Buku 9 dari Nadira - ulasan

WOW.

Tadinya, dari pemilihan judul buku ini, aku udah merasa underestimate. Ini tentang apa? Kok judulnya nggantung dan semacam ngga enak didengar (buatku). But, i was wrong. Buku Khatulistiwa Literary Award ini memng patut untuk menyita perhatian banyak orang.

Ini adalah karya Leila S. Chudori pertamaku. di sampulnya dikatakan bahwa ini adalah buku kumpulan cerpen. But, are they?. No, BIG NO. Buatku ini adalah puzzle yang berserakan dan memang sengaja diatur seperti itu agar pembaca sendiri yang teliti menyusun satu persatu. Puzzle-puzzle itulah yang memikat, yang membuat ketagihan, yang ngga akan dihentikan sebelum ketemu kepingan terakhirnya. Tapi apa yang aku temukan? Ternyata Leila tidak menyediakan kepingan terakhirnya untuk pembaca.

Ia menyimpannya untuk dirinya sendiri, karena ia akan sangat puas melihat pembaca kehausan dengan potongan terakhir. Candu itu belum selesai, pembaca hanya akan menerka-nerka seumur hidupnya, seperti apa potongan terkhir itu.

Itu semua kesan yang aku dapetin selama mengikuti kisah Nadira, dari ia lahir sampai-entahlah. Nadira sendiri merupakan bahasa Persi yang artinya rare, precious. Sembilan cerita di dalam buku ini akan membawa pembaca kepada kondisi yang campur aduk, sedih, senang, mual, kalut, rumit, dan kecewa. Kita akan disodori permasalahan dan karakter masing-masing keluarga Nadira yang campur baur dan tak keruan. Semuanya hanya berujung pada satu; Nadira dan misteri kematian Ibunya.

Satu hal yang menjadi daya tarik lain dari buku ini adalah kayanya referensi buku-buku dan karya sastra, baik dalam negeri maupun luar negeri. Tokoh Nadira yang kutu buku psti mengingatkan pada para goodreaders sendiri, dan pengalaman berburu buku di luar negeri dengan beberapa karya langka mungkin akan membuat goodreaders iri. Hehehhe.

Bintang 4 saja, sebagai ganti atas kepingan puzzle terakhir yang tidak didapatkan. Impas kan? ^^

Judul: 9 dari Nadira
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 270 halaman
ISBN: 9789799102096

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Jane Eyre - ulasan

Jane Eyre
Charlotte Brontë
Lulu Wijaya (Terj.)
GPU – Oktober 2010
668 Hal.

Jane Eyre, adalah seorang gadis yatim piatu. Ia dititipkan pada paman dan bibinya. Sejak awal, Mrs. Reed tidak menyukainya. Tapi ia terpaksa merawat Jane Eyre karena janjinya pada almarhum suaminya. Hidup di tengah-tengah orang yang tidak menyukainya, sungguh membuat Jane menderita. Ia dikucilkan, dianggap nakal dan tidak sopan, padahal ia jauh lebih baik daripada ketiga sepupunya, anak-anak Mrs. Reed.

Akhirnya, ada kesempatan untuk Jane keluar dari rumah itu. Ia dikirim ke sebuah sekolah asrama di Lowood. Di sana, meskipun semuanya serba ketat, Jane merasa lebih beruntung karena keluar dari rumah Mrs. Reed

Sampai usia 18 tahun, Jane tinggal di sana. Hingga pada suatu titik, ia merasa ia harus melihat dunia luar. Ia pun menulis surat lamaran pekerjaan untuk menjadi guru pribadi di rumah orang-orang kaya. Surat itu mendapat sambutan baik dari seorang wanita bernama Mrs. Fairfax yang ternyata adalah kepala rumah tangga di rumah Mr. Rochester, bangsawan Inggris yang mempunyai anak asuh bernama Adelle.

Di sinilah cerita Jane Eyre lebih berkembang lagi. Ia berkenalan dengan Mr. Rochester, bahkan diam-diam jatuh cinta pada tuannya yang kadang angkuh, dingin dan misterius. Ternyata, Mr. Rochester pun menyukai Jane yang kadang dianggapnya terlalu berani. Mereka nyaris menikah, tapi sebuah kenyataan, yang selama ini dirahasiakan Mr. Rochester membuat pernikahan itu batal.

Jane pun pergi jauh, berusaha menghindar dari kehidupan Mr. Rochester. Kejutan-kejutan, kecil atau pun besar, menanti Jane di kemudian hari. Membuat hidup Jane jadi lebih baik dari sekedar seorang gadis yatim piatu miskin.

Awal melihat buku ini, gue agak sangsi, apa gue gak keburu bosen baca buku yang tebel banget ini. Tapi, karena gue pengen banget baca cerita Jane Eyre ini sejak lama, gue ‘teguhkan’ niat gue. Punya sih yang bahasa Inggris, tapi karena ‘kriting’ banget, gue gak sanggup nyelesainnya.

Tapi ternyata.... Ahhhh… betapa melelahkan membaca buku ini. Emang dasar gue gak terlalu suka sama cerita klasik, malah sok-sokan baca buku ini. Banyak kata-kata yang terlalu ‘berbunga-bunga’, membuat gue jadi gak sabar. Banyak yang gue lompat, hanya biar gue bisa lebih cepet sampai di bab berikutnya.Seandainya kalimat-kalimat dalam buku ini lebih simple, gue pasti lebih bisa suka sama cerita di buku ini.

Jane Eyre mirip sama Anne of Green Gables. Tapi menurut gue, gaya Anne lebih ceria, meskipun mereka berdua sama-sama ‘pemimpi. Mungkin karena lingkungan pergaulan yang beda, jadi gaya mereka berbeda. Kalau Anne, tinggal di pedesaan yang gak terlalu ‘kaku’. Sementara Jane Eyre dikelilingi oleh para bangsawan yang semua serba ada aturan dan kaku.

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Mother Teresa: Come Be My Light - ulasan

Judul : Mother Teresa : Come Be My Light – The Private Writings of the “Saint of Calcutta”Editor : Brian Kolodiejchuk, M.CPenerbit : Doubleday, NYTahun : 2007Tebal : 400 hal "Where is my faith? – even deep down, right in, there is nothing but emptiness & darkness. – My God – how painful is this unknown pain. It pains without ceasing – I have no faith – I dare not utter the words & thoughts that
lintasberita

Lanjut Baca

Buku Superfreakonomics Pendinginan Global, Pelacur Patriotik dan Mengapa Pengebom Bunuh Diri Harus Beli Asuransi Jiwa - ulasan

Superfreakonomics Pendinginan Global, Pelacur Patriotik dan Mengapa Pengebom Bunuh Diri Harus Beli Asuransi JiwaSuperfreakonomics Pendinginan Global, Pelacur Patriotik dan Mengapa Pengebom Bunuh Diri Harus Beli Asuransi Jiwa by Steven D. Levitt

Paperback, 308 pages
Published April 2010 by Gramedia Pustaka Utama (first published 2009)
ISBN139789792254860

My rating: 4 of 5 stars

Terbayang dulu pelajaran ekonomi adalah pelajaran IPS. Pelajaran ini termasuk pelajaran yang kurang sukses dibawakan oleh guru-guru saya, sehingga saya tidak dapat menyukainya dengan sepenuh hati. Teringat juga pada joke seorang teman yang menceritakan neneknya yang bertanya padanya.
Nenek: "kamu jurusan apa tho kuliahnya?"
Cucu: "Jurusan ekonomi nek"
Nenek: "Lha kok ekonomi toh? ndak eksekutif aja, kamu nanti capek nggak duduk."
Cucu:???




Saya memperoleh buku ini tidak sengaja di toko buku Rumah Buku, di Bandung. Tadinya mau sekalian beli dengan buku 1 nya, tapi karena saya belum baca reviewnya dari teman-teman GRI, saya putuskan untuk membeli buku 2 nya saja. Hasilnya? Wow..Steven D. Levit dan Stephen J. Dubner berhasil memukau dengan cara penulisan ringan namun asyik. Kira-kira semacam tulisan populer ekonomi.

Mengapa dikatakan Freakonomics? istilah itu sebenarnya mengaplikasikan apa yang dikatakan oleh ekonom Gary Becker, ekonom dari University of Chicago. Dalam penyampaian pidato penganugerahan penghargaan Nobel ekonomi pada dirinya di tahun 1992, Ia menyatakan bahwa pendekatan ekonomi tidak mengandaikan bahwa manusia hanya termotivasi oleh kepentingan atau keuntungan bagi diri sendiri. Pendekatan ekonomi menggunakan metode analisis. Ia menambahkn bahwa suatu perilaku digerakkan oleh seperangkat nilai dan preferensi yang jauh lebih baik. karena itu dengan pendekatan ekonomi menjadi salah satu cara untuk menelaah dunia dengan cara yang agak berbeda. Pendekatan ekonomi menganalisis bagaimana orang membuat keputusan-keputusan dan bagaimana orang berubah pikiran; bagaimana mereka memilih seseorang untuk dicintai dan dinikahi. Keputusan-keputusan tersebut disimpulkan dengan cara melakukan analisa atas data yang telah dikumpulkan sebanyak-banyaknya.

Seperti buku sebelumnya, Steven Levitt dan Stephen Dubner membagi buku ini dalam 5 bab. Bab tersebut terdiri lagi dari beberapa bagian yang disusun secara sistematis, sehingga seandainya kita membacanya tidak berurutan, tidak perlu khawatir kita akan kehilangan jalan cerita mengasyikkan. Kelima bab tersebut adalah sebagai berikut.

Bab I : Mengapa Pelacur Jalanan seperti Sinterklas di Pusat Perbelanjaan?
Bab II : Mengapa Pelaku Bom Bunuh Diri Seharusnya Ikut Asuransi Jiwa?
Bab III : Kisah-kisah sulit Dipercaya tentang Ketakacuhan dan Kepedulian Kepada Sesama
Bab IV : Solusi Sudah Ada -Murah dan Sederhana
Bab V : Apa Kesamaan antara Al Gore dan Gunung Pinatubo?

Kembali penulis buku ini menegaskan bahwa mereka sedang memperlihatkan perilaku manusia yang berkaitan baik langsung maupun tidak langsung terhadap kegiatan ekonomi. Pembaca disodorkan suatu pernyataan jika Anda memahami mengapa seorang guru atau seorang pegulat sumo melakukan kecurangan, Anda dapat memahami bagaimana hiruk pikuk yang diawali dengan kredit pemilikan rumah yang macet akhirnya berlalu. Sebelumnya penulis buku ini menuliskan bahwa kebanyakan kita ingin membetulkan atau mengubah dunia dengan cara tertentu. Akan tetapi untuk mengubah dunia, Anda harus memahaminya terlebih dahulu. (Hlm 19).

Bab I, Mengapa Pelacur Jalanan seperti Sinterklas di Pusat Perbelanjaan? Bab ini menuliskan tentang Perempuan, Sejarah usia dan harapan hidup perempuan, kemajuan perempuan di pendidikan tinggi, prostitusi sebelum perang dunia kedua, perempuan yang memilih profesi di prostitusi. Yang menarik pada bab ini ialah Levit menuliskan tentang pertemanan dengan Allie (bukan nama sebenarnya), seorang wanita panggilan kelas atas di Chicago. Dilema, satu sisi profesi ini rentan akan pelanggaran asusila, namun secara ekonomi, bayaran akan profesi ini sangat menggiurkan. Allie menceritakan bagaimana seluk beluk dunia yang digelutinya, termasuk bagaimana strategi Allie untuk mengakhiri profesinya. Allie bahkan diundang sebagai pembicara dalam kelas kuliah Levitt "The Economics of Crime".

Bab II, Mengapa Pelaku Bom Bunuh Diri Seharusnya Ikut Asuransi Jiwa?. Bab ini menuliskan tentang puasa bagi perempuan yang mengandung, tanggal lahir yang bertumpuk dan pengaruh usia relatif, mengapa terorisme begitu murah dan mudah, kedokteran gawat darurat sebagai spesialisasi, cognitive drift, siapa dokter terbaik dan terburuk di gawat darurat, berbagai cara menunda kematian, kebenaran seputar kemoterapi, hidup lebih lama untuk mati karena kanker. Yang menarik pada bab ini ialah tulisan tentang bagaimana cara menangkap teroris dengan menggunakan banking data. Steve Levitt menuliskan bagian ini melalui wawancara dengan Ian Hosley (nama samaran) dan makalahnya: Identifying Terrorists Using Banking Data. Sekilas dipaparkan bagaimana menganalisis data transaksi di bank yang membentuk suatu pola yang dianggap mencurigakan membiayai aksi terorisme.

Bab III, Kisah-kisah sulit Dipercaya tentang Ketakacuhan dan Kepedulian Kepada Sesama menuliskan tentang kisah Kitty Genovese dan "38 saksi". Kisah ini adalah kasus pembunuhan seorang wanita bernama Kitty Genovese oleh seorang pria di New York City pada tahun 1964. Kasus tersebut cukup menyita perhatian karena menurut New York Times, "pembunuhan itu disaksikan oleh 38 saksi mata". Stephen Levitt mencoba menguraikan kasus ini dengan memetakan artikel, termasuk mencoba menelaah apa yang menjadi penyebab timbulnya kekerasan pada warga Amerika. Pada kasus di atas, yang disebut dengan "ekonom pemberontak" seperti Gary Becker mencoba menyertakan sentimen-sentimen yang terkait dengan tindakan perilaku altruisme. Altruisme adalah prinsip atau praktek tidak mementingkan diri sendiri untuk/atau pengabdian kepada kesejahteraan orang lain (lawan dari egoisme). Pada kasus di atas, dianggap 38 orang saksi mata tersebut tidak mempraktekkan perilaku altruisme. Ekonom seperti Gary Becker mengkaji kasus tersebut dengan analisis bagaimana hubungan seseorang yang mementingkan dirinya sendiri terhadap kondisi-kondisi tertentu.

Bab IV, Solusi Sudah Ada -Murah dan Sederhana, pada pembuka bab ini disajikan data-data angka kematian ibu melahirkan di Eropa yang disusun secara cermat oleh Ignatz Semmelweis, dokter muda kelahiran Hungaria, ketika ia bertugas di Rumah Sakit Umum di Wina. Berangkat dari keprihatinannya karena tingginya kematian ibu bersalin sehingga ia terobsesi untuk menghentikannya. Dari analisis data yang ia lakukan, ia menemukan beberapa fakta yang menyebabkan banyaknya infeksi yang terjadi di ruang bersalin. Apa fakta yang paling heboh? yakni: dokter maupun mahasiswa kedokteran mencuci tangan sekedarnya saja sehabis dari ruang otopsi ke ruang bersalin. Temuan yang sederhana tampaknya, namun berakibat fatal. Pada bab ini juga dituliskan beberapa kisah lain yang menggunakan solusi-solusi sederhana untuk menjawab masalah-masalah yang kelihatannya sulit ditangani. Seringkali masalah baru muncul karena solusi yang diterapkan tidak berhasil mengidentifikasi penyebab permasalahan dengan akurat.

Bab terakhir, Apa Kesamaan antara Al Gore dan Gunung Pinatubo?Pemanasan global menjadi isu yang hangat di seluruh belahan dunia. Seruan untuk mengurangi pemakaian bahan bakar fosil penyebab gas karbondioksida digaungkan ke seluruh dunia. Tentu saja dunia ketiga keberatan. Bagi mereka, dunia barat dianggap egois. Ketika dunia barat menggunakan bahan bakar fosil secara besar-besaran, negara berkembang masih membangun perekonomiannya. Apa fakta menarik tentang efek rumah kaca? Benarkah gas karbondioksida penyumbang gas rumah kaca? Temuan dari ilmuwan iklim tidak seperti itu. Hasil penelitian Ken Celdeira dari Carnegie Institute for Science menyimpulkan bahwa Hewan memamah biak menghasilkan gas metana yang berpuluh kali lipat menyumbangkan gas rumah kaca dibanding karbondioksida yang dilepaskan oleh kendaraan bermotor. Apa kaitannya dengan Al GOre? Al Gore, penerima Nobel Perdamaian yang juga mantan wakil presiden AS, menjadi penggiat usaha-usaha memerangi perubahan iklim global. Ia mendirikan lembaga The Alliance for Climate Protection pada tahun 2006. Organisasi ini berkomitmen untuk memberi pendidikan pada masyarakat global tentang bagaimana usaha pencegahan krisis iklim global secara komphrehensif. Gunung Pinatubo adalah Gunung di Pulau Luzon, Filipina. Meletus pada tahun 1991. Gunung tersebut memuntahkan abu vulkanik dan melontarkan lebih dari 20 juta ton belerang oksida ke atmosfir. Hampir sama dengan abu vulkanik dari Gunung Merapi, di Jawa, belerang oksida tersebut ternyata mengurangi tingkat radiasi matahari ke bumi. Justru sebaliknya, terjadi "pendinginan global" bukan? Dalam ilmu ekonomi, berbagai aktivitas membuat eksternalitas. Eksternalitas dapat diartikan efek samping dari suatu tindakan. Ada eksternalitas positif dan ada eksternalitas negatif. Misalnya, penjual bunga di tepi jalan memberikan eksternalitas positif, karena "efek samping" dagangan bunganya memberikan pemandangan segar dan membuat mata menjadi rileks. Sementara, membeli es batu memberi eksternalitas negatif, dimana kulkas yang membuat es tersebut berasal dari listrik yang diproses oleh pembangkit listrik bertenaga batu bara yang menyebabkan pencemaran udara. Masalah intinya adalah bagaimana mengubah perilaku untuk mengurangi dampak pemanasan global, adalah dengan cara memberikan insentif atas eksternalitas yang dihasilkan. Seandainya saja para pengguna kendaraan bermotor dikenakan insentif tambahan karena mencemari udara, akan berpengaruh pada perilaku untuk menggunakan bahan bakar secara efisien. Jadi apa persamaan dan perbedaan antara Al Gore dan Pinatubo, sama-sama menurunkan temperatur bumi. Perbedaannya? tentu saja masalah biaya.

Kembali ke buku ini, diperkenalkan cara memandang permasalahan di dunia dengan cara pandang yang berbeda. Terlepas dari berbagai kritikan dari ekonom yang sudah mapan, penyajian ekonomi dalam keperilakuan manusia menjadi suatu hal yang berbeda. Penulis juga menjauhkan berbagai macam rumus ekonomi maupun metode-metode penelitian yang njelimet yang bisa membuat pembaca awam melemparkan buku ini.

Satu hal yang dapat saya simpulkan yaitu, berbagai solusi maupun alternatif pemecahan masalah hendaknya diikuti dengan data yang akurat. Mendasarkan saran atau rekomendasi dengan tidak memedulikan data-data adalah prosedur yang kurang lengkap dalam mengenali permasalahan. Selain itu, saya melihat bahwa penulis buku ini dengan sangat cermat mengumpulkan membaca, menelaah, mendiskusikan bahan-bahan artikel, jurnal ilmiah, kliping, buku, wawancara, untuk "menjawab" pertanyaan-pertanyaan "gila" seperti judul bab di buku ini. Kekuatan buku ini menurut saya terletak pada penyajian fakta dari hasil penelitian yang terkesan rumit dan mengemasnya seperti membuka ensiklopedi. Tidak ada gambar sama sekali. Jumlah Tabel juga tidak lebih dari lima. Saya membayangkan, jika saya yang membaca jurnal-jurnal penelitian tersebut, maka yang saya baca adalah bagian tujuan penulisan serta simpulan. Saya sendiri pusing dengan segala macam rumus dan metode-metode pengolahan data. Dan hebatnya, (saya yakin) database mereka cukup bagus. Dari daftar kepustakaan, untuk menghasilkan satu bab buku ini, paling tidak sepuluh atau lebih sumber bacaan (tentu saja bukan sekelas Wikipedia).


Saya tidak tahu apakah Goodreads juga menjadi tempat laboratorium untuk mengamati para pembaca di seluruh dunia (atau Indonesia) dengan memerhatikan perilaku pembaca yang terdaftar di Goodreads dengan melihat, misalnya?
* Berapa % member Goodreads yang sukanya update status
* Berapa % member Goodreads yang sukanya "nyampah" di review atau profile atau thread
* Mengapa member Goodreads Indonesia aktif sekali memberikan komen?
* Apakah Goodreads Indonesia efektif meningkatkan minat baca di Indonesia?

atau bagi para penerbit
* Berapa persen market share untuk terbitan buku yang bergenre fiksi fantasi?
* Bagaimana selera pembaca Indonesia terhadap karya sastra Jawa?

eh..saya bukan peneliti yaa..

Jadi, empat bintang dari saya. Sorry kali ini reviewnya tidak menampilkan biografi singkat Penulis. *lagi males*

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Sepercik Asa dalam Kepungan Ternoda - ulasan


Judul Buku: The Forest of Hands and Teeth
Penulis: Carrie Ryan
Penerbit: Kubika
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: 392 Halaman 

Timur dan Barat, nampaknya bukan sekedar merujuk pada perbedaan geografis, demografis, kultur, maupun paradigma berpikir, namun juga berpengaruh dan merembet terhadap pembentukan cerita yang selama ini dianggap wilayah supra rasional.

Betapa tidak? Jika di Timur, cerita mengenai makhluk dari dunia supernatural selama ini dijejali dengan hal-hal yang sifatnya immaterial-spiritual, seperti hantu, dedemit maupun spesimen lainnya yang mampu menembus dinding atau masuk ke dalam botol, tidak bisa dilihat dan disentuh oleh indera sembarang manusia.

Sedangkan pemahaman Barat terhadap kosmologi ini sangat kentara terpengaruh empirisme. Hantu dalam konteks masyarakat Barat pada umumnya muncul dalam wujud fisik dan nyata, mampu disentuh dan dibunuh, seperti vampir, manusia serigala dan zombie. Maka tidak mengherankan jika cerita-cerita bergenre ini dijejali sosok-sosok tersebut yang berperang melawan manusia.

Contoh yang paling sederhana adalah zombie. Dipahami sebagai mayat berjalan, yang telah terinfeksi sejenis virus yang diperoleh dari zombie yang sebelumnya pernah menggigitnya. Dalam kasus zombie, orang yang terkena dianggap telah mati, lalu entitas apa yang membuat sosoknya masih bisa “hidup“ dan berjalan? Entahlah. Di Timur, terutama Indonesia, fenomena orang hilang kesadaran dikenal dengan istilah kesurupan, tetapi itupun sifatnya hanya temporer.  


Keberadaan zombie itu pula yang menjadi ide utama buku berjudul The Forest of Hands and Teeth ini, mengisahkan kehidupan di sebuah perkampungan yang terisolir dikelilingi kawanan zombie yang mengancam dan mengincar keselamatan penduduknya. Termasuk seorang gadis bernama Mary.  


Dikisahkan, Mary merupakan sosok perempuan yang beranjak dewasa. Ia bukan hanya “terjebak” dalam sebuah desa yang terisolir dikelilingi pagar yang melindunginya dari “Ternoda”, istilah bagi zombie dalam buku ini. Namun, ia juga terjerat asmara segi tiga yang sangat pelik. Di sisi lain, psikologinya nyaris teracuni pesimisme yang dihembuskan para Biarawati dan aparat desa ihwal keberadaan Laut, sebuah dunia impian yang diyakini ia dan almarhumah ibunya.

Sebagai pemangku kekuasaan tertinggi di Desa, para Biarawati memberlakukan aturan yang sangat ketat, disiplin yang tinggi dan hukuman yang berat bagi siapa pun yang melanggarnya. Namun semuanya diyakini memiliki kemaslahatan bagi seluruh komunitas desa. Otoritasnya sangat mutlak hingga menerabas wilayah-wilayah privat warganya, mulai dari membaca buku hingga menikah. Hal inilah yang mulai menimbulkan masalah bagi Mary.

Betapa tidak? Ketua biarawati bernama Suster Tabitha, menyuruhnya untuk menikah dengan lelaki bernama Harry, padahal Mary telah jatuh cinta dan menjalin asmara dengan Travis yang merupakan adik kandung Harry. Terlebih kakak lelaki satu-satunya Jed mendukung keputusan sang biarawati tersebut, dan celakanya Cash sahabat Mary sejak kecil mencintai Harry, sehingga hal ini menimbulkan api cemburu di dadanya.

Masalah sepertinya tidak bosan mengejar Mary, di tengah kemelut cinta yang melanda, ancaman yang sesungguhnya datang dari kawanan Ternoda yang mulai mampu melakukan penerobosan terhadap pagar dan menara pengawas. Keberadaan Ternoda sendiri pada awalnya dapat diatasi dengan pagar tinggi yang menjadi pembatas antara desa dengan Belantara Tangan dan Gigi, tempat para Ternoda tinggal.

Terlebih, di Desa terdapat para Pengawas, satuan pengaman yang sering melakukan patroli. Nahas, ketenangan itu pada akhirnya terusik dengan jebolnya pagar desa sehingga Ternoda secara leluasa melakukan agresi. Pilihan bagi yang terkena gigitan ternoda hanyalah dua: terinfeksi sehingga menjadi zombie atau mati terkoyak menjadi santapan mereka.

Maka bencana pun terjadi, kalah jumlah membuat penduduk Desa terbantai habis. Hanya menyisakan Mary, Jed, Beth, Harry, Travis, Cash serta si kecil Yakob. Mereka harus melakukan perjalanan panjang untuk menyelamatkan diri dan memelihara sepercik asa dari kepungan Ternoda, sekaligus menemukan Laut, sebuah tanjung harapan yang pada awalnya keberadaannya hanya diyakini Mary.

Membaca buku setebal tiga ratus sembilan puluh dua halaman ini, membuat kita merasa terlibat di dalam cerita yang dibangun oleh Carrie Ryan tersebut. Ketegangan yang dirasakan oleh para tokohnya dikejar Ternoda, akan dapat dirasakan oleh adrenalin pembaca mengingat cara penuturannya menggunakan penuturan sudut pandang Mary (aku). Sehingga pembaca seolah berada pada posisi yang sama dengan tokoh “aku”.  

Meski demikian, buku ini bukan melulu menceritakan tentang sekelompok orang yang diburu oleh Ternoda, melalui para tokoh di dalamnya kita akan temukan kisah cinta, perjuangan dalam mempertahankan hidup, bagaimana memelihara asa serta optimisme seorang gadis yang bukan hanya berhadapan dengan lingkungan sosialnya yang kolot, ancaman kematian, namun juga pergulatan batin yang keras.

Tidak mengherankan jika dikemudian hari, cerita dalam buku ini mendapat kehormatan diangkat ke layar lebar menjadi sebuah film. Sungguh merupakan sebuah keberuntungan bagi anda yang membacanya terlebih dahulu dalam buku ini. selamat membaca dan berpetualang di dunia Mary!

lintasberita

Lanjut Baca

Buku The Namesake-Makna Sebuah Nama - ulasan

Apalah arti sebuah nama? Begitu ungkapan yang terkenal dari William Shakespeare dalam novelnya Romeo and Juliet. Namun dalam kenyataannya, nama merupakan simbol penting identifikasi seseorang, yang berarti seseorang yang belum dikenal dapat dinilai salah satunya lewat nama. Mengapa orangtua-baru begitu rebut untuk menentukan nama bagi anaknya yang baru lahir? Karena mereka ingin anak itu kelak tumbuh dengan perasaan bangga menyandang nama itu. Judul buku pun perlu diotak-atik sehingga ia dapat mencerminkan isinya sekaligus mengundang perhatian orang. Demikian pula buku The Namesake karangan Jhumpa Lahiri ini bertutur, yaitu tentang makna di balik nama.

Dalam adat istiadat bangsa India sekitar tahun 1970-1980-an (aku tak tahu apakah saat ini masih relevan), seseorang selalu memiliki 2 nama. Nama pertama adalah nama resmi atau ‘nama bagus’ yang dicatat dalam akte kelahiran, dibubuhkan dalam ijazah, dan didaftarkan di sekolah atau universitas. Nama kedua adalah nama personal, yang digunakan sebagai panggilan dalam pergaulan keluarga dan teman-teman dalam suasana non formal. Dalam masa inilah hidup seorang anak lelaki bernama Ashoke Ganguli yang keranjingan membaca buku sastra Rusia, terutama milik Nikolai Gogol yang telah menghasilkan buku The Overcoat sebagai salah satu tulisannya yang paling terkenal. Suatu saat Ashoke sedang berkendara dengan kereta api yang akhirnya mengalami kecelakaan hebat. Dalam kepanikan dan gelapnya malam, Ashoke malang yang tubuhnya tergencet, hanya mampu menggerakkan tangan kecilnya yang masih memegang buku The Short Stories by Nikolai Gogol. Lambaian helai halaman buku itu menarik perhatian regu penolong yang nyaris saja melewati Ashoke karena menganggap tak ada penumpang di area itu yang bisa diselamatkan. Secara tak langsung, Nikolai Gogol telah menyelamatkan nyawanya.

Sejak saat itu, sedang ia tumbuh dewasa, kenangan akan kecelakaan itu masih terus menghantui Ashoke. Juga setelah ia meminang Ashima menjadi istrinya dan tinggal di apartemen kecil di dekat universitas tempat ia mengajar di kota Boston, Amerika. Dari sini kisah ini bergulir di seputar kehidupan keluarga Ganguli. Dua orang Bengali yang tinggal di Amerika. Budaya yang jauh berbeda, keterasingan karena tinggal jauh dari keluarga, sanak saudara dan sahabat merupakan tantangan-tantangan yang harus dihadapi Ashoke dan Ashima. Lalu tak lama kemudian lahirlah putra pertama mereka. Dan pada hari itu, bayangan kelam yang selama ini menjadi beban berat bagi Ashoke seolah terangkat. Ia bertekad untuk tak lagi hidup demi masa lalu, dan mulai membuka babak kehidupan yang baru.

Di sinilah keruwetan tentang nama mulai masuk. Telah menjadi kebiasaan di India bahwa seorang bayi yang baru lahir akan dinamai oleh orang tua atau orang yang dituakan. Dalam hal ini nenek buyut Ashima yang berusia 90 tahun yang menyandang tugas mulia itu. Namun, karena handphone belum ada, apalagi internet, proses pemberian nama itu harus dilakukan lewat pos. Padahal pihak Rumah Sakit di Amerika mengharuskan seorang bayi memiliki nama sebelum keluar dari RS. Maka tiba-tiba saja benak Ashoke terbuka, dan kelima huruf itu seakan terlihat jelas sekali: Gogol. Itulah nama yang paling tepat bagi putranya, nama yang telah menyelamatkan hidupnya yang dulu, dan kini menandai awal hidup barunya. Dan mulailah si bocah Bengali kecil itu menyandang nama yang bukan nama India dan bukan pula nama Amerika tempatnya lahir: Gogol Ganguli.

Dari awal Gogol kecil sudah tahu bahwa namanya berasal dari nama sastrawan Rusia yang diidolakan ayahnya. Namun yang mengetahui peristiwa kecelakaan itu hanyalah Ashoke dan Ashima. Gogol dengan bangga menyandang nama itu. Saat masuk TK ia minta dipanggil sebagai Gogol, bukannya Nikhil, nama resmi pemberian kedua orangtuanya. Pada ulang tahunnya yang ke 14, Ashoke memberikan hadiah istimewa pada Gogol: sebuah buku tua yang berjudul The Short Stories Of Nikolai Gogol yang lalu ia selisipkan asal saja di rak paling atas begitu ayahnya menutup pintu dan keluar dari kamarnya. Buku itupun terlupakan, dan Ashoke tak pernah sekalipun menanyakan atau menyebut-nyebutnya lagi.

Di kemudian hari saat Gogol mulai dewasa, ia mulai membenci namanya sendiri. Lucu juga rasanya memperkenalkan diri pada cewek cakep dengan nama: Gogol… Dan akhirnya ia pun membulatkan tekad untuk berganti nama menjadi Nikhil, sesuatu yang sah saja dilakukan di Amerika. Tinggal membuat surat dan mengajukan ke pengadilan, maka keluarlah ia dari gedung pengadilan sebagai Nikhil Ganguli. Setelah kejadian itu, barulah Gogol tahu makna sebenarnya namanya selain hanya sebagai sanjungan pada seorang sastrawan. Gogol adalah lambang kematian sekaligus kehidupan bagi ayah tercintanya. Nikolai Gogol yang menghindarkannya dari kematian, dan Gogol Ganguli yang memberinya kehidupan baru.

Kemudian alur cerita bergulir dengan manisnya di seputar kehidupan Gogol alias Nikhil saat menyelesaikan sekolah, kuliah, lalu bekerja serta jatuh cinta, putus cinta hingga akhirnya menikah. Dan di antara rentang masa itu, Ashoke harus meninggalkan Ashima, Gogol dan Sonia (adik perempuan Gogol) selamanya karena serangan jantung mendadak. Dan baru setelahnya Gogol pun untuk pertama kalinya akan membaca buku pemberian ayahnya bertahun-tahun silam. Buku yang membuatnya yakin bahwa Ashoke tak pernah meninggalkan hidupnya….

*****

Membaca buku The Namesake ini mengasyikkan, karena kita akan disuguhi dinamika kehidupan keluarga Bengali yang tinggal di Amerika. Makanan-makanan khas India seperti dal dan samosa, adat wanita India yang langsung menghapus bindi begitu menjadi janda, dan banyak hal-hal lain yang begitu berbeda dengan apa yang biasa kita ketahui. Menarik juga membaca tentang Gogol yang seolah hidupnya selalu terbagi dalam dua negara, kendati seumur hidup ia tinggal di Amerika. Ia tak pernah benar-benar Amerika, sementara ia juga bukan Bengali sepenuhnya.

Unik dan mengesankan, dengan alur cerita yang enak dibaca. Dua jempol untuk buku The Namesake ini, yang meski bukan penghuni rak best-seller di toko buku, namun menyajikan bahan bacaan yang berkualitas dan menghibur!

Judul: The Namesake
Judul terjemahan: Makna Sebuah Nama
Pengarang: Jhumpa Lahiri
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: September 2008

Buat yang berminat edisi bekasnya, bisa beli di Vixxio. E-mail aja ke mail[at]vixxio[dot]com atau komen di posting ini.


lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar