Pelarian yang Membawa Manfaat

Judul: How the World Makes Love; Petualangan Keliling Dunia Sang Pecundang Cinta
Penulis: Franz Wisner
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, 2009
Tebal: 496 hlm.
------------------

Kira-kira, apa yang anda lakukan ketika calon pasangan anda membatalkan untuk menikah dengan anda? Frustrasi? Stress? Bunuh diri? Atau Balas dendam? Tentu itu semua bukan cara yang positif. Alangkah hebatnya jika kekecewaan anda dijawantahkan kepada hal-hal positif nan manfaat. Seperti yang dilakukan Franz Wisner. Lantaran dicampakkan oleh calon istrinya yang telah dipacari selama 13 tahun, ia bertualang keliling dunia. Hebat bukan?

Buku ini adalah “oleh-oleh” yang kedua dari hasil petualangannya yang kedua pula. Petualangan periode pertama, diniatkan untuk mengobati luka hati akibat dicampakkan oleh calon istrinya itu, sedang petualangannya yang kedua ini hendak mempelajari lebih dalam kisah cinta dan perilaku-perilaku percintaan di negara-negara lain.

Ditemani adiknya, Franz bertualang ke Negara Brazil, India, Nikaragua, Republik Cheska, Mesir, Selandia Baru, dan Botswana. Tanpa alasan yang jelas mengapa dia memilih negara-negara itu.

Dalam meneliti Negara-negara di benua Eropa dan Amerika, seperti Brazil, Republik Cheska, dan Selandia Baru, Franz tidak begitu “sumringah” untuk melakukan identifikasi. Karena, prihal “percintaan” di sana hampir sama, di mana cinta selalu diidentikan dengan seks. Simpel dan praktis. Franz “hanya” menemukan kisah-kisah baru nan unik yang belum pernah didengar maupun dialami sebelumnya di negara-negara di luar benua eropa dan amerika.

Di India, misalnya, dia mendapatkan informasi bahwa segala urusan cinta dan pernikahan masih dimulai dan diakhiri oleh orangtua. Kebanyakan pernikahan di India merupakan hasil perjodohan, meskipun pasangan yang bersangkutan mendapatkan semakin banyak hak untuk berpendapat dalam hal ini, memperluas kesempatan untuk memveto atau menyarankan, dan waktu tambahan untuk berpacaran atau menjajaki hubungan sebelum mereka menikah.

Sedang di Botswana, sebuah negara di Afrika, Franz mengetahui kalau kita mengatakan kepada wanita bahwa dia gendut, berarti kita memberinya pujian besar. Kebanyakan pria justru menyukai wanita yang gendut untuk dijadikan istri, karena dianggap akan rajin mengurus rumah tangga. Dalam pikiran mereka, wanita yang kurus akan lebih mencintai tubuhnya daripada pasangannya.

Kalau anda ingin menikah dengan orang Botswana, anda akan memerlukan keluarga yang sangat dekat. Seorang abang atau sepupu yang bisa bernegosiasi akan dapat membantu. Yang lebih penting lagi adalah anda harus memerlukan hewan ternak berupa sapi. Di Botswana dan sebagian besar Afrika, sapi penting untuk pernikahan.

Selama berabad-abad, adat istiadat di sana mengharuskan mempelai pria menghadiahkan sekawanan kecil sapi kepada keluarga mempelai wanita sebagai simbol penghormatan karena mereka telah mengizinkan putri mereka dinikahi. Tradisi itu disebut bogadi atau lobala, sebagai cara untuk memperkuat ikatan antara kedua keluarga dan sebuah keharusan untuk berbagi kekayaan.

Lain halnya di Mesir, sebuah Negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Franz mendapatkan budaya di sana jika ada seorang wanita yang tertangkap basah sedang memandangi pria akan dianggap sebagai wanita jalang dan dikecam oleh masyarakat di sekitarnya. Mayoritas wanita kelas menengah ke bawah di sana memakai cadar dan jubah. Franz bertanya-tanya dan begitu penasaran, bagaimana para pria memastikan wanita impiannya jika seluruh tubuh wanita itu tertutup cadar dan jubah?

Saat menanyakan hal itu, para pria Mesir mengatakan bahwa mereka bisa melihat kecantikan seorang wanita meski mengenakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya. Pergelangan tangan dan kaki, kata mereka, menyembunyikan lekuk-lekuk yang tersembunyi. Dan mata mengungkapkan segalanya.

Sebagian pria Mesir memperhatikan bagian belakang pergelangan kaki wanita. Jika bentuknya bulat, berarti tubuhnya indah. Jika bentuknya lurus, berarti tubuhnya terlalu kurus. Pria dan wanita Mesir memandang kerampingan sebagai indikasi kemisikinan dan ketidakmampuan menghasilkan keturunan. Oleh karena itu, para wanita saling menyemangati untuk mengenakan pakaian berlapis-lapis dan makan lebih banyak agar badan mereka semakin gemuk.

Di perkampungan Mesir, masyarakatnya tidak mengenal istilah kencan. Mereka langsung menikah. Ajaran Islam benar-benar mereka pegang. Mereka sering mengutip Hadis Nabi, “Jika seorang pria yang beriman dan berkelakuan terpuji mendatangimu, nikahkanlah dia dengan putrimu.”

Bagaimana bisa? Franz benar-benar terperangah. Apakah tidak ada penyesalan yang akan datang di kemudian hari? Apakah yang terjadi jika mereka mendapati bahwa mereka tidak memiliki kesamaan?

Tidak masalah, kata orang Mesir. Itulah gunanya pertunangan. Bagi banyak orang Mesir, ini adalah Rencana B. Pertunangan hanyalah tahap pacaran resmi dengan selubung rencana pernikahan untuk mengurangi peluang kehilangan kehormatan bagi seorang wanita atau keluarganya.

Uniknya lagi, di Negara muslim ini, Franz menemukan bahwa prihal seks begitu terbuka.

Bagi siapa pun yang memikirkan tentang seks di dunia Muslim adalah bahwa banyak instruksi eksplisit dan dorongan. Tidak ada pesan tersembunyi di sini. Faktanya, sejarah telah membuktikan bahwa umat Muslim jauh lebih terbuka daripada orang-orang beragama lain tentang seks dan peranan yang selayaknya dipegangnya dalam masyarakat.

Buku hasil observasi ini begitu nikmat dibaca, karena dipaparkan dengan bahasa yang ringan, naratif, dan bertaburan humor. Selain itu, ia menyajikan kesimpulan hasil perjalanannya itu yang dapat kita ambil, di antaranya bahwa di seluruh dunia, nasihat pasangan yang awet ternyata sama: Komitmen, dan pengertian. Dan untuk mencapai hal itu butuh kerja keras. Kita cenderung menyembunyikan emosi di balik harta benda dan menampilkan kesan yang tidak akan dikecam oleh dunia kita. Sering kali, kita lebih mementingkan gaya hidup dari pada kehidupan di belakangnya.

Bagaimanakah akhir petualangan Franz Wisner? Pelajaran cinta apakah yang di dapatnya dari berbagai penjuru dunia? Lantas, berhasilkah dia menemukan cinta sejatinya? Temukan jawabannya dalam buku ini.[]

lintasberita

Lanjut Baca

Mentalitas Bangsa Pintar

Judul: Menjadi Bangsa Pintar
Penulis: Heppy Trenggono
Penerbit: Republika
Cetakan: I, Juli 2009
Tebal: 164 hlm.
--------------------

KETIKA Heppy Trenggono, penulis buku ini, pertama kali mengunjungi negara-negara Eropa—tepatnya di Belanda—sempat kaget dan kecewa luar biasa begitu tahu bahwa sebuah bangsa yang telah menjajah Indonesia selama beratus-ratus tahun ternyata hanyalah bangsa dari negara kecil yang memiliki wilayah sekitar 1/48 dari wilayah Indonesia, jumlah penduduknya hanya 9 juta jiwa dan luasnya hanya 41.526 km persegi.

“Mengapa bangsa Indonesia bisa dijajah oleh bangsa yang lebih kecil?” begitulah ia berujar dalam hati saat melihat negeri Belanda. Parahnya lagi, kesengsaraan bangsa Indonesia yang sejak sebelum kemerdekaan seolah-olah menjadi warisan turun temurun hingga saat ini. Dengan kata lain, meski Negara kita sudah merdeka, tapi kenyataannya kita masih saja terjajah tanpa disadari. Tidak hanya itu, warisan negatif dari penjajah juga terwariskan pada pribumi, seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Sudah mafhum kalau bangsa Indonesia kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA). Kekayaan alam Indoneia melimpah ruah. Luas wilayahnya yang mencapai hampir 2 juta km dari Sabang sampai Merauke itu sebagian besar tanahnya subur dan cocok untuk semua tanaman pangan.

Lautnya yang kaya dengan ikan terbentang seluas 2/3 luas wilayah Negara ini. Cadangan minyaknya diperkirakan mencapai lebih dari 45 miliar barel. Kekayaan batubaranya terbesar keempat di dunia. Timah nomor dua dunia. Dan masih banyak lainnya lagi.

Tapi, mengapa Indonesia masih saja terpuruk dan berjalan di tempat? Bahkan nyaris tertinggal jauh dari negara-negara yang berada di sekitarnya. Menurut Heppy Trenggono, ini adalah persoalan mentalitas. ‘Mentalitas’, lanjut Heppy, menjadi kata kunci yang membedakan antara bangsa-bangsa yang mampu meraih kejayaannya dan bangsa-bangsa yang tetap bertahan dalam keterpurukan, dalam hal ini adalah Indonesia.

Mentalitas bangsa Indonesia harus dibangun, di antaranya mentalitas pejuang, mentalitas pemenang, bangsa yang berbudi luhur, bangsa yang mampu bersaing, bangsa yang produktif. Dalam buku ini, mentalitas dari semua sisi itu mengkristal pada satu hal, yaitu menjadi bangsa pintar. Menjadi bangsa pintar inilah satu-satunya pilihan yang harus ditempuh untuk keluar dari keterpurukan dan meraih kejayaan Indonesia.

Heppy mengatakan bahwa kejayaan sebuah negara tidak ditentukan oleh seberapa berlimpah sumber daya alam yang dimiliki. Tidak juga ditentukan oleh seberapa luas wilayah yang dimiliki, tapi ditentukan oleh mentalitas bangsanya; apakah bangsa itu memiliki mentalitas pemenang atau pecundang, apakah memiliki mentalitas kaya ataukah mentalitas miskin, apakah memiliki mentalitas membangun atau mentalitas merusak, apakah memiliki mentalitas sebagai pekerja keras atau pemalas.

Coba kita lihat negara-negara lain. Jepang, misalnya. Pada Agustus 1945 Jepang mengalami kehancuran total setelah dua kota besarnya, Hiroshima dan Nagasaki, dibom oleh tentara sekutu.

Banyak pihak meyakini bahwa peristiwa itu sebagai akhir kejayaan Jepang. Namun kenyataan yang terjadi justru di luar perkiraan. Beberapa tahun kemudian, ternyata Jepang bangkit dari keterpurukan dan berubah menjadi Negara kuat dengan kemajuan industri melebihi kekuatan militernya pada perang dunia kedua. Sejak saat itu Jepang bangkit sampai sekarang.

Begitu juga dengan Swiss. Negeri ini dikenal sebagai Negara penghasil coklat terbaik di dunia. Padahal hanya 11 persen daratannya yang bisa ditanami. Uniknya lagi mereka tidak memiliki lahan yang tidak dapat ditanami coklat. Selain itu, Swiss juga mengolah susu dengan kualitas terbaik.

Malaysia adalah Negara paling dekat dengan Indonesia. Mentalitasnya sungguh luar biasa. Negara yang merdeka belakangan dari Indonesia ini sudah melesat sebagai Negara jaya. Nilai ekspor Malaysia saat ini mencapai 1,5 kali lebih besar dari Indonesia. Di sektor perkebunan, Malaysia telah mengubah sebagian besar lahan tidur yang tidak produktif menjadi area perkebunan kelapa sawit. Kawasan di sekitar bandara internasional Kuala Lumpur saja dikelilingi oleh perkebunan sawit.

Malaysia juga mengembangkan sektor pariwisata. Keyakinan dan spirit “Malaysia Trully Asia” mengidentifikasikan dirinya seolah-olah merupakan negeri yang mewakili Asia dalam sektor pelancongan tersebut. Malaysia kini mampu meraup tidak kurang dari 150 juta ringgit per tahun.

Menurut Heppy, selain belajar dari negara lain, Negara Indonesia juga harus membasmi mentalitas buruknya, yaitu korupsi dan hutang. Sudah menjadi rahasia umum bahwa korupsi di Indonesia tumbuh subur hampir di semua tempat. Secara horizontal, bila dahulu korupsi hanya terjadi di satu ranah kekuasaan (eksekutif) saja, kini korupsi juga ditemukan di lembaga legislatif dan yudikatif. Sedangkan secara vertikal, era otonomi daerah telah menggeser praktek korupsi dari korupsi terpusat (centralized corruption) menjadi korupsi terdesentralisasi (decentralized corruption).

Membangun mentalitas anti korupsi merupakan strategi preventif sekaligus kuratif terhadap kemungkinan lahir dan berkembangnya mentalitas korupsi yang menjadi cikal bakal korupsi. Perubahan mental perlu terus dilakukan dari waktu ke waktu.

Hutang ternyata menghambat tumbuhnya ekonomi dan mengakibatkan kontraksi belanja sosial dan merosotnya kesejahteraan rakyat, dan melebarnya kesenjangan sosial. Hutang juga mengakibatkan ketergantungan negara-negara dunia ke-3 pada modal asing.

Indonesia harus belajar pada Jepang. Jepang menjadi penghutang, karena membutuhkan pinjaman luar negeri untuk merekonstruksi pembangunan yang hancur akibat bom di Hiroshima dan Nagasaki. Namun Negara itu berkomitmen untuk berhenti berhutang. Pada 1961 mulai menyicil, periode 1975 melunasi hutang luar negeri, dan sejak 1977 jadi Negara donor terbesar di dunia.

Presiden Indonesia perlu belajar pada Presiden Venezuela, Hugo Chavez. Delapan tahun silam, segera setelah berkuasa pada 1999, Chavez telah membayar seluruh hutang Venezuela kepada IMF. Belum lama ini Venezuela juga telah melunasi hutangnya kepada Bank Dunia lima tahun lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan. Venezuela kapok untuk berhutang lagi ke IMF dan Bank Dunia. Kini, Venezuela terus berkembang dengan melesat, tanpa ada beban hutang.

Walhasil, buku ini hendak mengatakan bahwa Indonesia memiliki semua modal yang diperlukan untuk menjadi bangsa jaya sebagaimana sekarang dicapai oleh bangsa-bangsa lain seperti Amerika, Inggris, China, Singapura, Malaysia, dan lain-lain. Kunci untuk mewujudkan kejayaan Indonesia adalah komitmen untuk menjadi bangsa pintar, baik dari aspek kepemimpinan maupun mentalitas bangsanya.[]

M. Iqbal Dawami
Pemilik blog http://buku-ok.blogspot.com

lintasberita

Lanjut Baca

Memburu Makna di Ruang Privat

Judul: Mengikat Makna Update
Penulis: Hernowo
Penerbit: Kaifa, Bandung
Cetakan: I, Oktober 2009
Tebal: xxxii+213 hal. (termasuk indeks)
--------------------------------------

AKTIVITAS membaca dan menulis adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ibarat dua sisi mata uang. Kita dapat menulis suatu subjek akibat dari aktivitas membaca. Apa yang kita tulis adalah apa yang kita baca. Nah, dalam bahasa Hernowo, aktivitas baca-tulis ini disebut sebagai aktivitas “mengikat makna”. Akar dari hal ini diambil dari perkataan Ali bin Abi Thalib:"Ilmu itu seperti hewan buruan, maka ikatlah ia (dengan menuliskannya)."

Dalam jagad kepenulisan, nama Hernowo sudah tidak asing lagi. Buku hasil racikannya sudah melimpah ruah. Dan dapat dipastikan, konsep "mengikat makna" bisa ditemukan di semua karyanya. Dan karya-karyanya pun adalah hasil dari pengamalan konsep “mengikat makna.” Bahkan beberapa judul bukunya menggunakan kata-kata ini. Buku-buku Hernowo disukai pembaca karena mempunyai bahasa yang sederhana, ringan, dan mudah ditangkap maksudnya.

Hampir di semua bukunya ketika berbicara tentang membaca dan menulis, Hernowo selalu menekankan, bahwa menulis dan membaca bukanlah sebuah beban, apalagi hal membosankan, tapi aktivitas yang menyenangkan nan manfaat.

Konsep “mengikat makna” ditemukan atas dasar pengalaman pribadi Hernowo saat bergumul dengan kegiatan membaca. Ketika selesai membaca, tiba-tiba saja banyak materi yang diperolehnya. Agar materi tersebut tidak lupa, maka ia harus dituliskan. Itulah yang dimaksud mengikat makna. Maka, secara tidak langsung kegiatan “mengikat makna” kemudian memberikan sebuah kesadaran akan pentingnya melanjutkan kegiatan menulis usai menjalankan kegiatan membaca.

“Mengikat makna” menjadi sebuah proses penemuan diri bagi Hernowo, di mana dirinya tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan unik. Dari seorang yang sering gagap dalam berbicara atau mengutarakan pendapat, menjadi seorang yang bisa menampilkan diri perlahan-lahan dan menemukan gaya-menulisnya.

Apa yang kita baca bisa jadi tidak menghasilkan apa-apa jika kemudian tidak ditulis (atau “diikat”). Sebaliknya, menulis memerlukan membaca karena membaca akan memudahkan kita mengeluarkan pikiran dan perasaan dengan bantuan kata-kata yang telah tersimpan di dalam diri kita. Lebih dari itu, proses membaca dan menulis adalah upaya menghimpun hikmah yang berserak menjadi referensi dalam memperkaya hidup dan kehidupan. Secara gamblang jabaran konsep mengikat makna dapat dibaca dalam bukunya Mengikat Makna (2001).

Lantas, apa perbedaan buku terdahulunya (Mengikat Makna,2001) dengan buku terbarunya Mengikat Makna Update (2009) ini yang sama-sama membahas konsep “mengikat makna”. Tak lain, buku ini merupakan pengembangan konsep “mengikat makna” dalam buku pertamanya. Dari pengertian “makna” tidak ada perbedaan dengan terdahulu. Hanya, pada yang pertama rujukan pengertiannya filosofis, sedang dalam buku ini tampak lebih praktis. Poin-poin mengikat makna sendiri ada empat pilar: Pertama, “mengikat makna” adalah kegiatan yang memadukan membaca dan menulis. Pilar pertama ini dianggap sebagai pilar yang paling pokok dan merupakan “nyawa” konsep “mengikat makna”.

Kedua, “mengikat makna” adalah kegiatan yang sangat personal atau benar-benar diupayakan agar melibatkan diri pribadi yang paling dalam (inner-self). Ketika seseorang ingin menjalankan kegiatan “mengikat makna”, dia harus menganggap bahwa dirinya sedang berada sendirian di muka bumi.

Ketiga, “mengikat makna” memerlukan kontinuitas dan konsistensi karena konsep ini adalah sebuah keterampilan sebagaimana memasak, menari, atau pun mengendarai mobil. Dengan melakukannya secara kontinu dan konsistenlah, seseorang akan merasakan manfaat luar biasa. Keempat, “mengikat makna” akan efektif jika menggunakan teknik membaca dan menulis yang berbasiskan cara kerja otak, yang oleh Hernowo sebut sebagai “brain based writing”. Teknik “brain based writing” sendiri sudah mencakup “reading”.

Namun di antara pengembangan dari keempat pilar di atas, yang paling penting dan bahkan inti dari buku ini adalah ada pada pengembangan pilar kedua, yaitu bahwa kegiatan “mengikat makna” perlu dilakukan di “ruang privat”.

Ruang privat yang dimaksud adalah sebuah tempat yang di dalam tempat itu hanya ada diri kita: sendirian. Secara hampir mutlak, yang mengendalikan ruang atau tempat ini adalah diri kita sendiri. Tidak ada yang dapat mencampuri ruang privat milik kita. Sesosok diri dapat melakukan apa saja di dalam ruang tersebut. Tidak ada orang lain, meskipun orang itu sangat kompeten dalam suatu bidang, yang boleh masuk ke ruang tersebut.

Dengan menulis di ruang “privat” itulah kita dapat mengeluarkan segenap “diri kita” yang sesungguhnya, karena tak ada yang menilai tulisan kita seperti apa dan apa pula yang kita tulis. Dengan cara itu, pembelajaran menulis akan efektif dan kita akan merasakan plong yang luar biasa.

“Ruang privat” inilah yang kerap digunakan Hernowo untuk “mengikat makna”. Efeknya luar biasa, dia menjadi keranjingan membaca dan kemudian menuliskan apa saja—untuk mendapatkan makna—karena “mengikat makna” benar-benar menyelamatkan dirinya dari
kebosanan membaca dan menulis.

Kita tahu bahwa membaca dan menulis adalah sebuah ketrampilan. Lewat “ruang privat” ini pula, Hernowo dapat menulis secara mencicil dan kontinu, sehingga dia dapat trampil dalam “mengikat makna”. Bagi kebanyakan orang, hal ini yang paling sulit. Harus diakui, untuk dapat menghasilkan tulisan yang baik perlu waktu. Bahkan, perlu memperkaya tulisannya dengan banyak membaca. Oleh sebab itu, menulis di “ruang privat” ini dapat membantu menampung “bahan-bahan” yang belum selesai.

Buku ini cocok sekali bagi siapa saja yang ingin belajar menulis bahkan yang sudah lama sekalipun berkecimpung dalam dunia baca-tulis. Buku Hernowo yang berbasis “privat” ini nampaknya selaras dengan apa yang dikatakan Virginia Woolf, penulis Inggris, bahwa cara terbaik untuk membaca adalah dengan menulis. Membaca bukan bagian terpisah dari menulis. Keduanya pembentuk jalan ke masa depan. Keduanya merupakan bagian yang memungkinkan perkembangan individual, pemikiran kritis yang independen, dan pembangkit kepekaan terhadap kemanusiaan. []

lintasberita

Lanjut Baca

Bukan Cinta Biasa

Judul: The Gargoyle
Penulis: Andrew Davidson
Penerjemah: Ary Nilandari
Penerbit: Kantera
Cetakan: I, Juni 2009
Tebal: 605 hlm.
-----------------

“L’amour n’est pas parce que mais melgre”, cinta itu bukan ‘karena’ tapi ‘walaupun’. Begitulah bunyi pepatah orang Perancis. Pepatah itu dapat dimaknai bahwa cinta (sejati) itu mau menerima pasangan kita dengan apa adanya dan tak lekang oleh ruang dan waktu. Itulah yang dilakukan Marianne Angel, seorang wanita yang mencintai laki-laki yang sekujur badannya telah gosong karena terbakar dalam novel The Gargoyle. Gargoyle adalah makhluk mitologi eropa yang biasanya dibuat patungnya di atap bangunan-bangunan kuno.

Novel The Gargoyle adalah karya perdana Andrew Davidson yang sungguh memukau. Tak heran dia berhasil meraih penghargaan First Fiction Award pada 2008. Novel ini juga masuk dalam beberapa daftar best seller seperti di New York Time Best Seller, Publisher Weekly Best Seller, dan Canadian Best Seller dalam beberapa minggu. Sebagai debut pertama yang langsung menyabet penghargaan bergengsi patut diacungi jempol.

Boleh jadi raihan penghargaan di atas, akibat sang penulis yang hendak ingin menjelaskan seperti apa cinta sejati itu. Dan kesimpulannya adalah bahwa cinta sejati itu bukan disebabkan karena keindahan; kecantikan, ketampanan, kecerdasan, dan sebagainya, apalagi kesempurnaan, melainkan sebaliknya: penuh kekurangan. Paradigma cinta yang diusung Andrew lewat The Gargoyle ini sungguh melawan arus dari kehidupan orang barat.

Novel ini diawali dengan dentuman dahsyat. Seorang bintang porno nekat menerjunkan mobilnya ke dalam jurang karena menghindari serbuan anak panah imajiner yang ada dalam halusinasinya. Tubuhnya terbakar. Sebotol barbon yang diapit di antara kedua pahanya serentak menghanguskan alat vitalnya seperti daging panggang. Namun sebelum sakaratul maut menjemputnya ia tersadar diri oleh dinginnya air sungai yang menyelamatkan hidupnya.

Penderitaan pun tak terelakkan, seorang aktor porno—35 tahun—itu kehilangan semuanya. Karir dan keberuntungannya tamat. Kulit dan alat vitalnya (sebagai modal bintang film porno) yang menawan semuanya hangus terbakar. Tujuh minggu lamanya ia koma di rumah sakit. Sepanjang waktu di rumah sakit dihabiskannya untuk memikirkan metode bunuh diri.

Di tengah keputusasaannya, muncul seorang pengunjung misterius yang bakal menghabiskan cerita dalam novel ini lebih dari 400 halaman. Pengunjung tersebut ternyata seorang pasien juga yang menderita skizofrenia dan manic-depressive bernama Marianne Angel. Ia muncul dengan rambut yang nyaris awut-awutan dan pandangan matanya yang sulit ditebak. Ia tiba-tiba membisikkan pada lelaki itu bahwa di antara mereka adalah sepasang kekasih di abad 14, di Jerman. “Aku telah menunggu begitu lamanya,” gadis itu berkata.

Tentu lelaki itu tak percaya meskipun gadis itu tengah mengenakan jubah yang menampakkan potongan abad pertengahan. Sang mantan aktor itu tetap berasumsi bahwa Marianne adalah penderita Skizrofenia. Pada awalnya, lelaki itu terus mengabaikan “si gila” Marianne Engel. Namun, lambat laun lelaki itu mulai percaya. Dan dengan kepercayaannya, menjadikannya dirinya menjadi manusia yang lebih baik.

Novel ini menjadi semakin menarik dan menggetarkan. Di sepanjang cerita yang terus berlanjut, Marianne tetap sebagai figur yang misterius. Kesehatan jiwanya terus dipertanyakan. Dunia kesehariannya adalah sebagai pemahat patung Gargoyle yang sangat ternama. Dia kerap tidur bertelanjang di atas lempengan batu yang akan dipahatnya di ruang bawah tanah kastil miliknya. “Aku menyerap mimpi-mimpi dari dalam batu itu…, dan gargoyle-gargoyle di dalamnya memberitahu hal-hal yang kuperlukan untuk membebaskan mereka.”

Tanpa syarat apa pun Marianne mencurahkan segenap perhatiannya untuk pria berbadan gosong yang diyakini sebagai kekasihnya. Ia kisahkan cerita-cerita fantastis tentang dongeng kesatriaan seorang pecinta sejati yang berakhir di tiang gantungan. Serta kisah-kisah romantis yang mengesankan cukup membuat mantan sang aktor porno itu mampu melupakan niatnya untuk melakukan bunuh diri. Marianne juga bercerita tentang bangsa Viking dan kekuasaan feodal Jepang yang sangat menarik.

Begitu juga petualangan memesona mengenai kisah romantik di antara mereka sendiri yang terjadi jauh di abad pertengahan, Jerman, Tepatnya ketika Marianne menjadi seorang penerjemah brilian di Biara Engelthal. Sedang lelaki itu adalah seorang prajurit bayaran yang tengah sekarat di terjang panah berapi, namun sebuah salinan buku Dante yang disematkan di sakunya telah menyelamatkannya. Di situlah getaran-getaran hati membawa mereka mengarungi hidup bersama meski banyak aral yang melintang.

Marianne dan epik cintanya mampu menyeberangi jurang waktu dan tempat. Cinta sejati yang menyatu di abad silam dan secara mengejutkan dipertemukan kembali di masa sekarang. Inilah novel yang sangat inspiratif untuk orang yang percaya adanya konsep cinta sejati; untuk orang yang percaya adanya sesuatu yang lebih kuat dan lebih bermakna dari sekadar seksualitas.
Semua kisah yang ada di dalam novel ini menegaskan bahwa jangan ada lagi niat untuk melepaskan harapan. Pelajaran-pelajaran yang didengungkan, cinta yang dipertemukan, dan kepercayaan yang diungkap, semuanya menjadi sesi inti yang berasal dari kawah imajinasi sang penulis.[]

M Iqbal Dawami
Penikmat sastra, tinggal di Yogyakarta

lintasberita

Lanjut Baca

Pudarnya Sejarah Islam di Indonesia

Judul : Api Sejarah
Penulis : Ahmad Mansur Suryanegara
Penerbit : Salamadani
Cetakan: I, Juli 2009
Tebal : xxii + 584 hlm.
----------------------

SEJARAH memang hanya urusan masa lalu, karena sifatnya yang tak bisa diubah. Tapi, dampaknya boleh jadi akan terus dirasakan sampai kapan pun. Di sinilah perlunya untuk dipikirkan kembali prihal suatu sejarah yang telah mapan. Lebih-lebih jika sejarah itu menyangkut dan menempati posisi strategis dalam konteks berbangsa dan bernegara.

Misal, penulisan sejarah Islam Indonesia dan kiprah muslim dalam perjuangan melawan penjajah. Sejarah itu merupakan rekam jejak penting bagi kaum muslim Indonesia. Sejarah tumbuh, kembang, dan jatuh bangunnya peradaban Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran kaum muslim terdahulu. Bahkan sejarah berdirinya Indonesia—diakui atau tidak—tidak dapat dilepaskan dari peranan kaum muslim.

Diakui atau tidak, peradaban bangsa Indonesia yang kini ada merupakan proses panjang yang sarat nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan yang tak ternilai harganya oleh kaum muslim terdahulu. Namun, fakta-fakta penting bisa jadi masih belum terungkap dan terakses oleh masyarakat dari generasi ke generasi. Kita hanya tahu bahwa kaum muslim ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ya, hanya sampai di situ. Dan kita pun manut dengan penulisan sejarah Islam tanpa menelaah lebih jauh. Padahal, hal itu menyisakan sejumlah pertanyaan dan masalah. Misalnya, dapatkah kita membedakan antara kemunculan Islam dan perkembangannya di Indonesia; mengapa situs-situs Islam terutama di Jawa Barat dan Banten tidak terawat, lainnya halnya dengan situs-situs Hindu dan Budha, semisal candi Borobudur dan Prambanan. Masih banyak lagi.

Dalam konteks itulah buku Api Sejarah ditulis. Ahmad Mansur Surya Negara, Sang penulisnya, memaparkan bahwa penulisan sejarah telah dijadikan alat oleh penjajah untuk mengubah wawasan generasi muda Islam Indonesia tentang masa lalu perjuangan bangsa dan negaranya. Maksud dari upaya penjajah tersebut adalah untuk menghilangkan kesadaran umat Islam dalam perjuangannya.

Salah satunya adalah merancukan antara Islam masuk dan saat perkembangannya. Padahal, menurut Ahmad, kedua hal tersebut jauh berbeda pengertiannya. Beberapa fakta dia paparkan. Selama ini yang populer Islam masuk ke Indonesia adalah abad ke-13 melalui Aceh. Buktinya adalah terdapat kerajaan Samudra Pasai yang menganut ajaran Islam. Fakta tersebut ada yang patut dipertanyakan, mungkinkah Islam begitu masuk ke Samudra Pasai langsung mendirikan kekuasaan politik?

Kata Ahmad ada fakta lain yang lebih shahih. Pada abad ke-11, di pulau Jawa telah berdiri pula kekuasaan politik Islam di Leran, Gresik, Jawa Timur yang didirikan oleh Fatimah binti Maimun. Pendirian kekuasaan politik Islam tersebut hampir bersamaan waktunya dengan tahta kekuasaan politik Hindu di Kediri, Jawa Timur, di bawah Raja Airlangga.

Berdirinya kekuasaan politik Islam di Gresik jauh sebelum kerajaan Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, pada 1294. Keberadaan nisan Fatimah binti Maimun (di Gresik) karena bersifat nisan tunggal, oleh sejarawan tidak diakui keberadaannya.

Dari fakta sejarah ini, tergambarkan bahwa kekuasaan politik Hindu, Budha, dan Islam dapat dikatakan hampir mempunyai kesamaan waktu keberadaannya di Indonesia. Hanya dalam perjalanan sejarah berikutnya, agama Islam berhasil memenangkan massa mayoritas. Jadi, kemunculan Islam di Indonesia jauh melebihi yang kita perkirakan.

Demi memperkuat argumen di atas, Ahmad mencoba memetakan Indonesia dalam konteks global. Dia membahas terlebih dahulu perkembangan Islam di timur tengah, asia afrika, dan eropa sebelum dan sesudah meninggalnya Nabi Muhammad (632 H), setelah itu barulah masuk pembahasannya ke Indonesia. Ahmad menganggap bahwa pembahasan seperti itu perlu dilakukan karena segenap perubahan yang terjadi di timur tengah, asia afrika, dan eropa pada masa Nabi Muhammad sebelum dan sudah wafatnya sangat berpengaruh terhadap masuk dan perkembangan Islam di Indonesia.

Saat membahas eropa, ada hal yang menarik dari analisa Ahmad prihal imperialisme Barat. Jadi, pada saat pudarnya kekuasaan Hindu dan Budha serta berkembangnya kekuasaan Islam, datanglah prahara imperialisme Barat mulai menanamkan kekuasaannya di Indonesia. Diawali dengan masuknya Portugis menduduki Malaka, pada 1511. dan diikuti Belanda menduduki Jayakarta, pada 1619. Timbulnya imperialisme barat sendiri adalah sebentuk usaha untuk menaklukkan Islam. Ide ini dibangun oleh Vatikan, Portugis dan Spanyol pada abad ke-15 M.

Pihak Vatikan memberikan kewenangan kepada kerajaan Portugis untuk menguasai dunia belahan timur, sedang kerajaan Spanyol diberikan kewenangan untuk menguasai dunia belahan barat. Dalam perkembangannya, gerakan komunis menentang imperialisme barat tersebut. Tidak heran jika Karl Marx, penganut komunisme, menolak ajaran agama. Dia menilai agama sebagai candu, dan agama identik dengan alat penjajahan, buat menidurkan rakyat yang ditindas oleh pemerintah penjajah yang didukung oleh Vatikan untuk merealisasikan tujuannya, yaitu tiga G: God, Glory, and Gospel.

Oleh karena itu, tidak heran ketika imperialisme barat (baca: Portugis dan Belanda) bercokol di Indonesia mencoba “menaklukkan” masyarakat muslim, di samping karena sering mendapat perlawanan yang sengit namun juga menjadi embiro istilah ‘nasionalisme’. Salah satu upayanya adalah “menghancurkan” situs-situs Islam dan menonjolkan situs-situs Hindu dan Budha. Di antara usaha itu adalah pemerintah Belanda memugar candi Borobudur dan candi Prambanan.

Dari upaya rekonstruksi sejarah, pemugaran candi dan patung, serta pembacaan ulang prasasti Hindu dan Budha, ditargetkan akan memudahkan upaya menghidupkan kembali ajaran Hindu dan Budha. Dengan demikian akan tergeserlah pengaruh Islam. Sebaliknya, peninggalan Islam dibiarkan begitu saja. Salah satunya peninggalan sejarah Banten, yaitu kerajaan Banten. Bekas kesultanan Banten itu pun dibiarkan rata dengan tanah. Jadi, kebangkitan semangat keislaman masyatakat Banten yang pernah berjaya diperhitungkan akan sangat membahayakan eksistensi Batavia pada waktu itu. Oleh karena itu harus dihancurkan.

Dengan begitu, keberadaan Belanda akan aman dan tidak lagi menemui perlawanan karena kalangan penganut Hindu dan Budha ditargetkan akan berpihak kepada pemerintah Belanda. Sungguh, pemerintah Belanda sangat khawatir akan bangkitnya kesadaran sejarah masyarakat muslim.

Buku yang ketebalannya mencapai 584 halaman ini boleh dibilang sangat antusias untuk memaparkan sejarah Islam Indonesia dari kemunculannya hingga tahun 1950. Fakta-fakta lainnya dalam buku ini jarang ditemukan dalam buku-buku sejarah Islam Indonesia sehingga cukup menggelitik untuk ditelaah lebih jauh. Namun, referensi yang dipakai sang penulis dalam menggunakan argumentasinya memaksa kita untuk berpikir dua kali untuk membantahnya.

Hanya saja, patut disayangkan, buku ilmiah ini sedikit “ternoda” oleh ambisi sang penulis sendiri yang kentara sekali ingin memunculkan istilah ulama dan santri. Kesan yang saya tangkap bahwa yang dimaksud kaum muslim dalam perjuangan pada zaman pra dan pasca kemerdekaan hanyalah ulama dan santri. Tentu, hal itu mengecilkan kaum muslim sendiri yang notabene-nya banyak kaum muslim yang berada di luar dua kelompok itu. Mestinya, dijelaskan terlebih dahulu apa yang dimaksud ‘ulama’ dan ‘santri’ itu?

Selain itu, beberapa hal juga sedikit mengganggu dalam membaca buku ini, seperti di halaman 100 paragraf kedua, mestinya di situ ditulis ‘sunni’ bukan ‘ahlush shunnah wal jama’aah’, karena dikontraskan dengan ‘syi’ah’. Dalam hal penulisan juga masih banyak ditemukan kesalahan, seperti ‘wirauswasta’ yang mungkin dimaksud adalah ‘wiraswasta’. Hal ini termasuk dalam judul. Jika di cover depannya tertulis judul kecilnya Buku yang akan Mengubah Drastis Pandangan Anda Tentang Sejarah Indonesia sedang di halaman Pembuka-nya (hlm. 23), sang penulis menulis judul kecilnya Mahakarya Perjuangan Ulama dan Santri, Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi, mana yang benar? []

lintasberita

Lanjut Baca

Membongkar Organisasi Perusak Dunia

Judul: Secret Societies: 21 Organisasi Perusak Dunia
Penulis: Michael Bradley
Penerjemah: Ety Triana
Penerbit: Rajut Publishing House, Jakarta
Cetakan: IV, 2009
Tebal: 209 hlm. (termasuk indeks)
---------------------

Sejak awal terbit, buku ini ternyata mampu menyita perhatian banyak orang. Terbukti, pada 2009, buku ini sudah mengalami cetak ulang yang keempat (dari tahun 2008). Rasa penasaran adalah hal yang menjadi daya magnet buku ini. Betapa tidak, buku berjudul Secret Societies:Organisasi Perusak Dunia ini hendak membuat penasaran kita, bahwa ada 21 organisasi rahasia yang terbukti telah merusak dunia baik secara lokal maupun inter-lokal dari pelbagai sisi: politik, ekonomi, budaya, dan lain-lain.


Yang dimaksud Secret Societies oleh Michael Bradley—sang penulis buku ini—adalah sekumpulan organisasi sosial maupun (atas nama) keagamaan di seluruh dunia dari masa ke masa yang mewajibkan anggota-anggotanya untuk menyembunyikan aktifitas-aktifitas tertentu dari orang luar seperti ritual inisiasi atau upacara perkumpulan. Anggota-anggotanya mungkin diwajibkan untuk menyembunyikan atau menyangkal keanggotaan mereka dan sering disumpah untuk menjaga rahasia perkumpulannya. Biasanya, mereka identik dengan rencana-rencana politis;pembentukan pemerintahan global atau apa yang disebut dengan Tata Dunia Baru (The New World Order – NOW). Ciri khas mereka adalah mencari keuntungan untuk dirinya sendiri dengan pelbagai cara, meski dengan cara kotor sekalipun.

Bradley menulis buku ini dengan maksud agar masyarakat dunia mengenal komplotan – komplotan rahasia paling berbahaya di dunia. Merekalah para pengendali ekonomi, politik dan seluruh isu – isu global internasional. Secara kasat mata, komplotan itu menampilkan diri moderen dan terhormat di mata publik, namun berbeda dengan pekerjaan mereka sebenarnya.

Organisasi-organisasi yang mereka susun sangat rapi. Mereka memulai menjajah dan meneror, melalui politik, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan seterusnya. Keduapuluh satu organisasi yang dimaksud adalah The Assasin, The Bilderbergers, The Bohemian Club, The Club of Rome, Council on Foreign Relations (CFR), Essex Junto, Freemasonry, The Golden Dawn, The Illuminati, Knight Templar, Ku Klux Klan, Mafia, Majestik-12 The Aviary and The Aquarium, Mensur, Opus Dei, The Order of Skull and Bones, Sionus Prioratus, The Rosicrucians, The Round Table, Triad, dan Trilateral Commision.

The Assasin (abad 12-13), misalnya, sebuah organisasi yang berasal dari Syiria namun kekuasaannya meliputi negara-negara Islam di timur tengah. Organisasi ini disebut Nizariyah, karena mereka berusaha mengembalikan pangeran Nizar Al-Toyyib (dianggap sebagai reinkarnasi Nabi Ismail) ke tahta kekuasaan Mesir. Komplotan ini mulai disebut The Assasin karena mulai mencuci otak para pemuda untuk diperbudak dengan menempatkan mereka di istana layaknya surga dunia. Untuk mendapatkan kenikmatan surga tersebut mereka halalkan segala cara dan rela meski nyawa sebagai taruhannya. Pengaruh Assasin menyebar ke seantero jagad hingga pertengahan abad 13.

Jika The Assasin dan beberapa organisasi lainnya seperti The Bohemian Club, The Club of Rome, Essex Junto, The Golden Dawn, Ku Klux Klan eksis pada abad yang lampau, sedang—sekadar menyebut—The Bilderbergers, CFR (Council on Foreign Relationship), Freemasonry dan Trilateral Commission adalah beberapa organisasi yang eksis pada masa kini. Keempat organisasi ini memiliki hubungan erat dan saling berelasi. Mereka menguasai minyak & mineral dunia, bank sentral dunia, media massa, teknologi persenjataan, dan penguasaan pangan.

Menurut Bradley, anggota organisasi The Bilderbergers adalah orang-orang penting dalam pemerintahan di Eropa dan Amerika, seperti Bill Clinton mantan presiden AS, Pangeran Charles, Ratu Sophia dari Spanyol, Ratu Beatrix dari Belanda, keluarga Rockefeller Amerika dan Rothschild Eropa.

Organisasi ini didirikan pada tahun 1968 dan merupakan salah satu organisasi terbesar di dunia. Ada yang menyebutnya komplotan elit rahasia yang berambisi menguasai dunia. Untuk menjalankan misi, mereka berkedok "kerja sama" yang didukung oleh kalangan elit dunia, Bank Dunia hingga Dana Moneter Internasional (IMF).
Banyak hal yang terjadi di dunia, termasuk di Indonesia—krisis ekonomi, pergantian rezim, perang, dan lain sebagainya—tak lepas dari peran kelompok rahasia ini. Semua ini demi memantapkan hegemoni mereka.

Menurut hasil penelusurannya, komplotan Bilderberg ini tidak punya nama dan eksistensi resmi. Mereka beranggotakan politisi elite dunia yang berjumlah 100 orang lebih; terdiri dari para pakar keuangan internasional, bos-bos internasional, para pemimpin politik dan keluarga-keluarga kerajaan Eropa.

Contohnya Bill Clinton. Saat masih menjadi gubernur, dia dijadikan alat organisasi ini guna menaklukkan North America Free Trade Agreement (NAFTA). Untuk itu, Clinton terpilih sebagai presiden AS. Mereka juga pernah menjebak Uni Soviet dengan bantuan finansial. Kompensasi yang harus dibayar adalah Uni Soviet menyerahkan sumber daya alam. Hal ini juga diterapkan pada negara-negara berkembang. Tujuan mereka agar negara-negara dunia ketiga lumpuh dan bergantung total kepada mereka. Setelah mendapat pinjaman dana dari IMF, penduduk negara-negara berkembang menjadi hamba sahaya abadi untuk melayani kepentingan mereka. Bukankah hal ini menjadi kenyataan pada masa kini, termasuk Indonesia?

Harus diakui informasi keduapuluh satu organisasi yang didapat dari buku ini memang tidak terlalu banyak. Ulasannya kurang mendalam. Oleh karena itu, buku ini hanya menjadi semacam pengantar saja, tak lebih. Secara tematis, buku ini pun kurang lengkap, karena tidak mencantumkan beberapa secret societies yang juga berpengaruh seperti: Jesuit, Zionist, CIA, MI-5, MI-6, MOSSAD, dan KGB.

Meski begitu, buku ini dapat dipercaya informasinya. Bahkan, di akhir halaman buku ini, penulis menantang pembaca untuk mengumpulkan semua alasan, jika tak satupun fakta isi buku ini benar. Sebab, buku ini ditulis dengan menggunakan riset dan penelitian yang matang. Ditambah dengan ilustrasi-ilustrasi yang relevan dengan masing-masing organisasi yang disebutkan tersebut.[]

M Iqbal Dawami,
Staf pengajar STIS Magelang

lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar