Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan

Buku Mayor Jantje: Cerita Tuan Tanah Batavia Abad Ke-19 - ulasan

Mayor Jantje: Cerita Tuan Tanah Batavia Abad Ke-19
by Johan Fabricius
Paperback, 188 pages
Published February 2008 by Masup Jakarta (first published 1979)
ISBN 9793731230


Mayor Jantje. Itulah gelarnya. Nama aslinya adalah Augustin Michele, sementara Mbok Sita-pembantu yang sudah tinggal lama bersamanya- dan budak-budaknya memanggilnya Sinto Sten. Perjalanan sang tuan tanah sekaligus pemimpin pasukan kaum Papang ini menjadi menarik, karena ia adalah pencetus kesenian daerah betawi. Kecintaannya pada pesta dan musik membuat banyak orang senang, sekaligus mencibir. Senang datang dari teman-temannya yang diundangnya untuk menginap di Villa Citrap, sedangkan yang mencibir datang dari Mbok Sita, pembantunya, dan dari Agraphina, putrinya.



Saya sendiri hanya membayangkan bagaimana kejadian masa itu, dimana Sang Mayor setiap sabtu malam menyuruh orkesnya memainkan musik. Ada yang dari Senen, Tionghoa, dan Jawa. Semuanya bersatu memainkan karya terbaiknya di depan Sang Mayor dan tamu-tamunya. Kehidupan seperti itu tentunya membutuhkan dana yang cukup besar. Tidak masalah bagi Sang Mayor, karena ia memperoleh penghasilan yang luar biasa besar dari hasil mengambil sarang burung walet di Klapanunggal-aset yang luar biasa besar warisan ayahnya- dan menyewakan tanahnya yang sangat luas kepada orang Arab dan orang Cina.

Sang Mayor sangat kesepian, apalagi setelah ditinggal mati oleh istrinya. Ia sendiri menikah dua kali, dan kedua istrinya itu meninggal. Kecintaannya pada Davida, istri keduanya, diungkapkan dengan membuat makam yang sangat bagus di Batavia. Salah satu kelebihan yang juga menjadi kelemahannya adalah, ia terlalu baik kepada sahabat-sahabatnya. Biasanya, sahabat yang diundangnya menginap di Villa Citrap tak langsung kembali ke kota asalnya, tetapi tetap tinggal disana, dan otomatis membebani belanja rumah tangganya. Hal itu sudah menjadi keberatan budaknya dan putrinya, namun ia menghiraukan hal itu. baginya, ia masih cukup kaya dari hasil sarang burung walet dan sewa tanah.

Sang Mayor merasakan kembali getar-getar cinta manakala ia melihat Nonnie, putri sahabatnya. Ia merasakan istrinya, Davida, seolah hadir di dekatnya lewat sosok Nonnie. Ia berkhayal istrinya begitu dekat padanya, beberapa perhiasan kesayangan istrinyapun diberikan Sang Mayor pada Nonnie. Akhirnya, kecemburuan muncul di hati mbok Sita, karena ia sangat mengharapkan sebuah perhiasan yang dulu suka dikenakan Nyonya Davida, namun Sang Mayor malah menyerahkannya pada Nonnie.

Bagaimana kelanjutannya?
Silahkan dibaca sendiri.....

lintasberita

Lanjut Baca

Buku Medan Merdeka-Jantung Ibukota RI - ulasan

Medan Merdeka-Jantung Ibukota RI
Penyusun: Adolf Heuken, SJ
Penerbit: Yayasan Cipta Loka Caraka (2008)
Buku ini diterbitkan dengan dukungan Hanns Seidel Foundation Jakarta.

Memori-memori tertentu tetap tinggal dalam ingatan. Itu semua bersifat pribadi dan menjadi simbol-simbol yang tidak dapat terhapus sehingga dapat membantu kita untuk memahami apa yang terjadidi masa lalu. Masing-masing kita hidup dengan sebuah arsip berisikan memori-memori tertentu. Kadang kala, kita menarik kembali wilayah itu, menyusun kembali berbagai percakapan dan masa-masa kritis, membuatnya terlihat hidup sehingga sepertinya itu semua baru saja terjadi kemarin. Dengan kata lain, kekuatan memori itu tetap terasa ada bersama kita.
(Gary M Burge dalam "Palestina Milik Siapa")

Banyak berjalan, banyak dilihat. Begitu kata pepatah. Rasanya tidak lengkap kalau ke Jakarta, tidak melalui kawasan ini. Sebab tempat inilah yang menjadi saksi bisu pasang surutnya pergolakan melawan penjajah, hingga merdeka, hingga saat ini.



Dahulunya, lokasi ini adalah pinggiran kota Batavia. Koningsplein. Itulah nama awal kawasan ini dari Tahun 1816-1942. Pusat kota dahulu berada di kawasan kota tua.
Koningsplein
Siapa sangka dahulunya kawasan ini adalah kawasan berburu harimau serta banteng, dulunya Gubernur Jenderal Maetsyuker (bertugas paling lama di Batavia selama 25 tahun yaitu dari tahun 1653-1678) suka berburu celeng, kijang, dan banteng. Selain itu, lapangan luas namun kosong dimanfaatkan untuk membuat batu bata, sehingga banyak kubangan air yang disukai oleh kerbau. Karena itu tempat ini dinamakan Buffelsveld yang berarti 'Lapangan Banteng'.
Lapangan Banteng

Sebagian besar Lapangan Buffelsveld dicatat atas nama Pendeta Cornelius Pays (1680). Pada 1743, dibangun rumah sakit (Buitenhospital) diluar kota Batavia. Rumah sakit ini didirikan diantara dua aliran Sungai Ciliwung yang sekarang ini dipakai oleh Mesjid Istiqlal. Bagian utara menjadi milik Buitenhospital untuk digunakan sebagai tempat rekreasi pasien. Pada Tahun 1802, sebagian lapangan yang dimiliki oleh (Buitenhospitaal diberikan kepada WH van Ijsseldisk supaya diratakan. Selanjutnya, Daendels membeli tanah di sekitar Buffelsveld dari WH van Ijsseldisk, dan mengelilinginya dengan jalan. Nama lapangan ini diubah menjadi Champ de Mars. Setelah Daendels membuka kawasan ini, selanjutnya Letnan Gubernur Thomas Stanford Raffles membeli rumah di daerah Rijswijk, yang sekarang dikenal sebagai Jalan Veteran. Catatan tambahan Dalam buku Batavia in Nineteenth Century Photographs, Scott Merrillees menyebutkan, Raffles kemudian menjual kembali rumah itu ke pemerintah Belanda saat harus hengkang dari Jawa pada 1816. Johannes Petrus Faes, pemilik selanjutnya, mengubah bangunan itu menjadi Hotel Place Royale pada 1840. Pada 1846 barulah Hotel der Nederlanden yang terletak tak jauh dari Sungai Ciliwung (membelah Rijswijk -Noordwijk), diresmikan pada bangunan yang sama. (HWS: kutipan dari sini . Rumah dan tanah yang ia beli mulai dari Jalan Veteran hingga Jalan Veteran III (sekarang Gedung Set Wapres). Sebelumnya, JA van Braam membangun rumah besar, yang dulunya dinamakan Hotel van den Guverneur-Generaal, cikal bakal Istana Negara sekarang.
description

description
Dulunya, rumah-rumah besar orang kaya menghadap ke arah jalan utama yakni Rijswijk. Barulah perlahan-lahan daerah 'pinggiran' di Koningsplein terisi. Bisa dibayangkan, pada saat itu, satu satunya bangunan yang paling megah dan paling nyaman adalah Istana Negara sekarang, dari tempat ini orang dapat menikmati pemandangan indah ke arah lapangan luas, dan dibelakangnya sering tampak Gunung Pangrango, Gede, dan Salak, karena udara belum tercemar.

description
Apakah ini salah satu masalah orang Indonesia pada umumnya, dimana terbiasa untuk tidak merencanakan sesuatu dengan visi menyeluruh. Inilah hal yang dikritisi oleh Adolf Heuken, dimana ia menuliskan seperti ini, ...namun demikian, dari awal sampai sekarang lapangan tak pernah membentuk suatu keseluruhan dengan empat jalan di sekitarnya. Rupanya, medan ini dianggap terlalu luas. Setiap masterplan kota sejauh menynagkut Medan Merdeka tinggal fragmen, yang tidak menyatukan tiga elemen, yaitu, lapangan, jalan, dan bangunan. Biasanya hanya lapanganlah yang diutamakan. Kurang kesadaran untuk menjadikannya suatu kawasan dengan satu visi yang menyeluruh. Setiap instansi mengisi kavling-kavling masing-masing sekehendaknya, tanpa memperhatikan tetangga atau lingkungan. Maka, letak dan gaya masing-masing bangunan publik tidak berpaut satu sama lain. Cermin kesemrawutan Jakarta seluruhnya! sampai kini! (hlm 57)

Berbagai kelemahan tersebut selanjutnya ditulis per jenis bulevar yang mengelilingi lapangan ini. Seperti diketahui, bahwa ada 4 jalan besar yang mengelilinginya. Adolf Heuken mencatat sebagai berikut

a. Medan Merdeka Barat
Peralihan dari jalan yang sibuk (MH Thamrin. Pada ujung jalan ini, dihentikan oleh ruangan yang terbuka luas yakni Bundaran Bank Indonesia. Bundaran ini mengakhiri jalan MH Thamrin yang dimulai dari Bundaran Hotel Indonesia.

Bangunan yang terpenting adalah Museum Nasional. Museum didirikan oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (1778), sebuah perkumpulan ilmiah tertua di Asia, namun secara bangunan sepertinya terdesak oleh bangunan yang kurang istimewa. yakni Gedung Kementerian Pertahanan dan Gedung Mahkamah Konstitusi. Khusus Gedung Mrancangan arsitek Prasetyoadi ini, Heuken memberi catatan, pertama, benarkah bangunan bergaya klasik tetap mencerminkan 'wibawa' dan 'martabat'? kedua, sembilan kolom pada bangunan muka melanggar kode serta semangat arsitektur (neo) klasik (Hlm 83).
description
description

b. Medan Merdeka Utara
Bila manggunakan kendaraan, dari Medan Merdeka Barat tidak dapat langsung ke jalan ini, karena verboden. Kita harus putar balik lagi di depan Radio Republik Indonesia, baru ke arah Bundaran Bank Indonesia belok ke Medan Merdeka Selatan, Timur, baru bisa mencapai jalan ini.

Tentu saja Gedung yang paling terkenal adalah Istana Merdeka. Sebelumnya, bangunan ini adalah tempat peristirahan Gubernur Jenderal di Batavia. Gedung ini dibangun ketika Pemerintah Hindia Belanda sedang berhemat, Pemerintah Hindia Belanda merasa tidak perlu membangun gedung yang megah untuk ubernur Jenderal karena istana resmi ada di Istana Bogor. Koningsplein Paleis kini Istana Merdeka, dirancang berdasar ide Ir. Couve Djen dan direalisasikan oleh Ir HM Debbete sebagai arsiteknya. Pembangunannya dilaksanakan oleh Firma JB Drossares. Istana dibangun dalam gaya klasisme tropis dengan massa tipis dan atap besar. Gedung utama diapit oleh dua sayap di kanan-kiri. Gerbang lengkung (arch) pada kedua sayap menguatkan kesan keistanaan (hlm 85).
description

Selain itu Heuken menambahkan, bahwa pembangunan kompleks istana negara-Sekretariat Negara tidak didasari pada satu visi tata letak yang wajar bagi sebuah pusat pemerintahan yang ya, representatif dan patut dibanggakan. Maksudnya dipandang dari segi arsitektur dan landscaping sebagai satu keseluruhan. Berbagai gedung didirikan secara pragmatis sesuai kebutuhan sesaat. Beberapa bangunan seperti Sekretariat Negara, Mesjid Baiturrahim, Guest House atau Wisma Negara kurang mampu atau tidak berusaha merancang kompleks yang indah, padahal keuangan negara pada tahun 1970/1980an sangat memungkinkannya. Tata ruang sekarang mementingkan segi fungsional semata, tanpa visi yang lebih luas. Hal ini berbeda di negara bekas koloni Inggris dan Perancis (hlm 88).

c. Medan Merdeka Timur
Jalan Medan Merdeka Timur agak unik, karena satu-satunya jalan yang ada kompleks stasiun kereta Gambir yang memotong lapangan. Selain itu, satu-satunya jalan yang dipotong oleh rel kereta api adalah Jalan Medan Merdeka Timur ini.

Satu-satunya bangunan paling tua (bahkan diantara 4 penjuru jalan) di jalan ini adalah Gedung Galeri Nasional. Pada tahun 1817 GC van Rijck membangun sebuah Indishe Woonhuis di atas kavling ini dengan material yang diambil dari bekas Kasteel Batavia. Bangunan kedua yang tertua adalah GPIB Immanuel, dibangun antara tahun 1834 dan 1839 menurut rancangan JH Horst Ia bukan arsitek dan belum pernah melihat satu bangunan klasik pun, karena tidak pernah ke Eropa, namun rancangan baik sekali. Sejak Stasiun Gambir yang bertingkat dua dibangun (1992) gereja yang berwarna putih ini dipisahkan dari lingkungan 'alamiah'nya yaitu Medan Merdeka yang hijau. Halaman gereja beberapa kali dipotong untuk pelebaran jalan, sehingga jarak pandang ke arah gereja menjadi lebih pendek (hlm 111).
description
description


d. Medan Merdeka Barat

Istana Wakil Presiden dulunya adalah rumah dinas Presiden Bank Jawa, dalam kompleks tersebut terdapat dua bangunan yang tampak mukanya terlihat serupa, yaitu kav no.6 dan no.7. Kavling yang asli adalah no.6 sedangkan yang no.7 dibangun pada saat Soedharmono menjabat sebagai Wakil Presiden (1988-1993).

Gedung Kedubes Amerika (kav no.3 sampai 5). Pada masa Belanda, No.3 dipakai oleh Reisswezen, No.4 oleh Konsulat Jenderal Jerman antara tahun 1926 dan 1942. Pada tahun 1952, tanah ini ditukar dengan kavling di Jl. Sam Ratulangi, kini Goethe Institut. Gedung pada kav no.5 dirancang oleh arsitek terkenal di Amerika dan Jepang yang bernama Antonin Raymond. Kedubes Amerika dibangun pada akhir 1950-an waktu Wahington berusaha menampakkan sikap proogresifnya antara lain dengan membangun berbagai kedutaan dalam gaya International Style. Heuken menambahkan, kompleks ini sementara tidak berkontribusi pada suasana kawasan Medan Merdeka, karena pagar yang tinggi beserta barikadenya memisahkannya dari seluruh kawasan (hlm 124).
description
description



Buku ini cukup menarik karena dicetak dalam kertas lux dan uniknya edisi yang saya pegang ini, tidak tersedia nomor ISBN nya. Dari halaman depan, diketahui bahwa buku ini diterbitkan dengan dukungan Hanns Seidel Foundation (http://www.hsfindo.org/).

Selain itu, buku ini kaya dengan gambar-gambar baik berupa sketsa, lukisan, maupun foto dari zaman-zaman dahulu, sehingga membantu pembaca dalam memvisualisasikan suasana saat itu. Menurut saya, inilah kekuatan buku ini. Suatu peristiwa akan lebih mudah diingat bila dilengkapi dengan foto/gambar dibanding hanya sebarisan huruf. Dari buku ini juga, saya mendapat kesan bahwa Romo Adolf Heuken adalah seorang yang tidak hanya mengerti masalah kegerejaan, namun juga seni, arsitektur, serta filsafat.

Saya hanya membayangkan, suatu saat di Medan Merdeka ada lagi trem yang mengitari Medan Merdeka, Harmoni, hingga ke kota. Sehingga Batavia zaman dulu serasa seperti terhadirkan dan memori itu ada dan tetap terasa bersama kita.

@HWS110610



lintasberita

Lanjut Baca

Buku Batavia Kota Hantu - ulasan

Batavia Kota HantuBatavia Kota Hantu by Alwi Shahab
My rating: 4 of 5 stars

234 pages
Published February 2010 by Penerbit Republika
ISBN  9789791102742


Ditulis oleh seorang wartawan senior pemerhati serius masalah sosial budaya kota Jakarta. Alwi Shabab lahir di Kwitang, Jakarta Pusat 31 Agustus 1936. Catatan Kwitang, konon berasal dari nama seorang Cina, Kwee Tiang Kam, yaitu penjual obat tradisional yang masyhur. Saking terkenalnya, kediaman penjual obat ini disebut Kwitang. ia telah menjalani profesi sebagai wartawan selama lebih dari 40 tahun. Tahun 1960 ia bekerja kantor berita Arabian Press Board di Jakarta. Sejak Agustus 1963 ia bekerja di Kantor Berita Antara. Selama sembilan tahun (1969-1978), ia menjadi wartawan Istana. setelah pensiun dari Antara tahun 1993, ia bergabung dengan Harian Umum Republika.



Ada 67 artikel beliau yang dikumpulkan lalu dibuat bukunya seperti ini. Artikel tersebut menceritakan Batavia sebagai kota yang penuh seluk beluk sejarah dan peristiwa. Dari lingkup artikel yang ditulisnya, saya menyimpulkan hal-hal sebagai berikut.
1. Cakupan wilayah yang menjadi lokasi tulisan meliputi Kota Tua, Harmoni, Menteng, Senen, Jatinegara, Pasar Baru, Jalan Medan Merdeka, Pecenongan, Kebon Sirih, Kampung Melayu, Tanjung Priok.
2. Beberapa tempat/gedung bersejarah yang diulas meliputi Gambir, Pasar Baru, Gedung Harmonie, Gudang rempah-rempah VOC, Pasar Senen, Gedung Kesenian Jakarta, Hotel Wisse di Rijswijk (Jalan Veteran), Pulau Onrust (Kepulauan Seribu).

mengapa judul buku ini Batavia Kota Hantu?
Artikelnya dimuat di paling awal, saya menelusuri kata "hantu" di artikel tersebut, dan saya hanya menemukan hanya satu kata, hanya di paragraf pertama. Dikatakan "kota hantu" karena pada Tahun 1815, Batavia lama (di seputaran kota tua) telah menjadi kawasan yang sangat menyeramkan. Benteng dirubuhkan, istana Gubernur Jenderal dirubuhkan. Kota tidak sehat akibat ancaman penyakit kolera, karena sanitasi yang buruk. Siapa yang melakukan? Dialah Herman William Daendels. Sejak itu pusat pemerintahan berpindah ke kawasan Weltevreden (Lapangan Banteng).

Buku ini sebenarnya menarik. Namun sayangnya tidak ada klasifikasi setiap artikel. 67 artikel dicetak begitu saja tanpa ada "bridging" yang menghubungkan, padahal ulasannya cukup menarik andai saja diramu sedemikian rapi. Saya juga menemukan kesalahan cetak yang cukup fatal yakni tidak sesuai daftar isi dengan halamannya. Pada artikel " Batavia 1935, Jakarta 1997 tertulis di daftar isi di halaman 43. Padahal sebenarnya artikel tersebut ada di halaman 41. Dan parahnya, artikel sesudahnya menjadi selisih-selisih 2 halaman. Hmm..sepertinya daftar isinya tidak diupdate fieldnya.

Namun begitu, E.S. Ito mengatakan bahwa Alwi Shahab menjadi narasumber penting dalam pembuatan novel "Rahasia Meede". Hal itu diungkapkannya di blognya disini. Namun ketika saya mencari kisah Pieter Erberveld tersebut di buku ini, sayangnya tidak ada. Saya berharap jika pihak editor Penerbit Republika sedikit bersusah payah mengumpulkan artikel-artikel beliau mengenai Batavia dan menyajikannya seperti Rosihan Anwar di bukunya, Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia, saya yakin buku ini menjadi best seller (sok peramal).

Akhirnya 4 bintang untuk Pak Alwi, dikurangi satu bintang untuk penerbit.

@hws06092010



lintasberita

Lanjut Baca
 
Copyright (c) 2010 Buku Bagus by Dunia Belajar