Buku Larasati - ulasan

LarasatiLarasati by Pramoedya Ananta Toer
My rating: 4 of 5 stars

Paperback, 180 pagesPublished 2003 by Lentera Dipantara (first published 2000)ISBN 9799731291 (ISBN13: 9789799731296).
Cover buku ini menarik. Warna cerah oranye dengan dengan covergirl seorang perempuan seperti wajah di Majalah Anita Cemerlang. Novel ini ditulis dalam suasana awal kemerdekaan Republik Indonesia, sekitar Tahun 1950. Pada masa itu, sedang masa peralihan antara kemerdekaan RI yang seutuhnya dan agresi militer Belanda yang masih tidak rela kehilangan Indonesia sebagai jajahan terbesarnya.

Instablitas politik dan keamanan menjadi isu penting. Tidak menjadi soal bagaimana para pemimpin negara bekerja sama untuk menggapai Indonesia yang utuh. Ini sebuah cerita dari segelintir jutaan rakyat Indonesia, yang mengabdikan dirinya pada sebuah kata: REVOLUSI. Revolusi adalah sebuah istilah yang digunakan oleh Soekarno untuk mencerahkan rakyat Indonesia dari kolonialisme dan feodalisme yang baru saja berakhir sengatnya. Ia mencita-citakan suatu perubahan pikiran dan tindakan yang bebas dari penindasan dan tekanan. Karakter inferior pada bangsa terjajah diubah dengan perubahan pemikiran, perubahan tingkah laku yang bersandar pada kekuatan Bangsa Indonesia sendiri. Pram, sebagai salah seorang yang mendukung Revolusioner, menggunakan kalimat-kalimat yang memompa semangat kaum muda Indonesia saat itu, untuk berubah, berubah cara pandang dan tingkah laku.



Pram mengambil Larasati sebagai tokoh utama novel ini untuk menggugah rasa nasionalisme. Ia tidak mengambil tokoh seorang militer, namun seorang seniwati. Mungkin ia beranggapan bahwa perjuangan pun tidak selalu lewat perjuangan fisik, tetapi lewat keahlian atau profesi unik masing-masing orang.

kalau mati, dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.

Perjalanan pulang Ara dari Yogyakarta ke Jakarta, tidak sekedar pulang kembali ke rumah. Ia pulang dengan meninggalkan kenangan, serta bertemu dengan orang-orang yang semakin memantapkannya untuk ikut Republik. Sebagai pekerja seni yang profesinya menghibur tentara, ia punya jaringan pada tentara-tentara yang padanya ia dapat aman, terutama dengan tentara NICA. Pada saat itu, dibuat film-film propaganda sejarah oleh NICA, dengan bantuan akting Ara. Setelah ia memutuskan tidak bekerjasama lagi dengan tentara NICA, ternyata menuai masalah. Zona aman yang dekat dengan dirinya, ia tinggalkan dan ia merasa ia berjuang sendiri.

Pertemuan dengan seorang kakek di kereta api, seorang opsir, seorang pemuda yang memberi selendang padanya, membuat ia sangat menghargai kemerdekaan. Ia menentukan sikap dengan tidak bekerjsama lagi dengan pihak penjajah. Konsekwensinya, ia kehilangan penghasilan, ia kehilangan teman-teman dan karir yang masih cemerlang di usianya yang produktif.

Pertemuan dengan seorang muda di dekat rumahnya, membuat ia "teracuni." Pemuda-pemuda yang mendukung republik saat itu sedang gencar-gencarnya melakukan serangan pada pasukan kompeni. Ara akhirnya terlibat dengan peperangan secara fisik. Sebab, baginya, itulah risiko revolusi. Risiko pejuang yang bermimpi tanah air bebas. Apa yang dikatakan oleh pemuda yang bernama Martabat itu, dikala mereka berdua sedang bersembunyi dari sergapan pasukan musuh?


Suaramu gemetar. Kau tak punya rasa dendam? Kalau orang cintai tanah airnya dia mesti dendam pada musuh tanahairnya. Dia takkan takut. Kau benar-benar mau berjuang buat tanah airmu? (h.97)


selanjutnya, Martabat meyakinkan Ara bahwa setiap perjuangan tidak sia-sia, sebab perjuangan itu punya tujuan.


Kalau kau belum punya anak, kau akan mengerti lebih banyak apa kataku. Mengerti? Juga buat anakmu yang belum lahir kami lakukan perjuangan ini. (h.99)


Takut memilih. Takut pada pilihan. Percakapan antara Martabat dan Ara yang membahas masalah ketakutan. Martabat menanyakan apakah Ara masih takut? Takut pada malam? atau takut pada tentara? atau takut karena selama ini ia sering berada di tempat yang nyaman alih-alih di medan perang yang setiap saat dapat saja merenggut nyawanya. Kalimat yang diucapkan Martabat menunjukkan bahwa ia paham benar apa maksudnya berjuang. "...perjuangan selamanya mengalami menang dan kalah, silih berganti. Kalau kau menang, bersiaplah untuk kalah, dan kalau kau kalah, terima kekalahan tersebut dengan hati besar, dan rebutlah kemenangan."

Ara dengan perjuangannya sebagai seorang wanita menunjukkan dengan berani, bahwa ia tidak mau ikut dengan Jusman. Seorang keturunan Arab, yang kemudian mengajaknya hidup bersama namun tanpa ikatan pernikahan. Ara tidak bersedia bekerjasama dan sedikitpun ia tidak mau menjenguk Jusman ke rumah sakit. Ia menunjukkan kebenciannya dengan tetap berdiam di rumah. Kemudian diketahuilah bahwa Jusman pun adalah mata-mata NICA.


kalau mati, dengan berani; kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.

Masih relevankah pesan 50 tahun yang lalu dengan kondisi bangsa kita saat ini? Apakah perilaku korupsi menunjukkan bahwa kita sebenarnya belum merdeka. Belum merdeka dari keterjajahan mental feodal dan tidak mau bekerja keras?


hanya angkatan tua yang mengajak korup, angkatan muda membuat revolusi. Pemuda sedang melahirkan sejarah.

Walau novel ini sudah beredar di negeri ini lebih dari 50 tahun yang lalu, namun pesannya pada generasi muda sekarang masih relevan. Yaitu perjuangan belum selesai, dan masih membutuhkan waktu panjang. Kemerdekaan masih cita-cita. Merdeka dari kebodohan, merdeka dari kemiskinan, merdeka dari penindasan, merdeka dari ketidakadilan, merdeka dari korupsi, dan masih banyak cita-cita merdeka lainnya. Untuk itu perlu punya prinsip keberanian. Berani membela harga diri, berani berpendapat, berani bertindak, dan berani membaca :)

Memaknai kembali perayaan Hari Kartini pada tanggal 21 April ini, pada Kompas Minggu, 24 April 2011, mengutip yang dikatakan oleh Lea Simanjuntak:
”Sekarang sudah banyak perempuan hebat, berpendidikan tinggi, punya jabatan tinggi, tetapi jangan lupa, perlu juga jadi perempuan yang berkepribadian, bertanggung jawab, dan bisa dipercaya,”

Selamat Hari Perempuan Indonesia. Indonesia yang berubah sebenarnya ada di tangan perempuan. Selamat kepada perempuan. Andalah pengubah Indonesia.

@hws25042011

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Terorist - ulasan

Judul : Terorist
Penulis : John Updike
Penerjemah : Abdul Malik
Penerbit : Pustaka Alvabet
Cetakan : I, Des 2006
Tebal : 499 hal


Akhir-akhir ini situasi kemanan Indonesia kembali terganggu oleh teror Bom yang meresahkan maysarakat, dimulai dari teror bom buku beberapa bulan yang lalu ditujukan kepada sejumlah tokoh kenamaan di negeri ini, hingga akhirnya sebuah bom bunuh diri di Masjid Mapolres Bogor. Seperti pelaku bom bunuh diri di hotel JW. Mariot beberapa tahun yang lalu kali ini eksekutor bom bunuh diri di Cirebon pun dilakukan oleh seorang pemuda yang masih belia.

Mengapa para pemuda kita begitu mudah dipengaruhi untuk melakukan aksi biadab ini? Kira-kira apa yang mereka alami dan rasakan ketika menjadi eksekutor bom bunuh diri? John Updike (1923-2009) seorang book reviewer sekaligus novelis terkenal mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan diatas melalui novel terakhirnya 'Terorist" (2006)

Ahmad Ashamy Mulloy, seorang pemuda berusia delapan belas tahun adalah seorang remaja cerdas yang taat pada ajaran agamanya. Ia tinggal di New Prospect (New Jersey) yang materialistis dan hedonis bersama ibunya, Teresa Malloy yang berdarah Irlandia-Amerika. Ayahnya yang berkebangsaan Mesir, meningalkannya sejak Ahmad berusia tiga tahun. Ketika berusia sebelas tahun ia memeluk agama Islam dan semenjak itu pula dua kali dalam seminggu ia mempelajari Kitab Suci al-Quran dibawah bimbingan Syaikh Rasid, seorang imam masjid di West Main Stret – New Prospect.

Di sekolahnya, Ahmad dikenal sebagai murid yang pintar. Agamanya menjaganya dari obat-obatan terlarang dan tindakan asusila, meski hal ini membuatnya agak tersisih dari teman-teman kelasnya. Karena hidup selama bertahun-tahun tanpa ayah, dan hidup bersama ibunya seorang penganut Katolik yang tanpa iman, dan digembeleng dengan keras oleh guru agamanya, Ahmad tumbuh menjadi pengabdi setia pada Allah, menjadikanNYA sebagai teman sejati yang lebih dekat dari urat lehernya.

Pengaruh Syaikh Rasyid sedemikian besarnya dalam kehidupan Ahmad, tak seorangpun yang dapat mengalihkan perhatian Ahmad dari mengikuti ajaran agamanya yang disebut sebagai “Jalan yang Lurus”. Selain belajar membaca ayat-ayat suci Al-Quran, Ahmad juga diwajibkan untuk mengikuti petunjuk Allah secara total dalam kehidupannya, termasuk melakukan jihad dan mati syahid untuk melawan musuh-musuh Allah, antara lain bangsa Amerika yang dianggapnya sebagai bangsa yang kafir.

Setelah lulus dari SMA, Jack Levy, guru pembimbingnya menganjurkan agar Ahmad melanjutkan ke univeritas terkemuka. Namun Ahmad lebih mentaati anjuran Syaikh Rasyid agar ia menjadi supir truk. Ketika ia memperoleh pekerjaan sebagai supir truk di sebuah toko perabotan yang dimiliki oleh keluarga Libanon, ternyata sejumlah rencana telah diatur dengan rapih. Sejak awal Ahmad memang disiapkan oleh Syaikh Rasyid untuk menjalankan jihad dan melakukan misi bunuh diri dengan menjadikan dirinya pembawa truk berisi bom yang siap untuk diledakkan di terowongan di Lincoln – New Jersey. Akankah Ahmad bersedia menjalankan misi yang diyakininya sebagai misi suci untuk menghancurkan musuh-musuh Allah ?


Kisah diatas adalah karya teranyar dari John Updike, novelis senior yang produktif dan pemenang dua kali Putlitzer Prize (1981 & 1991). Novel ke duapuluh dua John Updike ini diberi judul Terorist (2006). Novel ini mendapat respon yang baik dari pembacanya. Baru saja beberapa minggu terbit, novel ini telah dicetak ulang sebanyak enam kali dengan jumlah 118.000 copy dan habis terjual dalam waktu yang singkat.

Apa yang menarik dari novel ini ? Novel ini memang tak seseram judulnya. Pembaca mungkin akan terkecoh melihat judulnya yang provokatif dan menyangka novel ini sarat dengan kekerasan dan baku tembak dengan plot yang cepat dan menegangkan.
Tidak!, kita tak akan menemukan adegan baku tembak atau berbagai peledakan yang menghiasi lembar-lembar novel ini. Novel ini memiliki alur yang cenderung lambat dan lebih mengutamakan eksplorasi karakter, kondisi psikologis beserta pemikiran para tokoh-tokohnya. Wikipedia mengkategorikan novel ini kedalam genre Philosophical, War.

Seperti dalam novel-novel lainnya Updike memang gemar mengkolase tema filsafat dengan tema aktual. Dalam Terorist, ia banyak
bermain-main dengan apa yang ada dalam pikiran dan dialog-dialog para tokohnya yang sarat dengan debat filosofis dan teologis akibat benturan antara keyakinan tokoh-tokoh radikal dengan tokoh-tokoh sekuler yang hidup secara hedonis materialistis yang bisa dikatakan merupakan gambaran umum masyarakat Amerika.

Dari novelnya ini John Updike tampak menguasai Islam. Menurut Amitav Ghosh dalam reviewnya yang dimuat dalam Washington Post, Updake tak hanya sekedar membaca Al-Quran, ia juga mempelajarinya secara intens. Tak heran jika Updike menyertakan banyak kutipan ayat-ayat Al-Quran beserta pemahamannya dalam novelnya ini.

Seperti diungkap diatas, karakter tokoh-tokoh di novel ini dideskripsikan secara detail, selain tokoh Ahmad, tokoh-tokoh lainnya seperti Jack Levy (guru pembimbing Ahmad) Beth Levy , Teresa Malloy , Charlie Chebab (atasan Ahmad), mendapat porsi yang banyak dikupas sehingga mengakibatnya alur novel ini terasa lambat. Sayangnya juga karakter Syaikh Rasid hanya sedikit dikupas dibanding tokoh-tokoh lain, padahal dialah tokoh yang paling berpengaruh dalam kehidupan Ahmad.

Di novel ini juga pembaca akan melihat bagaimana kondisi kerohanian masyarakat Amerika yang dilihat dari sudut pandang tokoh Ahmad yang mewakili para pejuang kebenaran yang rela mati syahid demi keyakinannya. Di mata Ahmad Amerika adalah bangsa yang tidak memiliki Tuhan, “Dan karena tidak ada Tuhan, semua digambarkan dengan seks dan benda-benda mewah, Lihatlah televisi, Mr. Levy, bagaimana seks selalu memanfaatkan Anda agar bisa menjual sesuatu yang tidak Anda butuhkan. …Perhatikan bagaimana umat Kristiani melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap penduduk asli Amerika dan mengesampingkan Asia dan Afrika, dan sekarang mulai merambah Islam, dengan segala sesuatu di Washington yang dikendalikan oleh orang Yahudi untuk mengekalkan pendudukan mereka atas Palestina.” (hal 57).

Karena mengambil setting kota kecil di Amerika, beberapa tahun setelah serangan 11 September, novel ini juga mengungkap bagaimana sebenarnya kebebasan yang diagungkan oleh masyarakat Amerika justru “membuat negara ini lebih mudah disusupi teroris, dengan menyewa pesawat terbang dan mobil gerbong, serta mengeset website.” (hal 40). Phobia masyarakat Amerika terhadap sesuatu yang berbau Islam termasuk masyarakat muslimnya juga terungkap lewat sebuah dialog antar tokohnya “Kami memang memutus sambungan telepon setelah peristiwa Sebelas-September, kami sering menerima telepon bernada ancaman dari golongan Anti-Muslim” (hal 122).

Di 70 halaman terakhir terdapat hal yang sangat menarik, Updike mendeskripsikan dengan detail bagaima akifitas yang dilakukan oleh Ahamd selaku pelaku bom bunuh diri lengkap dengan bagaimana gejolak batinnya pada saat ia mengemudikan truknya menuju titik sasaran dimana ia akan meledakkan truknya dan mati syahid untuk membela keyakinannya.

Apa manfaat yang bisa kita ambil dari novel ini ? Saat ini beberapa negara di dunia, khususnya Amerika memang selalu berada dibawah ancaman bayang-bayang sekelompok pihak yang sering disebut teroris. Bahkan indonesiapun sudah beberapa kali menjadi sasaran bom bunuh diri. Karenanya kehadiran novel ini setidaknya bisa memberikan gambaran apa sebenarnya yang mereka perjuangkan dan apa yang kira-kira ada di benak seorang pelaku bom bunuh diri sebelum ia melaksanakan tugasnya demi sebuah keyakinan yang dianutnya.

@htanzil

nb:

Review ini pernah ditayangkan pd thn 2006 yg lalu. Kali ini kembali saya tayangkan karena saya rasa novel ini menjadi relevan kembali untuk terkait semaraknya teror bom di seluruh penjuru Indonesia.

Review dan data novel ini sy buat berdasarkan terjemahannya yg diterbitkan oleh Alvabet pada thn 2006. Kalau tidak salah pd tahun 2009 terjemahan novel ini dicetak ulang oleh Penerbit Alvabet dengan cover yang berbeda. Sayang saya tidak berhasil memperoleh foto cover ed. terjemahan thn 2009.

lintasberita

Lanjut Baca

Buku The Yearling - ulasan

Yearling, menurut Wikipedia adalah hewan atau kuda muda yang baru meninggalkan masa kecil menuju masa dewasa. Masa muda, ingatkah anda akan masa-masa yang pernah atau sedang anda lewati itu? Masa-masa yang indah sekaligus membingungkan, karena pada masa-masa itu kita merasa seperti berada di puncak dunia. Lalu, baru saja kita merasa demikian, kitapun lalu dihempaskan pada kenyataan yang sesungguhnya. Hidup ternyata memang indah, namun tak pernah mudah. Kalau pengertian itu sudah kita dapatkan, berarti kita telah memasuki kedewasaan. Itulah yang ingin diungkapkan Marjorie Kinnan Rowlings dalam bukunya yang sangat indah ini: The Yearling.

Jody Baxter adalah seorang bocah lelaki yang sedang menanjaki usia remaja. Ia hidup di pertanian bersama Penny Baxter, ayahnya yang kurus ceking dan Ma Baxter yang gemuk. Keluarga Baxter hidup di pondok di dataran tinggi yang dikenal sebagai Pulau Baxter, yang sama sekali bukan pulau, melainkan lahan pertanian yang luas. Hidup bagi Jody sedang di puncak keindahan. Sebagai putra seorang penggarap ladang, ia mulai diajari bekerja meladang dan beternak. Namun karena usianya yang masih muda, tak berat tanggung jawab yang ia pikul sehingga ia pun merasa bebas untuk bermain dan bermanja di sela-sela pelajaran bertani dan berburu yang diberikan oleh Pa-nya, Penny Baxter.

Penny Baxter sendiri adalah sosok lelaki kurus kecil dengan mental sebesar beruang dan memiliki karakter kuat serta memegang teguh prinsipnya. Penny mengingatkanku pada papaku sendiri. Ia juga kurus meski lumayan tinggi. Namun, sama seperti Penny, Papa juga orang yang sangat kuat memegang prinsipnya akan kebenaran, kejujuran dan keadilan, sehingga kehidupan justru sering mengecewakannya. Di mata orang lain, terutama tetangga mereka: keluarga Forrester, bahkan juga di mata istrinya, Penny adalah pria yang (terlalu) lemah lembut dan tak berguna. Penny memiliki prinsip ia takkan membunuh hewan bila tak amat sangat membutuhkan atau bila hewan itu tak mengganggu keluarganya. Meski tahu bahwa daging atau kulit beruang mahal harganya bila dijual dan kesempatan untuk menembak sekawanan beruang terbuka lebar, ia hanya akan menembak secukupnya untuk makanan keluarganya untuk waktu tertentu. Penny percaya bahwa alam memiliki keseimbangannya sendiri, bahwa lebih baik membiarkan rusa tetap hidup, dan bahwa kalau ia harus mati, biarlah ia menjadi santapan hewan besar lainnya. Keluarga Baxter hanya mengambil apa yang mereka butuhkan untuk menyambung hidup, agar dengan demikian terjadi keseimbangan alam yang akhirnya juga akan mereka nikmati secara timbal balik.

Karakter Penny inilah yang teramat sangat dikagumi Jody, anak tunggal keluarga Baxter. Hal itu pula yang menyebabkan Jody sangat cocok dan dekat dengan ayahnya, tapi tak mampu memahami ibunya yang setelah berkali-kali kehilangan bayi, berubah menjadi manusia getir dan sinis. Jody pun makin sering berbagi waktu bersama ayahnya dalam perburuan beruang atau rusa yang mengasyikkan, juga berbagi ketertarikan pada alam dan hewan. Ayahnya juga yang mampu memahami rasa kesepian dalam diri Jody, kebutuhannya untuk memiliki seorang teman, yang akhirnya terkompensasi pada kehadiran seekor anak rusa yang bulunya berbintik cantik. Meski Ma Baxter tak menyetujui keinginan Jody memelihara anak rusa itu, namun ayahnya membela Jody. Maka kini bertambahlah satu anggota termuda keluarga Baxter: si anak rusa yang kemudian diberi nama Flag (karena ekornya yang selalu mengibas-ngibas seperti bendera kecil...).

Jody sangat menyayangi Flag. Ia yang selalu kelaparan dan bernafsu makan besar, malah bersedia mengorbankan susu jatahnya dan sebagian makan malamnya untuk diberikan kepada Flag, karena ibunya keberatan kalau harus memberi makan satu mulut lagi. Semakin besar Flag, semakin tak terpisahkanlah kedua anak muda itu: Jody dan Flag.

Sampai di sini anda mungkin heran. Bagaimana cerita yang terlihat amat sederhana itu bisa menjadi rangkaian kisah sepanjang 501 halaman? Ah...kekuatan utama buku ini memang bukan pada inti ceritanya, namun justru pada detailnya. Membaca The Yearling ini membuat kita merasa seakan pindah ke dunia lain, di abad yang lalu. Begitu anda membuka halaman pertama, anda akan langsung merasa tersihir oleh rangkaian kata-kata yang disemat menjadi untaian kalimat-kalimat indah yang mampu menggambarkan keindahan alam dan suasananya yang mempesona. Yang paling memukauku adalah adegan bangau menari yang secara tak sengaja disaksikan Penny dan Jody di suatu senja ketika pulang memancing. Penggambaran bias merah jambu matahari yang sedang tenggelam dan susana yang kurasakan hampir-hampir magis ketika para bangau memainkan bunyi-bunyian musik dan menari dalam sebuah lingkaran, ahh...seolah begitu nyata dan seakan aku dapat mendengar musik itu sendiri dan menyaksikan pertunjukan itu secara langsung.

Kalaupun ada alur yang agak dinamis dan menegangkan di buku ini, itu terjadi pada setiap perburuan. Perburuan ala Penny bukan perburuan liar yang hanya asal menghabisi saja. Penny memiliki insting yang sangat bagus dan pengetahuan tentang karakter hewan. Meski ia sendirian, ia dapat berhasil mendapatkan buruan karena insting dan kecerdikannya itu, dan dibantu juga oleh anjing pemburunya yang setia: Julia dan Rip. Hanya Slewfoot Tua, seekor beruang pincang yang amat cerdas yang nyaris mengalahkan Penny dan mungkin satu-satunya yang pernah membuat Penny begitu marah hingga hampir tak mampu berpikir jernih. Anda akan tak habis pikir, bagaimana si ceking Penny bisa memiliki keberanian begitu besar. Saat keluarga Forrester yang bermoral rendah dan sering bikin onar mengeroyok seorang pemuda, Penny pun berani melindungi si pemuda. Ia memang menjadi babak belur dan nampak konyol di depan istrinya, namun sesungguhnya sikapnya itu sungguh mulia: menolong siapapun yang diperlakukan dengan tak adil.

Sementara itu, dalam perjalanannya menjadi pria dewasa, Jody telah menyaksikan dan belajar tentang banyak hal. Tentang bagaimana masa lalu dapat mengubah seseorang, bagaimana seorang wanita dapat membuat dua orang pria rela bertarung hidup dan mati, bagaimana alam memberi seorang anak kemampuan intuisi yang tajam, namun di sisi lain mengambil daripadanya tubuh yang sehat dan menggantikannya dengan kecacatan. Namun mungkin pelajaran yang paling berharga yang ia dapat dari ayahnya, selain berburu dan bertani, adalah pelajaran tentang menjadi dewasa dan menghadapi kenyataan hidup, seperti yang diungkapkan oleh Penny:

"Semua orang ingin agar hidupnya indah dan mudah. Hidup memang indah, Nak, sangat indah, namun tidak mudah. Hidup akan menjatuhkan seseorang dan begitu orang itu bangkit, dia akan dijatuhkan lagi."

"Aku ingin agar hidupmu mudah. Lebih mudah daripada yang kualami. Hati seorang ayah sakit saat melihat anak-anaknya menghadapi dunia. Tahu bahwa mereka akan terluka, sama sepertinya... Lalu apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia lakukan ketika jatuh? Tentu saja ia harus menerima hal itu dan melanjutkan hidup."

Nasihat yang sungguh indah dan mengena, yang lagi-lagi mengingatkanku pada surat Papa untukku saat aku berulang tahun ke 17. Hal yang sama seperti yang diajarkan Penny pada Jody. Bahwa hidup tak selalu mudah, meski toh di sana-sini kita akan boleh melihat beberapa keindahan. Ada saat-saat Penny dan Jody terluka atau kesakitan saat menghadapi hewan buruan, namun ada saatnya juga mereka menikmati pertunjukan bangau menari atau anak beruang main ayunan saat berburu. Sama halnya dengan hidup kita. Namun pada akhirnya, kita semua toh harus tetap menerima semuanya, dan melanjutkan hidup...

Akhirnya terima kasih pada Gramedia yang telah menghadirkan sebuah kisah klasik yang memukau( menjadi pemenang Pulitzer Price tahun 1939), dengan penerjemahan yang indah ini di ranah perbukuan kita. Kita telah boleh mereguk keindahannya, sekaligus memetik pelajaran berharga dari buku ini.

Judul: The Yearling
Pengarang: Marjorie Kinnan Rowling
Alih bahasa: Rosemary Kesauly
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Maret 2011
Tebal: 501 hlm

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Menggagas Pemimpin Berbudaya - ulasan


Koran Sindo, 24 April 2011

Judul Buku: Culture Based Leadership
Penulis: Herry Tjahyono
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2011
Tebal: 273 Halaman

Herakleitos, filsuf Yunani Kuno, menyatakan bahwa segala sesuatu mengalir seperti sungai, segala sesuatu berubah, panta rhei. Satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri.

Perubahan, entah yang terkait dengan diri sendiri (personal context) maupun sosial (social/organization context), mau tak mau akan melibatkan sebuah proses penting bernama transformasi, yang melibatkan sebuah proses perubahan mendasar (fundamental change).Transformasi juga akan melibatkan dua kata vital: kepemimpinan (leadership) dan budaya organisasi (organization/corporate culture). Secara de facto, keduanya merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dalam mengelola sebuah proses transformasi two sides of a coin.

Lebih khusus lagi,yang akan menjadi ujung tombak untuk memenangkan proses transformasi dalam organisasi dan perusahaan, ada dua: Kepemimpinan berbasiskan budaya (Culture Based Leadership) dan Budaya Kinerja Tinggi (High Performing Culture). (halaman 17) Buku Culture Based Leadership ini berusaha menguak rahasia- rahasia penting yang telah membuat sebagian perusahaan mampu menjadi great companies. Rahasia itu terentang dari bagaimana budaya mampu mendongkrak kinerja, teknik pemetaan dan pengukurannya, pembangunan budaya sehat dan kuat, hingga Indeks Budaya (HPC Index) yang menjadi mercusuar kinerja organisasi.


Maju-mundurnya suatu organisasi akan sangat dipengaruhi apa yang dilakukan dan diputuskan pemimpinnya.Pemimpin adalah representasi organisasi, sebesar apa pun organisasinya, berapa pun jumlah anggotanya dan siapa pun yang bernaung di bawahnya, seorang pemimpinlah yang memutuskan ke mana organisasi akan dibawa, dan bagaimana cara membawanya. Kekuatan manusia ialah bahwa ia mampu memahami keseluruhan realitas, capax universi. Seorang pemimpin, selayaknya mampu membawa seluruh alam semesta (organisasi maha besar) serta organisasi yang dipimpinnya ke dalam penghayatannya sehari-hari. Inilah salah satu nilai terdalam dan terluhur dari seorang pemimpin.

Seperti kita ketahui, salah satu kelemahan kepemimpinan di tanah air adalah banyaknya pemimpin yang ragu-ragu, serba bimbang, indecisif, apa pun latar belakang dan alasannya. Padahal, inti dari kepemimpinan adalah pengambilan keputusan. Kepemimpinan sesungguhnya juga sebuah proses belajar, maka dalam diri seorang pemimpin harus terkandung kapasitas seorang pembelajar. (halaman 234-235). Itu sebabnya, pengertian culture based leadership (CBL) dalam buku ini bermuara pada inti kepemimpinan yang sama, yakni pengambilan keputusan. Namun, keunikan sekaligus keistimewaannya adalah pada dasar dan jenisnya, yakni terkait dengan otentisitas dan kultural (authentic and cultural decision).

Otentik berkaitan dengan nilai-nilai diri sebagai pemimpin, sedangkan kultural berkaitan dengan nilai-nilai perusahaan atau budaya perusahaan. Keputusan otentik dalam CBL akan berhubungan dengan nilai-nilai diri seorang pemimpin. Semakin baik nilai-nilai diri pemimpin, dan semakin kuat nilai-nilai diri itu melandasi segenap sikap dan perilaku kepemimpinannya, maka semakin otentik segenap keputusan kepemimpinannya, begitu pula sebaliknya. Sedangkan keputusan kultural berkaitan dengan interaksi kepemimpinan dan budaya dalam bentuknya yang paling positif dan produktif.

Hal ini berkaitan dengan bagaimana seorang pemimpin menyerap, menyelaraskan, dan mengaktualisasikan atau merealisasikan nilai-nilai organisasi yang dipimpinnya. ( halaman.253-261). Jadi, proses pengambilan keputusan kepemimpinan dalam CBL ialah berdasarkan pada nilai-nilai diri dan nilai-nilai perusahaan/organisasi yang selaras. Dengan tujuan terciptanya pembangunan kepercayaan (trust) serta komitmen (commitment) dari key stakeholder. Dalam konteks bernegara, karakter ini harus dapat ditemukan dalam diri sosok pemimpin/presiden sehingga rakyat sebagai key stakeholder tidak menjadi korban dan dirugikan.

Selain itu, Budaya Kinerja Tinggi (High Performing Culture/ HPC) merupakan ujung tombak lain dari proses transformasi. Terdapat lima langkah rawan dan krusial dalam pembentukan HPC; dimulai “di” atau “dari” atas, ukurlah budaya saat ini, identifikasikan dengan jelas tujuan dan nilai, komunikasikan tujuan dan nilai-nilai itu ke segenap karyawan, dan ajarlah semua manajer untuk ikut membentuk lingkungan, atau mengampanyekan tujuan dan nilai-nilai. Membangun kepercayaan adalah modal terbesar seorang pemimpin.

Banyak cara dilakukan oleh pemimpin untuk membangun dan mendapatkan kepercayaan. Indonesia sebagai sebuah organisasi yang besar, memiliki pemimpin bernama Susilo Bambang Yudhoyono dengan kepercayaan penuh dari rakyat melalui politik pencitraan, hingga terpilih dua periode. ●



lintasberita

Lanjut Baca

Buku Ibu Pergi ke Surga - ulasan

Ibu Pergi ke Surga
by Sitor Situmorang
Paperback, 240 pages
Published January 2011 by Komunitas Bambu
ISBN 979373188

Buku ini merupakan kumpulan cerita pendek lengkap karya Sitor Situmorang. 23 Cerita pendek yang ditulis dalam kurun waktu Maret 1950 s.d. 1981. Cerita pendeknya ini dipengaruhi oleh kecintaan akan kampung halaman yang berlatar pengalaman dunia tradisi batak serta pengalamannya selama di Eropa. Lewat cerpen Fontenay Aux Roses, diketahui bahwa Prancis menjadi tempat Sitor muda menghabiskan waktu dengan mengobrol dan minum. Saat itu, sedang berkembang fisafat Eksistensialisme yang ditemukan oleh Sartre. "Saya hanya kena imbas" begitu ungkap Sitor dalam catatan editor, JJ Rizal.



Jika Cerpen ini dipilah berdasarkan waktu penerbitan dan tempat kejadian, maka tempat yang paling banyak diceritakan adalah Samosir dan Prancis. Mari kita lihat dengan lebih terinci.
1. Kembang Gerbera (Yogyakarta Maret 1950)
2. Akbar(Tidak diketahui, Oktober 1954)
3. Fontenay Aux Roses (Prancis, September 1954)
4. Cheri(Prancis, April 1954)
5. Diplomat Muda(Belanda, 1954)
6. Harimau Tua (Toba, 1954)
7. Kota S (Diduga Sibolga, 1954)
8. Perawan Tengah Hari(Jakarta, 1954)
9. Pertempuran dan Salju di Paris (Prancis, 1954)
10. Begitulah Selalu Kalau Hujan (Jakarta, 1955)
11. Ibu Pergi ke Surga (Samosir, 1955)
12. Jin (Samosir, 1955)
13. Pertempuran (Sumatra, Jakarta, 1955)
14. Cinta Pertama (Milano, Italia, 1958)
15. Kereta Api Internasional (Di dalam perjalanan kereta api Prancis-Belgia, 1958)
16. Pangeran (Yogyakarta, 1963)
17. Pribahasa Jepang (Tokyo, 1958)
18. Jatmika dan Jatmiko (Kebun Binatang, 1963)
19. Kisah Surat dari Legian (Denpasar, 1980)
20. Suatu Fiksi dalam Fiksi (Jakarta, 1981)
21. Perjamuan Kudus (Parapat, 1981)
22. Kasim (Jakarta, 1981)
23. Kehidupan Daerah Danau Toba (Samosir, 1981)

Membaca cerita pendeknya ini, saya seperti membaca buku harian. Tentang perjalanan, tentang sahabat, tentang kampung halaman, dan tentang kisah cinta. Tentang keindahan Danau Toba dan Pulau Samosir, Sitor menulis dalam "Perjamuan Kudus" ...pulau besar di tengah danau itu seperti raksasa tergolek. Kota Parapat yang terletak di Semenanjung kecil, dengan lampu-lampu listriknya, yang kemilaunya bergabung dengan sinar bulan di sisi air danau..... Harian Kompas pernah menampilkan Kota Parapat dengan Danau Toba di headline-nya.

Kisah Diplomat Muda yang bertugas di Belanda menarik perhatian saya. Apakah masih seperti itu sekarang ini, dimana diplomat yang bertugas di Kedutaan Besar Indonesia di negeri tertentu, pekerjaan sampingan yang jadi utama adalah mendampingi bapak-bapak dan ibu-ibu pejabat bukan dalam hal pekerjaan diplomatik? Apakah tugas diplomat tercantum dalam job description untuk mendampingi ibu pejabat yang katanya memberantas pelacuran ke night club?

Tentang kisah cinta, cerita Cinta Pertama menurut saya sangat unik. Bercerita dari sisi perempuan Italia berusia 17 tahun, yang karena suatu peristiwa tidak disengaja kakaknya, akhirnya berkenalan dengan seorang wartawan asal Indonesia. Cinta pertama muncul karena si perempuan diajak ke Indonesia dan jatuh cinta pada Bali dan seluruh alam serta seninya.

Tentang kampung halaman. Sitor menulis keindahan Danau Toba dengan apik. Pada cerita Kehidupan Daerah Danau Toba, tergambar keindahan pemandangan luas dan Pulau Samosir. Termasuk di dalamnya ia menceritakan tentang aktivitas Hari Pekan, yaitu dimana banyak orang dari penjuru kampung datang berkumpul untuk berniaga menukarkan barang-barang hasil bumi mereka dengan barang dagangan dari Siantar. Tempat Pekan itu di Haranggaol. Ibu saya pernah bercerita bahwa semasa ibu saya kecil, pergi ke Haranggaol untuk menjual bawang. Makan buah pisang saat itu adalah makan istimewa, karena buah pisang adalah barang mahal. Saya sendiri belum pernah kesana. Tapi Pekan Haranggaol itu masih ada sampai sekarang. Sumber foto dari sini.

Tentang orangtuanya. Ia menulis dua cerpen. Perpisahan dengan ayahnya ditulis dalam Perjamuan Kudus, sedangkan perpisahan dengan ibunya, ia tulis dalam Ibu Pergi ke Surga. Cerpen Ibu Pergi ke Surga ini entahkah fiksi ataukah tidak, saya tidak tahu. Seperti cerpen-cerpen yang lain, tidak ada penjelasan konteks pada setiap cerita. Pembaca diserahi tanggung jawab berimajinasi sendiri. Ibu dalam cerita itu memanggil pulang "Aku" dari perantauan. Ia sudah lama terbaring sakit di rumah. Sang Ibu meninggal ketika acara natal dilakukan di rumah "Aku", tokoh utama. "Aku" sudah mengetahui bahwa ibunya tak bernapas lagi sesaat sebelum acara natal di rumah dimulai. Tak satupun oranglain yang tahu. Acara berlangsung khidmat, sampai Pak Pendeta berkata pada "Aku" supaya ibu dibangunkan, karena lagu kesukaannya akan dinyanyikan. Tidak ada yang tahu, sampai "Aku" memberitahukan kepada Ayahnya setelah semua orang pulang. "Aku" hendak pulang ke perantauan, sebelum pulang, ayahnya meminta supaya jika ia mati, ia ingin bersama dengan Ibu dan kuburannya menghadap Danau Toba.

JJ Rizal menutup catatannya tentang Sitor Situmorang dengan mengatakan tanda kekurangsuburan Sitor yang mengarang 23 cerpen selama hidupnya menunjukkan bahwa ia adalah pujangga pemikir. Dengan cerpennya, Sitor memuaskan dari segi penikmatan bahasa dan kekayaan batin dari pemikiran yang padu dengan pengungkapannya sebagai bahasa cerpen.

Tentang Sitor
Tidak banyak yang saya tahu tentang Sitor Situmorang. Informasi dari Wikipedia pun sangat minim. Menurut si Wiki ini, Ayahnya, Ompu Babiat Situmorang adalah orang yang berjuang mengusir tentara kolonial Belanda bersama Sisingamangaraja XII. Selama 30 tahun bergerilya bersama Sisingamangaraja, Ompu Babiat diubah statusnya menjadi kawula Ratu Belanda dalam status setengah merdeka, setengah pegawai administrasi kolonial.

Sedikit saya tambahkan riwayat Sitor Situmorang yang terdapat pada bagian akhir buku ini. Lima tahun pertama di sekolah dasar di Balige, kemudian pindah ke Sibolga. Kemudian ia masuk MULO (Meer Uitgebreid Lager Oderwijs) di Tarutung (1938). Kemudian ia berangkat ke Jakarta untuk bersekolah di CMS (Christelijke Middelbare Scholen), sekolah menengah atas di Salemba (1941). Keinginan untuk menjadi ahli hukum kandas, sebab Jepang datang (1942). Awalnya ia menjadi redaktur berkala di Suara Nasional. Selanjutnya ia bergabung dengan Harian Waspada. Esai, kritik, dan sajaknya mulai diperkenalkan ketika ia ditugaskan Waspada untuk meliput suasana revolusi di Yogyakarta (1947-1948). Ketika itu, ia juga menjadi wartawan Kantor Berita Antara. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda II Tahun 1948, ia ditangkap NEFIS (Netherland East Indies Forces Intelligence Service) dan dipenjara di Penjara Wirogunan, Yogyakarta hingga penyerahan kedaulatan RI di akhir Tahun 1949.

Karya sastra dianggap memberi pencerahan dalam alam seni kebudayaan Indonesia. Karyanya bukan saja isi, tema, dan kata-kata, tetapi juga membawakan kekayaan batin dari pemikiran-pemikiran. Antara lain karyanya itu adalah Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), Wajah Tak Bernama (1955), Drama Jalan Mutiara (1954), dan Cerpen Pertempuran dan Salju di Paris (1956) yang memenangkan hadiah sastra nasional Tahun 1955/56 dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN).

Pada tahun 1956, ia mendapat beasiswa untuk belajar sinematografi dan seni panggung di Los Angeles (University of Southern California) dan di New York (Actor's Studio) Amerika Serikat. Ia memasuki dunia politik dengan memasuki lembaga yang mendukung Demokrasi Terpimpin Soekarno. Pada 1959, ia mendirikan Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) yaitu anak organisasi Partai Nasional Indonesia (PNI), lalu menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) dari golongan seniman. Ia menulis dan berceramah tentang hubungan sastra dan politik yang dikumpulkan dalam Sastra Revolusioner (1965). Bersama dengan jatuhnya Presiden Soekarno, ia ditahan oleh orde baru tanpa proses pengadilan selama delapan tahun. Keluar dari penjara, karyanya Peta Perjalanan dimenangkan oleh Dewan Kesenian Jakarta (1976/77). Selain itu, ia memasuki dunia sejarah dan antropologi dengan menulis buku "Guru Somalaing dan Mogliani Utusan Raja Rom"(1993)dan "Toba Na Sae"(1993).

Karya Sitor telah diterjemahkan dan dibukukan dalam Bahasa Belanda Bloem op een rots dan Oude Tijger (1990), Wander (1996), dan Prancis Paris La Nuit (2001) serta Cina, Italia, Jerman, Jepang, dan Rusia. Pada 20 Maret 2003, Sitor dianugerahi Hadiah Francophonie karena dianggap sebagai penyair terkemuka Indonesia yang telah memberikan kontribusi penting dalam mengembangkan bahasa Prancis di Indonesia dan prinsip-prinsip Francophonie yaitu penghormatan serta pengembangan keanekaragaman budaya, perdamaian, demokrasi dan hak asasi.
Pada usia ke 80, Sitor menunjukkan eksistensinya dengan mengeluarkan kumpulan sajak Biksu Tak Berjubah (2004) dan sajak-sajaknya dalam terjemahan bahasa Belanda: Lembah Kekal/Euwige Valley (2004). Serta pada tahun 2006, terbit dua jilid kumpulan sajak lengkap Sitor Situmorang: Kumpulan sajak 1948-2005. Sedangkan buku "Ibu Pergi ke Surga" ini adalah kumpulan lengkap 23 buah cerita pendek karangan beliau.

@hws23042011

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Kisah-kisah Tengah Malam - ulasan

Kisah-kisah Tengah Malam
by Edgar Allan Poe, Maggie Tiojakin (Translator)
Softcover, 245 pages
Published December 28th 2010 by Gramedia Pustaka Utama (first published January 1st 2001)
ISBN139789792265378

Rasa takut apakah dibuat? apakah rasa takut itu hanya ada dalam pikiran? bagaimana jika rasa takutmu sudah pada puncak tertinggi? apakah takutmu akan sirna setelah maut menjelang?

Berikut pada buku ini adalah cerita pendek yang bertemakan horror dan misteri yang dikumpulkan secara terpilih. Sepertinya, untuk menambah kesan seram, dipilih angka 13 untuk jumlah cerpen yang dimuat. Sebenarnya ada banyak cerpen karangan Poe yang sudah siap dibaca secara online, dari sebuah web Online Literatur dot com terdapat 51 cerita pendek serta 60 puisi yang dimuat di Web. 13 diantaranya telah diterjemahkan kedalam buku ini, yaitu:



1. Gema Jantung yang Tersiksa (The Tell-Tale Heart)
2. Pesan dalam Botol (MS. Found in a Bottle)
3. Hop-Frog (Hop-Frog)
4. Potret Seorang Gadis (The Oval Portrait)
5. Mengarungi Badai Maelstrom (A Descent into the Maelstrom)
6. Kotak Persegi Panjang (The Oblong Box)
7. Obrolan dengan Mummy (Some Words with a Mummy)
8. Setan Merah (The Masque of the Red Death)
9. Kucing Hitam (The Black Cat)
10.Jurang dan Pendulum (The Pit and the Pendulum)
11.Pertanda Buruk (The Sphinx)
12.William Wilson (William Wilson)
13.Misteri Keluarga Usher (The Fall of the House of Usher)

Bagaimana Poe menyajikan cerita?
Berhubung ini adalah tema terpilih, jadi agak seragam model-model penceritaannya. Poe sering menggunakan "Aku" sebagai tokoh utama dalam cerita pendeknya. Tokoh Aku digambarkan memiliki pengalaman yang mendebarkan, cemas, namun seperti ketagihan dengan rasa penasaran, sebab takutpun sudah tak terlalu berguna lagi diikuti kemauannya. Rasa ingin tahu justru mengalahkan rasa takutnya. Hal itu tergambar dalam penokohan Aku di Gema Jantung yang Tersiksa, Kotak Persegi Panjang, Misteri Keluarga Usher.

Poe menceritakan si tokoh utama sangat dihantui dengan kematian, ketakutan, kekerasan, makhluk jahat, supranatural, imajinasi gelap. Contohnya pada karakter tokoh utama karena mendengar denyut jantung yang ia kenal-Gema Jantung yang Tersiksa-(hlm 16), si Setan merah membunuh satu persatu tamu yang jumlahnya 1000 orang-Setan Merah- (hlm 146 ), Dihantui pikiran buruk karena telah membunuh seekor kucing -Kucing Hitam- (hlm 156), Tokoh Aku cemas karena menunggu mayat Lady Madeline Usher bersama Roderick Usher-Misteri Keluarga Usher- (Hlm 238).

Ada tokoh yang secara status mengungguli orang lain, namun takluk pada satu kekuatan di luar dirinya yang akhirya membunuhnya yaitu Sang Raja pada Hop Frog, Pangeran Prospero pada Setan Merah, Wiliam Wilson pada Wiliam Wilson, Aku pada Jurang dan Pendulum.

Ada istilah Gothic yang digunakan Poe dalam ceritanya. antara lain dalam Misteri Keluarga Usher, petikannya sebagai berikut, ...mengambil alih kudaku dan membiarkanku masuk ke rumah, melewati lorong yang dipayungi gerbang bernuansa gothic. selanjutnya di cerita Setan Merah, ...terdapat jendela Gothic yang terbuka ke arah koridor tertutup menuju kamar-kamar tadi (hlm 139)

Apa arti Gothic?
1. The Freedictionary.com memberi pengertian sebagai berikut:
a. Of or relating to an architectural style prevalent in western Europe from the 12th through the 15th century and characterized by pointed arches, rib vaulting, and a developing emphasis on verticality and the impression of height.
b. Of or relating to an architectural style derived from medieval Gothic.


Selanjutnya ada Sejarah kata Gothic:
The combination Gothic romance represents a union of two of the major influences in the development of European culture, the Roman Empire and the Germanic tribes that invaded it. The Roman origins of romance must be sought in the etymology of that word, but we can see clearly that Gothic is related to the name Goth used for one of those invading Germanic tribes. The word Gothic, first recorded in 1611 in a reference to the language of the Goths, was extended in sense in several ways, meaning "Germanic," "medieval, not classical," "barbarous," and also an architectural style that was not Greek or Roman. Horace Walpole applied the word Gothic to his novel The Castle of Otranto, a Gothic Story (1765) in the sense "medieval, not classical." From this novel filled with scenes of terror and gloom in a medieval setting descended a literary genre still popular today; from its subtitle descended the name for it.

2. reverso.net memberikan pengertian sebagai berikut. In Gothic stories, strange, mysterious adventures happen in dark and lonely places such as graveyards and old castles.

yah..jadi intinya ini serem-seremnya abad pertengahan di Eropa, dimana konteks saat itu jatuhnya abad Kekaisaran Romawi ke abad Renaissance. Banyak peperangan dan invasi yang digambarkan di film-film terjadinya di gedung kastil tua.

Poe sangat cerdas dalam menceritakan detil-detil tempat. Saya rasa imajinasinya yang kelewat tinggi, dapat membawa pembaca pada ruang-ruang di istana raja (Hop-Frog), pada kapal dan ruang di kapal barang Independence (Kotak Persegi Panjang), pada rumah keluarga Usher (Misteri Keluarga Usher), pada kapal yang terkena badai (Mengarungi Badai Maelstrom), Ruangan hukuman yang di dalamnya terdapat pendulum yang segera mengoyak tubuh dan ditengahnya terdapat jurang (Jurang dan Pendulum).

Jika ingin mendalami cerita-cerita Poe lagi, silahkan membaca secara online yang ada di internet. Atau mungkin tertarik membaca dari teks aslinya, tautan berikut membantu menelusuri cerita pendek maupun puisi karya Poe yang lain. Saya membantu dengan memberikan judul aslinya di atas.

1. Online Literatur dot com
2. The Edgar Allan Poe Society of Baltimore
3. Ebook Server
4. Read Book Online

Kritik saya pada terjemahan buku ini ada pada
1. Gema Jantung yang Tersiksa (The Tell-Tale Heart), terjemahan kata "He" yang merujuk pada si lelaki tua, diterjemahkan sebagai Beliau oleh penyunting. Kalau sekali saja dituliskan karena untuk memunculkan hormat (khas Indonesia), itu nggak masalah. Tapi karena kemunculan Beliau ini terlalu sering (saya mencatat ada 17 kata Beliau dari halaman 11 s.d.15). Penyunting juga kurang konsisten dengan kata Beliau, karena pada hlm 15, menggunakan kata "dia" alih-alih Beliau.

2.cerita Potret Seorang Gadis (The Oval Portrait), dari judul aslinya saja sudah kelihatan jauh dari konteksnya. Yang agak mengganggu adalah pada paragraf terakhir dimana ketika pelukis menyelesaikan lukisannya, dan berkata "Lukisan ini adalah kehidupan"- sebelum memutar tubuh untuk memandang istrinya: "Dia sudah mati!" (hlm 60). Sementara bila melihat teks aslinya menulis demikian 'This is indeed Life itself!' turned suddenly to regard his beloved: -- She was dead!. "Itself" kurang diberikan penekanan pada terjemahannya.

Sekilas tentang Edgar Allan Poe
Poe lahir pada 1809 di Boston, Massachusetts putra dari pasangan aktor David Poe Jr (menghilang di 1810) dan aktris Inggris (Elizabeth Hopkins Poe). Ibunya meninggal pada tahun 1811, dan selanjutnya Poe diasuh oleh pasangan saudagar kaya ,John Foster Allan dan istrinya Frances di Richmond, Virginia. Saudara kandung Poe, William dan Rosalie diambil oleh orang tua asuh lain. William mati muda, sedangkan Rosalie kemudian menjadi gila. Poe dikirim ke Inggris dan Skotlandia untuk melanjutkan pendidikannya. Terakhir ia bergabung dengan ketentaraan Amerika Serikat (US Army Academy). Namun ia dikeluarkan karena berjudi dan pelanggaran lainnya atas kode etik perilaku di Akademi.

Selepas dari menjadi tentara, ia memulai karirnya di bidang sastra. Bekerja sebagai penulis lepas di New York, Philadelphia, dan Baltimore. Ia menjabat sebagai editor untuk nomor atau majalah sastra, termasuk Southern Literary Messenger, Gentleman's Burton's Magazine, Graham's Magazine, New York Mirror, dan Broadway Journal.

Di Inggrislah Poe mendapat suntikan besar yang menunjang ia berkarya dalam dunia sastra. Ia berkenalan dengan karya-karya penyair seperti Keats, dan Coleridge. Inspirasinya yang lain adalah suasana Skotlandia dengan benteng dan legenda dan kisah-kisah mengerikan. Tampaknya imajinasi pemandangan Skotlandia itu yang banyak mempengaruhi dalam kisah-kisah horornya. Kebiasaan buruk Poe adalah minum-minuman keras dan berjudi. Patut diduga cerita Wiliam Wilson adalah menggambarkan dirinya juga (William Wilson, hlm 202).

Bagi saya, perkenalan dengan buku ini adalah perkenalan perdana saya pada Edgar Allan Poe. Berkenalan dengan dunia horor abad pertengahan, serta berkenalan dengan sastra Amerika-Inggris-Skotlandia. Hendaknya karya-karya Poe ini diterjemahkan semuanya, sehingga pembaca semakin dapat memahami karakter penulisan Poe serta memperkaya khasanah wawasan sastra klasik dunia.

@hws110111

lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar