Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parenting. Tampilkan semua postingan

Sukses Menyusui Meski Bekerja


Berita tentang pelarangan iklan susu formula di bawah 1 tahun sudah lama berlangsung, bahkan saat ini sama sekali tidak dijumpai iklan tersebut di layar televisi atau media massa. Acungan jempol patut diberikan kepada Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih yang telah berjuang mengupayakan kesadaran tentang pentingnya ASI, salah satunya dengan pelarangan iklan susu formula. Susu formula yang awalnya hanyalah sebagai alternatif bagi ibu yang kesulitan atau tidak dapat memproduksi ASI, ternyata semakin lama malah menjadi kebutuhan primer para ibu untuk memenuhi kebutuhan ASI bayi yang baru beberapa bulan lahir.

Permasalahan ini diperparah dengan banyaknya rumah sakit yang kontra dengan IMD [Inisiasi Menyusui Dini] dan ASI, sehingga ketika bayi baru lahir para teknisi kesehatan ini tidak sabar menunggu para ibu menyusui dini. Malah terkadang memberi susu formula pada bayi yang baru lahir tanpa sepengetahuan dari sang ibu – diambil dari wawancara “Pelarangan Iklan Susu Formula” di Metro TV.

Banyak alasan yang menjadi landasan para ibu tidak bersedia memberi ASI pada buah hatinya, diantaranya takut badan tidak menarik lagi, waktu yang minim karena bekerja, atau bisa malah tidak ada dukungan keluarga. Semua alasan itu sebenarnya bisa ditepis jika para ibu memahami dan menyadari betapa pentingnya ASI bagi sang bayi. Penelitian pun menyatakan bahwa kandungan ASI jauh lebih baik dibandingkan susu formula. Seperti yang dijelaskan pada buku Sukses Menyusui Meski Bekerja ini, bahwa pencernaan bayi yang baru saja lahir belumlah sempurna sehingga dibutuhkan ASI yang memiliki kandungan zat-zat yang lebih bersahabat.

Tidak dipungkiri bahwa saat ini banyak sekali ibu-ibu yang berkarir di luar rumah. Hal inilah yang seringkali menjadi alasan utama keengganan para ibu untuk memberikan ASI. Gak ada waktu, kilahnya. Mereka cenderung tidak mau ribet dengan segala tetek bengek per-ASI-an dan lebih memilih yang praktis-praktis saja. Sangat disayangkan.

Bersyukur bahwa ternyata masih ada ibu-ibu yang masih peduli dengan pentingnya ASI walaupun dalam kondisi aktif bekerja. Syasya Azisya, seorang perempuan yang bersedia menuangkan pengalaman, pengetahuan, dan segala informasi penting tentang ASI yang layak diketahui masyarakat. Pengalamannya yang pernah gagal memberi ASIX [ASI Eksklusif] kepada anak pertamanya tidak lantas membuat semangatnya kendur untuk memberikannya pada anaknya yang kedua. Dengan kesadaran penuh akan berlimpahnya manfaat dan keunggulan ASI membuatnya rela meluangkan waktunya yang padat untuk menyediakan ASIP [ASI Perahan] bagi sang putri.

Bukan hal mudah memang, apalagi jika tuntutan kerja meningkat. Namun, bukan hal mustahil untuk mewujudkannya. Satu poin yang harus diketahui para ibu berkarir ini jika ingin berkomitmen memberi ASI adalah manajemen waktu. Maka berbagilah sang penulis lewat bukunya tentang bagaimana memanajemen waktu sehingga sang buah hati tidak terlalaikan ASI-nya.

Sangat bermanfaat sekali memahami berbagai seluk beluk tentang ASI, baik bagi perempuan yang belum atau telah menikah, baik istri maupun suami. Tidak hanya berisi tentang manajemen ASIX, tapi buku ini juga memberikan gambaran pentingnya ASI, mitos-mitos tentang menyusui, segala peralatan yang mendukung ASIP, dan dilengkapi pula dengan kisah pengalaman beberapa ibu dalam berjuang untuk memberikan cairan cintanya pada sang buah hati.

Judul : Sukses Menyusui Meski Bekerja
Penulis : Syasya Azisya
Penerbit : Gema Insani Press
Terbit : 2010
Tebal : 132 halaman

NB: Jazakillah khoir Mbak Syasya, bukunya sangat-sangat bermanfaat ^^


lintasberita

Lanjut Baca

Saat Berharga Untuk Anak Kita


Diberitahukan sebelumnya, isi review ini mengandung spoiler!

Salah satu hal penting dalam keluarga yang harus mendapat perhatian penuh adalah anak. Bahkan ketika dalam kondisi hamil seperti saya saat ini, kegelisahan atau ketakutan nantinya bagaimana akan membimbing anak, mulai bergentayangan dalam kepala. Bagaimana tidak, jika menengok perkembangan zaman yang semakin tidak mendukung pergaulan yang sehat, saya benar-benar dibuat ketar-ketir, hingga senantiasa melantun doa mohon ilmu agar dapat membimbing putra putri kami menjadi anak yang soleh dan solehah.

Ya, ilmu. Dibutuhkan kecerdikan dan tangkasan orang tua dalam mendidik sang buah hati, dan semuanya itu tidak bisa ditanggapi dengan hanya, “Ah, nanti juga bakalan belajar dengan sendirinya setelah memiliki anak.” Kalau sudah begitu, kecenderungan yang bakalan terjadi selanjutnya setelah memiliki anak adalah membiarkan tumbuh kembang mereka, dan kerap akan menanggapi sebuah “kesalahan” dengan nada, “Ah, masih kecil, nanti juga kalau sudah gede mengerti sendiri.” Padahal pribadi anak kelak sangat dipengaruhi bagaimana kehidupan dan kebiasaan mereka di masa kecil.

Dari sanalah, mulai terpikir untuk mencari ilmu sebanyak mungkin tentang dunia parenting. Mulai dari membaca blog-blog orang tua yang seringkali menceritakan bagaimana tingkah laku anak-anaknya, yang tidak jarang juga bagaimana trik mereka menangani sang buah hati. Atau bisa juga dengan membaca website parenting yang sering menyajikan berbagai hal yang berhubungan dengan pendidikan anak dan remaja. Saya tahu, bisa jadi nanti kasus saya – kalau diberi umur panjang – akan berbeda atau bahkan jauh berbeda dengan mereka, tetapi minimal saya mempunyai gambaran dan banyak referensi yang bisa dikreasikan ketika menghadapi anak.

Selain dari blog, sudah pasti referensi yang patut untuk dibaca adalah buku. Awalnya saya tidak terlalu berminat dengan buku ‘Saat Berharga Untuk Anak Kita’ dikarenakan nama sang penulis. Pengalaman membaca buku ‘Kado Pernikahan Untuk Istriku’ yang pernah ditulis oleh Faudzil Adhim tidak terlalu bagus, hingga akhirnya buku tersebut tidak tuntas dibaca. Namun, karena berkali-kali masuk pesanan buku ini di toko buku online saya, mau tidak mau rasa tertarik muncul juga. Respon pembelian atas buku ini yang begitu besar, sukses membuat saya pun akhirnya penasaran dengan isi buku yang satu ini.

Banyak, memang banyak pelajaran yang bisa diambil dari kumpulan esai dari Faudzil Adhim. Kemampuannya di dunia parenting memang sangat terasah, mengingat dirinya kerap menjadi trainer seminar bertemakan parenting. Namun sebagian besar tulisan beliau menurut saya masih mengawang-awang, tidak tahu apakah memang disengaja supaya pembaca bisa lebih banyak berpikir. Hanya saja, saya pribadi rasanya seperti tidak mendapatkan kemantapan setelah membaca. Pengalaman membaca buku sebelumnya, ternyata kembali muncul ketika membaca buku terbitan Pro U Media ini, yaitu penulisan yang agak berputar-putar. Pengulangan hadist seringkali membuat bosan. Mungkin niat sang penulis mengulang-ulangnya agar hadist tersebut lebih menancap di kepala pembaca, tapi akan lebih baik jika penulis bisa lebih kreatif dalam mengolahnya supaya lebih nikmat diserap kepala dan dibaca mata.

Terlepas dari itu semua, saya dapat merangkum poin-poin yang sangat berharga setelah membaca keseluruhan isi buku. Pertama, persiapkan anakmu untuk menjemput AKHIRAT, bukan dunia, hal inilah yang seringkali dilupakan para orangtua, terutama jika menyangkut masalah pendidikan, dimana para orangtua lebih mengutamakan IQ dan EQ, dam melupakan SQ. Para orangtua kerap ‘menyiksa’ anak dengan menuntutnya agar selalu mendapat nilai-nilai terbaik, raport tidak boleh ‘kebakaran’ dan masih banyak lagi, dengan alasan orangtua supaya masa depan si anak terjamin. Padahal jika orangtua mau memandang lebih jauh, bukankah anak soleh/solehah akan menjadi amal jariyah ketika mereka menghuni alam kubur?

Kedua, perhatikan hak anakmu, sebelum menuntut hakmu. Ini juga yang sering luput dari perhatian orangtua, yaitu kecenderungan untuk menuntut sang anak. Kerap orangtua ingin si anak patuh, menjalani kehidupannya seperti kehendak orangtua, atau orangtua merasa jumawa karena merasa telah membiayai dan merawat si anak. Orangtua sering menginginkan semua berada dibawah kendalinya, padahal tidak bisa begitu. Contohnya, ketika orangtua ingin suasana rumah sangat tenang, dan memarahi, bahkan menghardik si anak yang tidak bisa diam. Padahal bisa jadi si anak sedang mencari perhatian orangtua yang lebih peduli dengan pekerjaan atau aktivitas berselancarnya.

Ketiga, amalan ibadah orangtua berpengaruh pada karakter anak. “Banyak orangtua yang berhasil mendidik anaknya bukan karena kepandaiannya mendidik anak, tetapi karena doa-doa mereka yang tulus. Banyak orangtua yang caranya mendidik salah jika ditinjau dari sudut pandang psikologi, tetapi anak-anaknya tumbuh menjadi penyejuk mata yang membaca kebaikan dikarenakan amat besarnya pengharapan orang tua…” [h.238] Bagian inilah yang membuat ketakutan saya dalam mendidik anak menjadi teredam, bahwa upaya mendidik tidak hanya melalui sang anak tetapi juga dari diri kita sendiri. Seperti halnya doa. Semua pasti tahu bahwa doa orangtua adalah salah satu yang terijabah. Jika doa tersebut terus menerus dilantunkan dengan keikhlasan, maka bisa jadi itulah senjata yang akan membimbing sang anak menemukan jalan-Nya.

Tidak hanya doa, amalan sedekah ikhlas atau puasa rutin orangtua bisa jadi tanpa sadar menjadi sinar pencerah dalam jiwa sang anak hingga kelak dapat menjadi pribadi yang ahsan. Intinya, semua hal selalu kembali kepada-Nya, bahkan jika itu berurusan dengan mendidik anak.

Judul : Saat Berharga Untuk Anak Kita
Penulis : Mohammad Fauzil Adhim
Penerbit : Pro U Media
Terbit : Cetakan kedua, April 2010
Tebal : 278 halaman
Harga: Rp. 36.000


lintasberita

Lanjut Baca

Oyako No Hanashi


Berbincang tentang tingkah polah anak-anak memang tidak akan pernah ada habisnya. Kepolosan serta kebeningan hati dan pikiran mereka jika diperhatikan kerap menyimpan pembelajaran dan perenungan. Imajinasi mereka pun seringkali di luar daya nalar para orangtua dan memancing kelucuan.

Sekali waktu saya pernah membaca sebuah status facebook yang isinya kurang lebih, tentang anaknya yang ingin menjadi tembok, sehingga membuat si bocah itu sering berdiri diam menempel pada tembok. Saya yang hanya membaca statusnya saja tertawa, apalagi orangtuanya. Namun tak dipungkiri, sebagian orangtua mungkin malah menanggapi dengan cemas ketika anaknya tiba-tiba ingin menjadi tembok.

Bagaimana jika anak Anda mengimajinasikan seorang adik, padahal tidak ada tanda-tanda kehamilan dalam diri Anda (atau istri) ? Syafiq, putra sulung Mbak Aan, terobsesi memiliki adik , hingga hampir semua pembicaraannya tidak lepas dari sosok imajiner si adik. Seperti ketika si ibu mengajak Syafiq membeli jaket, ternyata dia juga menginginkan si ibu membelikan sehelai untuk adik imajinernya. Kewalahan? Sudah pasti.

‘Praktikum, Perawan atau Gak?‘ Judulnya sempat membuat saya agak ketar-ketir membacanya, tapi begitu terjun ke dalam ceritanya. Oalaaaah, komentar itu yang muncul dari mulut. Ternyata isinya tentang kesalahan Syafiq dalam melakukan pelafalan. Pelajaran berharga yang saya serap dari cerita ini adalah dibutuhkan ketenangan orangtua dalam menanggapi pernyataan atau pertanyaan anak. Di usia yang masih belia kesalahan dalam melakukan pelafalan atau penyampaian sesuatu sering terjadi. Bahkan tak jarang anak tidak tahu apa yang diucapkannya, dia melakukannya hanya karena ikut-ikutan, sehingga kesalahpahaman dapat terjadi di antara orangtua dan anak.

Banyak hal yang dapat orangtua pelajari atau contoh dari sikap anak-anak, seperti rasa ingin tahu yang besar dan kekritisan mereka dalam melihat atau mendengar sesuatu. Cerita tentang ”Shofie dan Tripod” dan ”Nasi Goreng Sisa”, adalah salah dua kejadian yang masing-masing mengandung semangat belajar dan teguran bagi para orangtua. Dan buku ini menyuguhkan banyak petikan-etikan kehidupan penulis yang sekiranya dapat dijadikan wacana atau sekadar berbagi pengalaman ketika bersama suami, Syafiq dan Shofie.

Gaya penyampaiannya yang berbentuk diary membuat kejadian-kejadian lucu dalam rumah tangga si penulis terasa natural. Tidak dijumpai analisa teoritis atau kekakuan dalam setiap rangkaian kalimat yang dituturkan oleh penulis . Dengan demikian pembaca bebas untuk menarik kesimpulan dari setiap kejadian yang disampaikan dalam buku ini.

Semua orangtua mengharapkan anaknya tumbuh cerdas, bahkan melebihi ayah-ibu mereka. Tetapi siapkah para orangtua menjawab aneka pertanyaan atau komentar anak yang kritis?.....
[Endorsement Rini Nurul Badariah]

Siapkah orangtua menghadapi buah hatinya? Akan terjawab ketika kita berhadapan langsung dengan kepala-kepala cilik yang penuh dengan keunikan tersebut.

Judul : Oyako No Hanashi
Penulis : Aan Wulandari
Penerbit : Leutika
Terbit : Juli 2010
Tebal : 168 halaman


lintasberita

Lanjut Baca

Catatan Cinta Ibu; Happy Parenting


“Jika kesabaran itubisa dibeli di toko-toko, tentulah orangtua tidak akan pusing menghadapi ulan anak-anaknya. Tetapi ternyata kesabaran itu harus dilatih melalui serangkaian peristiwa yang dilalui bersama anak-anak” [h.vi]

Tak dipungkiri bahwa kesabaran adalah kebutuhan primer bagi sosok orang tua ketika berhadapan dengan anak-anak. Tidak hanya orangtua, tetapi juga guru maupun pembina yang bergerak di dunia anak-anak. Bersama dengan teladan, kesabaran kelak akan sangat membantu sang anak untuk dapat membentuk karakter kuat dan tidak cenderung ikut-ikutan seperti yang kerap terjadi para era sekarang.

Ketika kesabaran dan keteladanan terlewatkan dari mendidik sang buah hati, akibatnya karakter anak akan limbung dan tidak jelas. Beragam kasus berkenaan dengan hal tersebut dipaparkan oleh Meidya Derni, seperti pada pembahasan tentang Steffany yang bingung akan masa depannya, seperti yang terjadi pada sang ibu. Ataupun ketika orangtua menghadapi anaknya yang berbohong atau mencuri. Semuanya butuh penanganan yang matang dan tidak diliputi emosi.

Begitupun ketika orangtua mulai menerapkan aturan yang diberlakukan kepada sang anak, maka secara otomatis segala poin peraturan pun berlaku bagi orangtua. Mengapa? Karena hal tersebut akan berpengaruh pada kokoh tidaknya aturan tersebut. Bagaimana anak akan memandang sebuah aturan orang tua yang melarang mereka nonton tv saat jelang adzan maghrib, sedangkan di sisi lain si anak melihat kenyataan bahwa orangtuanya sendiri malah keranjingan melihat sinetron pada waktu tersebut.

Dari berbagai pengalaman dan pengamatan yang dituturkan penulis, artikel berjudul ‘Because I Love You’ dan ‘Use Your Imagination’ merupakan bagian yang paling menarik. Because I Love You adalah sebuah artikel yang berisikan upaya orangtua untuk meniadakan arogansi yang kerap melekat pada diri mereka. Arogansi ini seringkali, baik sadar atau tidak, memaksa anak untuk menjadi penurut dengan segala titah/keinginan orangtua. Sedangkan Use Your Imagination mengingatkan pada orangtua bahwa anak-anak memiliki daya imajinasi yang tinggi, sehingga ketika muncul permasalahan atau pertanyaan orangtua pun sebenarnya bisa memanfaatkan imajinasi untuk menyelesaikannya.

Salah satu teknik penulis dalam menyampaikan pemikirannya adalah melalui contoh-contoh dialog yang dapat pembaca bandingkan untuk kemudian diterapkan kepada sang anak. Dengan adanya dialog tersebut para orangtua mendapatkan gambaran yang lebih konkrit bagaimana menyikapi keaktifan dan ke-nyleneh-an anak.

Judul : Catatan Cinta Ibu; Happy Parenting
Penulis : Meidya Derni
Penyunting: Azzura Dayana
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Terbit : Cetakan Pertama, Juli 2009
Tebal : 212 halaman
Harga: Rp. 33.000 [disc. 15% di ]

lintasberita

Lanjut Baca

Happy Ramadhan With Kids


Masa kanak-kanak adalah masa paling produktif dimana mereka banyak sekali menyerap apa saja yang ada di sekitarnya. Kemampuan serap yang tinggi inilah yang seharusnya digunakan para orangtua untuk mulai memberikan berbagai pemahaman, tetapi haruslah dengan cara yang menyenangkan. Sebagian besar anak-anak pasti sangat suka jika diajak bermain atau melakukan hal yang membuat mereka tertarik dan berkreasi. Trik inilah yang sering kali digunakan para orang tua untuk memperkenalkan hal atau pemahaman yang baru, salah satunya Ramadhan.

Bagi umat muslim Ramadhan adalah bulan yang sangat spesial. Melihat segala keistimewaannya, pastilah para orangtua menginginkan anak-anaknya berkenalan dengan bulan 1000 bulan ini. Tapi bagaimana caranya supaya para bocah cilik ini bisa tertarik? Banyak trik yang dibagikan para penulis dalam buku berjudul ‘Happy Ramadhan With Kids’.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, anak-anak sangat menyukai permainan. Salah satu permainan menarik yang dituangkan dalam buku ini adalah permainan detektif-detektifan ala Ellyza Dian agar Asha, putrinya, tertarik untuk be-Ramadhan dalam ‘30 Hari Menjadi Detektif’. Trik lain adalah dengan membuat berbagai prakarya menyambut datangnya Bulan Ramadhan seperti mempersiapkan poster-poster kreasi sendiri yang berisikan semangat Ramadhan, atau bisa juga dengan membuat kalender Ramadhan yang menyimpan hadiah-hadiah kecil di setiap harinya.

Prakarya yang menurut saya sangat menarik adalah membuat pohon Ramadhan dengan ukuran besar yang ditempeli banyak sekali permen yang bernomor 1 – 30 dan dapat diambil sebagai hadiah puasa sesuai dengan urutan hari dalam Ramadhan. Sudah pasti anak-anak akan sangat menyukai kala membuat ataupun melakukan rutinitas tersebut. Mungkin kita juga bisa menyelipkan hadist-hadist ringan untuk dibaca dan dibahas setiap harinya.

Memperkenalkan buah hati dengan Ramadhan saat berada di negeri bermayoritas Islam mungkin akan lebih mudah karena banyaknya dukungan dari lingkungan atau sekolah anak. Namun, bagaimana jika kita tinggal di negara, dimana Islam menjadi minoritas? Bukan hal mudah mengajak anak-anak berpuasa di Bulan Ramadhan. Hal ini tergambar pada beberapa kisah para ibu muslimah yang harus hidup di negara asing. Bagaimana ketika Ramadhan harus bersaing dengan keseruan perayaan Helloween? Bagaimana membuat Ramadhan menjadi indah di negara yang minim mengenal agama?

Walaupun ada beberapa kisah yang lebih fokus ke pendidikan anak dibandingkan Ramadhan, berbagai pengalaman para orangtua ini cukup menarik untuk dijadikan referensi dalam memancing sang buah hati untuk mencintai Ramadhan. Apalagi jelang bagian akhir, pembaca akan mendapatkan bab berjudul pernik lezat dan kreativitas. Di sana akan didapati berbagai kreasi makanan/cemilan dan prakarya yang dilengkapi dengan cara-cara pembuatannya.

Judul : Happy Ramadhan With Kids
Penulis : Gita Lovusa dkk
Penerbit : Pena Lectura
Terbit : Juni 2010
Tebal : 242 halaman

NB: Tengkyu buat Mbak Nopi… Akhirnya bisa baca sekaligus ngambil banyak ilmu dari buku ini ;)


lintasberita

Lanjut Baca

Ibu, Dari Mana Aku Berasal?


Saat membaca judulnya saya teringat dengan buku “Seni Dialog Dengan Anak” terbitan Maghfirah. Keduanya berbicara tentang bagaimana sikap orang tua ketika anak-anak meluncurkan pertanyaan-pertanyaan “ajaib”nya. Tau sendiri kan keajaiban pertanyaan atau celotehan mereka yang sering kali out of the box. Menarik, tapi juga membuat deg-degan.

Namun, kedua buku ini berbeda. Perbedaannya terletak pada contoh kasus yang diambil oleh masing-masing penulis. Pada buku Seni Dialog Dengan Anak pembaca akan disuguhi contoh kasus berupa “misalnya”, maksudnya penulis hanya mengambil kasus tanpa melibatkan pengalaman pribadinya. Sedangkan kekuatan dari isi buku “Ibu, Dari Mana Aku Berasal?” adalah pada rangkaian pengalaman pribadi dari Lara Fridani dalam menghadapi ketiga putranya yang memiliki karakter beragam.

Sempat tinggal di Australia, dengan sistem pendidikan yang terbilang lebih memancing sang anak untuk mengolah daya pikir, membuat putra-putra dari Mbak Lara memiliki daya pikir yang kritis. Belum lagi, tinggal di negara yang minoritas Islam dan berseliwerannya pemandangan akan pergaulan tanpa batas, membuat pertanyaan-pertanyaan ‘berbahaya’ pun kerap terbit dari anak-anak dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Seperti ketika Zuhdy, anak keduanya yang saat itu berusia 5 tahun, menanggapi kebenaran Al-Qur’an dengan pernyataan, ‘Aku juga bisa menulis di kertas ‘ini benar dan sempurna’ kemudian mencetaknya jadi buku, dan tinggal diperbanyak!’ [h. 20]

Di dalam buku ini, penulis tidak selalu mencitrakan diri sebagai orang tua yang tahu segalanya, terkadang dia pun harus menunda-nunda jawaban dari sang anak karena membutuhkan jawaban yang tidak sembarangan seperti ketika ketiga putranya melakukan sidang kepada sang ibu dengan pertanyaan “Kita berasal dari sesuatu yang jorok ya, Mi?”

Salah satu penyikapan yang kerap dilakukan oleh penulis adalah tidak gegabah menanggapi pertanyaan anak-anak. Mencoba menanyai kembali tentang latar belakang munculnya pertanyaan merupakan tindakan yang sangat penting dilakukan orang tua, terutama untuk pertanyaan yang bisa dibilang “belum waktunya”.

Buku ini sangat menyenangkan dan menghibur tanpa meninggalkan sisi edukatif. Saya sangat menikmati membaca pengalaman-pengalaman penulis yang terkadang dirangkai dengan diskusinya sebagai dosen pendidikan anak di kelas mengajarnya. Bahkan beberapa kali saya bersama suami tertawa membaca celotehan ketiga putra dan bagaimana Lara Fridani memberikan tanggapan. Sungguh, ternyata sangat tidak mudah menghadapi anak-anak, dibutuhkan teknik, kesabaran, trik, dan konsistensi. Kenyataan inilah yang ingin disampaikan penulis.

Buku ini ditutup cantik dengan pembahasan tentang kekuatan doa. Ya, Bagaimana pun jumpalitannya kepala dan tindakan orang tua untuk memberikan pemahaman tentang berbagai hal, doa tetaplah menjadi senjata ampuh untuk tetap menjaga sang buah hati. Bukan kah doa orang tua untuk anaknya adalah salah satu ibadah yang mendapat ijabah?

Judul : Ibu, Dari Mana Aku Berasal?
Penulis : Lara Fridani
Editor : Kartika Trimarti
Penerbit : PT. Arga Publishing
Terbit : Cetakan kedua, Juli 2008
Tebal : 209 halaman

NB: Makasih banget untuk Mbak Nopi, udah minjemin buku yang keren ini ;)

lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar