Buku Coming Home - ulasan

Coming Home
Sefryana Khairil
Gagas Media
328 hlm

Rayhan datang ke Yogyakarta bersama anak semata wayangnya, Kirana, mencoba memulai hidup barunya berdua. Tak punya pekerjaan, sementara ada anak yang harus ia beri makan. Kehidupannya kacau sejak berbagai cobaan datang bertubi-tubi.

Amira, datang ke Yogyakarta, 5 tahun yang lalu, mencoba menyembuhkan rasa sakit setelah ia bercerai dengan suaminya. 3 tahun pernikahan, ternyata sia-sia ketika suaminya berselingkuh dan meninggalkannya karena perempuan itu hamil.

Tak disangka, di Yogyakarta Amira dan Rayhan bertemu kembali. Rayhan menyekolahkan Kirana di tempat Amira mengajar. Meskipun Amira berusaha bersikap dingin setiap bertemu Rayhan, ia tak kuasa menahan perasaan untuk tidak menyayangi Kirana, anak Rayha dengan perempuan selingkuhannya.

Tapi hampir setiap hari bertemu Rayhan yang menjemput Kirana, mau tidak mau membuka lagi memori yang ingin dilupakan Amira. Begitu juga dengan Rayhan, yang diam-diam menyadari kebodohon dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Amira. Namun, tak mudah untuk mendapatkan hati Amira lagi. Rasa sakit masih terlalu besar untuk dihilangkan dengan kata ma’af.

Buku kedua Sefryana Khairil yang gue baca, masih berkisar dengan yang disebut ‘domestic genre’, drama rumah tangga yang mengharu biru. Penuh dengan kegalauan dari dua tokoh utama, dua-duanya sama-sama berharap dan takut untuk memulai. Inti cerita ini adalah mema’afkan, mampukan Amira yang ditinggalkan memaafkan Rayhan dan menerima Rayhan kembali?

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Kisah Tentang Perempuan Bernama Keydo - ulasan


Penulis               : Taty Elmir
Penyunting       : Miranda Harlan
Penyunting 
Bahasa Papua   :  GI Dobonoye
ISBN                    : 978-602-8597-60-5
Halaman            : 400
Penerbit            : Qanita


Keydo
Gadis manis  kidal, jahil, ulet, keras hati dan teramat sangat mandiri. Selalu berjuang untuk mendapatkan cita-citanya. Selalu memegang teguh ajaran agama. Piatu sejak kecil walau berlimpah kasih sayang dari sekitarnya. Cita-citanya sungguh mulia ingin membuka taman bacaan.


Kinang
Si kribo gondrong bertubuh atletis  dengan motto hidup Ridendo Dicere Verum,  yang berjuang tanpa lelah demi memperjuangkan cinta sejatinya, Keydo.CInta yang telah mengubah cara pandang lamanya yang linear, taat alur, mekanistik, dan homogen. Jelajah maha berat atas lompatan tak terhingga membuatnya mengenal cinta yang lain, cinta yang memerdekakannya dari perangkap birahi duniawi dan sekat ragawi.

Kisah dalam buku ini  menitikberatkan pada sosok Keydo. Dimulai sejak Keydo kecil hingga akhirnya ia menjalani fitrahnya sebagai seorang wanita, menikah. Keydo adalah sosok perempuan abad 21yang moderen namun tetap memegang teguh ajaran agamanya. Penulis seakan ingin menitik beratkan pada sosok Keydo, seorang aktifis  perempuan yang tak akan pernah lupa akan kodratnya sebagai wanita.Namun kisah lain justru dimulai sejak Keydo tiada. Kisah mengenai sosok Kinang, yang sayangnya tidak atau belum digali  secara luas oleh sang penulis.    Nyaris seluruh isi buku berkisah mengenai sosok Keydo

Awalnya kisah yang ada berjalan dengan datar, cenderung hambar bagi saya. Penulis seakan berupa keras memperkenalkan sosok Keydo yang nyaris sempurna. Bukan dari sisi fisik tapi dari kepandaian, semangat hidup serta terpenting akhlag. Pembaca seakan dipaksakan untuk menelan bulat-bulat sosok Keydo yang tanpa cela. baru belakangan kisahnya lebih menarik

Membaca kisah  kenakalan Keydo saat kecil sungguh menghibur! Misalnya cerita ia ketikaTerawih dengan jahilnya ia merebahkan badan ke kawan di samping kiri bawah… bisa dibayangkan apa yang terjadi! Robohlah satu staf. Tidak berhenti sampai disitu, ternyata staf itu cukup panjang karena disatukan dengan mereka yang sholat di luar.  Barisan sholat tercerai-berai! Ada yang tetap meneruskan sholat, ada yang menyumpah dengan  kalimat yang tak layak diucapkan disana, ada juga yang memilih berhenti.

Kenakalan Keydo tidak hanya  berhenti sampai disana walau ia sendiri setelah itu takut membayangkan hukuman yang bakalan ia jalani. Keydo dengan aksi nekatnya pernah membubarkan satu sekolah hanya gara-gara tidak mau mengikuti ulangan. Kenakalannya harus diganjar dengan serudukan kerbau.


Kisah mengenai para pahlawan di jalan sunyi seperti yang disebutkan di kover, justru menurut saya hanya sedikit dibahas. Yang banyak memang kisah mengenai aktifitas Keydo. Bahkan kisah kasihnya dengan Kinang bisa dibilang juga hanya sedikit.   Padahal mengutip uraian sang penulis sendiri, “Pahlawan akan selalu hadir di sekitar kita. Sangat dekat dengan kita”maka wajarlah jika saya  menganggap kisah para pahlawan masih sangat sedikit dan dangkal mengingat buku ini juga  mengisahkan banyak tokoh yang hebat.


Banyak hal yang masih bisa dieksplor dari kisah Keydo. Banyak pertanyaan dalam diri saya yang masih perlu dicarikan jawabannya. Seperti bagaimana nasib Pak Djoko   setelah kakinya nyaris putus, lalu bagaimana nasib para peserta kegiatan  Zamrud Khatulistiwa yang lain. Bagaimana bisa Keydo yang sudahberulang kali gagal mendapat kesempatan untuk belajar di luar negeri mendadak bisa lolos dengan mudah, bagaimana juga nasih hubungan Keydo dengan keluaga Widi ?

Latar belakang yang digunakan dalam buku ini sering membuat saya meringis. Waduh kampus saya masih disebut dengan nama lama. Situasi yang digambarkan kadang sepertinya terjadi di tahun sekian namun belakangan  ada kejadian lain yang terjadi di tahun yang lebih muda, tentunya hal ini sangat kontras.

Buku ini juga mengisahkan bagaimana politik bisa berwujud aneka ragam. Dari pengajaran ilmu poltik ke para aktivis muda hingga kelakuan kejam seorang reporter asing yang menyaru sebagai korban pesawat jatuh. Ia rela menjadi istri kepala suku hanya untuk memicu permusuhan dan mendapat gambar ekslusif saat kerusuhan.

Di sisi lain, Keydo memberikan banyak pengetahuan mengenai adat istiadat beberapa suku, bagaimana kehidupan bermasyarakat disana. Kita jadi tahu bahwa walau agama sama, namun bagi penduduk kampungnya menikahi orang lain suku dianggap pendurhaka adat dan agama.  Kecenderungan Keydo menggunakan tangan kiri juga sering membuatnya mendapat masalah. Orang kidal sering dianggap kutukan, sehingga apapun yang dikerjakan Keydo selalu dianggap membawa sial.

Pengunaan penyunting Bahasa Papua, bahasa yang banyak digunakan juga dalam buku ini menandakan seriusnya penggarapan novel yang dilakukan oleh sang penulis. Diharapkan dengan adanya peyunting Bahasa Papua maka tidak ada kesalahan yang dapat menyinggung pihak-pihak tertentu, walau  dilakukan tanpa sengaja.  Kesan lebih akrab dan santai juga diharapkan bisa dibangun dengan menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pergaulan sehari-hari antar tokoh.

Adegan yang paling menyentuh buat saya adalah saat Kinang berhasil meraih mimpinya, menjadi suami Keydo. Keteguhan hati Kinang untuk menikah hanya sekali seumur sesuai janjinya saat menikahi Keydo dibuktikan dengan tetap menyendiri hingga belasan tahun Keydo tiada.  Tabah, sabar dan tawakal. Kalimat singkat namun terasa berat dilaksanakan sering didengar Kinang dan disikapi  dengan bijak.

Penulis merupakan ibu dari lima orang anak dua orang menantu. Sungguh semangatnya patut ditiru. Karyanya kerap menghiasai layar kaca kita. Semoga kita bisa membaca karyanya di lain waktu.

Diakhir repiu, seperti goresan iseng ini cocok untuk menutup kisah Keydo.

Cinta memang aneh
Walau selalu dikumandangkan cinta tak harus memiliki
Faktanya berapa banyak orang yang cukup puas dengan hanya memandang cintanya dari jauh
Cinta membuat seseorang menjadi egois
Cinta juga membuat seseorang menjadi rapuh dan kuat secara bersamaan
Seseorang bisa tertawa sementara hatinya terluka gara-gara cinta
Ada juga yang tak mampu melakukan apa-apa gara-gara hatinya berbahagia karena cinta
Kadang cinta melahirkan penindasan dan penzaliman baru atas nama cinta itu sendiri.


Cintaku padanya &  cintanya padaku
Sudah sampai pada ranah pengertian  tertinggi
Terpenting hatiku dan hatinya berada dalam visi yang sama
Sisanya biarlah semua berjalan apa adanya
Saat ia berbahagia, maka aku juga akan berbahagia
Saat aku menangis, ia juga akan menangis
Apapun kebodohan yang ku kerjakan tak bisa menyakitinya
Segala hal yang diberikannya tak akan mengubah rasa yang ada
Karena cinta sudah menemukan dimana ia harus berada
Rumit? Tentunya tidak untukku dan dirinya
Semuanya berasal  dari  CINTA
Sebuah kalimat singkat yang bermakna dalam




lintasberita

Lanjut Baca

Buku Of Bees and Mist - ulasan


[No. 257]
Judul : Of Bees and Mist (Kabut Masa Lalu)
Penulis : Erick Setiawan
Penerjemah : Fransisca M
Penerbit : Gagas Media
Cetakan : I, 2011
Tebal : 571 hlm

Of Bees and Mist (Kabut Masa Lalu) adalah karya debut Erick Setiawan, penulis muda kelahiran Jakarta yang kini tinggal di Amerika Serikat. Erick yang menuntut ilmunya di Amerika Serikat dalam bidang psikologi dan komputer ini adalah seorang kutubuku dan suka menulis. Sebelum Of Bees and Mist, Erick telah menulis dua novel namun dua naskahnya tersebut mendapat ratusan penolakan dari para agen sastra (di Amerika untuk menjual buku ke penerbit besar haruslah melalui agen sastra/literacy agent).

Penolakan tersebut tak menyurutkan semangatnya dalam menulis. Erick lalu menulis of Bees and Mist yang diselesaikannya selama 4 tahun, berbeda dengan dua naskah novel terdahulunya, kali ini dalam waktu yang tidak terlalu lama ia memperoleh agen sastra hingga akhirnya pada tahun 2009 novelnya ini diterbitkan oleh penerbit kenamaan Simon & Schuster. Tak hanya itu saja, Of Bees and Mist mendapat sambutan yang positif dari pembaca dan kritikus sastra. Novel ini menjadi finalis QPB New Voices Award 2010 dan masuk dalam longlist penghargaan sastra bergengsi internasional IMPAC Dublin Literary Award 2011.

Of Bees and Mist sendiri merupakan kisah epik cinta, drama keluarga, dan misteri yang berlangsung selama tiga puluh tahun. Tokoh sentralnya adalah seorang wanita bernama Meridia yang merupakan anak dari Revena dan Gabriel. Awalnya kedua orang tuanya adalah pasangan yang harmonis, namun tak lama ketika Meridia lahir seiring dengan munculnya hawa dingin dan kabut yang menyelimuti rumahnya hubungan mereka mulai retak. Gabriel menjadi pribadi yang sensitif, ia sering pergi meninggalkan Revena, pertengkaran sering terjadi hingga akhirnya mereka tak saling berbicara. Gabriel disibukkan dalam pekerjaannya sedangkan Revena tenggelam dalam rutinitas di dapur yang menjadi dunia barunya.

Sikap saling membisu kedua orang tuanya ini membuat Meridia tumbuh tanpa sentuhan kasih kedua orang tuanya. Ayahnya malah membencinya, sedangkan Revena dengan kealpaannya sering melupakannya. Dalam keadaan demikian Meridia dibesarkan dengan sangat protektif oleh pengasuhnya. Ketika mulai beranjak dewasa Meridia mempertanyakan kondisi kedua orang tuanya pada pengasuhnya sehingga terungkaplah sebuah rahasia tentang apa yang terjadi pada orang tuanya. Namun belum sempat Meridia mengetahui semuanya, pengasuhnya tiba-tiba pergi meninggalkannya.

Meridia yang kesepian akhirnya memiliki seorang teman misterius bernama Hannah. Hannah sering datang dan pergi dengan tidak terduga. Untunglah akhirnya Meridia bertemu dengan Daniel, anak seorang pemilik toko perhiasan. Mereka saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah. Setelah menikah Meridia tinggal di rumah mertuanya bersama kedua adik iparnya. Ternyata ini adalah awal bencana karena ternyata Eva, ibu mertuanya adalah sosok ibu mertua yang nyinyir, pelit, licik, dan memperlakukan Meridia seperti layaknya pembantunya.

Awalnya Meridia sabar dalam menghadapi Eva, namun suatu saat ia mendengar percakapan antara Eva dengan suaminya, Elias. Meridia mendegar sendiri bahwa Eva di depan suaminya menjelek-jelekkan dirinya bahkan menfitnahnya. Saat itu Meridia juga melihat bagaimana lebah-lebah dengan dengungannya seolah mempengaruhi hati dan pikiran Elias agar terhasut oleh apa yang dikatakan Eva.

Semenjak itu Meridia mencoba mengorek keterangan tentang Eva dari Patina, pembantu mertuanya, dan semakin jelas bahwa Eva adalah wanita yang licik dan jahat. Hal ini membuat Meridia tak tahan tinggal serumah dengan mertuanya dan mengajak Daniel, suaminya untuk membuka toko perhiasan sendiri dan keluar dari rumah mertuanya.

Namun tak semudah itu bagi Meridia untuk lepas dari pengaruh Eva. Walau ia telah pindah rumah namun ibu mertuanya tetap berkuasa atas kehidupan rumah tangga mereka dan terus mempengaruhi Daniel agar selalu menurut apa yang dikatakan oleh ibunya. Konflik demi konflik terus terjadi dalam kehidupan Meridia dengan keluarga mertuanya. Kehadiran Noah, anak satu-satunya Meridia tak membuat Eva berubah, ia bahkan mencoba mempengaruhi cucunya untuk berpihak padanya. Meridia tak kenal kata menyerah, ia terus berjuang melawan pengaruh buruk Eva terhadap suami dan anaknya.

Walau inti dari kisah dalam novel ini adalah perseteruan antara anak dan mertua namun penulis mengemasnya dengan begitu menarik. Di novel ini ada begitu banyak konflik yang dikisahkan, selain perseteruan antara Meridia dan Eva, dikisahkan pula konflik antara kedua orang tuanya, Revena dan Gabriel, lalu ada juga kisah kedua adik iparnya, hingga Patinna, pembantu mertuanya yang ternyata memiliki kisah rahasia antara dirinya dengan Eva.

Yang membuat kisah ini menarik adalah balutan misteri dan mistis yang membungkus kisah cinta dan drama dalam novel ini. Baik keluarga Meridia maupun keluarga mertuanya memiliki sisi kelam yang sedikit demi sedikit akan terungkap di sepanjang novel ini.

Metafora yang digunakan oleh penulis dalam novel ini juga tak kalah menariknya. Lebah dan kabut adalah dua metafora mistis yang digunakan penulis untuk menggambarkan bagaimana dua hal tersebut senantiasa ada dalam dua keluarga yang berseteru. Lebah adalah manifestasi dari pikiran jahat Eva yang mencoba mempengaruhi siapa saja agar berpihak padanya, sedangkan kabut adalah gambaran dari misteri yang menyelubungi kehidupan rumah tangga kedua orang tua Meridia.

Di novel ini ada satu hal yang unik yaitu tak disebutkannya setting tempat dan waktu sehingga kita harus menebak-nebak sendiri kapan dan dimana kejadian dalam kisah ini berlangsung. Yang disebutkan hanyalah nama-nama jalan tanpa disebut di negara mana kejadian dalam novel ini berlangsung. TV, radio, mobil, telpon dan alat-alat teknologi lainnya sama sekali tak disebutkan. Rupanya disini penulis memberikan kebebasan pada para pembacanya untuk menciptakan sendiri setting waktu dan tempat sesuai dengan imajinasi pembaca.

Singkat kata, cara penulis menyajikan kisahnya yang merupakan gabungan antara drama dan msiteri kehidupan tokoh-tokohnya selama tiga generasi dalam balutan aroma mistis dan metafora-metaforanya yang memikat membuat saya betul-betul menikmati kisah yang tertuang dalam novel setebal 571 halaman ini.

Novel juga mengingatkan saya akan novel realisme magis “House of The Spirit” Isabel Allende. Mungkin agak terlalu berlebihan jika saya membandingkan novel ini dengan House of The Spirit. Namun sensasi yang saya rasakan ketika membaca novel ini sama dengan ketika membaca karya monumental Isabel Allende terutama dalam hal penuturan dan aroma mistis realism magis yang membungkusnovel ini

Sayangnya novel ini memiliki cacat beberapa ‘typo’ (kesalahan ketik). Bahkan satu yang fatal adalah salah menyebut nama tokohnya, yang seharusnya Daniel malah terketik David. Tentunya hal ini sangat menganggu kenikmatan membaca novel ini.

Ada banyak yang ingin saya tulis tentang novel ini, namun harus saya hentikan sebelum pembaca review ini bosan dan saya kebablasan untuk menulis spoiler. :D Yang pasti saya tadinya akan beri 5 bintang untuk novel ini, namun karena ada beberapa typo saya terpaksa harus menurunkannya satu menjadi 4 bintang :D

Oya, karena ini meruapakan novel terjemahan, saya juga memberi acungan jempol kepada penerjemahnya karena saya tak sedikitpun merasa terganggu dengan kalimat-kalimat terjemahannya sehingga saya hampir lupa bahwa ini adalah sebuah karya terjemahan.

Satu jempol lagi juga untuk cover bukunya. Bagi saya cover edisi terjemahannya ini lebih bagus dan lebih imajinatif dibanding edisi aslinya.




Of Bees and Mist

ed. Simon & Shuster, 2009





Demikian untuk review kali ini, silahkan jika ada yg sudah membaca dan mau menambahi kesan-kesan terhadap novel ini. Sepertinya novel ini mengasyikan juga buat didiskusikan ya. Saya tergelitik untuk bertanya pd teman2 yg sudah membaca novel ini. Menurut teman2 Siapa sebenarnya Hanah yg kehadirannya begitu misterius dalam novel ini? Dan apa pula maksud dari metafora es yang membeku dan menyelimuti Gabriel bagaikan sebuah kepompong es di saat-saat akhir hidupnya?

@htanzil

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Row the Boat, Baby... - ulasan




There are several Sundanese restaurants nearby our home. RM Saung Tagala is one of them. It is special since the restaurant is located above a lake. By paying Rp. 15.000,- all customers are allowed to hire a boat and row it all around the lake. What my girls love about this place is not the food. Their favorite parts are rowing the boat and feeding the fish in the lake.

Beside serving the Sundanese food, they also provide good durian as desert. I am not a big fan of durian but I am alway excited to see durian lover enjoying this special fruit. Seem that the fruit is sooooo delicious, well it is delicious indeed, isn't it? :))

The pics were taken on my big bro birthday on April 24. We really had a good time there. Enjoying the free lunch, the fresh air and the blowing wind. Everybody's happy especially the 3 little girls on the boat, Najla, Zea & their cousin, Nabila^^

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Remember When - ulasan

Kalau kisah percintaan itu hanya soal apakah 2 orang insan saling mencintai atau salah satunya bertepuk sebelah tangan, mengapa begitu baaanyaak kisah roman yang dibuat selama berabad-abad? Jawabnya, karena ada begitu baanyaak juga konflik yang dapat terjadi di dalamnya. Love is often complicated, right? Tapi ada alasan lain selain masalah konflik itu (karena meski banyak macam konflik yang bisa terjadi, kalau karya roman sudah mencapai jutaan, pasti kisah-kisahnya akan jadi klise kan lama-lama?). Alasan lain itu adalah gaya bertutur dan cara penulisan seorang pengarang. Buku Remember When ini sebenarnya juga salah satu buku yang menyajikan cerita percintaan yang biasa-biasa saja menurutku, apalagi tokoh-tokohnya adalah anak-anak SMU. Awalnya aku agak skeptis apakah aku tak akan berhenti di tengah jalan sebelum menamatkan membaca buku hasil buntelan dari Gagas Media ini? Namun, ternyata buku ini memiliki kekuatan lain yang mampu mengimbangi kisah roman yang itu-itu saja, yaitu dari segi penulisannya.

Winna Efendi adalah salah seorang penulis Indonesia yang namanya mulai menanjak karena cara penulisannya. Kisah cinta ABG yang biasanya terkesan picisan, bisa menjadi indah lewat tangan Winna. Remember When ini ditulis dari sudut pandang tokoh-tokohnya. Sehingga saat anda membacanya, anda akan seolah-olah mengintip beberapa diary anak-anak SMU dalam urutan kronologis, sehingga akhirnya anda akan mendapatkan keseluruhan ceritanya lengkap dengan perasaan masing-masing individu yang terlibat di dalamnya.

Tokoh utama di buku ini adalah Freya, Gia, Andrian, Moses dan Erik. Semuanya siswa SMU di sekolah yang sama, namun dengan karakter yang berbeda-beda. Untuk mengenal karakter masing-masing tokoh, anda tinggal membaca saja lembar demi lembar buku ini, karena lewat penuturan masing-masing tokoh, anda akan mengenal mereka sekaligus mengikuti alur ceritanya. Freya telah kehilangan ibu semenjak kecil dan yang menjadikannya introvert. Namun ia berotak cemerlang meski berpenampilan amat sederhana. Freya pacaran dengan Moses, sang ketua OSIS yang juga murid paling bersinar dan doyan belajar. Cara berpacaran Freya dan Moses yang kaku meliputi: belajar bersama, hunting buku di toko buku bekas, nongkrong di perpustakaan. Sedangkan Gia dan Andrian yang juga berpacaran adalah pasangan “selebriti” sekolah mereka. Andrian tampan, atletis dan jago basket. Sementara Gia adalah kembang sekolah yang paling banyak penggemarnya dan punya hobi melukis. Erik adalah sahabat sejati Freya yang paling mengerti cewek ini, dan yang sesungguhnya diam-diam naksir Gia.

Begitulah mulanya… Sampai suatu saat salah satu dari mereka mendapat musibah, kehilangan orang tua yang dikasihi. Sejak saat itu, atau mungkin memang sudah berbenih sebelumnya, ia merasakan cinta yang lain. Dan ternyata cinta itu tak bertepuk sebelah tangan. Karena ternyata cinta itu memang bisa berubah, tatkala si manusianya juga berubah. Dan sebuah musibah cukup dapat membuat seorang manusia berubah. Cinta ternyata bukan hanya tumbuh karena kecocokan hobi dan bahan obrolan saja, tapi lebih jauh lagi, cinta mampu terbit karena ada pemahaman yang sama. Dan celakanya, cinta juga bisa datang kapan saja, tak peduli ketika kita sedang merajut cinta dengan orang lain. Bahkan ketika cinta itu berpotensi meluluhlantakkan sebuah persahabatan dengan kejamnya.

Kedewasaan Freya, Andrian, Moses dan Gia akan teruji saat hati mereka semua sakit. Apakah kebahagiaan diri sendiri layak untuk diperjuangkan kalau untuk mendapatnya mereka harus mengorbankan kebahagiaan yang lain? Apakah cinta layak diperjuangkan kalau harus mengorbankan persahabatan? Keempat sahabat itu akhirnya harus menentukan pilihan masing-masing. Apapun pilihan mereka pada akhirnya, perjalanan yang telah mereka lalui semasa SMU layak menjadi kenangan, baik yang manis maupun yang pahit. Sehingga suatu saat nanti ketika mereka telah dewasa, mereka dapat menatap foto mereka bersama sambil mengingat saat itu, remember when…

Winna Efendi telah berhasil merangkum kisah cinta yang biasa-biasa saja menjadi enak untuk dinikmati. Bahkan sinopsis buku ini pun tertulis dengan begitu indahnya:

“Apa pun yang kau katakan, bagaimanapun kau menolaknya, cinta akan tetap berada di sana, menunggumu mengakui keberadaannya.

Bagi kita, senja selalu sempurna; bukankah sia-sia jika menggenapkan warnanya? Seperti kisahmu, kau dan dia, juga kisahku, aku dan lelakiku. Tak ada bagian yang perlu kita ubah. Tak ada sela yang harus kita isi. Bukankah takdir kita sudah jelas?

Lalu, saat kau berkata, “Aku mencintaimu”, aku merasa senja tak lagi membawa cerita bahagia. Mungkinkah kata-katamu itu ambigu? Atau, aku saja yang menganggapnya terlalu saru?

“Aku mencintaimu,” katamu. Mengertikah kau apa artinya? Mengertikah kau kalau kita tak pernah bisa berada dalam cerita yang sama, dengan senja yang sewarna?

Takdir kita sudah jelas. Kau, aku, tahu itu.”


Judul: Remember When
Penulis: Winna Efendi
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: 2011
Tebal: 248 hlm

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Kuis.......................Kuis....................kuis.......................kuis................... - ulasan

Seperti yang sempat diuraikan. rencanya bakalan ada kuis yang digelar.
Sesuai hasil rembukan para dewan juri (ehem) yang terdiri dari:
1. Dina Begum (profesional penerjemah)
2. Dion Yulianto (Editor & penulis buku)
3. SIlvero Shan (editor & my beloved manager)

Maka kuisnya akan  dibuat menjadi dua tahap.
Tahap pertama dari tanggal 01 Mei hingga 10 Mei 2011
Tahap kedua menyusul yahhh
Pertanyaannya guampang banget:

1. Follow bloqku  http://trulyrudiono.blogspot.com/
2. Pilih 1  buku & repiu  yang menurut kalian menarik dan sebutkan alasannya. jgn lp tulis jg blog nya yah
3. tag covernya ke mininal 15 orang plus salah 1 dari 3 juri (yg ini via FB yah)
4. pilih pake hadiah yang kalian suka
5, jangan lupa merapal doa ^_^

List buku hadiah:
Paket 1 :
1. Fantasi Fiesta 2010
2. An Old Fashioned Girl  (Louisa May Alcott)
3. Bagaimana cara berhenti merokok

Paket 2 :
1. Immortal (Gillian Shield)
2.  Guardian of Ga'hoole 1
3. My Dad is My Hero ( Susan Raynold)

Paket 3 :
1. Esperanza Rising (Pam Munoz Ryan)
2. Fantasi Fiesta 2010
3. Teman Empat Musim (Ida Ahdiah)

Paket 4
Buku & Merchan eksklusif dari Adhika Pustaka

Contoh
     
http://trulyrudiono.blogspot.com/
paling suka repiunya buku  Drupadi. Mengingatkanku  pada perjuangan dan doa panjang seorang ibu demi anak-anaknya. Kisah yang sangat menyentuh

Kepingin banget dapat paket 3.









SEMOGA SUKSES...............!Bongkar-bongkar lagi  ah siapa tahu nemu buku-buku lainnya
Bagi keluarga dan pacarnya Dewan juri  dilarang ikutan yahhhh he he he

lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar