Tips Cara Memahami Isi Buku Dengan Cepat


Kadang Kesibukan kita sehari-hari kadang membuat kita tidak sempat membaca buku secara keseluruhan. Disatu sisi kebutuhan terhadap ilmu pengetahuan adalah sangat perlu. Maka dari itu, ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan untuk memahami isi buku, diantaranya:

1. Skiming atau Survie

Langkah awal sebelum membacanya adalah skimming atau survei selama satu atau dua menit. Hal ini akan memudahkan kita memilah bagian penting dan tidak penting dalam sebuah buku. Skimming merupakan jurus ampuh dalam membaca cepat.

Skimming antara lain meliputi: memperhatikan judul, sub judul, bagian-bagiannya, paragraf, gambar, hingga tabel sebagai satu kesatuan, memperhatikan judul dengan seksama, apa implikasi-implikasinya, dan melihat pembagian-pembagian selanjutnya untuk mendapatkan apresiasi struktur tulisan.


2. Perhatikan Ide Pokok Buku

Untuk menguasai buku, setiap pembaca harus menguasai ide pokok dan tidak terjebak kepada contoh yang bertele-tele. Ide pokok itu bisa ditemukan dalam buku secara keseluruhan buku, bab, sub bab, dan bahkan paragraf.

Kemampuan menangkap ide pokok merupakan tahapan pertama memajukan pemahaman. Untuk mendapatkan ide pokok dengan cepat kita harus berpikir bersama penulis. Langkah yang dilakukan adalah baca dengan mendesak dengan tujuan mendapatkan ide pokok.

3. Buatlah Catatan terhadap hal-hal yang penting

Catatan ini diperlukan karena ada sesuatu yang menarik dalam bacaan, sangat kita perlukan, atau harus selalu kita ingat-ingat. Pokok yang dicatat meliputi elemen-elemen kunci: ide sentral, soal-soal besar, tujuan dan asumsi pengarang tentang segi-segi tertentu, serta detail dan fakta yang spesifik.

Metode membaca cepat merupakan semacam latihan untuk mengelola proses penerimaan informasi. Seseorang akan dituntut untuk membedakan informasi yang diperlukan atau tidak. Informasi itu kemudian akan tersimpan di dalam otak.

Berdasarkan informasi yang sudah disimpan itulah kemudian seseorang akan membaca buku berikutnya. Ketika membaca buku berikutnya, informasi yang sudah diterima ketika membaca buku sebelumnya tentu tidak akan dibaca ulang.

lintasberita

Lanjut Baca

Tips Membaca dan Menulis Resensi Buku Yang Baik dan Benar

Selama ini mungkin anda selalu membaca resensi buku sebelum anda memutuskan membeli buku tersebut. Anda membaca resensi buku agar anda yakin bahwa buku yang akan anda beli sesuai dengan keinginan anda.

Jika selama ini anda hanya membaca resensi buku yang dibuat oleh orang lain, tahukah anda bahwa anda juga bisa membuat resensi buku sendiri atas buku yang sudah anda baca? Untuk membuat resensi sebuah buku sebenarnya mudah, akan tetapi ada hal-hal yang perlu anda perhatikan dalam membuat resensi sebuah buku. Berikut 4 tips dalam membuat resensi buku.

1. Sudah pernah membaca buku yang akan diresensi

Dalam membuat resensi buku, anda harus mengetahui secara lengkap isi buku sehingga anda bisa membuat resensi yang menyeluruh tetapi dengan bahasa yang ringkas dan padat. Mengapa ? karena pada umumnya pembaca mengingkan informasi yang singkat namun dapat memberikan informasi yang jelas seputar buku tersebut. Usahakan anda mencatat poin-poin penting yang coba pengarang sampaikan dalam buku tersebut agar pesann yang ingin disampaikan sesuai dengan yang diinginkan oleh pengarang.

2. Mencoba bersifat obyektif

Jika anda menulis resensi sebuah buku, isahakan anda mencoba untuk tidak bersifat subyektif tetapi harus obyektif. Sampaikan apapun pendapat anda mengenai buku tersebut dan tidak terpengaruh akan nama besar pengarang, penerbit dan hal-hal lainnya. Pembaca akan menyukai resensi buku yang bersifat jujur.

3. Menambah wawasan/pengetahuan

Judul buku ada bermacam-macam dan juga terdiri dari banyak kategori. Oleh karena itu anda harus menambah wawasan dan pengetahuan seputar buku yang akan anda resensi. Tidak ada salahnya anda membaca buku yang lain yang mempunyai tema yang sama dengan buku yang akan anda resensi. Wawasan anda juga akan mendukung resensi yang anda buat agar terlihat bahwa anda sangat memahami apa yang anda tulis.

4. Memberikan penilaian dengan kalimat yang jelas

Selain harus obyektif, resensi buku yang dibuat juga harus dibuat dengan kalimat yang jelas dan mudah dimengerti. Hal ini juga dilakukan agar pesan yang disampaikan sesuai dengan apa yang anda inginkan dan pembaca tidak akan mempertanyakan kembali maksud tulisan anda.

Demikian 4 tips dalam membuat resensi buku yang baik, apakah anda punya tips yang lain selain yang telah kami sebutkan diatas ?
lintasberita

Lanjut Baca

Buku Adalah Gudang ilmu

Buku adalah gudang ilmu,
membaca adalah kuncinya.
Buku adalah jendela dunia.

Pepatah-pepatah itu tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita. Pepatah yang menurut saya, tak pernah usang oleh waktu. Dan ini saya yakini dengan sepenuh hati. Tentu saja, karena buku harus menjadi sahabat dalam hidup kita. Buku juga harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan kita. Dengan buku kita bisa melihat sisi lain dari dunia kita ini yang ternyata sangat bermacam-macam bentuknya. Membuat kita bisa mengetahui apa yang sebelumnya tidak kita ketahui.

Beberapa sifat buku yang menurut saya patut menjadi alasan untuk kita mencintainya adalah pertama, karena buku selalu up to date. Walaupun buku telah berumur puluhan bahkan ratusan tahun, tapi buku selalu menyimpan informasi yang akurat sebagai media untuk mengetahui data peradaban yang ada saat itu. Kedua, karena buku selalu kaya dengan imajnasi. Membayangkan apa yang tertulis di buku membuat kita seperti membangun imajinasi versi pikiran kita sendiri. Mengajak diri kita untuk berkreasi dengan menenggelamkan diri dalam alur atau setting yang terdapat dalam buku. Itu menjadikan kita belajar untuk mengerti dunia lain yang sebelumnya tak pernah terpikir oleh kita. Dan ketiga, dengan membaca buku dapat membuat kita tergerak untuk menulis. Mendeskripsikan sesuatu hal menurut kacamata kita sendiri. Menulis membuat kita bebas menciptakan dunia yang ingin kita bangun. Kita bisa mengungkapkan apa yang kita rasakan. Dan menulis adalah sarana yang paling efektif dalam mengungkapkan perasaan. Juga bisa menawarkan pemikiran baru pada orang lain.

Buya Hamka, seorang penulis dan ulama besar Indonesia pernah berkata kepada muridnya :
“Cobalah tulis dari hatimu dahulu. Tangkap ide yang berkelebat agar tak segera lenyap. Alirkan apa saja emosi dan pikiran yang ada di benak dan hatimu. Biarkan ia mengalir sebebas-bebasnya hingga mencapai keutuhan dan garis besar tulisan. Setelah itu barulah kumpulkan serta siapkan data-data pendukung dalam tulisanmu agar ia lebih berbobot dan argumentatif.”

Membaca adalah salah satu modal kita untuk semakin bisa mencintai ilmu.

Imam Ali berkata : “Tubuh kita ini selalu melewati enam keadaan : sehat, sakit, mati, hidup tidur, dan bangun. Hidupnya hati adalah berkat bertambahnya ilmu, dan matinya adalah akibat ketiadaan ilmu. Sehatnya hati adalah berkata keyakinan, sakitnya adalah keraguan. Tidurnya hati adalah kelalaian, dan bangunnya hati berasal dari dzikir yang dilakukan.”

Membaca tidak mengenal usia dan waktu. Tidak ada istilah berhanti untuk menggali ilmu. Seandainyapun kita diberitahukan bahwa besok akan mati, maka kita harus tetap terus belajar.

Kunci agar kita selalu mau belajar adalah jangan pernah menganggap diri kita selalu pintar. Anggaplah diri kita selalu kurang. Sehingga, kita akan selalu haus akan ilmu pengetahuan. Ingatlah, bahwa setiap hari ilmu di dunia akan selalu bertambah dan berubah mengikuti perkembangan jaman.
“Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-Alaq : 6-7)

Dengan banyak belajar, maka kita bisa membedakan mana yang baik untuk kita ikuti dan mana yang tidak semestinya kita jalani.
Dan bukankah Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat? Maka tak ada alasan lagi bagi kita sebagai umat muslim untuk terus menerus berusaha mencari ilmu yang bermanfaat dengan sebanyak-banyaknya.

“Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang. Karena itu, keungggulan bukanlah suatu perbuatan melainkan sebuah kebiasaan. (Aristoteles)


Dari Mua’adz bin Jabal r.a, ia berkata : “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya adalah kebaikan, mencarinya adalah ibadah, mengingatnya adalah tasbih, mendalaminya adalah jihad, mengerjakannya kepada orang yang belum mengerti adalah sedekah, mengingatkannya kepada orang yang sudah mengerti adalah taqqarub. Ilmu adalah teman di waktu sepi, kawan dalam pengasingan, penunjuk jalan kesenangan, penolong dalam kesulitan, hiasan di tengah-tengah kawan, dan senjata dalam menghadapi musuh. Ilmu dapat menghidupkan hati dari kebodohan, pelita dari kegelapan, kekuatan dari segala kelemahan, sarana untuk mencapai derajat orang-orang yang baik sewaktu hidup di dunia maupun di akhirat. Ilmu merupakan pemimpin dan amal adalah pengikutnya.”
Maka, teruslah menjalin persahabatan yang erat dengan buku. Rasakan kehadiran mereka sebagai jendela untuk kita melihat masa depan di hadapan. Jadikan keberadaan mereka sebagai jembatan untuk kita berusaha menjadi makhluk Allah yang mencintai ilmu.

lintasberita

Lanjut Baca

Tips dan Cara Membaca Buku Dengan Mudah dan Praktis

Biasanya kita sering mengalami kesulitan ketika membaca buku yang tebal dan sulit difahami, apalagi jika buku tersebut merupakan tugas dari dosen yang harus dipresentasikan di dalam kelas. Banyak orang, termasuk para mahasiswa, yang tidak tahu cara membaca buku yang baik sehingga meskipun dibolak-balik sampai buku rusak atau dibaca sepuluh kali tetap tidak faham-faham. Karena itu, begitu datang waktunya presentasi, dia tidak bisa menyampaikan isi buku secara utuh, tetapi hanya sepotong-sepotong, sehingga maksud dan tujuan dari penulisan buku tersebut tidak tercover secara jelas.

Ada beberapa cara yang sebenarnya bisa kita lakukan untuk membaca buku secara mudah dan tepat. Bila kita terbiasa melakukan ini, membaca buku yang tebalnya 300 halaman, bisa kita kuasai hanya dalam waktu lima sampai sepuluh menit. Tetapi tentunya tidak semua buku bisa dibaca seperti itu, tetapi hanya buku-buku yang merupakan gagasan orisinil atau buku-buku yang menawarkan suatu ide atau gagasan tentang suatu perubahan. Sedangkan buku-buku keilmuan eksak, yang terdiri dari rumus-rumus dan teori-teori yang detail, tentu tidak bisa dibaca secara sekilas, tetapi harus dibaca secara detail dan bahkan mungkin perlu dihapal.

Untuk bisa memahami buku secara baik, sebenarnya harus diketahui terlebih dahulu jenis buku apa buku itu. Ibarat seekor binatang, sebenarnya binatang apa yang sedang kita pelajari, gajah, macan, kucing, atau kambing. Kalau kita keliru dalam mengidentifikasinya, maka kita akan keliru dalam memberikan penjelasan. Mungkin kambing dan sapi sama-sama memiliki empat kaki, tetapi kaki sapi lebih besar daripada kambing, sama-sama bertanduk, tetapi ukuran dan bentuk tanduknya juga berbeda. Kalau kita kliru mengidentifikasi jenis binatangnya, misalnya harusnya membicarakan kaki gajah, tetapi karena kita tadi menganggap kerbau, maka ketika kita membicarakan kakinya kita salah arah karena yang kita bicarakan kaki kerbau padahal seharusnya kaki gajah dan seterusnya.

Bagaimana caranya? Ada beberapa kiat yang menurut saya perlu diperhatikan:
  1. Pahami latar belakang penulisan buku tersebut: Biasanya seorang penulis yang baik akan menjelaskan secara singkat tentang latarbelakang penulisan bukunya. Kira-kira buku tersebut ditulis dalam rangka untuk apa, menyanggah pemikiran orang lain, menjelaskan fenomena yang terjadi, menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat atau yang lain? Jika latar belakang (sense of crisis) penulisannya saudah ditemukan, maka akan dengan mudah kita memetakan buku tersebut.
  2. Setelah kita memahami latar belakang (sense of crisis) dari buku tersebut, maka langkah berikutnya adalah melihat permasalahan apa yang diangkat oleh buku tersebut? Masalah sosial, politik, budaya, pendidikan atau masalah-masalah lain? Bagaimana permasalahan itu muncul? Dari permasalahan inilah nantinya kita akan mengetahui peta kajian berikutnya, karena permasalahan yang muncul itu akan memunculkan bab-bab atau sub sab-sub bab berikutnya.
  3. Setelah kita ketahui permasalahan yang muncul atau diangkat oleh penulis, maka yang harus kita lakukan adalah solusi apa yang ditawarkan oleh penulis untuk memecahkan permasalahan yang muncul tersebut. Di sini kita akan menemukan teori, metode dan jawaban-jawaban teoritis dan praktis yang dijelaskan oleh penulis. Di sini kita juga bisa membedakannya dengan para penulis-penulis lain dalam menghadapi permasalahan yang sama atau pemikir-pemikir lain yang memiliki kepedulian yang sama dengannya, tetapi memiliki teori dan pemecahan yang berbeda. Biasanya di sini saya menyuruh para mahasiswa saya untuk membandingkan dengan para pemikir lain, apa bedanya dia dengan si A atau si B dan sebagainya.
  4. Setelah kita ketahui jawaban-jawaban yang diberikan oleh penulis terkait dengan permasalahan yang muncul atau diangkat oleh penulis, maka kita bisa melakukan kritik terhadap gagasan-gagasan tersebut, apakah gagasan tersebut orisinilkah, menjiplakkah, atau dia mengikuti, meneruskan atau melengkapi pemikir-pemikir sebelumnya atau para gurunya dan sebagainya. kalaulah mengikuti para pendahulunya, apa bedanya pemikiran dia dengan pemikiran pada pendahulunya? Di sinilah kita nantinya bisa memposisikan dia di antara para pemikir-pemikir lain yang sejenis atau yang bersebrangan dengannya dalam menjawab permasalahan yang ada.
  5. Setelah itu baru kita bisa menyimpulkan, bagaimana tulisan tersebut, baik, sedang atau sangat baik untuk dijadikan sebagai referensi dalam penilisan karya ilmiah dan sebagainya.

Selamat membaca….semoga dengan sedikit tips membaca buku ini, kita semua dapat memahami buku dengan baik dan tidak terjebak pada permasalahan yang kecil-kecil saja, tetapi bisa memahami bangunan buku secara utuh. Wallahu a’lam bishawab.
lintasberita

Lanjut Baca

Membaca Buku Itu Penting

Ada banyak alasan kenapa orang mesti membaca buku yang ditulis oleh orang lain. Diantaranya adalah :

Pertama, karena adanya kebutuhan dari diri kita untuk menggali ilmu pengetahuan atau informasi tentang berbagai hal yang kita butuhkan. Kita merasa mencari ilmu sebagai suatu kebutuhan karena memang bagi kita, umat Islam, mencari ilmu diwajibkan kepada kita. Rosulullah saw bersabda :”Mencari ilmu wajib atas setiap orang Islam baik laki-laki maupun perempuan”. Sementara itu mencari ilmu tidak harus melalui sekolah-sekolah formal maupun informal, akan tetapi juga dengan cara belajar sendiri dari buku-buku yang ditulis oleh para pengarang buku yang jumlahnya sangat banyak sekali. Cara belajar sendiri (otodidak) ini lebih efektif dengan membaca buku-buku yang sekarang ini jumlah dan ragam-macamnya sangat banyak sekali. Hampir setiap sisi kehidupan kita, setiap sisi pola pikir kita, setiap sudut ruang gerak kita, setiap bagian dari gaya hidup kita, setiap sudut dari perasaan hati kita, setiap karakter manusia-manusia pilihan (para nabi, para wali, para ulama, para tokoh, bahkan para koruptor, para palacur, para durjana angkara murka), dan lain sebagainya semuanya ada bukunya. Bahkan dari masing-masing yang tersebut terakhir ditulis oleh belasan, puluhan atau bahkan ratusan penulis yang berbeda. Maka cara otodidak inipun tidak akan pernah sampai pada tepi pengetahuan dari samudera keilmuan yang maha luas. Apakah lagi yang hanya belajar melalui pendidikan formal yang kurikulumnya memang dibatasi sesuai perkembangan kemampuan anak didik, atau dibatasi berdasarkan fokus spesialisasi suatu kejuruan bidang ilmu yang dipelajarinya.

Kedua, karena sebuah buku itu umumnya ditulis oleh para penulis yang umumnya berusia antara 35 sampai dengan 50 tahun. Ambillah misalnya rata-rata usia penulis adalah 40 tahun, maka sebuah buku yang diterbitkan melukiskan sebagian dari 40 tahun pengalaman, pandangan, persepsi, imajinasi seorang pengarang buku. Kita misalkan lagi, dalam sehari kita menyelesaikan membaca 1 buku saja, maka kalau kita rutin membaca buku setiap hari, dalam 1 tahun kita telah membaca 365 buku yang merangkum 365 x 40 tahun pengalaman seorang penulis atau sama dengan 14.600 tahun pengalaman para penulis. Luar Biasa!.

Ketiga, Membaca buku adalah konsumsi bagi tubuh kita, tepatnya konsumsi bagi otak dan hati kita. Konsumsi bagi pikiran dan perasaan kita. Ini tidak mutlak, buktinya banyak orang yang otak dan hatinya tidak diberi makan dengan membaca buku dia masih bertahan hidup dan tetap waras.Akan tetapi bagi sebagian orang, membaca buku ini merupakan konsumsi primer yang tidak boleh tidak harus dipenuhi sebab kalau tidak ia akan mati. Ya!, paling tidak mati akal dan perasaannya, mati pikiran dan buta mata hatinya.

Keempat, Bacalah! (Iqra’!), demikian bunyi ayat pertama kitab suci Al-Qur’an yang diturunkan untuk umat Muhammad saw dan manusia di muka bumi sesudahnya, 1440 tahun yang lalu. Membaca disini mempunyai pengertian yang luas, yang tidak hanya membaca buku bacaan tetapi membaca apa saja yang ada di depan mata kita, yang ada di sekitar diri kita, yang ada pada penciptaan diri kita, yang tak terlihat sekalipun oleh mata kita, dan semuanya.
Bacalah, Bacalah dengan menyebut nama Rabb-mu yang telah menciptakan, yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabb-mulah Yang Maha Mulia, yang mengajarkan kepada manusia dengan perantaraan qalam (tulisan; al-Qur’an), mengajarkan kepada manusia apa saja yang belum diketahuinya.
Dari bagian pertama Surat Al-Alaq ayat 1 sampai 5 –yang merupakan wahyu yang pertama kali diturunkan oleh Allah kepada Muhammad saw- kita langsung bisa menangkap maknanya, meskipun sebatas kemampuan persepsi kita. Makna yang luas dan mendalam, makna perintah yang tidak hanya lahiriah tetapi juga ajaran aqidah dan tauhid yang mengimani sesuatu yang ghaib. Makna membaca objek yang bukan sesuatu yang wujud dan mudah saja, tetapi juga objek yang perlu kajian analitis dan mendalam (proses kejadian manusia dari segumpal darah). Ketika kita tidak mampu secara langsung melakukan observasi kepada objek dimana kita diperintahkan untuk membacanya, maka buku-buku yang telah ditulis oleh para penulis yang sekaligus para ahlinya adalah solusinya. Untuk itulah kita perlu membaca buku-buku yang banyak macamnya, yang mendalam isinya, yang bermacam-macam kajiannya, dan lain sebagainya.

Kelima, Bacalah maka kamu akan menjadi pintar. Jelas, walaupun sekali lagi tidak mutlak, orang yang tidak pernah membaca buku ia akan menjadi modoh, gak tau apa-apa, pengetahuannya cupet, ilmunya dangkal, prilakunya rendahan, hidupnya gak mutu. Eh, ini gak ngumpat atau mengejek, cuma saja jangan ditiru selama anda masih waras.


lintasberita

Lanjut Baca

Tips Membaca Buku

Membaca buku ternyata ada tekniknya, tidak sekedar membaca saja karena berapa coba kemampuan mengingat anda tentang buku yang ada baca sebelumnya. Berapa banyak buku yang sudah Anda baca hingga saat ini? Cobalah ingat kembali, bisakah semua informasi yang Anda baca bisa diingat?


Pasti sulit, karena itu ada cara agar otak kita bisa terlatih untuk mengingat. Hal ini dijelaskan dalam buku berjudul Big Brain BigMoney yang merupakan buku dari Tom Martin Charles Ifle, Pakar Hipnoterapi. Menurut buku ini ada beberapa cara yang bisa diterapkan saat membaca buku, Cara ini merupakan metode self hypnotheraphy.

  1. Setelah memilih buku apa yang Anda baca, bayangkan garis besar apa yang akan dijelaskan dalam buku itu.
  2. Jangan lupa siapkan alat tulis. Ini bisa membantu anda untuk mengingat informasi lebih lama.
  3. Tuliskan apa yang Anda inginkan dari buku itu. Apakah ingin menyelesaikan masalah Anda, Jika ya, tulislah keinginan untuk membantu memhami pesan dari buku yang anda pilih. Misal, " Saya ingin meningkakan kualitas pikiran". Hal ini akan membantu otak anda akan fokus dan mulai merekam pesan dari buku tersebut.
  4. Sebelum membaca, coba pejamkan mata Anda, tarik nafas dalam-dalam dan rilekskan otot mata anda. Lalu katakan dalam hati anda akan membaca buku tersebut dalam lima menit, dan yakinkan diri Anda bahwa buku tersebut bisa meningkatkan kualitas pikiran Anda. Ini berarti Anda disuruh mengajak diri Anda sendiri untuk mengajak mencapai tujuan yang diinginkan dan sudah dituliskan sebelumnya.
  5. Dengan otot mata yang rileks, mulailah membaca dan pastikan posisi duduk tegak saat membaca dan berusahalah menikmati kegiatan ini.
  6. Setelah lima menit pertama, berhenti membaca. Coba tuliskan garis besar isi buku itu. Dengan cara ini akan melatih Anda untuk berimajinasis secara dramatis.
  7. Tinggalkan catatan kecil Anda dan kembalilah membaca. Di sela membaca catatlah ide penting yang Anda temukan dan beri garis bawah pada setiap ide yang anda anggap penting. Jika tidak ingin buku anda kotor maka sering-seringlah mencatat ide penting itu. Atau bisa juga halaman buku itu diberi tanda khusus.
  8. Ketika selesai membaca, tutup buku dan pejamkan mata kemudian tarik nafas dalam-dalam sebanyak tiga kali. Pikiran yang rileks akan memusatkan fokus perhatian pada pengalaman membaca Anda dan melatih otak merekam informasi, dengan bantuan catatan kecil yang Anda buat sendiri di setiap tahapan membaca.

Kedelapan teknik membaca buku yang benar ini dikutip dari Kompas Female mudah-mudahan bermanfaat bagi anda untuk lebih baik dalam mengingat apa yang anda baca. Selamat mencoba

lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar