengan anaknya, seperti ketika menghadapi pertanyaan anak-anak yang sering di luar batas nalar orang dewasa. Hanya saja, dari sekian banyak 'studi lapangan', penulis lebih banyak mengambil contoh interaksi ibu dan anak kecil, padahal kasus-kasus antara ibu dan anak yang telah menginjak masa remaja, sangat perlu juga dikemukakan, karena masa-masa tersebut sangat rawan terjadi konflik yang lebih kompleks. Juga yang dirasa perlu untuk ditambahkan adalah kisah-kisah kehidupan seorang ibu yang diambil dari sudut pandang anak-anak, sehingga para ibu bisa mengetahui bagaimana sebenarnya sosok ibu yang didambakan oleh mereka.

Walaupun seorang ibu dituntut untuk kaya hati, tetapi bukan tidak boleh jika seorang ibu memiliki kekayaan finansial dari pendapatan sendiri. Masih ingat dengan rumus kaya dari Ustadz Yusuf Mansyur, dimana 10-1 = 19, 10-5= 55, 10-10=100, .... rumus ini didapat dari keyakinannya terhadap surat al-An’am 160 yang berbunyi, "Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”. Memberi lebih baik dari meminta, pepatah yang satu ini juga sangat tepat, karena dengan memberi sebenarnya kita semakin kaya lahir-batin, dengan memberi kita memiliki 'passive income' yang nantinya akan menjadi kekayaan, baik di dunia atau di akhirat. Selain, rumus Ustadz Yusuf Mansyur, penulis juga mengadaptasi sekaligus memaparkan konsep GIGIH+H yang diterapkan Aa' Gym dalam bukunya yang berjudul 'Saya Tidak Ingin Kaya Tapi Harus Kaya', dimana seorang ibu insyaALLAH bisa menjadi kaya harta jika memiliki kaya ghirah [semangat], ilmu, gagasan, ibadah dan hati. 

Seperti yang dipaparkan dalam bab Faktor Penyebab Gagalnya Menjadi Rich Mom, bahwa menjadi ibu juga tidak luput dari kesalahan dan kegagalan. Oleh karena itu, penulis yang baru-baru ini menelorkan buku berjudul ‘The Power of Reading’ ini, menyampaikan poin-poin yang juga perlu diantisipasi. Dengan demikian, sosok ibu kaya memang tidaklah mudah, tetapi juga bukan berarti hal itu mustahil untuk meraih.

Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud. Penuh cinta dan kedamaian ~ Khalil Gibran

Judul : Rich Mom Poor Mom
Penulis : Syasya Azisya
Penyunting : Wijdan Al-Jufry
Penerbit : Etera
Tahun : Januari 2010
Genre : Motivasi
Tebal : 308 halaman
Harga : Rp. 52.000,-
ISBN : 978-979-19622-4-7

NB: Menulis review ini sedikit keder, karena ngerasa blom jadi ibu udah koar-koar tentang ibu yang baik... fyuh, maap klao saya terkesan sok tau. Semoga bisa diambil manfaatnya. Salam salut untuk para ibu ^^



lintasberita

Lanjut Baca

Jilbab Traveler


Setiap kali membaca pengalaman seseorang pergi ke luar negeri pasti muncul rasa ingin mengikuti jejaknya. Bagaimana tidak, jika para pencerita memaparkan keunikan negara singgahannya, atau tentang gedung, taman, dan tempat-tempat yang menyimpan sejarah dengan keindahannya yang memesona mata, atau keramahan dan kekhasan logat bahasa para penduduknya yang terkadang membuat telinga sulit mencerna kalimat. Sayangnya, sampai saat ini kaki saya belum juga terseret ke negeri-negeri asing --“

Salah satu buku yang ikut menyemarakkan ‘panen’ traveling books adalah Jilbab Traveler yang diprakarsai oleh Asma Nadia. Sejauh ini banyak buku traveling yang lumayan yang beredar, dari yang berbentuk tulisan diary sampai yang ditulis dengan formal, dari yang isinya hanya bercerita tentang jalan-jalan sampai yang memuat tips mengurus surat dan segala keperluan di luar negeri. Sangat beragam. Sedangkan yang menarik dari buku berjudul Jilbab Traveler ini adalah mengangkat pengalaman jalan-jalan para muslimah [baca: jilbaber].

Asma Nadia yang sering memprakarsai terbitnya antologi, bahkan bisa dibilang ‘generasi pertama’nya, cukup mumpuni dalam menjejerkan kisah-kisah dari beragam penulis yang menarik untuk dibaca. Lihat saja, bagaimana seri La Tahzannya cukup diminati oleh pasar, padahal beberapa diantaranya merupakan cetak ulang dari buku antologi yang sudah beredar.

Kali ini Jilbab Traveler, yang juga merupakan buku antologi, berhasil dikemas menarik dengan pilihan font dan ilustrasi-ilustrasi lucu yang tidak jauh berbeda dengan buku antologi sebelumnya. Isinya sendiri pastinya berkisar tentang pengalaman penulis-penulisnya saat berada di luar negeri. Karena judulnya membuat kata Jilbab, sudah pasti para penulisnya adalah para muslimah berjilbab.

Seperti yang diketahui, masalah diskriminasi beberapa negara terhadap Islam masih sering menghantui kepala saat ingin melangkahkan kaki ke negeri asing. Terutama jika ingin singgah ke negara-negara yang menganut liberalisme atau sekularisme. Jilbab sendiri adalah ‘simbol’ keislaman yang sulit untuk ditutupi. Letaknya yang berada di posisi mahkota sangat mungkin tertangkap mata oleh siapapun yang berada di sekitarnya.

Ternyata segala ketakutan tersebut tertepis dengan berbagai kisah perjalanan yang tersaji dalam buku setebal 326 halaman ini. Terdapat 17 cerita pengalaman dari 10 jilbaber saat mereka hijrah ke luar negeri. Tidak hanya bercerita pengalaman di negeri berideologi Islam, tetapi negara Eropa dan Amerika tak luput menjadi sasaran ‘tembak’ beberapa penulis. Kisahnya sangat beragam, tapi ada dua hal utama yang selalu dibahas dalam setiap cerita, yaitu masalah sholat dan makanan halal. Yah wajarlah, karena dua hal itulah yang kerap menjadi kegundahan para muslim-muslimah terutama ketika berada di negeri yang Islamnya masih minoritas.

Banyak sekali manfaat, kesenangan, keseruan, dan tak lupa kelucuan yang dipapar dengan gaya yang berbeda-beda dalam kisah-kisah dalam Jilbab Traveler. Seperti keseruan pengalaman menaiki taxi legal di Karibia yang berujung dengan perkelahian antar sopir taxi; atau kesialan mendapat kamar hotel di Belanda yang lebih tepat disebut kandang ayam. Ada juga informasi pasar di Iran yang penjualnya ramah, dan yang penjualnya ketus. Tak luput bumbu misteri yang terkisah dari pengalaman Asma Nadia ketika bertandang ke Tembok China. Selain bisa melihat dan menikmati udara luar negeri, keuntungan traveling adalah didapatkannya teman dan sahabat baru.

Dari sekian banyak negara yang diceritakan, setiap kisah diakhiri dengan ‘Secuil Kamus Survive’ yang berisikan kalimat/ kata yang umum digunakan dari negara tersebut. Terselip juga tips mempersiapkan traveling hingga tips ketika berada di lokasi. Hanya saja, foto yang ditampilkan dirasa sangat kurang mengingat banyak sekali tempat-tempat menarik yang disampaikan dalam buku ini.

Judul : Jilbab Traveler
Penulis : Asma Nadia, dkk
Editor: Khairudin Endy, TheNita
Layout: Novi Khansa
Penerbit : Asma Nadia Publishing House
Terbit: Cetakan Pertama, Februari 2009
Tebal : 326 halaman

lintasberita

Lanjut Baca

Cinta Dalam Sujudku


Hidayah memang berada di luar kendali manusia. Jika Allah berkehendak, maka siapapun pasti akan tercerahkan. Jika sebaliknya, maka apapun upaya yang dilakukan tidak akan membuahkan hasil. Namun bukan berarti seorang hamba hanya bisa duduk diam menunggu hidayah, karena Allah akan mengubah suatu kaum, jika mereka mau berusaha.

Ibarat sinar matahari, hidayah Allah swt selalu menyinari alam semesta ini, tinggal bagaimana kita saja. Terbukanya hati dan kejernihannya akan sangat memudahkan seorang hamba untuk menerima cahaya, sedangkan jika hati cenderung tertutup dan dikotori oleh penyakit hati, maka hidayah pun tidak akan pernah singgah.

Buku berjudul Cinta Dalam Sujudku, yang merupakan penyatuan dari trilogi Kalbu-Nurani-Cahaya yang diterbitkan oleh DAR! Mizan ini, membuktikan bahwa hidayah adalah cahaya yang memberikan rahmat dalam kehidupan penerimanya. Hampir sebagian besar tokoh dalam buku ini mendapatkan cahaya-Nya yang indah tersebut. Saking banyaknya yang mendapat hidayah, fokus cerita dalam buku ini menjadi tidak jelas.

Awalnya saat membaca sinopsis dan melihat desain sampul, saya menyangka cerita akan berisi tentang perjuangan dan upaya para tokoh yang bejibun ini dalam menegakkan kembali panti asuhan Az-Zahra. Sayangnya, hampir separuh buku malah berisikan “profil” tokoh, dimana bagian tersebut menceritakan perjalanan, latar belakang, dan lika-liku kehidupan tokoh-tokoh yang berhidayah ini. Sehingga kemudian sempat membuat cerita tentang Az-Zahra dan Syifa, sang pewaris panti, seperti hilang dan terlupakan. Baru kemudian ketika jelang akhir buku, muncullah kembali sosok Syifa bersama anak-anak panti asuhan.

Panjangnya cerita tentang “profil” tokoh ini menurut saya membuat cerita memiliki cabang terlalu banyak, hingga membuat batangnya sendiri tidak tampak. Selain itu, kesan bertele-tele tertangkap dalam kisah Maria dan Fathur. Bermunculannya tokoh yang memiliki cerita cinta masing-masing yang menurut saya tidak terlalu perlu, seperti cerita Hikmal dan Zakiah atau kisah Henry Zamora dan Dahlia.

Fokus cerita, inilah masalah yang menurut saya membuat novel, yang diterbitkan ulang oleh Luxima ini, tidak terlalu nyaman untuk dibaca. Selain itu, alur cerita dan waktu seringkali melompat tiba-tiba. Sempat beberapa kali saya dibuat bingung, dengan tempat atau kondisi tokoh yang tiba-tiba sudah jauh berbeda.

Saya sendiri jadi berkesimpulan bahwa buku ini sebenarnya bisa lebih menarik jika dipecah-pecah menjadi beberapa novel.

Judul : Cinta Dalam Sujudku
Penulis : Pipiet Senja
Penerbit : Luxima
Tebal : 386 hlm


lintasberita

Lanjut Baca

Burung-Burung Kecil


Membaca buku ini mengingatkan pada sinopsis Rumah Seribu Malaikat yang ditulis oleh Yuli Badawi dan Hermawan Aksan. Walaupun saya sendiri belum membaca buku tersebut, tetapi keduanya memiliki kemiripan, yaitu memiliki ketulusan hati untuk menampung anak-anak yang kehilangan kasih sayang.

Hanya saja, buku ini lebih bersifat fiksi, di mana terdapat tokoh yang dipanggil Ibu, yang bersedia memberikan tempat dan kasih sayangnya untuk anak-anak jalanan atau anak yang dititipkan oleh orang tuanya yang tidak mampu. Ibu yang memiliki lima rumah penampungan berusaha memenuhi segala kebutuhan ‘anak-anak’nya dengan segala keterbatasan dan bantuan donatur. Salah satu ‘anak’ yang teramat disayanginya adalah Eges.

Eges adalah bocah yang bercita-cita menjadi orang kaya yang bisa membuat ‘hujan’ duit. Sosoknya menjadi gambaran kehidupan jalanan dengan karakternya yang terkesan jumawa tapi tetap membutuhkan kasih sayang Ibu. Berbeda dengan bocah yang lain, Eges lebih cenderung memilih untuk tidak menetap di rumah singgah, hanya sekadar mampir ketika merindukan Ibu dan mengisi celengan.

Buku yang ditulis Kembangmanggis, nama pena dari Baby Ahnan ini, banyak berkisah tentang kehidupan jalanan dan rumah penampungan ini juga menunjukkan bagaimana Ibu ketika harus berhadapan dengan kenakalan anak-anak. Seperti ketika Ibu mengadakan sayembara menjaga jambu air tetangga untuk mensiasati kebiasaan mereka mengambil buah tersebut, atau ketika Ibu menunjukkan ketegasannya dalam menghadapi Udin yang kerap bermasalah.

Kisah Burung-burung Kecil merupakan naskah pemenang Sayembara Mengarang Novelet majalah FEMINA, tahun 1990, yang kala itu diketuai oleh Prof. Dr. Umar Kayam dan dikoordinir oleh Soekamto S.A. Sebagai pemenang, kisah dalam buku ini memang menawarkan sesuatu yang spesial di balik kesederhanaan alur cerita. Walaupun ceritanya anak jalanannya tidak segahar Daun di Atas Bantal, saya rasa cerita dalam buku ini sangat layak untuk dijadikan film yang sekiranya akan sangat menarik dan menggugah.

Judul : Burung-Burung Kecil
Penulis : Kembangmanggis
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Terbit : Juni 2002
Tebal : 120 halaman
Harga : Rp. 7.000 [Event Gramed]


lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar