Belajar Kebajikan dari Sang Nabi | Buku Bagus

Belajar Kebajikan dari Sang Nabi

*Update*
Resensi ini meraih juara I. Alhamdulillah. Terima kasih.
------------------
Resensi ini sedang ikut dilombakan yang diadakan oleh penerbit Zaman. Semoga saja jadi jawara, karena hadiahnya (berupa buku senilai Rp.350.000) akan saya sumbangkan ke perpustakaan yang ada di kampungku.
------------------
Judul: Bilik-Bilik Cinta: Kisah Sehari-Hari Rumah Tangga Nabi
Penulis: Dr. Nizar Abazhah
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: I, 2009
Tebal: 384 hlm.
------------------

George W. Burns, seorang ahli psikoterapi yang berpengalaman di bidang psikologi klinis memaparkan bahwa cerita dapat memiliki kekuatan yang dahsyat, yakni menumbuhkan sikap disiplin, membangkitkan emosi, memberi inspirasi, memunculkan perubahan, menumbuhkan kekuatan pikiran-tubuh, dan bahkan menyembuhkan. Dengan adanya cerita yang kita bagikan kepada orang lain akan menawarkan pilihan yang menyenangkan hati, baik anak-anak maupun orang dewasa. Topik apa pun menjadi hidup saat disampaikan dalam bentuk cerita. Di samping itu, orang-orang di semua usia mudah mengingat informasi jika disandikan dalam cerita.

Buku Bilik-Bilik Cinta: Kisah Sehari-Hari Rumah Tangga Nabi merupakan salah satu topik yang disampaikan melalui bentuk cerita. Di dalamnya adalah pelbagai kisah keseharian Nabi Muhammad Saw. yang kerap kita abaikan begitu saja. Karya Nizar Abazhah ini, memuat aspek religius (agama), pedagogik (pendidikan), dan psikologis. Oleh karena itu, buku ini begitu efektif untuk dijadikan sarana transformasi nilai-nilai positif kepada sang pembaca.

Empat belas abad yang silam, Nabi Muhammad Saw. wafat, tetapi namanya tetap semerbak dan terukir abadi di hati kaum muslim. Sejarah kehidupannya yang jernih tak hentinya mengalir memberikan kesejukkan, mengobati dahaga sekaligus cermin bagi manusia sepanjang masa. Hal yang menjadi pertanyaan dasar, apa sesungguhnya rahasia besar di balik pesona keagungan perilaku Rasulullah Saw. tersebut? Buku karangan Nizar Abazhah berusaha menjawabnya

Ketika Aisyah r.a ditanya tentang akhlak Nabi Saw., ia menjawab.” Akhlak beliau adalah Alquran.” Jawaban yang simpel tapi mempunyai makna yang dalam. Alquran merupakan sumber dari nilai akhlak dan kenyataannya bisa dilihat dari perilaku (sunnah) Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari- hari.
Kebesaran Rasulullah baik sebagai Rasul ataupun pemimpin sama sekali bersih dari kultus dan pemitosan. Beliau bukanlah manusia “sakti mandraguna”. Secara lahiriah beliau manusia biasa dari kalangan kebanyakan. Yang membedakan Rasulullah dari manusia lain adalah posisinya sebagai pembawa wahyu. Allah berfirman, ”Katakanlah bahwasannya aku (Muhammad) hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasannya Tuhan kamu adalah Tuhan yang satu. Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju pada-Nya…”(QS. Fushshilat: 6).

Sebagai manusia, Rasulullah Saw. mampu mengimbangi keluhuran posisinya sebagai pemimpin dunia dengan sikap tawadhu (rendah hati). Saat melihat seorang sahabat yang menghadapnya tampak gemetar, beliau menegurnya dengan lemah lembut penuh kearifan. “Kenapa kamu ketakutan? Aku bukan seorang raja, aku hanya anak seorang perempuan suku Quraisy yang makannya dengan daging yang dikeringkan (sebuah makanan kalangan orang miskin Arab.”

Selain, Alquran dan Hadits, Rasulullah mewarisan keteladanan hidup yang luhur. Buku ini adalah salah satu buku panduan untuk meneladani kehidupan Rasulullah Saw. Nizar Abazhah menyampaikan contoh-contoh keteladanan Rasulullah seperti, kerendahan hatinya, kesederhanaannya, kedermawanannya, kasih sayangnya dan lain-lain.

Beberapa contoh dapat kita simak. Suatu ketika Rasulullah mendatangi rumah Fatimah, putrinya, dan bertanya, “Di mana kedua cucuku?” Fatimah kemudian menjawab bahwa Hasan dan Husain ikut ayahnya bekerja di rumah seorang Yahudi.

Rasulullah pun segera mendatangi rumah orang Yahudi yang disebutkan. Ketika sampai di rumah yang dituju, Rasulullah mendapati Ali yang sedang bekerja beserta kedua anaknya. “Wahai Ali,” sapa Rasulullah, “Tidakkah kau bawa anakmu pulang, sebelum terik matahari menyengat mereka?”

“Wahai Rasulullah,” jawab Ali, “hari ini kami tidak memiliki apa pun untuk dimakan. Karenanya, biarkan kami bekerja di sini sampai dapat mengumpulkan makan untuk kami makan sekeluarga.”

Rasulullah pun segera membantu Ali, dengan menimba air untuk mendapatkan kurma. Satu ember air mendapat upah satu kurma, sampai akhirnya terkumpul beberapa kurma, dan cukup untuk dimakan sekeluarganya. Baru Rasulullah pulang bersama mereka.
Dalam bab Hidup Sederhana, Abazhah mencontohkan tempat tidur sang Nabi. Bila merasa lelah, Nabi merebahkan diri di atas tikar daun kurma; tikar kasur yang menorehkan bekas di lambungnya. Suatu hari seorang wanita Anshar berkunjung ke rumah Aisyah. Begitu pandangannya jatuh ke alas tidur Rasulullah yang keras, ia merasa iba. Kemudian ia mengirimkan alas tidur wol. Tetapi, setelah terlihat oleh Nabi, beliau menganggapnya sangat mewah, dan menyuruh Aisyah mengembalikan kepada pemiliknya sembari bersabda: “Kembalikan itu! Demi Allah, kalau kumau, Allah pasti memberiku bergunung-gunung emas dan perak.”

Dalam contoh yang lainnya, disebutkan bahwa Aisyah berkata, “Tak pernah Rasulullah kenyang tiga hari berturut-turut. Padahal, kalau mau, kami bisa kenyang. Tetapi, beliau lebih memilih mendahulukan orang lain”.

Berbahagialah umat Islam yang mempunyai teladan Rasulullah Saw., seperti yang dicontohkan di atas. Dalam menjalani kehidupan ini mestinya kita lebih sabar, sederhana, bijaksana, saling mencintai, berpikir logis dan beberapa hal yang menuju pada kebaikan hakiki di mata Allah Swt.

Sungguh demikian penting bagi setiap diri muslim untuk meneladani sifat-sifat Rasulullah itu karena itu pula yang akan menjadi penuntun baginya dalam menjalani kehidupan ini. Sikap dan akhlak diri Nabi Muhammad Saw. adalah acuan yang paling mantap dan bisa dipertanggungjawabkan karena telah menjadi suri tauladan yang paling baik bagi setiap Muslim dan Muslimah di sepanjang sejarah hidup umat manusia.

Melalui potongan-potongan kisah kehidupan Muhammad, buku ini mengajak Anda “berdekatan” dengan Rasulullah yang dipuji Allah sebagai manusia berakhlak paling mulia. Anda akan merasakan keindahan cinta, persaudaraan, dan kebajikan yang beliau tuntunkan. Tanpa terasa, tetes-tetes wewangian akhlak sang Nabi akan meresap ke dalam hati Anda dan melembutkannya.

Buku ini merupakan “sahabat” bagi setiap Muslim yang ingin memperharum akhlaknya dengan meneladani Nabi Muhammad Saw.***

M. Iqbal Dawami
Staf pengajar STIS Magelang, blogger buku di http://buku-ok.blogspot.com


lintasberita

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar