Buku Yuda Balaputra Dewa - ulasan


Judul Buku: Percy Jackson & The Olympians: The Last Olympians
Penulis: Rick Riordan
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: Mizan Fantasi
Cetakan: Pertama, Juni 2010
Tebal: 454 Halaman 
Apa jadinya jika para Dewa Yunani Kuno yang popularitasnya telah memudar digilas roda zaman ternyata diam-diam menjalin hubungan asmara dengan bangsa manusia hingga kini, bahkan menghasilkan keturunan? Bagaimana pula jika para Dewa tersebut yang ditahbiskan sebagai para penguasa jagat raya selama berabad-abad lalu terancam eksistensinya oleh kolaborasi pasukan monster dan Dewa pemberontak yang dipimpin seorang blasteran hasil perkawinan Dewa dengan bangsa manusia? 
Itulah saga yang ditawarkan Rick Riordan dalam pentalogi Percy Jackson and The Olympians ini. Namun Riordan tidak serta merta mengadaptasi mitologi tersebut bulat-bulat, secara imajinatif-kreatif ia memindahkan lanskap cerita tersebut dari pusat perdaban dunia masa lalu, Yunani, ke pusat peradaban dunia modern, Amerika. Disinilah para dewa tersebut tetirah, tidak tanggung-tanggung istana Olympus tempat tinggal para Dewa pun diboyong ke puncak gedung Empire State, di Manhattan.    
Sebagaimana yang tertera pada judulnya, seri ini menceritakan petualangan sosok Percy Jackson dengan para Dewa Olympus. Percy merupakan salah satu blasteran, sebutan bagi keturunan silang antara Dewa dan manusia. Ayahnya adalah Poseidon sang penguasa lautan dan ibunya bangsa manusia. Ia dan para blasteran lain, tinggal di Perkemahan tempat berkumpul dan belajar para blasteran, tepatnya di Pesisir Utara Long Island.
Kini pentalogi tersebut telah mencapai akhir kisah, dalam buku pamungkas berjudul lengkap Percy Jackson & The Olympians: The Last Olympians ini, petualangan Percy Jackson mencapai klimaks menjelang usianya keenam belas tahun, dimana ia akan memenuhi takdirnya sebagaimana yang tertera dalam nubuat. Percy diramalkan akan mengalami peristiwa terhebat sepanjang hidupnya sekaligus sejarah paling menentukan bagi masa depan para Dewa Olympia.

Seri kelima sekaligus terakhir ini diawali dengan lakon Percy dan sahabatnya Charles Beckendorf yang berusaha menghancurkan kapal Putri Andromeda  pengangkut laksaan monster di bawah komando Kronos, yang merasuki raga blasteran bernama Luke, secara langsung. Meski tergolong sukses, sayangnya misi tersebut harus dibayar mahal dengan merenggut nyawa Charles. Terlebih ledakan itu tidak membuat Kronos dan beberapa anak buah utamanya seperti Ethan Nakamura putra Nemesis musnah, bahkan hasrat Kronos untuk melakukan invasi dan menghancurkan istana Olympia nampaknya semakin menjadi-jadi.

Kejutan demi kejutan berhasil dihadirkan raja para Titan ini dengan memanggil beragam makhluk purba dari kegelapan untuk menghantam para Dewa, salah satunya adalah Typhon, ayah semua monster yang pada masa dahulu hampir meluluh-lantakkan istana Olympus. Selain itu, Kronos juga berhasil menarik simpati kalangan dewa minor yang selama ini termarjinalkan dalam pergaulan para Dewa, ia juga sukses menggaet sebagian blasteran balaputra Dewa untuk mendukung misinya.      

Para blasteran menjadi istimewa karena tidak seperti manusia biasa, mereka dikarunia anugerah baik berupa kekuatan bertarung, juga memiliki penglihatan yang mampu menembus Kabut, tirai yang memisahkan antara dunia manusia dengan dunia para Dewa dan Monster meskipun secara paralel hidup bersamaan. Meski terdapat beberapa pengecualian seperti Rachel, teman dekat Percy, bangsa manusia yang mampu melihat menembus Kabut.    

Nampaknya tidak ada harapan bagi para Dewa dan Percy untuk bertahan, Yuda (perang) yang melibatkan balaputra Dewa ini terlihat di atas kertas kemenangan berada di pihak Kronos. Bukan hanya karena faktor jumlah pasukan yang lebih banyak dan kuat, namun juga terdapat pengkhianat di kubu barisan pembela para Dewa yang menjadi “mata” dan “telinga” bagi Kronos. Ketika semua asa nyaris binasa, hanya ada satu kemungkinan kecil bagi Percy untuk memenangi pertempuran. Sebuah ritual yang membuat ia menyandang kekuatan besar sekaligus harus memikul kutukan Achilles bagi dirinya. 

Membaca saga karya peraih penghargaan Master Teacher Award 2002 ini akan membuat siapapun pembacanya berdecak kagum. Bukan hanya dengan rajutan ceritanya yang memang digarap secara apik, namun penguasaan penulisnya akan sejarah dan mitologi Yunani menjadi nilai tambah tersendiri bagi keberadaan buku ini, hal wajar menilik latar belakang keilmuan Riordan yang kenyang pengalaman sebagai guru Sejarah dan Bahasa Inggris di San Francisco Bay Area dan Texas selama lima belas tahun. 

Dialog di dalamnya kaya dengan metafora yang sayangnya bukan hanya memperlihatkan arogansi para Dewa, namun juga kepongahan peradaban Barat. Akan saya petikkan kata-kata Dionysus, salah satu Dewa Olympia kepada Percy untuk mendukung asumsi tadi: “kekacauan Titan berarti akhir dari peradaban Barat. Kesenian, hukum, seni mencicipi anggur, video game, baju sutra, lukisan beledu hitam -segalanya yang membuat hidup kalian layak dijalani akan menghilang!” (halaman. 316).  

Penggunaan terminologi “peradaban Barat”, jelas sangat menggangu mengingat hal itu kemudian membuat pembaca berasosiasi akan lawan Barat, yaitu Timur. Dengan demikian apakah maksud Riordan bahwa jika para Dewa merupakan personifikasi dari Peradaban Barat, lantas para Titan dan Monster berasal dari peradaban Timur? Mudah-mudahan tidak. Untungnya hal itu tidak menjadi masalah karena tertolong dengan dahsyatnya cerita yang disuguhkan, sehingga pembaca akan terpukau dan abai.   

Dilengkapi bumbu asmara para remaja yang terkadang mengundang tawa, membuat buku setebal empat ratus lima puluh empat halaman ini tidak sekedar menjamu ketegangan dan suspense bagi para pembaca. Pengakuan akan kualitas cerita yang disuguhkan Riordan telah terbukti dengan menyabet New York Times Notable Book 2005 atas seri pertama dari pentalogi ini. Tidak mengherankan pula, jika rumah produksi besar Hollywood, Twentieth Century Fox, membeli karya ini untuk dipentaskan ke layar lebar. Sebuah apresiasi yang semakin mengukuhkan Riordan sebagai penulis cerita papan atas dunia. 

Menjelajahi lembar demi lembar cerita dalam novel ini bisa menjadi inspirasi bagi para pembaca dan terutama penulis di tanah air bahwa begitu banyak lahan yang bisa digarap bagi kerja kreatif. Cerita pewayangan yang penuh muatan moral luhur dan melekat abadi dalam masyarakat (Jawa), sangat mungkin untuk dihidupkan kembali ke masa kini para tokohnya secara utuh, sebagaimana Riordan menghidupkan para Dewa Olympia. Tentu saja dengan bumbu imajinasi yang menggugah selera sehingga mampu menarik minat pembaca. Selamat membaca dan berkarya!

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Treasure Of Genghis Khan - ulasan

Bila diibaratkan makanan, buku Treasure of Genghis Khan ini bisa dibilang serupa dengan Gado-Gado (makanan khas Jawa Timur). Sulit mengatakan dengan pasti apa yang akan anda dapatkan di buku ini, seperti halnya sulit menguraikan satu-persatu bahan Gado-Gado. Yang penting, ketika semua bahan dicampur, lidah kita hanya akan mengecap satu rasa: nikmat! Clive dan Dirk Cussler pun telah sukses mencampurkan petualangan, misteri, pencarian harta karun, thriller dan sci-fi, lalu menuangkan bumbu sejarah ke atasnya, yang lalu dihidangkan oleh penerbit Dastan yang telah menterjemahkannya dengan baik bagi kita.

Buku ini terbagi dalam 3 masa. Pada awalnya ketiga masa itu nampak tak berkaitan, dan di akhir kisah pertama dan kedua selalu ada misteri yang tak terjawab. Kisah pertama adalah usaha bersama Mongolia dan Cina, sekutunya, untuk menginvasi Jepang di abad 13 SM. Kolaborasi armada Cina dan kapal perang Korea yang membawa pejuang-pejuang Mongolia sedang berlabuh di dermaga Hakata ketika terjadi badai laut yang ganas. Badai itu memporakporandakan seluruh armada Cina, dan menyisakan sebuah kapal rusak dengan penumpang si prajurit Temur dan anak buahnya terbawa arus laut entah kemana. Mereka mendarat di pulau asing di daerah tropis yang dipimpin seorang tua berambut putih panjang yang mengenakan kalung dengan hiasan gigi hiu, bernama Mahu. Temur bersama Mahu, yang ahli navigasi berdasarkan bintang, sempat naik kapal kembali ke Cina untuk menghadap kaisar Kubilai Khan. Tak lama kemudian Kubilai Khan wafat, dan lokasi makamnya dirahasiakan. Bukan itu saja misteri yang menggantung di kisah pertama ini, Clive juga menyisakan misteri lain: sebuah kapal misterius tanpa bendera diam-diam meninggalkan daratan Cina menuju ke tengah samudera nan luas, dengan seorang tua berambut putih menjadi ahli navigasinya....

Bagian kedua langsung loncat ke sebuah situs penggalian arkeolog bernama Hunt. Ia, ditemani asisten sekaligus sahabatnya: Tsendyn, seorang berkebangsaan Mongolia, tengah melakukan penggalian di wilayah Shang-Tu, Cina. Gara-gara tentara Jepang makin merangsek masuk ke lokasi itu dalam perang, Hunt memutuskan untuk segera menyingkir. Namun, justru pada saat itu mereka menemukan sesuatu yang misterius. Sebuah kotak berpernis, berisi: selembar kulit cheetah dan sebuah tabung perunggu berisi sehelai sutra dengan peta di atasnya. Membaca peta yang berbahasa Mongol, Hunt sadar bahwa peta itu akan membuka tabir lokasi makam Genghis Khan yang masih merupakan misteri. Hunt pun sadar bahwa penemuan itu bernilai tinggi, maka ia selalu menyimpannya dengan amat hati-hati. Namun toh saat ia sudah berada di pesawat yang meninggalkan situs, ia akhirnya menyadari bahwa sahabat sekaligus asistennya Tsendyn telah mengkhianatinya dan mencuri lembar sutra dalam kotak perunggu itu! Tepat saat ia ingin berputar kembali, pesawatnya ditembaki oleh pesawat Jepang karena dikira mata-mata. Pilot dan co-pilotnya mati seketika, meninggalkan Hunt yang kesakitan selama beberapa hari, baik fisik maupun hati, sebelum akhirnya meninggal pula sambil memeluk kotak berpernisnya menuju alam baka...

Bagian ketiga bersetting abad ke 21. Di sini kita akan menemui berbagai peralatan canggih, juga hal-hal penting di panggung politik dan perekonomian dunia masa kini seperti masalah perminyakan. Mendadak dan dalam jarak waktu berdekatan, terjadi beberapa musibah di beberapa negara yang menimpa titik pengeboran minyak di lepas pantai. Salah satunya di Danau Baikal, Siberia, di mana sebuah kapal berisi para ilmuwan terkena efek gempa itu. Beruntunglah, tak jauh dari sana ada kapal milik sebuah badan kelautan (NUMA) yang sedang berlayar. Dua dari para penumpangnya, para petualang pemberani Dirk Pitt dan Al Giordino berjibaku menolong para ilmuwan. Namun penyelamatan itu tak berlangsung lama, karena malamnya terjadi gempa bawah laut yang menyebabkan kapal milik NUMA itu karam. Ajaibnya, para ilmuwan itu menghilang tak berbekas! Another mistery!

Setelah itu cerita bergulir dengan makin cepat, dengan makin banyak tokoh terlibat. Kini fokus Dirk Pitt dan Al Giordino adalah menemukan para ilmuwan dan penyebab tenggelamnya kapal mereka yang ditengarai adalah akibat sabotase. Namun itu semua belum apa-apa. Tunggu hingga mereka 'terdampar' ke tanah Mongolia untuk bertemu seorang bangsawan kaya misterius bernama Borjin. Dan tiba-tiba satu persatu jawaban atas berbagai misteri yang sudah ditumpuk oleh Clive dan Dirk Cussler semenjak awal akan terkuak. Dan semua misteri itu ternyata mengerucut pada satu sosok: Borjin! Siapakah ia sebenarnya?

Petunjuk:
Ingat-ingatlah detail yang ada di bagian atau masa pertama kisah ini. Karena detail kecil penampilan seseorang yang misterius itu akan menjadi kunci jawaban salah satu misteri di akhir kisah. Penulisnya tidak terang-terangan mengungkapnya, namun kalau anda jeli, maka jawabannya ada di sana...

Membaca buku ini benar-benar mengasyikkan. Rasanya tak habis-habis misteri, ketegangan serta kejutan, sambil sesekali diselingi dengan komedi yang disuguhkan oleh Clive & Dirk Cussler bagi para pembacanya, dari halaman pertama hingga akhir.

Catatan untuk penerbit:
Sayang, proses penerjemahan buku ini mengalami banyak typo di sana-sini, juga ada beberapa ungkapan yang mengganggu. Misalnya kata "bersalin" yang harusnya "berpakaian". Istilah "bersalin" seingatku memang dipakai kakek-nenekku untuk mengatakan "berganti pakaian" (mis: Opa mau salin dulu ya). Kata itu jelas bukan bahasa Indonesia yang benar, dan generasi sekarang kemungkinan tak ada yang tahu istilah ini. Belum lagi, karena kata "bersalin" memiliki makna lain yaitu melahirkan.

Judul: Treasure of Genghis Khan
Terjemahan: Misteri Khan Sang Penakluk
Pengarang: Clive Cussler & Dirk Cussler
Penerbit: Dastan

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Hidup Sehat & Seimbang dengan Yoga - ulasan


Sehat adalah kekayaan, kedamaian pikiran adalah kebahagiaan, Yoga menunjukkan jalannya.
(Swami Wishnu Devananda)

Living in Jakarta coret aka pelosok, I had never imagined I could experience yoga practice. It never crossed my mind. But as my yoga instructor, mbak Endang said, there's a line in yoga that said, "yoga will take you.'' I guess it's just true. One day I saw a street banner mentioning a yoga studio was just open nearby my home. I registered myself. Joining the yoga practice. Just realize that this January is going to be my second anniversary of yoga practice. As simple as that.

Not many yoga books written by Indonesian authors. This book is one of the best books of yoga. Written by Pujiastuti Sindhu from Yoga Leaf Centre, a professional certified yoga teacher. The book explains about yoga poses, movement and all the benefits of yoga in a practical, simple and very clear way. Completed with pictures of the poses and movement and also DVD to get clearer understanding of every pose and movement.

The book divides the daily practice of yoga into Balancing Practice, Strengthening Practice, Flexibility Practice and the last one is Calming and Relaxing Practice.

A very complete, informative and suitable book for everybody who wants to do yoga practice, even for a beginner. Highly recommended. Let's do yoga daily practice, everyone. Namaste.

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Remember Me? - ulasan

goodreads.com
“Where would we be now baby.. if we found each other first..
Where would you do know darling, if I said these simple words,
I’ll wait, I’ll wait, as long as you want..
Where would we be now baby…”
Where Would we be Now – Good Charlotte


Bayangkan ketika kamu memejamkan mata, dan saat bangun kamu menemukan bahwa kamu telah melewati dan melupakan segala hal yang pengen kamu lupakan. Wow, semua orang pasti pengen ya? Apalagi kalau saat bangun kamu udah bisa dapet rumah mewah, suami ganteng dan superkaya, dengan berbagai mobil mewah dan berlian yang bisa dibeli setiap saat?

Nah, ternyata semua itu ngga seindah Cinderella pergi ke pesta, seperti yang dialami Alexia Smart. Setelah mengalami kecelakaan mobil, dirinya mengalami amnesia sehingga ia kehilangan ingatan 3 tahun ke belakang. Tiga tahun yang seperti neraka, yang telah mengubah seluruh hidupnya. Ia menyangka menjadi seorang direktur dan bos itu enak, bisa melakukan apa saja, Tapi dia salah. Dia malah mendapat julukan si Kobra dan Withces from Hell. Seakan itu tidak cukup, suaminya yang romantis dan superganteng plus milyuner, ternyata orang yang tak pernah punya perasaan, polisi makanan yang superdisiplin dan sangat perhitungan terhadap uang.

Buku ini adalah karya Sophie Kinsella pertamaku. Kata sebagian orang, buku ini lucu. Hanya aku malah belum tahu dimana letak lucunya, karena sepanjang buku ini aku malah merasa miris, sedih, tersentuh, dan segala macam emosi campur aduk lainnya. Ya, Sophie Kinsella berhasil membuat seorang tokoh utama yang lovable sekaligus helpless dalam menghadapi hidupnya. Sebagai seorang amnesia, Lexi membuat pembaca menjadi bersimpati pada hidupnya yang tiba-tiba berantakan. Karakter tokoh yang kuat serta penggambaran emosi yang cukup jelas membuat Lexi semakin mendapat tempat di hati pembaca, ikut sedih dan marah ketika ia marah, ikut emosi karena nasibnya tak kunjung membaik.

Kelemahan sastra chicklit adalah endingnya yang mudah ditebak: happy ending (meskipun ada beberapa yang tidak), in many ways. Tentu saja kisah romantis tak dapat dipisahkan dari sastra chicklit (apakah ada yang protes ketika aku menyebutnya sastra?). Si tokoh utama kita ini mengaku sepanjang hidupnya tak pernah selingkuh, namun di bagian hidupnya yang hilang ternyata tak dapat di sangka dia berselingkuh dengan Jon, plus dengan segala detail-detail yang menurutku lumayan vulgar.

Ending buku inilah yang paling mengena buatku. Meskipun terkesan tergesa-gesa, namun cukup menyentuh untuk melihat bagaimana Lexi kemudian mantap melangkah pada jalur karier dan pria pilihannya. Dan Lagu Where Would We be Now nya Good charlotte mengalun pelan,

“Dimana kita sekarang, andai dulu kita bertemu terlebih dahulu?
Apa yang akan kamu lakukan, saying, jika aku mengatakan satu kata untukmu,
Aku akan menunggu, selama yang kamu inginkan…”

lintasberita

Lanjut Baca

Buku EMBROIDERIES - ulasan


My rating: 4 of 5 stars


Mungkin aku terlalu berkespektasi tinggi. Sewaktu mendengar nama Marjane Satrapi, aku dulu membayangkan bahwa karyanya akan seberat Ernest, atau bahkan seperti Orhan Pamuk yang ketebalan bukunya mampu membuatku minder duluan. But, I was wrong again.

Setelah menerima pinjaman dari kakak baik hati yang berkenalan di dunia maya yang ternyata terhubung secara mengejutkan di dunia nyata, aku mendapatkan buku Marjane Satrapi ini dengan mulut melongo. Loh? Ini beneran Marjane Satrapi? Kok Novel Grafis? Yah, salahku sendiri sih aku ngga berusaha googling dulu atau Tanya dulu. Intinya aku sok tahu sih.

Finally, she got me. Ya, aku kayaknya bakal jadi penggemar Satrapi. Walaupun baru baca satu buah bukunya doang. But well, she impressed me. Dengan gambra-gambarnya yang hitam putih namun sangat atraktif menurutku, dan kalimat-kalimat langsung yang bernada satir dan menggelikan. Kritik-kritik masyarakatnya kena banget, dan aku bahkan ngga tahu apakah yang ia tulis—atau gambar—di novelnya ini kisah nyata atau engga.

Embroideries, atau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pada judulnya adalah Bordir, berisi sebuah sesi percakapan yang biasa dilakukan oleh wanita-wanita Iran setelah menyesap teh, yang mereka sebut Samovar. Kegiatan rutin ini kerap mereka sebut berdiskusi, dan tujuannya adalah (mengutip salah satu kata-kata nenek Marji)
Membicarakan orang di belakang punggung mereka berguna untuk melepaskan unek-unek.

Well, bisa dibayangkan, para wanita dewasa menjelang tua, berkumpul bersama, dan bergosip. Duh, apapun bisa masuk di diskusi itu. Mulai dari cinta, seks, gossip antar wanita, dan bagaimana pandangan-pandangan kasar mereka terhadap pria. Seru banget mengikuti obrolan ibu-ibu kita ini. Serasa ikut menjadi salah satu pendengar di ruang keluarga Satrapi juga.

Untuk ukuran Indonesia, buku ini sangat terbuka, dalam arti tertentu. Mereka tak segan-segan membicarakan hal yang paling intim dan tabu untuk dibicarakan. Bahkan, mereka tak segan-segan untuk menceritakan hal-hal buruk mengenai mereka sendiri, kemalangan-kemalangan, aib-aib yang semestinya tak diketahui orang, fakta-fakta negatif, mereka tuangkan dalam percakapan itu. Menurutku ini patut diberi perhatian khusus, mengingat orang biasanya enggan untuk menunjukkan kelemahan mereka sendiri.

Salah satu hal yang aku suka lagi dalam proses membaca buku ini adalah, karena tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan buku ini. Meskipun rasanya seperti habis membaca komik –karena hanya butuh waktu yang singkat—namun kualitas yang terbawa hingga buku telah lama ditutup tak juga menghilang.

Ah, jadi pengen baca buku pinjaman yang kedua, Chicken with Plums.;)



lintasberita

Lanjut Baca

Buku Candide - ulasan

CANDIDE “OPTIMISME DALAM HIDUP”CANDIDE “OPTIMISME DALAM HIDUP” by Voltaire

My rating: 4 of 5 stars

Paperback, Cetakan Pertama, 244 pages
Published January 2010 by LIRIS PUBLISHING (first published 1758)
ISBN139786029597806


"Semua hal tidak bisa menjadi lain daripada sebagaimana adanya mereka. Itu karena semuanya dibuat untuk suatu tujuan tertentu, maka semua haruslah dimaksudkan untuk tujuan terbaik." Pangloss(Hlm 3-4)

"tidak ada akibat tanpa suatu sebab." Pangloss (Hlm 3)

Buku ini berjudul asli Candide, ou L’optimisme yang diterbitkan pada tahun 1759. Berarti sudah lebih 250 tahun usia karya ini. Ada 30 Bab dalam buku ini. Sebenarnya dengan membaca judul-judul bab ini, kita dapat mengetahui isinya secara umum. Sebab judul babnya sudah menjelaskan apa dan bagaimana tokoh-tokoh tersebut berkisah. Saya lebih suka dalam Bahasa Inggris, karena untuk terjemahannya, pemaknaannya jadi berbeda. Lebih lengkap judul bab tersebut dalam bahasa inggris adalah sebagai berikut.

Chapter 1 - How Candide Was Brought Up in a Magnificent Castle and How He Was Driven Thence
Chapter 2 - What Befell Candide among the Bulgarians
Chapter 3 - How Candide Escaped from the Bulgarians and What Befell Him Afterward
Chapter 4 - How Candide Found His Old Master Pangloss Again and What Happened to Him
Chapter 5 - A Tempest, a Shipwreck, an Earthquake, and What Else Befell Dr. Pangloss, Candide, and James, the Anabaptist
Chapter 6 - How the Portuguese Made a Superb Auto-De-Fe to
Prevent Any Future Earthquakes, and How Candide
Underwent Public Flagellation
Chapter 7 - How the Old Woman Took Care Of Candide, and How He
Found the Object of His Love
Chapter 8 - Cunegund's Story
Chapter 9 - What Happened to Cunegund, Candide, the Grand
Inquisitor, and the Jew
Chapter 10 - In What Distress Candide, Cunegund, and the Old
Woman Arrive at Cadiz, and Of Their Embarkation
Chapter 11 - The History of the Old Woman
Chapter 12 - The Adventures of the Old Woman Continued
Chapter 13 - How Candide Was Obliged to Leave the Fair Cunegund and the Old Woman
Chapter 14 - The Reception Candide and Cacambo Met with among the Jesuits in Paraguay
Chapter 15 - How Candide Killed the Brother of His Dear Cunegund
Chapter 16 - What Happened to Our Two Travelers with Two Girls,Two Monkeys, and the Savages, Called Oreillons
Chapter 17 - Candide and His Valet Arrive in the Country of ElDorado-What They Saw There
Chapter 18 - What They Saw in the Country of El Dorado
Chapter 19 - What Happened to Them at Surinam, and How Candide Became Acquainted with Martin
Chapter 20 - What Befell Candide and Martin on Their Passage
Chapter 21 - Candide and Martin, While Thus Reasoning with Each Other, Draw Near to the Coast of France
Chapter 22 - What Happened to Candide and Martin in France
Chapter 23 - Candide and Martin Touch upon the English Coast-What They See There
Chapter 24 - Of Pacquette and Friar Giroflee
Chapter 25 - Candide and Martin Pay a Visit to Seignor Pococurante, a Noble Venetian
Chapter 26 - Candide and Martin Sup with Six Sharpers-Who They Were
Chapter 27 - Candide's Voyage to Constantinople
Chapter 28 - What Befell Candide, Cunegund, Pangloss, Martin, etc.
Chapter 29 - What Manner Candide Found Miss Cunegund and the Old Woman Again
Chapter 30 - Conclusion

Apa yang menarik dari novel ini adalah, Voltaire ingin menumbangkan suatu falsafah pada zamannya yang mengatakan bahwa
semua bencana dan penderitaan manusia adalah bagian dari rencana kosmis yang baik hati. Untuk itu, ia menggunakan tokoh Candide yang berkeliling ke seluruh dunia untuk membuktikan bahwa pandangan
itu tidaklah demikian.

Apa yang menjadi keyakinan masyarakat pada saat novel ini ditulis?
Pada saat itu berkembang suatu pemahaman bahwa "ini adalah bentuk terbaik dari semua kemungkinan yang ada di dunia." Voltaire ingin menunjukkan bahwa betapa banyak juga ketidakadilan dan kebodohan yang sebenarnya terjadi di dunia nyata. Ia memberi sasaran pada perbudakan, ketidaktoleransian beragama, dan kezaliman. Voltaire menyimpulkan bahwa setiap orang memiliki kecenderungan untuk melakukan hal itu di "kebun sendiri" dan meninggalkan (orang) lainnya untuk melakukan hal serupa.

Apa yang dimaksud dengan Filosofi Optimism?
Pada saat itu optimisme adalah sistem filsafat yang percaya segala sesuatu sudah merupakan yang terbaik, tidak peduli seberapa mengerikan tampaknya. optimist philosophy dipopulerkan oleh Gottfried Wilhelm von Leibniz. Voltaire mengkritik paham yang terkenal dengan optimisme tersebut dalam Candide.

Peristiwa gempa bumi di Lisbon, Portugal pada tahun 1755, menjadi bukti Voltaire untuk mengkritik "in the best of all possible worlds". Rumor yang berkembang di Eropa saat itu dinilai melebih-lebihkan keadaan yang sebenarnya. Enam menit gempa (dan disertai tsunami) itu menewaskan 30.000 jiwa. Pertanyaan mendasarnya: Bagaimana gempa yang menewaskan 30.000 orang untuk hal yang terbaik? Apakah tempat pembantaian pada perang Eropa 1756-1763 adalah yang terbaik dari kemungkinan dunia?



Gbr 1: Ilustrasi Gempa Bumi di Lisbon
description


Gbr 2: Ilustrasi Perang Tujuh Tahun Eropa.
A war in which Britain, Prussia and Hanover fought Austria, France, Russia, Saxony, Sweden and Spain. Britain became the main European power after this war. French Canada was captured by the British in this war.

Gbr 3: Ilustrasi Pangloss sedang mengajar Candide
description

Berbagai kemalangan yang bersifat ekstrim dialami oleh Tokoh Novel ini. Sebagai contoh: 1. Candide didepak dari kerajaan,
2. Cunegund diperkosa oleh tentara Bulgaria
3. Kakaknya Cunegund, Baron Yesuit disiksa
4. Pangloss digantung (namun tidak mati)
5. Candide ditipu oleh nelayan Belanda

Dengan menggunakan satire, Voltaire seolah mengejek paham optimisme, yang tidak hanya tidak masuk akal, tetapi juga sombong. Voltaire terjalin cinta dengan Emilie du Chatelet lasted dari 1733 sampai 1749. Masalahnya si kekasih adalah pengikut filosofi optism. Namanya cinta, ketika hidup dengan Emilie, kritiknya pada Optimisme lebih berkurang.

Kritikan di Bidang Agama
Voltaire sebenarnya berkonflik dengan gereja. Saat itu Gereja Katolik Roma adalah kekuatan terbesar kedua setelah kerajaan. Perselisihan Voltaire dengan gereja lebih besar gaungnya daripada perselisihan Voltaire dengan otoritas politik. Ia menganggap gereja adalah pendukung takhyul, konservatif dalam pengambilan keputusan yang rasional. Ia beranggapan bahwa gereja menjadi penyebab fanatisme dan intoleransi.

Pada waktu itu, agama terorganisir di Perancis (dan di tempat lain) gereja antara lain menyensor pers dan pidato, menentang toleransi beragama, mendukung doktrin hak ilahi dari raja untuk memerintah dan sering mendukung perbudakan. Voltaire mencerca terhadap Gereja Katolik bukan karena dia adalah orang jahat yang menginginkan kebebasan bagi dosa, tetapi karena ia melihat gereja sebagai mata air dan benteng kejahatan. Dia merasa bahwa tidak akan ada perubahan yang mungkin tanpa mengabaikan kekuatan Gereja; itulah sebabnya dia mencurahkan begitu banyak perhatian untuk mengejek dan mendiskreditkan itu.

Perjalanan Candide
Petualangan Candide mulai dari diusir dari Istana di Westphalia dan mencari kekasihnya Nona Cunegund hingga ke Venesia. Dalam perjalanannya, ia menemukan banyak kejadian yang menakjubkan sekaligus mengerikan. Setiap orang-orang yang ditemui Candide memiliki kiasan tersendiri yang diramu oleh Voltaire. Peta perjalanan Candide dapat dilihat sebagai berikut.

Gbr 4: Perjalanan Candide
description

Dari hasil penelusuran, buku ini adalah buku terlarang bagi kaum Yesuit. Paul LeClerc, President dan CEO The New York Public Library mengatakan dalam suatu wawancara, ia harus meminta izin melalui surat dari Bishop di Jesuit College, Holy Cross untuk membaca buku ini. Baginya, buku ini seperti buah terlarang di taman Eden. Ia menambahkan bahwa Masih adanya perang, kemiskinan, kelaparan, kehilangan hak hidup, dan sebagainya itu sejalan dengan kesimpulan Voltaire yang menyatakan bahwa dunia belum sempurna. Karena itu kita harus berjuang, berjuang akan keadilan, melawan intoleransi, melawan takhyul, berjuang pada hak asasi manusia hingga saat ini.

Kelebihan terjemahan novel ini menurut saya adalah adanya catatan kaki pada kata yang menyangkut nama orang, tempat, istilah-istilah. Catatan kaki tersebut cukup membantu walaupun ada istilah baru lagi dalam catatan kaki tersebut.

Kekurangan buku terjemahan ini adalah pada terjemahan judul babnya tidak sesuai dengan yang bahasa Inggris. Sebagai contoh pada Bab I
dalam bahasa Inggrisnya "How Candide Was Brought Up in a Magnificent Castle and How He Was Driven Thence", yang diterjemahkan dengan "Kastel Thunder-Ten-Tronkch." Hal ini menyulitkan pembaca jika ingin membandingkan isi novel ini dalam dua bahasa (Inggris-Indonesia). Padahal, sumber-sumber yang membahas novel ini cukup banyak di internet. Dan salah satu jembatannya adalah nomor bab dan judulnya. Salah satu web yang memberi perhatian pada novel ini adalah New York Public Library yang membuat tautan khusus mengenai Candide di http://candide.nypl.org/text/.

Bagi saya, dengan kekurangan buku ini, saya malah asyik sendiri menelusri tautan yang menceritakan karya besar ini. Itupun masih jauh dari cukup untuk memahami konteks dan kritik terhadap kehidupan sosial masyarakat pada saat itu. Saya menjadi kagum dengan para penulis yang menggunakan penanya untuk menyuarakan yang tidak bersuara. Seperti novel klasik Indonesia Max Havelaar oleh Multatuli (Douwes Dekker), Siti Nurbaya oleh Marah Roesli, dan selanjutnya

Pelajaran yang saya ambil, Selama masih di dunia, akan selalu berhadapan dengan masalah. Karena itu berjuanglah, selagi bisa. Berjuang atas rezeki, cita-cita, kebahagiaan, sesama, dan sebagainya. Semoga Tuhan menyertai. Amin.
_________________________________
Voltaire sendiri adalah nama pena. Nama aslinya adalah Francois Marie Arouet. Lahir di Paris, 21 November 1694. Ia menggunakan nama Voltaire pada usia 25 tahun. Ia sendiri bersekolah di Jesuit College. Ayahnya menginginkan dia untuk menjadi pengacara, tapi ia berkeinginan menjadi penulis. Ketika ayahnya, M. Arouet,meninggaldunia pada 1 Januari 1722, Voltaire mendapat warisan yang sangat besar. Sebab ayahnya memiliki kantor yang berpenghasilan 13.000 franc setahun. Ia meminjamkan uangnya 10 persen setahun pada adipati, pangeran, dan bangsawan besar. Ia hidup dengan baik dengan penghasilan seperti itu.

Ia dituduh menulis puisi satire Duke of Orleans, padahal bukan ia yang menulis. Ia dipenjara di penjara Bastille dan diasingkan ke Inggris. Di Inggris, justru kemampuan menulisnya meningkat seiring belajar menulis dan berbicara. Ia banyak belajar dengan Orang-orang besar Inggris, seperti Sir Isaac Newton (1642-1727), Shakespeare, Milton, Dryden, John Locke (1632-1704), Bacon, Jonathan Swift (1667-1745), Young, Thomson, Congreve, Alexander Pope (1688-1744), Addison. Secara khusus pada Newton dan Locke, mereka sangat mempengaruhi Voltairedalam hal pengembangan intelektual. Di samping itu, Voltaire mengalami kebebasan berbahasa dan menulis Bahasa Inggris, yang tidak didapatnya di negerinya sendiri.

Pada Tahun 1750, Frederick the Great, raja Prusia mengundang Voltaire tinggal di istananya dan membayarnya 20.000 franc setahun untuk menulis. Gempa bumi Lisbon pada Tahun 1755 yang menjadi inspirasinya membuat Candide. Sebelum Candide, ia menulis puisi panjang untuk Gempa Lisbon. Ia menunjukkan bahwa manusia tidak dapat menolak bencana alam, dan mempertanyakan justifikasi para penganut Optimism akan bencana alam tersebut, apakah bencana itu adalah dalam kerangka menemukan bentuk terbaiknya? Ia kembali ke Perancis pada 1778, untuk menyaksikan pertunjukannya yang terakhir, Irene, dan ia meninggal pada tahun yang sama. Karena keberadaannya ditolak oleh Gereja Katolik, temannya membawa jenazahnya keluar Perancis untuk dimakamkan, sebab Gereja menolak melakukan upacara pemakaman Voltaire. Pada 1791, barulah jenazahnya dibawa kembali ke Perancis untuk dimakamkan (kembali). Diperkirakan satu juta jiwa menghadiri prosesi ini.

@hws02022011

lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar