Buku Snow Country: Daerah Salju - ulasan

Snow Country: Daerah SaljuSnow Country: Daerah Salju by Yasunari Kawabata
My rating: 4 of 5 stars

Paperback, 188 pages
Published 2009 by gagasmedia (first published 1947)
ISBN  9789797803681


Pernahkah kau mencuri pandang lewat pantulan kaca, entah itu di pintu kaca, jendela kaca, kaca pada jendela mobil, kaca spion, kaca lemari, atau apapun yang bisa memantulkan bayangan? Apa yang kau lihat dan rasakan?

Peristiwa ini adalah kisah awal novel ini. Dalam perjalanan ke suatu tempat yang indah alamnya, Shimamura memerhatikan seorang gadis yang ada di depannya dengan melihat melalui pantulan jendela kaca kereta api. Kecantikan gadis itu sungguh memesonanya. Bisa dibayangkan ketika Shimamura melihat ke luar, seharusnya pemandangan pohon-pohon dan pegunungan yang ia lihat, tetapi hal itu masih kalah menariknya dibanding wajah sang gadis. Kawabata menulis peristiwa itu sebagai berikut.
Langit di atas gunung masih menyisakan warna merah senja. Setiap benda masih jelas bentuknya di kejauhan, tetapi pemandangan gunung yang monoton, begitu-begitu saja mil demi mil, tampak menjemukan karena kehilangan warna. Tak ada yang menarik di luar sana, dan semuanya mengalir hambar. Tentulah itu karena tertimpa oleh wajah si gadis yang mengapung di atasnya. Pemandangan senja bergerak ajek di sekeliling garis wajah itu. Wajah itu juga tampak bening-tetapi, apakah ia benar-benar tembus cahaya? Shimamura melamunkan bahwa sesungguhnya pemandangan senja terus melintas wajah itu dan tidak pernah berhenti meyakinkannya bahwa memang begitulah yang terjadi.



Shimamura adalah seorang pelancong yang saat itu sedang mengunjungi tempat favoritnya. saat itu awal Desember dimana salju sedang turun. Tidak sekedar melancong, ia sebenarnya berjanji menemui seorang perempuan yang tinggal di rumah seorang guru musik Shamisen. Komako sangat bergirang karena kerinduannya terbasuh ketika bertemu Shimamura. Daerah itu ramai dikunjungi pelancong karena sangat menarik untuk melakukan ski dan pendakian gunung. Selain itu, terdapat penginapan air panas, dimana sangat cocok untuk "melawan" rasa dingin yang menyerang. Dan sepertinya-hingga sekarang, tempat wisata ramai (selalu) menyediakan minuman keras (sake) dan wanita (Geisha). Dan Komako adalah salah seorang Geisha di sana.

Pada umumnya, orang bisa dekat karena ada kesamaan hobi. Shimamura dan Komako bisa berkenalan dekat karena sama-sama memiliki hobi menari. Hanya saja, Shimamura lebih suka pada tarian barat. semasa mudanya ia kenyang mempelajari tarian tradisional Jepang, dan sejak kecil sudah akrab dengan pertunjukan Kabuki. Namun, bertemu dengan penari-penari muda justru membuatnya tidak cinta pada tari tradisional, ia memilih tarian barat. Namun tarian barat yang ia nikmati bukanlah tarian barat yang ditarikan, melainkan tarian dari khayalnya yang ia sendiri tak pernah saksikan.

Hari-hari dimana Shimammura ada disana, menjadi semangat tersendiri bagi Komako. Sesudah Komako menghadiri suatu perjamuan di penginapan lain, maka setelah itu ia pulang dan menyinggahi penginapan Shimamura. Tampaknya Komako hanya membutuhkan teman untuk bercakap-cakap, dan sepertinya ia bosan dengan kehidupan sebagai Geisha di tempat itu. Bagaimana rupa Komako, itulah dituliskan Kawabata sebagai berikut.
Hidungnya yang lancip dan mancung memberi kesan sunyi, tetapi bibir mungil di bawahnya membuka dan menutup dengan halus, seperti lingkaran lintah kecil yang indah. Bahkan, ketika ia diam, bibir itu terlihat seperti bergerak-gerak...Garis kelopak matanya tidak naik atau turun. Seolah-olah dengan alasan tertentu, garis itu sengaja ditarik lurus melintasi wajahnya. Ada kesan yang sedikit lucu di sana, tetapi alisnya yang agak menurun dengan bulu-bulu pendek yang tebal sangat pantas menaungi mata itu. Tak ada yang luar biasa pada lingkar wajahnya yang bulat dan sedikit lancip. Kulitnya seperti porselen putih yang dilapisi warna merah muda dan lehernya masih jenjang dan belum menggembung. Dengan semua itu, ia lebih tepat disebut bersih ketimbang cantik. (Hlm 32-33).

Selanjutnya, bagaimana Shimamura menempatkan Komako dalam hatinya? lalu bagaimana dengan Yoko, wajah gadis yang memesonanya di kereta api? Bukankah suatu kebetulan dimana ternyata mereka serumah di rumah guru musik Shamisen. Ia tidak memahami, mengapa Komako mampu membuat dirinya tidak lengkap sementara Shimamura sudah memiliki istri dan anak di Tokyo. Baginya, Komako adalah seorang Geisha yang hebat, mampu memainkan alat musik tradisional shamisen tanpa guru dan bahan-bahan yang memadai. Komako hanya belajar dan partitur dan buku-buku yang dibawakan oleh Shimamura. Sementara Shimamura sendiri, sangat anti dengan ketradisionalan Jepang. Buat Shimamura, tradisional tidak berpihak pada kedinamisan dan cenderung kaku. Komako berhasil meluluhkan kebekuan hatinya seperti air panas yang mencairkan salju. Lewat bahasa tubuhnya, Shimamura menyadari jika Komako sangat menaruh hati padanya. Dan apa yang dirasakan Shimamura adalah ia tidak dapat membiarkan sifat egoisnya. Komako telah menyerahkan semuanya, sebaliknya tak ada apapun yang ia berikan kepada perempuan itu. Sementara itu kesan kuat yang ditinggalkan wajah Yoko pada pantulan senja kaca kereta api, membuat Shimamura merindu. Rindu pada wajah Yoko yang murni dan polos serta suaranya yang bening.

Ternyata tempat itu memiliki magnet yang luar biasa kuat tarikannya. Bukan hanya pada salju, pegunungan, pohon sugi, air panas, dan kabut tipis itu. Setiap sudutnya menyisakan ruang yang memesona, terlebih pada kedua perempuan itu. Hati Shimamura seperti terbagi. Dan ia merasa waktu tidak berpihak padanya untuk menentukan...

Snow Country ditulis dalam bahasa Jepang, "Yukiguni", yakni nama sebuah tempat, yang dicapai melalui terowongan panjang di bawah pegunungan perbatasan antara Gunma (Kozuke No Kuni) dan Niigata (Echigo No Kuni). Novel ini awalnya dibuat dalam beberapa cerita pendek. Dari kurun waktu tahun 1935 hingga 1948, cerita ini terpisah. Dua bagian di tahun 1935, lima bagian di tahun 1937, dua bagian di tahun 1940, dan difinalisasi pada tahun 1948.

Dari penelusuran, diketahui bahwa tokoh Komako itu adalah seorang Geisha bernama Matsuei yang ada di kota Yuzawa, dimana Kawabata tidak memberikan nama pada kota ini di novelnya. Perhatikan gambar di bawah, ciri-ciri yang digambarkan Kawabata mirip dengan foto Matsuei.

description

Di tahun 1968, novel ini berhasil meraih penghargaan nobel di bidang sastra, dan Kawabata menjadi penulis pertama Jepang yang meraih penghargaan ini. Karya Kawabata disebutkan banyak memiliki lirik yang melankolis serta banyak menjelajahi tempat seks dalam budaya, dan dalam kehidupan pribadi, seperti dalam karya Up in the Tree, 1962.

Yasunari Kawabata (1899-1972), dilahirkan dalam sebuah keluarga sejahtera di Osaka, Jepang. Ayahnya, Eikichi Kawabata, adalah seorang dokter terkemuka, meninggal karena TBC ketika Yasunari berusia dua tahun. Dia yatim piatu karena kematian ibunya pada usia tiga tahun, neneknya meninggal ketika ia berusia tujuh tahun, dan disusul kematian adik satu-satunya ketika dia berumur sembilan tahun. Kematian keluarga Kawabata mengurangi masa kecilnya yang normal. Ia sering mengatakan bahwa dia belajar kesepian dan "tanpa akar" sejak awal. Kemudian dalam kehidupannya, ia menggambarkan dirinya sebagai "anak tanpa rumah atau keluarga." Beberapa kritikus menilai bahwa trauma awal membentuk latar belakangnya akan rasa kehilangan yang tergambar dalam tulisannya.

Akhirnya saya berikan 4 bintang, 1 bintang kurang karena saya tidak mengerti dimana tempat ini. Visualisasi saya agak terganggu karena saya tidak bisa merasakan salju (subjektif banget yak).

@hws08092010
-dibikinkalakantorsepibangetkarenaharikerjaterakhirsebelumlebaran-



lintasberita

Lanjut Baca

Buku Hatta, Hikayat Cinta & Kemerdekaan - ulasan

No. 233
Judul : Hatta, Hikayat Cinta & Kemerdekaan
Penulis : Dedi Ahimsa Riyadi
Penerbit : Edelweiss
Cetakan : I, Januari 2010
Tebal : 279 hlm

Kehidupan para tokoh sejarah memang menarik untuk ditulis, tak heran begitu banyak biografi, memoir, atau buku-buku yang mengupas kisah hidup tokoh-tokoh sejarah. Begitupun dengan kisah kehidupan Mohamad Hatta. Jika kita perhatikan selain Memoir Hatta yang terbit pertama kalinya pada tahun 1982
oleh penerbit Tinta Mas, muncullah beberapa tulisan dan buku tentang Hatta baik yang ditulis oleh keluarganya maupun dari orang-orang terdekatnya.

Seolah ingin melangkapi kehadiran buku-buku tentang Hatta, Dedi Ahimsa Riyadi, penulis yang aktif menulis cerpen, artikel sastra, budaya dan agama yang diantaranya dimuat di Kompas, Sindo, dan Pikiran Rakyat menulis sebuah buku tentang Hatta berjudul, Hatta, Hikayat Cinta & Kemerdekaan”. Buku ini dilabeli oleh penerbitnya sebagai sebuah “Novel Biografi”.

Buku ini tampaknya berhasil merekam fragmen panjang kehidupan dan perjuangan Hatta mulai dari masa kecil, hingga sepak terjangnya sebelum dan sesaat setelah kemerdekaan. Walau bertaburan oleh fakta sejarah namun kalimat-kalimatnya enak dibaca seperti layaknya buku fiksi.

Penulis membagi buku ini menjadi dua bagian besar, bagian pertama menceritakan masa kecil Hatta sejak di Bukittingi, hingga sekolah di Padang. Di bagian ini akan terungkap bagaiman ia dibesarkan dengan baik. Keluarganya adalah keluarga yang mengutamakan agama dan pendidikan sebagai hal yang penting bagi putra-putirnya. Tadinya ibunya maupun kakeknya menginginkan agar Hatta melanjutkan sekolahnya hingga ke Mekkah, namun takdir membawa Hatta menimba ilmu hingga ke negeri Belanda. Pondasi keagamaan dan pendidikan yang dibangun oleh keluarganya sejak Hatta belia inilah yang di kemudian hari akan menjadi pegangan dan sandarannya dalam memilih jalur pergerakan.

Separuh bagian lain menceritakan kehidupan Hatta selama menempuh pendidikan di Belanda, sampai kembali ke Indonesia, memimpin organisasi pergerakan, kehidupannya di Digul, hingga perannya dalam mengantar Indonesia ke gerbang kemerdekaan dan sebagai proklamator-penandatangan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di bagian ini juga akan terungkap berbagai perbedaan pendapat dan polemik di surat kabar mengenai bentuk perjuangan yang harus dilakukan guna mencapai kemerdekaan Indonesia.

Secara umum buku ini memang menarik, namun ada juga kekecewaan saya terhadap buku ini. Mungkin karena saya terlalu berekspektasi terlalu jauh terhadap buku yang diberi label novel biografi ini. Karena di cover buku ini tertera predikat sebagai “Novel Biografi” saya beranggapan buku ini ya seperti novel-novel pada umunya dimana ada kisah-kisah kehidupan yang menarik atas tokoh Hatta yang terungkap. Namun sayangnya novel ini terlalu setia pada alur sejarah. Tak ada kisah-kisah kehidupan Hatta yang ditafsirkan oleh penulisnya. Padahal dalam ranah fiksi, walau tokoh yang diangkatnya merupakan tokoh sejarah penulis toh punya kebebasan untuk mengembangkan kisahnya sendiri sesuai dengan imajinasinya.

Hal ini tampaknya tidak dilakukan oleh penulis. Jadinya apa yang dikisahkan sama dengan buku-buku memoir Hatta ataupun buku-buku lain tentang Hatta. Tak ada kisah yang baru tentang Hatta di novel ini, penulis hanya membeberkan fakta dan menambahkan suasana, deskripsi tempat, dan sedikit sekali dialog antar tokoh-tokohnya. Jadi membaca novel ini tak ubahnya seperti membaca buku memoir, bukan novel!

Padahal berdasarkan apa yang terdapat dalam buku ini, penulis tampak mengetahui sekali alur dan fakta2 sejarah kehidupan Hatta, itu bisa jadi modal utama untuk memfiksikan kehidupan Hatta, sayang penulis tidak melakukannya dan memilih hanya membeberkan fakta sejarahnya saja. Andai saja penulis berani menciptakan drama kehidupan Hatta selama masa kanak-kanak, hubungannya dengan saudara-saudaranya, kehidupannya selama di Belanda, perjuangannya mempertahankan hidup di Digul dengan lebih naratif, lengkap dengan konflik-konflik batin yang dialami Hatta tentunya buku ini akan semakin menarik.

Karena tidak adanya drama kehidupan Hatta yang diceritakan, sosok Hatta di novel ini menjadi sama dengan sosoknya di buku-buku sejarah, seorang tokoh sejarah yang nyaris sempurna. Padahal jika buku ini diniatkan sebagai sebuah novel, tentunya akan lebih menarik jika sosok Hatta dihadirkan sebagai sosok manusiawi dengan segala persoalan dan kelemahan-kelemahannya. Selain itu Alur kisahnya yang terkadang melompat-lompat dan beberapa pengulangan di sana-sini sedikit banyak agak mengganggu saya dalam menikmati buku ini.

Cover buku dan judul buku ini juga sempat membuat saya terkecoh. Begitu melihat judul “Hikayat Cinta dan Kemerdekaan” dan cover buku ini yang menampilkan Hatta bersama dengan Rahmi Hatta saya langsung menduga bahwa akan ada kisah menarik tentang kisah cinta antara Hatta dengan Rahmi, ternyata tidak, hanya sedikit sekali kisah mengenai Hatta dan Rahmi di novel ini.

Novel ini juga dihiasi oleh beberapa foto Hatta, sayang penempatannya tidak sesuai dengan narasinya, misalnya foto Hatta di Jenewa, 1952 disisipkan di bagian kelahiran Hatta, foto ulang tahun ke 70 ditempatkan di bagian yang mengisahkan proklamasi kemerdekaan, dll. Mungkin daripada foto-foto tersebut ditempatkan tidak sesuai dengan narasinya akan lebih baik jika ditempatkan saja di halaman khusus foto.

Namun terlepas dari hal diatas, sebagai sebuah buku yang mengungkap kehidupan Hatta dan sepak terjangnya buku ini bisa dijadikan pilihan. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa buku ini merupakan buku pengantar bagi mereka yang baru dan ingin mengenal siapa sosok Hatta.

Fakta-fakta sejarah yang terungkap cukup lengkap, pembaca diajak mengetahui bagaimana sejarah Perang Paderi, perjuangan Hatta di Belanda bersama perkumpulan Perhimpunan Indonesia, bagaimana Hatta membesarkan partainya, perbedaan pendapatnya dengan Soekarno, kecintaannya terhadap buku, dan sebagai bonus bagi pembaca adalah dimuatnya puisi karya Hatta yang berjudul "Berantara Indera" sebagai penutup buku ini.

Dalam endorsmentnya Acep Zamzam Noor menulis bahwa, “ Apa yang dilakukan penulis dalam buku ini bukan sekedar mengungkap fakta-fakta sejarah, tapi bagaimana fakta-fakta tersebut diungkapkan dengan cara yang indah. Dengan demikian, bagi saya buku ini merupakan sebuah karya sastra.”

Saya sepakat dengan endorsement Acep Zamzam Noor, buku ini memang berhasil menyastrakan sebuah narasi sejarah dan kehidupan Hatta, namun sebagai novel, berdasarkan hal-hal yang telah saya tuliskan di atas, saya rasa buku ini bukan sebuah novel melainkan sebuah memoir atau buku sejarah dengan kemasan sastra.

@htanzil


lintasberita

Lanjut Baca

Buku Batavia Kota Hantu - ulasan

Batavia Kota HantuBatavia Kota Hantu by Alwi Shahab
My rating: 4 of 5 stars

234 pages
Published February 2010 by Penerbit Republika
ISBN  9789791102742


Ditulis oleh seorang wartawan senior pemerhati serius masalah sosial budaya kota Jakarta. Alwi Shabab lahir di Kwitang, Jakarta Pusat 31 Agustus 1936. Catatan Kwitang, konon berasal dari nama seorang Cina, Kwee Tiang Kam, yaitu penjual obat tradisional yang masyhur. Saking terkenalnya, kediaman penjual obat ini disebut Kwitang. ia telah menjalani profesi sebagai wartawan selama lebih dari 40 tahun. Tahun 1960 ia bekerja kantor berita Arabian Press Board di Jakarta. Sejak Agustus 1963 ia bekerja di Kantor Berita Antara. Selama sembilan tahun (1969-1978), ia menjadi wartawan Istana. setelah pensiun dari Antara tahun 1993, ia bergabung dengan Harian Umum Republika.



Ada 67 artikel beliau yang dikumpulkan lalu dibuat bukunya seperti ini. Artikel tersebut menceritakan Batavia sebagai kota yang penuh seluk beluk sejarah dan peristiwa. Dari lingkup artikel yang ditulisnya, saya menyimpulkan hal-hal sebagai berikut.
1. Cakupan wilayah yang menjadi lokasi tulisan meliputi Kota Tua, Harmoni, Menteng, Senen, Jatinegara, Pasar Baru, Jalan Medan Merdeka, Pecenongan, Kebon Sirih, Kampung Melayu, Tanjung Priok.
2. Beberapa tempat/gedung bersejarah yang diulas meliputi Gambir, Pasar Baru, Gedung Harmonie, Gudang rempah-rempah VOC, Pasar Senen, Gedung Kesenian Jakarta, Hotel Wisse di Rijswijk (Jalan Veteran), Pulau Onrust (Kepulauan Seribu).

mengapa judul buku ini Batavia Kota Hantu?
Artikelnya dimuat di paling awal, saya menelusuri kata "hantu" di artikel tersebut, dan saya hanya menemukan hanya satu kata, hanya di paragraf pertama. Dikatakan "kota hantu" karena pada Tahun 1815, Batavia lama (di seputaran kota tua) telah menjadi kawasan yang sangat menyeramkan. Benteng dirubuhkan, istana Gubernur Jenderal dirubuhkan. Kota tidak sehat akibat ancaman penyakit kolera, karena sanitasi yang buruk. Siapa yang melakukan? Dialah Herman William Daendels. Sejak itu pusat pemerintahan berpindah ke kawasan Weltevreden (Lapangan Banteng).

Buku ini sebenarnya menarik. Namun sayangnya tidak ada klasifikasi setiap artikel. 67 artikel dicetak begitu saja tanpa ada "bridging" yang menghubungkan, padahal ulasannya cukup menarik andai saja diramu sedemikian rapi. Saya juga menemukan kesalahan cetak yang cukup fatal yakni tidak sesuai daftar isi dengan halamannya. Pada artikel " Batavia 1935, Jakarta 1997 tertulis di daftar isi di halaman 43. Padahal sebenarnya artikel tersebut ada di halaman 41. Dan parahnya, artikel sesudahnya menjadi selisih-selisih 2 halaman. Hmm..sepertinya daftar isinya tidak diupdate fieldnya.

Namun begitu, E.S. Ito mengatakan bahwa Alwi Shahab menjadi narasumber penting dalam pembuatan novel "Rahasia Meede". Hal itu diungkapkannya di blognya disini. Namun ketika saya mencari kisah Pieter Erberveld tersebut di buku ini, sayangnya tidak ada. Saya berharap jika pihak editor Penerbit Republika sedikit bersusah payah mengumpulkan artikel-artikel beliau mengenai Batavia dan menyajikannya seperti Rosihan Anwar di bukunya, Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia, saya yakin buku ini menjadi best seller (sok peramal).

Akhirnya 4 bintang untuk Pak Alwi, dikurangi satu bintang untuk penerbit.

@hws06092010



lintasberita

Lanjut Baca

Buku GADIS PANTAI - ulasan

Pengarang : Pramoedya Ananta ToerPenerbit : Hasta Mitra, 1997Tebal : 221 halamanGadis Pantai adalah novel terbaik Pramoedya. Novel dengan setting daerah Lasem (Jepara) awal abad 19 ini berkisah tentang seorang gadis nelayan berumur 14 tahun yang dibawa orangtuanya untuk dijadikan “wanita utama” seorang “Bendoro” atau priyayi yang masih bangsawan. Di rumah tersebut, yang juga dihuni oleh para agus
lintasberita

Lanjut Baca

Buku Keajaiban Tangan - resensi


Sejak diterbitkan pertama kali di Kairo, buku ini terus mengundang minat yang luar biasa di berbagai kalangan. Tema ini tidak pernah tersentuh dan terpikirkan oleh orang lain sebelumnya, dan merupakan sesuatu yang baru. Disusun berdasarkan penelitian, buku ini mudah dipahami dan dilengkapi dengan gambar. Pembaca akan menemukan penjelasan tentang: Mengapa Harus Tangan; Mengapa Alquran Menyebut Tangan: Tangan Allah SWT,Tangan para Malaikat.; Tangan para Nabi; Tangan Rasulullah; Tangan yang Selalu Berselisih dan Berperang; Tangan dalam Perspektif Sunnah; Tangan yang Bekerja Demi Peradaban.

Dibahas pula tentang Tangan dalam Perspektif Medis dan Anatomi: Tulang Tangan, Lipatan Tangan; Istilah-Istilah Membaca Tangan, Rahasia Jari-Jemari Perempuan; Keajaiban Tangan Janin; Keajaiban Sidik Jari; Penamaan Jari-Jemari; Keajaiban Bilangan; Makna Tangan dalam Bahasa Arab dan Penggunaan yang Beredar di Masyarakat; Berbagai Macam Penyakit Tangan Manusia, dan sebagainya.

Simaklah, dan Anda akan mampu menilai diri Anda, seraya takjub atas misteri besar tangan Anda sendiri.
lintasberita

Lanjut Baca

Buku Sang Pencerah - ulasan

Sang Pencerah: Novelisasi Kehidupan K.H. Ahmad Dahlan dan Perjuangannya Mendirikan Muhammadiyah
Akmal Nasery Basral @ 2010
Mizan - Cet. I, Juni 2010
461 hal.

Gue nyaris gak tau apa pun tentang KH Ahmad Dahlan, selain ‘mengenalnya’ sebagai nama jalan. Gue gak tau kalo ternyata beliau adalah pendiri Muhammadiyah, bahwa banyak cerita dan fakta menarik dalam sejarah hidup beliau.

Terlahir dengan nama Muhammad Darwis, anak seorang khatib Masjid Gedhe, pemuka agama di lingkungan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keturunan langsung dari Syaikh Maulana Ibrahim salah satu dari 9 tokoh Wali Songo. Merupakan sebuah keistimewaan memiliki silsilah ini. Nantinya, otomatis jabatan sebagai khatib Masjid Gedhe akan jatuh ke Muhammad Darwis apabila KH Abu Bakar meninggal.

Sebagai anak kiai, sejak kecil Darwis sudah belajar mengaji dan sering diajak ayahnya mendengarkan khutbah di Masjid Gedhe. Batin Darwis terusik ketika dalam salah satu acara pengajian 40 harian meninggal bapak temannya, secara tak sengaja ia mendengar percakapan ibu temannya itu yang terpaksa meminjam uang untuk mengadakan acara itu. Sejak itu, ia mencoba bersikap kritis, tapi, sering tidak mendapat dukungan positif dari bapaknya dan para ulama lainnya.

Ketika remaja, ia sudah dikirim untuk naik haji dan belajar agama di Mekkah. Sepulangnya dari Tanah Suci, dengan pengetahuan yang semakin bertambah, pemikirannya sering kali berbeda dengan para kiai yang masih sangat kaku dan memegang teguh tradisi yang menurut Ahmad Dahlan – nama yang ia peroleh setelah menjadi haji – bertentangan dengan Islam. Baginya, Islam tidaklah menyulitkan umatnya, jadi jika tradisi itu ternyata menyulitkan, sebaiknya disederhanakan saja.

Semakin lama, cara mengajar, cara berpikir bahkan khutbahnya dianggap kontroversial oleh kiai-kiai sekitar, terutama ketika Ahmad Dahlan mengusulkan perubahan arah kiblat – yang akhirnya berujung pada pembongkaran Langgar Kidul yang selama ini dipergunakan Ahmad Dahlan untuk mengajar mengaji.

Belum lagi ketika akhirnya ia bergabung dengan Budi Oetomo, yang dianggap para kiai sebagai perkumpulan kejawen. Ahmad Dahlan pun mendapat sebutan ‘kiai kafir’ Tapi, berbagai cobaan, cercaan dan tuduhan itu tidak membuatnya patah semangat, malah ia semakin giat dalam berusaha membuktikan bahkan apa yang ia sampaikan adalah hal yang benar, bukan bermaksud memecah belah umat Islam sendiri. Beruntung ia didukung oleh istrinya yang sangat sabar, dan murid-muridnya yang setia sampai akhirnya terbentuklah Muhammadiyah.

Jarang-jarang gue suka kalo baca biografi atau memoar seseorang. Karena cara penyampaiannya cenderung datar, monoton, membosankan dan hanya satu arah. Tapi, gue suka baca buku ini. Mungkin karena novel ini dibuat berdasarkan skenario film, mungkin juga karena cara penyampaiannya yang menarik. Jadi bacanya juga enak. Banyak hal yang gue dapat dari buku ini, mulai dari fakta sejarah, dan pemikiran-pemikiran yang simple, tapi sangat masuk akal.

Mungkin kalo ada lagi memoar atau biografi yang dibuat seperti ini, gue bakal lebih banyak lagi baca buku-buku seperti ini.

lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar