Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jepang. Tampilkan semua postingan

Buku Utsukushisa To Kanashimi To (Keindahan dan Kesedihan) - ulasan

Keindahan dan Kesedihan (Beauty and Sadness)
Judul Asli: 美しさと哀しみと Utsukushisa to Kanashimi to
Pengarang: Yasunari Kawabata
Tebal: 253 halaman
Penerbit: Jalasutra, September 2003
ISBN 9793684097

Novel ini pertama kali diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Asrul Sani pada Tahun 1980. Utsukushisa To Kanashimi To merupakan novel terakhir karya Yasunari Kawabata sebelum ia ditemukan tewas karena bunuh diri pada Tahun 1972. Novel ini juga telah diangkat ke layar lebar dengan judul With Beauty and Sadness (1965).

Novel ini berpusat pada tokoh utama Oki Toshio yang memiliki kenangan cinta masa lalu pada seorang perempuan, Ueno Otoko. Namun, dari cinta masa lalu tersebut, seorang perempuan muda, Keiko, menjadi saksi hidup betapa cinta dan kebencian hanya beda setipis.

Kawabata terkenal dalam membuat karya yang sedih. Selain itu, ia dianggap berkontribusi terhadap pengenalan budaya klasik Jepang yang disampaikannya lewat novel-novelnya. Seperti pada kisah di novel ini, menceritakan sebuah kisah cinta yang teramat sedih. Novel ini terdiri dari 9 bab, Tokoh-tokoh novel yaitu sebagai berikut.



1. Oki Toshio, seorang pria berumur 54 tahun. Ia seorang novelis. Ia memiliki istri dan dua orang anak. Tinggal di Tokyo. Pada umur 30 tahun, ia menjalin asmara dengan seorang perempuan berusia 15 tahun. Ia menulis kisah cintanya dalam sebuah novel "Gadis Enam Belas Tahun". Novel itu meledak di pasaran, ia menjadi terkenal. Hidupnya berubah dari yang tadinya miskin menjadi kaya. Sebuah tradisi Tahun Baru Jepang membuat ia ingin kembali pada cinta masa lalunya.

2. Ueno Otoko, dialah perempuan itu. Sejak perpisahannya dengan Oki, ibunya membawa ia pindah ke Kyoto. Saat ia bertemu dengan Oki, usianya baru 15 tahun. Ia sempat mengandung seorang bayi dari hasil hubungannya dengan Oki, namun bayi itu meninggal karena prematur. Ia pindah ke Kyoto, dan beralih profesi menjadi seorang pelukis. Lukisan yang ia dalami adalah lukisan abstrak, seorang perempuan muda tertarik pada lukisannya, terlebih pada wajah Otoko yang cantik, dan perempuan itu kemudian menjadi muridnya.

3. Keiko, seorang perempuan yang sudah yatim piatu sejak kecil. Pada suatu kali ia melihat di sebuah Majalah, seorang pelukis yang wajahnya cantik. Ia mengajukan diri untuk diterima sebagai murid. Kemudian ia diterima oleh Ueno Otoko, dan mereka, guru dan murid, tinggal bersama, pada sebuah kuil.

4. Fumiko, istri Oki. Ia bekerja sebagai pengetik. Ia tahu bahwa suaminya memiliki selingkuhan. Ia cemburu karena suaminya pernah bersama perempuan lain. Ia sangat benci dengan Otoko. Ia pernah meninggalkan rumah bersama anak pertamanya.

Tanpa mengurangi harga tomat rasa hormat saya pada laki-laki, dalam cerita ini, orang yang bertanggungjawab paling besar adalah Oki. Dialah penyebab teraduk-aduknya perasaan setiap orang. Baik itu Otoko, Fumiko, Keiko, dan Oki sendiri. Apa saja yang dilakukan Oki?

Pertama, ia digambarkan adalah seorang pria yang suka perempuan muda. Sewaktu ia berkenalan dengan Otoko, istrinya, Fumiko sedang mengandung anak laki-laki pertama mereka. Sebagai suami, seharusnya Oki mendampingi istrinya yang sedang butuh perhatian, bukannya dengan wanita lain.

Kedua, Sebagai laki-laki dewasa, seharusnya Oki sadar konsekwensi yang ia hadapi bila ia "menceburkan" diri dengan cinta yang lain. Apakah itu pembenaran akan pernikahannya yang tidak bahagia? Apakah ia berpikir tentang perasaan orang-orang yang dilukainya?

Ketiga, sewaktu Otoko mengandung bayi dari Oki, terkesan bahwa Oki tidak serius membawa Otoko ke rumah sakit yang bagus. Kelihatan, bahwa sebenarnya ia lebih memilih Otoko, dibanding bayi itu. Sedangkan Otoko sebaliknya, ia sampai hampir bunuh diri ketika tahu bahwa bayinya mati.

Keempat, mengapa Oki membiarkan Otoko sedemikian lama? mengapa ia tidak mencarinya dalam kurun waktu 20 tahun lebih? yang dilakukannya malah melukai hati Otoko dan Fumiko. Ia menulis novel yang berjudul Gadis Berusia Enam Belas Tahun. Hal itu akhirnya membuat ia memperoleh royalti dari novelnya yang laris. Namun, isi novel itu sendiri mengoyak perasaan Fumiko, yang juga mengetik sendiri novel itu. Fumiko tahu perihal perselingkuhan suaminya. Istrinya sebenarnya pemaaf, namun ia cemburu. Mengapa tak satupun perasaan istrinya tidak diungkapkan Oki lewat novel itu?

Kelima, Oki adalah pribadi yang lemah. Begitu gampangnya ia terbujuk untuk jatuh ke pelukan perempuan muda. Keiko, murid Otoko, menjebaknya dengan membawa Oki ke hotel. Keiko ingin membalas dendam pada laki-laki yang membuat gurunya menderita. Oki sekali lagi mengkhianati cinta Otoko, maupun Fumiko.

Hal inilah yang menjadi puncak konflik novel ini. Antara cinta yang tak pernah padam, dengan suatu keadaan dimana cinta tak mungkin lagi bersatu. Cinta ada sebagai bayang-bayang masa lalu. Otoko sendiri mengalami konflik dengan ibunya, sebab ibunya sendiri menyarankan agar ia melupakan Oki dan menikah dengan pria lain. Otoko menolak. Baginya, Oki adalah pria yang tidak terganti dalam hidupnya.
"Kamu tahu jika kamu mati aku tidak sanggup untuk hidup lagi. Aku benar-benar tidak sanggup!" Titik airmata berkilau di sudut mata Otoko. Titik airmata itu bukanlah airmata kesedihan tapi airmata penyerahan diri. (h.200)

Ia sendiri akhirnya berprofesi sebagai pelukis. Kesepiannya akan cinta tersalur lewat karya-karya lukisannya. Ia masih terobsesi menyelesaikan karya yang menggambarkan bayinya yang meninggal. Otoko cenderung narsis, pada sebuah karya lukisnya, ia melukis ibunya yang muda dan cantik. Namun ia sendiri menyadari, bahwa yang dilukisnya adalah dirinya sendiri.
Mungkin sudah dapat diperkirakan bahwa seorang wanita yang hidup sendirian selama dua dekade tanpa cinta atau pernikahan harus menyerah pada hasrat dirinya dalam kenangan cinta yang sedih, dan penyerahan hasrat itu harus meliputi warna cinta untuk dirinya.(h.208)

Selain itu, ia sedang menyelesaikan sebuah lukisan anak. Anak yang dahulu dikandungnya.
Ia tahu benar bahwa sosok anak dalam Mi'rajnya Sang Bayi yang sedang digarapnya tidak mirip dengan bayinya yang telah mati dan iatak ingin melukis sebuah foto yang nyata. Yang ia inginkan adalah mengekspresikan rasa kehilangannya, kedukaan dan kasih sayangnya untuk seseorang yang belum pernah ia lihat. Ia berharap dan sangat ingin agar lukisan bayinya yang telah mati menjadi simbol kerinduannya (h.205).

Novel ini sarat dengan simbol. Kawabata menggunakan simbol tradisi Jepang dengan kondisi tokoh-tokoh novel yang ditulisnya. Dari sebuah tesis, saya sarikan simbol-simbol tersebut.

Perayaan Lonceng Malam Tahun Baru
Orang Jepang pada malam tahun baru memiliki kebiasaan memukul lonceng yang ada di Kuil. Lonceng dalam budaya Jepang merupakan simbol usia, simbol kehidupan, dan juga perasaan hati manusia. Pertemuan Oki dan Otoko dalam usia yang sudah tua menyiratkan perasaan cinta yang terus bergema, meski jarak sudah memisahkan mereka.

Teratai Dalam Nyala Api
Merupakan salah satu filsafat dalam ajaran Budha yang mengandung makna sesuatu yang tidak akan pernah mungkin terjadi walaupun manusia berusaha untuk memperolehnya. Teratai Dalam Api sebagai simbol dualisme perasaan cinta Otoko yang tidak mungkin bisa menyatu meskipun Otoko berusaha menyatukannya. Nyala Api menyimbolkan cinta Otoko pada Oki seperi api yang membakar. Meski dilarang oleh ibunya, ia nekad melanjutkan hubungan cinta terlarangnya dengan Oki. Akibatnya, Otoko mengalami penderitaan hidup.

Pisau Cukur
Dalam budaya Jepang, pisau cukur merupakan simbol aib, bencana, kematian dan perkosaan terhadap perempuan. Pisau cukur untuk menyimbolkan naluri kematian Otoko. Naluri kematian itu disebabkan oleh kejadian di masa lalu yang membuat hidupnya menderita. Penderitaan itu membuat Otoko terobsesi pada kematian.

Lukisan Kebun Teh
Dalam budaya Jepang, perkebunan teh merupakan simbol ketenangan, simbol kedamaian hati serta simbol kemakmuran. Lukisan Otoko yang bertema Kebun Teh erat kaitannya dengan perpisahan dengan Oki. Keputusan ibu Otoko untuk pindah dari Tokyo ke Kyoto bertujuan agar Otoko melupakan Oki. Perjalanan dari Tokyo ke Kyoto menggunakan kereta api yang melewati Daerah Shizuoka yang terkenal dengan perkebunan teh. Otoko memandang ke perkebunan teh dan merasakan kepiluan atas perpisahannya.

Novel ini merupakan karya terakhir Kawabata, sebelum ia ditemukan tewas bunuh diri karena menghirup gas beracun (16 April 1972). Hidup Kawabata juga amat sedih, ia sedari kecil sudah yatim piatu. Tidak diketahui apa penyebab ia bunuh diri. Biasanya, jika orang Jepang bunuh diri, mereka meninggalkan catatan, tetapi Kawabata tidak. Padahal, dalam sebuah pidatonya ketika ia menerima Nobel sastra, ia sangat menentang bunuh diri. Ia mengatakan "Betapa pun mengagumkannya, orang yang bunuh diri itu jauh dari wilayah suci. "Saya tidak mengagumi atau menaruh simpati kepada tindakan bunuh diri." Kawabata adalah sastrawan Asia yang kedua menerima Nobel setelah Tagore dari India. Namun Kawabata adalah sastrawan Asia pertama yang menerima Nobel dalam karya sastra bahasa asli negaranya (Jepang). Kawabata dianggap sastrawan pintar. Ia memasukkan unsur-unsur klasik budaya Jepang dalam karya-karya sastranya, sehingga kalau diterjemahkan akan kehilangan warna aslinya.

Sungguh layak mengoleksi karya pengarang peraih Nobel "for his narrative mastery, which with great sensibility expresses the essence of the Japanese mind." ini

@hws17052011


lintasberita

Lanjut Baca

Buku Dengarlah Nyanyian Angin - ulasan

Dengarlah Nyanyian AnginDengarlah Nyanyian Angin by Haruki Murakami
Dewi Anggraeni (Editor), Jonjon Johana (Translator)
My rating: 3 of 5 stars

Novel ini berjudul asli 風の歌を聴け (Kaze no uta o kike).
Bercerita tentang anak muda Jepang yang sedang mencari identitas diri. Tokoh utama "Aku" berusia 21 tahun, bersama temannya Nezumi seringkali membahas hal-hal yang menjadi pilihan hidup mereka. Tempat yang mereka pilih untuk berdiskusi adalah di bar. Tentu saja bersama rokok dan bir. Kegelisahan sahabatnya Nezumi yaitu karena ia kaya. Ada apa dengan kaya? bukankah itu suatu keuntungan? Nezumi memaknainya itu sebagai suatu ancaman. Suatu kali "Aku" menyelamatkan seorang wanita pingsan karena mabuk. Ia akhirnya bersahabat dengan wanita itu seraya menggali nilai dari persahabatan mereka. Namun akhirnya mereka juga berpisah dan memilih jalan mereka masing-masing.

Agak membingungkan membaca novel ini. Sepertinya tidak ada ketegangan atau membuat pembaca penasaran. Tokoh "Aku" pulang ke kampung halamannya, bertemu dengan teman lama, menghabiskan waktu dengan minum bir, serta mencari kesenangan dengan teman baru. Selain itu tokoh "Aku" membandingkan era sebelumnya dan apa yang akan menjadi pilihan untuk masa depannya.

Apa yang menarik dalam novel ini ialah Harumi menyampaikan bahwa menulis fiksi adalah suatu terapi. Narator "Aku" mengatakan demikian,
When you get right down to it, writing is not a method of self therapy. It's just the slightest attempt at a move in the direction of self therapy... And yet I find myself thinking that if everything goes well, sometime way ahead, years, maybe decades from now, I might discover myself saved Tetapi, menulis bukanlah sesuatu yang mudah. Narator menceritakan kesulitannya untuk memulai menulis,
For me, writing is extremely hardwork. There are times when it takes me a whole month just to write one line. Other times I'll write three days and nights straight through, only to have it come out wrong.

Dalam novel ini banyak sekali referensi tentang jazz, rock and roll, artis Amerika dan Eropa, serta merk Amerika seperti Cocacola. Dan dalam novel ini, diceritakan bahwa "Aku" sangat menyukai "jukebox" yaitu semacam mesin yang bisa memainkan lagu yang dipilih dengan mengisi koin sebelumnya.

Novel ini tidak bercerita tentang kesuksesan. Tetapi suatu kegalauan. Anak muda yang harus berpikir bagaimana ia nantinya. Banyak sekali kata-kata bijak yang dikutip di novel ini. Bagi seorang anak muda itu, kata-kata bijak seperti itu penting, karena ia belum merasakan bagaimana menghadapi hidup yang sebenarnya, sehingga suatu saat ia sendiri yang membuat kata-kata bijak untuk dirinya sendiri. Secara keseluruhan novel ini sangat bagus, kita mendapat banyak wawasan mengenai lagu-lagu hit pada era 1960an sampai 1970an, nama artis-artis terkenal di Amerika dan Eropa, lirik lagu, dan sebagainya. Namun, terjemahan novel agak mengganggu saya, apakah karena bahasanya harus meng"anak muda"? Jadi agak aneh bila membaca terjemahan seperti, "kamu mau nggak?"

Jadi, saya memberikan lima bintang untuk novel ini. Minus satu bintang karena ceritanya yang kurang "rasa," serta minus satu bintang lagi karena terjemahannya.


Tentang Haruki Murakami

Ia lahir pada 12 January 1949, sejak kecil ia dipengaruhi kebudayaan barat, terutama musik dan literatur. Selama sepuluh tahun, ia tinggal di luar Jepang. Pertama di Yunani dan Itali, kemudian di Amerika Serikat. Ia bahkan mengatakan bahwa ia membuat gaya kepenulisan yang berbeda dengan menulis dalam bahasa Inggris terlebih dahulu kemudian diterjemahkan ke bahasa Jepang.

Penghargaan yang ia peroleh antara lain: Shinjin Bungaku Prize, 1974. Junichiro Tanizaki Prize, 1985. Yomiuri Literary Prize, 1996. Jerusalem Prize, 2009. Murakami belajar drama di Waseda University, dan pada September 2007, ia menerima Doktor Honoris dari University of Liege. ia sempat tinggal di Amerika pada awal tahun 1990an dan mengajar di Princeton University. Setelah gempa Hanshin dan serangan gas beracun di Tokyo Subway pada awal 1995, ia kembali lagi ke Jepang dan menulis karya nonfiksi, Underground (1995) .


Marukami memiliki sebuah bar jazz (1974-1981) yang dikelola bersama dengan istrinya, Yoko. Jadi, tidak heran novelnya ini banyak sekali bercerita tentang bar, bir, dan musik jazz. Murakami mengatakan bahwa ia terinspirasi menulis novel pertamanya ini ketika menonton pertandingan baseball. Saat itu tahun 1978, ia menonton pertandingan antara Yakult Swallows dan Hiroshima Carp, dan ketika Dave Hilton, seorang Amerika dari Yakult Swallow melakukan pukulan terbaik dan berlari ke base selanjutnya dengan kencang. Momen inilah yang membuat ia terinspirasi menulis novel untuk pertama kali. Dan novel ini yang mengantarkannya meraih The Gunzo Price untuk penulis baru.

@hws19102010



lintasberita

Lanjut Baca

Buku Snow Country: Daerah Salju - ulasan

Snow Country: Daerah SaljuSnow Country: Daerah Salju by Yasunari Kawabata
My rating: 4 of 5 stars

Paperback, 188 pages
Published 2009 by gagasmedia (first published 1947)
ISBN  9789797803681


Pernahkah kau mencuri pandang lewat pantulan kaca, entah itu di pintu kaca, jendela kaca, kaca pada jendela mobil, kaca spion, kaca lemari, atau apapun yang bisa memantulkan bayangan? Apa yang kau lihat dan rasakan?

Peristiwa ini adalah kisah awal novel ini. Dalam perjalanan ke suatu tempat yang indah alamnya, Shimamura memerhatikan seorang gadis yang ada di depannya dengan melihat melalui pantulan jendela kaca kereta api. Kecantikan gadis itu sungguh memesonanya. Bisa dibayangkan ketika Shimamura melihat ke luar, seharusnya pemandangan pohon-pohon dan pegunungan yang ia lihat, tetapi hal itu masih kalah menariknya dibanding wajah sang gadis. Kawabata menulis peristiwa itu sebagai berikut.
Langit di atas gunung masih menyisakan warna merah senja. Setiap benda masih jelas bentuknya di kejauhan, tetapi pemandangan gunung yang monoton, begitu-begitu saja mil demi mil, tampak menjemukan karena kehilangan warna. Tak ada yang menarik di luar sana, dan semuanya mengalir hambar. Tentulah itu karena tertimpa oleh wajah si gadis yang mengapung di atasnya. Pemandangan senja bergerak ajek di sekeliling garis wajah itu. Wajah itu juga tampak bening-tetapi, apakah ia benar-benar tembus cahaya? Shimamura melamunkan bahwa sesungguhnya pemandangan senja terus melintas wajah itu dan tidak pernah berhenti meyakinkannya bahwa memang begitulah yang terjadi.



Shimamura adalah seorang pelancong yang saat itu sedang mengunjungi tempat favoritnya. saat itu awal Desember dimana salju sedang turun. Tidak sekedar melancong, ia sebenarnya berjanji menemui seorang perempuan yang tinggal di rumah seorang guru musik Shamisen. Komako sangat bergirang karena kerinduannya terbasuh ketika bertemu Shimamura. Daerah itu ramai dikunjungi pelancong karena sangat menarik untuk melakukan ski dan pendakian gunung. Selain itu, terdapat penginapan air panas, dimana sangat cocok untuk "melawan" rasa dingin yang menyerang. Dan sepertinya-hingga sekarang, tempat wisata ramai (selalu) menyediakan minuman keras (sake) dan wanita (Geisha). Dan Komako adalah salah seorang Geisha di sana.

Pada umumnya, orang bisa dekat karena ada kesamaan hobi. Shimamura dan Komako bisa berkenalan dekat karena sama-sama memiliki hobi menari. Hanya saja, Shimamura lebih suka pada tarian barat. semasa mudanya ia kenyang mempelajari tarian tradisional Jepang, dan sejak kecil sudah akrab dengan pertunjukan Kabuki. Namun, bertemu dengan penari-penari muda justru membuatnya tidak cinta pada tari tradisional, ia memilih tarian barat. Namun tarian barat yang ia nikmati bukanlah tarian barat yang ditarikan, melainkan tarian dari khayalnya yang ia sendiri tak pernah saksikan.

Hari-hari dimana Shimammura ada disana, menjadi semangat tersendiri bagi Komako. Sesudah Komako menghadiri suatu perjamuan di penginapan lain, maka setelah itu ia pulang dan menyinggahi penginapan Shimamura. Tampaknya Komako hanya membutuhkan teman untuk bercakap-cakap, dan sepertinya ia bosan dengan kehidupan sebagai Geisha di tempat itu. Bagaimana rupa Komako, itulah dituliskan Kawabata sebagai berikut.
Hidungnya yang lancip dan mancung memberi kesan sunyi, tetapi bibir mungil di bawahnya membuka dan menutup dengan halus, seperti lingkaran lintah kecil yang indah. Bahkan, ketika ia diam, bibir itu terlihat seperti bergerak-gerak...Garis kelopak matanya tidak naik atau turun. Seolah-olah dengan alasan tertentu, garis itu sengaja ditarik lurus melintasi wajahnya. Ada kesan yang sedikit lucu di sana, tetapi alisnya yang agak menurun dengan bulu-bulu pendek yang tebal sangat pantas menaungi mata itu. Tak ada yang luar biasa pada lingkar wajahnya yang bulat dan sedikit lancip. Kulitnya seperti porselen putih yang dilapisi warna merah muda dan lehernya masih jenjang dan belum menggembung. Dengan semua itu, ia lebih tepat disebut bersih ketimbang cantik. (Hlm 32-33).

Selanjutnya, bagaimana Shimamura menempatkan Komako dalam hatinya? lalu bagaimana dengan Yoko, wajah gadis yang memesonanya di kereta api? Bukankah suatu kebetulan dimana ternyata mereka serumah di rumah guru musik Shamisen. Ia tidak memahami, mengapa Komako mampu membuat dirinya tidak lengkap sementara Shimamura sudah memiliki istri dan anak di Tokyo. Baginya, Komako adalah seorang Geisha yang hebat, mampu memainkan alat musik tradisional shamisen tanpa guru dan bahan-bahan yang memadai. Komako hanya belajar dan partitur dan buku-buku yang dibawakan oleh Shimamura. Sementara Shimamura sendiri, sangat anti dengan ketradisionalan Jepang. Buat Shimamura, tradisional tidak berpihak pada kedinamisan dan cenderung kaku. Komako berhasil meluluhkan kebekuan hatinya seperti air panas yang mencairkan salju. Lewat bahasa tubuhnya, Shimamura menyadari jika Komako sangat menaruh hati padanya. Dan apa yang dirasakan Shimamura adalah ia tidak dapat membiarkan sifat egoisnya. Komako telah menyerahkan semuanya, sebaliknya tak ada apapun yang ia berikan kepada perempuan itu. Sementara itu kesan kuat yang ditinggalkan wajah Yoko pada pantulan senja kaca kereta api, membuat Shimamura merindu. Rindu pada wajah Yoko yang murni dan polos serta suaranya yang bening.

Ternyata tempat itu memiliki magnet yang luar biasa kuat tarikannya. Bukan hanya pada salju, pegunungan, pohon sugi, air panas, dan kabut tipis itu. Setiap sudutnya menyisakan ruang yang memesona, terlebih pada kedua perempuan itu. Hati Shimamura seperti terbagi. Dan ia merasa waktu tidak berpihak padanya untuk menentukan...

Snow Country ditulis dalam bahasa Jepang, "Yukiguni", yakni nama sebuah tempat, yang dicapai melalui terowongan panjang di bawah pegunungan perbatasan antara Gunma (Kozuke No Kuni) dan Niigata (Echigo No Kuni). Novel ini awalnya dibuat dalam beberapa cerita pendek. Dari kurun waktu tahun 1935 hingga 1948, cerita ini terpisah. Dua bagian di tahun 1935, lima bagian di tahun 1937, dua bagian di tahun 1940, dan difinalisasi pada tahun 1948.

Dari penelusuran, diketahui bahwa tokoh Komako itu adalah seorang Geisha bernama Matsuei yang ada di kota Yuzawa, dimana Kawabata tidak memberikan nama pada kota ini di novelnya. Perhatikan gambar di bawah, ciri-ciri yang digambarkan Kawabata mirip dengan foto Matsuei.

description

Di tahun 1968, novel ini berhasil meraih penghargaan nobel di bidang sastra, dan Kawabata menjadi penulis pertama Jepang yang meraih penghargaan ini. Karya Kawabata disebutkan banyak memiliki lirik yang melankolis serta banyak menjelajahi tempat seks dalam budaya, dan dalam kehidupan pribadi, seperti dalam karya Up in the Tree, 1962.

Yasunari Kawabata (1899-1972), dilahirkan dalam sebuah keluarga sejahtera di Osaka, Jepang. Ayahnya, Eikichi Kawabata, adalah seorang dokter terkemuka, meninggal karena TBC ketika Yasunari berusia dua tahun. Dia yatim piatu karena kematian ibunya pada usia tiga tahun, neneknya meninggal ketika ia berusia tujuh tahun, dan disusul kematian adik satu-satunya ketika dia berumur sembilan tahun. Kematian keluarga Kawabata mengurangi masa kecilnya yang normal. Ia sering mengatakan bahwa dia belajar kesepian dan "tanpa akar" sejak awal. Kemudian dalam kehidupannya, ia menggambarkan dirinya sebagai "anak tanpa rumah atau keluarga." Beberapa kritikus menilai bahwa trauma awal membentuk latar belakangnya akan rasa kehilangan yang tergambar dalam tulisannya.

Akhirnya saya berikan 4 bintang, 1 bintang kurang karena saya tidak mengerti dimana tempat ini. Visualisasi saya agak terganggu karena saya tidak bisa merasakan salju (subjektif banget yak).

@hws08092010
-dibikinkalakantorsepibangetkarenaharikerjaterakhirsebelumlebaran-



lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar