Buku Favourite Friday - ulasan

Ha!

i have changed my blog template - again. Emang sih template yang kemaren itu bikinan sendiri, mana ada pattern cow nya yang sebenernya aku suka banget,, tapi aku rasa template dan tata letaknya masih berantakan banget makanya pengen ganti dulu, sembari nunggu ada inspirasi dan waktu buat bikin template blog bernuansa sapi yang lebih oke!

Dan karena hari ini hari jumat, aku pengen posting tentang Favorite Friday. Ini adalah weekly event yang dihosted oleh That's what Liz Read, dimana kamu bisa nyebutin cover buku favoritmu. Jadi, cover buku favoritku jumat ini adalah,,,

 The Thirteenth Tale

pic from gramedia.com
This cover is indonesia's version, the original picture was

pic from goodreads.com

"Ceritakan padaku yang sesungguhnya."

Permintaan sederhana itu mengusik hati Vida Winter, novelis ternama yang penuh rahasia. Bukankah selama enam puluh tahun ini dia telah mengarang banyak dongeng, tapi tak pernah mengungkapkan kisahnya sendiri? Namun, menjelang ajal, masa lalu tak dapat dihindarinya lagi, berapa pun banyaknya dongeng yang telah ditenunnya.

Maka Vida Winter mengundang Margaret Lea, penulis biografi muda, yang memiliki rahasia sendiri tentang kelahirannya, yang telah dikubur dalam-dalam oleh orang-orang yang paling dia kasihi, dan menciptakan bayang-bayang kelam yang membuntuti tiap langkahnya.

Inilah kisah Vida dan keluarga Angelfield: Isabelle yang cantik dan keras kepala, si kembar Adeline dan Emmeline yang liar, rumah besar Angelfield yang tua dan nyaris ambruk, serta semua penghuninya, hidup atau mati. Sementara Margaret tenggelam dalam dongeng Vida, rahasia kelam itu lambat laun tersingkap, dan saat kebenaran mengemuka, kedua wanita itu pun harus menghadapi hantu-hantu yang selama ini membayangi hidup mereka.
Really, i pick this book for Favourite Friday simply because its cover, no matter what the story was. Kind of book that iam gonna pick it up if im in the book store, of course. But like the old people said: "Dont Judge a Book by its Cover", so it was to this Book. Check to the book review first or visit Goodreads.com (the one i really recommend to you guys) and look at the rating star. I've checked it for this book, 4,5 stars it have. Not really bad i think :)

So, how's your favourite friday, eh?

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Forget About It (Pura-Pura Lupa) - ulasan

Forget About It (Pura-Pura Lupa)
Caprice Crane
Jimmy Simanungkalit (Terj.)
Gagas Media – 2010
514 hal.

Hidup Jordan Landau benar-benar membosankan dan tidak menarik. Ia dikelilingi oleh orang-orang yang sering kali memanfaatkan dirinya dan tidak peduli dengan keberadaannya. Sebut saja, ibu kandung Jordan yang tampaknya lebih mencintai adik tirinya, Samantha, daripada Jordan yang memang dari fisik sama sekali tidak mirip dengan ibu kandungnya. Samantha, yang manja. Lalu atasannya, Lydia, yang sering mencuri ide-ide kreatinya, ditambah lagi, Dirk, pacarnya, yang tukang selingkuh, tidak perhatian tapi sok asyik jadi orang. Belum lagi tunggakan sewa apartemen dan kartu kredit semakin menambah keruwetan hidupnya.

Shock karena idenya di-sabotase oleh Lydia, Jordan bersepeda dengan kencang. Tak memperhatikan ada pintu mobil yang terbuka dan ia pun menabraknya. Di rumah sakit, tiba-tiba saja terbersit ide untuk ‘pura-pura amnesia’. Ia mencoba menjadi ‘Jordan Baru’, ya sedikit banyak untuk membalas perbuatan-perbuatan orang-orang yang selama ini mengabaikannya. Hanya satu orang yang tahu permainan Jordan, yaitu sahabatnya, Todd.

Menjadi ‘Jordan Baru’, ia mempunyai kesempatan untuk mencampakkan Dirk, membalas perbuatan Lydia. Bahkan bertemu dengan seorang pria yang baik hati, yang tak lain adalah pria yang tak sengaja membuat Jordan menabrak pintuk mobilnya. Meskipun ada sedikit rasa bersalah karena sudah membohongi Travis, Jordan mencoba menjalani hubungan yang menyenangkan bersama Travis.

Tapi, ternyata… Travis sakit hati karena Jordan mencoba menuntutnya karena kecelakaan itu. Bukan Jordan sih, tapi ini perbuatan ibunya yang berkomplot dengan Dirk. Dan, ternyata, ada rahasia kecil Travis yang membuat Jordan kecewa, sampai akhirnya… Jordan malah amnesia beneran!

Amnesia beneran ini membuat Jordan benar-benar berubah. Dan dengan mudah, ia kembali ‘dimanfaatkan’ oleh Dirk dan ibunya. Jordan malah tidak percaya dengan sahabatnya yang justru ingin membantunya.

Awal cerita ini cenderung membosankan. Seolah gak jelas arah ceritanya mau ke mana. Gue malah jadi menunggu-nunggu kapan si Jordan hilang ingatannya. Mirip-mirip ‘Remember Me?’-nya Sophie Kinsella. Entah kenapa, tokoh ibu dalam chicklit selalu aja ‘nyentrik’, aneh dan sama sekali gak keibuan. Tapi sampa akhir cerita, gue gak mendapat kejutan, atau hal-hal kecil yang membuat gue jadi semakin tertarik membaca cerita ini.

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Pesawat Pos Selatan - ulasan

Pesawat Pos SelatanPesawat Pos Selatan by Antoine de Saint-Exupéry

My rating: 1 of 5 stars

Paperback, 190 pages
Published 2010 by Komodo Books (first published 1929)
ISBN139786029598308



beli di TM Gejayan
pas ujan-ujan

pulang-pulang trans jogja udah nggak nyampe cokroaminoto,
makan nasi goreng di depan uni sanata dharma..enak...nasi goreng seafood plus telor dadar, sebelas ribu perak.

*ngantuk*

lanjutan..

ceritanya luar biasa
ada banyak kalimat indah (kayaknya)
bukunya ringan dan tipis
namun tidak seringan kalimatnya.

untung saya bukan anak jurusan sastra.
yang tidak harus mengupas karya klasik yang (katanya) termashyur.
jadi saya berhak melemparnya ke keranjang.
atau mungkin saya endapkan dulu...siapa tahu ada pencerahan..
sudah ah...

@hws21022011

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Segenggam Asa atas Indonesia - ulasan

Judul Buku: Indonesia Satu, Indonesia Beda, Indonesia Bisa
Penulis: Jimmy B. Oentoro
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: 413 halaman

17 Agustus 2010 lalu, tepat Republik Indonesia merayakan dirgahayu kemerdekaannya yang ke-65. Untuk ukuran manusia, usia tersebut termasuk masa senja dimana ia bisa berleha dan pensiun menikmati hasil. Namun dalam konteks nation-state, tidaklah tergolong tua, walaupun juga tidak dapat dikategorikan seumur jagung. Pada titik ini, idealnya sebuah negara telah memiliki catatan atas capaian-capaian yang telah diraih atau minimal memiliki agenda konkrit yang menjadi pijakan kemana arah bangsa ini ke depan.

Sayangnya hal demikian nampaknya masih sekedar angan-angan utopis. Menilik dinamika Indonesia kini yang penuh tragedi. Bukan hanya disebabkan oleh banyaknya bencana alam yang seolah sedang mengantri berdesakan untuk menampilkan diri. Namun juga fenomena runtuhnya tatanan sosial masyarakatnya yang selama ini diagungkan sebagai ciri watak bangsa berbudaya adiluhung seperti gotong royong dan toleransi.

Kondisi demikian semakin diperparah dengan perilaku elit politiknya yang seolah-olah tengah berlomba untuk menginjak-injak pasal-pasal yang termaktub dalam dasar negara dengan menghalalkan segala cara dalam menggapai maupun melanggengkan kekuasaan.

Bagaimana sejatinya Indonesia dewasa ini? Mengapa di negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi dengan kekayaan alam yang terhampar disetiap jengkal tanah maupun lautnya ini, kemiskinan begitu ganas menggerogoti rakyatnya berbanding lurus dengan kerakusan elitnya yang membiasakan korupsi layaknya makan nasi beserta rengekan fasilitas mewah yang dibiayai oleh uang rakyat tanpa diiringi prestasi yang berarti? Adakah setitik cahaya dan segenggam asa yang dimiliki Indonesia dalam menyongsong masa depannya? Itulah pertanyaan yang hendak dikuak dalam buku ini.

Mengusung judul Indonesia Satu, Indonesia Beda, Indonesia Bisa: Membangun Bhineka Tunggal Ika di Bumi Nusantara. Buku ini berisi kumpulan bunga rampai dua puluh delapan cendekiawan lintas disiplin keilmuwan namun memiliki concern yang sama besar atas negeri yang dicintainya. Sebagaimana yang tertera pada judul besarnya, buku ini hendak menegaskan kembali tentang sosok Indonesia yang saat ini seolah-olah identitasnya terkoyak akibat tarik menarik kepentingan berbagai kalangan yang ada di dalamnya.

Indonesia secara geografis merupakan negara kepulauan yang terbentang luas dari ujung barat Sumatera hingga pegunungan Papua. Di dalamnya ditaburi pulau-pulau dengan beragam ukuran. Secara demografis Indonesia memiliki ribuan bahasa daerah dan ratusan suku dengan ragam budayanya yang beraneka. Semuanya harus diterima sebagai kenyataan bangsa Indonesia. Keaneka-ragaman tersebut ibarat pedang tajam bermata dua yang mampu menebas leher musuh tetapi juga dirinya. Menjadi kekuatan dan berkah atau justru malapetaka bagi kebhinekaan yang menjadi pondasi bernegara.

Terbentuknya Indonesia bukan didasarkan sekedar atas alasan golongan, ras, suku maupun agama yang sama. Namun justru oleh adanya persamaan pengalaman kolektif sejarah yang sama berupa pengorbanan yang telah dialami dan penderitaan yang telah dirasakan di masa lalu. Negara ini pada dasarnya dibangun dengan kesadaran para pemimpinnya akan sebuah kepercayaan bahwa dalam sebuah negara yang majemuk hanya mungkin dipersatukan dengan ikrar yang meneguhkan persatuan. Disinilah pentingnya Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 sebagai alat pemersatu tersebut.

Dengan demikian, bagi Indonesia yang merupakan negara paling plural di dunia, pluralisme merupakan prasyarat eksistensinya. Sayangnya realitas ini kini mendapat tantangan dari segelintir kelompok yang mengatasnamakan agama tertentu untuk memaksakan kehendaknya terhadap agama maupun kelompok yang berbeda. Sedangkan keberadaan sumber daya alam yang melimpah justru lebih banyak dikuasai asing. Rakyatnya dibiarkan tetap dalam keadaan miskin. Sehingga perahu besar bernama Indonesia ini terancam pecah dan karam.   

Daftar panjang keterpurukan Indonesia tidak berhenti sampai disitu, para Tenaga Kerja Indonesia yang berada di negeri asing kerap mendapatkan perlakuan buruk disiksa dan diperlakukan layaknya seorang budak. Sedangkan pemerintahnya hanya memberi perhatian sebatas menjuluki sebagai pahlawan devisa. Meskipun manusia Indonesia merupakan jenis yang pantas menjadi kesebelasan dunia, tak urung hal tersebut membuat trenyuh dan miris bagi siapapun. 

Disinilah posisi penting buku ini. Tidak sekedar menghembuskan angin pesimisme, namun justru layaknya pelita yang menerangi dan membimbing gelapnya masa depan Indonesia dengan optimisme yang diusungnya. Kehadirannya juga membawa misi menjaga akal sehat Indonesia yang tengah sakit terancam stroke.  

Indonesia Satu dimaksudkan sebagai komitmen bersama, melalui Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika untuk bersatu membangun kekuatan dalam keberagaman. Indonesia Beda merupakan realitas faktual yang memperkaya kehidupan berbangsa. Sedangkan Indonesia Bisa dimaksudkan sebagai keyakinan para kontrbutor buku ini bahwa Indonesia mampu mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa: menuju Indonesia Jaya.   

Sehingga buku setebal empat ratus tiga belas halaman ini dapat dikatakan sebagai suara profetik dari Tuhan atas Republik Indonesia. Keberadaannya diharapkan mampu menggugah siapapun, terutama pengambil kebijakan di Republik ini dalam mengayuh sauh bangsa. Dengan potensi besar yang ada, seharusnya dapat membawa perubahan ke arah lebih baik dari saat ini. Jika mereka memiliki responsibilitas layaknya seorang pemimpin.  

Karena, meski didedikasikan sebaga kado ulang tahun emas Jimmy B. Oentoro, namun di dalamnya mengupas tuntas kegelisahan para penulisnya atas segala problematika yang menyelimuti Republik Indonesia dewasa ini. Namun kegelisahan tersebut diiringi dengan tawaran-tawaran yang solutif sehingga bermanfaat bagi siapapun yang membacanya, juga dimaksudkan sebagai upaya menyemaikan benih segenggam asa atas Indonesia masa depan. Sehingga diharapkan mampu membawa Indonesia ke posisi paling terhormat di pentas dunia.     

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Perempuan Kulit Putih pada Masa Pendudukan Jepang - ulasan


Judul : Fifty Years of Silence
Penulis : Jan Ruff-O’Herne
Penerbit : Elexmedia Komputindo
Terbit : I, Januari 2011
Halaman : 322 Halaman
Harga : Rp.54.800.
Masa pendudukan Jepang di Indonesia meninggalkan kenangan pahit. Salah satunya adalah kekerasan fisik, mental dan seksual terhadap perempuan. Bayangkan saja, pasukan Jepang di sejumlah tempat mengumpulkan perempuan untuk dijadikan budak seks secara biadab.

Bukan hanya perempuan berkebangsaan Indonesia saja yang menjadi korban, namun juga perempuan berkebangsaan Belanda ataupun mereka yang berdarah campuran. Sebagai pihak yang dikuasai oleh Jepang, para perempuan ini pun dihilangkan hak-haknya, dilucuti keistimewannya, dan berbalik menjadi korban dengan pengalaman traumatiknya.

Buku Fifty Years of Silence (Lima Puluh Tahun Kebisuan) ini, merupakan salah satu contoh penderitaan yang dialami perempuan berkebangsaan Belanda ketika Jepang berkuasa. Mereka hidup dalam ketakutan, ancaman hingga teror mental tdak terlupakan.

Adalah Jan Ruff-O’Herne, perempuan berdarah Perancis dan Belanda. Ia lahir dan dibesarkan di Indonesia. Ayahnya yang bekerja sebagai pegawai pemerintahan kolonial, telah membuatnya menikmati kehidupan yang serba nyaman, mudah, dan menyenangkan.

Sayang, semua itu lenyap ketika Jepang berkuasa di Indonesia. Bahkan kemudian ia bersama ibu dan adik-adiknya dibawa oleh tentara Jepang ke sebuah penampungan di Ambarawa sebagai tawanan.

Di kamp inilah ia dan tawanan lain mengalami penderitaan yang hebat. Ketika kekurangan makanan misalnya, mereka terpaksa mencuri tulang ayam dari tempat sampah untuk djadikan sup kaldu ayam. Terkdang mereka berburu tikus untuk memenuhi kebutuhan makanan.

Dari kamp di Ambarawa Jan dan sejumlah perempuan muda lainnya dibawa ke Semarang dan ditempatkan di sebuah rumah. Rumah itu diberi nama Rumah Tujuh Samudera. Di rumah itulah mereka mulai mengalami pemerkosaan serta kekerasan seksual lainnya. Semua itu dilakukan oleh tentara Jepang.

Jan akhirnya dapat lepas dari rumah penampungan tersebut. Bahkan kemudian ia menikahi orang yang mencintainya. Namun itu bukan akhir dari kisah Jan. Sebab puluhan tahun kemudian ia menghadapi dilema.

Di satu sisi ia terdorong untuk membeberkan masa lalunya secara luas. Namun pada saat bersamaan itu juga berarti ia harus membuka kisah kelamnya kepada anak-anak, cucu, dan orang-orang terdekatnya

Hal itu terjadi ketika sejumlah perempuan dari Asia mulai mengungkapkan kebiadaban tentara Jepang di muka publik internasional. Mereka adalah perempuan yang menjadi korban kekejaman tentara Jepang.

Didorong oleh keinginan untuk mendukung usaha perempuan dari negara-negara lain yang menyuarakan kebenaran, akhirnya Jan bersedia membuka kisahnya kepada dunia. Hal ini disambut baik oleh lembaga-lembaga yang menyuarakan gugatan dan tuntutan kepada pemerintah Jepang atas apa yang dilakukannya di masa lalu.
Buku ini sesungguhya bukan sekadar mengisahkan upaya perempuan yang menjadi korban kebr
utalan tentara Jepang untuk menyuarakan kebenaran, melainkan juga sebuah kisah mengenai keberanian, kesabaran, ketabahan serta pengharapan seorang perempuan kulit putih dalam melewati masa-masa paling sulit dalam hidupnya.***

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Time Management - ulasan

The difference between a busy person and a person who does nothing is:
The busiest people I have known in my life always have time enough to do everything.
Them who do nothing are always tired and pay no attention to the little amount of work their are required to do.
They complain constantly that the day is too short.
The truth is, they are afraid to fight the good fight.

(The Pilgrimage, Paulo Coelho)

lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar