Children of Roses | Buku Bagus

Children of Roses


Jika engkau mencabut tanaman dari tanah aslinya, ia akan mati. [h.163]

Kalimat di atas saya ambil karena memang sangat menggambarkan isi dari novel “Children of Roses”. Berlatarkan kehidupan perang Gaza yang dideskripsikan cukup apik, penulis menuangkan berbagai adegan monolog yang beraroma filsafat dalam cerita. Menarik, sekaligus ‘nendang’.

Dikisahkan seorang pemuda Palestina, Wail, yang lebih memilih meninggalkan tanah airnya dan kematian 'abadi' untuk meraih kesempatan hidup yang menurutnya lebih manusiawi di Amerika. Perjumpaannya dengan Jean, perempuan Amerika yang cinta mati kepada Wail hingga rela ‘ngambek’ demi memaksa orang tuanya membawa Wail keluar dari Jalur Gaza. Peluang ini yang kemudian oleh Wail dimanfaatkan setelah dia merasa muak dengan kehidupan di ranah penuh peperangan tersebut.

Wail pun rela menentang pikiran, hati nurani, dan cintanya dengan Negeri Palestina. Bahkan lebih memilih meninggalkan ibu, Ali dan Hayat, keluarga yang sangat-sangat dia cintai demi mendapatkan limpahan dolar dengan cita-cita kelak ingin memboyong mereka dari kesengsaraan hidup. Namun, seperti yang diduga, keinginan Wail mendapat tentangan dari keluarganya yang menilai hidup adalah jihad. Mati syahid lebih berharga dibandingkan kehidupan itu sendiri.

Wail sendiri memandang bahwa kehidupan adalah anugerah yang tidak bisa begitu saja ‘dibuang’. Ada masa depan dari kehidupannya yang dinilainya lebih layak dan manusiawi dibandingkan mendengar peluru-peluru berdesing, melihat bocah-bocah dilindas truk, pemuda-pemuda bersimbah darah. Keputusan Wail pun semakin bulat, dan menilai keluarganya nanti akan tahu bahwa keputusannya tidaklah salah.

Namun, seiring perjalanannya menuju ke Amerika, pergulatan hati dan pikiran terus mengikuti, bayangan saudara dan sahabat perjuangannya terus mengintai hingga membuat hatinya melakukan pertempuran monolog yang nyaris membuatnya stres, bahkan tak ayal membuatnya mencoba mencekik lehernya sendiri. Rasa frustasi atas pemikiran dan pertanyaan-pertanyaan yang menumpuk di kepalanya pun semakin mengalir saat dia duduk bersama seorang peneliti dan penulis asal Amerika, Helen Gern, yang telah jatuh cinta dengan dunia Arab.

Kegundahan hati inilah yang terus berkecambuk dalam hati Wail. Palestina adalah tanah airnya, ketika beranjak pun, Palestina tetap akan menghantui dimanapun dia berada. Kepedulian, kecintaan, dan nasionalisme terus membombardir pembenaran-pembenaran semu yang dilakukan oleh Wail.

Hampir 95% buku ini berisikan monolog Wail dan dialog tentang kehormatan, politik Israel, hakikat hidup, kematian, jihad, peperangan dan cinta. dan hampir semuanya mengandung kestresan dan kebingungan tokohnya atas pilihan yang dia ambil. Saya sendiri terkadang juga dibuat agak ekstra keras menyerap berbagai pemikiran dan pertanyaan yang berhamburan dari Wail maupun dialognya dengan Helen Gern. Namun, saya juga menikmati perdebatan isi kepala Wail, antara pembenaran yang diciptakannya dengan kenyataan nasionalisme yang harus diembannya.

Namun, sepanjang kenikmatan membaca buku, saya dibuat bingung dengan alur cerita. Alurnya maju-mundur, terutama di beberapa bagian saat Wail diinterogasi tentara Israel, saya bingung dengan ‘posisi’ cerita ini, apakah sebelum atau sesudah Wail memutuskan ke Amerika? Saya juga tidak menangkap alasan, mengapa Wail begitu sangat "berharga" di mata tentara Israel sehingga dalam proses interogasi nyawa Wail harus tetap dipertahankan. Saya hanya menangkap penjelasan bahwa Wail berbeda dari teman-temannya yang lain. Berbedanya dimana?

Kebingungan ini sedikit mengganggu saya, tapi terlepas dari itu emosi dan kegundahan yang dibangun penulis pada tokoh-tokohnya bisa saya tangkap dan rasakan.

Judul : Children of Roses
Penulis : Jehad Rajby
Penerjemah : Ibnu Mahrus
Penerbit : Edelweiss
Terbit: Cetakan Pertama, Februari 2009
Tebal : 240 halaman

lintasberita

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar