Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Buku Lady Dan Unicorn - ulasan

Bagaimana proses pembuatan permadani bisa dibingkai menjadi sebuah kisah yang menarik? Tracy Chevalier telah berhasil melakukannya melalui buku Lady dan Unicorn ini. Pembuatan permadani hiasan dinding (tapestry) pada abad pertengahan sangat rumit karena semuanya dilakukan secara manual dibantu alat tenun. Sama sekali tak dapat dibandingkan dengan pembuatan karpet jaman modern yang menggunakan mesin. Selain itu, motif permadani jaman itu dirancang dengan memasukkan simbol-simbol tertentu, yang menceritakan banyak hal sekaligus pada penikmatnya, tentang visi maupun impian keluarga itu. Itulah sebabnya, pembuatan permadani bisa memakan waktu bertahun-tahun, terutama apabila desainnya rumit dan eksklusif, seperti Lady dan Unicorn yang menjadi judul buku ini.

Kisah ini mengambil tokoh keluarga le Viste, sebuah keluarga yang, meski tidak berdarah bangsawan murni namun karena memiliki pengaruh besar pada kerajaan selama beberapa generasi, memiliki reputasi yang baik di kalangan bangsawan dan raja Prancis pada akhir abad 15: Charles VII. Dan setelah Jean le Viste memperistri Genevieve de Nanterre yang putri bangsawan, maka darah kebangsawananpun mengalir ke keluarga itu. Untuk merayakan kenaikan status yang dianugerahkan oleh Raja itu, le Viste memesan permadani untuk dipamerkan di rumahnya saat pesta.

Nicolas des Innocents adalah pelukis yang tampan, angkuh dan perayu wanita kelas kakap, yang sangat ironis mengingat ia menyandang nama Innocents (innocent). Selama ini reputasinya sebagai pelukis gambar diri miniatur wanita-wanita bangsawan, pelukis kaca patri kapel dan pelukis pintu kereta sudah tersebar di antara para bangsawan. Suatu hari Nicolas dipanggil ke kediaman Jean le Viste dengan tugas baru yang belum pernah ia kerjakan sebelumnya: melukis permadani.

Jean le Viste awalnya meminta Nicolas mendesain gambar pertempuran untuk permadaninya. Tentu saja dengan tak lupa memasukkan lambang keluarganya (tiap keluarga bangsawan memiliki lambang masing-masing). Namun Genevieve, istri Jean yang merasa gagal karena "hanya" dapat memberikan 3 orang anak perempuan, meminta Nicolas membujuk suaminya untuk mengubah gambar pertempuran menjadi gambar unicorn. Tepatnya, Lady dan Unicorn. Mengapa lady dan unicorn?

Lady dan Unicorn

Dalam sejarah, permadani Lady dan Unicorn ini memang benar-benar ada (sekarang tersimpan di Museé de Cluny di Paris, Prancis), dan dahulu dibuat atas pesanan salah seorang anggota keluarga Le Viste, yang diduga adalah Jean le Viste.

Unicorn sendiri merupakan sebuah dongeng atau mitos yang unik. Dalam mitos itu unicorn (yang bertubuh seperti kuda dan memiliki tanduk panjang di hidungnya) hanya dapat ditaklukkan oleh seorang perawan. Maka jadilah 6 buah desain permadani yang menggambarkan proses penaklukan seorang lady terhadap unicorn. Begitu menakjubkan bagaimana sebuah gambar dapat menginterpretasikan banyak hal. Nicolas sendiri menggambar 2 lady di antara desain itu yang merupakan perwujudan Genevieve dan Claude (anak gadis Jean le Viste yang cantik, pemberontak dan agak liar). Agak ironis, mengingat Nicolas yang jago menaklukkan wanita harus melukis wanita yang menaklukkan unicorn. Kitapun harus mereka-reka alasan Genevieve meminta Nicolas melukis Lady & Unicorn. Apakah itu karena dongeng ngawur tanduk unicorn yang dapat memurnikan wanita yang dikisahkan Nicolas untuk merayu Claude di luar pintu kamar ibunya? Entahlah…

Ada 6 permadani yang akhirnya dilukis Nicolas. 5 di antaranya melambangkan panca indra manusia, dan dalam makna lain menggambarkan perjalanan sang lady dalam usahanya menggoda dan menaklukkan unicorn.

Permadani yang bergambar lady sedang menoleh sedikit ke samping sambil memegang tanduk unicorn mewakili (indra) Peraba.


Di lukisan lainnya, lady sedang memainkan kecapi yang dibawa oleh dayangnya. Tentu saja lukisan ini melambangkan Pendengaran.


Indra Perasa berwujud dalam lady yang sedang memberi makan burung betetnya. Tangan kanannya mengambil buah di wadah yang dibawa dayangnya, sedang si betet bertengger di tangan kirinya. Sementara singa dan unicorn mengapit di kanan-kiri sang lady dengan jubah berkibar ditiup angin. Konon permadani yang nampak paling “hidup” ini menggambarkan sosok Claude, gadis yang selalu berada di hati Nicolas, meski tak kunjung dapat dimilikinya.


Sementara lady yang sedang menganyam bunga anyelir menjadi sebuah mahkota, meski tak terlalu jelas, dianggap mewakili Penciuman. Makna di baliknya adalah sang lady yakin telah dapat menaklukkan unicorn sehingga ia menganyam mahkota bunga anyelir untuk pernikahannya.


Indra terakhir, Penglihatan, mewujud dalam gambar unicorn yang meletakkan kaki depannya di pangkuan lady, sementara sang lady yang berwajah sedih membawa sebuah cermin yang merefleksikan si unicorn. Gambar ini boleh jadi adalah simbol unicorn yang akhirnya takluk pada rayuan lady.


Permadani terakhir, yang merupakan kesimpulan dari ke 5 kisah lady dan unicorn tadi berjudul A Mon Seul Desir (bisa diartikan “satu-satunya keinginanku”). Bergambar lady sedang memegang perhiasan (entah mengambil dari atau hendak meletakkan ke) kotak perhiasan yang dipegang dayangnya. Di belakangnya tampak tenda anggun berwarna biru tua, perlambang kenaikan status keluarga le Viste di kerajaan. Kata-kata "a mon seul desir" adalah ungkapan yang didengar Claude saat ibunya mengaku dosa pada pastur dan mengatakan bahwa "mon seul desir" adalah menjadi biarawati. Mungkin saja Claude mengusulkan judul itu pada Nicolas karena pria itulah "mon seul desir" bagi Claude? Entahlah...



Pembuatan Permadani

Sebelum melangkah ke jantung cerita, aku akan mengajak anda sejenak mengintip proses pembuatan permadani di abad pertengahan yang harus dilalui untuk mendapatkan kualitas yang sempurna. Pada saat itu, kota Brussels di Belgia dianggap sebagai salah satu penghasil permadani terbaik di dunia. Inilah beberapa tahap dalam pembuatan permadani:

1. Pelukis mendesain dan melukis gambar sesuai tema yang diminta pemesan.

2. Lukisan itu dibawa kepada kartunis, yang akan memperbesar dan membagi lukisan itu menjadi bagian-bagian sesuai ukuran permadani. Singkatnya, tugas kartunis adalah mengubah media lukisan menjadi media gambar yang siap ditenun menjadi permadani.

3. Karena ukuran permadani jauh lebih besar daripada lukisan, pada saat lukisan itu diperbesar, akan tampak banyak bagian yang kosong. Disinilah peran pelukis millefleurs berperan. Perannya adalah mengisi kekosongan itu dengan gambar elemen-elemen kecil tokoh penunjang, misalnya dayang-dayang atau hewan kecil seperti anjing dan monyet, dan yang terpenting bunga-bunga kecil yang bertebaran di seluruh bidang yang kosong. Tampaknya sederhana, namun millefleurs haruslah mampu menghidupkan keseluruhan desain permadani itu sehingga antara desain asli dan millefleursnya tampak menyatu.

4. Dan yang terpenting tentunya, adalah peran penenun (lissier) itu sendiri. Hasil akhir coretan kartunis lah yang akan ditenun menjadi permadani. Selain menenun, seorang lissier juga harus menangani aspek bisnis dengan pemesan atau perantara (broker)nya. Ia harus memperkirakan beratnya pekerjaan, lamanya waktu yang dibutuhkan, jumlah tenaga kerja dan bahan-bahan yang akan digunakan, dan akhirnya harga yang ia minta. Ia juga harus mengawasi dan mensupervisi pekerjaan semua orang.

Brussels memiliki serikat pekerja penenun yang mengawasi bahwa penenun tidak memperkerjakan orang melebihi jam kerja atau mempekerjakan orang yang tidak dilaporkan sebelumnya hanya agar pesanan permadani lebih cepat jadi dari pesaing. Setelah permadani jadi pun, lissier harus membawanya ke serikat pekerja untuk dinilai hasilnya. Semua ini bertujuan untuk menjaga kualitas permadani yang dihasilkan Brussels sebagai penghasil permadani terbaik dunia.

Hal unik dalam pembuatan permadani ini adalah bahwa sepanjang proses penenunan, yang makan waktu sekitar 2-3 tahun, seluruh pekerja tak dapat melihat hasil kerja mereka. Barulah setelah bagian terakhir selesai ditenun, dilakukan pengguntingan benang-benang yang membentuk tenunan itu dari alat tenun dan dilepaskan dari gulungan. Setelah itu barulah permadani itu dibalik, dan...voila...saat itulah hasil jerih payah selama bertahun-tahun itu terbayar lunas ketika tokoh-tokoh yang hidup dalam dekorasi warna-warna yang indah seolah menyapa mereka untuk pertama kalinya.


Menenun Permadani, Merajut Cinta

Setelah seluruh desain Lady dan Unicorn disetujui Jean le Viste, akhirnya berangkatlah Nicolas ke kota Brussels, Belgia untuk membawa desain itu ke seorang penenun bernama Georges de la Chapelle. Maka dimulailah tahap terpenting dalam pembuatan permadani, yaitu membuat kartun yang lalu dilanjutkan dengan penenunan. Makin banyak tokoh yang terlibat dalam fase ini. Ada Philippe sang kartunis dan ahli millefleurs, seorang pria muda pendiam yang diam-diam mencintai Aliénor, putri Georges yang buta. Meski buta, Aliénor tetap membuat dirinya berguna bagi keluarganya. Ia suka berkebun, dan tanaman bebungaannya dapat mengilhami ayahnya ketika akan menenun gambar bunga. Selain itu, ia juga dapat menjahit dengan halus, bahkan saat gelap karena ia tak menggunakan matanya. Rupanya Tuhan menganugerahinya indra penciuman dan peraba yang sangat sensitif sebagai ganti indra penglihatannya. Sedangkan ibunya, Christine, sebenarnya ingin sekali ikut menenun, hanya saja suaminya tak pernah mempercayakan tugas itu kepadanya. Maka selama ini ia hanya melakukan tugas menjahit, menggulung benang atau mengelim seperti halnya Aliénor. Putra Georges dan Christine, Georges le Jeune juga memiliki bakat menenun seperti ayahnya, dan ia kebagian gambar-gambar yang tak terlalu penting, sementara ayahnya menangani bagian-bagian yang paling krusial.

Awalnya Nicolas yang angkuh dan merendahkan semua yang “berbau” Brussels tidak diterima dengan baik di rumah keluarga de la Chapelle, namun lama-kelamaan kedua pihak dapat menerima satu sama lain. Di tengah tuntutan kerja keras menyelesaikan permadani-permadani itu dalam waktu yang sangat singkat dengan upah yang minim, Nicolas pun menemukan cinta yang lain di tengah keluarga de la Chapelle. Mungkin ia menyerah pada harapannya untuk mendapatkan Claude, mengingat putri bangsawan tak mungkin bergaul apalagi bersanding dengan pelukis. Tapi lebih mungkin Nicolas mengagumi Alienor yang tenang dengan keunikan dan kecantikannya yang seolah terpisah dari dunia. Sementara itu, persoalan lain menghinggapi keluarga de la Chapelle. Seorang pencelup wol bernama Jacques le Boeuf ingin mengambil Alienor menjadi istrinya. Masalahnya, bahan pewarna yang dipakainya mencelup begitu busuk baunya sehingga orang tak tahan berdekatan dengannya, apalagi harus menjadi istrinya. Namun Georges terpaksa menjanjikan putrinya pada Jacques karena kebutuhan bisnis mereka. Dalam kemelut ini, Nicolas menawarkan solusi bagi Alienor secara diam-diam...

Di saat-saat terakhir sebelum semua permadani ditenun, Nicolas mengubah 2 desainnya. Lady dalam Peraba dilukis mirip dengan ekspresi Christine saat ia bersemangat setelah diijinkan menenun. Sedangkan lady dalam Penglihatan berubah menjadi serupa Alienor. Rupanya begitulah cara Nicolas mengekspresikan perasaannya pada wanita-wanita itu. Dan aku berpikir, jangan-jangan sebenarnya unicorn itu merefleksikan Nicolas sendiri? Yang telah berhasil ditaklukkan oleh wanita-wanita itu dengan caranya masing-masing?...

Lady dan Unicorn ini merupakan kombinasi fiksi, sejarah dan seni yang telah berhasil dirangkai dengan apik oleh Tracy Chevalier, dan membuat anda takkan pernah lagi memandang sebuah permadani buatan tangan dengan cara yang sama. Meski merupakan drama beralur datar, namun tak sedetikpun aku tergoda untuk meletakkan buku ini sebelum tamat. Lady dan Unicorn memotret empat orang wanita yang sama-sama merasa terkungkung karena hal yang berbeda. Namun di sisi lain, empat orang wanita itu pula yang telah menghidupkan desain permadani dinding yang paling terkenal di dunia ini: The Lady and The Unicorn.

Judul: Lady dan Unicorn
Judul asli: The Lady and The Unicorn
Penulis: Tracy Chevalier
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Februari 2007
Tebal: 296 hlm

lintasberita

Lanjut Baca

Buku UTUSAN DAMAI DI KEMELUT PERANG - ulasan

Judul : Utusan Damai di Kemelut Perang – Peran Zending dalam Perang TobaPengarang : Uli KozokPenerbit : Yayasan Pustaka Obor, JakartaTahun : 2010, DesemberTebal : 210 halAgama yang dianut oleh suatu suku bangsa berkaitan erat dengan sejarah bangsa tersebut. Suku Batak misalnya, sebagian besar beragama Kristen Protestan, sedangkan suku Minang dan Aceh beragama Islam. Bagaimana bisa demikian,
lintasberita

Lanjut Baca

Buku Mayor Jantje: Cerita Tuan Tanah Batavia Abad Ke-19 - ulasan

Mayor Jantje: Cerita Tuan Tanah Batavia Abad Ke-19
by Johan Fabricius
Paperback, 188 pages
Published February 2008 by Masup Jakarta (first published 1979)
ISBN 9793731230


Mayor Jantje. Itulah gelarnya. Nama aslinya adalah Augustin Michele, sementara Mbok Sita-pembantu yang sudah tinggal lama bersamanya- dan budak-budaknya memanggilnya Sinto Sten. Perjalanan sang tuan tanah sekaligus pemimpin pasukan kaum Papang ini menjadi menarik, karena ia adalah pencetus kesenian daerah betawi. Kecintaannya pada pesta dan musik membuat banyak orang senang, sekaligus mencibir. Senang datang dari teman-temannya yang diundangnya untuk menginap di Villa Citrap, sedangkan yang mencibir datang dari Mbok Sita, pembantunya, dan dari Agraphina, putrinya.



Saya sendiri hanya membayangkan bagaimana kejadian masa itu, dimana Sang Mayor setiap sabtu malam menyuruh orkesnya memainkan musik. Ada yang dari Senen, Tionghoa, dan Jawa. Semuanya bersatu memainkan karya terbaiknya di depan Sang Mayor dan tamu-tamunya. Kehidupan seperti itu tentunya membutuhkan dana yang cukup besar. Tidak masalah bagi Sang Mayor, karena ia memperoleh penghasilan yang luar biasa besar dari hasil mengambil sarang burung walet di Klapanunggal-aset yang luar biasa besar warisan ayahnya- dan menyewakan tanahnya yang sangat luas kepada orang Arab dan orang Cina.

Sang Mayor sangat kesepian, apalagi setelah ditinggal mati oleh istrinya. Ia sendiri menikah dua kali, dan kedua istrinya itu meninggal. Kecintaannya pada Davida, istri keduanya, diungkapkan dengan membuat makam yang sangat bagus di Batavia. Salah satu kelebihan yang juga menjadi kelemahannya adalah, ia terlalu baik kepada sahabat-sahabatnya. Biasanya, sahabat yang diundangnya menginap di Villa Citrap tak langsung kembali ke kota asalnya, tetapi tetap tinggal disana, dan otomatis membebani belanja rumah tangganya. Hal itu sudah menjadi keberatan budaknya dan putrinya, namun ia menghiraukan hal itu. baginya, ia masih cukup kaya dari hasil sarang burung walet dan sewa tanah.

Sang Mayor merasakan kembali getar-getar cinta manakala ia melihat Nonnie, putri sahabatnya. Ia merasakan istrinya, Davida, seolah hadir di dekatnya lewat sosok Nonnie. Ia berkhayal istrinya begitu dekat padanya, beberapa perhiasan kesayangan istrinyapun diberikan Sang Mayor pada Nonnie. Akhirnya, kecemburuan muncul di hati mbok Sita, karena ia sangat mengharapkan sebuah perhiasan yang dulu suka dikenakan Nyonya Davida, namun Sang Mayor malah menyerahkannya pada Nonnie.

Bagaimana kelanjutannya?
Silahkan dibaca sendiri.....

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Cut Nyak Din: Kisah Ratu Perang Aceh - ulasan

Cut Nyak Din: Kisah Ratu Perang Aceh
Madelon H. Szekely-Lulofs
14x21 cm, 256 pages
Published July 1st 2010 by Komunitas Bambu (first published 1948)
ISBN: 9793731818

Apa yang teringat di benak kita bila ditanyakan tentang Aceh? barangkali langsung terlontar "Serambi Mekah" atau salah satu Daerah Istimewa disamping Yogykarta. Namun, sebuah jawaban yang memilukan muncul dari seorang warga Aceh, "Dulu DOM, lalu GAM, lalu Darurat Militer, lalu Darurat Sipil, dan sekarang tsunami. Itulah nasib kami, orang Aceh." (Sekelumit Tentang Aceh: Danny I. Yatim. 2004).

Selanjutnya, jika ditanyakan, siapakah itu Cut Nyak Din? Dengan berbekal pelajaran sejarah di sekolah dulu kita akan menjawab, Pahlawan dari Aceh bersama Teuku Umar, seraya mengingat-ingat foto beliau yang terpampang di dinding kelas.



description

dan fotonya pernah terpampang di pecahan sepuluh ribu rupiah.


description

Buku ini berjudul asli Tjoet Nja Din : de geschiedenis van een Atjehse vorstin yang ditulis oleh Madelon Hermine Székely-Lulofs, pada Tahun 1948.


Lewat buku ini, Lulofs menuliskan kembali hikayat Perang Kompeni dengan memasukkan data-data detil tentang peristiwa mulai dari asal mula datangnya Machudun Sati dari tanah Minang ke tanah Aceh, bentuk sosial pemerintahan rakyat Aceh saat itu yang menggunakan istilah mukim, sagi, uleebalang, panglima, kesultanan.

Cut Nyak Din dilahirkan di Lampadang pada Tahun 1850. Ia adalah putri uleebalang Mukim 6, Teuku Nanta Setia. Ia dibesarkan dalam kehidupan beragama dan adat yang kuat. Pada Tahun 1862 Cut Nyak Dien dilamar dan dinikahkan pada usia 12 tahun dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, putra dari uleebalang Lamnga XIII.
Sebelum konflik besar antara Belanda dan Aceh, sebenarnya Aceh sudah hidup damai berdampingan dengan bangsa lain. Namun, Belanda tertarik untuk menguasai Aceh, karena posisinya yang strategis untuk berdagang akibat dibukanya Terusan Suez dan menjadi saingannnya Malaka saat itu. Selain itu, Kesultanan Aceh menjalin hubungan diplomatik dengan Konsul Amerika, Italia dan Turki di Singapura. Belanda memulai serangannya dengan menembakkan meriam ke arah dataran Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. Perang Aceh pun meletus, puncaknya pada 8 April 1873, Belanda di bawah pimpinan Jenderal Kohler menguasai Mesjid Raya kebanggaan rakyat Aceh, Baiturrahman, serta membakarnya.

Cut Nyak Din sangat geram. Ia turut merebut Mesjid Raya Baiturrohman pada tanggal 10 April 1873, dan ia menjadi saksi Jenderal Kohler tertembak. Ucapan Kohler yang terkenal pada saat-saat maut merenggut jiwanya: "0, God, ik ben getroffen!"("Ya Tuhan, aku terkena peluru!")

Perang kedua dibawah Jenderal Van Swieten berhasil menduduki kesultanan dan Mesjid Raya Baiturrahman dan Belanda menjadikkannya sebagai pusat pertahanan Belanda pada Januari 1874. Mesjid ini lalu dibakar Belanda, karena dianggap sebagai tempat pertahanan pejuang Aceh. Cut Nyak Din bersama dengan rombongan wanita Aceh lainnya akhirnya harus meninggalkan Mukim VI karena kondisi sudah tidak kondusif lagi. Perjuangan diteruskan. Suaminya bertempur untuk merebut kembali Mukim VI. Ketika Ibrahim Lamnga bertempur di Gle Tarum, ia tewas pada tanggal 29 Juni 1878. Hal ini membuat Cut Nyak Dhien sangat marah ditambah karena direbut dan dibakarnya Mesjid Raya Baiturrahman, dan ia bersumpah akan menghancurkan Belanda.

Ia menikah kedua kalinya pada Tahun 1880. Cut Nyak Din berkeras bahwa ia akan menikah dengan orang yang akan membalas kematian ayah dan suami pertamanya. Ia menerima lamaran Teuku Umar. Teuku Umar digambarkan sebagai orang yang suka bersenang-senang, suka mengumpulkan harta, dan mencari kekuasaan. Sebelum menikah dengan Din, Teuku Umar sudah pernah menikah. Teuku Umar menikah dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang. Untuk meningkatkan derajat dirinya, Teuku Umar kemudian menikah lagi dengan Nyak Malighai, puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim. Sejak saat itu, ia mulai menggunakan gelar Teuku. Pada tahun 1880, Teuku Umar menikahi janda Cut Nyak Dien, puteri pamannya (Suami Cut Nya Dien, yaitu Teuku Ibrahim Lamnga meninggal dunia pada Juni 1878 dalam peperangan melawan Belanda di Gle Tarun). Teuku Umar dituduh berkhianat terhadap rakyat Aceh karena ia sangat dekat dengan penguasa Belanda. Pihak Belanda sangat senang dengan keberadaan Teuku Umar di pihak mereka, karena itu, Teuku Umar dianugerahi gelar Teuku Umar Johan Pahlawan. Teuku Umar diberi hak untuk membentuk legiun pasukan tersendiri. Akhirnya berbagai harta benda dan senjata mengalir dari kantor Belanda ke kediaman Teuku Umar.

Yang menarik diceritakan buku ini perihal Teuku Umar adalah ketika Cut Nyak Din mengajaknya berbicara empat mata. Apa yang disampaikan Din, membuat Umar terusik. Mengapa tidak, di tengah dendam Din terhadap Belanda kaphe itu, Din merasa suaminya tidak di dalam rencana besar untuk mengenyahkan penjajah dari Tanah Aceh. Akhirnya Umar pun menyadari bahwa kedudukannya di Banda Aceh pun mulai tidak nyaman lagi. Kecurigaan Belanda terhadap Umar semakin besar manakala ketika Umar diminta untuk mengamankan suatu wilayah yang sedang ada pemberontakan, daerah yang didatangi Umar sontak sepi tak berpenghuni.

Akhirnya Umar membuka kedoknya. Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar. Dengan persenjataan dari Belanda ia akhirnya tidak kembali lagi ke Belanda. Pengkhianatan Umar ini terkenal dengan istilah Het verraad van Teukoe Oemar (pengkhianatan Teuku Umar).

Belanda memburu Teuku Umar dan Cut Nyak Din, pada suatu penyerangan mendadak di daerah Meulaboh, Teuku Umar tertembak. Ia tewas pada tanggal 11 Februari 1899. Selanjutnya tampuk pimpinan perang melawan Belanda diambil alih oleh Din. Selama kurun waktu enam tahun ia memimpin gerilya. Sampai suatu ketika, anak buahnya, Pang Laot meminta dengan iba kepada pihak Belanda supaya memperlakukan Din dengan baik, mengingat Din semakin lemah keadaanya. Penyakit encok dan rabun menyerangnya. Belanda akhirnya menemukan tempat persembunyian Din, serta menangkapnya. Karena berpendapat tidak tepat membiarkan Din di Aceh karena suatu saat semangat Aceh akan kembali bergelora, ia diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, pada Tahun 1905. Dan Din menutup matanya tidak di tanah Aceh lagi, tetapi di tanah Sumedang.

Apa yang dituliskan oleh Lulofs setidaknya harus diterjemahkan dalam konteks zaman sekarang, bahwa pemaknaan kisah perjuangan Din dapat disarikan sebagai berikut.
1. Cinta pada tanah air
2. Kecintaan pada perdamaian
3. Benci pada ketidakadilan
4. Mengusir penyebab kericuhan. Dlm hal ini, Din berseteru dengan suaminya, Teuku Umar yang dianggap berkhianat. Selain itu dengan Belanda berupa perlawanan.
5. Bangga menjadi bangsa sendiri yang tidak tergantung dengan bangsa lain.

Kisah Din ini akan terus menjadi hikayat seandainya saja Gubernur Aceh pada tahun 1959, ALi Hasjmy tidak berkunjung ke Universitas Leiden dan menemukan dokumen bahwa ada pembuangan Cut Nyak Din ke Sumedang. Berkat penelusuran dan permintaan Ali Hasjmy, makam Din ditemukan di Sumedang, dan akhirnya pada Tahun 1964, Pemerintah RI lewat Presiden Soekarno menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Cut Nya Din.

Melihat biografi Din ini, dapat menunjukkan bahwa terdapat tema seorang pribadi perempuan yang mempunyai semangat kemandirian. Selama ini mungkin yang ditonjolkan dalam kehidupan perempuan adalah tema perkawinan, perceraian, kehidupan keluarga, serta tukang masak dan pemelihara anak. Lewat buku ini, pembaca disuguhkan bagaimana struktur sosial masyarakat Aceh, hubungan suami istri dalam lingkungan adat yang kuat, kekeraskepalaan yang berlatar keteguhan hati, pemimpin.

Sayang sekali sumber sejarah mengenai perjuangan rakyat di berbagai daerah di Indonesia apalagi mengenai perempuan sebagai sumber kajian masih sangat jarang. Namun buku ini patut mendapat apresiasi. Dengan dituliskannya hikayat perang kumpeni, masyarakat Aceh jadi punya literatur tentang perjuangan pendahulunya.


-----
Madelon Hermine Lulofs (1899-1958) datang ke Deli, Sumatra pada 1918, mengikuti pernikahannya dengan penanam. Ayahnya seorang pegawai pemerintah yang seperti keluarga militer, berpindah-pindah tempat. Ia lahir di Surabaya. Ia menikah dalam usia muda. Ia hidup di Deli yang merupakan kota baru baginya hingga 1930. Tiga novelnya yang pertama bersituasi tentang Deli yaitu: Rubber (1931), Coolie (Koelie, 1932), dan The other World (De andere wereld, 1934). Ia menikah kedua kali dengan seorang pengusaha perkebunan berkebangsaan Hungaria, L.Szekely. Setelah dari Deli, ia kembali ke Eropa dan mulai menulis dengan serius. pengalaman selama di perkebunan karet Deli, ia tulis dalam novel yaitu: Rubber. Novel ini sukses dan bahkan diangkat dalam bentuk film.

Lulofs menghabiskan masa kecilnya di Aceh. ia mengingat kemegahan alam, puncak dan dataran tinggi, penyergapan, melihat orang mati ditanam, musuh Aceh yang berani, serta pengkhianat Teuku Umar. Ia mengetahui bahwa Cut Nyak Din lah orang yang bergerak di belakang yang melanjutkan perjuangan setelah kematian Teuku Umar. Cut Nyak Din sangat dikuasai kebencian dan dendam terhadap "komeni" yakni Pemerintah Hindia Belanda dan bangsa Belanda secara umum. Cut Nyak Din diketaui Lulofs dari narasi (sastra lisan Aceh) Dokarim. "Hikayat Perang Kompeunie". Tadinya Cut Nyak Din adalah sebuah nama, kemudian Lulofs memberikan "bentuk manusia" padanya. Lulofs mengalihkan suatu keinginan besar setelah kemerdekaan dan protesnya melawan Jerman yang menguasai Belanda pada tokoh Cut Nyak Din dan menjadikan Cut Nyak Din menjadi tokoh pahlawan wanita yang melawan Belanda.

Hikayat Dokarim
Mengapa rakyat Aceh terbakar semangatnya dalam berperang dengan Belanda? Medianya adalah hikayat yang diceritakan secara turun temurun. Hikayat adalah sastra Aceh yang berbentuk puisi selain jenis panton, nasib, dan kisah. Bagi orang Aceh hikayat tidak berarti hanya cerita fiksi semata, tetapi juga berisi hal-hal yang berkenaan dengan pengajaran moral dan kitab-kitab pelajaran sederhana, yang ditulis dalam bentuk sanjak. Bagi orang Aceh mendengarkan atau membaca hikayat merupakan hiburan yang utama, terutama sebagai bentuk hiburan yang bersifat mendidik. Salah seorang cendekiawan ulama yang turut menyebarkan hikayat adalah Dokarim. Ia berasal dari Keutapang Dua, Mukim VI, Sagi XXV Mukim Aceh Besar. Hasil karya Dokarim yang terkenal adalah Hikayat Prang Compeuni, berisikan tindakan-tindakan kepahlawanan Aceh dalam perlawanan terhadap Belanda. Selama bertahun-tahun ia menyampaikan hikayat gubahannya itu. Oleh Snouck Hurgronje menyuruh salin Hikayat Prang Compeuni dari ucapan Dokarim sendiri, walaupun sebelumnya sudah terdapat sebuah fragment yang disuruh salin oleh uleebalang.

Dokarim sebelumnya adalah seorang pengarah pertunjukan sadati dan perintang waktu sejenisnya, serta pembawa acara dalam pesta-pesta perkawinan. Ia sangat ahli dan mahir dalam berpidato dan pengetahuannya yang luas tentang bahasa tradisional dalam prosa maupun puisi, dan pantun di samping tentang upacara adat.

Tadinya saya mengira, buku terbitan Komunitas Bambu ini adalah versi pertamanya Lulofs, namun setelah searching kesana sini, akhirnya saya menemukan buku ini telah diterjemahkan oleh Abdoel Moeis pada Tahun 1954, tapi sayangnya dari sedemikian lama tahun penerbitannya, mengapa baru tersedia versi barunya sekitar tahun 2007-an? Selanjutnya bagusnya buku ini pada halaman belakangnya diberi tahu sumber-sumber tulisan Lulofs untuk mendukung penulisan buku ini.


description

description

Anyway, dengan membuka dan membaca buku ini, saya berharap generasi muda bersemangat mencari tahu siapa dan bagaimana pahlawannya. Syukur-syukur mau mencari tahu di dunia maya dan bersedia menuliskannya, sebab mungkin jika tidak ditulis, entah kemana lagi kita harus mencari.

Empat bintang
@hws08122010

Sumber bacaan lain:
http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/12/ciri-khas-kesusastraan-meulayu-aceh/
http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/dokarim.html
http://museum.acehprov.go.id/kategori/gallery/mayor-jenderal-jhr-kohler/index.php

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Utusan Damai di Kemelut Perang - ulasan


Utusan Damai di Kemelut Perang
Penulis : Uli Kozok
ISBN : 978-979-461-776-2
Dimensi : 14 x 21 cm
Jenis Cover : soft cover
Berat Buku : 210
Jenis Kertas : Book Paper
219 halaman
Harga Rp50.000,-

Masih dalam rangkaian membaca bersama tentang Sumatra, buku ini saya beli ketika acara bedah buku Sumatra Tempo Doeloe yang diselenggarakan di Kantor Berita Antara. Membaca kata pengantar buku ini cukup menarik, sebab buku ini diterbitkan, ternyata sudah dilakukan seminar di Universitas Negeri Medan tentang kesahihan bukti-bukti yang diungkap oleh Uli Kozok. Salah satu yang mempertanyakan keaslian naskah yang menjadi bukti Kozok adalah Profesor Bungaran Simanjuntak, namun Kozok berhasil mendapatkan arsip itu dan menjadi lampiran buku ini.

Buku ini menjadi menarik karena mengungkap kembali yang selama ini terhilang dalam pelajaran sejarah tentang awal mula masuknya Kristen di tanah batak. Jan S Aritonang telah menulis disertasi yang berjudul THE ENCOUNTER OF THE BATAK PEOPLE WITH RHEINISCHE MISSIONS-GESELLSCHAFT IN THE FIELD OF EDUCATION (1861-1940) di Universiteit Utrecht. Disertasi ini mengkritisi bagaimana tujuan evangelisasi dan teologi yang dilakukan oleh Badan Zending pada masa itu di tanah batak, namun belum membuka dokumen surat menyurat misionaris yang bertugas di tanah batak.



Masuknya Kristen di tanah Sisingamangaraja adalah akibat dari kolonialisme dan zending itu sendiri. Para misionaris yang dikirim ke sana adalah orang-orang yang sudah persiapan penuh dengan bekal teologi dan ideologi. Rheinische Missions-Gesellschaft (RMG), adalah sebuah organisasi zending yang bertempat di tepi sungai Rhein berpusat di Jerman. RMG memulai pekerjaannya di Indonesia adalah di Kalimantan. Di bawah pimpinan Fabri, awalnya dikirim misionaris dari Kalimantan ke tanah batak. Kemudian misionaris lain dari Jerman bergabung dengan rekan-rekan yang sudah ada di sana.

Salah satu misionaris yang dianggap menjadi rasul atau apostelnya orang batak adalah Ludwig Ingwer Nommensen. Nommensen menjadi pimpinan tertinggi pertama di Huria Kristen Batak Protestan. Nommensen dapat diterima oleh Orang Batak, sebab ia telah mempelajari adat-istiadat batak, serta menggunakan ajaran kristiani ala batak itu sendiri. Semasa bertugas, Nommensen bersama penginjil lain diwajibkan melaporkan kegiatan mereka ke kantor mereka di Jerman. Laporan-laporan mereka itu kemudian dipublikasikan dalam sebuah majalah setiap bulan, yang dinamakan Berichte der Rheinische Missions Gesselschaft (BRMG). Arsip tulisan Nommensen beserta penginjil lain itulah yang diteliti oleh Kozok yang menyimpulkan bahwa para misionaris sepakat supaya Sisingamangaraja XII adalah musuh bersama penginjilan dan pemerintah kolonial Belanda.


Hal ini cukup mengejutkan, dimana Nommensen dianggap Pausnya orang batak, sementara Sisingamangaraja adalah pahlawan orang batak yang menentang Belanda menguasai tanah batak. Uli Kozok memaparkan bahwa alasan serta konteks yang terjadi saat itu. Pertama adalah mengenai teologi dan ideologi yang dibawa oleh misionaris Jerman. Sebelum berangkat ke daerah-daerah yang menjadi penempatan para misionaris, mereka dididik dengan oleh Dr Friedrich Fabri dan Ludwig von Rohden

Sejarah masuknya Injil di tanah batak dimulai sejak 1840. Franz Wilhelm Junghuhn(Jerman) mula-mula merintis jalan ke tanah batak. Ia adalah seorang ahli botani dan pekerjaannya adalah meneliti tanah batak, iklim, kesuburan tanah, membuat peta, dan mencari informasi tentang kebudayaan, adat dan pemerintahan di tanah batak. Hasil penelitiannya ia tulis dalam dua jilid buku, Die Battalander auf Sumatra. Rekomendasi yang ia berikan antara lain agar Belanda jangan mengangkat seorang Batak menjadi kepala pemerintahan, karena hal itu akan dimanfaatkan untuk memberontak melawan Belanda(h.26). Junghunn sebenarnya adalah seorang yang antiKristen, namun ia menyadari bahwa perkenalan orang batak dengan Kristen akan membendung pengaruh Islam di tanah batak. Sebab saat itu, bercermin pada Aceh dan Sumatra Barat, Islam dianggap pemberontak Belanda.

Laporan Junghunn menarik perhatian Pieter Johannes Veth, seorang guru besar di Leiden dan dewan pimpinan Nederlands Bijbelgenootschap (NBG). NBG memutuskan untuk melakukan penginjilan kepada orang Batak. Persiapan dilakukan antara lain melakukan penerjemahan Kitab Injil ke bahasa batak. Orang yang berperan pada bidang ini adalahHerman Neubroner van der Tuuk. Walau van der Tuuk seorang ateis, kesimpulannya sama dengan Junghunn.

Orang yang pertama kali berinisiatif mengirimkan misionaris ke Tanah batak adalahHermanus Willem Witteveen. Ia "menitip" Van Asselt, di seminari Persatuan Pendukung Zending Perempuan Amsterdam. Pada 1856, Van Asselt kemudian ditugaskan sebagai administrator perkebunan kopi di Sipirok sambil mengabarkan Injil. Selanjutnya, pada 1859 Witteveen mengirimkan tiga orang pemuda lagi untuk mendukung Van Asselt. ketiga pemuda itu ialah Friedrich Wilhelm Betz, J.G. Dammerboer dan J.Ph.D. Koster. Keempat orang ini bertugas di daerah Angkola dan Sipirok, namun dilarang oleh pemerintah kolonial sebab pemerintah belum berniat menguasai tanah batak yang merdeka itu.

Situasi berubah ketika RMG mengalami peristiwa dimana penginjil yang bertugas di kalimantan mati terbunuh karena perang Banjar. Direktur RMG saat itu Friedrich Fabri mengunjungi Amsterdam untuk menjajaki kemungkinan penginjil RMG bergabung dengan penginjil Belanda. Akhirnya diputuskan Van Asselt, Betz, dan Dammerboer (tidak disebutkan Koster kemana), diambil alih oleh RMG. Ketiga orang itu bergabung dengan penginjil RMG dari Kalimantan (Karl Klammer, Carl Wilhelm Heine, dan Ernst Ludwig Deniniger). Pada tanggal 7 Oktober 1861, Van Asselts, Betz, Heine dan Klammer membicarakan kelanjutan penginjilan di tanah batak. Tanggal tersebut menjadi hari lahirnya Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).

Selanjutnya Kozok menguraikan tentang RMG serta bagaimana teologi dan ideologi yang diajarkan di seminari mereka. Dua orang teolog yang menjadi guru para misionaris sebelum ditugaskan adalah F. FAbri dan G.L. Rohden. Kozok memaparkan sejumlah konteks pada masa itu dimana masa itu Bangsa Eropa muncul suatu anggapan atau pembenaran atas suatu praktik kolonialisme bahwa penjajahan dapat dibenarkan sebagai tindakan untuk membantu kaum terjajah mencapai peradaban yang lebih tinggi (h.51). Demikian juga dalam hal teologi. Fabri berpendapat bahwa para penginjil perlu mendukung pihak penjajah, sementara pemerintah kolonial diharapkan membantu para penginjil menaklukkan daerah penginjilan untuk mencapai keadaan politik yang stabil (h.68). Inilah yang mendasari kolonialisme dan penginjilan. Fabri pun akhirnya meninggalkan RMG untuk bergabung dengan kolonialisme Jerman.

Sekitar Tahun 1878, pecah perang Toba I, dimana Belanda menganeksasi Silindung dan Toba. Pada masa perang itu, masuklah nama-nama seperti Johannsen, Metzler, Mohri, Nommensen, Puse, dan Simoneit. Mereka berenam adalah alumni dai seminari BRMG di Barmen. Mereka berenam pertama kali menginjak tanah batak, berusia 26-32 tahun, dan mereka semua belum kawin (h.37).

Surat dari Nommensen kepada BRMG 1878 (12): 361-381, diceritakan bagaimana kondisi tanah batak saat itu seperti penyakit yang menyerang, adat istiadat, dan terutama soal perang. Nommensen mencatat bahwa utusan Singamangaraja ke Silindung mengumumkan di pasar-pasar bahwa Singamangaraja akan datang bersama dengan orang Aceh dan membunuh orang Eropa dan orang Kristen. Rencana itu tampaknya serius karena ditambah dengan desas desus bahwa sekumpulan orang Aceh sudah memasuki Toba. Karena itu diturunkan kekuatan militer. Nommensen menceritakan bahwa pasukan berhasil menghalau pasukan Batak dan membakar kampung-kampung:
Penduduk kampung-kampung itu melawan dengan gigih dan serdadu yang berusaha memanjat tembok dilempari dengan batu sehingga jatuh berguling. Dari atas kami bisa melihat kejadian di kampung dengan sangat jelas. Ternyata mereka membela kampungnya dengan berani dan tidak ada suatu tindakan pun yang dilakukan dengan tergesa-gesa sehingga tampak jelas bahwa mereka tidak takut. Seorang serdadu tewas ketika peluru kena kepalanya, dan beberapa lagi cedera. Sekitar jam 3 sore kampung-kampung itu sudah di tangan kami. 10–12 laki-laki dan sekitar 70 perempuan jatuh ke tangan kami lalu ditawan.

Tulisan Nommensen ini masih tersimpan dalam arsip RMG (sekarang menjadi VRM) di Barmen, Wuppertal. Uli Kozok memberi perhatian khusus pada arsip RMG ini dan memjadikannya buku ini. Ia membuat blog khusus yang berisikan beberapa bagian buku ini yang sudah dipilah-pilah berdasarkan temanya. Kelemahan buku ini adalah kurang lengkapnya catatan kaki yang seharusnya membuat pembaca paham akan konteks peristiwa yang terjadi di masa itu. Namun syukurnya di blog tersebut lumayan lengkap.

Keunggulan buku ini adalah ditulis oleh orang yang paham sekali dengan adat istiadat batak serta ia seorang Jerman. baginya tentu tidak sulit memahami surat Nommensen yang berbahasa Jerman serta mengaitkannya dengan dokumen-dokumen lain yang berbahasa Jerman. Peminatannya pada batak dan melayu dapat dilihat dari tulisan-tulisan beliau di daftar berikut ini. Ini mungkin salah satu kelemahan di orang batak, yang masih sedikit berminat pada penelusuran sejarah batak dengan menggali bahan-bahan tertulis yang tersedia dalam bahasa asing (seperti Jerman dan Belanda).

Seperti yang dikatakan Uli Kozok dalam pengantarnya sesuai dengan perkembangan zaman, penilaian terhadap tokoh-tokoh sejarah bisa saja terjadi dan hal tersebut adalah lumrah.Maka, pembentukan pengetahuan sejarah lewat pengungkapan sumber sejarah baru akan memaknai kembali peristiwa yang lalu dengan perspektif baru, setidaknya bagi saya.

@hws10042011



lintasberita

Lanjut Baca

Buku Sumatera Tempo Doeloe: Dari Marco Polo sampai Tan Malaka - ulasan


Judul Asli: Witnesses to Sumatra: A Travellers' Anthology
Penyusun: Anthony Reid
Penyunting: Dewi Anggraeni
ISBN13: 9789793731940
xxiv+ 424 hlm
Penerbit: Komunitas Bambu, 2010

Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari orang-orang yang pernah tinggal di Sumatra. Berbagai laporan, kesan serta kenangan ditulis sebagai warisan yang berharga bagi kita. Ditulis oleh 39 orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Penulis terbanyak berasal dari Inggris, yaitu 11 orang. Posisi kedua terbanyak yang berasal dari Portugis dan Belanda masing-masing 5 orang. Posisi ketiga berasal dari Amerika dan Italia, masing-masing 3 orang. Dan dari dalam negeri sendiri, tulisan Tan Malaka serta Muhammad Radjab turut memperkaya kupasan tentang Deli pada awal abad 20. Profesi para penulis ini bermacam-macam. Yang paling banyak adalah sebagai pedagang. Profesi lainnya adalah sebagai wartawan, arkeolog, misionaris, masinis kapal, seniman, pegawai VOC, pegawai EIC, wakil gubernur, pembuat layar kapal, pelancong, ahli bedah, sejarawan, utusan Raja,petualang, penulis, dan sebagainya.

Periode penulisan catatan ini juga berbeda-beda. Tulisan paling awal adalah Sulayman, seorang pedagang Arab yang menceritakan tentang Kerajaan Sriwijaya pada Tahun 851. Periode Abad 13-14 ditulis oleh Marco Polo dan Ibn. Batutta. Abad ke 15 ditulis oleh 5 orang. Abad 17 ditulis 10 orang. Abad 18 oleh 3 orang, abad 19 oleh 10 orang, serta periode abad 20 ditulis oleh 8 orang.



Anthony Reid menyusun tulisan-tulisan tersebut dalam 7 bagian. Bagian Pertama dimulai dengan pendaratan pertama di Asia Tenggara dan diakhiri Bagian Tujuh yaitu Sumatera sebagai Tanah Jajahan dan Keruntuhannya. Jika kita memilah-milah Sumatra dengan provinsi yang ada sekarang, maka provinsi Nanggroe Aceh Darusallam-lah yang paling banyak diceritakan, yaitu 17 tulisan. Selanjutnya Provinsi Sumatra Utara, 11 tulisan, Provinsi Sumatra Barat, 4 tulisan, Provinsi Sumatra Selatan 3 tulisan, Provinsi Bengkulu dan Riau masing-masing 2 tulisan.

Bagaimana orang menyebut Sumatra mula-mula?
Pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atauSuwarnabhumi (“tanah emas”). Musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan namaSerendib (tepatnya: Suwarandib). Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatra sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai (Barus).

Pertanyaan utama ialah, apa yang menarik bagi para orang zaman dulu datang ke Sumatra? Jawabannya: Karena emas. Selain itu, selama abad 16 dan 17, Sumatra menjadi penghasil lada terbesar di pasar internasional. Tidak diketahui bagaimana lada bisa menjadi komoditi utama, namun diduga pedagang dari India yang membawa lada ke Sumatra untuk ditanam sebab sebelumnya sudah berhasil ditanam di Malabar. Selanjutnya Sumatra menjadi koloni yang menguntungkan bagi Belanda karena hasil tanahnya yang diolah dalam perkebunan karet, kelapa sawit, teh, coklat, dan tembakau menjadi komoditas dagang yang paling populer.

Catatan Perjalanan
Dalam buku ini, Orang Eropa yang pertama kali mengunjungi Sumatra adalah Marco Polo. Karena tulisannyalah, akhirnya menyebabkan banyak orang Eropa mendatangi Pulau yang tersohor karena emas dan keindahan alamnya ini. Diperkirakan ia mengunjungi Sumatra pada Tahun 1290an. Selanjutnya diikuti oleh Cornelis de Houtman dari Belanda pada tahun 1596 di Malaka. Pada awalnya orang-orang dari Eropa datang ke Sumatra tujuannya adalah berdagang. Namun tidak hanya perdagangan yang dibawa oleh orang-orang itu, namun juga agama dan budaya. Baik Portugis, Belanda, maupun Inggris tidak ada yang berani menguasai kerajaan-kerajaan (Islam) yang ada di Sumatera. Inggris membuat pangkalan dagang di Bencoleen (Bengkulu) sejak 1700, dan Belanda membuat pangkalan dagang di Padang (sejak 1660an), sedangkan Inggris mendapat keistimewaan berdagang dengan Aceh. Pelayaran berbulan-bulan di laut, masuk dan keluar pelabuhan, kesan pada alam dan orang di daerah baru, membuat salah seorang dari rombongan untuk membuat tulisan perjalanan.

Jalur perdagangan untuk mencapai Sumatra terdiri dari tiga jalur, lewat Selat Malaka, Selat Sunda, atau melewati Semenanjung Malaya. Jalur Selat Malaka menjadi favorit sebab lautnya tidak seganas barat sumatra, komoditas yang diperdagangkan lebih bervariasi seperti lada, kapur barus, kain sutra, emas.

Emas yang disebut-sebut di Sumatra diincar oleh pendatang yang datang ke Minangkabau. Tempat yang diduga banyak mengandung emas ada di daerah Tanah Datar. Thomas Dias, utusan VOC, merasa perlu menjalin hubungan dengan raja di Pagaruyung agar memperoleh akses dagang dengan penambang emas di sana. William Damper (Inggris) mencatat bahwa di Aceh karena tambang emas dan seringnya orang asing datang, orang Aceh jadi hidup kaya dan berlimpah (h.133). Dampier mengatakan bahwa emas di Aceh dari gunung yang letaknya jauh dari Aceh,letaknya lebih dekat ke pantai barat daripada Selat Malaka (h.134).

Kejayaan Sriwijaya yang pernah gemilang juga memikat Sir Thomas Stanford Raflessmengunjungi Minangkabau untuk mencari sisa-sisa peradaban kuno tersebut. Kunjungannya ke kerajaan Pagaruyung untuk mendapat sekutu dari raja-raja disana, ia tuliskan dalam laporannya ke Inggris pada 1818.

Penelitian mencari reruntuhan kerajaan tersebut digeluti oleh Friedrich Schnitger, arkeolog asal Belanda yang menyusuri sungai Barumun di Padang Lawas. Ia menemukan candi yang dinamakan Candi Sangkilon, yang menyimpulkan bahwa pengaruh Hindu dan Budha terdapat wilayah Batak bagian selatan. Schnitger melanjutkan penelitian dua orang geolog sebelumnya yaitu Junghuhn (1847), Von Rosenberg (1878), dan P.V. van Stein Callenfels yang mengunjungi area ini pada 1920.

Populernya tanaman perkebunan karet dan tembakau di awal abad 20, menyebabkan Belanda mendirikan perkebunan di tanah Deli. Manajemen perkebunan yang mendatangkan kuli kontrak dari Jawa dan kehidupan para administrateur perkebunan ditulis oleh suami istri Laslo Szekeley dan Madelon Szekely Lulofs serta Tan Malaka.

Prasangka
Francois Bernier (1620-1688) pernah menyarankan di majalah ilmiah Journal des Scavantsagar manusia dikategorikan menurut warna kulit, postur dan bentuk muka.Bangsa Eropa merasa bahwa peradaban mereka lebih tinggi dan ras kulit putih lebih unggul dari ras kulit berwarna. Dan sepertinya pengaruh Belanda di nusantara membawa dampak sosial yang tidak sedikit.Pembedaan kelas masyarakat karena status sosial menjadi warisan hingga sekarang ini. Orang Sumatra dalam tulisan orang yang berkunjung ke sini digambarkan dalam stereotipe negatif. Umumnya mereka menggambarkan bahwa orang sumatra adalah bangsa kanibal.

Marco Polo mencatat bahwa penduduk Sumatra adalah penyembah berhala dan pemakan orang.Jika ada yang sakit, maka mereka akan memanggil penyihir (h.10) dan jika yang sakit itu mati, mereka akan menyantap tubuh yang mati hingga ke sumsum dan tulang-tulang orang itu (h.11). Emilio Modigliani, seorang ilmuwan penjelajah asal Italia, menyelidiki Tanah Toba dan mempelajari bagaimana air danau Toba dapat keluar. Ia mendapat kesulitan karena daerah yang berdekatan sedang terjadi perang. Ia bertemu dengan Guru Somalaing, Modigliani tidak dibunuh karena ia dianggap utusan Raja Rum (Roma, Italia) yang dipercaya orang Batak sebagai bangsa yang mengusir Belanda. Modigliani mencatat bahwa pada umumnya, Orang Batak sangat curiga dengan pendatang asing dan tidak segan-segan membunuhnya, namun jika orang Batak sudah mengenal Anda dan persaudaraan sudah terjalin, maka ia rela membela anda dengan nyawanya. (h.252)

Memang ada anggapan di benak orang Eropa bahwa orang batak terkenal kanibal, namun pengalaman Burton mencatat bahwa yang dialaminya justru sebaliknya. Orang Batak di lembah Silindung sangat cinta damai. sampai pada suatu kesimpulan,Richard Burton misionaris yang bertugas di Tanah Toba mencatat bahwa perilaku orang batak yang cinta damai kemungkinan adalah wujud ketakutan dan pengaruh takhyul jahat yang mengekang.(h.221). Selain itu Burton berkesimpulan mengapa Orang Batak tidak penakut, karena dalam konsep berpikir Orang Batak tidak ada pahala dan hukuman di masa depan, mereka membayangkan akan semakin kuat jika roh berpisah dari raga (h.228).

Dampier juga mencatat perilaku orang Cina di Aceh. Jika aktivitas dagang sedang susah, maka aktivitas judi yang meningkat. Orang Cina suka dan pandai berjudi, diibaratkan Hidup tanpa judi sama dengan hidup tanpa makan (h.137).

Inferior
Sekalipun bangsa Eropa beranggapan bahwa ras mereka adalah ras yang unggul dibanding ras lain, namun untuk alasan tertentu mereka harus mengikuti aturan dimana mereka berpijak. Beberapa Penulis kisah perjalanan ini menuliskan betapa wibawa raja di Sumatra diterima dengan takut dan hormat oleh para pedagang yang hendak berniaga di sana. Ini menunjukkan bahwa budaya timur tidak inferior pada budaya barat yang (katanya) maju.

Francois Martin (Prancis) mencatat pada Tahun 1602 di Aceh, setelah memberikan barang pecah belah dan hadiah pada raja, raja menghadiahkan pakaian khas daerah Aceh kepada Jenderal kapal Monsieur de la Berdelieredan meminta supaya dikenakan di hadapan raja (h.73). Senada dengan hal itu, Thomas Bowrey (Inggris) mencatat pada tahun 1678, pada masa pemerintahan ratu Aceh, mereka menghadap sang ratu. Setelah memberi hadiah pada Ratu, Ratu juga menghadiahkan pakaian dan sorban kepada komandan kapal Inggris. Para pejabat istana akan membantu komandan kapal mengenakan pakaian hadiah tersebut karena ia harus mengenakannya saat itu juga (h.126). Thomas Forrest (Inggris) mencatat ketika ia menghadap raja Aceh, ia duduk dalam keadaan telanjang kaki lalu bersila dengan menekuk kaki dalam-dalam. menurut saya pose duduk seperti ini melelahkan (h.273). Walter Murray Gibson, petualang dari Amerika mencatat ketika ia menerima jamuan dari raja Palembang, ia mencicipi hidangan sarang burung walet. Bayangkan, wadah untuk meletakkan dan menetaskan telur, dan tempat bagi anak-anak burung membuang kotoran beberapa hari sebelumnya, kini disajikan kepada perut saya yang beradab sebagai wujud kemewahan dari perjamuan ala Timur! (h.296).

Nasib Buruh Kebun Deli
Dua penulis Indonesia ini awalnya tidak masuk dalam daftar para penulis buku ini. Namun, Anthony Reid mengusulkan kepada Oxford University Press supaya memasukkan tulisan Tan Malaka dan Muhammad Radjab ke dalam buku ini. Kedua penulis ini sama-sama menyoroti perlakuan yang tidak fair para pelaku bisnis perkebunan kepada para kuli kontrak. Apa yang dituliskan (walaupun fiksi) oleh suami istri Lulofs, tidak jauh berbeda dengan tulisan Tan Malaka dan Radjab. Tan Malaka sempat menjadi asisten inspektur sekolah khusus buruh Indonesia di perkebunan Senembah Company, sedangkan Rajab menulis laporan perjalanannya untuk tempat kerjanya, Kantor Berita Antara.

Tema yang diangkat kedua penulis ini mengenai perkebunan Deli adalah kemiskinan kaum buruh. Rajab mencatat bahwa kemiskinan disebabkan bukan karena produksi perkebunan yang kurang, tapi keserakahan para pemilik kebun pribumi yang tidak kenal belas kasihan memeras tenaga buruh untuk kekayaan pribadi (h.374). Sementara Tan Malaka menyoroti gaji buruh pribumi yang rendah. Gaji yang rendah menyebabkan si buruh berutang, dan utang menyebabkan si buruh berjudi, dan akibat kalah judi, si buruh harus mengikat kontrak lagi. Malaka menambahkan 90% dari buruh tersebut tak punya harapan untuk naik pangkat (h.334).

Kritis
Satu hal telah terbukti dengan membaca kisah tulisan ini bahwa ungkapan yang dikatakan Bung Karno bahwa Belanda telah menjajah Indonesia selama 3,5 abad adalah tidak benar. Kolonialisme baru terjadi pada abad 18. Selain itu, dulu belum ada konsep negara kesatuan Indonesia, Yang terjadi sesungguhnya adalah Belanda dibuat pusing dengan perlawanan rakyat (Sumatra) yang dahsyat, sebut saja Perang Aceh (1873-1904) dan Perang Padri (1821-1837).


Pohon geulumpang atau kelumpang (Sterculia foetida, LINN), yang tumbuh di halaman Mesjid Raya, oleh pihak Belanda dinamakan Kohlerboom (pohon Kohler) karena tak jauh dari situ Jenderal Kohler tewas pada tanggal 14 April 1873.


Kehadiran terjemahan buku ini cukup menambah perbendaharaan buku-buku sejarah yang sudah ada, Walau disusun untuk para pembaca Eropa, buku ini tidak kalah menarik, sebab kita membaca dari tulisan orang pertama yang menyaksikan dan yang berkunjung langsung ke Sumatra, walaupun akan ada perbedaan konteks karena jarak penulisan yang cukup jauh dengan zaman sekarang dan mungkin terjadi perbedaan makna karena telah melalui proses penerjemahan dari bahasa asli ke bahasa inggris baru ke bahasa indonesia. Masih banyak misteri yang belum terungkap pada Sumatra. Tugas kita selaku pembaca (generasi) sekarang adalah mengkritisi dan mempersempit jarak, Mengkritisinya dengan cara membaca sumber-sumber lain, mendiskusikan, serta merekonstruksi Sumatra menjadi suatu pemahaman yang utuh. Sebab Sumatra juga adalah kekayaan Indonesia.

@hws22032011


lintasberita

Lanjut Baca

Buku Surat Rossetti - ulasan

Membaca kisah ini serasa bak membaca dua buah buku yang sama sekali berbeda, namun pada saat yang berbarengan. Kisah pertama dengan tokoh utama Alessandra Rossetti terjadi pada abad 17 di Venesia, sedangkan kisah kedua mengenai seorang sastrawati di Boston bernama Claire Donovan yang sedang mengerjakan disertasi tentang Revolusi Spanyol yang terjadi di Venesia pada masa hidup Alessandra Rossetti. Namun kenyataannya, kedua kisah yang berbeda jaman dan memiliki tokoh-tokohnya masing-masing itu adalah sebuah kesatuan kisah yang telah dirajut dengan sangat manis dan tertata baik oleh Christi Phillips, penulis Surat Rossetti, (atau The Rossetti Letter, judul aslinya) ini.

Revolusi Spanyol memang terekam dalam sejarah, terjadi pada bulan Maret 1617 di Venesia. Meski peristiwa sesungguhnya masih menjadi misteri hingga kini, namun sejarah mencatat bahwa Marquis Bedmar-Duta Besar Spanyol dan Duke Ossuna-Raja Muda Milan adalah inspirator konspirasi ini, mereka bersekongkol dengan tujuan untuk mengukuhkan kekuasaaan Spanyol atas Venesia. Dalam kisah ini, Christi lalu memasukkan tokoh Alessandra Rossetti, seorang pelacur tingkat tinggi di Venesia yang berkat surat yang ditulis dan dikirimkannya ke Dewan Agung, telah berhasil menggagalkan konspirasi itu.

Claire Donovan adalah sastrawati yang berambisi menjadi pengajar sejarah di universitas bergengsi. Untuk itu, pertama-tama ia harus menelurkan sebuah makalah yang orisinil. Dan misteri Revolusi Spanyol yang belum terungkap itulah topik yang dipilihnya dan ia harapkan menjadi batu loncatan menuju karir idamannya. Sayangnya, sebelum ia menemukan data-data lengkap untuk makalahnya, tersiar kabar bahwa seorang professor sejarah bernama Andrea Kent akan mempresentasikan buku terbarunya mengenai subyek yang sama persis: Revolusi Spanyol. Claire panik, karena kerja kerasnya selama 2 tahun terakhir untuk makalah itu akan sia-sia apabila ada si Andrea ini berhasil menerbitkan bukunya sebelum ia menyelesaikan makalahnya. Karena, disertasinya tak akan dianggap orisinil lagi. Satu-satunya cara, Claire harus berangkat ke Venesia, tempat konferensi di mana sang professor akan mempresentasikan bukunya. Lagipula, di mana lagi tempat paling ideal untuk menemukan kebenaran tentang Konspirasi Spanyol yang terjadi di Venesia? Di Venesia tentunya!

Keberuntungan ternyata menaungi Claire, karena kendala satu-satunya yang merintangi hasratnya untuk pergi ke Italia: uang, ternyata terpecahkan oleh seorang remaja perempuan berusia 14 tahun bernama Gwen. Atau lebih tepatnya, oleh orang tua Gwen yang membutuhkan seorang “pendamping” bagi Gwen selama mereka berlibur ke Paris. Maka berangkatlah Claire bersama Gwen selama seminggu. Seminggu yang ternyata selain dipenuhi dengan riset yang membosankan di perpustakaan, juga dibumbui dengan kehadiran pria-pria ganteng Italia. Giancarlo yang naksir Claire, dan Nicolo yang mengincar Gwen. Namun, di antara letupan-letupan romantis mereka, Claire akan menemukan kembali gairah hidupnya yang telah sekian lama meredup. Hanya dalam seminggu, Venesia mungkin akan mengubah seluruh hidupnya…

Di sisi lain, berjalan berdampingan dengan kisah Claire, kisah Alessandra Rossetti justru menjadi daya tarik yang lebih kuat dalam buku ini. Setting sejarah, apalagi yang terjadi di kota eksotis dengan kanal-kanalnya: Venesia, memang selalu membantu memberikan sentuhan klasik pada sebuah buku. Bukan hanya keindahan Venesia yang diwakili oleh kanal-kanalnya, gondola, dan karnaval meriahnya saja yang menarik di buku ini, namun juga pergolakan politik dan budaya pada masa abad ke 17 itu. Profesi paling tua di dunia yang digeluti Alessandra: pelacur, juga banyak dibeberkan di sini. Pelacur di Venesia bisa memiliki banyak tingkatan. Di sini aku jadi teringat pada Geisha di Jepang. Cortigiana onesta adalah sebutan pelacur tingkat tinggi di Venesia, sama dengan Geisha di Jepang. Alih-alih menjajakan diri, mereka hanya memiliki beberapa kekasih para bangsawan dan orang-orang penting yang berlimpah harta. Menjadi cortigiana onesta pada jaman itu jauh lebih terhormat daripada menjadi wanita lajang yang hidup tanpa suami, dan lebih merdeka daripada dikirim ke biara meski tak punya panggilan membiara. Dan bagi wanita seperti Alessandra Rossetti, yang memiliki kecerdasan, keberanian, sekaligus keinginan untuk hidup bebas dan mandiri, rasanya cortigiana onesta menjadi opsi yang paling masuk akal, apalagi setelah ia hidup sebatang kara. Namun ternyata ia pun tak sebebas yang diinginkannya ketika sudah menjadi pelacur. Menjadi kekasih Marquis Bedmar ternyata malah membawanya terjerat ke dalam keruhnya dunia politik di Venesia.

Surat Rossetti ternyata kelak akan mempengaruhi masa depan Venesia dan Spanyol. Dan Claire Donovan kini berjuang untuk memperoleh jawaban tentang sosok Alessandra yang misterius itu. Apa yang terjadi setelah ia memasukkan surat itu ke bocca di leone di istana Dewan Agung? Dan apa yang terjadi pada dirinya setelah itu? Betulkah Alessandra seorang pahlawan yang mampu menghentikan sebuah revolusi? Nah, surat-surat maupun diary Alessandra yang diteliti Claire itulah yang akan menjadi kunci pemecahan misteri sesungguhnya yang terjadi pada bulan Maret 1671 itu….

Christi Phillips telah berhasil menggabungkan dua suasana ke dalam satu cerita. Kita dibuatnya melompat-lompat dari masa lalu abad 17 ke masa kini tanpa kesulitan mengikuti alurnya. Riset yang baik juga pasti telah dilakukan Christi untuk membawa suasana Venesia abad 17 itu sedekat mungkin dengan aslinya. Hanya saja yang agak disayangkan adalah adegan panas Alessandra bersama kekasihnya yang dibuat agak terlalu jelas sehingga kesan “kuno” kisah ini agak memudar, dan kita malah disuguhkan adegan serupa yang kita jumpai di novel-novel Harlequin. Anyway, intrik-intrik dalam kisah ini yang memukau, tetap membuatku memberikan 4 bintang untuk Surat Rossetti!

Judul asli: The Rossetti Letter
Pengarang: Christi Phillips
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Nopember 2010
Tebal: 523 hlm

lintasberita

Lanjut Baca

Buku OVER THE EDGE OF THE WORLD - ulasan

Judul : Over the Edge of the World - Magellan's Terrifying Circumnavigation of the GlobePengarang : Laurence VergreenPenerbit : Harper PerrenialTahun : 2004Tebal : 430 halamanOver the Edge of the World adalah kisah tentang keberanian, kepemimpinan dan kekerasan hati Magellan dalam usaha mencari rute baru ke pulau rempah-rempah, atau Maluku, yang berakhir cukup tragis bagi para awak kapalnya,
lintasberita

Lanjut Baca

Buku SEEDS OF CHANGE – Six Plants That Transformed Mankind - ulasan

Pengarang : Henry HobhouseTebal : 372 halPenerbit : Folio Society, LondonTahun : 2007 (1st ed. th 1985, revisi th. 1999)Hampir seperti Guns, Germs and Steel dari Jared Diamond, buku ini hendak mengungkapkan bahwa sejarah tidak hanya dibentuk atau ditentukan oleh manusia, yaitu pahlawan dan tokoh-tokoh sejarah, tapi juga oleh hal-hal lain yang selama ini tidak dianggap penting. Beberapa jenis
lintasberita

Lanjut Baca

Buku THE NAKED FACE OF EVE - ulasan

Judul : Wajah Telanjang Perempuan Pengarang : Nawal El SaadawiPenerjemah : H. Azhariah, LcTebal : 346 halPenerbit : Pustaka Pelajar, YogyakartaTahun : 2003 (1st ed)The Naked Face of Eve adalah buku klasik feminisme Islam yang penting, karena untuk pertama kalinya seorang wanita Arab dengan berani melakukan kritik terhadap filsafat Islam termasuk Al Qur’an secara obyektif. Buku ini seharusnya
lintasberita

Lanjut Baca

Buku THE HISTORY OF THE DECLINE AND FALL OF THE ROMAN EMPIRE - ulasan

Judul: The History of the Decline and Fall of the Roman EmpirePengarang : Edward GibbonPenerbit : Folio SocietyHalaman : +/- 3100 halaman (8 jilid)Buku ini adalah buku klasik tentang sejarah Romawi, yang meskipun ditulis +/- 200 tahun yang lalu namun masih patut dibaca sampai saat ini. Apa yang membuat buku ini masih menarik dan patut untuk dibaca?The History mencakup waktu dari tahun 98 M s.d.
lintasberita

Lanjut Baca

Buku THE HISTORY OF JAVA - ulasan

Penulis : Thomas S. RafflesJml hal. : 767 halaman (2 jilid)Penerbit : Oxford University PressTahun : 1988Bagaimana keadaan Indonesia, khususnya Jawa, pada awal abad 19 ? Berapa jumlah penduduknya, bagaimana keadaan sehari-harinya ? Raffles, yang menjadi gubernur jenderal di Indonesia selama pendudukan Inggris tahun 1811 - 1816, berusaha membuat sebuah buku tentang sejarah Jawa, yang selain berisi
lintasberita

Lanjut Baca

Buku FOOD IN HISTORY - ulasan

Judul : Food in HistoryPengarang : Reay TannahilPenerbit : Folio SocetyTahun : 2007Tebal : 381 hal.Buku ini menguraikan tentang sejarah makanan dalam peradaban manusia, dan bagaimana makanan mempengaruhi pembentukan masyarakat, pertumbuhan penduduk dan ekspansi urban, menentukan teori ekonomi dan politik, memperluas wawasan perdagangan, mengilhami perang dan dominion dan mempercepat penemuan
lintasberita

Lanjut Baca

Buku The Professor and The Madman - ulasan

The Professor and The Madman: Sebuah Dongeng tentang Pembunuhan, Kegilaan, dan Pembuatan Oxford English DictionaryThe Professor and The Madman: Sebuah Dongeng tentang Pembunuhan, Kegilaan, dan Pembuatan Oxford English Dictionary by Simon Winchester

My rating: 4 of 5 stars

Paperback, 342 pages
Published 2006 by Serambi (first published 1998)
ISBN 9791112533


Saya sampai lupa dimana buku ini dibeli, sempat mengintip review dari teman GRI, saya baca reviewnya Pak Tanzil, dan memutuskan membaca buku ini. Saya salah. Tadinya saya mengira buku ini adalah novel, ternyata buku ini adalah semacam "pengantar" pada suatu kisah besar penciptaan kamus yang dianggap termashyur abad ini, yaitu The Oxford English Dictionary (OED).

Ditulis oleh Simon Winchester, Ia lahir di London Utara pada 28 September 1944, terlahir sebagai anak tunggal Bernard and Andrée Winchester (née deWael). Ia adalah seorang jurnalis yang juga alumni dari Oxford University dari jurusan Geologi. Selepas dari Oxford, ia bekerja di perusahaan pertambangan Kanada, Falconbridge dan bertugas sebagai geologist lapangan di pertambangan Uganda, Afrika. Selanjutnya ia menjadi junior reporter di The Journal. Kegemarannya traveling dan profesi sebagai jurnalis membawanya pada tempat-tempat menarik di dunia. Dari situs Wikipedia diketahui, bahwa selama kurun waktu 1980 hingga 1990 an ia menulis beberapa buku travel di Asia Pasifik.

Buku kecil ini memceritakan secara singkat apa dan bagaimana Kamus yang tersohor di seluruh dunia, The Oxford English Dictionary ada. Sejarah penulisan kamus ini terbilang sangat panjang. Revolusi industri yang ditandai dengan penemuan mesin uap oleh James Watt, tampaknya berpengaruh pada suatu bentuk identitas Inggris sebagai muara ilmu pengetahuan, termasuk diantaranya di bidang linguistik. Pada awal abad 19, hanya Inggris yang di negara Eropa yang belum memiliki kamus bahasa. Negara Eropa lain seperti Jerman, Italia, Perancis, sudah lebih dulu "mengawetkan" bahasa mereka, bahkan sampai mendirikan institusi untuk mengontrol integritas bahasa (Hlm 133).

Mungkin hampir mirip dengan yang kita kenal sekarang semacam standar operasi atau standar profesi. Kebutuhan kamus tersebut muncul karena pada masa akhir abad 17, penulis menulis tanpa panduan sama sekali. Penulis sekaliber Shakespeare pun tidak punya argumentasi logis mengapa ia menggunakan kata "In the south suburbs at the Elephant/Is best to lodge" (Hlm 124) pada karya Twelfth Night.

Singkatnya, tidak ada panduan yang tercetak mengenai bahasa, tidak ada vade mecum linguistik, tidak ada satu buku pun yang bisa dijadikan referensi oleh Shakespeare atau Martin Frobisher, Francis Drake, Walter Raleigh, Francis Bacon, Edmund Spencer, Christopher Marlowe, Thomas Nash, John Donne, Ben Johnson, Izaak Walton, atau siapapun pada masa itu (Hlm 123).

Namun, bukan berarti tidak ada kamus pada zaman itu. Jika ada kata yang digunakan oleh sastrawan di atas, belum ada kamus yang bisa pada tahap menetapkan, mendefinisikan, dan memapankan penggunaan kata tersebut. Ada berbagai buku yang berfungsi kurang lebih sebagai kamus, antara lain Dictionarius pada tahun 1225. Di tahun 1538, kamus Latin-Inggris disusun oleh Tomas Elyot, A Shorte Dictionaire for Yonge Beginners disusun oleh Withal, A Table Alphabeticall ... of hard unusual English Words, disusun oleh Robert Cawdrey. Definisi yang diberikan buku tersebut kurang memuaskan, beberapa kamus menyadurkan satu kata sinonim atau sinonim yang kurang memberikan penjelasan yang memadai (Hlm 131).


Samuel Johnson (September 1709 December 1784)) menerbitkan A Dictionary of the English pada Tahun 1746, yang dianggap sudah berhasil memotret bahasa Inggris dengan segala kemegahan, keindahan, dan kerumitannya. Kamus ini cukup terkenal di Inggris hingga ke Amerika. Inilah karya yang menjadi titik tolak bagi sejarah bahasa Inggris untuk menerbitkan suatu standar bahasa nasional Inggris. Para pakar bahasa menyatakan pentingnya bahasa harus diberi martabat dan penghormatan yang setara dengan standar lain. Pada masa itu, di dunia sains para ilmuwan sedang bertanya, seberapa panas air mendidih? Para musisi sedang mendefinisikan bagaimana standar C mayor atau C minor. Selain itu, Pemerintah Inggris membentuk suatu badan yang bertugas membuat garis bujur untuk kepentingan pelayaran dan perdagangan. Badan itu dinamakan The Board of Longitude yang lebih populer dengan nama The Commissioners for the Discovery of the Longitude at Sea (1714-1828). Para tokoh sastra menganggap, jika garis bujur saja pemerintah begitu berkepentingan, pendefinisian warna, panjang, massa itu vital, mengapa bahasa nasional tidak diberi tempat yang sama?

Berbagai perdebatan muncul. Ada yang mengkritik, tetapi ada yang berinisiatif bekerja keras mulai menyusun mimpi itu. Johnson membentuk tim untuk mulai bekerja mengumpulkan kata demi kata dari seluruh karya sastra yang bertitik tolak pada terbitan tahun 1586 karena dianggap sastrawan pertama yang terbaik pada saat itu, Sir Philip Sidney meninggal pada 1586. Metodologi yang digunakan oleh Johnson adalah sebagai berikut: Membaca buku-buku, menggarisbawahi serta melingkari kata-kata, membubuhi kata-kata dengan catatan, dan menyuruh pembantunya untuk menyalin di atas slip kertas kalimat lengkap berisi kata yang diseleksi (Hlm 145).

Siapa yang disebut The Professor?

The Professor adalah James Murray (7 February 1837 – 26 July 1915). Ia adalah seorang Scottish lexicographer and philologist. Pada usia 17 tahun sudah mengajar bahasa Inggris di Hawick Grammar School dan tiga tahun kemudian menjadi kepala sekolah di sana. Dalam usia 32 tahun di 1869, ia menjadi anggota Philological Society, suatu organisasi yang beranggotakan ahli bahasa (filologist). James Murray melanjutkan proyek pembuatan kamus yang sudah digagas oleh Richard Chevenix Trench. Idenya adalah merekrut ratusan ribu amatir yang semuanya bekerja sebagai voluntir, yang bekerja mencatat setiap kata dari sumber manapun untuk diseleksi oleh tim editor yang sudah ditentukan. Trench berfilosofi bahwa setiap kamus besar yang baru harus merupakan produk demokrasi, buku yang memperlihatkan unggulnya kebebasan individu, pengertian bahwa seseorang dapat memakai kata-kata secara merdeka, tanpa ditundukkan aturan leksikal yang kaku (Hlm 159). Berikut ini gambar Murray di Scriptorium di Banbury Road, tahun 1880-an. Perhatikan banyak sekali kertas-kertas yang ada dilemari.

description

Sebelum James Murray sudah ada nama-nama seperti Frederick Furnivalll dan Herbert Coleridge. James Murray ditunjuk oleh Furnivall untuk menjadi kepala editor. Ia membuat tempat yang bisa menampung ribuan slip kertas dari voluntir, untuk diklasifikasikan dan diseleksi. Selanjutnya hasil seleksi tersebut dibuat secara alfabet dan ditawarkan ke penerbit, antara lain ke Macmillan dan Oxford. Oxford saat itu dinilai pelit, sok intelek, dan sering merendahkan orang (Hlm 165). Bagaimana bisa sampai ke Oxford, silahkan dibaca lebih lanjut pada bagian "Konsep Kamus Besar".

Lalu Siapa yang disebut The Mad Man?

Tokoh inilah yang "sengaja" diangkat oleh Simon Winchester, karena namanya tenggelam oleh nama besar Sang Founding Father. Yang dimaksud adalah seorang leksigrafer amatir yang terpelajar namun mengalami gangguan jiwa. Ia bernama Dokter (Purnawirawan) Kapt. US Army, William Chester Minor (Juni 1834 - 26 Maret 1920). Penelusuran pada tokoh ini sangat mengejutkan, ia adalah seorang ahli bedah tentara Amerika yang banyak memberikan kontribusi ilmiah ke OED, sementara ia ada di rumah sakit jiwa. Inilah foto beliau, yang bersumber dari Wikipedia, sama dengan foto yang ada di cover buku.

description


Mengapa ia menderita sakit jiwa, itu dipaparkan oleh Winchester di bagian "Sarjana di Blok Muda." Secara ringkas, Minor adalah seorang anak dari keluarga misionaris, belajar kedokteran di Yale university, dan selanjutnya masuk US Army. Pengalaman buruk ketika bertugas di Wilderness, ia membubuhkan cap dari besi panas pada seorang serdadu Irlandia yang diduga desersi. Ia begitu frustasi bila mengingat hal itu, dan itu mempengaruhi kejiwaannya. Ia keluar dari ketentaraan dan memilih pergi ke Inggris, ke tempat nenek moyangnya. Suatu saat ia membunuh George Merret, seorang buruh di Inggris, karena Minor merasa terancam ketika melihat Merret. Artikel Simon Winchester mengenai William Minor dapat dilihat disini

Hukumanpun dijatuhkan, namun berhubung Minor mengidap penyakit kejiwaan-yang saat itu belum dapat diidentifikasi-, ia mendekam di rumah sakit jiwa (asylum) di Broadmoor. Namun, ada kalanya ia bersikap santun dan waras. Berhubung ia adalah pensiunan tentara Amerika, ia mempunya uang yang cukup untuk membangun perpustakaan pribadi di kamar di Rumah Sakit Jiwa tersebut. Suatu hari ia menerima selebaran yang meminta kesediaan sebagai voluntir OED. Ia menyambut baik, koleksi bukunya sangat banyak dan sangat beragam. Ia menjadi kontributor yang paling setia dan kata-kata yang dikirimkannya selalu lolos dari editor.

James Murray merasa perlu bertemu langsung dengan kontributornya itu. Sebab selama ini hanya surat dan goresan pena yang diterimanya dari Minor. Ada suatu kisah pertemuan mereka yang (masihkah?) menjadi mitos, ditulis pada awal buku ini.

Hasilnya bisa dilihat sekarang, ternyata Kamus yang legendaris sepanjang masa itu dibuat oleh kumpulan orang-orang yang rela dan gigih, terlebih mencintai pekerjaannya. Dan untuk itu, kerja keras mereka dapat dinikmati oleh pengguna ilmu pengetahuan bahasa hingga kini.

Penutup
Seperti yang ditulis oleh Simon Winchester pada kata pengantarnya, bahwa ia tertarik menulis buku ini, karena ia membaca buku karangan Elizabeth Murray, Caught in the Web of Words. Mungkin karena ia seorang jurnalis, ia akan menghubungkan tokoh dan peristiwa, seperti halnya buku di atas, bahwa James Murray adalah Founding Father-nya OED.

Buku ini sangat bagus, terutama penyajiannya yang ringan khas reportase jurnalis modern. Dari kisah ini ada nilai-nilai yang bisa dijadikan pelajaran,
1. Minor menebus rasa bersalahnya karena membunuh George Meret dengan menyantuni jandanya. Apa dampaknya? Nilai meminta maaf dan mengampuni memiliki dampak besar. Mrs. Merret mengunjungi Minor secara teratur di Broadmoor, dan juga membawakan Minor buku-buku dari pedagang antik di London. Bisa dikatakan, Mrs. Herret turut berandil dalam penyusunan kamus Oxford.
2. Keadaan ironis, dimana karya besar dilahirkan dari tempat yang tidak kondusif, yakni rumah sakit jiwa. Penyakit jiwa yang dialami Minor, tentunya dulu tidak ditangani dengan ilmu psikiatri modern. Bila ia dirawat dengan benar, niscaya ia tidak akan menghasilkan sumbangan bermutu terhadap kamus Oxford. Dalam sudut pandang tertentu, Minor menggarap kamus tersebut sebagai terapi atas penyakit jiwa yang dideritanya. Ini menunjukkan suatu perjuangan Minor yang tidak menyerah pada keadaan yang paling sulit sekalipun untuk tetap berkarya,

Terjemahannya juga relatif bagus, namun ada juga beberapa kalimat yang kurang enak dibaca, dan karena itu saya kurangi bintangnya satu.
regulasi Kanto Pos (hlm 201)

Pada akhir buku, Simon menambahkan beberapa buku lain yang menjadi rujukan:

- Chasing the sun: dictionary makes and the dictionaries they made oleh Jonhattan Green
- MURRAY, K. M. ELISABETH: Caught In The Web Of Words: James Murray And - The Oxford English Dictionary. Yale University Press. New Haven and London: 1978.
- Empire of Words_The Reign of the OED oleh John Willinsky
- The Battle of Wilderness oleh Gordon C Rhea
- The American Heritage of the Civil War oleh Brice Catton dan James M. Macpherson.
- London: A Social History oleh Roy Porter

Buku yang berkaitan dengan kejiwaan:
Origin of Mental Illness oleh Gordon Claridge
Master of Bedlam oleh Andrew Scull

Bagi saya, buku Winchester ini adalah pengantar yang menggoda.

@HWS01092010

lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar