Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan

Buku Murah I Jangan Telat Menikah

Judul : Jangan Telat Menikah
Penulis : Riyadh al muhaisin
Kholid bin Ibrahim Ash-Shoq'abi,
Muhammad bin shalih Al-Utsaimin
Penerbit : Al-Qowam
Harga resmi : 19.000
Harga di Buku Murah : 17.500


Deskripsi :
Umat islam diperintahkan untuk segera menikah dan jangan menundanya bila sudah saatnya untuk menikah, karna dengan mengsegerakan untuk menikah maka umat muslim telah menyempurnakan setengah diennya. Namun, pada kenyataannya banyak sekali teman, tetangga atau kerabat kita baik dari Pria maupun wanita yang sengaja menunda nunda untuk menyempurnakan setengah diennya tersebut.

Oleh karena itu, buku ini hadir menyapa para pembaca semuanya agar Jangan sampai kita Telat untuk menikah jika kita sudah diberi kemampuan oleh Allah SWT. Dapatkan bukunya di Buku Murah Online.
lintasberita

Lanjut Baca

Be a Great Wife, Agar Dicintai Suami


Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah Istri Solehah.” (HR Muslim dan Ibnu Majah).

Sebagian besar dari kita pasti tahu perihal hadist yang satu ini, bahkan banyak pula yang mendambakan untuk mendapatkan (bagi laki-laki) dan menjadi (bagi perempuan) wanita solehah. Namun, satu hal yang pasti, untuk meraih ridho Allah bukanlah sesuatu yang mudah, walaupun bukan berarti tidak bisa.

Seringkali ketika dihadapkan dengan buku atau pembahasan tentang wanita solelah, pasti akan disuguhkan cerita tauladan dari kaum wanita di zaman Rasulullah. Siapa yang tidak tahu totalitas seorang Bunda Khadijah ra. dalam mendampingi Rasulullah? Siapa yang tidak kenal kedermawanan dan pengabdian Fatimah Az-Zahra ra.? Sungguh, mereka adalah sebaik-baiknya tauladan.

Namun, apakah mereka dengan sendirinya dapat menjadi wanita solehah dengan begitu mudahnya? Tidak! Mereka pun membutuhkan proses hingga kemudian menjadikan mereka sebagai sosok ahli surga. Masih ingat kan bagaimana Fatimah ra. pernah merasakan kelelahan yang sangat dalam pekerjaan rumah tangganya, hingga kemudian meminta Rasulullah untuk memberinya hamba sahaya? Terlihat kan, bahwa sosok sekaliber Fatimah Az-Zahra pun ternyata pernah ‘mengeluh’, Bagaimana dengan kita?

Kesimpulannya, kita semakin tahu bahwa manusia yang tidak selalu dalam kondisi kuat, bahkan cenderung labil dan ‘mengeluh’. Manusia selalu membutuhkan dorongan dan semangat, dari sinilah peran sekitar menjadi sangatlah, seperti halnya Rasulullah yang kala itu tidak memberikan ‘kenyamanan’ berupa hamba sahaya kepada Fatimah. “Demi Allah, aku tidak akan memberikan pelayan kepada kamu berdua, sementara aku biarkan perut penghuni Shuffah merasakan kelaparan. Aku tidak punya uang untuk nafkah mereka, tetapi aku jual hamba sahaya itu dan uangnya aku gunakan untuk nafkah mereka."

Jika berbicara teori tentang wanita solehah, maka dengan mudah kepala akan mencerna. Namun, ketika terjun di realita kehidupan, teori dapat dengan mudah bertekuk lutut ketika pemahaman dan pendampingan tidak didapatkan oleh sang wanita. Seperti yang disampaikan dalam buku ini, “Teori tentang keimanan kadang lebih mudah dicerna daripada keimanan yang sebenarnya. Indikasi ketaqwaan juga lebih bisa dijelaskan secara teoritis daripada ketaqwaan yang sebenarnya. Inilah yang sering menimpa pada kebanyakan orang” [h. 105]

Dari sana kurang lebih dapat ditangkap, bahwa peraihan seorang wanita menjadi solehah harus juga mendapatkan dorongan, ingatan, dan bimbingan dari orang lain, terutama orang terdekat seperti suami. Suami tidak pantas menuntut istrinya menjadi wanita solehah, jika dia sendiri tak mampu atau malah tidak ‘mengajak’ dirinya menjadi soleh.

Seperti halnya ketika seorang pria bercita-cita mendapatkan pasangan hidup yang solehah. Tidak salah sih, tapi alangkah lebih indah jika sang pria tersebut meniatkan diri menikah dengan wanita untuk membantunya menjadi solehah? Atau bahkan menggandengnya untuk sama-sama berusaha menjadi hamba yang soleh dan solehah? Sungguh, hal tersebut akan membuat kehidupan rumah tangga menjadi lebih indah, karena adanya kesamaan niat belajar dan tidak adanya tuntutan yang sepihak.

Inilah yang melatar belakangi terbitnya paket buku ‘Be a Great Couple’, yang berisikan dua buku berjudul, ‘Be a Great Husband’ dan ‘Be a Great Wife’. Pasangan buku yang ‘mengajak’ suami-istri untuk belajar bersama, mencerna ilmu, dan kemudian mengamalkannya bersama. Karena saya seorang perempuan, ‘Be a Great Wife’ tentu menjadi pilihan pertama untuk ditekuni—walaupun nanti insyaALLAH juga berkeinginan membaca ‘Be a Great Husband’.

Jika dilihat dari ketebalannya, buku ini termasuk tipis –berdasarkan standarisasi saya—tapi ternyata untuk menyelesaikannya membutuhkan waktu yang cukup lama. Sepanjang membaca saya membutuhkan jeda beberapa kali untuk meresapi apa yang disampaikan penulis. Mencoba membandingkan antara realitas dengan keidealisan dalam buku ini.

Lumayan berat juga, seperti ketika istri diharapkan senantiasa berdandan dan terlihat cantik di hadapan suami, ternyata ketika berhadapkan dengan realita dan segala kepadatan pekerjaan ternyata masalah dandan/ selalu terlihat cantik—yang kelihatannya sepele---terasa berat. Akhirnya, saya pun melakukan sedikit toleransi dengan hal tersebut, yaitu menggantikan/ mem-‘pending’ dandan dengan berusaha tetap tersenyum ketika berhadapan dengan suami.

Hal-hal seperti itu membuat saya terpancing untuk menikmati pergulatan daya nalar dengan teori ‘menjadi wanita solehah’ dalam buku ini, sekaligus membuatnya menjadi sesuatu yang menarik. Walaupun tetap dengan batas-batas tertentu dan tidak meringan-ringankan hal yang sudah menjadi ketetapan, seperti pemakaian jilbab.

Terlepas dari kemenarikan dan kenikmatan saya berpikir, buku ini tidak lepas dari kekurangan. Walaupun penulis telah membagi pembahasannya menjadi 20 subbab—atau istilah dalam buku ini 20 karakter, ternyata tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada isi masing-masing subbab. Hal ini terkadang menciptakan kebosanan.

Selain membahas karakter wanita solehah, dalam buku ini juga terdapat bab yang menyindir sedikit tentang bagaimana seorang pria dalam rumah tangga. Ditambah lagi, bab yang berisikan tanya-jawab para istri yang ‘mengeluh’ tentang kondisi suaminya. Dengan demikian, pembahasan tidak hanya ‘menuntut’ istri menjadi solehah, tetapi juga memperhatikan kesolehan suami.

Kehidupan adalah tidur, kematian adalah bangun tidur, sementara manusia berada di antaranya bagaikan khayalan” [h. 136]

Judul : Be a Great Wife, Agar Dicintai Suami
Penulis : ‘Isham bin Muhammad asy-Syarif
Penerbit : Embun Publishing
Terbit : Juni 2007
Tebal : 184 halaman
Harga: Rp. 40.000 [disc. 20%]

NB: Tengkyu untuk Mbak Wulan yang sudah menghadiahkannya pada momen pernikahan kami. Loph You! ^^


lintasberita

Lanjut Baca

Married With Brondong


Allah kerap memiliki cara tak terduga nan indah untuk mempertemukan sepasang insan dalam satu kesatuan yang sempurna.

Sulit untuk tidak mengiyakan kalimat di atas. Sudah banyak contoh kasus yang menunjukkan bagaimana pertemuan dua insan hingga ke pelaminan, menyimpan kejutan-kejutan. Saya sendiri yang baru saja dipertemukan dengan sang suami, kisahnya berawal dengan hal yang tidak terduga, dan saat dikenang, eh, ternyata keren juga cara Allah mempertemukan kami ^^

Subhanallah…

Kekerenan Allah pun saya lihat dari cara-Nya mempertemukan dua karakter, Bo [suami] dan Jo [istri]. Berawal dari kesalah-pahaman chatting, yang kemudian hari memperlihatkan kegemaran mereka yang sama, yaitu komik, sukses mengantar mereka menuju gerbang penyempurna separuh dien.

Eits, tapi perjalanan mereka menuju ke sana, tidak semudah ngabisin cendol segelas. Banyak pertimbangan, cibiran, dan kritikan. Why? Karena usia Jo jauh melebihi usia Bo. Tujuh tahun dua bulan empat hari, bukan waktu yang ‘wajar’ bagi sebagian mata orang timur yang hobi menciptakan stereotip-stereotip yang tidak mendasar.

Mengagetkan? Sangat mungkin, tapi tidak jika mereka mau menengok balik sejarah perbedaan umur dalam pernikahan, yang lebih fantastis. Pernikahan Rasulullah [25] dan Bunda Khadijah [40] memiliki angka lebih mengejutkan, 15 tahun. Well, kalau ada yang berdalih, “Itu kan jaman doeloe.” Mau yang lebih modern? Tengok aja artis Demi Moore [47] dengan Asthon Kutcher [32] yang juga beda 15 tahun, dan sejauh yang saya tahu mereka sih baik-baik saja.

Saya sendiri tidak tahu bagaimana masyarakat bisa membentuk stereotip negatif dengan kondisi seperti ini. Keadaan yang tidak hanya memunculkan ketakutan dari pihak wanita, tetapi saya yakin ada juga pikiran dari pihak lelaki, yang mungkin akan gerah jika nantinya diberi label Oedipus Complex.

Balik lagi, bahwa segala kekhawatiran tersebut lebih banyak muncul dikarenakan pandangan dari masyarakat sekitar –yang nantinya juga belum tentu peduli dengan kondisi mereka. Haiiizzz…intinya capek kalau harus mendengarkan kata orang melulu. Bersyukur, akhirnya ada karya yang sekiranya dapat merobohkan stereotip negatif tentang wanita yang menikah dengan pria dengan usia jauh di bawahnya alias Brondong.

Komik yang terinspirasi dari kisah nyata kedua penggarapnya ini secara garis besar terbagi menjadi dua fase. Sebelum dan setelah menikah.

Fase sebelum menikah

Fase ini dibuka dengan kalimat, “Apa??? Kamu mau menikah sama anak kecil??”---Hahahahahag! Menghina sekalee :P

Dari opening inilah kendala Married With Brondong dipaparkan, dan berlanjut dengan menceritakan kesungguhan dan kualitas Bo di mata Jo. Lucu, inspiratif sekaligus jujur. Hanya saja, saya sempat sedikit bingung saat Bo menelepon keluarganya di Malang untuk memberitahu rencananya menikah. Bingung karena tidak ada ‘rambu-rambu’ terlebih dahulu bahwa ternyata pada bagian tersebut beralur mundur/flashback *CMIIW.

Fase setelah menikah

Menikah adalah saat dimana kita memulai perjalanan hidup yang sangat berbeda dari sebelumnya. Dimulai dari cerita pacaran setelah menikah yang dipenuhi dengan deg-deg seer dan segala kegombalan pria yang sebenarnya sudah beredar di ‘pasaran’ tetapi ternyata masih ampuh membuat sang istri tersipu, berlanjut dengan rangkaian kisah yang mencerminkan kesederhanaan, komitmen, tanggung jawab dan konflik.

Banyak adegan yang saya sukai dalam novel grafis ber’bingkai’ warna pink ini, tetapi ada dua rangkaian kisah yang terfavorit. Pertama pada bagian perdebatan pasutri tentang konstruksi/denah rumah dan kekompakan mereka dalam nyrocos tentang kebobrokan negeri. Cerdas. Selain itu, menampilkan konflik dalam rangkaian cerita membuat cerita menjadi lebih riil.

Kedua, saat Jo ngobrol dengan temannya tentang panggilan untuk suami, tetapi pada bagian sketsa menampilkan dua bocah jalanan yang mencari duit dan kehujanan. Saya tidak tahu apa istilah dalam dunia perkomikan, tapi saya menyebutnya, Cerita Bisu.

Sketsa tersebut seperti menyuarakan, "Ini kondisi yang tidak perlu dibicarakan lagi tapi renungkan apa yang bisa kita lakukan untuk mereka." Really like that!

***

Kalau pembaca pernah membaca komik karya Vbi Djenggottan yang pertama, Aku Berfacebook Maka Aku Ada, maka tidak akan terlalu kaget dengan kemunculan orang-orang ‘tidak berkepentingan’ yang tiba-tiba memberi komentar; dan hanya akan berkomentar “iyeee…iyeee” setiap membaca selipan semangat idealisme dari penulis yang sepertinya memang tidak akan lekang dimakan zaman.

Untuk akhir kata, ijinkanlah saya mengutip kata pengantar Tika Bisono Psi. yang sangat menyuarakan isi kepala sayah,

“Mira dan Vbi berhasil membagi kisahnya melalui rangkaian gambar yang ekpresif, kata-kata yang tidak berlebihan, namun tetap tidak miskin makna filosofis…”

Sukses selalooooo dan semoga karya-karyanya senantiasa dilimpahi keberkahan. Amin!

Judul : Married With Brondong
Penulis : Mira Rahman & Vbi Djenggotten
Penerbit : Bikumiku
Tahun : 2010
Tebal : vi + 124 halaman
Genre : Novel Grafis
ISBN : 978-602-95228-1-5
Harga : Rp. 33.500 [dapat dibeli di sini

NB: *Sumpeh deh ini review terpanjang sayah selama tinggal di Jakarta :D
*Spesial untuk Mbak Mira, Mas Vbi plus si kecil, Imandaru, tengkyu banget untuk hadiah yang membuka mata ini ;) dan juga maaf kalau reviewnya terlalu sotoy ^^v
*Untuk suamiku, LUNAS! :D

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Murah Online I Dijalan Dakwah Aku Menikah

Judul : Dijalan Dakwah Aku Menikah
Penulis : Cahyadi Takariawan
Harga di Pulau Jawa : 33.000
Harga Luar Pulau Jawa : 40.000



Sinopsis : Atribut yang diberikan Islam kepada kita, salah satunya adalah dai ilallah. Kita dituntut untuk merealisasikan dakwah dalam seluruh waktu kehidupan kita. Setiap langkah kita sesungguhnya adalah dakwah kepada Allah, sebab dengan itulah Islam terkabarkan kepada masyarakat. Bukankah dakwah bermakna mengajak manusia merealisasikan ajaran-ajaran Allah dalam kehidupan keseharian? Sudah selayaknya kita sebagai pelaku yang menunaikan pertama kali, sebelum mengajak kepada yang lainnya.

Pernikahan akan bersifat dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan Islam di satu sisi, dan menimbang berbagai kemaslahatan dakwah dalam setiap langkahnya, pada sisi yang lain. Dalam memilih jodoh, dipilihkan pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Dalam menentukan siapa calon jodoh tersebut, dipertimbangkan pula kemaslahatan secara lebih luas. selain kriteria umum sebagaimana tuntunan fikih Islam, pertimbangan lainnya adalah : apakah pemilihan jodoh ini memiliki implikasi kemaslahatan yang optimal bagi dakwah, ataukah sekedar mendapatkan kemaslahatan bagi dirinya? mari saya beri contoh berikut. diantara sekian banyak wanita muslimah yang telah memasuki usia siap menikah, mereka berbeda-beda jumlah bilangan usianya yang oleh karena itu berbeda pula tingkat kemendesakan untuk menikah. Beberapa orang bahkan sudah mencapai usia 35 tahun, sebagian yang lain antara 30 hingga 35 tahun, sebagian berusia 25 hingga 30, dan yang lainnya di bawah usia 25 tahun. Mereka semua ini siap menikah, siap menjalankan fungsinya dan peran sebagai isteri dan ibu di rumah tangga.


Anda adalah laki-laki muslim yang telah berniat melaksanakan pernikahan. Anda dihadapkan pada realitas bahwa wanita muslimah yang sesuai kriteria fikih Islam untuk anda nikahi ada sekian banyak jumlahnya. Maka siapakah yang lebih anda pilih, dan dengan pertimbangan apa anda memilih dia sebagai calon isteri anda?
lintasberita

Lanjut Baca

Buku Murah I 24 Jam Sebelum Menikah

Judul : 24 Jam Sebelum Menikah
Penulis : Koko Nata & Taufan E. Prast
Penerbit : Lingkar Pena Publishing
Harga resmi : 32.500
Harga di Buku Murah : 30.000


Sinopsis : Maknanya, tinggal sehari lagi semua perubahan itu akan terjadi. Sudah siapkah diri ini menyongsongnya. Berubah status, menjadi istri, menjadi suami… Seberapa yakin dengan perbekalan yang Anda miliki; mental yang kuat, keyakinan yang paripurna, ilmu yang cukup, dan amunisi material pendukung lainnya?

24 jam atau sehari lagi, bisa menjadi relatif. Bisa terasa sangat pendek untuk semua persiapan. Bisa terasa sangat panjang untuk sebuah penantian. Bisa menjadi mula kegugupan dan kegamangan, namun bisa menjadi awal keyakinan kebahagiaan. Rasa yang berbeda, makna yang berbeda. Setiap calon mempelai memiliki beragam cara mengelolanya. Keindahan ragam itu, menjadi kisah penuh getar rasa dan cerita berupa warna.

Tidak hanya berbagi kisah.

24 Jam Sebelum Menikah, membagi inspirasi, kekuatan dan semangat.


lintasberita

Lanjut Baca

Sakinah Bersamamu


Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna tapi menerima pasangan kita dengan sempurna

Kalimat yang menghiasi sampul depan buku berjudul Sakinah bersamamu ini sangat mewakili isi keseluruhan cerita pendek dan pembahasannya. Manusia tidak ada yang sempurna, semua pasti sudah hapal dengan pernyataan yang satu ini. Namun hapal bukan berarti paham dan kemudian mengamalkannya dalam keseharian. Apalagi ketika penilaian tentang kesempurnaan datangnya individu yang semuanya memiliki isi kepala dan imajinasi masing-masing. Kesempurnaan sudah barang tentu menjadi sebuah kesubyektifan.

Mengharapkan kesempurnaan inilah yang kerap menciptakan problematika dalam kehidupan rumah tangga. Si istri ingin suaminya begini, si suami ingin istrinya begitu. Keinginan-keinginan yang kemudian berujung pada ketidakpuasan, pertengkaran, bahkan perselingkuhan. Berbeda itu Pelangi. Judul yang tertulis dalam salah satu pembahasan sebuah cerpen berjudul ‘Rahasia Mas Danu’ ini, terdengar indah untuk menggambarkan bahwa sebenarnya perbedaan adalah sebentuk anugerah dalam sebuah rumah tangga. Perbedaan yang malah berfungsi untuk melengkapi bahkan diharapkan dapat memperbaiki masing-masing karakter. Hal ini pun terpercik dalam cerpen Ngambek yang kemudian dibahas dalam artikel Dilema Istri Sensi, Suami Enggak Sensi.

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja ketika mereka mendakwakan diri mereka (kami telah beriman), sedangkan mereka belum diuji. Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar imannya dan siapa yang dusta." (QS. al-Ankabuut: 2-3)

Pernikahan adalah penggenap agama seorang muslim, sudah pasti ujian-ujian yang dihadapi tidak lah mudah. Yang masih separuh aja mati-matian istiqomah, apalagi yang udah genap sempurna. Ketika perbedaan dalam rumah tangga telah teratasi, ujian mungkin akan berlanjut ke masalah cemburu, kisah cinta masa lalu, keluarga besar, tetangga bahkan ketidakpuasan atas diri sendiri. Konflik-konflik inilah yang coba diuraikan Asma Nadia lewat cerpen-cerpen pernikahan yang kemudian beliau analisa lebih lanjut.

Ada sedikit kebingungan ketika harus ditanya apakah buku ini termasuk jenis fiksi atau non fiksi. Hal ini dikarenakan caranya menuturkan problematika rumah tangga dan solusinya dengan memadukan unsur fiksi [cerpen] dan non fiksi [ulasan]. Namun, di sisi lain, hal tersebutlah yang membuat buku ini unik dan berbeda dengan buku-buku pernikahan yang lain. Adanya cerpen membuat pembahasan tentang pernikahan menjadi lebih luwes. Pembaca tidak hanya disodori ulasan tentang pernikahan tetapi juga imajinasi. Apalagi cerpen-cerpen tersebut cukup klop dengan renungan ‘bijak berumah tangga melalui cerita’ yang disampaikan Asma Nadia, kecuali cerpen Kalung yang terkesan dipaksakan untuk masuk ke dalam pembahasan tentang rumah tangga.

Berdasarkan pengakuan dari Asma Nadia pada bagian ‘kata pengantar’, cerpen-cerpen yang dihadirkan dalam buku Sakinah Bersamamu sebenarnya adalah kumpulan dari karya-karya lamanya, kecuali cerpen Kalung dan Sakinah Bersamamu. Bagi yang sudah khatam dengan buku-buku Asma Nadia mungkin akan diajak sedikit bernostalgia. Sedangkan bagi yang baru mengenal tulisan Asma Nadia lewat buku ini, tidak perlu takut basi karena cerpennya masih relevan dengan kondisi saat ini.

Judul : Sakinah Bersamamu
Penulis : Asma Nadia
Penyunting: Thenita
Penerbit : Asma Nadia Publishing
Terbit: Cetakan Pertama, Oktober 2010
Tebal : xii+ 344 halaman


lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar