Tampilkan postingan dengan label Sumatra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumatra. Tampilkan semua postingan

Buku Cut Nyak Din: Kisah Ratu Perang Aceh - ulasan

Cut Nyak Din: Kisah Ratu Perang Aceh
Madelon H. Szekely-Lulofs
14x21 cm, 256 pages
Published July 1st 2010 by Komunitas Bambu (first published 1948)
ISBN: 9793731818

Apa yang teringat di benak kita bila ditanyakan tentang Aceh? barangkali langsung terlontar "Serambi Mekah" atau salah satu Daerah Istimewa disamping Yogykarta. Namun, sebuah jawaban yang memilukan muncul dari seorang warga Aceh, "Dulu DOM, lalu GAM, lalu Darurat Militer, lalu Darurat Sipil, dan sekarang tsunami. Itulah nasib kami, orang Aceh." (Sekelumit Tentang Aceh: Danny I. Yatim. 2004).

Selanjutnya, jika ditanyakan, siapakah itu Cut Nyak Din? Dengan berbekal pelajaran sejarah di sekolah dulu kita akan menjawab, Pahlawan dari Aceh bersama Teuku Umar, seraya mengingat-ingat foto beliau yang terpampang di dinding kelas.



description

dan fotonya pernah terpampang di pecahan sepuluh ribu rupiah.


description

Buku ini berjudul asli Tjoet Nja Din : de geschiedenis van een Atjehse vorstin yang ditulis oleh Madelon Hermine Székely-Lulofs, pada Tahun 1948.


Lewat buku ini, Lulofs menuliskan kembali hikayat Perang Kompeni dengan memasukkan data-data detil tentang peristiwa mulai dari asal mula datangnya Machudun Sati dari tanah Minang ke tanah Aceh, bentuk sosial pemerintahan rakyat Aceh saat itu yang menggunakan istilah mukim, sagi, uleebalang, panglima, kesultanan.

Cut Nyak Din dilahirkan di Lampadang pada Tahun 1850. Ia adalah putri uleebalang Mukim 6, Teuku Nanta Setia. Ia dibesarkan dalam kehidupan beragama dan adat yang kuat. Pada Tahun 1862 Cut Nyak Dien dilamar dan dinikahkan pada usia 12 tahun dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga, putra dari uleebalang Lamnga XIII.
Sebelum konflik besar antara Belanda dan Aceh, sebenarnya Aceh sudah hidup damai berdampingan dengan bangsa lain. Namun, Belanda tertarik untuk menguasai Aceh, karena posisinya yang strategis untuk berdagang akibat dibukanya Terusan Suez dan menjadi saingannnya Malaka saat itu. Selain itu, Kesultanan Aceh menjalin hubungan diplomatik dengan Konsul Amerika, Italia dan Turki di Singapura. Belanda memulai serangannya dengan menembakkan meriam ke arah dataran Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. Perang Aceh pun meletus, puncaknya pada 8 April 1873, Belanda di bawah pimpinan Jenderal Kohler menguasai Mesjid Raya kebanggaan rakyat Aceh, Baiturrahman, serta membakarnya.

Cut Nyak Din sangat geram. Ia turut merebut Mesjid Raya Baiturrohman pada tanggal 10 April 1873, dan ia menjadi saksi Jenderal Kohler tertembak. Ucapan Kohler yang terkenal pada saat-saat maut merenggut jiwanya: "0, God, ik ben getroffen!"("Ya Tuhan, aku terkena peluru!")

Perang kedua dibawah Jenderal Van Swieten berhasil menduduki kesultanan dan Mesjid Raya Baiturrahman dan Belanda menjadikkannya sebagai pusat pertahanan Belanda pada Januari 1874. Mesjid ini lalu dibakar Belanda, karena dianggap sebagai tempat pertahanan pejuang Aceh. Cut Nyak Din bersama dengan rombongan wanita Aceh lainnya akhirnya harus meninggalkan Mukim VI karena kondisi sudah tidak kondusif lagi. Perjuangan diteruskan. Suaminya bertempur untuk merebut kembali Mukim VI. Ketika Ibrahim Lamnga bertempur di Gle Tarum, ia tewas pada tanggal 29 Juni 1878. Hal ini membuat Cut Nyak Dhien sangat marah ditambah karena direbut dan dibakarnya Mesjid Raya Baiturrahman, dan ia bersumpah akan menghancurkan Belanda.

Ia menikah kedua kalinya pada Tahun 1880. Cut Nyak Din berkeras bahwa ia akan menikah dengan orang yang akan membalas kematian ayah dan suami pertamanya. Ia menerima lamaran Teuku Umar. Teuku Umar digambarkan sebagai orang yang suka bersenang-senang, suka mengumpulkan harta, dan mencari kekuasaan. Sebelum menikah dengan Din, Teuku Umar sudah pernah menikah. Teuku Umar menikah dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang. Untuk meningkatkan derajat dirinya, Teuku Umar kemudian menikah lagi dengan Nyak Malighai, puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim. Sejak saat itu, ia mulai menggunakan gelar Teuku. Pada tahun 1880, Teuku Umar menikahi janda Cut Nyak Dien, puteri pamannya (Suami Cut Nya Dien, yaitu Teuku Ibrahim Lamnga meninggal dunia pada Juni 1878 dalam peperangan melawan Belanda di Gle Tarun). Teuku Umar dituduh berkhianat terhadap rakyat Aceh karena ia sangat dekat dengan penguasa Belanda. Pihak Belanda sangat senang dengan keberadaan Teuku Umar di pihak mereka, karena itu, Teuku Umar dianugerahi gelar Teuku Umar Johan Pahlawan. Teuku Umar diberi hak untuk membentuk legiun pasukan tersendiri. Akhirnya berbagai harta benda dan senjata mengalir dari kantor Belanda ke kediaman Teuku Umar.

Yang menarik diceritakan buku ini perihal Teuku Umar adalah ketika Cut Nyak Din mengajaknya berbicara empat mata. Apa yang disampaikan Din, membuat Umar terusik. Mengapa tidak, di tengah dendam Din terhadap Belanda kaphe itu, Din merasa suaminya tidak di dalam rencana besar untuk mengenyahkan penjajah dari Tanah Aceh. Akhirnya Umar pun menyadari bahwa kedudukannya di Banda Aceh pun mulai tidak nyaman lagi. Kecurigaan Belanda terhadap Umar semakin besar manakala ketika Umar diminta untuk mengamankan suatu wilayah yang sedang ada pemberontakan, daerah yang didatangi Umar sontak sepi tak berpenghuni.

Akhirnya Umar membuka kedoknya. Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar. Dengan persenjataan dari Belanda ia akhirnya tidak kembali lagi ke Belanda. Pengkhianatan Umar ini terkenal dengan istilah Het verraad van Teukoe Oemar (pengkhianatan Teuku Umar).

Belanda memburu Teuku Umar dan Cut Nyak Din, pada suatu penyerangan mendadak di daerah Meulaboh, Teuku Umar tertembak. Ia tewas pada tanggal 11 Februari 1899. Selanjutnya tampuk pimpinan perang melawan Belanda diambil alih oleh Din. Selama kurun waktu enam tahun ia memimpin gerilya. Sampai suatu ketika, anak buahnya, Pang Laot meminta dengan iba kepada pihak Belanda supaya memperlakukan Din dengan baik, mengingat Din semakin lemah keadaanya. Penyakit encok dan rabun menyerangnya. Belanda akhirnya menemukan tempat persembunyian Din, serta menangkapnya. Karena berpendapat tidak tepat membiarkan Din di Aceh karena suatu saat semangat Aceh akan kembali bergelora, ia diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat, pada Tahun 1905. Dan Din menutup matanya tidak di tanah Aceh lagi, tetapi di tanah Sumedang.

Apa yang dituliskan oleh Lulofs setidaknya harus diterjemahkan dalam konteks zaman sekarang, bahwa pemaknaan kisah perjuangan Din dapat disarikan sebagai berikut.
1. Cinta pada tanah air
2. Kecintaan pada perdamaian
3. Benci pada ketidakadilan
4. Mengusir penyebab kericuhan. Dlm hal ini, Din berseteru dengan suaminya, Teuku Umar yang dianggap berkhianat. Selain itu dengan Belanda berupa perlawanan.
5. Bangga menjadi bangsa sendiri yang tidak tergantung dengan bangsa lain.

Kisah Din ini akan terus menjadi hikayat seandainya saja Gubernur Aceh pada tahun 1959, ALi Hasjmy tidak berkunjung ke Universitas Leiden dan menemukan dokumen bahwa ada pembuangan Cut Nyak Din ke Sumedang. Berkat penelusuran dan permintaan Ali Hasjmy, makam Din ditemukan di Sumedang, dan akhirnya pada Tahun 1964, Pemerintah RI lewat Presiden Soekarno menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Cut Nya Din.

Melihat biografi Din ini, dapat menunjukkan bahwa terdapat tema seorang pribadi perempuan yang mempunyai semangat kemandirian. Selama ini mungkin yang ditonjolkan dalam kehidupan perempuan adalah tema perkawinan, perceraian, kehidupan keluarga, serta tukang masak dan pemelihara anak. Lewat buku ini, pembaca disuguhkan bagaimana struktur sosial masyarakat Aceh, hubungan suami istri dalam lingkungan adat yang kuat, kekeraskepalaan yang berlatar keteguhan hati, pemimpin.

Sayang sekali sumber sejarah mengenai perjuangan rakyat di berbagai daerah di Indonesia apalagi mengenai perempuan sebagai sumber kajian masih sangat jarang. Namun buku ini patut mendapat apresiasi. Dengan dituliskannya hikayat perang kumpeni, masyarakat Aceh jadi punya literatur tentang perjuangan pendahulunya.


-----
Madelon Hermine Lulofs (1899-1958) datang ke Deli, Sumatra pada 1918, mengikuti pernikahannya dengan penanam. Ayahnya seorang pegawai pemerintah yang seperti keluarga militer, berpindah-pindah tempat. Ia lahir di Surabaya. Ia menikah dalam usia muda. Ia hidup di Deli yang merupakan kota baru baginya hingga 1930. Tiga novelnya yang pertama bersituasi tentang Deli yaitu: Rubber (1931), Coolie (Koelie, 1932), dan The other World (De andere wereld, 1934). Ia menikah kedua kali dengan seorang pengusaha perkebunan berkebangsaan Hungaria, L.Szekely. Setelah dari Deli, ia kembali ke Eropa dan mulai menulis dengan serius. pengalaman selama di perkebunan karet Deli, ia tulis dalam novel yaitu: Rubber. Novel ini sukses dan bahkan diangkat dalam bentuk film.

Lulofs menghabiskan masa kecilnya di Aceh. ia mengingat kemegahan alam, puncak dan dataran tinggi, penyergapan, melihat orang mati ditanam, musuh Aceh yang berani, serta pengkhianat Teuku Umar. Ia mengetahui bahwa Cut Nyak Din lah orang yang bergerak di belakang yang melanjutkan perjuangan setelah kematian Teuku Umar. Cut Nyak Din sangat dikuasai kebencian dan dendam terhadap "komeni" yakni Pemerintah Hindia Belanda dan bangsa Belanda secara umum. Cut Nyak Din diketaui Lulofs dari narasi (sastra lisan Aceh) Dokarim. "Hikayat Perang Kompeunie". Tadinya Cut Nyak Din adalah sebuah nama, kemudian Lulofs memberikan "bentuk manusia" padanya. Lulofs mengalihkan suatu keinginan besar setelah kemerdekaan dan protesnya melawan Jerman yang menguasai Belanda pada tokoh Cut Nyak Din dan menjadikan Cut Nyak Din menjadi tokoh pahlawan wanita yang melawan Belanda.

Hikayat Dokarim
Mengapa rakyat Aceh terbakar semangatnya dalam berperang dengan Belanda? Medianya adalah hikayat yang diceritakan secara turun temurun. Hikayat adalah sastra Aceh yang berbentuk puisi selain jenis panton, nasib, dan kisah. Bagi orang Aceh hikayat tidak berarti hanya cerita fiksi semata, tetapi juga berisi hal-hal yang berkenaan dengan pengajaran moral dan kitab-kitab pelajaran sederhana, yang ditulis dalam bentuk sanjak. Bagi orang Aceh mendengarkan atau membaca hikayat merupakan hiburan yang utama, terutama sebagai bentuk hiburan yang bersifat mendidik. Salah seorang cendekiawan ulama yang turut menyebarkan hikayat adalah Dokarim. Ia berasal dari Keutapang Dua, Mukim VI, Sagi XXV Mukim Aceh Besar. Hasil karya Dokarim yang terkenal adalah Hikayat Prang Compeuni, berisikan tindakan-tindakan kepahlawanan Aceh dalam perlawanan terhadap Belanda. Selama bertahun-tahun ia menyampaikan hikayat gubahannya itu. Oleh Snouck Hurgronje menyuruh salin Hikayat Prang Compeuni dari ucapan Dokarim sendiri, walaupun sebelumnya sudah terdapat sebuah fragment yang disuruh salin oleh uleebalang.

Dokarim sebelumnya adalah seorang pengarah pertunjukan sadati dan perintang waktu sejenisnya, serta pembawa acara dalam pesta-pesta perkawinan. Ia sangat ahli dan mahir dalam berpidato dan pengetahuannya yang luas tentang bahasa tradisional dalam prosa maupun puisi, dan pantun di samping tentang upacara adat.

Tadinya saya mengira, buku terbitan Komunitas Bambu ini adalah versi pertamanya Lulofs, namun setelah searching kesana sini, akhirnya saya menemukan buku ini telah diterjemahkan oleh Abdoel Moeis pada Tahun 1954, tapi sayangnya dari sedemikian lama tahun penerbitannya, mengapa baru tersedia versi barunya sekitar tahun 2007-an? Selanjutnya bagusnya buku ini pada halaman belakangnya diberi tahu sumber-sumber tulisan Lulofs untuk mendukung penulisan buku ini.


description

description

Anyway, dengan membuka dan membaca buku ini, saya berharap generasi muda bersemangat mencari tahu siapa dan bagaimana pahlawannya. Syukur-syukur mau mencari tahu di dunia maya dan bersedia menuliskannya, sebab mungkin jika tidak ditulis, entah kemana lagi kita harus mencari.

Empat bintang
@hws08122010

Sumber bacaan lain:
http://sosbud.kompasiana.com/2010/01/12/ciri-khas-kesusastraan-meulayu-aceh/
http://dirmanmanggeng.blogspot.com/2009/03/dokarim.html
http://museum.acehprov.go.id/kategori/gallery/mayor-jenderal-jhr-kohler/index.php

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Utusan Damai di Kemelut Perang - ulasan


Utusan Damai di Kemelut Perang
Penulis : Uli Kozok
ISBN : 978-979-461-776-2
Dimensi : 14 x 21 cm
Jenis Cover : soft cover
Berat Buku : 210
Jenis Kertas : Book Paper
219 halaman
Harga Rp50.000,-

Masih dalam rangkaian membaca bersama tentang Sumatra, buku ini saya beli ketika acara bedah buku Sumatra Tempo Doeloe yang diselenggarakan di Kantor Berita Antara. Membaca kata pengantar buku ini cukup menarik, sebab buku ini diterbitkan, ternyata sudah dilakukan seminar di Universitas Negeri Medan tentang kesahihan bukti-bukti yang diungkap oleh Uli Kozok. Salah satu yang mempertanyakan keaslian naskah yang menjadi bukti Kozok adalah Profesor Bungaran Simanjuntak, namun Kozok berhasil mendapatkan arsip itu dan menjadi lampiran buku ini.

Buku ini menjadi menarik karena mengungkap kembali yang selama ini terhilang dalam pelajaran sejarah tentang awal mula masuknya Kristen di tanah batak. Jan S Aritonang telah menulis disertasi yang berjudul THE ENCOUNTER OF THE BATAK PEOPLE WITH RHEINISCHE MISSIONS-GESELLSCHAFT IN THE FIELD OF EDUCATION (1861-1940) di Universiteit Utrecht. Disertasi ini mengkritisi bagaimana tujuan evangelisasi dan teologi yang dilakukan oleh Badan Zending pada masa itu di tanah batak, namun belum membuka dokumen surat menyurat misionaris yang bertugas di tanah batak.



Masuknya Kristen di tanah Sisingamangaraja adalah akibat dari kolonialisme dan zending itu sendiri. Para misionaris yang dikirim ke sana adalah orang-orang yang sudah persiapan penuh dengan bekal teologi dan ideologi. Rheinische Missions-Gesellschaft (RMG), adalah sebuah organisasi zending yang bertempat di tepi sungai Rhein berpusat di Jerman. RMG memulai pekerjaannya di Indonesia adalah di Kalimantan. Di bawah pimpinan Fabri, awalnya dikirim misionaris dari Kalimantan ke tanah batak. Kemudian misionaris lain dari Jerman bergabung dengan rekan-rekan yang sudah ada di sana.

Salah satu misionaris yang dianggap menjadi rasul atau apostelnya orang batak adalah Ludwig Ingwer Nommensen. Nommensen menjadi pimpinan tertinggi pertama di Huria Kristen Batak Protestan. Nommensen dapat diterima oleh Orang Batak, sebab ia telah mempelajari adat-istiadat batak, serta menggunakan ajaran kristiani ala batak itu sendiri. Semasa bertugas, Nommensen bersama penginjil lain diwajibkan melaporkan kegiatan mereka ke kantor mereka di Jerman. Laporan-laporan mereka itu kemudian dipublikasikan dalam sebuah majalah setiap bulan, yang dinamakan Berichte der Rheinische Missions Gesselschaft (BRMG). Arsip tulisan Nommensen beserta penginjil lain itulah yang diteliti oleh Kozok yang menyimpulkan bahwa para misionaris sepakat supaya Sisingamangaraja XII adalah musuh bersama penginjilan dan pemerintah kolonial Belanda.


Hal ini cukup mengejutkan, dimana Nommensen dianggap Pausnya orang batak, sementara Sisingamangaraja adalah pahlawan orang batak yang menentang Belanda menguasai tanah batak. Uli Kozok memaparkan bahwa alasan serta konteks yang terjadi saat itu. Pertama adalah mengenai teologi dan ideologi yang dibawa oleh misionaris Jerman. Sebelum berangkat ke daerah-daerah yang menjadi penempatan para misionaris, mereka dididik dengan oleh Dr Friedrich Fabri dan Ludwig von Rohden

Sejarah masuknya Injil di tanah batak dimulai sejak 1840. Franz Wilhelm Junghuhn(Jerman) mula-mula merintis jalan ke tanah batak. Ia adalah seorang ahli botani dan pekerjaannya adalah meneliti tanah batak, iklim, kesuburan tanah, membuat peta, dan mencari informasi tentang kebudayaan, adat dan pemerintahan di tanah batak. Hasil penelitiannya ia tulis dalam dua jilid buku, Die Battalander auf Sumatra. Rekomendasi yang ia berikan antara lain agar Belanda jangan mengangkat seorang Batak menjadi kepala pemerintahan, karena hal itu akan dimanfaatkan untuk memberontak melawan Belanda(h.26). Junghunn sebenarnya adalah seorang yang antiKristen, namun ia menyadari bahwa perkenalan orang batak dengan Kristen akan membendung pengaruh Islam di tanah batak. Sebab saat itu, bercermin pada Aceh dan Sumatra Barat, Islam dianggap pemberontak Belanda.

Laporan Junghunn menarik perhatian Pieter Johannes Veth, seorang guru besar di Leiden dan dewan pimpinan Nederlands Bijbelgenootschap (NBG). NBG memutuskan untuk melakukan penginjilan kepada orang Batak. Persiapan dilakukan antara lain melakukan penerjemahan Kitab Injil ke bahasa batak. Orang yang berperan pada bidang ini adalahHerman Neubroner van der Tuuk. Walau van der Tuuk seorang ateis, kesimpulannya sama dengan Junghunn.

Orang yang pertama kali berinisiatif mengirimkan misionaris ke Tanah batak adalahHermanus Willem Witteveen. Ia "menitip" Van Asselt, di seminari Persatuan Pendukung Zending Perempuan Amsterdam. Pada 1856, Van Asselt kemudian ditugaskan sebagai administrator perkebunan kopi di Sipirok sambil mengabarkan Injil. Selanjutnya, pada 1859 Witteveen mengirimkan tiga orang pemuda lagi untuk mendukung Van Asselt. ketiga pemuda itu ialah Friedrich Wilhelm Betz, J.G. Dammerboer dan J.Ph.D. Koster. Keempat orang ini bertugas di daerah Angkola dan Sipirok, namun dilarang oleh pemerintah kolonial sebab pemerintah belum berniat menguasai tanah batak yang merdeka itu.

Situasi berubah ketika RMG mengalami peristiwa dimana penginjil yang bertugas di kalimantan mati terbunuh karena perang Banjar. Direktur RMG saat itu Friedrich Fabri mengunjungi Amsterdam untuk menjajaki kemungkinan penginjil RMG bergabung dengan penginjil Belanda. Akhirnya diputuskan Van Asselt, Betz, dan Dammerboer (tidak disebutkan Koster kemana), diambil alih oleh RMG. Ketiga orang itu bergabung dengan penginjil RMG dari Kalimantan (Karl Klammer, Carl Wilhelm Heine, dan Ernst Ludwig Deniniger). Pada tanggal 7 Oktober 1861, Van Asselts, Betz, Heine dan Klammer membicarakan kelanjutan penginjilan di tanah batak. Tanggal tersebut menjadi hari lahirnya Huria Kristen Batak Protestan (HKBP).

Selanjutnya Kozok menguraikan tentang RMG serta bagaimana teologi dan ideologi yang diajarkan di seminari mereka. Dua orang teolog yang menjadi guru para misionaris sebelum ditugaskan adalah F. FAbri dan G.L. Rohden. Kozok memaparkan sejumlah konteks pada masa itu dimana masa itu Bangsa Eropa muncul suatu anggapan atau pembenaran atas suatu praktik kolonialisme bahwa penjajahan dapat dibenarkan sebagai tindakan untuk membantu kaum terjajah mencapai peradaban yang lebih tinggi (h.51). Demikian juga dalam hal teologi. Fabri berpendapat bahwa para penginjil perlu mendukung pihak penjajah, sementara pemerintah kolonial diharapkan membantu para penginjil menaklukkan daerah penginjilan untuk mencapai keadaan politik yang stabil (h.68). Inilah yang mendasari kolonialisme dan penginjilan. Fabri pun akhirnya meninggalkan RMG untuk bergabung dengan kolonialisme Jerman.

Sekitar Tahun 1878, pecah perang Toba I, dimana Belanda menganeksasi Silindung dan Toba. Pada masa perang itu, masuklah nama-nama seperti Johannsen, Metzler, Mohri, Nommensen, Puse, dan Simoneit. Mereka berenam adalah alumni dai seminari BRMG di Barmen. Mereka berenam pertama kali menginjak tanah batak, berusia 26-32 tahun, dan mereka semua belum kawin (h.37).

Surat dari Nommensen kepada BRMG 1878 (12): 361-381, diceritakan bagaimana kondisi tanah batak saat itu seperti penyakit yang menyerang, adat istiadat, dan terutama soal perang. Nommensen mencatat bahwa utusan Singamangaraja ke Silindung mengumumkan di pasar-pasar bahwa Singamangaraja akan datang bersama dengan orang Aceh dan membunuh orang Eropa dan orang Kristen. Rencana itu tampaknya serius karena ditambah dengan desas desus bahwa sekumpulan orang Aceh sudah memasuki Toba. Karena itu diturunkan kekuatan militer. Nommensen menceritakan bahwa pasukan berhasil menghalau pasukan Batak dan membakar kampung-kampung:
Penduduk kampung-kampung itu melawan dengan gigih dan serdadu yang berusaha memanjat tembok dilempari dengan batu sehingga jatuh berguling. Dari atas kami bisa melihat kejadian di kampung dengan sangat jelas. Ternyata mereka membela kampungnya dengan berani dan tidak ada suatu tindakan pun yang dilakukan dengan tergesa-gesa sehingga tampak jelas bahwa mereka tidak takut. Seorang serdadu tewas ketika peluru kena kepalanya, dan beberapa lagi cedera. Sekitar jam 3 sore kampung-kampung itu sudah di tangan kami. 10–12 laki-laki dan sekitar 70 perempuan jatuh ke tangan kami lalu ditawan.

Tulisan Nommensen ini masih tersimpan dalam arsip RMG (sekarang menjadi VRM) di Barmen, Wuppertal. Uli Kozok memberi perhatian khusus pada arsip RMG ini dan memjadikannya buku ini. Ia membuat blog khusus yang berisikan beberapa bagian buku ini yang sudah dipilah-pilah berdasarkan temanya. Kelemahan buku ini adalah kurang lengkapnya catatan kaki yang seharusnya membuat pembaca paham akan konteks peristiwa yang terjadi di masa itu. Namun syukurnya di blog tersebut lumayan lengkap.

Keunggulan buku ini adalah ditulis oleh orang yang paham sekali dengan adat istiadat batak serta ia seorang Jerman. baginya tentu tidak sulit memahami surat Nommensen yang berbahasa Jerman serta mengaitkannya dengan dokumen-dokumen lain yang berbahasa Jerman. Peminatannya pada batak dan melayu dapat dilihat dari tulisan-tulisan beliau di daftar berikut ini. Ini mungkin salah satu kelemahan di orang batak, yang masih sedikit berminat pada penelusuran sejarah batak dengan menggali bahan-bahan tertulis yang tersedia dalam bahasa asing (seperti Jerman dan Belanda).

Seperti yang dikatakan Uli Kozok dalam pengantarnya sesuai dengan perkembangan zaman, penilaian terhadap tokoh-tokoh sejarah bisa saja terjadi dan hal tersebut adalah lumrah.Maka, pembentukan pengetahuan sejarah lewat pengungkapan sumber sejarah baru akan memaknai kembali peristiwa yang lalu dengan perspektif baru, setidaknya bagi saya.

@hws10042011



lintasberita

Lanjut Baca

Buku Sumatera Tempo Doeloe: Dari Marco Polo sampai Tan Malaka - ulasan


Judul Asli: Witnesses to Sumatra: A Travellers' Anthology
Penyusun: Anthony Reid
Penyunting: Dewi Anggraeni
ISBN13: 9789793731940
xxiv+ 424 hlm
Penerbit: Komunitas Bambu, 2010

Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari orang-orang yang pernah tinggal di Sumatra. Berbagai laporan, kesan serta kenangan ditulis sebagai warisan yang berharga bagi kita. Ditulis oleh 39 orang dengan latar belakang yang berbeda-beda. Penulis terbanyak berasal dari Inggris, yaitu 11 orang. Posisi kedua terbanyak yang berasal dari Portugis dan Belanda masing-masing 5 orang. Posisi ketiga berasal dari Amerika dan Italia, masing-masing 3 orang. Dan dari dalam negeri sendiri, tulisan Tan Malaka serta Muhammad Radjab turut memperkaya kupasan tentang Deli pada awal abad 20. Profesi para penulis ini bermacam-macam. Yang paling banyak adalah sebagai pedagang. Profesi lainnya adalah sebagai wartawan, arkeolog, misionaris, masinis kapal, seniman, pegawai VOC, pegawai EIC, wakil gubernur, pembuat layar kapal, pelancong, ahli bedah, sejarawan, utusan Raja,petualang, penulis, dan sebagainya.

Periode penulisan catatan ini juga berbeda-beda. Tulisan paling awal adalah Sulayman, seorang pedagang Arab yang menceritakan tentang Kerajaan Sriwijaya pada Tahun 851. Periode Abad 13-14 ditulis oleh Marco Polo dan Ibn. Batutta. Abad ke 15 ditulis oleh 5 orang. Abad 17 ditulis 10 orang. Abad 18 oleh 3 orang, abad 19 oleh 10 orang, serta periode abad 20 ditulis oleh 8 orang.



Anthony Reid menyusun tulisan-tulisan tersebut dalam 7 bagian. Bagian Pertama dimulai dengan pendaratan pertama di Asia Tenggara dan diakhiri Bagian Tujuh yaitu Sumatera sebagai Tanah Jajahan dan Keruntuhannya. Jika kita memilah-milah Sumatra dengan provinsi yang ada sekarang, maka provinsi Nanggroe Aceh Darusallam-lah yang paling banyak diceritakan, yaitu 17 tulisan. Selanjutnya Provinsi Sumatra Utara, 11 tulisan, Provinsi Sumatra Barat, 4 tulisan, Provinsi Sumatra Selatan 3 tulisan, Provinsi Bengkulu dan Riau masing-masing 2 tulisan.

Bagaimana orang menyebut Sumatra mula-mula?
Pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atauSuwarnabhumi (“tanah emas”). Musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan namaSerendib (tepatnya: Suwarandib). Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatra sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai (Barus).

Pertanyaan utama ialah, apa yang menarik bagi para orang zaman dulu datang ke Sumatra? Jawabannya: Karena emas. Selain itu, selama abad 16 dan 17, Sumatra menjadi penghasil lada terbesar di pasar internasional. Tidak diketahui bagaimana lada bisa menjadi komoditi utama, namun diduga pedagang dari India yang membawa lada ke Sumatra untuk ditanam sebab sebelumnya sudah berhasil ditanam di Malabar. Selanjutnya Sumatra menjadi koloni yang menguntungkan bagi Belanda karena hasil tanahnya yang diolah dalam perkebunan karet, kelapa sawit, teh, coklat, dan tembakau menjadi komoditas dagang yang paling populer.

Catatan Perjalanan
Dalam buku ini, Orang Eropa yang pertama kali mengunjungi Sumatra adalah Marco Polo. Karena tulisannyalah, akhirnya menyebabkan banyak orang Eropa mendatangi Pulau yang tersohor karena emas dan keindahan alamnya ini. Diperkirakan ia mengunjungi Sumatra pada Tahun 1290an. Selanjutnya diikuti oleh Cornelis de Houtman dari Belanda pada tahun 1596 di Malaka. Pada awalnya orang-orang dari Eropa datang ke Sumatra tujuannya adalah berdagang. Namun tidak hanya perdagangan yang dibawa oleh orang-orang itu, namun juga agama dan budaya. Baik Portugis, Belanda, maupun Inggris tidak ada yang berani menguasai kerajaan-kerajaan (Islam) yang ada di Sumatera. Inggris membuat pangkalan dagang di Bencoleen (Bengkulu) sejak 1700, dan Belanda membuat pangkalan dagang di Padang (sejak 1660an), sedangkan Inggris mendapat keistimewaan berdagang dengan Aceh. Pelayaran berbulan-bulan di laut, masuk dan keluar pelabuhan, kesan pada alam dan orang di daerah baru, membuat salah seorang dari rombongan untuk membuat tulisan perjalanan.

Jalur perdagangan untuk mencapai Sumatra terdiri dari tiga jalur, lewat Selat Malaka, Selat Sunda, atau melewati Semenanjung Malaya. Jalur Selat Malaka menjadi favorit sebab lautnya tidak seganas barat sumatra, komoditas yang diperdagangkan lebih bervariasi seperti lada, kapur barus, kain sutra, emas.

Emas yang disebut-sebut di Sumatra diincar oleh pendatang yang datang ke Minangkabau. Tempat yang diduga banyak mengandung emas ada di daerah Tanah Datar. Thomas Dias, utusan VOC, merasa perlu menjalin hubungan dengan raja di Pagaruyung agar memperoleh akses dagang dengan penambang emas di sana. William Damper (Inggris) mencatat bahwa di Aceh karena tambang emas dan seringnya orang asing datang, orang Aceh jadi hidup kaya dan berlimpah (h.133). Dampier mengatakan bahwa emas di Aceh dari gunung yang letaknya jauh dari Aceh,letaknya lebih dekat ke pantai barat daripada Selat Malaka (h.134).

Kejayaan Sriwijaya yang pernah gemilang juga memikat Sir Thomas Stanford Raflessmengunjungi Minangkabau untuk mencari sisa-sisa peradaban kuno tersebut. Kunjungannya ke kerajaan Pagaruyung untuk mendapat sekutu dari raja-raja disana, ia tuliskan dalam laporannya ke Inggris pada 1818.

Penelitian mencari reruntuhan kerajaan tersebut digeluti oleh Friedrich Schnitger, arkeolog asal Belanda yang menyusuri sungai Barumun di Padang Lawas. Ia menemukan candi yang dinamakan Candi Sangkilon, yang menyimpulkan bahwa pengaruh Hindu dan Budha terdapat wilayah Batak bagian selatan. Schnitger melanjutkan penelitian dua orang geolog sebelumnya yaitu Junghuhn (1847), Von Rosenberg (1878), dan P.V. van Stein Callenfels yang mengunjungi area ini pada 1920.

Populernya tanaman perkebunan karet dan tembakau di awal abad 20, menyebabkan Belanda mendirikan perkebunan di tanah Deli. Manajemen perkebunan yang mendatangkan kuli kontrak dari Jawa dan kehidupan para administrateur perkebunan ditulis oleh suami istri Laslo Szekeley dan Madelon Szekely Lulofs serta Tan Malaka.

Prasangka
Francois Bernier (1620-1688) pernah menyarankan di majalah ilmiah Journal des Scavantsagar manusia dikategorikan menurut warna kulit, postur dan bentuk muka.Bangsa Eropa merasa bahwa peradaban mereka lebih tinggi dan ras kulit putih lebih unggul dari ras kulit berwarna. Dan sepertinya pengaruh Belanda di nusantara membawa dampak sosial yang tidak sedikit.Pembedaan kelas masyarakat karena status sosial menjadi warisan hingga sekarang ini. Orang Sumatra dalam tulisan orang yang berkunjung ke sini digambarkan dalam stereotipe negatif. Umumnya mereka menggambarkan bahwa orang sumatra adalah bangsa kanibal.

Marco Polo mencatat bahwa penduduk Sumatra adalah penyembah berhala dan pemakan orang.Jika ada yang sakit, maka mereka akan memanggil penyihir (h.10) dan jika yang sakit itu mati, mereka akan menyantap tubuh yang mati hingga ke sumsum dan tulang-tulang orang itu (h.11). Emilio Modigliani, seorang ilmuwan penjelajah asal Italia, menyelidiki Tanah Toba dan mempelajari bagaimana air danau Toba dapat keluar. Ia mendapat kesulitan karena daerah yang berdekatan sedang terjadi perang. Ia bertemu dengan Guru Somalaing, Modigliani tidak dibunuh karena ia dianggap utusan Raja Rum (Roma, Italia) yang dipercaya orang Batak sebagai bangsa yang mengusir Belanda. Modigliani mencatat bahwa pada umumnya, Orang Batak sangat curiga dengan pendatang asing dan tidak segan-segan membunuhnya, namun jika orang Batak sudah mengenal Anda dan persaudaraan sudah terjalin, maka ia rela membela anda dengan nyawanya. (h.252)

Memang ada anggapan di benak orang Eropa bahwa orang batak terkenal kanibal, namun pengalaman Burton mencatat bahwa yang dialaminya justru sebaliknya. Orang Batak di lembah Silindung sangat cinta damai. sampai pada suatu kesimpulan,Richard Burton misionaris yang bertugas di Tanah Toba mencatat bahwa perilaku orang batak yang cinta damai kemungkinan adalah wujud ketakutan dan pengaruh takhyul jahat yang mengekang.(h.221). Selain itu Burton berkesimpulan mengapa Orang Batak tidak penakut, karena dalam konsep berpikir Orang Batak tidak ada pahala dan hukuman di masa depan, mereka membayangkan akan semakin kuat jika roh berpisah dari raga (h.228).

Dampier juga mencatat perilaku orang Cina di Aceh. Jika aktivitas dagang sedang susah, maka aktivitas judi yang meningkat. Orang Cina suka dan pandai berjudi, diibaratkan Hidup tanpa judi sama dengan hidup tanpa makan (h.137).

Inferior
Sekalipun bangsa Eropa beranggapan bahwa ras mereka adalah ras yang unggul dibanding ras lain, namun untuk alasan tertentu mereka harus mengikuti aturan dimana mereka berpijak. Beberapa Penulis kisah perjalanan ini menuliskan betapa wibawa raja di Sumatra diterima dengan takut dan hormat oleh para pedagang yang hendak berniaga di sana. Ini menunjukkan bahwa budaya timur tidak inferior pada budaya barat yang (katanya) maju.

Francois Martin (Prancis) mencatat pada Tahun 1602 di Aceh, setelah memberikan barang pecah belah dan hadiah pada raja, raja menghadiahkan pakaian khas daerah Aceh kepada Jenderal kapal Monsieur de la Berdelieredan meminta supaya dikenakan di hadapan raja (h.73). Senada dengan hal itu, Thomas Bowrey (Inggris) mencatat pada tahun 1678, pada masa pemerintahan ratu Aceh, mereka menghadap sang ratu. Setelah memberi hadiah pada Ratu, Ratu juga menghadiahkan pakaian dan sorban kepada komandan kapal Inggris. Para pejabat istana akan membantu komandan kapal mengenakan pakaian hadiah tersebut karena ia harus mengenakannya saat itu juga (h.126). Thomas Forrest (Inggris) mencatat ketika ia menghadap raja Aceh, ia duduk dalam keadaan telanjang kaki lalu bersila dengan menekuk kaki dalam-dalam. menurut saya pose duduk seperti ini melelahkan (h.273). Walter Murray Gibson, petualang dari Amerika mencatat ketika ia menerima jamuan dari raja Palembang, ia mencicipi hidangan sarang burung walet. Bayangkan, wadah untuk meletakkan dan menetaskan telur, dan tempat bagi anak-anak burung membuang kotoran beberapa hari sebelumnya, kini disajikan kepada perut saya yang beradab sebagai wujud kemewahan dari perjamuan ala Timur! (h.296).

Nasib Buruh Kebun Deli
Dua penulis Indonesia ini awalnya tidak masuk dalam daftar para penulis buku ini. Namun, Anthony Reid mengusulkan kepada Oxford University Press supaya memasukkan tulisan Tan Malaka dan Muhammad Radjab ke dalam buku ini. Kedua penulis ini sama-sama menyoroti perlakuan yang tidak fair para pelaku bisnis perkebunan kepada para kuli kontrak. Apa yang dituliskan (walaupun fiksi) oleh suami istri Lulofs, tidak jauh berbeda dengan tulisan Tan Malaka dan Radjab. Tan Malaka sempat menjadi asisten inspektur sekolah khusus buruh Indonesia di perkebunan Senembah Company, sedangkan Rajab menulis laporan perjalanannya untuk tempat kerjanya, Kantor Berita Antara.

Tema yang diangkat kedua penulis ini mengenai perkebunan Deli adalah kemiskinan kaum buruh. Rajab mencatat bahwa kemiskinan disebabkan bukan karena produksi perkebunan yang kurang, tapi keserakahan para pemilik kebun pribumi yang tidak kenal belas kasihan memeras tenaga buruh untuk kekayaan pribadi (h.374). Sementara Tan Malaka menyoroti gaji buruh pribumi yang rendah. Gaji yang rendah menyebabkan si buruh berutang, dan utang menyebabkan si buruh berjudi, dan akibat kalah judi, si buruh harus mengikat kontrak lagi. Malaka menambahkan 90% dari buruh tersebut tak punya harapan untuk naik pangkat (h.334).

Kritis
Satu hal telah terbukti dengan membaca kisah tulisan ini bahwa ungkapan yang dikatakan Bung Karno bahwa Belanda telah menjajah Indonesia selama 3,5 abad adalah tidak benar. Kolonialisme baru terjadi pada abad 18. Selain itu, dulu belum ada konsep negara kesatuan Indonesia, Yang terjadi sesungguhnya adalah Belanda dibuat pusing dengan perlawanan rakyat (Sumatra) yang dahsyat, sebut saja Perang Aceh (1873-1904) dan Perang Padri (1821-1837).


Pohon geulumpang atau kelumpang (Sterculia foetida, LINN), yang tumbuh di halaman Mesjid Raya, oleh pihak Belanda dinamakan Kohlerboom (pohon Kohler) karena tak jauh dari situ Jenderal Kohler tewas pada tanggal 14 April 1873.


Kehadiran terjemahan buku ini cukup menambah perbendaharaan buku-buku sejarah yang sudah ada, Walau disusun untuk para pembaca Eropa, buku ini tidak kalah menarik, sebab kita membaca dari tulisan orang pertama yang menyaksikan dan yang berkunjung langsung ke Sumatra, walaupun akan ada perbedaan konteks karena jarak penulisan yang cukup jauh dengan zaman sekarang dan mungkin terjadi perbedaan makna karena telah melalui proses penerjemahan dari bahasa asli ke bahasa inggris baru ke bahasa indonesia. Masih banyak misteri yang belum terungkap pada Sumatra. Tugas kita selaku pembaca (generasi) sekarang adalah mengkritisi dan mempersempit jarak, Mengkritisinya dengan cara membaca sumber-sumber lain, mendiskusikan, serta merekonstruksi Sumatra menjadi suatu pemahaman yang utuh. Sebab Sumatra juga adalah kekayaan Indonesia.

@hws22032011


lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar