Buku Sketsa Buram Kepartaian di Indonesia - ulasan



Judul : Anti Partai
Penulis : Bima Arya Sugiarto
Tebal : x + 188 halaman
Penerbit : Gramata
Terbit : 2010
Keberadaan partai sebagai salah satu bentuk partisipasi rakyat dalam kegiatan politik ternyata sarat dengan persoalan. Persoalan yang dapat bersifat internal maupun eksternal itu, berujung kepada dua hal yakni, terganggunya dinamika kepartaian yang sehat, serta kecenderungan rakyat untuk tidak berpartisipasi dalam kegiatan politik..
Jika kondisi di atas dibiarkan, maka bukan tidak mungkin muncul penolakan terhadap partai. Akibatnya, partai tidak lagi dipandang sebagai saluran aspirasi rakyat, tetapi hanya menjadi medium bagi segelintir orang untuk memegang kekuasaan. Akhirnya partisipasi rakyat menjadi minim sehingga kekuasaan tidak memiliki legitimasi. Hal yang sama terjadi juga di Indonesia yang kini memiliki puluhan partai politik.
Buku yang merupakan kumpulan tulisan Bima Arya Sugiarto ini tampaknya ingin menguliti persoalan tersebut. Ia mencoba untuk mengidentifikasi persoalan-persoalan umum dinamika kepartaian di Indonesia, dan memberikan analisa kritis terhadap persoalan yang tersebut.
Dari hasil pengamatan Arya, ada sejumlah persoalan yang muncul dalam sistem kepartaian di Indonesia. Misalnya saja masalah partai Islam. Dalam temuan Arya, partai Islam di Indonesia cenderung kalah pamor dengan partai sekuler. Hal ini tampak dari jumlah pemilih partai Islam yang terus menurun dari satu pemilu ke pemilu lainnya.
Menurut Arya hal tersebut disebabkan oleh gagalnya partai Islam untuk merekontestualisasikan diri di tengah realitas psikis dan fisik bangsa Indonesia. Dengan kata lain partai Islam harus mengedepankan agenda-agenda konkret yang bersinggungan langsung dengan kepentingan publik ketimbang mengusung isu syariat yang diformalkan (hal. 35).
Persoalan ini sebenarnya tidak hanya terjadi dengan partai-partai islam. Tetapi juga partai-partai agama di luar partai Islam. Ketika isu yang diangkat hanya berkutat pada persoalan ideologi atau kepentingan pemeluk agama minoritas, maka partai tersebut tidak akan menjadi primadona dari golongan yang dicoba untuk disasar sebagai pemilih.
Meskipun ada kondisi yang berbeda antara partai Islam dan partai di luar partai Islam, namun persoalannya tidak jauh berbeda, yakni partai berbasis agama tidak menawarkan isu yang kontekstual. Hal ini menunjukkan bahwa partai berbasis agama belum berhasil memberikan tawaran yang berkenan di hati calon pemilih.
Selain itu, masalah penting yang juga diulas oleh Arya adalah kepemimpin politik. Masalah ini menjadi strategis karena kepemimpinan yang baik akan terus mendorong peran partai yang lebih besar dalam proses demokrasi. Sebaliknya kepemimpinan yang buruk akan mempertinggi faksionalitas dalam arti negatif.
Salah satu problem kepemimpinan politik yang dipotret oleh Arya adalah hadirnya para pemimpin yang berprofesi sebagai pengusaha, atau yang dalam istilah Arya adalah "saudagar". Menurut Arya keberadaan pemimpin politik dengan profesi pengusaha tidak dapat membawa perbaikan secara signifikan pada terwujudnya partai politik yang modern.
Sebaliknya, keberadaan saudagar dalam partai politik hanya terbatas pada pendanaan operasional partai dalam jangkan panjang, atau bahkan membiayai kepentingan faksi-faksi dalam partai politik (hal.29).
Inilah yang menurut Arya akan menghasilkan kepemimpinan bercorak transaksional. Kepemimpinan transaksional terjadi ketika hubungan antara pemimpin maupun elit politik lainnya dengan konstiutuen hanya bersifat pertukaran kepentingan ekonomi maupun politik saja belaka. Pola kepemimpinan seperti ini harus direformasi menjadi pola kepemimpinan yang transformasional (hal.74).
Kepemimpinan tranformasional ini berciri mampu menggerakkan setiap individu untuk menjadi aktor utama perubahan. Di sini ikatan yang dibangun dengan publik lebih merupakan kesamaan sistem nilai ketimbang loyalitas personal. Oleh sebab itu, pemilihan pemimpin partai harus didasarkan pada visi ke depan calon pemimpin, bukan kepada calon-calon karismatis tanpa visi ataupun gagasan.
Hal yang juga sempat disinggung oleh Arya dalam buku ini adalah mentalitas calon legislatif. Dalam tulisannya yang berjudul Demokrasi di Republlik Baliho, Arya menilai, dari pernak-pernik serta atribut-atribut kampanye yang tersebar di ruang publik sebenarnya dapat dilihat mentalitas dan kesiapan si calon anggota legilatif. Pesan-pesan komunikasi politik yang tidak konseptual, ketidakpahaman soal pencitraan yang sebenarnya strategis, hingga kekurangmampuan dalam menentukan basis konstituen akibat lemahnya data, memperlihatkan bahwa para calon anggota legislatif memang belum mampu membuat manajemen yang baik dalam kampanyenya.
Padahal, kondisi sebaliknya terjadi di negara-negara yang telah memiliki "kedewasaan" dalam berdemokrasi di negara-negara maju. Di negara-negara yang telah matang dalam berdemokrasi, kampanye dilakukan dengan pencitraan yang memikat, pidato yang inpirasional, serta pertarungan ide yang mencerdaskan. Dengan mengatakan demikian, seolah-olah Arya ingin mengatakan bahwa kampanye-kampanye seperti itu belum tumbuh di Indonesia.
Arya mensinyalir bahwa hal itu disebabkan oleh mandulnya mesin partai. Mesin-mesin ini hanya aktif ketika musim pemilu mendekat. Di luar musim pemilu, hubungan antara rakyat dengan partai politik tidak terjadi. Akibatnya pada musim pemilu, calon anggita legislatif harus "tancap gas" untuk membangkitkan kembali memori publik. Padahal cara ini sangat tidak efektif. Ujungnya adalah penolakan publik terhadap partai.
Banyak hal menarik yang dibahas secara tajam oleh Arya seputar keberadaan partai dalam buku ini. Kesemuanya memperlihatkan seperti apa sesungguhnya wajah sistem multipartai di Indonesia dewasa ini. Selain teori, contoh konkret yang diberikan oleh Arya membuat wajah tersebut semakin jelas, bahwa kedewasaan partai-partai tersebut belum dapat diharapkan.
Catatan lain tentang buku ini adalah, tidak semua tulisan disertai daftar pustaka. Padahal hal ini akan sangat membantu para mahsiswa dan peminat politik untuk menelusuri lebih jauh pemikiran yang dikutip tersebut, seperti halnya dibisakan dalam tradisi akademis. Jika saja penulis sudi sedikit bersusah payah untuk mencantumkan daftar pustaka, tulisan-tulisan ini akan jauh lebih bernas dan menyenangkan untuk dibaca.(*)

lintasberita

Lanjut Baca

Buku The Host : Sang Pengelana - resensi

The Host
Sang Pengelana
Stephenie Meyer
Ukuran : 15 x 20 cm
Tebal : 776 halaman


Melanie Stryder menolak dilenyapkan.

Bumi dikuasai musuh tak kasatmata dan manusia dijadikan inang oleh para penguasa ini. Otak mereka diambil alih sementara tubuh mereka meneruskan kehidupannya yang lama, seolah-olah tak ada yang berubah.

Ketika Melanie tertangkap, tubuhnya diberikan kepada Wanderer, sang "jiwa" pengelana yang menjadi penguasa barunya. Wanderer telah diperingatkan mengenai berbagai tantangan yang akan dihadapinya dengan hidup dalam inang manusia: luapan emosi, perasaan yang melimpah, dan ingatan yang teramat kental. Namun ada satu yang tak pernah dibayangkan Wanderer: penguasa lama tubuh ini---Melanie Stryder---menolak menyerahkan benaknya sepenuhnya.

Wanderer menyelidiki pikiran-pikiran Melanie, berharap mengetahui di mana keberadaan segelintir manusia yang masih bersembunyi. Namun tanpa disadarinya, Melanie malah memenuhi pikiran Wanderer dengan sosok Jared, laki-laki yang dicintainya dan masih hidup dalam persembunyian. Perlahan namun pasti, Wanderer mulai mendambakan dan menginginkan Jared, dan bersama Melanie ia memutuskan untuk memulai perjalanan panjang mencari laki-laki yang sama-sama mereka cintai itu.

ISBN : 978-979-22-4777-0; 40201090042
lintasberita

Lanjut Baca

Panduan Sukses Orang Indonesia di Jepang


Berita tsunami, bahkan menyebabkan kebocoran radiasi, di Jepang baru-baru ini cukup menimbulkan kegemparan di dunia. Banyak korban. Namun bukan Jepang, jika negaranya menjadi terpuruk. Jepang masih tetap bertindak tangkas mengatasi bencana. Masih teringat dalam sejarah bagaimana hebatnya kebangkitan Jepang walaupun saat itu Hirosima dan Nagasaki telah luluh lantak di bom oleh tentara sekutu. Sebagai negara yang rawan terjadi gempa, ternyata berdampak pada kehidupan masyarakatnya. Sikap pantang menyerah, disiplin dan pekerja keras inilah yang membuat negaranya tidak kenal lemah.

Jepang adalah negara yang minim dengan SDA. Hal tersebut tidak menciptakan kemunduran, malah membuat mereka harus memutar otak untuk keberlangsungan perekonomian. Hasilnya? Terlihat dari tingginya kreativitas dan kecerdasan masyarakat Jepang terutama di bidang industri karena mereka memprioritaskan penciptaan SDM yang berkualitas.

Tahu The Last Samurai? Bagi penggila film pasti tidak asing dengan kisah samurai yang satu ini. Terlepas dari ceritanya keren abis, budaya Jepang yang dihadirkan dalam hampir setiap adegan mampu menggambarkan betapa kuatnya tradisi masyarakat Jepang. Hebatnya, sebagai negara maju, Jepang tidak melupakan tradisi yang telah mengakar kuat tersebut. Contohnya Hanami yang merupakan salah satu tradisi menikmati keindahan bunga dengan duduk bersama di bawah pohon sakura yang sedang bersemi, hingga saat ini tradisi tersebut masih berjalan.

Banyaknya nilai positif, tidak begitu saja menghilangkan kenegatifan dari negara sakura ini. Aktivitas yang tinggi membuat penduduknya malas untuk menikah dan memiliki anak, hal ini berdampak pada jumlah penduduk yang mengalami penurunan. Dari sini muncul peraturan yang sangat menguntungkan bagi para ibu hamil yang melahirkan di Jepang, karena pemerintah Jepang menyediakan subsidi yang cukup besar bagi mereka. Selain itu ketatnya persaingan membuat tingkat bunuh diri semakin tinggi.

Sangat menarik bukan mengenal negeri Jepang dengan segala kehidupan, tradisi, semangat, etos kerja, kemasyarakatan, perayaan, bahkan keanehannya. Buku berjudul Panduan Sukses Orang Indonesia di Jepang mengenalkan pembaca pada seluk beluk negara Jepang yang sangat menarik, plus kepositifan karakter mereka. Bagi yang ingin ke Jepang? Peluang sangat terbuka, apalagi Jepang termasuk salah satu negara yang memberi berlimpah beasiswa. Mengingat kuantitas SDM mereka yang mulai menurun, mereka mulai membuka diri dengan kedatangan orang-orang asing ke negara mereka. Nah, buku ini sangat bisa dijadikan pegangan dari mulai mengurus paspor, visa, dan apa yang harus dilakukan ketika telah sampai di Jepang.

Penulis cukup detail dalam merinci segala persiapan keberangkatan dari mulai mengurus paspor dan visa, hingga mempersiapkan diri hidup di Jepang. Hanya saja, format penyampaiannya terasa sedikit membosankan bagi pembaca yang hanya ingin mengenal Jepang karena terlalu formal dan tektual. Mungkin akan lebih menarik jika poin tersebut disampaikan dengan tampilan layout yang lebih menarik. Pembaca yang berminat ke Jepang layak untuk mencari buku ini, karena selain isi lengkap juga terdapat peta rute transportasi yang akan sangat membantu bagi siapa pun yang ingin menjelajah negeri Sakura.

Judul : Panduan Sukses Orang Indonesia di Jepang
Penulis : Nurul Asmayani
Penyunting: Ikhdah Henny
Penerbit : B First
Terbit: Cetakan Pertama, Januari 2011
Tebal : viii + 192 halaman


lintasberita

Lanjut Baca

Buku Have a Little Faith - ulasan

Have a Little Faith (Sadarlah)Have a Little Faith by Mitch Albom

My rating: 4 of 5 stars

Paperback, 284 pages
Published November 2009 by Gramedia Pustaka Utama (first published September 16th 2009)
ISBN13: 9789792251142



Tidak satupun manusia yang tahu kapan waktunya di dunia fana ini akan usai. Kemisterian mengenai ada apa setelah hidup di dunia ini, mungkin sama halnya dengan misteri mengenai bagaimana rupa Sang Pemberi hidup.

Awalnya adalah sebuah pertanyaan, dan menjadi pertanyaan terakhir
"Maukah kau menyampaikan eulogi untukku?"
Pertanyaan itu disampaikan oleh seorang Rabi/Guru/Pendeta/Pastor/Pemimpin Agama kepada Mitch Albom.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, eulogi berarti:

1. ucapan atau tulisan yg memuji atau menghormati seseorang, terutama yg sudah meninggal dunia;
2. penghargaan atau pujian yg tinggi.

Kadang kita merasa aneh dan seringkali dalam percakapan sehari-hari sangat menghindari topik tentang kematian. Saya pernah menyanyikan lagu dalam bahasa batak yang dulu sering diputar dalam kaset. petikannya begini, "Nasa jolma ingkon mate do, molo dung tingkina ingkon ro." Terjemahannya kira-kira seperti ini, "Setiap orang memang harus mati, jika memang waktunya tiba." Saya langsung mendapat protes dari mendiang Ompung Boru (nenek) saya. "Unang songoni" beliau langsung berucap spontan demikian.

Seperti Novel-novel yang ditulis oleh Mitch sebelumnya, novel ini merupakan kisah nyata yang ia tulis karena ia sendiri mengalami suatu pembelajaran atau pencerahan setelah ia merasakan pengalaman spiritual dengan orang lain atau sahabat dekatnya.

Dalam buku ini, Mitch menggambarkan dirinya yang sedang dilanda kebingungan ketika ia diminta untuk menyampaikan eulogi kelak ketika Rabi di sinagoga (Sinagoga adalah nama tempat ibadah bagi orang Yahudi)-nya meninggal dunia. Rabi-nya bernama Albert Lewis. Albert Lewis merintis dan memimpin sebuah sinagoga di kota New Jersey, yang juga adalah tempat kelahiran Mitch. Sewaktu kecil, Mitch sangat menghindari Reb-panggilan buat Rabi Albert Lewis- karena baginya sangat membosankan kelas-kelas agama yang dibawakan oleh Reb. Namun kenapa mesti Mitch? Setelah Mitch menanjak karirnya sebagai repoter olahraga dan pergi meninggalkan kota kelahirannya, ia tetap menjadi jemaat sinagoga di kota kelahirannya alias di tempat perantauan, ia pun tidak mencari atau tidak pernah mendaftar menjadi jemaat di gereja lain. Mungkin itulah kesamaanya, bahwa Mitch hanya memiliki satu rabi sejak dilahirkan, yaitu Reb Albert Lewis, dan Reb mempunyai jemaat.

Persiapan membuat eulogi memakan waktu yang cukup lama. Delapan tahun Mitch mengunjungi Reb Albert dari kota tempat tinggalnya di Detroit. Hari-hari ketika ia mengunjungi Reb-nya adalah hari-hari dimana ia belajar tentang hidup, menghargai sesam, mencukupkan dengan apa yang ada, membenci peperangan, menelepon seseorang dengan ramah dan bersahabat, menerima kehilangan sebagai suatu bentuk rasa syukur, dan banyak pelajaran hidup lainnya.

suatu percakapan yang menarik antara Mitch dan Reb Albert,

Jadi (Reb), sudahkah kita menyimpulkan rahasia kebahagiaan?
"menurutku begitu."
Apakah Anda akan memberitahu saya?
"Ya. Siap?"
Siap.
"Merasa cukup."
Itu saja?
"Penuh rasa syukur."
Itu saja?
"Atas apa yang kita miliki. Atas cinta yang kita terima. Dan, atas segala yang telah Tuhan berikan kepada kita."
Hanya itu?
Ia menatap mataku. Lalu menghela napas panjang.
"Hanya itu."


Di kota tempat tinggalnya, Detroit, Mitch juga menemukan sebuah gereja yang menyiapkan gedungnya bagi para tunawisma di kota itu. Dalam masalah kepercayaan dan keyakinan, Mitch sebelumnya memiliki pandangan bahwa ada "kami" dan "mereka." Namun, suatu percakapan antara mereka berdua kembali mengubahkan cara pandangnya akan hal itu

....
"Tapi bagaimana kalau seseorang dari keyakinan lain tidak mau mengakui keyakinanmu? Atau, menginginkan dirimu mati karena keyakinanmu?
"Itu bukan keyakinan. Itu kebencian."Ia menghela napas.
"Dan, jika kau bertanya kepadaku, Tuhan ada di atas sana dan menangis ketika itu terjadi."


Mitch akhirnya berkenalan dengan pemimpin gereja yang bernama Gereja I Am My Brother's Keeper, Henry Covington. Gereja itu memiliki misi untuk menampung orang-orang yang tunawisma. Kala itu, di Detroit sedang terjadi krisis ekonomi parah. Banyak perusahaan yang bangkrut, dan banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan tempat tinggal yang layak. Henry mengambil inisiatif untuk menampung orang-orang tersebut di gereja. Mitch juga mengambil peran dengan turut membantu membeli terpal plastik untuk mengantisipasi kebocoran jika hujan, dan Mitch menulis artikel di surat kabar mengenai gereja itu, dengan kegiatan sosialnya yang menampung tunawisma. Akhirnya, banyak orang yang ikut menyumbang pakaian bagi mereka, dan salah satunya adalah perusahaan gas yang memasok uap panas di kala musim dingin menyerang kota itu, akhirnya bersedia supaya tunggakan tagihannya selama ini ke gereja tersebut dibayar secara bertahap.

Apa yang dipelajari Mitch dari Henry Covington pada dasarnya adalah manusia hidup bukan karena masa lalu, tapi masa sekarang ini dan seterusnya. Henry sebelumnya adalah pengedar narkoba yang sehari-hari bergelut dengan bahaya dan kematian. Sampai suatu hari, ketika merasa nyawanya terancam karena dikejar mafia, ia berseru kepada Tuhan akankah ia masih melihat hari esok, jika iya, maka ia akan mengabdikan sisa hidupnya untuk bertobat dan berbalik dari jalan hidupnya sebelumnya. Henry akhirnya membuka suatu rumah singgah, berjalan dari suatu tempat ke tempat lain untuk membagi-bagi makanan kepada mereka yang tidak memiliki rumah tinggal, mengumpulkan mereka dan membentuk persekutuan "I Am My Brother's Keeper." Dalam penilaiannya terhadap Henry, Mitch masih sering membandingkannya dengan Reb Albert, dimana Reb dari masa dulunya adalah seorang yang memang baik dan hidupnya tidak pernah tercemar, sementara Henry sebaliknya, yang seorang bandar narkoba dan terlibat banyak kejahatan. Namun suatu permenungan yang mendalam membuatnya berpikir ulang akan apa yang dipikirkannya.

...
"Tidak." ia menggelengkan kepalanya."Kau (Mitch) tidak dapat merintis jalan ke surga. Setiap kali kau mencoba dan membenarkan diri dengan berbagai pekerjaan, kau sedang membuat dirimu tak pantas kesana. Apa yang kulakukan disini, setiap hari, sepanjang hidupku, hanyalah caraku mengatakan, 'Tuhan, apa pun yang akan kualami di alam keabadian nanti, biarkan aku mengembalikan semuanya kepada-Mu. Aku tahu semua itu bahkan tak sepadan. tetapi biarkan aku melakukan sesuatu dengan hidupku sebelum aku pergi..."
"Dan kemudian, Tuhan, aku menyerahkan diri pada belas kasihan-Mu"


Kondisi tumor ganas yang ikut menyerang paru-paru Reb Albert, menyebabkan Reb harus masuk rumah sakit. Suatu kali ia koma, tidak sadarkan diri beberapa hari. Seiring dengan usia yang menua, tumor itupun berkurang keganasannya, mungkin sama-sama letih antara menyerang dan bertahan. Di menjelang akhir hidupnya, Reb dan Mitch banyak membicarakan kehidupan setelah kematian. Firdaus, Moksha, Valhalla, Nirwana, dan dunia berikutnya adalah landasan semua keyakinan. Kesanalah tiap manusia berharap. Dan Mitch menanyakan kepada Reb,

"Apakah kau akan bertemu dengan Rinah (putrinya yang meninggal karena gangguan pernafasan pada usia 4 tahun)lagi?"
Jawabnya, "Ya. benar."
kata Mitch lagi,"tetapi ia hanyalah anak."
Ia berbisik," Di atas sana, waktu tidak berlaku."



Akhirnya waktunya tiba. Reb Albert pergi dengan tenang, ketika saat itu ia bersenandung dengan perawatnya ketika dimandikan, dan senandung itu berhenti selama-lamanya.

Permintaan ditunaikan, eulogi disampaikan. Dalam eulogi-nya, Mitch menyampaikan bahwa bukanlah eulogi itu sendiri yang menjadi alat untuk mengenal lebih jauh Reb Albert. Persiapan membuat eulogi itu memakan waktu delapan tahun. Delapan tahun mengenal sisi lain seorang Rabi diluar kehidupannya di sinagoga. Delapan tahun yang membuat Mitch banyak terinspirasi dengan kisah-kisah hidup Reb Albert. Delapan tahun mempelajari arsip tentang Tuhan yang sudah dikumpulkan oleh Reb. Saatnya tiba untuk mengucapkan selamat jalan kepada Reb, sampai bertemu kembali.

Dan inilah inti kebersamaan Mitch bersama Reb dan Henry: bukan kesimpulan, tetapi pencarian, pembelajaran, perjalanan menuju keyakinan (hlm 262).

Seperti buku-bukunya yang lain, yaitu banyak mengulas tentang pengalaman pribadinya dengan orang-orang yang tadinya tidak dekat, namun suatu kesempatan yang membuatnya bertemu dan berkenalan lebih dalam, serta menulis pengalaman tersebut dalam buku yang memberi inspirasi. Kala membaca buku ini, saya menjadi teringat pada apa yang dikatakan Anthony de Mello,
Seandainya Anda benar-benar mendengar seekor burung berkicau, seandainya Anda benar-benar melihat sebatang pohon
Anda akan mengerti melampaui segala kata dan konsep
Yang Anda lihat itu pohonnya atau labelnya?
Jika Anda memandang sebatang pohon dan melihat sebatang pohon, Anda benar-benar belum melihat pohonnya
Jika Anda memandang sebatang pohon dan melihat sebuah keajaiban, nah, barulah Anda, akhirnya, melihat!
Pernahkah hati Anda dipenuhi rasa takjub nan tak terkatakan tatkala mendengar seekor burung berkicau?

@HWS
11042010

lintasberita

Lanjut Baca

Buku The Professor and The Madman - ulasan

The Professor and The Madman: Sebuah Dongeng tentang Pembunuhan, Kegilaan, dan Pembuatan Oxford English DictionaryThe Professor and The Madman: Sebuah Dongeng tentang Pembunuhan, Kegilaan, dan Pembuatan Oxford English Dictionary by Simon Winchester

My rating: 4 of 5 stars

Paperback, 342 pages
Published 2006 by Serambi (first published 1998)
ISBN 9791112533


Saya sampai lupa dimana buku ini dibeli, sempat mengintip review dari teman GRI, saya baca reviewnya Pak Tanzil, dan memutuskan membaca buku ini. Saya salah. Tadinya saya mengira buku ini adalah novel, ternyata buku ini adalah semacam "pengantar" pada suatu kisah besar penciptaan kamus yang dianggap termashyur abad ini, yaitu The Oxford English Dictionary (OED).

Ditulis oleh Simon Winchester, Ia lahir di London Utara pada 28 September 1944, terlahir sebagai anak tunggal Bernard and Andrée Winchester (née deWael). Ia adalah seorang jurnalis yang juga alumni dari Oxford University dari jurusan Geologi. Selepas dari Oxford, ia bekerja di perusahaan pertambangan Kanada, Falconbridge dan bertugas sebagai geologist lapangan di pertambangan Uganda, Afrika. Selanjutnya ia menjadi junior reporter di The Journal. Kegemarannya traveling dan profesi sebagai jurnalis membawanya pada tempat-tempat menarik di dunia. Dari situs Wikipedia diketahui, bahwa selama kurun waktu 1980 hingga 1990 an ia menulis beberapa buku travel di Asia Pasifik.

Buku kecil ini memceritakan secara singkat apa dan bagaimana Kamus yang tersohor di seluruh dunia, The Oxford English Dictionary ada. Sejarah penulisan kamus ini terbilang sangat panjang. Revolusi industri yang ditandai dengan penemuan mesin uap oleh James Watt, tampaknya berpengaruh pada suatu bentuk identitas Inggris sebagai muara ilmu pengetahuan, termasuk diantaranya di bidang linguistik. Pada awal abad 19, hanya Inggris yang di negara Eropa yang belum memiliki kamus bahasa. Negara Eropa lain seperti Jerman, Italia, Perancis, sudah lebih dulu "mengawetkan" bahasa mereka, bahkan sampai mendirikan institusi untuk mengontrol integritas bahasa (Hlm 133).

Mungkin hampir mirip dengan yang kita kenal sekarang semacam standar operasi atau standar profesi. Kebutuhan kamus tersebut muncul karena pada masa akhir abad 17, penulis menulis tanpa panduan sama sekali. Penulis sekaliber Shakespeare pun tidak punya argumentasi logis mengapa ia menggunakan kata "In the south suburbs at the Elephant/Is best to lodge" (Hlm 124) pada karya Twelfth Night.

Singkatnya, tidak ada panduan yang tercetak mengenai bahasa, tidak ada vade mecum linguistik, tidak ada satu buku pun yang bisa dijadikan referensi oleh Shakespeare atau Martin Frobisher, Francis Drake, Walter Raleigh, Francis Bacon, Edmund Spencer, Christopher Marlowe, Thomas Nash, John Donne, Ben Johnson, Izaak Walton, atau siapapun pada masa itu (Hlm 123).

Namun, bukan berarti tidak ada kamus pada zaman itu. Jika ada kata yang digunakan oleh sastrawan di atas, belum ada kamus yang bisa pada tahap menetapkan, mendefinisikan, dan memapankan penggunaan kata tersebut. Ada berbagai buku yang berfungsi kurang lebih sebagai kamus, antara lain Dictionarius pada tahun 1225. Di tahun 1538, kamus Latin-Inggris disusun oleh Tomas Elyot, A Shorte Dictionaire for Yonge Beginners disusun oleh Withal, A Table Alphabeticall ... of hard unusual English Words, disusun oleh Robert Cawdrey. Definisi yang diberikan buku tersebut kurang memuaskan, beberapa kamus menyadurkan satu kata sinonim atau sinonim yang kurang memberikan penjelasan yang memadai (Hlm 131).


Samuel Johnson (September 1709 December 1784)) menerbitkan A Dictionary of the English pada Tahun 1746, yang dianggap sudah berhasil memotret bahasa Inggris dengan segala kemegahan, keindahan, dan kerumitannya. Kamus ini cukup terkenal di Inggris hingga ke Amerika. Inilah karya yang menjadi titik tolak bagi sejarah bahasa Inggris untuk menerbitkan suatu standar bahasa nasional Inggris. Para pakar bahasa menyatakan pentingnya bahasa harus diberi martabat dan penghormatan yang setara dengan standar lain. Pada masa itu, di dunia sains para ilmuwan sedang bertanya, seberapa panas air mendidih? Para musisi sedang mendefinisikan bagaimana standar C mayor atau C minor. Selain itu, Pemerintah Inggris membentuk suatu badan yang bertugas membuat garis bujur untuk kepentingan pelayaran dan perdagangan. Badan itu dinamakan The Board of Longitude yang lebih populer dengan nama The Commissioners for the Discovery of the Longitude at Sea (1714-1828). Para tokoh sastra menganggap, jika garis bujur saja pemerintah begitu berkepentingan, pendefinisian warna, panjang, massa itu vital, mengapa bahasa nasional tidak diberi tempat yang sama?

Berbagai perdebatan muncul. Ada yang mengkritik, tetapi ada yang berinisiatif bekerja keras mulai menyusun mimpi itu. Johnson membentuk tim untuk mulai bekerja mengumpulkan kata demi kata dari seluruh karya sastra yang bertitik tolak pada terbitan tahun 1586 karena dianggap sastrawan pertama yang terbaik pada saat itu, Sir Philip Sidney meninggal pada 1586. Metodologi yang digunakan oleh Johnson adalah sebagai berikut: Membaca buku-buku, menggarisbawahi serta melingkari kata-kata, membubuhi kata-kata dengan catatan, dan menyuruh pembantunya untuk menyalin di atas slip kertas kalimat lengkap berisi kata yang diseleksi (Hlm 145).

Siapa yang disebut The Professor?

The Professor adalah James Murray (7 February 1837 – 26 July 1915). Ia adalah seorang Scottish lexicographer and philologist. Pada usia 17 tahun sudah mengajar bahasa Inggris di Hawick Grammar School dan tiga tahun kemudian menjadi kepala sekolah di sana. Dalam usia 32 tahun di 1869, ia menjadi anggota Philological Society, suatu organisasi yang beranggotakan ahli bahasa (filologist). James Murray melanjutkan proyek pembuatan kamus yang sudah digagas oleh Richard Chevenix Trench. Idenya adalah merekrut ratusan ribu amatir yang semuanya bekerja sebagai voluntir, yang bekerja mencatat setiap kata dari sumber manapun untuk diseleksi oleh tim editor yang sudah ditentukan. Trench berfilosofi bahwa setiap kamus besar yang baru harus merupakan produk demokrasi, buku yang memperlihatkan unggulnya kebebasan individu, pengertian bahwa seseorang dapat memakai kata-kata secara merdeka, tanpa ditundukkan aturan leksikal yang kaku (Hlm 159). Berikut ini gambar Murray di Scriptorium di Banbury Road, tahun 1880-an. Perhatikan banyak sekali kertas-kertas yang ada dilemari.

description

Sebelum James Murray sudah ada nama-nama seperti Frederick Furnivalll dan Herbert Coleridge. James Murray ditunjuk oleh Furnivall untuk menjadi kepala editor. Ia membuat tempat yang bisa menampung ribuan slip kertas dari voluntir, untuk diklasifikasikan dan diseleksi. Selanjutnya hasil seleksi tersebut dibuat secara alfabet dan ditawarkan ke penerbit, antara lain ke Macmillan dan Oxford. Oxford saat itu dinilai pelit, sok intelek, dan sering merendahkan orang (Hlm 165). Bagaimana bisa sampai ke Oxford, silahkan dibaca lebih lanjut pada bagian "Konsep Kamus Besar".

Lalu Siapa yang disebut The Mad Man?

Tokoh inilah yang "sengaja" diangkat oleh Simon Winchester, karena namanya tenggelam oleh nama besar Sang Founding Father. Yang dimaksud adalah seorang leksigrafer amatir yang terpelajar namun mengalami gangguan jiwa. Ia bernama Dokter (Purnawirawan) Kapt. US Army, William Chester Minor (Juni 1834 - 26 Maret 1920). Penelusuran pada tokoh ini sangat mengejutkan, ia adalah seorang ahli bedah tentara Amerika yang banyak memberikan kontribusi ilmiah ke OED, sementara ia ada di rumah sakit jiwa. Inilah foto beliau, yang bersumber dari Wikipedia, sama dengan foto yang ada di cover buku.

description


Mengapa ia menderita sakit jiwa, itu dipaparkan oleh Winchester di bagian "Sarjana di Blok Muda." Secara ringkas, Minor adalah seorang anak dari keluarga misionaris, belajar kedokteran di Yale university, dan selanjutnya masuk US Army. Pengalaman buruk ketika bertugas di Wilderness, ia membubuhkan cap dari besi panas pada seorang serdadu Irlandia yang diduga desersi. Ia begitu frustasi bila mengingat hal itu, dan itu mempengaruhi kejiwaannya. Ia keluar dari ketentaraan dan memilih pergi ke Inggris, ke tempat nenek moyangnya. Suatu saat ia membunuh George Merret, seorang buruh di Inggris, karena Minor merasa terancam ketika melihat Merret. Artikel Simon Winchester mengenai William Minor dapat dilihat disini

Hukumanpun dijatuhkan, namun berhubung Minor mengidap penyakit kejiwaan-yang saat itu belum dapat diidentifikasi-, ia mendekam di rumah sakit jiwa (asylum) di Broadmoor. Namun, ada kalanya ia bersikap santun dan waras. Berhubung ia adalah pensiunan tentara Amerika, ia mempunya uang yang cukup untuk membangun perpustakaan pribadi di kamar di Rumah Sakit Jiwa tersebut. Suatu hari ia menerima selebaran yang meminta kesediaan sebagai voluntir OED. Ia menyambut baik, koleksi bukunya sangat banyak dan sangat beragam. Ia menjadi kontributor yang paling setia dan kata-kata yang dikirimkannya selalu lolos dari editor.

James Murray merasa perlu bertemu langsung dengan kontributornya itu. Sebab selama ini hanya surat dan goresan pena yang diterimanya dari Minor. Ada suatu kisah pertemuan mereka yang (masihkah?) menjadi mitos, ditulis pada awal buku ini.

Hasilnya bisa dilihat sekarang, ternyata Kamus yang legendaris sepanjang masa itu dibuat oleh kumpulan orang-orang yang rela dan gigih, terlebih mencintai pekerjaannya. Dan untuk itu, kerja keras mereka dapat dinikmati oleh pengguna ilmu pengetahuan bahasa hingga kini.

Penutup
Seperti yang ditulis oleh Simon Winchester pada kata pengantarnya, bahwa ia tertarik menulis buku ini, karena ia membaca buku karangan Elizabeth Murray, Caught in the Web of Words. Mungkin karena ia seorang jurnalis, ia akan menghubungkan tokoh dan peristiwa, seperti halnya buku di atas, bahwa James Murray adalah Founding Father-nya OED.

Buku ini sangat bagus, terutama penyajiannya yang ringan khas reportase jurnalis modern. Dari kisah ini ada nilai-nilai yang bisa dijadikan pelajaran,
1. Minor menebus rasa bersalahnya karena membunuh George Meret dengan menyantuni jandanya. Apa dampaknya? Nilai meminta maaf dan mengampuni memiliki dampak besar. Mrs. Merret mengunjungi Minor secara teratur di Broadmoor, dan juga membawakan Minor buku-buku dari pedagang antik di London. Bisa dikatakan, Mrs. Herret turut berandil dalam penyusunan kamus Oxford.
2. Keadaan ironis, dimana karya besar dilahirkan dari tempat yang tidak kondusif, yakni rumah sakit jiwa. Penyakit jiwa yang dialami Minor, tentunya dulu tidak ditangani dengan ilmu psikiatri modern. Bila ia dirawat dengan benar, niscaya ia tidak akan menghasilkan sumbangan bermutu terhadap kamus Oxford. Dalam sudut pandang tertentu, Minor menggarap kamus tersebut sebagai terapi atas penyakit jiwa yang dideritanya. Ini menunjukkan suatu perjuangan Minor yang tidak menyerah pada keadaan yang paling sulit sekalipun untuk tetap berkarya,

Terjemahannya juga relatif bagus, namun ada juga beberapa kalimat yang kurang enak dibaca, dan karena itu saya kurangi bintangnya satu.
regulasi Kanto Pos (hlm 201)

Pada akhir buku, Simon menambahkan beberapa buku lain yang menjadi rujukan:

- Chasing the sun: dictionary makes and the dictionaries they made oleh Jonhattan Green
- MURRAY, K. M. ELISABETH: Caught In The Web Of Words: James Murray And - The Oxford English Dictionary. Yale University Press. New Haven and London: 1978.
- Empire of Words_The Reign of the OED oleh John Willinsky
- The Battle of Wilderness oleh Gordon C Rhea
- The American Heritage of the Civil War oleh Brice Catton dan James M. Macpherson.
- London: A Social History oleh Roy Porter

Buku yang berkaitan dengan kejiwaan:
Origin of Mental Illness oleh Gordon Claridge
Master of Bedlam oleh Andrew Scull

Bagi saya, buku Winchester ini adalah pengantar yang menggoda.

@HWS01092010

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Books and Me - ulasan

I always love books since I was very young. When I was nine, we lived in a small town in Kalimantan close to the beach. It was a great time. The world was not as busy as now. After school, I spent my time looking for small fish and shell, trying the the fisherman’s boat, and enjoying the beach view from the bedroom window in the evening. In the small road beside the house, Dayak’s women with
lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar