Buku Minggu Pagi di Victoria Park - ulasan


Once I felt disappointed when I missed the opportunity to watch this movie since it was only played in certain theater for a short period. Thank God Jive Collection finally released this VCD on December 2010. Beside the VCD, I also got a bookmark perhaps as a compliment. Just a simple thing actually but I always heart bookmarks.

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Perempuan di Garis Batas - ulasan


Judul Buku: Jihad Julia: Pemikiran Kritis & Jenaka Feminis Pertama di Indonesia
Penulis: Julia Suryakusuma
Penerbit: Qanita
Cetakan: Pertama, November 2010
Tebal: 240 halaman
Kesan pertama membaca judul buku ini adalah berisikan pemahaman Jihad, atau minimal di dalamnya memotret perjuangan menegakkan Jihad penulisnya. Namun rupanya asumsi tersebut buyar seiring dengan pembacaan yang saya lakukan atas muatan buku ini. 

Berisi pikiran-pikiran seorang penulis dan aktivis perempuan yang karya-karyanya lebih banyak lahir berbahasa Inggris daripada Indonesia bernama Julia Suryakusuma. Buku ini sendiri merupakan kumpulan tulisannya di The Jakarta Post dan Tempo Edisi Bahasa Inggris (TEBI).

Buku berjudul lengkap Jihad Julia: Pemikiran Kritis & Jenaka Feminis Pertama di Indonesia ini, hemat saya kurang sesuai dengan substansi yang dimaksud dalam tulisan-tulisannya dan pijaran gagasan dalam pemikirannya. Kata “Jihad” seharusnya lebih mengena dan pas bila diganti dengan “ijtihad”. Mengapa?
Jihad, sejauh yang saya pahami, lebih cenderung pada kerja fisik dan mental. Seperti berperang di jalan Allah, mencari nafkah, mencari ilmu, dan lain-lain yang akumulasinya dan merupakan supremasi Jihad tertinggi adalah memerangi hawa nafsu diri kita sendiri.

Jika menggunakan sarana rohani atau spiritualitas, dengan jalan berdzikir bersama, berdo’a, shalawat dan lain-lain biasa dikenal dengan istilah Mujahadah. Kaum Nahdliyyin, sebutan untuk warga Nahdlatul Ulama (NU), dikenal “pemilik hak paten” ritual ini.

Sedangkan Ijtihad, merupakan kerja rasionalitas manusia berupa pemikiran untuk mencari kebenaran, materialnya adalah akal. Inilah yang saya anggap cenderung lebih cocok disematkan sebagai judul buku setebal dua ratus empat puluh halaman ini tinimbang kata Jihad. Bukankah di dalamnya berisi pemikiran kritis seorang Julia? Terlebih dalam subjudul-nya pun tersurat kata Pemikiran Kritis.    
   
Meski demikian hal tersebut tidak mereduksi substansi yang terkandung di dalam buku ini. Berisikan 32 artikel yang ditulis Julia dalam rentang waktu 2006-2007, buku ini sebagaimana yang dikatakan Komaruddin Hidayat dalam pengantarnya, merupakan kesaksian seorang muslimah di garis batas, dikarenakan dua hal: latar belakang formal akademisnya yang tidak berkaitan dengan studi keislaman, namun kedua, tulisan-tulisannya dalam buku ini merefleksikan gugatan kritis atas pemahaman keislaman masyarakat. (halaman. 17).

Tulisan-tulisan Julia dalam buku ini merupakan refleksi pemikirannya yang muncul dari pergaulan intelektual, emosional, dan bacaan yang luas dan dalam, serta pergaulannya yang kosmopolit. Semua itu kemudian diperkuat dengan kemampuannya menulis dengan narasi yang mengalir, kritis, dan disertai contoh-contoh konkret yang dia lihat dan alami dalam kehidupan sehari-hari, entah faktual atau sekedar fiktif.

Salah satu bukti kemampuannya dalam menangkap realitas dan menuangkannya dalam sebuah tulisan yang enak dibaca, baik karena kekenesannya maupun daya kritisnya nan memikat adalah dalam artikel berjudul Dijual: Surga dan Neraka.

Berisikan keprihatinan Julia atas fenomena kapitalisasi agama. Ia menyoal maraknya kegiatan tanpa makna agama sama sekalipun, kini bisa dianggap dakwah, yang seharusnya dimaksudkan untuk menyampaikan kebenaran dan “outreach” Islam. Namun kini, pergi berlibur, melakukan berbagai tugas keluarga, melakukan bisnis, kesenian dan bahkan peragaan busana kerap menggunakan label agama. (halaman 142).

Daya gugatnya juga menjalar ke berbagai lanskap kehidupan, termasuk sosial dan politik. Secara enteng, misalnya,  ia menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara kanibal, pemakan sesamanya. Imbas kegusarannnya terhadap pengungkapan kasus pembunuhan aktivis HAM Munir, yang disinyalir dilakukan oleh  (oknum aparat) negara dan hingga kini masih tertutup kabut misteri siapa dalang utamanya. Bahkan ada indikasi pemerintah SBY seakan tak acuh.

Sayangnya, sebagai seorang penulis, Julia pun tidak luput dari subyektifitasnya. Daya kritisnya menjadi tumpul ketika ia berbicara mengenai mantan koleganya yang juga mantan Menteri Keuangan yang tersandung kasus Bank Century, Sri Mulyani Indrawati. 

Bahkan segudang puja-puji ia alamatkan secara deras terhadapnya. Sangat kontras dan diametral dengan kritikan tajam yang dialamatkan kepada agamawan, politisi maupun perilaku sosial masyarakat Indonesia. Secara berlebihan Julia bahkan menyandingkan Sri Mulyani dengan Margaret Thatcher, mantan perdana menteri perempuan paling berkuasa sepanjang sejarah Inggris!  

lintasberita

Lanjut Baca

Buku A Fresh Caramel Tea - ulasan


One of my best friends who just returned from Singapore gave me this caramel flavored tea as a souvenir. The taste of the tea is very rich. I try to add some milk on it and it's just felt heaven. Unfortunately I couldn't find this tea in Jakarta. I have already browsed around the supermarket in Jakarta and get nothing.

The tea is actually produced in Bekasi, Indonesia but it seems it is an exported product. Therefore it is not sold in Indonesia *sigh*. Whoaaa...should I go to Singapore just to buy this super fresh tea? *crying*

lintasberita

Lanjut Baca

Buku It's a 6th Birthday - ulasan





Yesterday was Najla's 6th birthday. We had a simple birthday party at her school. Surrounded by cheerful classmates could really double her happiness. So, here they are the birthday girl, the birthday party,the birthday cake, the goody bags, the presents and most important things are the birthday wishes.

Happy 6th birthday sweety, how grateful we are to have you, keep shining...^^

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Bacaan Selama Februari 2011 - ulasan

Tak terasa Februari telah berlalu, dan selama 2 bulan pertama di tahun 2011 ini, aku telah melahap sekitar 22 buku (bagi sahabat di Goodreads mungkin jumlahnya menjadi 25 karena ada 1 serial komik yang disini aku jadikan 1 buku). Bulan lalu sendiri, ada 8 buku yang telah selesai kubaca. Eh… 7,5 deh, soalnya buku ke 20: The Tales of Terror & Detection hanya mampu kubaca sebagian. Mau tahu alasannya? Baca aja deh di sini. Anyway, inilah ke 8 buku itu…


Dan kalau bulan lalu buku favoritku adalah Water For Elephants, maka bulan ini adalah: The Phantom Of the Opera. Bagaimana denganmu, sudah baca berapa buku, hayooo….

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Seribu Sujud Seribu Masjid - ulasan

No. 252
Judul : Seribu Sujud Seribu Masjid
Penulis : Tandi Skober
Penerbit : Salsabila Kautsar Utama
Cetakan : I, November 2010
Tebal : 275 hlm

Jika membaca judulnya “Seribu Sujud Seribu Masjid” tentunya kita akan langsung menduga bahwa ini adalah novel bernuansa religi. Betul, tapi tak hanya itu saja karena dalam novel ini pembaca juga akan diajak masuk dalam nuansa politik, intrik, romantisme, dan humor yang dikemas sedemikian rupa sehingga menghasilkan sebuah novel religi yang tak hanya berisi dakwah saja namun memiliki latar kisah yang menarik untuk disimak hingga lembar terakhir novel ini.

Di bab-bab pertama novel ini penulis mengajak kita untuk kembali ke tahun 65 di wilayah Sekober, Indramayu, ketika gonjang-ganjing politik melanda seluruh negeri ini. Dikisahkan Kasdi dan Zum dibesarkan di daerah pesisir Sekober, Indramayu. Zum adalah anak gundik Bah Ceh Nong, tokoh PKI di Sekober. Kasdi adalah anak seorang seniman Tarling yang bernama Camang. Kedua anak itu bersahabat dengan akrab.

Ketika prahara politik merembet hingga ke wilayah Sekober, nasib merekapun berubah drastis. Bah Ceh Nong ditemukan mati mengambang di sungai Cimanuk. Tuduhannya sudah jelas karena ia adalah tokoh PKI di Sekober yang pantas dihukum mati tanpa harus diadili terlebih dahulu. Sedangkan Camang yang bekerja sebagai pembantu di rumah Bah Ceh Nong dicurigai sebagai salah satu antek PKI. Walau Camang selalu mengatakan bahwa ia adalah muslim dan sudah disunat pada para tentaranya namun ia tak luput dari hukuman. Saat hendak dieksekusi, Camang selamat, melarikan diri, menggelandang dari masjid ke masjid. Semenjak itu Camang tak pernah lagi bertemu dengan anaknya, Kasdi.

Anak-anak Bah Ceh Nong dan Camang bertahan dalam menjalani kerasnya kehidupan. Zum menjadi penari dombret, pelacur, hingga akhirnya menjadi pencopet. Kasdi ikut menjadi pencopet bersama Zum dan Zaki, kawannya. Sementara Zum dan Zaki masih berada dalam dunia hitam, Kasdi pensiun menjadi copet untuk berjualan bandros. Ia tinggal di surau peninggalan kakeknya. Kasdi percaya bahwa suatu saat ayahnya akan pulang dan sujud di surau itu.

Di Surau peninggalan kakeknya itulah Kasdi bertemu dengan Priadi, lelaki senja yang menhantarnya agar lebih dekat pada Tuhan. Mereka berdua tak henti-hentinya mengajak orang-orang yang lewat surau tersebut untuk menepi dan sholat. Tak banyak yang tertarik pada ajakan mereka berdua kecuali Bana, anak preman dan Cipto mantan pejabat dan pengusaha kaya yang bertobat dan menyerahkan sisa hartanya sebesar 100 jt rupiah pada Kasdi sebagai uang kost di surau milik kakek Kasdi sekaligus biaya penguburannya jika ia meninggal dunia nanti.

Kasdi, Bana dan Cipto menjadi tiga sekawan yang menempuh jalan Allah, mereka tinggal bersama di surau sambil mempertebal iman dan berdakwah secara sederhana dibawah bimbingan Priadi. Walau Kadi telah mengantongi uang sebesar 100 juta kehidupan mereka bertiga tetap bersahaja dan damai hingga akhirnya Zaki, kawan lama Kasdi yang kini telah menjadi konglomerat berniat untuk membeli tanah Surau tersebut.

Melalui Zum yang sebenarnya mencintai Kasdi, Zaki mencoba membujuk Kasdi untuk menjual surau tersebut. Zaki berani membeli suaru tersebut seharga 500 juta rupiah untuk dijadikan mall dan stasiun televisi global. Disinilah konflik terjadi. Gagal dengan iming-iming uang, Zaki dan Zum bersekongkol mencari cara lain yang diperkirakan akan ampuh meluluhkan Kasdi untuk menjual surau tersebut. Kasdi memerintahkan Zum untuk berpura-pura menjadi wanita muslimah yang soleh agar Kasdi jatuh cinta pada Zum dan merelakan surau peninggalan kakeknya jatuh ke tangan Zaki.

Kisah di novel ini seberarnya sederhana saja, namun penulisnya mampu membuat kisah sederhana ini menjadi menarik. Penulis tampak piawai dalam mendeskripsikan kisahnya ini dengan detail dan filmis sehingga ketika saya membaca novel ini saya merasa sedang menonton sebuah film dalam imajinasi saya.

Tokoh-tokohnya memiliki latar belakang yang berbeda-beda sehingga membuat novel ini menjadi lebih berwarna dan pembaca diberi kesempatan untuk melihat bagaimana masing-masing tokoh ini menyikapi persoalan hidupnya. Umumnya semua tokoh dalam novel ini berusaha mencari jati diri mereka sehingga bisa dikatakan ini adalah kisah tentang perjalanan spiritual manusia dalam mencari jati dirinya.

Bagi saya pribadi bagian yang paling menarik di novel ini adalah di bab-bab awal saat kisah bergulir di tahun 65 ketika huru-hara politik melanda wilayah Sekober. Di bagian ini pembaca diajak melihat bagaimana dan apa yang dirasakan rakyat kecil akibat kekisruhan yang dilakukan para elit politik negeri ini. Selain itu terungkap juga bagaimana kelamnya suasana saat itu, terlebih saat Camang ditangkap dan hendak dieksekusi oleh para tentara. Bagi saya bagian ini merupakan bagian yang sulit terlupakan.

Sayang ketika cerita beralih ke masa kini, kisah-kisah di masa lalu ini tak disinggung lagi sehingga seolah kisah di bagian-bagian awal novel ini menjadi kisah tersendiri dan terlepas begitu saja . Tentunya akan lebih menarik jika kilasan-kilasan masa lalu Kasdi dan Zum ditampilkan kembali sehingga benang merah antara kisah masa kecil Kasdi dan Zum ini tampak terlihat lebih jelas lagi.

Terlepas dari itu secara keseluruhan saya rasa novel ini menarik untuk dibaca. Sebagai novel religi tentunya novel ini mengandung banyak sekali dengan pesan-pesan keagamaan namun penulis mengemasnya dalam dialog-dialog yang segar dan lucu sehingga pembaca tak merasa digurui oleh penulisnya.

Bagi saya ini novel religi islami yang pertama kali saya baca. Walau bukan seorang muslim saya tak merasa kesulitan dalam memahami dan memaknai pesan-pesan moral yang hendak disampaikan penulisnya. Bagi saya nilai-nilai religi islami yang tertuang dalam novel ini sangat universal dan bisa dipahami dan dimaknai oleh semua pembaca tanpa harus terbatasi oleh sekat-sekat agama.

@htanzil

lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar