Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Buku GOD THE FAILED HYPOTHESIS - ulasan

Judul : God: The Failed Hypothesis – How Science Shows that God Does Not ExistPengarang : Victor J. StengerPenerbit : Promotheus BooksTahun : 2008, cet. keduaTebal : 300 halBanyak yang berpendapat bahwa sains dan agama merupakan area yang berbeda, dan memiliki kebenaran sendiri-sendiri. Antara lain bahwa agama adalah mengenai moralitas dan hal-hal supernatural, sedangkan sains mengenai hal yang
lintasberita

Lanjut Baca

Buku ARUS BARU ISLAM RADIKAL - ulasan

Judul : Arus Baru Islam Radikal – Transmisi Revivalisme Islam Timur Tengah ke IndonesiaPengarang : M. Imdadun RahmatPenerbit : ErlanggaTahun : 2007, AgustusTebal : 166 halSeberapa besarkah kebangkitan Islam di Indonesia dipengaruhi dari luar? Apakah tujuan akhirnya? Bagaimana kemungkinan perkembangannya di masa mendatang? Penulis mendefinisikan revivalisme Islam sebagai kebangkitan Islam dalam
lintasberita

Lanjut Baca

Buku Mother Teresa: Come Be My Light - ulasan

Judul : Mother Teresa : Come Be My Light – The Private Writings of the “Saint of Calcutta”Editor : Brian Kolodiejchuk, M.CPenerbit : Doubleday, NYTahun : 2007Tebal : 400 hal "Where is my faith? – even deep down, right in, there is nothing but emptiness & darkness. – My God – how painful is this unknown pain. It pains without ceasing – I have no faith – I dare not utter the words & thoughts that
lintasberita

Lanjut Baca

Buku WAJAH LIBERAL ISLAM DI INDONESIA - ulasan

Penyunting : Luthfi AssyaukaniePenerbit : Jaringan Islam Liberal (JIL)Jml hal. : 309 halamanTahun : 2002Di tengah kecenderungan meningkatnya radikalisme dan pemahaman Islam yang lebih keras yang antara lain ditandai dengan semakin banyaknya pemakaian baju muslim, penafsiran literal atas Al Qur'an, dan kecenderungan untuk membagi masyarakat dalam kotak-kotak agama serta menyalahkan segala
lintasberita

Lanjut Baca

Buku THE GHOST IN THE UNIVERSE - ulasan

Judul : The Ghost in the Universe - God in the Light of Modern SciencePengarang : Taner EdisTebal : 325 halamanTahun : 2002Penerbit : Prometheus Books, NYApabila anda pernah sedikit saja meragukan keyakinan anda, karena merasa apa yang diajarkan sebagai kebenaran dan suci tidak pas atau kontradiktif dengan logika, tapi kemudian akhirnya anda berkata, “Baiklah, mungkin rasio saya memang tidak akan
lintasberita

Lanjut Baca

Buku Terbenamnya Iman - Agama, Teror dan Masa Depan Nalar - ulasan

Judul : Terbenamnya Iman – Agama, Teror dan Masa Depan Nalarterjemahan dari The End of FaithPengarang : Sam HarrisPenerbit : Abdi TandurTahun : 2007Tebal : 310 halIni adalah terjemahan buku The End of Faith tahun 2005 yang cukup terkenal itu. Cukup mengejutkan bahwa ada penerbit yang berani menerjemahkan buku ini di Indonesia, meski saya tidak menemukannya di toko-toko buku besar.Seperti buku The
lintasberita

Lanjut Baca

Buku INFIDEL - ulasan

Judul : InfidelPengarang : Ayaan Hirsi AliPenerbit : Free Press, NYTahun : 2007Tebal : 350 halAyaan adalah mantan anggota Parlemen Belanda yang berasal dari Somalia. Namanya mungkin asing bagi masyarakat Indonesia, namun bagi pembela kebebasan berpikir dan berpendapat, kini ia adalah salah satu tokoh yang dikagumi karena keberaniannya melakukan kritik terhadap kaum fundamentalis Islam dan
lintasberita

Lanjut Baca

Buku RELIGION EXPLAINED - The Evolutionary Origins - ulasan

Judul : Religion Explained – The Evolutionary Origins of Religious ThoughtPengarang : Pascal BoyerPenerbit : Basic Books, NYTahun : 2001Tebal : 330 halBerdasarkan penelitian antropologi, setiap kebudayaan memiliki agama atau yang dapat disamakan dengan itu. Namun, mengapa manusia pada umumnya beragama? Adakah jawaban tunggal untuk pertanyaan tersebut?Banyak jawaban telah diberikan untuk menjawab
lintasberita

Lanjut Baca

Spiritualitas, Esensi Beragama


Dimuat di SEPUTAR INDONESIA, Minggu 26 Desember 2010

Judul:  You are Not Alone; 30 Renungan Tentang Tuhan dan Kebahagiaan
Penulis: Arvan Pradiansyah
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: I, 2010
Tebal: xvi + 249 halaman

KETIKA manusia mengalami peristiwa dahsyat yang bakal merenggut nyawanya,seketika itu pula dia membutuhkan kekuatan di luar dirinya,yaitu Tuhan, yang bisa menyelamatkannya.

“Benar gak sih masih ada Tuhan dalam diri kita? Coba Anda tes dengan mengunjungi Gunung Merapi...Pasti Ada Tuhan!” Begitu bunyi status Facebook seorang teman saat kejadian erupsi Gunung Merapi yang memakan korban jiwa. Status tersebut mengindikasikan ketika seseorang dihadapkan pada musibah, biasanya manusia sadar bahwa mereka membutuhkan pertolongan Tuhan. Stalin, seorang tokoh komunis Rusia,secara tidak langsung mengakui juga adanya Tuhan. Arvan Pradiansyah dalam buku ini mengisahkannya. Waktu itu Stalin bersama rombongannya tengah berada di dalam pesawat, tiba-tiba pesawatnya mengalami kerusakan parah tepat di atas pegunungan.

Tak ayal, Stalin merasakan ketakutan yang luar biasa dan secara spontan dia berkata, “Tuhan, tolonglah aku!” Kisah Stalin itu menandakan bahwa di dalam bawah sadar seorang ateis sekalipun terdapat kesadaran mengenai keberadaan Tuhan. Peristiwa dahsyat yang merenggut nyawa bisa menghentakkan kesadaran manusia akan keberadaan dan kekuatan Tuhan. Lewat buku ini Arvan memberikan pesan bahwa manusia senantiasa diperhatikan Tuhan.Tuhan selalu ada dalam kancah kehidupan manusia. Kehadiran Tuhan itu terejawantahkan lewat agama. Hanya saja kemudian Arvan mempertanyakan (lebih tepatnya merenungkan),mengapa sebagian manusia beragama yang notabene memercayai adanya Tuhan tidak kunjung berkelakuan baik?

Mengapa agama seolah tidak berhasil membuat penganutnya menjadi orang yang baik? Mengapa Indonesia yang dikenal sangat religius sekaligus juga dikenal sebagai negeri terkorup di dunia? Mengapa kita juga memperoleh predikat nomor dua untuk pornografi dan nomor tiga untuk masalah narkoba?

Agama Minus Spiritualitas

Arvan mencoba mencari akar penyebab perihal pertanyaan-pertanyaan di atas. Salah satu penyebabnya adalah manusia kerap kali beragama,tapi minus spiritualitas. Padahal, esensi beragama sejatinya adalah spiritualitas. Inti spiritualitas adalah bagaimana menjadi orang baik.Adapun landasan kecerdasan spiritualitas adalah kesadaran akan kehadiran Tuhan: dalam setiap situasi merasa selalu dilihat Tuhan dan merasakan kebersatuan dirinya dengan Tuhan [halaman 7–8]. Kesadaran spiritual di atas membuat Arvan yakin bahwa masalah- masalah yang terjadi dalam hidup kita bisa selesai dengan sendirinya.

Betapa tidak, ketika seseorang demikian dihadapkan pada persoalan, dia akan langsung ingat Tuhan. Jika melakukan perbuatan buruk,dia sadar bahwa dia akan mengecewakan Tuhannya yang senantiasa memperhatikannya dari waktu ke waktu. Sayangnya, kata Arvan, agama sering kali terpisah dari spiritualitas. Sembari mengutip pendapat John Naisbitt,Arvan mengatakan pada abad ke-21 ini agama semakin kurang diminati orang, sebaliknya orang semakin berminat terhadap spiritualitas. Minat ini tentu saja didorong kebutuhan untuk mengisi spiritualitas kita yang semakin lama semakin kering karena percepatan kehidupan. Di sinilah terletak masalahnya: agama semakin terpisah dari spiritualitas,padahal sebenarnya spiritualitas itulah inti dari keberagamaan seseorang [halaman 112].

Melalui buku ini,Arvan mengajak pembaca untuk beragama secara spiritualitas. Spiritualitas merupakan kebutuhan manusia yang sangat mendesak sekarang ini. Kita butuh tempat yang kokoh untuk bersandar, sesuatu yang memberikan ketenangan, kepastian, dan ketenteraman yang sejati. Adapun efek dari beragama plus spiritualitas adalah rasa cintanya kepada sesama manusia. Manusia beragama seperti itu akan senantiasa menghadirkan Tuhan dalam kesehariannya seperti pada saat bekerja dan berinteraksi dengan orang lain. Tuhan selalu hadir dalam dirinya, dalam gerak langkahnya, dan dalam segala hal yang dilakukannya.

“Agama spiritualis” yang digagas Arvan ini sejatinya mirip dengan konsep tasawuf Ibnu Arabi, sufi-filsuf Andalusia, yaitu “tajalli”. Kata “tajalli” berarti ”penampakan diri Tuhan” yang bersifat absolut dalam bentuk alam yang bersifat terbatas. Dengan kata lain,Tuhan seolah-olah telah menyatu kepada orang yang telah mengalami mukasyafah (merasakan kehadiran Tuhan). Karakter dan kepribadian mereka dipenuhi sifat-sifat Tuhan, seperti mencintai, menyayangi,menolong,dan sebagainya. Tampaknya buku ini tepat sekali untuk menjadi obat dari tiga penyakit jiwa masyarakat modern, sebagaimana dikatakan Sayyid Hossein Nasr,yaitu kehilangan orientasi ilahiah, kehampaan spiritual, dan degradasi moral. Setiap pembahasan dalam buku ini dibuka dengan kisah-kisah yang segar, menarik, kadang berhumor, tapi sarat hikmah dan nilai-nilai kebajikan.

Bentuk kisahnya pun beraneka ragam dalam pelbagai macam gaya.Namun,semuanya menarik pembaca kepada renunganrenungan soal ketuhanan dan kebahagiaan. Terdapat kekuatan besar dari pelbagai kisahnya. Jika kita membaca buku ini dengan penuh penghayatan mendalam kemudian mengamalkan pesan-pesannya, kita akan mendapatkan perubahan pikiran dan perilaku yang positif. Buku ini sangat relevan dengan situasi yang ada sekarang.Selamat membaca.(*)

M Iqbal Dawami,
bergiat di Kere Hore Jungle Tracker Community (KHJTC) Yogyakarta

lintasberita

Lanjut Baca

Kiamat 2012

Judul: The Mystery of 2012
Penulis : Gregg Braden, dkk
Penerbit : Ufuk Publishing House
Cetakan: I, Juni 2009
Tebal : 579 Halaman
--------------------

DEMAM tahun 2012 telah melanda dunia. Tak terkecuali Indonesia. Tak ketinggalan pula para penulis mengulas fenomena 2012 tersebut. Walhasil, pelbagai buku menjelaskan 2012 ini dari pelbagai sudutnya.
Angka 2012 mendadak menggetarkan banyak orang. Hal ini bermula dari ramalan bangsa Maya yang meramalkan bahwa pada 21 Desember 2012 akan terjadi gangguan pada rotasi bumi. Pada waktu itu, tata surya, dengan matahari sebagai pusatnya, akan menutupi pemandangan pusat galaksi Bimasakti dari bumi. Ini terjadi setiap 26.000 tahun sekali.

Bangsa Maya adalah bangsa yang pernah ada di Amerika Tengah dan Meksiko. Dalam sejarahnya, bangsa ini pernah mengalami peradabannya. Salah satu buktinya adalah, tanpa teleskop dan mesin hitung, mereka bisa menyusun kalender melalui pengamatan benda langit dengan mata telanjang yang disusun secara sistematis. Suku Maya yang diketahui primitif, namun memiliki pengetahuan astronomi yang maju. Mereka memiliki sistem kalender sendiri dengan siklus 260 hari setahun yang dikenal tzolkin (baca = zolkeen) yang terdiri atas 13 angka dan 20 tanda hari.

Nah, Kalender bangsa Maya tersebut hitungannya berakhir pada 2012. Hitungan tersebut bukan hanya ramalan Suku Maya Kuno belaka, tapi berdasarkan fakta yang logis secara hitungan kosmis dan siklus penanggalan mereka. Para ilmuwan pun berhasil membuktikannya. Tidak berhenti di situ saja, sistem penanggalan peradaban kuno Cina, India, dan Persia juga menunjukkan sesuatu yang besar akan terjadi di seputar tahun dan tanggal tersebut.

Salah satu buku yang menjelaskan ihwal “kiamat” 2012 adalah The Mystery of 2012. Melalui buku ini, pembaca akan diberikan pemahaman yang lengkap bagaimana Suku Maya menetapkan kalender waktu dan prediksi apa yang akan terjadi sebelum dan setelah 2012. Tidak hanya itu, buku setebal 579 halaman ini menyajikan analisis dari prediksi 23 ahli tentang fenomena Kalender Maya tersebut. Para ahli dalam buku ini memberikan penjelasan logis yang mendasarkan tulisannya dari penelitian situs langsung, wawancara dan wacana keilmuan yang bersifat empiris.

Ervin Laszlo, Peneliti dan Kepala Evolution Research Group, misalnya, mengakui kebenaran siklus akhir kalender Maya. Bahwa pada saat itu terjadi "titik kekacauan" dalam kehidupan manusia. Bisa jadi "titik kekecauan" ini sebagai gejala akhir dunia. Hanya saja, dia menganalisis “titik kekacauan” itu bukan berarti sebagai waktu terjadinya hari akhir. Siklus itu hanya menandai terjadinya akhir hari dan masih ada hari berikutnya yang baru. Setelah 2012 akan ada masa yang lebih baik lagi bagi manusia.

Sedang menurut Greg Braden, ahli sistem komputer untuk ruang angkasa yang menjembatani ilmu pengetahuan dan spiritualitas, sekaligus ketua tim investigasi untuk buku ini, bahwa 2012 akan membawa pembalikan kutub magnetik bumi. Kemagnetan planet akan membalik dan titik atau badai matahari akan jadi tanda bagi perubahan mendatang. Dia menarik dari bukti fisik, teori kuantum, dan kecenderungan sejarah untuk mengukur kemungkinan destruksi masif atau kemunculan realitas baru yang memberdayakan pada 2012. Dia juga menyatakan bahwa yang terpenting bukan apa yang akan terjadi, tetapi bagaimana potensi kolektif muncul dari pemahaman holistik dan kesadaran tentang siapa diri kita di tengah Semesta Raya.

Peter Russel mempunyai sudut pandang lain lagi. Dia lebih banyak bercerita tentang perubahan di tahun 2012 sebagai dampak evolusi yang berakselerasi. Hal yang lebih penting dari fenomena 2012 ini, menurut Russel, adalah sebagai permulaan zaman kearifan ketimbang menamai fenomena 2012 sebagai kiamat. Tiap fase baru dalam inteligensi yang berkembang berlangsung dalam pecahan waktu dari fase sebelumnya sehingga kita dapat mengharapkan permulaan Zaman Kearifan yang berlangsung selama berpuluh-puluh tahun yang akan berpijak di Zaman Informasi. Hal itu memungkinkan akan ada transformasi menuju spesies baru.

Dengan adanya multi tafsir mengenai fenomena 2012, kita sebenarnya diajak berpikir untuk memaknai pula fenomena tersebut, dengan pelbagai macam pemaknaan. Boleh jadi kita memahami hal itu sebagai ramalan yang terlalu dilebih-lebihkan karena memang kejadian pada tahun itu adalah sesuatu yang sunnatullah (hukum alam), namun boleh pula kita melihat dari sisi spiritualitas bahwa sudah saatnya manusia sungguh-sungguh introspeksi diri sembari melakukan perbaikan diri, untuk sesama maupun untuk alam sekitar.

Pada akhirnya, buku ini paling tidak memberi wawasan akan fenomena alam dan (lebih penting lagi) membuka kesadaran kita untuk hidup lebih sungguh-sungguh dalam menjaga alam sekitar kita.***

lintasberita

Lanjut Baca

Filsafat Ketuhanan Whitehead

Resensi ini dimuat di Seputar Indonesia, Minggu, 04 Oktober 2009

Judul: Mencari Tuhan Sepanjang Zaman: Dari Agama-Kesukuan Hingga Agama Universal
Penulis: Alferd North Whitehead
Penerjemah: Alois Agus Nugroho
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: I, Juli 2009
Tebal: xxxiii+204 hlm. (termasuk indeks)
-----------------------

Buku Mencari Tuhan Sepanjang Zaman ialah renungan tentang perkembangan agama dan penghayatan ketuhanan berdasarkan Kosmologi Proses. Berbeda dengan konsep evolusi Darwin, kosmologi proses menganggap alam semesta berevolusi menurut “hukum” kebaikan menuju suatu finalitas (tujuan). Pola atau hukum itu menjadi “format” dalam evolusi semesta, namun manusia yang merdeka harus jatuh bangun menafsirkannya. Sedangkan, tujuan itu ialah Tuhan sebagai “muara” dari kehidupan setiap makhluk, sehingga kehidupan duniawi ini tak sekadar gelembung sabun dari kesia-siaan yang tandas.

Whitehead melihat perkembangan “agama-agama dunia” dari kacamata pengalaman manusia dalam kebudayaan. Meskipun bertolak dari penghayatannya sebagai seorang Kristianis, yang dibicarakannya sebagai filosof sebenarnya adalah semua agama dunia. Dalam penafsiran Whitehead, agama-agama dunia berkembang dari “masa kanak-kanak” berupa “agama suku”, ke arah kesadaran bahwa agama bersangkutan adalah “rahmat bagi seluruh alam”. Dalam perkembangannya itu, agama semakin melengkapi diri selain dengan unsur-unsur ritual yang menggugah emosi, juga dengan pernyataan-pernyataan iman, dan akhirnya dengan penalaran-penalaran teologi atau ilmu kalam.

Filsafat Agama dari Whitehead ini mengantar pembaca pada Filsafat Ketuhanan yang oleh Charles Hartshorne diberi nama “Pan-en-theisme”. Filsafat Ketuhanan itu mereguk inspirasi spiritual dari agama-agama dunia yang lahir di Timur Tengah dan yang lahir di India. Tak berlebihan, kalau dalam zaman yang dieja oleh Habermas sebagai “the Post-secular Age” ini, membaca perenungan Whitehead akan menyegarkan iman kita masing-masing, betapa pun berbeda kosakata yang kita pakai.

Whitehead pada awalnya tidaklah dikenal sebagai filosof, apalagi metafisikawan. Pemikiran tentang metafisika, termasuk di dalamnya tentang agama dan Tuhan, barulah mengkristal pada periode ketiga dalam perkembangan hidup dan perkembangan pemikiran Whitehead. Dalam periode pertama, yang berlangsung sampai dengan 1910, Whitehead lebih dikenal sebagai seorang ahli matematik.

Whitehead tidak hanya penulis produktif, melainkan juga pemikir orisinal dan sistematikawan ulung. Buku ini memperhalus dan mengembangkan tulisan sebelumnya, Science and the Modern World, yakni tentang “Abstraksi” dan “Tuhan”. Whitehead menata pemikirannya ke dalam suatu keseluruhan yang sistematis yang di dalamnya sains dan agama menduduki tempat yang penting.

Konsep “Tuhan” dalam sistem pemikiran Whitehead mula-mula berkait dengan sebab-sebab formal (formal cause) yang selama ini dikesampingkan oleh sains modern. Sains modern pada umumnya hanya memerhatikan sebab musabab material dan sebab musabab efisien, sambil menyisihkan sebab musabab formal, dan sebab musabab final.

Sebab-sebab formal itu berkait dengan keberadaan “eternal objects” atau “realm of forms”, yaitu bentuk-bentuk atau pola-pola yang tertuang dalam proses perwujudan suatu hal konkret. Sebagian kecil dari dunia kemungkinan yang tak terbatas itu “di-format-kan”, “di-informasi-kan”, dalam setiap proses perwujudan diri. Dunia kemungkinan ini sudah diisyaratkan sebagai dunia “idea-idea” dari Plato atau “universalia” Abad Pertengahan, meskipun bagi Whitehead, yang ada hanyalah yang aktual dan dunia bentuk hanyalah salah satu unsur formatif dari yang sungguh-sungguh ada.

Konsep “Tuhan” dalam pemikiran Whitehead merupakan hasil dari intuisi dan sistematis. Sistematisasi boleh dikatakan mencapai bentuknya yang lebih ketat. Tuhan dalam sistem metafisika Whitehead pertama-tama dikaitkan dengan “permanensi”. Aspek pertama berkait dengan permanensi dari forma-forma yang tertata yang diformatkan, diinduksikan, diinformasikan, atau dipersuasikan kepada dunia semesta. Aspek kedua berhubungan dengan permanensi dari apa saja yang “menjadi”, semua yang pernah datang dan semua yang menghilang.

Konsep Whitehead tentang Tuhan tersebut diramu dari pelbagai intuisi tentang Tuhan di dalam sejarah metafisika dan sejarah agama-agama yang dewasa, yang dalam istilah Whitehead disebut sebagai “agama rasional”. Agama yang berkembang ke arah kedewasaaan, menurutnya, tetaplah peduli pada segi perasaan dan peribadatan dari hidup beragama, tetapi juga tidak menelantarkan segi doktrin atau ajaran. Peribadatan dan Perasaan malah dapat dikatakan perlu diintegrasikan dengan ajaran. Agama-agama dewasa menyadari pentingnya kesaksian iman dan dogma, namun lebih lebih dari itu, agama-agama mencapai kedewasaan dalam perkembangannya apabila tidak bersifat dogmatis. Artinya, agama dewasa terus-menerus menyusun dogma-dogma menjadi suatu sistem yang koheren, logis, adekuat, dan aplikatif. Jadi, agama sendiri adalah sesuatu yang berada dalam proses, sesuatu yang “menjadi”.

Konsep ketuhanan Whitehead dan filsafat proses pada umumnya muncul dari pendekatan antara agama dan metafisika ini. Memang, dalam pemikiran Whitehead terjadi pendekatan antara dogma agama dan metafisika. Pendekatan agama dan metafisika itu pun dilakukan dalam rangka proyek yang lebih besar lagi, yakni pendekatan antar-semua cabang kebudayaan (agama, seni, ilmu pengetahuan, dan filsafat) yang masing-masing memberi kontribusi—dengan keterbatasan masing-masing pula—kepada hidup dan peradaban manusia.

Agama yang dewasa pada intinya adalah agama yang mampu mengharmoniskan, mampu menyeimbangkan segi rasionalitas dengan perasaan, segi batin dengan ekspresi lahiriah, keheningan soliter dengan kolektivitas komunal. Yang batiniah, yang rasional, dan yang soliter dalam pengalaman beragama ini menurut Whitehead tidak akan menjadikan orang beriman individualistis atau egoistis. Justru sebaliknya. Pengalaman batiniah, rasionalitas, dan keheningan soliter itu akan menumbuhkan apa yang oleh Whitehead disebut sebagai “world loyalty”, yakni loyalitas yang tidak hanya tertuju kepada keluarga, puak, suku, ras, atau “umat” sendiri, melainkan merengkuh seluruh manusia, bahkan seluruh alam semesta. Para penyair berbicara tentang “peak experience” dan “epiphany”. Yang pertama muncul ketika kita merasa tubuh kita menyatu dengan alam yang mahaluas. Yang kedua muncul ketika kita menyadari pikiran kita menyatu dengan alam yang mahaluas.

Jadi, konsep Whitehead tentang “agama” dalam perkembangannya yang dewasa, boleh dikatakan merupakan jalan tengah di antara pandangan yang menekankan individu di satu pihak dan pandangan yang menekankan komunitas di pihak lain. Para pemikir semisal William James, Friedrich Schleimacher, dan Rudolf Otto memberi penekanan kuat pada segi perasaan dari pengalaman religius. Bagi mereka, agama lebih merupakan penghayatan pribadi. Sebaliknya, Max Weber dan Emile Durkheim memberi garis bawah tebal pada ritus, institusi, dan kesaksian iman. Bagi mereka ini, agama lebih merupakan gejala sosial. Whitehead menyadari bahwa kedua hal tersebut sama-sama berperanan. Satu sama lain saling memengaruhi.

M Iqbal Dawami,
Staf pengajar STIS Magelang

lintasberita

Lanjut Baca

Belajar Kebajikan dari Sang Nabi

*Update*
Resensi ini meraih juara I. Alhamdulillah. Terima kasih.
------------------
Resensi ini sedang ikut dilombakan yang diadakan oleh penerbit Zaman. Semoga saja jadi jawara, karena hadiahnya (berupa buku senilai Rp.350.000) akan saya sumbangkan ke perpustakaan yang ada di kampungku.
------------------
Judul: Bilik-Bilik Cinta: Kisah Sehari-Hari Rumah Tangga Nabi
Penulis: Dr. Nizar Abazhah
Penerbit: Zaman, Jakarta
Cetakan: I, 2009
Tebal: 384 hlm.
------------------

George W. Burns, seorang ahli psikoterapi yang berpengalaman di bidang psikologi klinis memaparkan bahwa cerita dapat memiliki kekuatan yang dahsyat, yakni menumbuhkan sikap disiplin, membangkitkan emosi, memberi inspirasi, memunculkan perubahan, menumbuhkan kekuatan pikiran-tubuh, dan bahkan menyembuhkan. Dengan adanya cerita yang kita bagikan kepada orang lain akan menawarkan pilihan yang menyenangkan hati, baik anak-anak maupun orang dewasa. Topik apa pun menjadi hidup saat disampaikan dalam bentuk cerita. Di samping itu, orang-orang di semua usia mudah mengingat informasi jika disandikan dalam cerita.

Buku Bilik-Bilik Cinta: Kisah Sehari-Hari Rumah Tangga Nabi merupakan salah satu topik yang disampaikan melalui bentuk cerita. Di dalamnya adalah pelbagai kisah keseharian Nabi Muhammad Saw. yang kerap kita abaikan begitu saja. Karya Nizar Abazhah ini, memuat aspek religius (agama), pedagogik (pendidikan), dan psikologis. Oleh karena itu, buku ini begitu efektif untuk dijadikan sarana transformasi nilai-nilai positif kepada sang pembaca.

Empat belas abad yang silam, Nabi Muhammad Saw. wafat, tetapi namanya tetap semerbak dan terukir abadi di hati kaum muslim. Sejarah kehidupannya yang jernih tak hentinya mengalir memberikan kesejukkan, mengobati dahaga sekaligus cermin bagi manusia sepanjang masa. Hal yang menjadi pertanyaan dasar, apa sesungguhnya rahasia besar di balik pesona keagungan perilaku Rasulullah Saw. tersebut? Buku karangan Nizar Abazhah berusaha menjawabnya

Ketika Aisyah r.a ditanya tentang akhlak Nabi Saw., ia menjawab.” Akhlak beliau adalah Alquran.” Jawaban yang simpel tapi mempunyai makna yang dalam. Alquran merupakan sumber dari nilai akhlak dan kenyataannya bisa dilihat dari perilaku (sunnah) Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari- hari.
Kebesaran Rasulullah baik sebagai Rasul ataupun pemimpin sama sekali bersih dari kultus dan pemitosan. Beliau bukanlah manusia “sakti mandraguna”. Secara lahiriah beliau manusia biasa dari kalangan kebanyakan. Yang membedakan Rasulullah dari manusia lain adalah posisinya sebagai pembawa wahyu. Allah berfirman, ”Katakanlah bahwasannya aku (Muhammad) hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasannya Tuhan kamu adalah Tuhan yang satu. Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju pada-Nya…”(QS. Fushshilat: 6).

Sebagai manusia, Rasulullah Saw. mampu mengimbangi keluhuran posisinya sebagai pemimpin dunia dengan sikap tawadhu (rendah hati). Saat melihat seorang sahabat yang menghadapnya tampak gemetar, beliau menegurnya dengan lemah lembut penuh kearifan. “Kenapa kamu ketakutan? Aku bukan seorang raja, aku hanya anak seorang perempuan suku Quraisy yang makannya dengan daging yang dikeringkan (sebuah makanan kalangan orang miskin Arab.”

Selain, Alquran dan Hadits, Rasulullah mewarisan keteladanan hidup yang luhur. Buku ini adalah salah satu buku panduan untuk meneladani kehidupan Rasulullah Saw. Nizar Abazhah menyampaikan contoh-contoh keteladanan Rasulullah seperti, kerendahan hatinya, kesederhanaannya, kedermawanannya, kasih sayangnya dan lain-lain.

Beberapa contoh dapat kita simak. Suatu ketika Rasulullah mendatangi rumah Fatimah, putrinya, dan bertanya, “Di mana kedua cucuku?” Fatimah kemudian menjawab bahwa Hasan dan Husain ikut ayahnya bekerja di rumah seorang Yahudi.

Rasulullah pun segera mendatangi rumah orang Yahudi yang disebutkan. Ketika sampai di rumah yang dituju, Rasulullah mendapati Ali yang sedang bekerja beserta kedua anaknya. “Wahai Ali,” sapa Rasulullah, “Tidakkah kau bawa anakmu pulang, sebelum terik matahari menyengat mereka?”

“Wahai Rasulullah,” jawab Ali, “hari ini kami tidak memiliki apa pun untuk dimakan. Karenanya, biarkan kami bekerja di sini sampai dapat mengumpulkan makan untuk kami makan sekeluarga.”

Rasulullah pun segera membantu Ali, dengan menimba air untuk mendapatkan kurma. Satu ember air mendapat upah satu kurma, sampai akhirnya terkumpul beberapa kurma, dan cukup untuk dimakan sekeluarganya. Baru Rasulullah pulang bersama mereka.
Dalam bab Hidup Sederhana, Abazhah mencontohkan tempat tidur sang Nabi. Bila merasa lelah, Nabi merebahkan diri di atas tikar daun kurma; tikar kasur yang menorehkan bekas di lambungnya. Suatu hari seorang wanita Anshar berkunjung ke rumah Aisyah. Begitu pandangannya jatuh ke alas tidur Rasulullah yang keras, ia merasa iba. Kemudian ia mengirimkan alas tidur wol. Tetapi, setelah terlihat oleh Nabi, beliau menganggapnya sangat mewah, dan menyuruh Aisyah mengembalikan kepada pemiliknya sembari bersabda: “Kembalikan itu! Demi Allah, kalau kumau, Allah pasti memberiku bergunung-gunung emas dan perak.”

Dalam contoh yang lainnya, disebutkan bahwa Aisyah berkata, “Tak pernah Rasulullah kenyang tiga hari berturut-turut. Padahal, kalau mau, kami bisa kenyang. Tetapi, beliau lebih memilih mendahulukan orang lain”.

Berbahagialah umat Islam yang mempunyai teladan Rasulullah Saw., seperti yang dicontohkan di atas. Dalam menjalani kehidupan ini mestinya kita lebih sabar, sederhana, bijaksana, saling mencintai, berpikir logis dan beberapa hal yang menuju pada kebaikan hakiki di mata Allah Swt.

Sungguh demikian penting bagi setiap diri muslim untuk meneladani sifat-sifat Rasulullah itu karena itu pula yang akan menjadi penuntun baginya dalam menjalani kehidupan ini. Sikap dan akhlak diri Nabi Muhammad Saw. adalah acuan yang paling mantap dan bisa dipertanggungjawabkan karena telah menjadi suri tauladan yang paling baik bagi setiap Muslim dan Muslimah di sepanjang sejarah hidup umat manusia.

Melalui potongan-potongan kisah kehidupan Muhammad, buku ini mengajak Anda “berdekatan” dengan Rasulullah yang dipuji Allah sebagai manusia berakhlak paling mulia. Anda akan merasakan keindahan cinta, persaudaraan, dan kebajikan yang beliau tuntunkan. Tanpa terasa, tetes-tetes wewangian akhlak sang Nabi akan meresap ke dalam hati Anda dan melembutkannya.

Buku ini merupakan “sahabat” bagi setiap Muslim yang ingin memperharum akhlaknya dengan meneladani Nabi Muhammad Saw.***

M. Iqbal Dawami
Staf pengajar STIS Magelang, blogger buku di http://buku-ok.blogspot.com


lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar