Tampilkan postingan dengan label komedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komedi. Tampilkan semua postingan

Negeri van Oranje


Buku bertemakan persahabatan dan cinta sudah sering saya jumpai, tapi memadukannya dengan unsur komedi, pendidikan, dan travelling terbilang jarang, apalagi buku ini ditulis dengan kolaborasi empat kepala. WoW! Pastinya bukan sesuatu yang gampang. Kisah dalam buku ini mengingatkan saya dengan novel Traveler’s Tale: Belok Kanan Barcelona! yang juga ditulis dengan keroyokan, tapi bedanya dalam buku garapan Aditya Mulya dkk ini tidak terdapat tema pendidikan.

Dikisahkan lima mahasiswa asal Indonesia yang terdampar di Negeri Belanda dan dipersatukan oleh kekuatan rokok kretek. Stasiun Amersfoort adalah tempat yang mengawali perkenalan dan persahabatan mereka, hingga nongollah sebuah genk dengan nama Aagaban [Aliansi Amersfoort Gara-gara Badai di Netherlands]. Lintang adalah perempuan satu-satunya dalam genk tersebut yang selalu dikerubuti empat pria, Daus, Wicak, Banjar, dan Geri. Uniknya latar belakang mereka studi ke Belanda tidak hanya karena ada dana atau beasiswa, tapi ada beralasan dalam rangka melarikan diri dari ancaman pembunuhan, atau tertantang agar mendapatkan restu gaet adik teman.

Buku yang satu ini tidak hanya sekadar menampilkan cerita persahabatan berbumbu konflik cinta, tapi juga memberikan pengetahuan berbagai macam sejarah, deskripsi tempat, rutinitas perayaan, dan dunia pendidikan di Belanda. Bahkan dalam buku ini juga terdapat feature yang berisikan tips yang walaupun menggunakan bahasa kocak tapi memuat informasi yang berharga, diantaranya tentang tips mencari tempat kos, atau informasi tentang surat-surat yang wajib diurus dan dimiliki ketika berada di Belanda, atau tips mencari pekerjaan sambilan, dan masih banyak lagi tips yang kesemuanya penting diketahui jika pembaca tertarik untuk tinggal ataupun hanya sekadar mampir ke Negeri van Oranje. Serunya lagi, kelima tokoh ini tidak tinggal di satu kota, tetapi lima, sehingga pembaca juga akan mendapatkan suguhan rute transportasi dari satu kota ke kota yang lain. Sayangnya, buku ini tidak menyelipkan foto-foto yang sekiranya bisa membantu pembaca untuk berimajinasi, seperti yang terdapat di buku Traveler’s Tale.

Ceritanya sendiri berjalan dengan mengalir dan kocak. Bahkan gaya bicara Wicak, Daus, dan Banjar dalam mengobrol dan bertingkah mengingatkan saya ketika sering berkumpul dengan teman-teman semasa kuliah, yang memang didominasi oleh kaum adam. Terasa sekali kenaturalan, sifat blak-blakan dan kejahilan mereka. Mantep! Namun di balik segala tingkah pola mereka yang konyol, ternyata masing-masing dari kelima tokoh ini memiliki idealisme dan nasionalisme yang tidak dapat dipandang remeh. Hal ini terbaca dari pemikiran mereka tentang masa depan, apakah setelah lulus nanti akan tetap berkutat di Belanda dengan fasilitas yang wah atau kembali ke Indonesia untuk mengabdikan ilmunya untuk kemajuan bangsa? Dan masing-masing tokoh memiliki alasan yang ketika dipikir-pikir sama-sama benar dan sama-sama mencerminkan sebentuk nasionalisme.

Ada satu ganjalan dalam cerita yang membuat saya sedikit bertanya-tanya, yaitu urgensitas dua tokoh baru yang berperan sebagai kawan baru Daus saat terjadi perang dingin dengan Banjar dan Wicak. Si Duo Botak, Koko dan Kiki. Jikalau memang dirasa penting, kok rasanya plot yang satu ini sangat singkat, bahkan menurut saya pribadi kesadaran Daus untuk kembali ke jalan yang ‘lurus’ terlalu cepat. Sehingga saya merasakan bagian tersebut menjadi sebuah alur yang sebenarnya tidak terlalu penting dituliskan, apalagi setelah itu Duo Botak tidak lagi muncul hingga akhir cerita.

Kelihaian para penulis dalam menuturkan kisahnya mampu membuat saya menikmati isi cerita tanpa harus diiringi kerutan dahi. Bahkan tidak salah jika setelah membaca buku ini Anda akan menjadi sangat tertarik untuk mencoba kuliah ke luar negeri, terutama Belanda.

Judul : Negeri van Oranje
Penulis : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit : Bentang Pustaka
Terbit: Cetakan Sembilan, September 2010
Tebal : 478 halaman
Harga : Rp. 49.000


lintasberita

Lanjut Baca

Married With Brondong


Allah kerap memiliki cara tak terduga nan indah untuk mempertemukan sepasang insan dalam satu kesatuan yang sempurna.

Sulit untuk tidak mengiyakan kalimat di atas. Sudah banyak contoh kasus yang menunjukkan bagaimana pertemuan dua insan hingga ke pelaminan, menyimpan kejutan-kejutan. Saya sendiri yang baru saja dipertemukan dengan sang suami, kisahnya berawal dengan hal yang tidak terduga, dan saat dikenang, eh, ternyata keren juga cara Allah mempertemukan kami ^^

Subhanallah…

Kekerenan Allah pun saya lihat dari cara-Nya mempertemukan dua karakter, Bo [suami] dan Jo [istri]. Berawal dari kesalah-pahaman chatting, yang kemudian hari memperlihatkan kegemaran mereka yang sama, yaitu komik, sukses mengantar mereka menuju gerbang penyempurna separuh dien.

Eits, tapi perjalanan mereka menuju ke sana, tidak semudah ngabisin cendol segelas. Banyak pertimbangan, cibiran, dan kritikan. Why? Karena usia Jo jauh melebihi usia Bo. Tujuh tahun dua bulan empat hari, bukan waktu yang ‘wajar’ bagi sebagian mata orang timur yang hobi menciptakan stereotip-stereotip yang tidak mendasar.

Mengagetkan? Sangat mungkin, tapi tidak jika mereka mau menengok balik sejarah perbedaan umur dalam pernikahan, yang lebih fantastis. Pernikahan Rasulullah [25] dan Bunda Khadijah [40] memiliki angka lebih mengejutkan, 15 tahun. Well, kalau ada yang berdalih, “Itu kan jaman doeloe.” Mau yang lebih modern? Tengok aja artis Demi Moore [47] dengan Asthon Kutcher [32] yang juga beda 15 tahun, dan sejauh yang saya tahu mereka sih baik-baik saja.

Saya sendiri tidak tahu bagaimana masyarakat bisa membentuk stereotip negatif dengan kondisi seperti ini. Keadaan yang tidak hanya memunculkan ketakutan dari pihak wanita, tetapi saya yakin ada juga pikiran dari pihak lelaki, yang mungkin akan gerah jika nantinya diberi label Oedipus Complex.

Balik lagi, bahwa segala kekhawatiran tersebut lebih banyak muncul dikarenakan pandangan dari masyarakat sekitar –yang nantinya juga belum tentu peduli dengan kondisi mereka. Haiiizzz…intinya capek kalau harus mendengarkan kata orang melulu. Bersyukur, akhirnya ada karya yang sekiranya dapat merobohkan stereotip negatif tentang wanita yang menikah dengan pria dengan usia jauh di bawahnya alias Brondong.

Komik yang terinspirasi dari kisah nyata kedua penggarapnya ini secara garis besar terbagi menjadi dua fase. Sebelum dan setelah menikah.

Fase sebelum menikah

Fase ini dibuka dengan kalimat, “Apa??? Kamu mau menikah sama anak kecil??”---Hahahahahag! Menghina sekalee :P

Dari opening inilah kendala Married With Brondong dipaparkan, dan berlanjut dengan menceritakan kesungguhan dan kualitas Bo di mata Jo. Lucu, inspiratif sekaligus jujur. Hanya saja, saya sempat sedikit bingung saat Bo menelepon keluarganya di Malang untuk memberitahu rencananya menikah. Bingung karena tidak ada ‘rambu-rambu’ terlebih dahulu bahwa ternyata pada bagian tersebut beralur mundur/flashback *CMIIW.

Fase setelah menikah

Menikah adalah saat dimana kita memulai perjalanan hidup yang sangat berbeda dari sebelumnya. Dimulai dari cerita pacaran setelah menikah yang dipenuhi dengan deg-deg seer dan segala kegombalan pria yang sebenarnya sudah beredar di ‘pasaran’ tetapi ternyata masih ampuh membuat sang istri tersipu, berlanjut dengan rangkaian kisah yang mencerminkan kesederhanaan, komitmen, tanggung jawab dan konflik.

Banyak adegan yang saya sukai dalam novel grafis ber’bingkai’ warna pink ini, tetapi ada dua rangkaian kisah yang terfavorit. Pertama pada bagian perdebatan pasutri tentang konstruksi/denah rumah dan kekompakan mereka dalam nyrocos tentang kebobrokan negeri. Cerdas. Selain itu, menampilkan konflik dalam rangkaian cerita membuat cerita menjadi lebih riil.

Kedua, saat Jo ngobrol dengan temannya tentang panggilan untuk suami, tetapi pada bagian sketsa menampilkan dua bocah jalanan yang mencari duit dan kehujanan. Saya tidak tahu apa istilah dalam dunia perkomikan, tapi saya menyebutnya, Cerita Bisu.

Sketsa tersebut seperti menyuarakan, "Ini kondisi yang tidak perlu dibicarakan lagi tapi renungkan apa yang bisa kita lakukan untuk mereka." Really like that!

***

Kalau pembaca pernah membaca komik karya Vbi Djenggottan yang pertama, Aku Berfacebook Maka Aku Ada, maka tidak akan terlalu kaget dengan kemunculan orang-orang ‘tidak berkepentingan’ yang tiba-tiba memberi komentar; dan hanya akan berkomentar “iyeee…iyeee” setiap membaca selipan semangat idealisme dari penulis yang sepertinya memang tidak akan lekang dimakan zaman.

Untuk akhir kata, ijinkanlah saya mengutip kata pengantar Tika Bisono Psi. yang sangat menyuarakan isi kepala sayah,

“Mira dan Vbi berhasil membagi kisahnya melalui rangkaian gambar yang ekpresif, kata-kata yang tidak berlebihan, namun tetap tidak miskin makna filosofis…”

Sukses selalooooo dan semoga karya-karyanya senantiasa dilimpahi keberkahan. Amin!

Judul : Married With Brondong
Penulis : Mira Rahman & Vbi Djenggotten
Penerbit : Bikumiku
Tahun : 2010
Tebal : vi + 124 halaman
Genre : Novel Grafis
ISBN : 978-602-95228-1-5
Harga : Rp. 33.500 [dapat dibeli di sini

NB: *Sumpeh deh ini review terpanjang sayah selama tinggal di Jakarta :D
*Spesial untuk Mbak Mira, Mas Vbi plus si kecil, Imandaru, tengkyu banget untuk hadiah yang membuka mata ini ;) dan juga maaf kalau reviewnya terlalu sotoy ^^v
*Untuk suamiku, LUNAS! :D

lintasberita

Lanjut Baca

Mafalda 1, Pukulan Telak dari Kepolosan Bocah


Anak-anak selalu identik dengan kepolosannya dalam berucap atau menanyakan sesuatu, yang tak diragukan adalah bentuk awal dari kecerdasan otaknya yang sedang berkembang. “Senjata” kepolosan inilah yang digunakan Quino, komikus asal Argentina, untuk mengapresiasikan luapan kritik pada kondisi negaranya.
Walaupun komik ini dibuat 1964-73, tetapi kesatirannya masih fresh dan relevan dengan kondisi bangsa Indonesia saat ini. “Pada masa tokoh Mafalda lahir, kebijakan ekonomi Argentina dinilai hanya menguntungkan segelintir orang dan modal asing. Kelas menengah memang meningkatkan hingga 40 persen, namun pengangguran meroket dan kesenjangan ekonomi menajam….” [Pengantar Redaksi]
Seperti membaca kondisi bangsa sendiri bukan?

Melihat sosoknya yang imut, endut, tembem dengan pita yang sangat manis di puncak rambutnya yang lebat pasti akan membuat saya gemas melihatnya, apalagi saat melihat wajahnya yang berubah datar dan tanpa berdosa setelah menyampaikan pendapatnya yang nylekit. Cara berpikir yang masih netral, positif, dan spontan, khas anak-anak, membuat sindiran Mafalda lebih mengena, dan bisa jadi bakal menciptakan ekspresi tertegun, berkerut, atau mungkin defensif pada wajah pembaca kala membaca celetukannya yang ‘terdengar’ menyerang eksistensi.

‘Serangan’ kepolosan Mafalda tidak hanya ditujukan kepada keseharian atau kehidupan terdekatnya, tetapi juga merambah ke dunia pendidikan, peperangan, carut marut bangsa, maupun dunia. Dan bagaimana Mafalda menyindir masalah peperangan, PBB, dan Amerika, harusnya membuat ‘mereka-mereka’ yang andil atau menduduki kursi kekuasaan merasa malu. Sayang, sepertinya mereka terlalu angkuh untuk menanggalkan ego?

Salah satu poin yang sangat berpengaruh dalam meraih generasi yang unggul adalah sistem pendidikan. Kemudian, bagaimana pendidikan menurut kacamata anak-anak? Mafalda sukses menyentil berlimpahnya aktivitas sekolah yang kerap ‘menekan’ otak anak-anak. Sedangkan di sisi lain, banyaknya materi pelajaran terkadang tidak didukung dengan mutu yang baik.

Seperti yang tergambar di salah satu strip Mafalda terlihat mengukur lingkar kepalanya dengan menggunakan meteran, kemudian berujar sambil melihat hasil di meteran, “Emmm… Muat nggak ya buat nampung semua yang diajarin di sekolah?” [Sekolah Yuk!: 3]

Ibu guru (mengajar di depan kelas): Mama sayang aku. Mama cinta aku.

Mafalda (maju menyalami Bu Guru): Selamat ya, Bu, sepertinya mama Ibu baik sekali.
Kemudian kembali ke bangku dan berteriak: Nah sekarang tolong ajari kami sesuatu yang lebih berguna. [Sekolah Yuk!: 14]

Pria yang bernama asli Joaquin Salvador Lavador ini, tidak hanya bertumpu pada sosok Mafalda dalam menyampaikan kritik-kritiknya. Masih ada empat bocah cilik yang masing-masing memiliki karakter kuat. Tokoh Felipe dengan imajinasinya sangat tinggi akibat kontaminasi televisi; Sosok Manolito yang mewakili para kapitalis; Susanita yang merupakan gambaran kaum borjuis yang terkadang feminis, atau Miguelito yang lugu.

Sedikit petikan dari banyaknya celoteh bocah-bocah ini yang cukup menyentil,

Susanita: Dasar Mafalda! Menyebalkan! Dia bilang pertanyaanku adalah pertanyaan bodoh!
Manolito: Memangnya kamu tanya apa?
Susanita: Kenapa di Negara ini para pekerjanya sangat miskin, nggak pirang, nggak ganteng dan nggak punya mobil kayak Amerika? Menurutmu pertanyaanku itu bodoh?
Manolito [termenung]: Nggak. Kalau dipikir-pikir, itu bukan pertanyaan bodoh.
Susanita: …………
Manolito: Beneran, deh. Kalau dipikir-pikir lebih dalam. Itu pertanyaan berbahaya!
[Hidup Negeriku! : 19]

Felipe: Halo!
Mafalda: Sssstttt!! Jangan kencang-kencang! Ada yang lagi sakit di rumah.
Felipe: Papamu sakit?
Mafalda: Nggak
Felipe: Kalau gitu Mamamu, ya?
Mafalda: Bukan juga
Selanjutnya digambarkan mafalda duduk di depan globe yang sedang dibaringkan dalam kondisi ‘sakit’
[Astaga Dunia Kok Tambah Parah, Sih: 3]

Berdasar wawancara Quino dengan Lucia Iglesias, wartawan Unesco Courrier, pada tahun 2000, ia mengatakan, “Dunia sekarang masih tetap sama dengan dunia yang dikritik Mafalda pada 1973, saat saya tidak lagi melanjutkan komik strip tersebut, atau bahkan lebih buruk. Di satu sisi saya senang komik ini masih terus dibaca, tapi di sisi lain sedih rasanya memikirkan ketidakadilan sosial yang dia adukan masih tetap ada sampai sekarang.” [dikutip dari Pengantar Redaksi]

Salah satu bukti bahwa dunia tidak pernah belajar dari sejarah.

Judul : Mafalda 1
Penulis : Quino
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun : 2010
Tebal : xii + 129 halaman
Genre : Komik Strip
ISBN : 978-979-91-0213-3

lintasberita

Lanjut Baca

Suami Untuk Mama

Sejak Mama dan Papa Su berpisah karena pertengkaran mereka saat liburan ke Yugoslavia, Su tinggal di rumah neneknya. Nenek adalah perempuan bertubuh besar dan tegap, ditambah dengan sifat yang suka menguasai dan suara keras, Papa menjulukinya “Nyonya Sersan”. Nenek tidak tinggal sendiri, dia tinggal bersama Oma Alice, adiknya, dan Tante Irmela, adik Mama. Bersama wanita-wanita inilah Mama, Su dan Kakaknya, I tinggal setelah minggat dari rumah Papa. Pertengkaran ini menyebabkan Su dan I agak kesulitan jika ingin bertemu dengan Papa, yang sebelumnya bisa mereka jumpai kapan saja.



“Bukan salahku mereka berpisah. Aku punya hak bertemu dengan ayahku sesering yang kuinginkan dan tidak didikte ibu! Aku ini bukan perabot dapur, yang dibawa-bawa waktu pindah dan ditaruh di dalam dapur yang baru!” h.79


Su tidak hanya pusing dengan masalah Papa dan Mama, tetapi juga dari Oma Alice yang tergila-gila dengan kebersihan dan kebiasaannya mengumbar peribahasa hampir di setiap kalimatnya. Oma Alice selalu ikut “menyemarakkan” perdebatan yang terjadi di rumah, selain itu sangat hobi menggerutukan kalau orang-orang di rumah tidak ada yang pernah mau memberitahukan apa pun kepadanya, padahal dia selalu mengetahui semua yang terjadi pada penghuni rumah. Nenek pun tidak bisa diharapkan untuk menciptakan ketentraman dengan sifatnya yang “mengerikan”. Hanya Tante Irmela, orang dianggap masih “normal”. Perempuan berusia 30-an yang mampu membuat para pria bertekuk lutut dengan rambut pirang, mata biru dan lesung pipinya. Tetapi kenormalan Tante Irmela tidak mampu mengalahkan kesengitan perempuan-perempuan di rumah. Beruntunglah Su memiliki teman laki-laki yang tinggal bertetangga dengannya, Benny Meier. Benny hanya tinggal bersama ayahnya semenjak ibunya menghilang. Sering kali Su menceritakan keluhan-keluhannya dengan tingkah Nenek dan Oma Alice kepada Benny.


“… Benny Meier benar! Benny mengatakan dugaannya bahwa suasana di tempat banyak wanita hidup bersama selalu “sengit”….Jadi? Jadi harus dimasukkan laki-laki ke dalam rumah!...” h.51


Komentar Benny membuat Su berkesimpulan bahwa di rumah membutuhkan pria untuk menenangkan kesengitan. Setelah menimbang-nimbang siapa yang akan Su “nikahkan”, dia memutuskan untuk mencari Mama suami baru. Segera Su membuat daftar pria yang dikenalnya, kemudian dicoret beberapa calon yang dinilainya tidak “layak”. Di sekian calon, Su sangat menyukai Dr. Johannes Salamander, guru bahasa Jermannya. Su menjulukinya Salamander Api karena dia sangat menyukai rambutnya yang berwarna merah menyala. Dengan segala upaya Su berusaha membuat Salamander terpikat dengan Mamanya lewat taktik bawah sadar, yang nantinya akan membuatnya dianggap mengalami gangguan jiwa dan dibawa ke “dokter empat ratus shilling”


Gagal menjodohkan Mama dengan Salamander, gadis cilik yang suka menyusun sajak ini tidak menyerah. Dia masih berkeinginan untuk mencarikan Mamanya suami. Dari Benny tercetus nama Ayahnya. Su menganggap ide Benny sangat cemerlang. Sebenarnya keluarga Su dan ayah Benny sangat tidak akur, bahkan Nenek dan Oma Alice menyebutnya “si Tak Tahu Diri” kepada Ayah Benny. Akan tetapi kali ini Su benar-benar bertekad mendapatkan ayah, maka dia menyusun rencana bersama Benny agar Ayah Benny dan Mama Su bisa menikah. Hanya saja, rencana mereka berujung dengan pertengkaran yang sangat hebat.


Berdasarkan pengakuan Christine Nostlinger, penulis asal Autria ini dulunya adalah bocah yang liar dan pemarah. Sifatnya di masa kecil ini sepertinya sangat berperan atas tercipta tokoh Su yang polos tetapi kritis menanggapi keadaan di sekitarnya. Berbeda dengan Madicken, Pippi atau Emil, tokoh cilik rekaan Astrid Lingren yang atraktif lewat tingkahnya, Su lebih atraktif dengan pikiran-pikirannya dan lebih banyak melakukan debat. Beberapa kalimat yang menurutku sangat sinis tapi ngena adalah,



“Saat itu aku sebenarnya kepingin sekali datang ke balkon sebelah, untuk mengatakan pada Mama dan Papa bahwa mereka berdua sama-sama salah. Aku juga ingin sekali mengembalikan segala petuah yang biasa mereka ucapkan padaku dan I, jika kami berdua bertengkar”
h.23


“Hebat sekali orang tua yang kita pilih” h.24 [diucapkan ketika Mama dan Papa untuk kesekian kalinya bertengkar di meja makan restoran]


“Jangan suka mencampuri kehidupan orang dewasa lagi. Mereka tidak suka jika dicampuri.[kata dokter empat ratus shilling] “Eh! Kenapa tidak suka jika dicampuri?” kata Su memprotes. “Orang dewasa sendiri juga suka mencampuri kehidupanku! h.99


Judul Buku : Suami Untuk Mama

Penulis: Christine Nostlinger

Penerjemah: Agus Setiadi

Penerbit: Gramedia

Terbit: Maret, 1985

Tebal Buku: 192 halaman





lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar