The Real Dezperate Housewives-Asma Nadia, dkk


The Real Dezperate Housewives
Seri Edu-Moms
Asma Nadia, dkk.
Lingkar Pena
249 halaman






“We all have the moments of deperation, (Marry Alice, Desperate Housewives)”


Terinspirasi oleh quote dari serial tv Desperate Housewives yang baru saja ditayangkan oleh salah satu televisi swasta kita, Asma Nadia dan teman-temannya, sesama ibu-ibu rumah tangga (para superMom) mengumpulkan tulisan sedikit pengalaman mereka selama menjadi seorang ibu, seorang istri, menantu dan seorang anak. Berupa kumpulan cerita yang berkisahkan tentang masa-masa sulit menjadi seorang ibu. Beberapa ditulis menjadi sebuah masa sulit tetapi lucu, misalnya Insiden-Insiden Kecil Itu kisah dari Hj. Insana Malik dan beberapa membuat saya tidak tega untuk membacanya, Kemerlip Langitku dikisahkan oleh Pipiet Senja, dan juga membuat saya terkagum-kagum, Super Mom dikisahkan oleh Nadhira Khalid Bathef, dan masih ada 13 kisah pengalaman-pengalaman super mom yang lain yang dibukukan menjadi satu dalam buku berkover dengan warna ceria walaupun anak-anak yang digambar menangis semua.

“Positive Thinking, melihat semua dari sisi baiknya dan ambil hikmahnya. Kalau pikiran masih kusut juga, saya kembali mengingat komitmen awal menikah adalah ibadah”

Pada intinya The Real Dezperate Housewives bercerita kalau manusia ya tetaplah manusia, akan mustahil menuntut kesempurnaan darinya, tulang boleh sama putih, tetapi rambut kan sudah beda warna, begitu pun pemikirannya, keinginan, dan motivasi manusia jadi berbeda beda. Karena itu wajar saja dalam setiap pelaku rumah tangga terjadi sedikit benturan, hanya saja bagaimana kita menghadapinya.
Akhirnya, saya rasa buku ini bagus kok! Banyak sekali hikmah yang bisa saya ambil dari buku ini, untuk menjadi bekal nanti kalau sudah berumah tangga.

Image hosted by Photobucket.com

lintasberita

Lanjut Baca

Ugly Duckling, Beautiful swan- Roslina Verauli, M. Psi.


I was an Ugly Duckling, I am A beautiful Swan
Roslina Verauli, M.Psi.
KataKita
Psikologi Populer
147 halaman






"Banyak orang merasa dirinya seperti Ugly Duckling, tidak percaya diri sehingga tidak mudah bergaul dan berkembang. Padahal setiap orang punya kapasitas keangsaan: potensi yang dapat dikembangkan agar bisa mengenali dan menghargai diri sendiri. Jangan biarkan dirimu menjadi Ugly Duckling. Tampillah sebagai Beautiful Swan!"

Terinspirasi oleh kisah Ugly Duckling, sebuah dongen klasik dari Hans Christian Andersen, Roslina,Penulis buku ini ingin membantu bagi mereka yang sering merasa minder karena kekurangan yang ada pada dirinya. Atau, mereka yang ingin membantu orang-orang disekitarnya agar dapat mengatasi masalah-masalah kepribadian yang mereka alami.

Awalnya membaca buku ini, merasa kalau buku ini ditujukan untuk anak remaja, karena semua masalah yang diambil sebagai contoh kebanyakan memang masalah remaja. Menyenangkan pada awalnya, ringan karena semua terasa sangat membumi, memang apa adanya, tetapi semakin menuju halaman akhir, saya semakin sulit mengikutinya, makin terasa berat untuk bisa menyelesaikan buku tipis ini, jadi bertanya, siapa sebenarnya yang diharapkan membaca buku ini oleh Penulis.
Image hosted by Photobucket.com

lintasberita

Lanjut Baca

Perjalanan Spiritual Seekor Lebah




Judul: To Bee or Not to Bee; Lebah yang Bosan Mencari Madu
Penulis: John Penberthy
Penerjemah: Mila Hidajat
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: I, 2009
Tebal: 154 hlm. 
-------------------

JIKA kisah ini benar-benar terjadi alias bukan fabel, betapa kita akan dibuat malu oleh seekor lebah yang satu ini. Lebah memang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Dengungan, sengatan dan madunya begitu familiar dalam kehidupan kita. Namun di balik semua keunikannya, kita akan terkagum-kagum dengan pengalaman seekor lebah yang menjadi aktor utama dalam karya John Penberthy ini.

Nama lebah itu Buzz Bee. Dia merasa tersisih dari masyarakat koloninya karena kegelisahannya menanggapi pertanyaan-pertanyaan filosofi yang tiba-tiba muncul dalam dirinya: ‘Siapa sih aku sebenarnya? Mengapa aku berada di sini? Dari mana asalnya? Mengapa segala sesuatunya ada?’ Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuatnya sangat berbeda dari tingkah laku seekor lebah pekerja seperti dirinya. Dan, Buzz sering kali mendapati pikirannya berkelana tanpa henti.

Buzz merasa jengah dan muak dengan pemandangan yang setiap hari ia lihat dalam masyarakat koloninya. Lebah-lebah pekerja berdengung menjelajahi padang rumput untuk mencari bunga-bunga yang tepat, merunduk ke dalam bunga-bunga untuk mengambil madu dan serbuk sarinya, lalu kembali ke sarang sarat dengan muatan nutrisi. Ada semacam perasaan mati rasa yang muncul dari diri Buzz. Ia kelelahan namun tidak bisa puas bekerja setiap saat seperti para lebah lainnya. Batinnya selalu mengatakan ada yang lebih penting dalam kehidupan ini selain membangun sarang dan merawat anak-anak.

Teka teki dalam diri Buzz bertambah pelik ketika ia mulai berpikir tentang hakikat Tuhan, surga dan neraka.

Bahkan tak habis pikir, Buzz dan masyarakat koloninya selalu dihadapkan dengan masalah mendasar; menyelamatkan dan mempertahankan sarang dari gangguan si Boris Bear, beruang pemangsa madu. Buzz sangat tidak berdaya melihat Boris dalam waktu sepuluh menit menghancurkan sesuatu yang dibangun dengan menghabiskan waktu seumur hidup.

Di tengah kekalutannya, Buzz dikejutkan oleh kehadiran Bert, seekor lebah tua dengan satu antena bengkok di kepalanya yang bakal menjadi teman sekaligus guru yang mengajarkannya banyak hal. Buzz dan Bert mempunyai kecenderungan yang sama. Sama-sama terobsesi menemukan hakikat hidup dan sulit mempercayai sesuatu yang tidak logis.

Pertemuan dengan Bert menjadi awal petualangan Buzz dalam kisahnya mencari Tuhan dan teka-teki yang menggantung dalam benaknya. Akal sehat Buzz seperti dijungkirbalikkan menanggapi pernyataan-pernyataan Bert yang bermakna ganda dan sangat membingungkan. Rasa frustrasinya semakin memuncak ketika Buzz menyadari bahwa ia tak akan bisa kembali ke kehidupan normal seperti yang dijalaninya dulu. Buzz sudah tahu terlalu banyak dan mau tidak mau ia diseret habis-habisan memasuki sebuah kenyataan yang pada akhirnya disadari menjadi pelajaran yang sangat berharga.

Sepeninggal Bert, Buzz mulai berpikir dan menemukan tekad baru untuk melakukan perubahan, mencari impiannya yang sudah lama terkubur di sela-sela kesibukannya. Buzz terbang melintasi puncak gunung bergerigi yang sangat ganas. Bagi lebah sepertinya, terbang setinggi dua ribu kaki dengan medan yang sangat berat dan penuh bebatuan terjal, hanya akan mencari mati dan menemui kesia-siaan saja.

Meski begitu, pelajaran demi pelajaran memang harus dilalui, bagaimanapun kerasnya. Buzz dihantam dan dihempaskan begitu saja oleh amukan badai yang datang secara membabi buta. Sebuah celah sempit di antara retakan di lereng gunung telah menyelamatkannya dan cukup membuatnya terselip aman sebelum ia menyadari banyak keajaiban menimpa dirinya. Buzz sangat tercengang mendapati sekumpulan kecil tiga batang bunga liar yang mungil dengan ajaib melekat pada batu granit yang dingin dan tak bernyawa. Dan anehnya, madu yang keluar dari bunga itu adalah madu dengan rasa khas yang sama dengan yang pernah ia rasakan ketika Bert meninggal.

Pengalaman Buzz sungguh mengusik relung kesadaran kita sebagai manusia yang sejatinya diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna. John Penberthy berhasil menggali pelajaran-pelajaran berharga yang dapat dapat kita petik melalui penjelmaan seekor lebah. Buku ini pun sangat cocok sebagai bahan renungan untuk menengok dan menilik kembali misi hidup kita yang sebenarnya. Di dalamnya terdapat banyak pelajaran untuk memperoleh cara pandang berbeda mengenai kesempurnaan, perjalanan hidup, kebahagiaan, bahkan kematian.

Buku yang dari covernya beserta ilustrasi di dalamnya nampak seperti buku anak-anak ini penuh dengan aforisma dan pesan moral. Di antara aforismanya, seperti, “Pikiran adalah pelayan yang hebat, tapi merupakan majikan yang payah,” dan “Kehidupan adalah sebuah perjalanan dari aku menjadi kita.”

John Penberthy adalah seorang relawan yang menangani proyek penambahan vitamin A (mencegah kebutaan) untuk yayasan Hellen Keller International di Indonesia. Usaha kerasnya untuk melihat Tuhan dalam segala hal menuntunnya menulis buku ini.

Penberthy mampu menerjemahkan kehidupan seorang manusia ke dalam kehidupan seekor lebah dan koloninya, membuat kita merasa lebah itu tidak ada bedanya dengan kita. Boleh dikata, Buzz adalah cerminan orang ‘biasa’ yang jenuh bekerja siang malam untuk mencari nafkah dan menjalani hidupnya, yang kemudian mencoba mencari jawaban dengan melakukan pemikiran dan perjalanan spiritual.

Sekeras apapun kita bekerja, selayaknya kita jalani sebagai proses untuk meraih kesempurnaan hidup. Namun, alangkah naifnya jika di tengah-tengah kesibukan yang nyaris merampas semua waktu dan tenaga, kita begitu mudah terlena tanpa menyadari arti hidup ini. Karena, tanpa kesadaran itu hidup kita akan terasa hampa dan tak bermakna. Mengetahui semua itu membawa kita berpikir dan menyadari bahwa dunia ini bukan akhir segalanya. Akan tetapi dunia juga merupakan alat untuk belajar, sebuah kendaraan untuk kesadaran yang lebih besar.[]


M. Iqbal Dawami, penikmat sastra, tinggal di Yogyakarta

lintasberita

Lanjut Baca

Perjalanan Mata dan Hati - Prima Rusdi


Perjalanan Mata dan Hati
(Kumpulan tulisan Prima Rusdi untuk Cosmogirl Indonesia 2002-2003)
Prima Rusdi
Terrant Books
150 halaman








“Kalau kamu pikir yang bisa terkena polusi hanya air atau udara, silakan berpikir lagi”

Perjalanan Mata dan Hati adalah sebuah kumpulan tulisan Prima Rusdi untuk sebuah majalah ABG, Cosmogirl Indonesia dari tahun 2002 sampai tahun 2003. Otomatis buku ini sebenarnya ditujukan untuk ABG. Awalnya merasa salah beli, karena saya merasa saya bukan ABG lagi. Tetapi setelah membuka dan membacanya, rasa salah beli tadi berubah menjadi rasa kagum.

Penyajian tulisan di buku ini tidak biasa, menarik kalau boleh saya bilang. Karena kumpulan tulisan ini tidak hanya berisi tulisan tapi juga banyak menampilkan gambar. Bermacam gambar yang menarik yang menghiasi tulisan di buku ini, bukan gambar seperti pada novel grafis pada umumnya, tetapi gambar yang mewakili tulisan sebagai pemanis, sehingga disain penyajiannya menjadi salah satu daya tarik utama buku ini. Kalau saja gambar-gambar itu tidak ada mungkin buku ini akan kurang menarik dan kurang dilihat, dan akan menjadi sangat tipis sekali. Mulai dari foto etalase sebuah salon, sobekan kertas koran, kloset dengan dinding penuh coretan, sampai gambar laut pun ada. Seolah benar-benar ingin memperlihatkan perjalanan mata dan hati penulis.

Prima Rusdi adalah salah satu penulis cerita film layar lebar Ada Apa Dengan Cinta, dan co-writer Eliana Eliana. Lahir di Gottingen, Jerman besar di Jakarta. Dengan latar belakang itu mungkin, satu judul tulisan di buku ini ditulis dengan model seperti skenario film. Bukan hanya berisikan cerita pendek, tetapi pada intinya kumpulan tulisan di buku ini kurang lebih adalah panduan bagaimana menjadi seorang remaja yang oke punya.

“kesimpulannya, mulailah menghargai orang lain, siapapun dia tanpa terkecuali. Sesederhana itulah inti ‘merdeka’ yang untuk hari ini bisa diartikan sebagai saling menghargai antar manusia. Jadi, selalu gunakan mata dan hati saat bertindak dan mudah-mudahan kamu pun siap senantiasa jadi orang ‘merdeka’”

Image hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.com

lintasberita

Lanjut Baca

Romaji Diary And Sad Toys-Takuboku Ishikawa


Romaji Diary And Sad Toys
Takuboku IshikawaTuttle Publishing
279 halaman

"There are two ways of going through the world, only two. One, all or nothing, is to fight against everything. This way means to win or die. The other way means never to win but never to be defeated either. A man who is never defeated has freedom from care. The man who always wins has spirit. And neither one will ver fear anything. But thinking in this way doesn’t make me feel the least bit cheerful, nor does it lift my spirit. It makes me sad"

Romaji Diary and Sad Toys merupakan sebuah buku harian dan kumpulan puisi seorang sastrawan jepang, yang ditulis mulai bulan April-June Rahun 1909. Berisikan tentang keputusasan seorang Takuboku terhadap hidup dan penyakit Tuberculosis yang dideritanya. walaupun bahasa penulisan yang sebenarnya adalah bahasa jepang setelah dialihbahasakan menjadi bahasa inggris,keputusaansaanya yang disebabkan oleh penyakit yang dideritanya terasa banget di puisi puisi yang ditulis, tetapi bagaimanapun menderitanya Takuboku tidak pernah menyerah.

Death! Death!
My Only wish!
What a real putting to death?
wait, merciful gods!
For one moment wait!

Putus asa, semangat hidup dan penderitaan terhadap keadaan yang dialaminya semuanya tergambarkan dengan jelas di semua tulisannya, baik yang berupa tulisan harian maupun Tanka (puisi tradisional jepang).

Not cured
And still not dying
This bitterness more and more each day these last several months!
Image hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.com

lintasberita

Lanjut Baca

9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing-Alif Danya Munsyi


9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing
Alif Danya Munsyi
KPG
163 halaman


"Dari perangai yahudi rentenir itu, turun dalam bahasa Indonesia, dari kata bahasa Betawi, Judes, untuk arti perangai seseorang yang culas, licik, curang, dengki, jahat tidak jujur"


Sebenarnya buku ini bukanlah jenis buku yang akan saya beli ketika melihatnya di sebuah toko buku. Karena itu kalau saya membacanya bukan karena telah membelinya tetapi karena seseorang telah memberikannya sebagai kado.

Dari judulnya mungkin kita sudah bisa menebak kalau kumpulan tulisan di buku ini berisi asal usul kosakata indonesia, yang awal saya bayangkan pastilah sangat njelimet. Tetapi setelah saya baca, ternyata sangat menghibur, pembahasannya sangat khas, segar, istimewa dan bahkan lucu.Misalnya kata judes ternyata berasal dari bahasa Ibrani "judas", atau kue odading dari bandung pun tak disangka-sangka berasal dari bahasa belanda "O, dat ding?", juga dari buku ini akan kita ketahui hubungan antara kata "bangkrut" dangan bangku yang rusak.

Ditulis oleh Alif Danya Munsyi atau lebih kita kenal dengan Remy Sylado dengan nama aslinya Yapi Tambayong, pembahasan asal muasal kosakata indonesia ini menjadi sangat tidak membosankan untuk saya, dan selanjutnya membuat saya menjadi lebih tertarik untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang kosakata indonesia, apalagi jika buku itu ditulis oleh seniman multidimensi ini.

Image hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.comImage hosted by Photobucket.com
lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar